MEMBANGUN KHAZANAH ILMU DAN PENDIDIKAN

Belajar itu adalah perobahan …….

A. Ekspedisi Mu’ta awal Pembuka Risalah menuju Seluruh Penjuru Dunia.

Posted by Bustamam Ismail on November 16, 2010

A.Ekspedisi ke  Syam untuk membuka dakwah bagian Utara

MUHAMMAD belum merasa perlu: tergesa-gesa  membebaskan  Mekah. Dia mengetahui sekali, bahwa soalnya hanya tinggal soal waktu saja. Perjanjian Hudaibiya baru setahun berjalan.  Juga  bukan maksudnya  akan  mengadakan  pelanggaran.  Muhammad orang yang sangat setia tiada sebuah  kata  yang  pernah  diucapkan  atau perjanjian  yang pernah dibuat, akan dilanggarnya. Oleh karena itu tatkala ia kembali ke Medinah selama beberapa bulan  tidak terjadi   bentrokkan-bentrokan,  kecuali  kecil-kecilan  saja, seperti pengiriman 50 orang kepada Banu  Sulaim  dengan  tugas dakwah  mengajak  mereka menganut Islam, yang kemudian dibunuh oleh Banu Sulaim secara gelap dan  dengan  tidak  semena-mena, sehingga   pemimpinnya   yang   berhasil  lolos  hanya  karena kebetulan saja. Begitu juga Banu Laith dan  Zafar  yang  telah menyerang  dan  merampas  mereka itu.

Sama pula dengan hukuman yang telah dijatuhkan kepada Banu Murra  karena  pengkhianatan mereka  itu tadinya. Demikian juga adanya limabelas orang yang telah dikirim ke Dhat’t-Talh di perbatasan Syam  dengan  tugas dakwah   mengajak   mereka   mengikut  Islam,  dibalas  dengan pembunuhan  juga,  sehingga  tak  ada  yang  selamat   kecuali pemimpinnya.

Memang   perhatian   Nabi   tertuju   ke   wilayah   Syam  dan bagian-bagian utara  ini,  yaitu  setelah  di  bagian  selatan diadakan  perjanjian keamanan dengan pihak Quraisy dan setelah penguasa di Yaman   bersedia   menerima   seruannya.   Jalur penyebaran  dakwah  Islam  yang  pertama  setelah  keluar dari semenanjung Arab sudah dibayangkannya. Dilihatnya  bahwa  Syam dan  daerah-daerah  di  dekatnya  itu  merupakan pintu pertama jalur dakwah itu. Oleh  karena  itu  beberapa  bulan  kemudian sekembalinya  dari  umrah ia telah mengerahkan tiga ribu orang yang kemudian di Mu’ta berhadapan dengan  seratus  ribu  orang pasukan lawan.

Ahli-ahli    sejarah    masih    berbeda   pendapat   mengenai sebab-musabab  terjadinya  ekspedisi   Mu’ta   itu.   Sebagian mengatakan bahwa dibunuhnya sahabat Nabi di Dhat’t-Talh itulah yang menyebabkan adanya penyerbuan sebagai hukuman atas mereka yang  telah berkhianat itu, yang lain berpendapat bahwa ketika Nabi mengirim seorang  utusan  kepada  gubernur  Heraklius  di Bushra  (Bostra),  utusan  itu  dibunuh oleh orang badwi, dari Ghassan, atas nama Heraklius. Lalu Muhammad mengirimkan mereka yang  sedang  berperang di Mu’ta supaya memberi hukuman kepada penguasa itu dan siapa saja yang membantunya.

Kalau    Perjanjian    Hudaibiya     merupakan     pendahuluan ‘umrat’l-qadza’,  lalu  pembebasan Mekah, maka ekspedisi Mu’ta ini juga merupakan pendahuluan Tabuk; dan setelah  Nabi  wafat kemudian terjadi pembebasan Syam. Soalnya akan sama saja; yang menimbulkan ekspedisi Mu’ta itu karena dibunuhnya utusan  Nabi kepada   penguasa   Bushra,   atau  karena  lima  belas  orang sahabatnya yang juga dibunuh di Dhat’t-Talh.

B. Tiga Pimpinan Perang yang di sarankan Rasulullah

Dalam bulan Jumadilawal tahun kedelapan Hijrah [tahun 629  M.] Nabi  ‘a.s.   memanggil   tiga   ribu   orang  pilihan,  dari sahabat-sahabatnya, dengan menyerahkan pimpinannya kepada Zaid b. Haritha dengan mengatakan:

“Kalau  Zaid  gugur,  maka  Ja’far b. Abi Thalib yang memegang pimpinan, dan kalau Ja’far gugur, maka Abdullah b. Rawaha yang memegang pimpinan.

Ketika pasukan tentera ini berangkat Khalid bin’l-Walid secara sukarela juga ikut menggabungkan diri. Dengan  keikhlasan  dan kesanggupannya   dalam  perang  hendak  memperlihatkan  itikad baiknya sebagai  orang  Islam.  Masyarakat  ramai  mengucapkan selamat jalan kepada komandan-komandan beserta pasukannya itu, dan Muhammad juga turut mengantarkan mereka sampai ke luar kota, dengan  memberikan pesan kepada mereka: Jangan membunuh wanita,  bayi,  orang-orang  buta   atau   anak-anak,   jangan menghancurkan  rumah-rumah  atau  menebangi  pohon-pohon. Nabi SAW . mendoakan dan kaum Muslimin juga turut mendoakan  dengan berkata:  Tuhan menyertai dan melindungi kamu sekalian. Semoga kembali dengan selamat.

Komandan pasukan itu semua merencanakan hendak menyergap pihak Syam  secara  tiba-tiba,  seperti  yang  biasa dilakukan dalam ekspedisi-ekspedisi   yang   sudah-sudah.   Dengan    demikian kemenangan  akan  diperoleh  lebih  cepat  dan  kembali dengan membawa  kemenangan.  Mereka  berangkat  sampai  di  Ma’an  di bilangan Syam dengan tidak mereka ketahui apa yang akan mereka hadapi di sana.

c. Pasukan Keraklius berjumlah dua ratus ribu pasukan yang dipimpin Theodore

Akan tetapi  berita  keberangkatan  mereka  sudah  lebih  dulu sampai.   Syurahbil   penguasa   Heraklius   di   Syam   sudah mengumpulkan kelompok-kelompok kabilah yang ada di sekitarnya. Pasukan  tentara  yang  terdiri  dari  orang-orang  Yunani dan orang-orang Arab sebagai bantuan  dari  Heraklius  didatangkan pula.   Beberapa   keterangan   menyebutkan,  bahwa  Heraklius sendirilah  yang  tampil  memimpin   pasukannya   itu   sampai bermarkas  di  Ma’ab  di  bilangan Balqa’, terdiri dan seratus ribu orang Rumawi, ditambah  dengan  seratus  ribu  lagi  dari Lakhm,  Judham,  Qain,  Bahra’  dan Bali. Dikatakan juga bahwa Theodore saudara Heraklius itulah yang memimpin pasukan, bukan Heraklius sendiri.

Ketika pihak Muslimin berada di Ma’an, adanya kelompok-kelompok itu mereka ketahui. Dua malam mereka  berada di  tempat  itu  sambil  melihat-lihat  apa  yang harus mereka lakukan berhadapan dengan  jumlah  yang  begitu  besar.  Salah seorang  dari  mereka  ada  yang  berkata:  Kita menulis surat kepada Rasulullah s.a.w. dengan memberitahukan jumlah  pasukan musuh.  Kita  bisa  diberi  bala  bantuan,  atau kita mendapat perintah lain dan kita  maju  terus.  Saran  ini  hampir  saja diterima oleh suara terbanyak kalau tidak Abdullah ibn Rawaha, yang dikenal kesatria dan juga penyair, berkata:”Saudara-saudara, apa yang tidak kita sukai, justeru itu  yang kita  cari  sekarang  ini,  yaitu  mati syahid. Kita memerangi musuh itu bukan karena perlengkapan,  bukan  karena  kekuatan, juga  bukan  karena  jumlah  orang  yang  besar.  Tetapi  kita memerangi mereka hanyalah karena agama juga, yang  dengan  itu Allah  telah  memuliakan  kita.  Oleh  karena itu marilah kita maju. Kita akan memperoleh satu dari dua  pahala  ini:  menang atau mati syahid.”

 

Rasa  bangga  dari  penyair  pemberani ini segera pula menular kepada anggota-anggota tentara yang lain. Mereka berkata:  Ibn Rawaha memang benar!

Mereka  lalu  maju  terus.  Ketika  sudah sampai di perbatasan Balqa’, di sebuah desa bernama Masyarif, mereka bertemu dengan pasukan  Heraklius,  yang  terdiri dari orang-orang Rumawi dan Arab. Bilamana posisi musuh sudah dekat pihak Muslimin  segera mengelak  ke  Mu’ta,  yang  dilihatnya sebagai kubu pertahanan akan lebih baik daripada Masyarif. Di Mu’ta inilah pertempuran sengit  –  antara seratus atau duaratus ribu tentara Heraklius dengan tiga ribu tentara Muslimin – mulai berkobar.

Alangkah agungnya iman, alangkah kuatnya! Bendera Nabi  dibawa oleh  Zaid  b.  Haritha  dan  dia  terus maju ke tengah-tengah musuh. Ia yakin bahwa kematiannya itu takkan dapat  dielakkan. Tetapi  mati  disini  berarti  syahid  di  jalan Allah. Selain kemenangan, hanya ada satu pilihan,  yaitu  mati  syahid.  Dan disinilah  Zaid bertempur mati-matian sehingga akhirnya hancur luluh ia oleh tombak musuh. Saat itu juga benderanya  disambut oleh  Ja’far  b. Abi Thalib dari tangannya. Ketika itu usianya

baru tigapuluh tiga tahun, sebagai pemuda yang berwajah tampan dan berani, Ja’far terus bertempur dengan membawa bendera itu.

Bilamana kudanya oleh musuh dikepung,  diterobosnya  kuda  itu dan ditetaknya, dan dia sendiri terjun ke tengah-tengah musuh, menyerbu dengan mengayunkan pedangnya ke leher siapa saja yang kena. Bendera  waktu  itu  dipegang  di  tangan kanan Ja’far; ketika tangan ini terputus, dipegangnya dengan  tangan  kirinya;  dan bila  tangan  kiri  ini  pun  terputus, dipeluknya bendera itu dengan kedua pangkal lengannya sampai ia tewas. Konon  katanya yang  menghantamnya  orang dari Rumawi dengan sekaligus hingga ia terbelah dua.

Setelah Ja’far tewas bendera diambil oleh Abdullah ibn Rawaha. Dia  maju  dengan  kudanya  membawa bendera itu. Sementara itu terpikir olehnya akan turun saja. Ia masih  agak  ragu-ragu. Kemudian katanya:

O diriku, aku sumpah

Akan turun engkau, akan turun

Atau masih terpaksa juga

Jika orang sudah berperang

dan genderang sudah berkumandang

Kenapa kulihat kau masih membenci surga?

D. Tiga Pimpinan pembawa bendera telah menjadi syahid

Kemudian  diambilnya  pedangnya  dan  dia maju terus bertempur sampai akhirnya dia pun tewas juga. Mereka itulah Zaid, Ja’far  dan  Ibn  Rawaha.  Mereka  bertiga telah mati syahid di jalan Allah, dalam satu peristiwa. Tetapi setelah berita ini diketahui  oleh  Nabi,  ia  sangat  terharu sekali,  terutama  terhadap  Zaid  dan  Ja’far. Lalu katanya : Mereka telah diangkat kepadaku di surga – seperti mimpi  orang yang  sedang  tidur  –  diatas  ranjang  emas. Lalu saya lihat ranjang Abdullah b. Rawaha agak miring daripada ranjang  kedua temannya  itu.  Lalu  ditanya: Kenapa begitu? Dijawabnya: Yang dua orang terus maju, tapi Abdullah agak  ragu-ragu.  Kemudian terus maju juga.

Orang  sudah  melihat teladan dan nasehat yang baik ini! Tidak lain ini artinya, bahwa seorang mukmin tidak  boleh  ragu-ragu atau  takut  mati di jalan Allah. Bahkan sebaliknya, setiap ia menghadapi sesuatu persoalan ia harus yakin  bahwa  itu  untuk

Tuhan  dan tanah-air, ia harus menggenggam hidupnya di tangan, siap dilemparkan ke muka siapa saja  yang  akan  merintanginya dari  jalan  itu. Salah satu: dia menang dan berhasil mencapai kebenaran Tuhan dan  tanah-air,  seperti  yang  sudah  menjadi keyakinannya,  atau  ia gugur sebagai syahid. Ini adalah suatu teladan yang hidup bagi angkatan kemudian, dan suatu  kenangan abadi  buat  jiwa  besar yang bisa mengerti, bahwa harga hidup itu ialah hidup yang dikurbankan  untuk  tujuan  cita-citanya; bahwa  mempertahankan  hidup dalam hina seperti menyia-nyiakan hidup. Orang semacam itu tidak perlu lagi nanti dikenang dalam hidup  kita.  Ada  orang yang menerjunkan diri ke dalam bahaya bila terasa hidupnya terancam demikian rupa  sehingga  ia  pun menjadi  kurban  tujuan  yang  tidak  berharga. Begitu juga ia berarti  mengorbankan  diri  jika  ia   masih   mempertahankan hidupnya  padahal oleh Tuhan Yang Maha Kuasa ia diminta supaya hidupnya  dilemparkan  ke   muka   kebatilan,   supaya   dapat menghancurkan  kebatilan  itu.  Tetapi  ia lalu bersembunyi di balik tabir, ia sudah takut menghadapi  maut,  suatu  perasaan takut yang sebenarnya lebih celaka daripada maut.

Jadi kalau sikap ragu-ragu yang hanya sedikit saja tampak pada Ibn  Rawaha,  padahal  sesudah  itu,  dengan  keberanian  yang luarbiasa  ia  pun  bertempur  lagi sampai mati sebagai syahid masih ditempatkan tidak  sama  dengan  Zaid  dan  Ja’far  yang menyerbu  barisan  maut dengan gembira menghadapi mati sebagai syahid, apalagi buat orang  yang  lalu  berbalik  surut  hanya karena  mengharapkan  kedudukan atau harta atau sesuatu tujuan duniawi lainnya  !  Kalau  begitu  tidak  lebih  dia  hanyalah serangga  yang  hina saja, meskipun kedudukannya di muka orang banyak sudah tinggi dan hartanya sudah melampaui harta  karun. Benarlah jiwa manusia itu baru merasa gembira apabila ia sudah dapat berkurban  untuk  sesuatu  yang  diyakininya  bahwa  itu benar,  sampai  akhirnya  ia pun gugur untuk.membela kebenaran itu, atau kebenaran itu dapat menguasai hidupnya!

E. Khalid bin Walid Memimpin Pasukan

Ibn Rawaha tewas setelah sebentar ragu-ragu lalu  tampil  lagi dengan  keberanian  yang luarbiasa. Sekali ini bendera diambil oleh Thabit b. Arqam [Banu ‘Ajlan], yang kemudian berkata:

Saudara-saudara kaum Muslimin. Mari  kita  mencalonkan  salah seorang dari kita.” Mereka segera menjawab: “Engkau sajalah.” “Tidak, saya tidak akan mampu,” Kemudian  pilihan  mereka  jatuh  kepada  Khalid  bin’l-Walid. Diambilnya bendera itu oleh Khalid setelah dilihatnya  barisan Muslimin  mulai  centang-perenang, kekuatan moril mereka mulai kendor. Khalid sendiri  seorang  jenderal  yang  cukup  ulung, seorang  penggerak  militer  yang  tidak  banyak bandingannya, Dengan demikian ia mulai memberikan komando. Barisan  Muslimin dapat  diaturnya  kembali. Sekarang dalam menghadapi musuh itu sengaja ia  membuat  insiden-insiden  kecil  yang  diulur-ulur sampai  petang  hari.  Malamnya  kedua  pasukan itu tentu akan meletakkan senjata menunggu sampai pagi.

Pada saat itulah Khalid mengambil kesempatan  menyusun  siasat perangnya.  Anak  buahnya dipencar-pencar demikian rupa dengan jumlah yang tidak kecil, dalam  suatu  garis  memanjang,  yang dikerahkan  maju  dari  barisan belakang. Pagi-pagi bila orang

sudah  bangun,  dirasakannya  ada  kesibukan  dan  hiruk-pikuk demikian  rupa  yang  cukup  menimbulkan  perasaan  gentar  di kalangan musuh,  dengan  anggapan  bahwa  bala  bantuan  telah didatangkan  dari pihak Nabi. Kalau jumlah tiga ribu orang itu pada hari pertama telah membuat peranan begitu besar  terhadap pasukan Rumawi dan tidak sedikit pula jumlah mereka yang sudah terbunuh – meskipun tak dapat mereka pastikan – konon apa lagi yang akan dapat mereka lakukan dengan adanya bala bantuan yang baru didatangkan  itu,  dengan  tiada  orang  yang  mengetahui berapa besarnya!

Oleh  karena  itu  pihak  Rumawi  jadi  menjauhkan  diri  dari serangan Khalid dan senang sekali mereka  kalau  Khalid  tidak sampai menyerang mereka. Tetapi sebenarnya Khalid lebih senang lagi. Ia dapat menarik mundur pasukannya, kembali ke  Medinah,setelah  mengalami  suatu  pertempuran  yang  tidak  membawa kemenangan buat pasukan Muslimin, dan  yang  juga  sama  tidak membawa kemenangan buat lawan mereka itu.

Bilamana Khalid dan pasukannya sudah hampir sampai di Medinah, Muhammad dan kaum Muslimin yang lain sudah  pula  bersama-sama menyongsong mereka. Atas permintaan Muhammad kemudian Abdullah b. Ja’far dibawa dan  diangkatnya  di  depannya.  Orang  ramai datang  menaburkan  tanah  kepada  pasukan  tentara itu seraya berkata: “He orang-orang pelarian! Kamu lari dari jalan Allah!”

Tapi Rasul segera berkata:

“Mereka bukan pelarian. Tetapi mereka  orang-orang  yang  akan tampil kembali, insya Allah.”

Sungguh  pun  sudah begitu rupa Muhammad menghibur orang-orang yang baru kembali dari Mu’ta itu,  namun  Muslimin  belum  mau juga  memaafkan  mereka  karena  penarikan  mundur  dan mereka kembali itu; sampai-sampai Salama ibn Hisyam  tidak  mau  ikut sembahyang  bersama-sama  dengan  Muslimin  yang  lain, kuatir masih akan terdengar suara-suara orang bila melihatnya:

“He orang-orang pelarian! Kamu lari dari jalan Allah.”

Kalau tidak karena adanya tindakan-tindakan yang berarti  dari mereka  yang  kembali dari Mu,ta itu, terutama tindakan Khalid sendiri, niscaya Mu’ta masih akan dianggap suatu cemar  karena pelarian  yang  telah dicontrengkan saudara saudara seagamanya di kening mereka itu. Begitu pedih perasaan duka itu menusuk hati  Muhammad  setelah diketahuinya  Zaid  dan  Ja’far  telah  tewas. Begitu sedih ia menanggung dukacita karena mereka itu.

Setelah Ja’far mendapat malapetaka, Muhammad pergi sendiri  ke rumahnya,  dijumpainya  isterinya  Asma  bt.  ‘Umais yang pada waktu itu ia sudah membuat  adonan  roti,  anak-anaknya  sudah dimandikan, sudah diminyaki dan dibersihkan. “Bawa kemari anak-anak Ja’far itu,” kata Muhammad kepadanya. Setelah   mereka  dibawa,  diciuminya  anak-anak  itu,  dengan airmata yang sudah berlinangan. “Rasulullah,” kata Asma’ gelisah; ia  sudah  merasa  apa  yang terjadi. “Demi ayah bundaku! Kenapa menangis, Rasulullah?! Ada hal-hal yang menimpa Ja’far dan kawan-kawannya barangkali?”

Ya,” jawabnya.  “Hari  ini  mereka  tewas.”  Berkata  begitu airmatanya  sudah  makin  tak  dapat  ditahan, deras berderai. Asma,  juga  lalu   menangis   keras-keras   sehingga   banyak wanita-wanita yang datang berkumpul.

 

Bila Muhammad pulang ia berkata kepada keluarganya: “Keluarga   Ja’far  jangan  dilupakan.  Buatkan  makanan  buat mereka. Mereka sekarang dalam  kesusahan.” Ketika  dilihatnya puteri  Zaid  –  bekas budaknya itu – datang, dibelai-belainya bahunya sambil ia menangis. Ada  sahabat-sahabat  yang  merasa terkejut  melihat  Rasul menangisi orang yang mati syahid itu. Lalu katanya, yang maksudnya: Tapi itu airmata  seorang  kawan yang kehilangan kawannya.

Ada  sumber  yang  menyebutkan, bahwa jenazah Ja’far dibawa ke Medinah dan dikebumikan di sana  tiga  hari  kemudian  setelah Khalid  dan  pasukannya  sampai. Sejak hari itu Rasul menyuruh orang supaya jangan lagi menangis. Kedua  tangan  Ja’far  yang terputus,  oleh Tuhan telah diganti dengan sepasang sayap yang menerbangkannya ke surga.

F. Rasul menugaskan Amr bin Ash dan disusul Abu  ‘Ubaida ke wilayah Syam.

Beberapa minggu  kemudian  setelah  Khalid  kembali,  Muhammad bermaksud  hendak  mengembalikan  pula  kewibawaan Muslimin di bagian utara jazirah itu. Dalam hal  ini  ia  menugaskan  ‘Amr bin’l-‘Ash supaya mengerahkan orang-orang Arab ke Syam. Memang demikian, sebab ibn ‘Amr ini berasal dari kabilah daerah  itu. Tentu  akan  lebih  mudah  ia  bergaul  dengan  mereka. Tetapi setelah ia sampai di sebuah pangkalan air  di  daerah  kabilah Judham  yang disebut Silsil, mulai ia merasa kuatir. Segera ia mengirim kurir kepada Nabi ‘alaihissalam meminta bantuan.  Dan Nabi   pun  segera  mengirim  Abu  ‘Ubaida  bin’l-Jarrah  dari kalangan Muhajirin yang mula-mula, termasuk Abu Bakr dan Umar. Sebagai  orang  yang  masih  baru dalam Islam, Muhammad kuatir ‘Amr  akan  berselisih  dengan  Abu  ‘Ubaida  sebagai  anggota Muhajirin  yang  mula-mula, maka dipesannya kepada Abu ‘Ubaida ketika dilepaskan. Jangan berselisih.

Engkau datang kemari  sebagai  pembantuku.  Pimpinan  tentara ditanganku,” kata ‘Amr kemudian kepada Abu ‘Ubaida. Abu  ‘Ubaida  adalah orang yang sangat lemah-lembut, dan serba mudah dalam masalah-masalah duniawi. Rasulullah sudah berpesan,” katanya kepada ‘Amr “Kita  jangan berselisih. Kalau engkau tidak taat kepadaku, akulah yang taat kepadamu.”

Dan dalam melakukan sembahyang jamaah juga ‘Amr  yang  menjadi imam. Sekarang ia mulai bergerak maju memimpin pasukannya itu. Pihak Syam yang bermaksud hendak menggempurnya telah diubrak-abrik. Dengan  demikian  kewibawaan  Muslimin  di bilangan daerah itu telah dapat dipulihkan

Dalam pada itu Muhammad masih teringat  juga  pada  Mekah  dan segala  sesuatunya.  Akan tetapi, seperti sudah disebutkan, ia sangat memegang  teguh  isi  Perjanjian  Hudaibiya.  Ia  harus menunggu   sampai   habis   waktu  dua  tahun.  Sementara itu satuan-satuan tetap dikirimkan guna  menjaga   adanya pemberontakan   kabilah-kabilah,   yang  berjiwa  memang  suka berontak itu.  Tetapi  hal  ini  tidak  banyak  makan  tenaga. Utusan-utusan   sudah   berdatangan   kepadanya  dari  segenap penjuru, mereka sudah menyatakan ketaatan dan  kesetiaan  yang penuh  kepadanya.  Hal  inilah  yang telah merupakan pengantar akan dibebaskannya Mekah serta akan kedudukan Islam yang kukuh di  tempat  ini,  sebagai  tempat  yang paling disucikan untuk selama-lamanya.

 

Sumber;  S E J A R A H    H I D U P    M U H A M M A D

oleh MUHAMMAD HUSAIN HAEKAL diterjemahkan dari bahasa Arab oleh Ali Audah

Penerbit PUSTAKA JAYA Jln. Kramat II, No. 31 A, Jakarta Pusat Cetakan Kelima, 1980

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: