MEMBANGUN KHAZANAH ILMU DAN PENDIDIKAN

Belajar itu adalah perobahan …….

Pembebasan Hawazin dan Tsaqif bagian kedua

Posted by Bustamam Ismail on December 24, 2010

Jadi sahabat-sahabat itu oleh Muhammad diperintahkan berangkat ke  Ta’if  dan mengepung  Thaqif  yang dipimpin oleh Malik b. ‘Auf. Ta’if adalah sebuah  kota  yang  sangat  kukuh  tertutup rapat  oleh  pintu-pintu  gerbang seperti kebanyakan kota-kota negeri  Arab  ketika  itu.  Penduduk  kota  ini  sudah   punya pengetahuan  dalam  soal kepung-mengepung dalam peperangan dan punya kekayaan yang cukup besar pula untuk  membuat  perkubuan yang  kuat.  Dalam perjalanan itu Muslimin singgah di Liya. Di tempat ini ada sebuah benteng khusus buat Malik b. ‘Auf,  yang kemudian   mereka   hancurkan,   demikian  juga  sebuah  kebun kepunyaan  pihak  Thaqif   mereka hancurkan   selama   dalam perjalanan itu.

Bilamana  Muslimin  sudah  sampai di Ta’if, Nabi memerintahkan pasukannya  berhenti  dan  bermarkas  di   dekat   kota   itu. Sahabat-sahabat dikumpulkan dan mereka berunding apa yang akan mereka lakukan. Tetapi pihak Thaqif begitu melihat mereka dari atas  perbentengan,  dihujaninya mereka dengan serangan panah, sehingga tidak sedikit pihak Muslimin yang terbunuh. Dan tidak pula  mudah  kaum Muslimin dapat menyerbu benteng-benteng yang sangat kukuh itu. Suatu cara lain harus  mereka  tempuh  bukan seperti  yang  selama  ini  mereka  lakukan  ketika  mengepung Quraiza dan Khaibar. Dapatkah kita menduga, bahwa kalau  hanya dikepung saja sampai mengalami kelaparan pihak Thaqif itu akan mau menyerah? Dan kalau akan mereka serbu  saja,  dengan  cara baru bagaimana harus mereka lakukan?

Inilah beberapa masalah yang perlu dipikirkan dan akan memakan waktu.  Jadi  sebaiknya  pasukan  ini  harus  ditarik   mundur jauh-jauh   dari   sasaran   panah,  supaya  jangan  ada  lagi orang-orang  Islam  yang  akan  mengalami  bencana  dan  tewas karenanya.  Sesudah  itu  boleh  Muhammad  memikirkan apa yang harus dilakukannya.

Dengan perintah Nabi ‘a.s.  markas  itu  sekarang  dipindahkan jauh  dari  sasaran  panah,  dipindahkan ke sebuah tempat yang kemudian setelah Ta’if menyerah dan menerima Islam dibangunnya mesjid  Ta’if  di  tempat  itu.  Hal  ini  sudah menjadi suatu keharusan. Anak panah  Thaqif  sudah  menewaskan  delapanbelas orang  Islam,  dan  tidak  sedikit  pula  yang  telah mendapat luka-luka, diantaranya salah seorang anak Abu Bakr.  Disamping tempat  itu, yang sudah jauh dari sasaran panah, dipasang pula dua buah kemah dari kulit berwarna merah untuk  tempat-tinggal kedua  isteri  Nabi  –  Umm  Salama dan Zainab – yang sejak ia meninggalkan  Medinah,  ikut  bersama-sama  dalam   perjalanan menghadapi   peristiwa-peristiwa  itu.  Diantara  kedua  kemah inilah Muhammad melakukan salat. Dan agaknya Mesjid Ta’if  itu pun di tempat ini pula dibangun.

Kaum Muslimin tinggal di tempat itu sambil menantikan apa yang akan ditentukan  Tuhan  terhadap  mereka  dan  terhadap  lawan mereka  itu nanti. Ada salah seorang orang Arab gunung berkata kepada Nabi: Orang-orang Thaqif yang dalam  benteng  itu  sama seperti rubah yang di dalam liangnya. Untuk dapat mengeluarkan mereka meminta waktu  lama.  Kalau  dibiarkan  saja,  juga  ia takkan  mengganggu.  Tetapi  Muhammad  sudah tidak mau kembali lagi sebelum mendapatkan sesuatu dari pihak Thaqif. Banu  Daus [salah  satu  kabilah  yang tinggal di bawah Mekah] yang sudah berpengalaman dalam menggunakan manjaniq3 dan  “tank,”4 salah seorang  pemimpinnya  adalah  Tufail,  yang  sudah  bersahabat dengan Muhammad sejak perang Khaibar, dan yang  sekarang  ikutpula  mengepung  Ta’if.  Orang ini oleh Nabi diutus memintakan bantuan kepada kabilahnya itu.

Kemudian orang ini datang kembali sudah membawa beberapa orang dari  golongan  itu lengkap dengan alat-alat. Mereka sampai di Ta’if empat hari  kemudian  setelah  kota  itu  dikepung  oleh Muslimin.  Disinilah  pihak  Muslimin  menyerang  Ta’if dengan manjaniq, dan beberapa orang menyerbu dengan  masuk  ke  dalam “tank”  untuk  menerobos  dinding-dinding  benteng itu. Tetapi pihak Ta’if tidak kurang pula pandainya sehingga mereka  dapat memaksa  lawannya  harus  melarikan diri juga. Beberapa batang besi  mereka  panaskan;  bilamana  sudah  mencair,  besi   itu dilemparkannya  ke  arah  “tank”  dan  alat  itu pun terbakar. Karena takut terbakar juga tentara Muslimin pun menyusup lari dari  bawah  alat-alat  itu.  Oleh  pihak  Thaqif mereka terus diserang dengan panah sehingga banyak pula yang terbunuh. Jadi perjuangan ini juga tidak berhasil. Pihak Muslimin  tidak dapat mengalahkan benteng-benteng yang kukuh itu.

Sesudah  itu, kiranya apa pula yang harus mereka lakukan? Lama sekali Muhammad memikirkan hal ini.Tetapi bukankah ia sudah dapat mengalahkan   dan  mengosongkan   Banu Nadzir  dari perkampungannya dengan  jalan  membakar  kebun  kurma  mereka?

Sekarang kebun anggur Ta’if jauh lebih berharga daripada kebun kurma Banu Nadzir Apalagi anggur ini sangat terkenal sekali di seluruh  tanah  Arab  yang membuat Ta’if bangga sebagai tempat yang paling subur di seluruh jazirah, dan sebagai wahah, Ta’if seolah surga di tengah-tengah padang sahara.

Perintah  Muhammad oleh kaum Muslimin sudah akan dilaksanakan. Mereka akan menebangi dan membakari tanaman-tanaman anggur itu  yang sampai sekarang masih tetap terkenal seperti dulu juga. Melihat hal ini orang-orang Thafiq yakin sekali bahwa Muhammad memang  bersungguh-sungguh.  Mereka  mengutus  orang kepadanya supaya kebun itu diambil saja kalau mau,  kalau  tidak  supaya dibiarkan  mengingat  pertalian  keluarga  antara  dia  dengan mereka yang masih berkerabat itu. Muhammad segera menangguhkan hal itu, dan kemudian ia berseru kepada kalangan Thaqif, bahwa barangsiapa  dari  penduduk   Ta’if   yang   bersedia   datang kepadanya,   orang  itu akan dimerdekakan.  Hampir  sebanyak duapuluh orang dari mereka  lalu  melarikan  diri  dan  datang kepadanya.  Dari mereka inilah kemudian diketahui, bahwa dalam benteng-benteng itu terdapat  persediaan  makanan  yang  cukup untuk  waktu  lama.  Oleh  karena  itu  ia  berpendapat  bahwa pengepungan  ini  akan  meminta  waktu  yang  panjang,  sedang pasukannya   sudah  mau  pulang  akan  membagi-bagikan  barang rampasan perang  yang  sudah  mereka  peroleh.  Kalau  diminta supaya   mereka   tetap  tinggal  juga,  mungkin  mereka  akan kehilangan kesabaran. Disamping itu bulan suci pun sudah dekat pula dan perang tidak diperkenankan.

Oleh  karena  itu  ia  lebih senang pengepungan itu dibubarkan saja sesudah satu bulan berjalan. Ketika itu  bulan  Zulhijah, bulan  muda  sudah  keluar.  Dengan  pasukannya itu ia kembali hendak melakukan umrah, dan diingatkannya pula, bahwa ia sudah bersiap hendak ke Ta’if bila bulan suci sudah lalu.

Muhammad  dan  kaum  Muslimin  yang  lain  sekarang  berangkat meninggalkan Ta’if menuju Ji’rana, tempat barang rampasan  dan tawanan perang itu ditinggalkan. Di tempat ini mereka berhenti mengadakan  pembagian.  Seperlima  di  antaranya  oleh   Rasul dipisahkan  buat  dirinya dan yang selebihnya dibaginya kepada para sahabat. Tetapi tatkala mereka di Ji’rana ini,  tiba-tiba datang  utusan  dari  pihak  Hawazin  yang  sudah masuk Islam. Mereka ini  mengharapkan,  supaya  harta  mereka,  wanita  dan anak-anak  dikembalikan kepada mereka karena sudah sekian lama mereka berpisah, dan sudah sekian lama pula  mereka  mengalami kepahitan  hidup.  Utusan  itu  datang menemui Muhammad. Salah seorang dari mereka berkata: “Rasulullah, di tempat-tempat berpagar,5  orang-orang  tawanan itu  terdapat  juga bibi-bibimu dari pihak ayah dan pihak ibu, ibu-ibu yang dulu pernah  memeliharamu.  Jika  sekiranya  kami yang  menyusui  Harith b. Abi Syimr atau Nu’man bin’l-Mundhir, kemudian ia datang melihat keadaan kami seperti yang  kaualami sekarang   ini,   tentu   kami   manfaatkan  dan  kami  mintai belas-kasihannya.  Konon  pula  engkau,  yang  sudah  mendapat pemeliharaan yang terbaik.”

Mereka  tidak  salah  dalam  mengingatkan Muhammad akan adanya hubungan dan pertalian keluarga  itu.  Dari  kalangan  tawanan perang  itu  terdapat seorang wanita yang sudah berusia lanjut mendapat perlakuan keras dari  tentara  Muslimin.  Wanita  itu berkata  kepada  mereka:  “Kamu  tahu, bahwa aku masih saudara susuan dengan kawanmu itu.”

Karena mereka tidak percaya,  oleh  mereka  ia  dibawa  kepada Muhammad,  yang  ternyata segera mengenalnya, bahwa wanita itu Syaima’   bint’l-Harith   ibn   ‘Abd’l-Uzza.   Dimintanya   ia kedekatnya  dan  dihamparkannya  mantelnya supaya ia duduk. Ia dipersilakan memilih – kalau senang tinggal, boleh tinggal dan kalau  ingin  pulang akan diantarkan kepada kabilahnya. Tetapi ternyata wanita itu ingin  pulang  juga  kepada  masyarakatnya sendiri.

Meningkat   hubungan   Muhammad   dengan  mereka  yang  datang menyerahkan diri dari Hawazin itu demikian rupa,  sudah  wajar sekali  apabila  ia  bersikap penuh kasih sayang kepada mereka dan memenuhi  pula  permintaan  mereka.  Sejak  dahulu  memang demikian  inilah  sifatnya,  kepada  siapa  saja  yang  pernah mengulurkan  tangan  kepadanya.  Tahu  berterima   kasih   dan mengingat budi orang sudah menjadi bawaan dan sifatnya.

Setelah mendengar kata-kata mereka itu ia bertanya: “Anak-anak  dan  isteri-isteri  kamu  ataukah  harta kamu yang lebih kamu sukai?” “Rasulullah,” jawab mereka, “kami disuruh memilih antara harta dengan  sanak  keluarga  kami? Mengembalikan isteri-isteri dan anak-anak kami tentu itulah yang kami sukai.”

Lalu kata Nabi ‘a.s.;“Apa yang ada padaku dan pada Banu ‘Abd’l-Muttalib,  itu  akan

kuserahkan  kembali kepadamu. Bilamana nanti sudah selesai aku memimpin orang salat lohor hendaklah kamu berdiri dan katakan: ‘Kami  meminta  bantuan  Rasulullah  kepada  kaum Muslimin dan meminta  bantuan  kaum  Muslimin  kepada  Rasulullah  mengenai anak-anak  kami  dan wanita-wanita kami.’ Maka ketika itu akan kuserahkan kepadamu, dan akan kumintakan buat kamu.

Setelah apa yang diucapkan Nabi itu dilaksanakan oleh Hawazin, ia berkata lagi:

“Apa  yang  ada padaku dan pada Banu ‘Abd’l-Muttalib, itu akan kuserahkan kembali kepadamu.”

Ketika itu juga kaum Muhajirin berkata: “Apa yang ada pada kami, itu kami serahkan kepada Rasulullah.” Dan ini juga yang dikatakan oleh kaum Anshar.

Tetapi Aqra’ ibn Habis atas nama Tamim dan  ‘Uyaina  b.  Hishn menolak,  demikian juga Abbas b. Mirdas atas nama Banu Sulaim. Akan tetapi Banu Sulaim sendiri tidak mengakui penolakan Abbas itu. Dalam hal ini Nabi berkata: “Barangsiapa  mau mempertahankan haknya atas tawanan itu, maka untuk setiap orang ia akan mendapat  ganti  enam  bagian  dari tawanan yang mula-mula didapat.”

Dengan   demikian  wanita-wanita  dan  anak-anak  Hawazin  itu dikembalikan kepada kabilahnya setelah mereka menyatakan  diri masuk  Islam.  Kepada  utusan  Hawazin itu Muhammad menanyakan Malik b. ‘Auf. Setelah diberitahukan bahwa orang itu masih  di Ta’if   dengan   Thaqif,   dimintanya   kepada  mereka  supaya disampaikan: kalau dia mau datang dengan sudah menerima Islam, maka  keluarga  dan  harta bendanya akan dikembalikan dan akan diberi pula seratus ekor unta.

Sekarang orang mulai merasa kuatir – kalau Muhammad memberikan ini  kepada  setiap  utusan yang datang – rampasan perang yang menjadi bagian mereka akan jadi  berkurang.  Oleh  karena  itu mereka  mendesak  supaya  tiap-tiap orang mengambil bagiannya. Dan  mereka  terus  saling  berbisik.  Bisikan  demikian   ini tampaknya  sampai juga kepada Nabi, yang dalam hal ini ia lalu berdiri di samping seekor unta, diambilnya  seutas  bulu  dari ponok unta itu, dan sambil dipegang dengan jari dan diacungkan ke atas ia berkata:

Saudara-saudara.6 Demi Allah! Bagianku  dari  harta  rampasan dan  dari bulu ini hanya seperlima; ini pun sudah dikembalikan kepada kamu.” Kemudian dimintanya kepada mereka  masing-masing supaya  harta  rampasan  itu  dikembalikan dan dengan demikian dapat dibagi secara adil. “Barangsiapa  mengambil  ini  secara tidak  adil  sekalipun  hanya  sebentar  jarum, maka buat yang bersangkutan ini suatu cemar, api dan aib sampai hari kiamat.”

Muhammad mengatakan itu dengan sikap marah  setelah  mantelnya yang  mereka ambil dikembalikan, dan setelah mengatakan kepada mereka: “Kembalikan mantelku itu, saudara-saudara. Demi Allah, andaikata  aku  mempunyai ternak sebanyak pohon di Tihama ini, tentu kubagi-bagikan kepada kamu,  kemudian  akan  kamu  lihat bahwa aku bukan orang yang kikir, pengecut dan pembohong.”

Kemudian  rampasan  perang  itu dibagi lima dan yang seperlima diberikan  kepada  mereka  yang  paling  sengit   memusuhinya. Seratus  ekor  unta  diberikan masing-masing kepada Abu Sufyan dan Mu’awiya anaknya, Harith bin’l-Harith b. Kalada, Harith b. Hasyim,  Suhail  b.  ‘Amr,  Huwaitib  b.  ‘Abd’l-‘Uzza, kepada bangsawan-bangsawan dan kepada beberapa  pemuka  kabilah  yang telah  mulai  lunak  hatinya  setelah pembebasan Mekah. Kepada mereka yang kekuasaan dan kedudukannya kurang dari yang  tadi, diberi  lima  puluh ekor unta. Jumlah yang mendapat bagian itu mencapai puluhan orang. Ketika itu Muhammad menunjukkan  sikap sangat  ramah  dan murah hati, yang membuat orang yang tadinya sangat  memusuhinya,  lidah   mereka   telah   berbalik   jadi memujinya.  Tiada  seorang  dari  mereka  yang  perlu  diambil hatinya itu yang tidak dikabulkan segala keperluannya

Ketika Abbas b. Mirdas mendapat beberapa ekor unta ia tidak senang  hati  dan  mencela karena menurut anggapannya ‘Uyaina, Aqra’ dan yang lain  tampaknya  lebih  diutamakan.  Lalu  Nabi berkata:  “Temui  dia  dan  berilah  lagi  supaya dia puas dan diam.”7

Lalu diberi lagi sampai dia puas. Dan itulah yang membuat  dia diam. Akan  tetapi  tindakan  Nabi  mengambil  hati orang-orang yang tadinya  merupakan  musuh  besar  itu,  telah  menjadi   bahan pembicaraan  di  kalangan  Anshar,  dan  satu sama lain mereka berkata: “Rasulullah telah bertemu dengan masyarakatnya sendiri.” Dalam hal  ini  Sa’d b. ‘Ubada berpendapat akan meneruskan kata-kata Anshar itu kepada Nabi dan akan mendukung pula pendapat mereka itu

Sekarang  kumpulkan  masyarakatmu  di  tempat berpagar ini,”8 kata Nabi.

Setelah oleh Sa’d mereka dikumpulkan dan kemudian Nabi datang, maka terjadi dialog berikut:

Muhammad:  “Saudara-saudara  kaum  Anshar.  Suatu desas-desus9 berasal  dari  kamu  yang  telah  disampaikan   kepadaku   itu merupakan  suatu  perasaan  yang  ada  dalam  hatirnu terhadap diriku, bukan? Bukankah kamu dalam kesesatan ketika aku datang lalu Tuhan membimbing kamu? Kamu dalam kesengsaraan lalu Tuhan memberikan kecukupan kepadamu, kamu dalam permusuhan, Tuhan mempersekutukan kamu?”

Anshar:  “Ya, memang! Tuhan dan Rasul juga yang lebih bermurah hati.”

Muhammad: “Saudara-saudara kaum Anshar.  Kamu  tidak  menjawab kata-kataku?”

Anshar:  “Dengan  apa  harus kami jawab, ya Rasulullah? Segala kemurahan hati dan kebaikan itu ada pada Allah  dan  Rasul-Nya juga.”

Muhammad: “Ya, sungguh, demi Allah! Kalau kamu mau, tentu kamu masih dapat mengatakan –  kamu  benar  dan  pasti  dibenarkan: ‘Engkau  datang  kepada  kami  didustakan  orang, kamilah yang mempercayaimu.  Engkau  ditinggalkan   orang,   kamilah   yang menolongmu.  Engkau  diusir,  kamilah  yang  memberimu tempat. Engkau dalam sengsara, kami yang menghiburmu.’ Saudara-saudara dari  Anshar!  Adakah  sekelumit juga rasa keduniaan itu dalam hati kamu? Dengan itu aku telah mengambil hati suatu  golongan supaya mereka sudi menerima Islam, sedang terhadap keislamanmu aku sudah percaya. Tidakkah kamu rela, saudara-saudara Anshar, apabila  orang-orang itu pergi membawa karnbing, membawa unta, sedang kamu pulang membawa Rasulullah ke tempat kamu? Demi Dia Yang memegang hidup Muhammad! Kalau tidak karena hijrah, tentu aku termasuk orang Anshar. Jika orang menempuh suatu jalan  di celah gunung, dan Anshar menempuh jalan yang lain, niscaya aku akan menempuh jalan  Anshar.  Allahuma  ya  Allah,  rahmatilah orang-orang Anshar, anak-anak Anshar dan cucu-cucu Anshar.”

Semua itu oleh Nabi diucapkan dengan kata-kata penuh keharuan, penuh rasa cinta dan kasih sayang kepada  mereka  yang  pernah memberikan  ikrar, pernah memberikan pertolongan dan satu sama lain saling memberikan kekuatan. Begitu besar keharuannya itu, sehingga  orang-orang  Anshar  pun  menangis,  sambil berkata, “Kami rela dengan Rasulullah sebagai bagian kami.”

Dengan demikian  Nabi  telah  memperlihatkan  ketidaksukaannya pada  harta  yang  telah  diperoleh sebagai rampasan perang di Hunain itu, yang sebenarnya belum pernah ada suatu rampasan perang  diperoleh  sebanyak  itu. Ia   memperlihatkan ketidaksukaannya  pada  harta  itu   sebagai   langkah   dalam mengambil  hati  mereka – yang dalam beberapa minggu yang lalu masih musyrik – dapat melihat bahwa dalam agama yang baru  itu ada  kebahagiaan  hidup dunia dan akhirat. Kalau dalam membagi harta itu Muhammad sendiri sudah merasa payah sekali  sehingga menimbulkan pertanyaan di kalangan Muslimin; dan kalau pun ini telah membawa kemarahan pihak Anshar karena ia telah  bermurah hati  kepada  mereka  yang  perlu dijinakkan itu, namun dengan demikian ia telah memperlihatkan sikap  yang  adil,  pandangan yang jauh serta kebijaksanaan politik yang baik sekali. Dengan demikian ia telah berhasil mengajak ribuan orang  Arab  ini  – semua  dengan  senang  hati,  dengan  perasaan lega – bersedia memberikan nyawanya demi jalan Allah.

Selanjutnya Rasul pun berangkat  dari  Ji’rana  menuju  Mekah, hendak  menunaikan  umrah. Selesai melakukan umrah ia menunjuk ‘Attab b. Asid sebagai  tenaga  pengajar  untuk  Mekah  dengan didampingi  oleh  Mu’adh  b.  Jabal  guna mengajar orang-orang memperdalam agama dan mengajarkan Qur’an.

Ia kembali pulang ke Medinah bersama  orang-orang  Anshar  dan Muhajirin.  Sementara  Nabi  tinggal  di  kota  ini lahir pula anaknya Ibrahim, dan selama beberapa waktu itu,  setelah  agak merasakan  adanya  ketenangan  hidup,  kemudian  ia  pun harus bersiap-siap pula menghadapi perang Tabuk di Syam.

Catatan kaki:

1 Harfiah, ‘kupenuhi panggilanmu’, yakni aku siap (A).

2 ‘Uqiya. ‘Dahulu kala sama dengan 40 dirham (drakhma)  dan di luar hadis sama dengan setengah 1/6 rati, yakni   1/12 bagian, dan ini tergantung kepada istilah negeri masing-masing’ (N). Pada umumnya ‘uqiya sekarang ditaksir sekitar 30 gram (A).

3 Sebuah pesawat pelempar batu (junuq). Mungkin sama  dengan ballista yang biasa digunakan dalam peperangan  dahulu kala (A).

4 Aslinya, dabbaba; dabba melata perlahan-lahan, yakni  semacam alat dibuat daripada kayu dan kulit, orang masuk  ke dalam alat tersebut lalu mendekat benteng yang sedang  dikepung untuk dilubangi atau dibongkar dan mereka  terlindung dan serangan yang datang dan atas (LA) mungkin  dapat disamakan dengan testudo semacam alat perang dahulu  kala, dari bahasa Latin, berarti kura-kura atau kulitnya  yang dapat melindungi badan. Dalam pengertian sekarang  kira-kira sama dengan tank (A).

5 Hazira, ‘segala yang dilingkungi sesuatu, kadang  terdiri dari buluh dan papan’ (LA) yakni tempat berpagar   (A).

6 Ayyuhan nas, harfiah: ‘Hai manusia’ (A).

7 Iqta’u anni lisanahu, yakni ‘berilah lagi supaya dia puas dan diam’ (LA) Harfiah, ‘potongkan lidahnya tentang aku’ (A).

8 Lihat catatan bawah halaman 531 (A).

9 Qalatun, ‘Banyak bicara yang akan menimbulkan   permusuhan’ (N), yakni desas-desus (A).

Sumber: S E J A R A H    H I D U P    M U H A M M A D

oleh MUHAMMAD HUSAIN HAEKAL diterjemahkan dari bahasa Arab oleh Ali Audah

Penerbit PUSTAKA JAYA Jln. Kramat II, No. 31 A, Jakarta Pusat Cetakan Kelima, 1980

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: