MEMBANGUN KHAZANAH ILMU DAN PENDIDIKAN

Belajar itu adalah perobahan …….

Pembebasan Kota Mekkah Bagian Kedua

Posted by Bustamam Ismail on December 2, 2010

Disamping  Abbas,  yang  juga  berangkat menyongsong ialah Abu Sufyan bin’l-Harith b. ‘Abd’l-Muttalib, sepupu Nabi,  Abdullah b.    Abi   Umayya   bin’l-Mughira,   anak   bibinya.   Mereka menggabungkan diri dengan  pasukan  Muslimin  di  Niq’l-‘Uqab. Mereka berdua minta ijin akan menemui Nabi, tapi Nabi menolak. “Tidak  perlu  aku  kepada mereka,” katanya kepada Umm Salama, isterinya, ketika ia mencoba membicarakan  masalah  dua  orang itu.  “Aku  sudah  banyak  menderita  karena anak pamanku itu. Sedang anak bibiku, dan iparku pula, ia sudah mengatakan  yang bukan-bukan ketika ia di Mekah.”

Keterangan ini disampaikan kepada Abu Sufyan, dan dia berkata: “Demi  Allah,  bagiku  hanyalah  aku  ingin diijinkan bertemu, atau, dengan bantuan anakku ini, kami akan pergi ke mana saja, sampai kami mati kehausan dan kelaparan.” Nabi   merasa  kasihan  kepada  mereka.  Kemudian  mereka  pun diijinkan masuk menemuinya, dan mereka menyatakan masuk Islam.

Menyaksikan pasukan Muslimin serta kekuatannya  yang  demikian rupa,  Abbas  b.  ‘Abd’l-Muttalib  sekarang  merasa  cemas dan terkejut sekali. Sekalipun ia sudah masuk Islam, namun hatinya selalu  kuatir  akan  bencana  yang  akan  menimpa  Mekah jika

kekuatan pasukan yang belum pernah ada bandingannya di seluruh jazirah  Arab  itu kelak menyerbu ke dalam kota. Bukankah baru saja  ia  meninggalkan  Mekah,   meninggalkan   keluarga   dan handai-tolan, yang belum lagi terputus pertalian mereka karena Islam yang baru dianutnya itu? Boleh jadi ia  menyatakan  rasa kekuatirannya  itu kepada Rasul, dan ia bertanya apa yang akan diperbuatnya kalau pihak Quraisy minta damai. Atau boleh  jadi juga sepupunya ini yang dengan senang hati membuka pembicaraan dengan Abbas dalam  hal  ini,  dan  diharapkannya  ia  menjadi seorang  utusan yang akan memberi kesan yang menakutkan kepada sekelompok orang di kalangan Quraisy itu, sehingga kelak dapat memasuki  Mekah tanpa sesuatu pertumpahan darah dan Mekah akan tetap  dalam  kesuciannya  seperti  dulu  dan   seperti   yang seharusnya akan demikian.

Dengan duduk di atas seekor bagal3 putih kepunyaan Nabi, Abbas berangkat pergi ke daerah Arak, dengan harapan kalau-kalau  ia akan berjumpa dengan orang mencari kayu, atau tukang susu atau dengan manusia siapa saja yang sedang pergi ke Mekah. Ia  akan menitipkan  pesan  kepada  penduduk  kota itu tentang kekuatan pasukan Muslimin yang sebenarnya supaya mereka  kelak  menemui Rasulullah  dan  minta damai sebelum pasukan ini memasuki kota dengan kekerasan.

Sejak pihak Muslimin berlabuh di Marr’z-Zahran,pihak Quraisy sudah  mulai  merasakan  adanya  bahaya  yang sedang mendekati mereka. Maka diutusnya Abu Sufyan b. Harb,  Budail  b.  Warqa’ dan  Hakim  b.  Hizam  – masih kerabat Khadijah – mencari-cari berita serta mengajuk sampai seberapa jauh bahaya yang mungkin mengancam mereka itu.

Sementara  Abbas  sedang  di  atas  bagal Nabi yang putih itu, tiba-tiba ia mendengar ada percakapan  antara  Abu  Sufyan  b. Harb dengan Budail b. Warqa’ sebagai berikut:

Abu  Sufyan:  “Aku belum pernah melihat api unggun dan pasukan tentara seperti yang kita lihat malam ini.”

Budail: “Tentu itu api unggun Khuza’a  yang  sudah  dirangsang perang.” Abbas  sudah  mengenal suara Abu Sufyan itu, lalu dipanggilnya dengan nama julukannya: “Abu Hanzala!” “Abu’l-Fadzl!” gilir Abu Sufyan menyahut. “Abu Sufyan, kasihan engkau!” kata Abbas.  “Rasulullah  berada di  tengah-tengah  rombongan  itu.  Apa  jadinya Quraisy kalau mereka memasuki Mekah dengan kekerasan.”

“Apa yang harus kita perbuat!” kata Abu Sufyan. “Kupertaruhkan ibu-bapaku untukmu.”4 Oleh  Abbas  ia  dinaikkannya  di belakang bagal dan diajaknya berangkat  bersama-sama,  sedang  kedua  temannya   disuruhnya kembali  ke Mekah. Oleh karena ketika melihat bagal itu mereka sudah mengenalnya, dibiarkannya  ia  dengan  penumpangnya  itu lalu  di  hadapan  mereka, di tengah-tengah sepuluh ribu orang yang sedang memasang api unggun, yang sengaja  dipasang  untuk menimbulkan kegentaran dalam hati penduduk Mekah.

Akan  tetapi  ketika  bagal  itu lalu di depan api unggun Umar bin’l-Khattab, dan Umar melihatnya, sekaligus ia mengenal  Abu Sufyan dan diketahuinya pula bahwa Abbas hendak melindunginya. Cepat-cepat ia pergi ke kemah Nabi dan dimintanya kepada  Nabi supaya batang leher orang itu dipenggal. “Rasulullah,” kata Abbas. “Saya sudah melindunginya.”

Menghadapi situasi semacam itu dan waktu sudah malam pula, dan setelah terjadi perdebatan yang kadang sengit juga antara Umar dan Abbas, Muhammad berkata: “Bawalah  dia dulu ke tempatmu, Abbas. Pagi-pagi besok bawa ke mari.” Keesokan  harinya,  bilamana  Abu  Sufyan  sudah  dibawa  lagi menghadap  Nabi  dan  disaksikan  oleh  pembesar-pembesar dari kalangan Muhajirin dan Anshar – terjadi dialog demikian ini:

Nabi: “Kasihan kamu Abu Sufyan! Bukankah sudah  tiba  waktunya sekarang  engkau  harus mengetahui, bahwa tak ada Tuhan selain Allah!?” Abu  Sufyan:  “Demi  ibu-bapaku!  Sungguh  bijaksana   engkau! Sungguh  pemurah engkau dan suka memelihara hubungan keluarga! Aku memang sudah menduga, bahwa tak ada  tuhan  selain  Allah, itu sudah mencukupi segalanya.”

Nabi: “Kasihan engkau Abu Sufyan! Bukankah sudah tiba waktunya engkau harus mengetahui, bahwa aku Rasulullah!?” Abu  Sufyan:  “Demi  ibu-bapaku!  Sungguh  bijaksana   engkau! Sungguh  pemurah engkau dan suka memelihara hubungan keluarga! Tetapi mengenai hal ini, sungguh  sampai  sekarang  masih  ada sesuatu dalam hatiku.”

Sekarang  Abbas  campur  tangan.  Ia  bicara  dengan ditujukan kepada Abu Sufyan, supaya ia mau menerima Islam  dan  bersaksi bahwa tak ada tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad pesuruhNya sebelum batang lehernya dipenggal. Menghadapi hal  ini  buat Abu  Sufyan  tak  ada  jalan  lain ia harus menerima. Sekarang Abbas menghadapkan pembicaraannya kepada Nabi ‘alaihissalam: “Rasulullah,” katanya. “Abu Sufyan  orang  yang  gila  hormat. Berikanlah sesuatu kepadanya.”

 

“Ya,” kata Rasulullah “Barangsiapa datang ke rumah Abu Sufyan, orang itu selamat, barangsiapa menutup  pintu  rumahnya  orang itu  selamat  dan  barangsiapa masuk ke dalam mesjid orang itu juga selamat.”

Ahli-ahli sejarah dan penulis-penulis riwayat hidup Nabi semua sepakat  tentang  terjadinya  peristiwa-peristiwa  itu.  Hanya sebagian mereka masih ada yang  bertanya-tanya:  Adakah  semua itu terjadi karena kebetulan saja? Kepergian Abbas kepada Nabi dengan maksud  hendak  pergi  ke  Medinah,  tiba-tiba  bertemu dengan   pasukan   tentara  Muslimin  di  Juhfa,  begitu  juga kepergian Budail b. Warqa’ dan Abu Sufyan b. Harb  yang  hanya sekedar  mau  mengintai,  padahal  sebelum  itu Budail sendiri sudah ke Medinah dan melaporkan kepada  Nabi  apa  yang  telah terjadi terhadap Khuza’a dan dari Nabi diketahuinya bahwa Nabi akan membelanya. Adakah  dalam  kepergiannya  ini  Abu  Sufyan tidak  menyadari  bahwa  Muhammad  juga telah berangkat hendak menyerbu Mekah? Ataukah karena sesuatunya itu – sedikit banyak

–  dengan suatu persepakatan yang sudah diatur lebih dulu, dan karena persepakatan itu pula, telah mempertemukan Abbas dengan Abu  Sufyan, dan bahwa Abu Sufyan sudah yakin – sejak ia pergi ke  Medinah  hendak  meminta  perpanjangan  waktu   Perjanjian Hudaibiya  dan  kembali  dengan  tangan kosong – bahwa tak ada jalan lain buat Quraisy akan dapat menahan Muhammad dan  yakin pula  ia  bahwa kalau ia membukakan jalan untuk pembebasan itu ia   akan   tetap   memegang   pimpinan   dan   mempertahankan kedudukannya  yang  penting di Mekah, dan bahwa apa yang telah

menjadi persepakatan  mereka  itu  tidak  sampai  pula  kepada Muhammad  dan  kepada  orang-orang  yang berkepentingan dengan soal itu,  dengan  kenyataan  bahwa  Umar  sendiri  pun  telah bermaksud  hendak  membunuh Abu Sufyan? Besar sekali risikonya kita akan menjatuhkan vonis. Tetapi rasanya  kita  sudah  akan dapat  memastikan  –  untuk  memuaskan  hati kita – bahwa baik karena suatu  kebetulan  saja  yang  telah  menyebabkan  semua peristiwa  itu,  atau  karena  memang  sudah ada semacam suatu persepakatan, tapi yang terang kedua kejadian itu menunjukkan, betapa  cermat  dan  pandainya  Muhammad dapat menguasai suatu peperangan terbesar dalam sejarah Islam tanpa pertempuran  dan tanpa pertumpahan darah.

Islamnya  Abu Sufyan itu tidak akan mengurangi kewaspadaan dan kesiap-siagaan Muhammad dalam menyiapkan diri hendak  memasuki Mekah.  Kalau  kemenangan  yang  di  tangan  Tuhan  itu memang diberikan kepada siapa saja yang  dikehendakiNya,  tapi  Tuhan akan  memberikan  pertolongan  hanya  kepada  orang yang sudah mengadakan persiapan, dan dalam segala  hal  dan  setiap  saat berjaga-jaga  terhadap  segala  kemungkinan.  Oleh  karena itu diperintahkannya supaya Abu Sufyan ditahan dulu di sela  wadi, pada  sebuah  jalan masuk gunung ke Mekah, sehingga bila nanti pasukan Muslimin lewat, ia akan melihatnya sendiri, dan  dapat pula  dengan  jelas  ia  melaporkan kepada golongannya, supaya jangan timbul perlawanan yang bagaimanapun bentuknya,  apabila ia dapat cepat-eepat kembali kepada mereka kelak.

Bilamana  kemudian  kabilah-kabilah  itu  lewat di hadapan Abu Sufyan, yang sangat mempesonakan hatinya ialah batalion  serba hijau  yang  mengelilingi  Muhammad,  yang  terdiri  dari kaum Muhajirin dan Anshar, dan yang tampak hanyalah  pakaian  besi. Setelah mengetahui keadaan itu Abu Sufyan berkata: “Abbas,  kiranya  takkan  ada  orang  yang  sanggup menghadapi mereka itu. Abu’l-Fadzl, kerajaan kemenakanmu ini  kelak  akan menjadi besar!”

 

Sesudah  itu  kemudian ia dibebaskan pergi menemui golongannya dan dengan suara keras ia berteriak kepada mereka: “Saudara-saudara  Quraisy!  Muhammad  sekarang  datang  dengan kekuatan  yang  takkan  dapat  kamu  lawan. Tetapi barangsiapa datang ke rumah Abu  Sufyan  orang  itu  selamat,  barangsiapa menutup  pintu  rumahnya,  orang  itu  selamat dan barangsiapa masuk ke dalam mesjid orang itu juga selamat!”

Muhammad  sudah  berangkat  bersama   pasukannya   sampai   ke Dhu-Tuwa.   Setelah   dilihatnya   dari  tempat  itu  tak  ada perlawanan  dari  pihak  Mekah,  pasukannya   dihentikan.   Ia membungkuk  menyatakan  rasa  syukur  kepada Tuhan, yang telah membukakan pintu  Lembah  Wahyu  dan  tempat  Rumah  Suci  itu kepadanya  dan  kepada  kaum  Muslimin,  sehingga mereka dapat masuk dengan aman, dengan tenteram.

Dalam pada itu Abu Quhafa (ayah Abu Bakr) –  yang  belum  lagi masuk  Islam waktu itu – meminta kepada cucunya yang perempuan supaya ia dibawa mendaki gunung  Abu  Qubais.  Sesampainya  di atas gunung, orang yang sudah buta itu bertanya kepada cucunya apa yang dilihatnya. Oleh cucunya  dijawab  bahwa  ia  melihat sesuatu  serba  hitam  berkelompok “ltu pasukan berkuda”, kata orang tua itu. “Sekarang yang serba hitam itu sudah terpencar,” kata  cucunya lagi.

“Kalau  begitu  pasukan  berkuda itu sedang bertolak ke Mekah. Cepat-cepatlah bawa aku pulang ke rumah.” Tetapi sebelum ia sampai ke rumahnya pasukan berkuda itu sudah lebih dulu sampai. Muhammad merasa bersyukur kepada Tuhan karena pintu Mekah kini telah terbuka. Tetapi  sungguhpun  demikian  ia  tetap  selalu waspada  dan  berhati-hati. Diperintahkannya pasukannya supaya dipecah menjadi  empat  bagian.  Diperintahkan  kepada  mereka semua  supaya  jangan  melakukan  pertempuran,  jangan  sampai meneteskan darah, kecuali jika sangat terpaksa sekali.  Zubair bin’l-‘Awwam dalam memimpin pasukan itu ditempatkan pada sayap kiri dan diperintahkan  memasuki  Mekah  dari  sebelah  utara.

Khalid   bin’l-Walid   ditempatkan   pada   sayap   kanan  dan diperintahkan supaya memasuki Mekah dari jurusan  bawah.  Sa’d b.  ‘Ubada  yang  memimpin orang Medinah supaya memasuki Mekah dari sebelah  barat,  sedang  Abu  ‘Ubaida  bin’l-Jarrah  oleh Muhammad   ditempatkan   ke   dalam   barisan   Muhajirin  dan bersama-sama memasuki Mekah dari bagian atas, di  kaki  gunung Hind. Sementara   mereka   sedang   dalam  persiapan  demikian  itu, tiba-tiba terdengar Said b. ‘Ubada berkata:

“Hari ini adalah hari perang. Hari dibolehkannya  segala  yang terlarang …”

Dalam  hal  ini  ia  telah melanggar perintah Nabi, bahwa kaum Muslimin tidak boleh membunuh penduduk Mekah. Oleh karena itu, ketika  Nabi  mengetahui  apa  yang  dikatakan  oleh Sa’d itu, terpikir olehnya akan mengambil bendera yang ada di  tangannya dan menyerahkannya kepada anaknya, Qais. Qais adalah laki-laki yang bertubuh besar, tapi ia lebih tenang dari ayahnya.

Ketika pasukan sudah memasuki kota, dari pihak Mekah tidak ada perlawanan, kecuali pasukan Khalid bin’l-Walid yang berhadapan dengan perlawanan dari mereka yang tinggal  di  daerah  bagian bawah  Mekah. Mereka ini terdiri dari orang-orang Quraisy yang paling keras memusuhi Muhammad dan yang ikut serta dengan Banu Bakr melanggar Perjanjian Hudaibiya dengan mengadakan serangan terhadap Khuza’a. Mereka ini tidak  mau  memenuhi  seruan  Abu Sufyan.  Bahkan mereka telah menyiapkan diri hendak berperang, sementara yang  lain  dari  golongan  mereka  ini  juga  telah bersiap-siap  pula hendak melarikan diri. Mereka dipimpin oleh Safwan, Suhail dan  ‘Ikrima  b.  Abi  Jahl.  Bilamana  pasukan Khalid ini datang, mereka menghujaninya dengan serangan panah. Tetapi secepat  itu  pula  Khalid  berhasil  meneerai-beraikan mereka.  Sungguhpun  begitu dua orang dari anak buahnya tewas,

karena mereka ini ternyata sesat jalan dan terpisah dari induk pasukannya,   sementara  pihak  Quraisy  kehilangan  tigabelas orang, menurut  satu  sumber,  atau  duapuluh  delapan  orang, menurut sumber yang lain.

Melihat  malapetaka  yang  sekarang sedang menimpa mereka ini, Shafwan, Suhail dan ‘Ikrima cepat-cepat angkat kaki  melarikan diri,  dengan  meninggalkan  orang-orang  yang  tadinya mereka kerahkan mengadakan perlawanan menghadapi kekuatan dan pukulan Khalid yang heroik itu. Dalam pada itu Muhammad dengan pasukan Muhajirin yang kini di atas sebuah dataran tinggi itu,  sedang menyusur  turun  menuju ke Mekah, dengan keyakinan hati hendak membebaskannya dalam keadaan aman dan damai.  Dilihatnya  kota itu  dengan  segala  isinya, dilihatnya pula kilatan pedang di bagian  bawah  kota   serta   pasukan   Khalid   yang   sedang mengejar-ngejar mereka yang menyerangnya itu. Disini ia merasa sedih sekali dan berteriak geram dengan  mengingatkan  kembali akan  perintahnya  untuk tidak mengadakan pertempuran. Setelah diketahuinya kemudian apa  yang  telah  terjadi,  teringat  ia bahwa yang sudah dikehendaki Tuhan itulah yang baik.

Sekarang  Muhammad  berhenti  di  hulu  kota Mekah, di hadapan Bukit Hind. Di tempat  itu  dibangunnya  sebuah  kubah  (kemah lengkung),  tidak  jauh  dari  makam  Abu  Talib dan Khadijah. Ketika  ia  ditanya,  maukah  ia  beristirahat  di   rumahnya, dijawabnya:  “Tidak.  Tidak  ada  rumah yang mereka tinggalkan buat saya di Mekah,” katanya. Kemudian ia masuk ke dalam kemah lengkung  itu,  ia  beristirahat dengan hati penuh rasa syukur kepada Tuhan, karena ia telah kembali dengan terhormat, dengan membawa  kemenangan  ke  dalam  kota,  kota  yang  dulu  telah mengganggunya menyiksanya dan mengusirnya  dari  keluarga  dan kampung  halamannya.  Ia  melepaskan pandang ke sekitar tempat itu,  ke  lembah  wadi   dan   gunung-gunung   yang   ada   di sekelilingnya.  Gunung-gunung,  tempat  ia  dahulu  tinggal di celah-celahnya, ketika tindakan Quraisy sudah begitu memuncak, begitu keras mengasingkan dia. Di pegunungan itulah, yang juga di antaranya Gua Hira, tempat ia menjalankan tahannuth  ketika datang  kepadanya  wahyu:  ‘Bacalah!  Dengan nama Tuhanmu Yang menciptakan. Menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah. Dan  Tuhanmu  Maha  Pemurah.  Yang  mengajarkan  dengan  Pena.

Mengajarkan kepada manusia  apa  yang  belum  diketahuinya…” (Qur’an, 96: 1-5)

Ke   sekitar  gunung-gunung  itu  ia  melepaskan  pandang,  ke lembah-lembah, dengan rumah-rumah Mekah yang  bertebaran,  dan di  tengah-tengah  adalah  Rumah  Suci.  Begitu rendah hati ia kepada Tuhan, sehingga airmata menitik dari  matanya,  setitik airmata Islam dan rasa syukur demi Kebenaran Yang Mutlak, yang dalam segala soal kepadaNya jua akan kembali.

Saat itu juga terasa olehnya bahwa tugasnya  sebagai  komandan sudah  selesai.  Tidak lama tinggal dalam kemah itu, ia segera keluar  lagi.  Dinaikinya  untanya  Al-Qashwa,  dan  ia  pergi meneruskan  perjalanan  ke Ka’bah. Ia bertawaf di Ka’bah tujuh

kali  dan  menyentuh  sudut  (hajar  aswad)  dengan   sebatang tongkat5  di  tangan. Selesai ia melakukan tawaf, dipanggilnya Uthman b. Talha dan pintu  Ka’bah  dibuka.  Sekarang  Muhammad berdiri di depan pintu, orang pun mulai berbondong-bondong. Ia

berkhotbah di  hadapan  mereka  itu  serta  membacakan  firman Tuhan:  “Wahai manusia. Kami menciptakan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu  saling  mengenal.  Tetapi  orang yang  paling  mulia di antara kamu dalam pandangan Allah ialah orang yang paling takwa (menjaga diri dari  kejahatan).  Allah Maha mengetahui dan Maha mengerti.” (Qur’an, 49: 13)

Kemudian ia menanya kepada mereka: “Orang-orang  Quraisy.  Menurut  pendapat  kamu, apa yang akan kuperbuat terhadap kamu sekarang?” “Yang baik-baik. Saudara yang pemurah, sepupu  yang  pemurah.” jawab mereka. “Pergilah kamu sekalian. Kamu sekarang sudah bebas!” katanya. Dengan  ucapan  itu  maka  kepada Quraisy dan seluruh penduduk Mekah ia telah memberikan pengampunan umum (amnesti).

Alangkah indahnya pengampunan itu dikala  ia  mampu!  Alangkah besarnya jiwa ini, jiwa yang telah melampaui segala kebesaran, melampaui segala rasa dengki dan dendam  di  hati!  Jiwa  yang telah  dapat  menjauhi segala perasaan duniawi, telah mencapai segala yang diatas kemampuan insani! Itu orang-orang  Quraisy, yang  sudah  dikenal  betul  oleh Muhammad, siapa-siapa mereka yang pernah berkomplot hendak  membunuhnya,  siapa-siapa  yang telah  menganiayanya dan menganiaya sahabat-sahabatnya dahulu, siapa-siapa yang memeranginya di Badr dan di Uhud, siapa  yang dahulu mengepungnya dalam perang Khandaq? Dan siapa-siapa yang telah menghasut orang-orang Arab semua supaya melawannya,  dan siapa  pula,  kalau  berhasil,  yang  akan  membunuhnya,  akan mencabiknya sampai berkeping-keping kapan saja kesempatan  itu ada!?  Mereka  itu,  orang-orang  Quraisy  itu  sekarang dalam genggaman tangan Muhammad, berada di  bawah  telapak  kakinya.

Perintahnya  akan  segera  dilaksanakan  terhadap  mereka itu. Nyawa mereka semua kini tergantung hanya di ujung bibirnya dan pada  wewenangnya  atas  ribuan balatentara yang bersenjatakan lengkap, yang akan dapat mengikis habis Mekah  dengan  seluruh penduduknya dalam sekejap mata!

Sumber : S E J A R A H    H I D U P    M U H A M M A D

oleh MUHAMMAD HUSAIN HAEKAL diterjemahkan dari bahasa Arab oleh Ali Audah

Penerbit PUSTAKA JAYA Jln. Kramat II, No. 31 A, Jakarta Pusat Cetakan Kelima, 1980

 

2 Responses to “Pembebasan Kota Mekkah Bagian Kedua”

  1. Lowongan CPNSD Pemkot Bandung/Pemerintah Kota Bandung 2010…

    mau yang lebih menarik…kesini aja……

  2. Hello Andreas Viklund..

    iam 22 years old…
    iam from south jakarta…

    i like with your blog..

    thanks for share…

    best regards

    Cindy Silvia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: