MEMBANGUN KHAZANAH ILMU DAN PENDIDIKAN

Belajar itu adalah perobahan …….

Auto Biografi Ismael Hasan SH( Orang Tua PanutanKu) bagian 1

Posted by Bustamam Ismail on August 5, 2011

  1. DARI KAKI GUNUNG KELABU

Rumah amat sederhana di pinggir sawah dekat Bukit Tak Jadi tak jauh dari Kaki Gunung Kelabu Kanagarian Simpang Tonang dengan  Raja dubalangnya, Kecamatan Duo Koto, Kabupaten Pasaman sumatera Barat lebih kurang 130 km di utara kota Bukittinggi disitu orang tua saya Hasan Pinto Kari bin H. Moh. Nur dan Ibu saya Siti Fatimah bt Tuangku Mudo mengasuh kami 12 bersaudara, 3 orang meninggal diwaktu usia balita dan saya adalah anak yang ke 11 dari keluarga besar ini,  Lahir 20 Juni 1926. Hidup Paspasan dengan orang tua sebagai guru mengaji sekaligus tukang kayu . Setiap kali rumah baru yang akan dibangun ( di kampong membangun rumah dengan cara gotong royong), saya didukung di punggung sampai di tempat kerja. Dan dalam usia lebih kurang 10 tahun, beliau pergi meninggalkanku, meninggalkan kami semua sekeluarga. Bahkan saya  sendiri tak sempat menyaksikan kepergiannya karena saya sedang mengikuti Kakak kandung saya Sjihabuddin Hassan guru ngaji di Sigalangan Padang Sidempuan. Setiap ingat air mata saya menetes tanpa saya sadari dan saya berucap” kita semua milik Allah dan satu waktu kita semua akan kembali kepada Nya”

Lengkapnya kami bersaudara adalah : Marahindi , Sjihabuddin, Nursidah, Moh. Arif, Abdul Malik, Rohana,Abdul Muis, Ismael dan Rakiyah, semua memakai Nama Hasan atau Hassan dibelakang Namanya. Dari semua ini enam orang berprofesi sebagai guru Agama. Namun semuanya telah berpulang ke rahmatullah. Innalilahi Wainna ilahi Roji’un. Tinggallah kini saya seoarng diri, hamba Allah, tak bersaudara(2011).

Setelah tamat dari Sekolah Rakyat, saya berniat untuk melanjutkan pendidikan Agama, karena di samping Sekolah Rakyat saya sempat menamatkan pendidikan agama Ibtidaiyah Muhammadiyah Sigalangan Padang Sidempuan, dan Tsanawiayah Tarbiyatul Ummah” Subulul Falah” Pagaran Pasaman. Sebulan lamanya saya mempersiapkan diri mencari belanja untuk bisa ke Bukittinggi kota impianku, ingin masuk di Modren Islamic College. “Menakik” menyadap getah kukerjakan sebulan penuh, sesudah sholat subuh. Tempatnya di Pagaran namanya, tempatku mondok pendidikan agama, itu kulakukan di bulan puasa tatkala sekolah sedang libur. Dan sehabis lebaran Januari 1942, uang yang terkumpul dari menyadap getah dapat membawa saya ke Bukittinggi,  mengikuti kakak tertua sekaligus guru saya Marahindi Hassan. Beliau membeli buku-buku untuk murid-muridnya dan saya dititipkan pada seorang langganannya pemilik percetakan dan took buku terkenal di Bukittinggi, HMS Soelaiman namanya dengan toko buku dan percetakan Islamiyah, percetakan pertama yang mencetak kitab suci Al-Qur’an di Indonesia. Orang tua inilah kelak yang amat berjasa mengantar saya ke medan hidup. Saya magang di toko buku ini dan diwaktu senggang saya belajar apa saja ilmu yang dapat dipelajari, mulai dari kursus mengetik, tata buku, stenografi, agama dan bahasa. Ini terjadi diakhir-akhir jaman Belanda, tak lama kemudian saya menyaksikan Belanda bertekuk lutut pada Jepang.

Sumber : Imael Hassan “Senangkanlah hatimu  Bunga Rampai Penyejuk Jiwa” .Jakarta 2011

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: