MEMBANGUN KHAZANAH ILMU DAN PENDIDIKAN

Belajar itu adalah perobahan …….

Pembebasan Hawazin dan Tsaqif

Posted by Bustamam Ismail on December 15, 2010

DENGAN perasaan gembira karena kemenangan yang telah diberikan Tuhan,  kaum  Muslimin masih tinggal di Mekah setelah kota itu dibebaskan.  Mereka  sangat  bersenang  hati   sekali   karena kemenangan   besar  ini  tidak  banyak  minta  kurban.  Setiap terdengar suara Bilal mengucapkan azan sembahyang, cepat-cepat mereka  pergi  ke  Mesjid  Suci,  berebut-rebutan  di  sekitar Rasulullah, dimana saja ia berada dan ke mana saja ia pergi.

A. Kabilah Hawazin  merasa ternancan karena kemenangan kaum muslimin

Kaum Muhajirin pun sekarang dapat  pulang,  dapat  berhubungan dengan  keluarga  mereka,  yang  kini  telah mendapat petunjuk Tuhan. Hati mereka pun sudah yakin bahwa keadaan  Islam  sudah mulai  stabil,  dan  bahwa  perjuangan  sebagian  besar  sudah membawa  kemenangan.  Akan  tetapi  limabelas  hari   kemudian setelah  mereka tinggal di Mekah itu, tiba-tiba tersiar berita yang membuat mereka harus segera sadar kembali. Soalnya ialah, Kabilah  Hawazin  yang  tinggal  di  pegunungan  tidak jauh di sebelah timur-laut Mekah, setelah melihat kemenangan  Muslimin yang     telah    membebaskan    Mekah    dan    menghancurkan berhala-berhala, mereka  pun  kuatir  akan  mendapat  giliran; pihak Muslimin akan juga menyerbu daerah mereka. Terpikir oleh mereka apa yang harus mereka lakukan  dalam  mencegah  bencana yang  akan  menimpa  mereka itu. dan membendung Muhammad serta mencegah  arus   kaum   Muslimin   yang   akan   menghilangkan kemerdekaan kabilah-kabilah itu di seluruh jazirah bila mereka semua digabungkan kedalam  suatu  kesatuan  di  bawah  naungan Islam.

B. Malik bin “Auf mengatur siasat untuk kabilah Hawazin dan Thaqif

Untuk  itu  Malik  b.  ‘Auf  dari Banu Nashr sekarang berusaha mengumpulkan kabilah-kabilah Hawazin dan Thaqif, demikian juga kabilah-kabilah  Nashr  dan  Jusyam.  Dari pihak Hawazin semua ikut, kecuali Ka’b dan Kilab. Sedang  dari  pihak  Jusyam  ada orang  yang  bernama  Duraid  bin’sh-Shimma,  orang yang sudah berusia lanjut dan sudah tidak berguna  buat  ikut  berperang, tetapi   sebagai   orang   yang   sudah  bertahun-tahun  punya pengalaman  dalam  perang,  pendapatnya   sangat   diperlukan.

Kabilah-kabilah    itu    semua   berkumpul,   membawa   serta harta-benda,  wanita  dan  anak-anak  mereka.  Mereka   menuju dataran   Autas.   Bilamana   dengusan   unta,   keledai  yang melengking, tangisan anak  dan  kambing  yang  mengembik-embik sampai ke telinga Duraid, ia bertanya kepada Malik b. ‘Auf: “Kenapa semua harta-benda, wanita dan anak-anak itu ikut serta dalam peperangan?” Malik menjawab “bahwa hal itu dilakukan guna  memberi  semangat kepada angkatan perangnya”. “Kalau kalian akan mengalami kekalahan mungkinkah hal ini bisa mencegahnya?” kata Duraid lagi. “Kalau harus menang juga, maka yang  penting  hanyalah  laki-laki dengan pedang dan panahnya; sebaliknya kalau kamu harus mengalami kekalahan, keluarga  dan hartamu hanya akan membawa bencana.”

Dengan  Malik ia berselisih pendapat. Tetapi orang banyak ikut Malik. Dia seorang pemuda berusia tigapuluh tahun, bersemangat dan  punya  kemauan keras. Sekalipun sudah berpengalaman dalam perang, sekali ini Duraid menyerah kepada pendapat mereka.

Sekarang Malik memerintahkan supaya orang berangkat ke  puncak gunung  dan  ke  selat  Lembah  Hunain.  Bilamana  nanti  kaum Muslimin turun ke lembah itu, maka hendaklah mereka  diserang, sehingga  dengan  serangan satu orang saja barisan mereka akan sudah  jadi  lemah,  mereka  akan  kucar-kacir,  akan   saling menghantami sesama mereka. Dengan demikian mereka akan hancur, pengaruh kemenangan  mereka  ketika  membebaskan  Mekah  sudah takkan   berarti   lagi.   Yang  ada  nanti  hanya  kemenangan kabilah-kabilah Hunain itu saja di seluruh jazirah Arab, suatu kemenangan   yang  akan  dapat  dibanggakan  dalam  menghadapi kekuatan yang kini menguasai tanah Arab  itu.  Perintah  Malik ditaati  oleh kabilah-kabilah dan mereka membuat pertahanan di selat wadi itu.

C. Nabi bersama kaum Muslimin bersiap menyerbu Hawazin dan Tsaqif

Pihak Muslimin sendiri setelah dua minggu  tinggal  di  Mekah, dalam  persiapan  senjata  dan tenaga yang belum pernah mereka alami sebelum itu, dengan pimpinan Muhammad  mereka  berangkat pula  cepat-cepat.  Mereka bergerak dalam jumlah duabelas ribu orang. Sepuluh ribu terdiri dari mereka  yang  telah  menyerbu dan  membebaskan  Mekah  dan  yang  dua ribu lagi terdiri dari orang-orang Quraisy yang sudah Islam – di antaranya Abu Sufyan b.  Harb.  Mereka  semua  mengenakan  pakaian  berlapis  besi didahului  oleh  pasukan  berkuda  dan   unta   yang   membawa perlengkapan  dan bahan makanan. Keberangkatan Muslimin dengan pasukan demikian ini, sebenarnya memang belum  pernah  dikenal

di  seluruh  jazirah.  Setiap  kabilah didahului oleh panjinya masing-masing, tampil kedepan dengan hati bangga karena jumlah yang   begitu   besar,   yang  tidak  akan  dapat  dikalahkan.

Sampai-sampai antara mereka satu sama lain ada  yang  berkata: Karena  jumlah  kita yang besar ini sekarang kita takkan dapat dikalahkan.

Menjelang sore hari itu mereka  sudah  sampai  di  Hunain.  Di pintu-pintu masuk wadi itu mereka berhenti dan tinggal di sana sampai waktu fajar keesokan  harinya.  Ketika  itulah  pasukan mulai  bergerak  lagi. Muhammad mengikuti dari belakang dengan menunggang bagalnya yang putih.  Sementara  Khalid  bin’lWalid yang  memimpin  Banu Sulaim berada di depan. Dari selat Hunain itu mereka menyusur ke sebuah  wadi  di  Tihama.  Akan  tetapi sementara   mereka   sedang  menuruni  lembah  itu,  tiba-tiba datanglah serangan mendadak  secara  bertubi-tubi  dari  pihak

kabilah-kabilah  dengan komando Malik b. ‘Auf. Sementara masih dalam keadaan remang-remang subuh itu  mereka  telah  dihujani panah  oleh  pihak  Malik. Ketika itulah keadaan Muslimin jadi kacau-balau.  Dalam  keadaan  terpukul  demikian  itu   mereka berbalik  surut dengan membawa perasaan takut dan gentar dalam hati, dan ada pula yang lari sekuat-kuatnya.  Dalam  hal  ini, dengan  senyum  gembira  di  bibir  – Abu Sufyan yang sekarang melihat  kegagalan  orang-orang  yang  kemarin   telah   dapat mengalahkan Quraisy itu – berkata “Mereka takkan berhenti lari sebelum sampai ke laut.”

Begitu juga Syaiba b. ‘Uthman b. Abi Talha berkata:  “Sekarang aku  dapat  membalas Muhammad. Berkata begitu, karena bapanya

telah terbunuh dalam perang Uhud”.

Ketika Kalada b. Hanbal berkata: “Ya, sihirnya sekarang  sudah tidak  mempan,” dibalas oleh Shafwan saudaranya sendiri: “Diam kau! Sungguh aku lebih suka di bawah orang Quraisy daripada di bawah Hawazin.

Percakapan  demikian  itu  terjadi  sementara  keadaan pasukan perang sedang kucar-kacir.  Dalam  pada  itu,  kabilah-kabilah yang  sedang  mengalami kekalahan itu satu demi satu berlarian di hadapan Nabi yang berada di belakang  –  tanpa  melihat  ke kanan kiri lagi.

 

Apa  kiranya  yang  diperbuatnya?  Mungkinkah pengorbanan yang duapuluh tahun itu akan hilang dalam sekejap mata begitu  saja pada  pagi buta itu? Ataukah Tuhan sudah menjauhinya dan sudah tidak lagi memberikan pertolongan?  Tidak!  Tidak!  Ini  tidak mungkin!  Sebelum  itu,  sudah  ada  bangsa-bangsa  yang sudah punah, golongan-golongan yang sudah tak ada lagi. Sebelum  itu pun   Muhammad   sudah   biasa   bergumul  dengan  maut,  dan kalau-kalau dalam mati membela agama Allah itu kemenangan akan ada.  Dan  apabila  ajal  itu  sudah  datang  tidak akan dapat sedetik pun ditunda atau dimajukan.

Muhammad tetap tabah tiada  bergerak  di  tempatnya.  Beberapa orang dari kalangan Muhajirin, Anshar serta kerabat-kerabatnya tetap berada di sekelilingnya.

Dalam pada itu dipanggilnya orang-orang  yang  melarikan  diri lewat di hadapannya itu seraya katanya: “Hai orang-orang! Kamu mau ke mana? Mau ke mana?”

Tetapi, orang-orang yang sudah penuh ketakutan itu sudah tidak mendengar apa-apa lagi. Yang tergambar dalam mata mereka hanya Hawazin dan  Thaqif  yang  kini  sedang  meluncur  turun  dari perkubuan   di   puncak-puncak  gunung  mengejar  mereka.  Dan gambaran mereka itu tidak salah.  Pihak  Hawazin  sudah  mulai turun  dari  tempat  semula,  didahului oleh seseorang di atas seekor unta berwarna merah, dan membawa sebuah  bendera  hitam yang  dipancangkan  pada  sebilah  tombak  panjang.  Setiap ia bertemu dengan pihak Muslimin ditetakkannya tombak itu  kepada mereka,  sementara  pihak Hawazin, Thaqif dan sekutu-sekutunya terus meluncur turun dari belakang sambil terus menghantam.

D. Nabi Muhammad ingin menerjang sendiri ke tengah musuh.

Semangat baru timbul dalam hati Muhammad. Dengan bagalnya yang putih itu ia  ingin menerjang sendiri ke tengah-tengah musuh yang  sedang  meluap-luap  seperti  banjir  itu.  Sesudah  itu terserah  kepada  Tuhan.  Akan  tetapi Abu Sufyan b. Harith b. ‘Abd’l-Muttalib segera menahan kekang bagal itu dan dimintanya jangan dulu maju.

Abbas  b.  ‘Abd’l-Muttalib seorang laki-laki yang berperawakan besar dan lantang sekali suaranya. Ia berseru  yang  kira-kira akan  dapat  didengar  oleh  semua orang dari segenap penjuru: “Saudara-saudara dari kalangan Anshar  yang  telah  memberikan tempat  dan  pertolongan!  Saudara-saudara dari Muhajirin yang telah   memberikan   ikrar    di    bawah    pohon!    Marilah saudara-saudara, Muhammad masih hidup!”

Seruan  demikian  itu  diulang-ulangnya  oleh  Abbas, sehingga suaranya bersipongang dan bergema  ke  segenap  penjuru  wadi.

Disinilah  adanya  mujizat  itu:  Orang-orang ‘Aqaba mendengar nama ‘Aqaba, teringat  oleh  mereka  Muhammad,  teringat  akan janji  dan  kehormatan  diri mereka. Demikian juga orang-orang Muhajirin, begitu  mendengar  nama  Muhajirin,  teringat  oleh mereka  akan  pengorbanan  mereka  selama  ini,  teringat akan kehormatan  diri  mereka.  Mereka  itu  sudah mendengar  dan mengetahui  tentang  ketenangan  dan  ketabahan hati Muhammad, disamping sejumlah kecil  orang-orang  Muhajirin  dan  Anshar, yang  sama  tabahnya  seperti  ketika Perang Uhud dulu – dalam

menghadapi musuh yang begitu besar. Dalam  hati  mereka  kini terbayang  betapa akibatnya kemenangan orang-orang musyrik itu terhadap agama  Allah  kelak  sekiranya  mereka  ini  sekarang gagal.

Seruan  Abbas  yang  selama itu masih tetap berkemandang dalam telinga, hati mereka  sekaligus  tersentak  karenanya.  Ketika itulah   mereka   saling   menyambut   dari  segenap  penjuru: “Labbaika,1 Labbaika! ” Mereka-semua kini kembali, dan bertempur  lagi  secara  heroic sekali.

Pihak Hawazin yang sudah menyusur turun dari tempatnya semula, sekarang sudah berhadapan muka dengan  Muslimin  dalam  lembah itu.  Sinar  siang  sudah  mulai tampak dan remang pagi dengan sendirinya menghilang. Di sarnping Rasulullah  sekarang  sudah berkumpul  beberapa  ratus  orang  siap akan berhadapan dengan kabilah-kabilah itu. Jumlah mereka  ini  bertambah  juga.  Dan dengan  kembalinya  mereka  itu,  semangat  yang tadinya sudah lemah  kini  kembali  berkobar-kobar.  Pihak  Anshar   sendiri berteriak: “Hai Anshar!” Lalu mereka saling memanggil-manggil:”Hai Khazraj!”

Perasaan lega mulai terasa oleh  Muhammad  tatkala  dilihatnya mereka kini kembali lagi.

Sementara Muhammad menyaksikan pertempuran itu berkobar dengan pertarungan yang semakin sengit dan melihat moril anak buahnya makin  tinggi  dalam  memukul  lawan,  ia  berkata:  “Sekarang pertempuran benar-benar berkobar. Tuhan tidak menyalahi  janji kepada RasulNya.”

Kepada  Abbas  dimintanya  segenggam batu kerikil dan kemudian kerikil itu  dilemparkannya  ke  muka  musuh  seraya  katanya: “Wajah-wajah  yang  buruk!” Dan terjunlah kaum Muslimin itu ke tengah-tengah gelanggang dengan tidak lagi  menghiraukan  maut demi  di  jalan  Allah. Mereka percaya, bahwa kemenangan pasti datang dan barang siapa gugur ia akan mendapat kemenangan yang lebih  besar  lagi daripada hidup. Perjuangan ketika itu hebat sekali. Baik Hawazin maupun Thaqif  dan  pengikut-pengikutnya, begitu melihat  bahwa   setiap  perlawananya  ternyata  tidak berhasil,  bahkan   mereka   sendiri   terancam   akan   habis

samasekali,  cepat-cepat  mereka lari dalam keadaan berantakan tanpa  melihat  ke  kanan-kiri   lagi,   dengan   meninggalkan wanita-wanita  dan anak-anak mereka sebagai rampasan perang di tangan kaum Muslimin, yang ketika itu dihitung sebanyak 22.000 ekor  unta,  40.000  kambing  dan  4.000 ‘uqiya2 perak. Sedang tawanan  perang  yang  terdiri  dari  6.000  orang  itu  telah dipindahkan   dengan   pengawalan   ke  Wadi  Ji’rana.  Mereka ditempatkan disana sementara  menunggu  Muslimin  kembali  dan

mengejar  sisa-sisa  musuh  serta  sekaligus  mengepung  pihak Thaqif di Ta’if.

Muslimin meneruskan pengejarannya terhadap musuh  mereka  itu. Lebih  tertarik lagi mereka mengadakan pengejaran itu karena Rasul mengumumkan, bahwa barang  siapa  dapat  menyerbu  orang musyrik,   maka   ia  boleh  merampasnya.  Ketika  itu  Rabi’a bin’d-Dughunna telah dapat mengejar seekor unta  yang  membawa pelangkin,   yang   diduganya  berisi  wanita;  ia  pun  ingin merampasnya. Unta itu berlutut  dan  ternyata  isinya  seorang laki-laki  tua  yang  oleh  pemuda itu tidak dikenalnya, yaitu Duraid bin’sh-Shimma. Kepada Rabi’a itu Duraid  bertanya:  Mau diapakan   dirinya.   “Akan  kubunuh  kau,”  jawabnya,  sambil mengayunkan pedang. Tetapi tidak berhasil.

Jahat sekali ibumu mempersenjataimu!” kata Duraid.  “Ambillah pedangku  di  belakang  itu dan pukulkan. Keluarkan tulang dan otaknya. Begitulah aku menghantam orang dengan pedang itu. Dan

kalau  kau  sudah  pulang,  katakan  kepada ibumu bahwa engkau telah membunuh Duraid bin’sh-Shimma. Sudah sering  sekali  aku melindungi wanita-wanitamu.”

Sesampainya  di  rumah, oleh Rabi’a hal itu diceritakan kepada ibunya. “Dasar tangan celaka kau,” kata ibunya.  “Dia  mengatakan  itu hanya  akan mengingatkan kita akan jasa-jasanya kepada engkau. Dia telah memerdekakan tiga orang ibu pada suatu  pagi:  Yaitu aku, ibuku dan ibu ayahmu.”

Pengejaran   terhadap   pihak   Hawazin  oleh  pihak  Muslimin diteruskan sampai di Autas. Di tempat ini mereka digempur  dam dihancurkan  samasekali.  Kaum wanita dan barang-barang mereka dirampas lalu dibawa kepada  Muhammad.  Malik  b.  ‘Auf  hanya sebentar  saja bertahan kemudian ia pun lari, dia bersama-sama dengan kabilahnya dan  golongan  Hawazin,  dan  di  Nakhla  ia berpisah  dengan  mereka.  Ia  memutar  haluan ke Ta’if dan di tempat ini ia berlindung.

 

Dengan demikian nyatalah sudah kemenangan orang-orang  beriman itu  dan  nyata  pula  kehancuran  total  orang-orang musyrik, setelah remang-remang subuh itu pihak Muslimin  dalam  keadaan terancam,  mendapat  serangan serentak sehingga mereka menjadi kacau-balau. Kemenangan Muslimin yang  sangat  menentukan  itu ialah karena ketabahan Muhammad dan sejumlah kecil orang-orang di sekelilingnya. Dalam hal inilah firman Tuhan turun:

“Tuhan telah menolong kamu  pada  beberapa  tempat  dan  dalam Perang Hunain, tatkala kamu merasa bangga sekali karena jumlah kamu yang besar. Tetapi ternyata jumlah yang besar itu sedikit pun  tidak  menolong kamu, dan bumi yang seluas ini pun terasa amat sempit buat kamu, lalu kamu berbalik mundur. Sesudah  itu Tuhan  menurunkan  perasaan  tenang  kepada  Rasul  dan kepada orang-orang beriman serta diturunkanNya pula balatentara  yang tidak  kamu  lihat,  dan disiksanya orang-orang kafir itu, dan memang itulah balasan  buat  orang-orang  kafir.  Sesudah  itu kemudian    Allah    menerima    taubat    barangsiapa    yang

dikehendakiNya,   Allah   Maha   Pengampun   dan    Penyayang. Orang-orang  beriman! Ingatlah, orang-orang musyrik itu kotor. Sebab itu sesudah ini, janganlah mereka memasuki Mesjid  Suci, dan  kalau  kamu  kuatir  menjadi  miskin,  maka  Tuhan dengan kurniaNya  akan  memberikan   kekayaan   kepada   kamu,   jika dikehendaki.  Sesungguhnya  Tuhan  Maha  tahu  dan Bijaksana.”

(Qur’an, 9: 25-28)

Akan tetapi kemenangan ini tidak diperoleh dengan harga  murah oleh kaum Muslimin. Mereka membayarnya dengan harga yang cukup mahal. Mungkin ini tidak  akan  mereka  lakukan,  kalau  tidak karena  pada  mulanya  mereka  telah  mengalami kegagalan lari dalam kekalahan, sehingga seperti dikatakan  oleh  Abu  Sufyan”Mereka  takkan  berhenti  lari sebelum mencapai laut.” Mereka membayar harga  mahal  itu  dengan  jiwa  orang-orang  penting dengan  pahlawan-pahlawan  yang  gugur  dalam pertempuran itu, meskipun jumlah semua kurban tidak disebutkan dalam  buku-buku biografi  Nabi.  Seperti  sudah  disebutkan, bahwa dua kabilah Muslimin hampir habis binasa, dan Nabi telah mendoakan  semoga Tuhan memasukkan arwah mereka ke dalam surga. Tetapi bagaimana pun juga nyatanya ia  telah  mendapat  kemenangan:  kemenangan total  yang diperoleh Muslimin terhadap lawan mereka, disertai rampasan dan tawanan perang, yang  sebelum  itu  tidak  pernah

mereka   alami.   Kemenangan   adalah  segalanya  dalam  suatu pertempuran, betapa pun besarnya  harga  yang  harus  dibayar, selama   itu  merupakan  suatu  kemenangan  terhormat.  Dengan demikian Muslimin merasa gembira sekali akan kurnia yang telah diberikan   Tuhan   itu.  Mereka  tinggal  menunggu  pembagian rampasan perang dan dengan itu  mereka  kembali  pulang.  Akan tetapi  Muhammad  menginginkan  suatu  kemenangan  yang  lebih cemerlang lagi. Kalau Malik b.  ‘Auf  yang  telah  mengerahkan orang-orang,  kemudian  setelah mengalami kekalahan ia sendiri mencari perlindungan pada pihak Thaqif di  Ta’if,  maka  pihak Muslimin  sekarang hendaknya dapat mengepung Ta’if lebih ketat lagi. Begitu itulah cara dalam Khaibar  setelah  perang  Uhud, dan  terhadap  Quraiza  setelah  Khandaq.  Mungkin suasana ini mengingatkan dia ketika beberapa tahun sebelum Hijrah ia pergi ke  Ta’if, menganjurkan Islam kepada penduduk kota itu. Tetapi dia malah dicemooh, dan anak-anak  melemparinya  dengan  batu, sehingga terpaksa ia berlindung pada sebuah kebun anggur. Juga mungkin ia teringat betapa benar  ia  berangkat  seorang  diri ketika  itu,  dalam  keadaan  sangat  lemah,  tiada daya upaya selain Tuhan, selain  iman  yang  besar  yang  telah  memenuhi dadanya,  iman  yang telah dapat meruntuhkan gunung. Sekarang, sekarang ia berangkat menuju  Ta’if  dengan  sebuah  rombongan Muslimin,  dengan  suatu  jumlah  yang belum pernah disaksikan sepanjang sejarah jazirah itu.

Sumber: S E J A R A H    H I D U P    M U H A M M A D

oleh MUHAMMAD HUSAIN HAEKAL diterjemahkan dari bahasa Arab oleh Ali Audah Penerbit PUSTAKA JAYA Jln. Kramat II, No. 31 A, Jakarta Pusat

Cetakan Kelima, 1980

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: