MEMBANGUN KHAZANAH ILMU DAN PENDIDIKAN

Belajar itu adalah perobahan …….

Ketegangan Kosovo dan Serbia tersulut kembali……

Posted by Bustamam Ismail on July 30, 2011

  1. Kosovo Berusaha Merebut Pos Perbatasan, Serbia Tebarkan Ancaman

    This slideshow requires JavaScript.

Polisi Kosovo berusaha merebut beberapa pos perbatasan di daerah utara yang dikuasai Serbia, yang memicu Serbia memperingatkan bahwa tindakan itu dapat meningkatkan ketegangan antar kedua negara.

Tindakan itu adalah yang terbaru dari Pristina (ibukota Kosovo) terhadap bekas penguasanya setelah negara itu melarang semua impor dari Serbia pekan lalu. “Situasi ini sangat berbahaya,” kata Oliver Ivanovic, Menteri Luar Negeri Serbia urusan Kosovo, Selasa (26/7).

Ahad malam pekan lalu, pasukan polisi khusus Kosovo berusaha merebut tiga pos perbatasan di Kosovo utara yang tidak masuk dalam daerah kekuasaan pemerintah negara baru ini. Mereka berhasil merebut satu dari dua perlintasan jalan utama dari Serbia ke Kosovo. Namun penduduk lokal Serbia memblokir jalan itu dari perlintasan perbatasan kedua.

“Ini bukan tindakan terhadap penduduk lokal di sana… tetapi adalah kebijakan kami untuk menjalani norma hukum, menguasai perlintasan-perlintasan perbatasan kami dan juga untuk mempertahankan satu sistem ekonomi yang tidak berfungsi di daerah itu selama beberapa tahun,” kata Wakil Perdana Menteri Kosovo, Hajredin Kuci.

Seorang polisi Kosovo cedera akibat ledakan granat pada Senin (25/7) malam. Pasukan perdamaian NATO masih memantau Kosovo lebih dari 10 tahun setelah berakhirnya perang di sana.

Pasukan ini dikerahkan sebagai penyanggah antara kedua pihak. “Kami telah mengerahkan banyak pasukan di semua daerah untuk menenangkan situasi. Jika ada aksi kekerasan kami akan turun tangan,” kata Juru Bicara NATO, Hans Dietr Wichter.

Di Mitrovica, sebuah kota yang terbelah dua oleh Sungai Ibar antara etnik Albania dan etnik Serbia, pasukan NATO memblokir satu jembatan yang memisahkan dua pihak dengan kendaraan-kendaraan lapis baja.

Kosovo mendeklarasikan kemerdekaannya tiga tahun lalu, tetapi tetap dilanda kemiskinan, tingkat pengangguran yang tinggi, korupsi dan kejahatan, kendati mendapat dukungan kuat dari sebagian besar negara-negara Uni Eropa dan Amerika Serikat.

Serbia kehilangan kekuasaannya atas Kosovo—negara berpenduduk 1,7 juta jiwa yang dianggap sebagai tempat kelahiran Kristen Ortodoks—pada 1999 ketika NATO mengebom untuk menghentikan pembunuhan terhadap etnik Albania. Ketegangan etnik tetap tinggi di bagian utara negara itu, tempat di mana 60.000 warga Serbia-Kosovo yang tidak mengakui negara Kosovo dan menganggap Beograd sebagai ibukota mereka. Tindakan pemerintah Kosovo untuk menguasai pos-pos itu berisiko karena melibatkan pasukan di daerah yang dihuni warga Serbia.
REPUBLIKA.CO.ID, MITROVICA –

Redaktur: cr01

Sumber: Reuters (STMIK AMIKOM

2.      DK PBB Bahas Ketegangan Antara Kosovo dan Serbia

Kekerasan pecah setelah pemerintah Kosovo mengerahkan satuan polisi khusus untuk menguasai tempat penyeberangan perbatasan.

Pasukan NATO mengamankan perbatasan utara Kosovo dengan Serbia di Kosovska Mitrovica, Kosovo (27/11). Dewan Keamanan PBB mengadakan perundingan tertutup hari Kamis untuk membicarakan ketegangan antara Kosovo dan Serbia yang telah mengakibatkan tewasnya seorang polisi etnis Albania sebelumnya pekan ini. Berbicara kepada wartawan menjelang pembicaraan itu, Menteri Luar Negeri Serbia Vuk Jeremic mengatakan ia datang ke PBB untuk memberi keterangan versi mereka dan meminta kepada Dewan Keamanan agar mengutuk penggunaan senjata secara sepihak.

Ia mengatakan masyarakat internasional perlu bertindak cepat untuk menjamin tidak akan ada lagi kekerasan. Keadaan di perbatasan dilaporkan tenang pada hari Kamis, setelah pasukan NATO menguasai dua pos pabean di perbatasan utara Kosovo dengan Serbia.Kekerasan pecah setelah pemerintah etnis Albania Kosovo mengerahkan satuan-satuan polisi khusus hari Senin untuk menguasai tempat penyeberangan perbatasan utara guna menegakkan larangan impor dari Serbia. Larangan tersebut diberlakukan sebagai pembalasan atas penghambatan ekspor Kosovo oleh Serbia.

Setelah polisi Kosovo ditarik hari Rabu berdasarkan persetujuan yang dirundingkan dengan NATO, kira-kira 200 orang Serbia yang sebagian besar bertopeng yang bersenjatakan bom api, menyerang pos-pos tadi.

Perdana Menteri Kosovo Hashim Thaci menuduh Beograd sebagai otak kekerasan itu, dan parlemen Kosovo mengadakan sidang luar-biasa untuk membicarakan keadaan itu.

Tetapi, Presiden Serbia Boris Tadic mengatakan serangan hari Rabu itu dilakukan oleh komplotan preman dan mendesak orang Serbia di Kosovo agar tetap tenang.

http://www.voanews.com/indonesian/news/DK-PBB-Bahas-Ketegangan-Antara-Kosovo-dan-Serbia-126389123.htm

 3.      Uni Eropa Intervensi Bentrokan di Utara Kosovo

WartaNews-Pristina – Sebuah bentrokan mematikan disertai kekerasan terhadap warga Serbia di utara Kosovo telah mengirim ketegangan dengan pihak Beograd, sehingga mendorong intervensi keras dari Uni Eropa.

Kosovo, yang dihuni 90 persen etnis Albania sebagai mayoritas, mengirim sejumlah unit polisi khusus pada hari Senin lalu (25/7) untuk mengambil kendali atas perbatasan utara dan menegakkan larangan impor dari Serbia, sebagai pembalasan atas blokade terhadap ekspor Kosovo.
Sebagai catatan, Kosovo mendeklarasikan kemerdekaan dari Serbia pada 2008 lalu, namun pihak Beograd tidak mengakuinya dan malah memindahkan sekitar 60 ribu warga Serbia untuk tinggal di utara Kosovo, yang masih dianggap Beograd sebagai aset mereka.

Salah satu petugas polisi Kosovo tertembak di bagian kepala dan meninggal pada Selasa (26/7) dalam bentrokan dengan orang Serbia setempat. Lalu, pada hari Rabu (27/7), warga Serbia bersenjata menyerang dan membakar pos perbatasan Jarinje dan menembaki anggota pasukan penjaga perdamaian NATO, KFOR.

Namun, tidak disebutkan apakah ada orang terluka dalam serangan itu atau apakah pasukan KFOR melakukan perlawanan, tapi dilaporkan bahwa bala bantuan telah dikirim ke perbatasan.

Pada hari Rabu (27/7), seorang penembak tak dikenal dikabarkan melepaskan tembakan pada sebuah helikopter NATO. Namun, juru bicara NATO melaporkan, tidak ada korban luka dalam insiden tersebut.

Perdana Menteri Kosovo, Hashim Thaci justru menuduh pihak Beograd telah mendalangi kekerasan tersebut.

“Kami tidak akan mundur, tidak akan ada kata kembali dalam keadaan apapun dan di setiap kesempatan,” katanya. Thaci mengatakan bahwa Serbia mencoba mengambil kembali daerah utara Kosovo, tapi hal tersebut “tidak akan pernah terjadi.”

Di sisi lain, ketua Eropa pro Serbia, Boris Tadic mendesak Presiden Kosovo dan Serbia agar menahan diri dari kekerasan.”Para hooligan yang memicu kekerasan tidak membela, baik orang atau negara Serbia,” kata Tadic dalam sebuah pernyataan di kantornya. Sementara itu, Dewan Keamanan PBB telah menerima permintaan Serbia untuk melakukan pertemuan darurat, menyusul ketegangan di Kosovo, setelah Serbia mengirim surat ke 15 negara DK yang meminta pertemuan terbuka. Pertemuan tersebut didukung oleh sekutu Serbia, Rusia, yang juga menolak mengakui deklarasi kemerdekaan Kosovo dari Serbia, Februari 2008 lalu.

DK tetap memilih untuk kompromi dan dijadwalkan melakukan konsultasi tertutup di Kosovo, Kamis ini (28/7). (*/abi)

http://www.wartanews.com/read/Internasional/57214f2d-4fe7-bb63-1a6a-8731ad19aa7a/Uni-Eropa-Intervensi-Bentrokan-di-Utara-Kosovo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: