MEMBANGUN KHAZANAH ILMU DAN PENDIDIKAN

Belajar itu adalah perobahan …….

Melaksanakan Umrah Qadho

Posted by Bustamam Ismail on November 15, 2010

SETELAH  berjalan  setahun  sejak  berlakunya  isi  perjanjian Hudaibiya Muhammad  dan  sahabat-sahabatnya sudah bebas dapat melaksanakan isi perjanjian  dengan  pihak  Quraisy  itu  guna memasuki  Mekah  dan  berziarah  ke  Ka’bah.  Atas  dasar  itu Muhammad  lalu  memanggil  orang   agar   bersiap-siap   untuk berangkat  melakukan  ‘umrat’l-qadha,  (umrah  pengganti) yang sebelum itu telah teralang.

Dengan mudah  orang  sudah  dapat  memperkirakan  betapa  kaum Muslimin  menyambut  panggilan  itu.  Ada diantara mereka kaum Muhajirin yang sudah  tujuh  tahun  meninggalkan  Mekah,  kaum Anshar  yang  sudah  memang punya hubungan dagang dengan Mekah dan sudah  rindu  sekali  hendak  berziarah  ke  Ka’bah.  Oleh karenanya anggota rombongan itu telah bertambah sampai duaribu orang dari 1400 orang pada tahun yang lalu. Sesuai dengan  isi perjanjian  Hudaibiya tidak seorang pun dari mereka dibolehkan membawa senjata selain pedang tersarung. Tetapi Muhammad masih selalu kuatir akan adanya pengkhianatan. Seratus orang pasukan berkuda  di  bawah  komando  Muhammad  bin  Maslama  disiapkan berangkat  lebih dulu dengan ketentuan jangan melampaui Mekah, dan bila sampai di Marr’z-Zahran  supaya  mereka  menyusur  ke sebuah wadi tidak jauh dari sana.

Ternak  kurban itu digiring oleh kaum Muslimin didepan mereka, terdiri dari enampuluh  ekor  unta,  didahului  oleh  Muhammad diatas  untanya  sendiri  al-Qashwa’.  Mereka  berangkat  dari Medinah dengan hati  yang  damba  hendak  memasuki  Umm’l-Qura (Mekah)  dan  bertawaf di Baitullah. Setiap Muhajirin menunggu ingin melihat daerah tempat ia dilahirkan, ingin melihat rumah tempat  ia dibesarkan, teman-teman yang ditinggalkan. Ia ingin menghirup udara harum tanah airnya yang suci itu, dengan penuh rasa  hormat  dan syahdu’ ingin menyentuh bumi daerah suci dan kudus yang penuh berkah itu, yang telah melahirkan Rasul,  dan tempat wahyu pertama kali diturunkan.

Orang  akan  dapat  membayangkan  suasana kemeriahan yang baru satu-satunya terjadi itu, yang bergerak karena di dorong  oleh rasa iman, terbawa oleh Rumah yang oleh Allah dijadikan tempat manusia berkumpul dan tempat yang aman.  Dengan  mata  hatinya orang  akan  melihat  betapa  besarnya rasa kegembiraan mereka itu.  Orang-orang  yang   sudah   pernah   dirintangi   hendak menunaikan   kewajiban   suci   itu   berangkat  dengan  penuh kegembiraan, akan memasuki Mekah dalam  keadaan  aman,  dengan bercukur kepala atau bergunting tanpa merasa takut lagi.

Bilamana  Quraisy  sudah  mengetahui  kedatangan  Muhammad dan sahabat-sahabatnya, mereka segera keluar  dari  Mekah,  sesuai dengan bunyi persetujuan Hudaibiya.Mereka pergi ke bukit-bukit berdekatan dan di tempat itu mereka memasang  kemah  dan  yang lain  ada  pula  yang berteduh di bawah-bawah pohon. Dari atas bukit Abu Qubais dan dari atas Hira, atau  dari  semua  tempat ketinggian  yang dapat melihat ke Mekah, orang-orang Mekah itu menjenguk, dengan mata ingin tahu, ingin  melihat  orang  yang dengan  kawan-kawannya  itu  dulu  terusir, ketika mereka kini datang  memasuki  Rumah  Suci,  tanpa  ada  lagi  pihak   yang mengalangi.

Sekarang  kaum  Muslimin  sudah mulai menyusur dari arah utara Mekah. Abdullah b. Rawaha  ketika  itu  memegang  tali  keluan al-Qashwa’  sedang  sahabat-sahabat  besar  lainnya  berada di sekeliling  Nabi  ‘alaihissalam.  Barisan  yang  berjalan   di belakang  mereka  itu  terdiri  dari orang-orang yang berjalan kaki dan yang duduk  di  atas  unta.  Begitu  Rumah  Suci  itu terlihat  dihadapan  mereka  serentak  kaum Muslimin itu semua bergema dalam satu suara berseru: Labbaika,  labbaika!  Dengan hati  dan  jiwa  tertuju  semata kepada Allah Yang Maha Agung, berkeliling dalam satu lingkaran dengan penuh harap dan hormat kepada  Rasul  yang telah diutus Allah dengan membawa petunjuk dan  agama  yang  benar,  yang  akan  mengatasi  semua  agama. Sebenarnya  ini  adalah  suatu  pemandangan  yang sungguh unik dalam sejarah, yang dapat menggetarkan segenap penjuru  tempat itu,  dan yang telah dapat menawan hati orang musyrik ke dalam Islam, betapa pun kerasnya mereka bertahan pada paganisma.

A. Nabi Muhammad saw Bersama Kaum Muslimin melaksanakan Umrah Qadha

Pada pemandangan yang unik itulah mata penduduk Mekah tertaut. Sementara  suara  yang  keluar  dari kalbu menggema: Labbaika, labbaika! tetap  menembus  telinga  dan  menggetarkan jantung mereka.Sesampainya  Rasul  di  mesjid   ia   menyelubungkan   dan menyandangkan kain jubahnya di badan dengan membiarkan  lengan kanan terbuka sambil mengucapkan:

Allahuma  irham imra’an arahum al-yauma min nafsihi quwatan.” (“Ya Allah, berikanlah rahmat  kepada  orang,  yang  hari  ini telah memperlihatkan kemampuan dirinya.”)

Kemudian  ia  menyentuh  sudut  hajar  aswad  (batu hitam) dan berlari-lari kecil, yang diikuti  oleh  sahabat-sahabat,  juga dengan berlari-lari. Setelah menyentuh ar-rukn’l-yamani (sudut selatan) ia berjalan biasa sampai menyentuh hajar aswad,  lalu berlari-lari  lagi berkeliling sampai tiga kali dan selebihnya dengan berjalan biasa.  Setiap  ia  berlari  kedua  ribu  kaum Muslimin  itu  juga  ikut berlari-lari, dan setiap ia berjalan mereka pun ikut pula berjalan. Dalam pada  itu  pihak  Quraisy menyaksikan  semua itu dari atas bukit Abu Qubais. Pemandangan ini sangat mempesonakan mereka. Tadinya orang  bicara  tentang Muhammad  dan  sahabat-sahabatnya  itu,  bahwa  mereka  sedang berada dalam kesulitan, dalam keadaan susah payah. Tetapi  apa yang  mereka lihat sekarang ternyata menghapus segala anggapan tentang kelemahan Muhammad dan sahabat-sahabatnya itu.

Karena bersemangatnya dalam  saat  seperti  itu,  Abdullah  b. Rawaha  bermaksud  hendak  melontarkan  kata-kata  yang berisi teriakan perang ke muka Quraisy. Tetapi segera  dilarang  oleh Umar, dan Rasul juga berkata kepadanya:

Sabarlah, Ibn Rawaha; atau ucapkan  sajalah:  La  ilaha  illa Allah    wahdah,    wanashara    abdah    wa’a’azza    jundah, wakhadhala’l-ah-zaba wahdah.” (“Tiada tuhan selain Allah  Yang Tunggal,  Yang  telah menolong hambaNya, memperkuat tentaraNya dan menghancurkan Sendiri musuh yang bersekutu.”)

Abdullah ibn Rawaha kemudian  mengucapkan  pula  dengan  suara keras  yang  kemudian disambut oleh kaum Muslimin. Suara itu bersahut-sahutan dan berkumandang ke  tepi-tepi  wadi  dengan dahsyat sekali, kedahsyatannya membubung dan menyusup ke dalam jantung orang-orang yang sedang berada di  atas  gunung-gunung sekitar tempat itu.

Selesai  kaum  Muslimin bertawaf di Ka’bah, Muhammad berpindah memimpin mereka ke bukit Shafa dan Marwa yang  di  lalui  dari atas  kendaraannya  sebanyak  tujuh kali, seperti halnya orang Arab dahulu. Kemudian ternak kurban  itu  disembelih  dan  dia bercukur.  Dengan  demikian  selesailah sudah ibadah umrah itu dikerjakan.

Keesokan harinya Muhammad memasuki Ka’bah dan  tinggal  disana sampai  waktu sembahyang lohor. Pada waktu itu berhala-berhala masih banyak memenuhi tempat itu. Tetapi meskipun begitu Bilal naik   juga   ke  atap  Ka’bah  lalu  menyerukan  adhan  untuk bersembahyang  lohor  di  tempat   tersebut.   Kemudian   Nabi bersembahyang dengan bertindak sebagai imam, atas duaribu kaum Muslimin di Rumah Suci  itu.  Selama  tujuh  tahun  sebelumnya mereka  teralang  melakukan  salat  menurut  pimpinan Islam di tempat itu.

Kaum Muslimin tinggal selama tiga hari di Mekah seperti  sudah di  tentukan  dalam  Perjanjian  Hudaibiya,  sesudah  kota itu dikosongkan  dari  penduduk.  Selama  tinggal  di  situ   kaum Muslimin  tidak mengalami sesuatu gangguan. Kalangan Muhajirin menggunakan  kesempatan  menengok   rumah-rumah   mereka   dan mengajak  pula  sahabat-sahabatnya  dari  pihak  Anshar  turut menengoknya. Seolah mereka semua penduduk kota yang aman  itu.

Mereka  semua  bertindak  menurut  tuntunan Islam, setiap hari menjalankan kewajiban kepada Tuhan dengan melakukan salat  dan samasekali   menghilangkan   sikap   tinggi  diri,  yang  kuat membimbing yang lemah, yang kaya membantu  yang  miskin.  Nabi sendiri  di  tengah-tengah  mereka  sebagai  seorang ayah yang penuh cinta dan dicintai. Yang  seorang  di  ajaknya  tertawa, yang lain di ajaknya bergurau. Tetapi semua yang dikatakannya selalu yang sebenarnya.

Dalam pada itu orang-orang Quraisy dan penduduk Mekah lainnya, dari tempat-tempat mereka di lereng-lereng  bukit  menyaksikan sendiri  pemandangan  yang luarbiasa dalam sejarah itu. Mereka melihat orang-orang dengan akhlak yang demikian rupa  –  tidak minum  minuman keras, tidak melakukan perbuatan maksiat, tidak mudah tergoda oleh  makanan  dan  minuman.  Kehidupan  duniawi tidak  sampai  mempengaruhi mereka. Mereka tidak melanggar apa yang  dilarang,  mereka  menjalankan  apa  yang  diperintahkan

B.Nabi Muhammad Menikahi Maimunah

Tuhan.  Alangkah  besarnya  pengaruh  yang  ditinggalkan  oleh pemandangan demikian itu,  yang  sebenarnya  telah  mengangkat martabat umat manusia ke tingkat yang paling tinggi! Tidak  terlalu  sulit  orang  akan  menilai kiranya bila sudah mengetahui,  bahwa  beberapa  bulan  kemudian  Muhammad  telah kembali  lagi  dan  dapat  membebaskan  Mekah  dengan kekuatan sebanyak 10.000 orang Muslimin.

Umm’l-Fadzl isteri Abbas b. Abd’l-Muttalib paman  Nabi,  telah mewakili     Maimunah    saudaranya    ketika    perkawinannya dilangsungkan.  Maimunah  ketika  itu  berusia  duapuluh  enam tahun,  dan dia adalah bibi Khalid bin’l-Walid dari pihak ibu. Umm’l-Fadzl meminta Abbas suaminya bertindak mewakilinya dalam mengawinkan  saudaranya  itu. Maimunah sendiri setelah melihat keadaan umat  Islam  dalam  ‘umrat’l-qadza’  hatinya  tertarik sekali  kepada  Islam.  Kemudian  datang  Abbas  yang meminang kemenakannya itu agar ia sudi mengawini Maimunah. Tawaran  ini diterima  oleh  Muhammad  dan  diberinya mas kawin sebesar 400 dirham.

Waktu tiga  hari  yang  sudah  ditentukan  menurut  Perjanjian Hudaibiya telah  berakhir.  Akan  tetapi dengan perkawinannya dengan Maimunah  itu  Muhammad  ingin  memperpanjang  waktunya supaya  didapat  jalan  lebih  baik  dalam  mengadakan  saling pengertian dengan pihak Quraisy.

Akan tetapi pada waktu itu juga dari pihak Quraisy  Suhail  b. ‘Amr  dan  Huwaitib  b.  ‘Abd’l  ‘Uzza  datang kepada Muhammad dengan mengatakan: “Waktumu sudah habis; silakan keluar.” “Apa salahnya kalau kamu membiarkan aku  selama  melangsungkan perkawinan  berada  di  tengah-tengah  kamu? Kami akan membuat jamuan dan  kalian  ikut  hadir,” demikian  jawaban  Muhammad kepada    mereka,    dengan    kesadaran    betapa    dalamnya ‘umrat’l-qadza’ itu meninggalkan  kesan  dalam  hati  penduduk

Mekah, betapa benar hal itu mempesonakan mereka, membuat sikap permusuhan mereka jadi reda. Ia mengetahui, bahwa kalau mereka mau  memenuhi undangannya untuk perjamuan itu dan dapat saling mengadakan dialog, maka dengan mudah pintu Mekah akan  terbuka di  hadapannya.  Dan  ini pulalah yang dikuatirkan oleh Suhail dan Huwaitib, dan karena itu mereka berkata lagi:

Kami tidak memerlukan jamuanmu. Keluar sajalah.”

Dengan  tidak  ragu-ragu   Muhammad   pun   mengalah   kepada permintaan   mereka   sesuai   dengan  perjanjian  yang  harus dilaksanakan. Kepada  segenap  Muslimin  diumumkan  siap-siap meninggalkan  tempat.  Sesudah  itu  ia  pun  berangkat dengan diikuti kaum Muslimin.  Ketika  itu  yang  tinggal  ialah  Abu Rafi’,  bekas budaknya yang kemudian menyusul membawa Maimunah ke Sarif2 dan perkawinan dilangsungkan di  sana  Dan  Maimunah sebagai  Umm’l-Mu’minin  adalah isteri Nabi yang terakhir yang masih hidup limapuluh tahun kemudian sesudah  Nabi  wafat.  Ia minta    dikuburkan   di   tempat   Rasulullah   melangsungkan perkawinannya.  Salma,  janda  pamannya  Hamzah  dan   saudara perempuan  Maimunah  serta  ‘Ammara (puteri Hamzah) yang masih perawan belum kawin, telah menjadi tanggungan Muhammad pula.

Kaum Muslimin sudah sampai kembali dan sudah menetap  lagi  di Medinah.   Dalam   pada   itu   Muhammad   pun   yakin  bahwa ‘umrat’l-qada’ itu  telah  meninggalkan  pengaruh  yang  cukup besar  dalam  hati Quraisy dan seluruh penduduk Mekah. Juga ia yakin  bahwa  sebagai  akibat  semua  itu  akan  timbul   pula peristiwa-peristiwa penting yang berjalan cepat sekali.

C. Khalid  bin’l-Walid  Menganut Islam

Sejarah  telah  membenarkan  perkiraannya. Begitu ia berangkat kembali ke Medinah, Khalid  bin’l-Walid  –  Jenderal  Kavaleri kebanggaan  Quraisy dan pahlawan perang Uhud itu telah berdiri di tengah-tengah sidang masyarakatnya sendiri sambil berkata: “Sekarang nyata sudah bagi setiap orang yang berpikiran sehat, bahwa Muhammad bukan tukang sihir, juga bukan seorang penyair. Apa yang dikatakannya adalah firman Tuhan  semesta  alam  ini. Setiap  orang  yang  punya  hati  nurani  berkewajiban menjadi pengikutnya.”

‘Ikrima b. Abi Jahl merasa ngeri sekali mendengar kata-katanya itu. Khalid,” kata  ‘Ikrima  kemudian,  “engkau  telah  bertukar agama?.”3

Selanjutnya terjadi percakapan antara mereka sebagai berikut:

Khalid   Aku tidak bertukar agama, tetapi aku mengikuti  agama Islam.

‘Ikrima  Tak  ada  orang  akan  berkata  begitu  di kalangan Quraisy selain engkau. Khalid – Mengapa?

‘Ikrima – Ya, sebab Muhammad sudah menjatuhkan derajat  ayahmu ketika  ia  dilukai.  Pamanmu dan sepupumu sudah dibunuhnya di Badr. Demi Allah, aku tidak akan masuk Islam  dan  tidak  akan mengeluarkan  kata-kata  seperti kau itu, Khalid. Engkau tidak melihat Quraisy yang sudah berusaha hendak membunuhnya?

Khalid – Itu hanya semangat  dan  fanatisma  jahiliah.  Tetapi sekarang, setelah kebenaran itu bagiku sudah jelas, demi Allah aku mengikut agama Islam.

Setelah itu Khalid lalu  mengutus  pasukan  berkudanya  kepada Nabi menyatakan dirinya masuk Islam dan mengakuinya.

Khalid  menganut  Islam  ini  beritanya  kemudian  sampai juga kepada Abu Sufyan. Khalid di panggil.”Benarkah apa yang kudengar tentang engkau?” tanya Abu Sufyan. Setelah  dijawab  oleh  Khalid, bahwa memang benar, Abu Sufyan marah-marah seraya katanya:Demi Lata dan ‘Uzza. Kalau  aku  sudah  mengetahui  apa  yang kaukatakan   benar,  niscaya  engkaulah  yang  akan  kuhadapi, sebelum aku menghadapi Muhammad.” “Dan memang itulah yang benar, apa pun yang akan terjadi.”

Terbawa oleh kemarahannya ketika  itu  juga  Abu  Sufyan  maju hendak menyerangnya. Tetapi ‘Ikrima yang pada waktu itu turut hadir segera bertindak mengalanginya seraya berkata:

“Abu Sufyan, sabarlah. Seperti engkau, aku juga  kuatir  kelak akan  mengatakan sesuatu seperti kata-kata Khalid itu dan ikut ke  dalam  agamanya.  Kamu   akan   membunuh   Khalid   karena pandangannya  itu,  padahal  seluruh Quraisy sependapat dengan dia. Sungguh aku kuatir, jangan-jangan sebelum  bertemu  tahun depan seluruh penduduk Mekah sudah menjadi pengikutnya.”

Sekarang  Khalid sudah pergi meninggalkan Mekah ke Medinah. Ia menggabungkan diri ke dalam barisan Muslimin Sesudah Khalid, ikut pula ‘Amr bin’l-‘Ash dan ‘Uthman b. Talha penjaga  Ka’bah,  masuk  Islam. Dengan masuknya mereka kedalam agama Islam,  maka  banyak  pula  penduduk  Mekah  yang  turut menjadi  pengikut  agama  ini. Dengan demikian kedudukan Islam makin menjadi kuat, dan terbukanya pintu Mekah  buat  Muhammad sudah tidak diragukan lagi.

Catatan kaki:

1 Umra berarti ziarah ke Mesjid Suci dengan  syarat-syarat tertentu. (N) dalam melakukan ibadah “haji kecil” yang berbeda dengan ibadah haji yang biasa, tidak mesti dilakukan dalam waktu khusus selama dalam setahun. ‘Umrat’l-Qadziya, kata qadza dapat  diartikan pengganti yakni pengganti umrah yang tidak  jadi dilaksanakan karena dirintangi oleh pihak Quraisy  di Hudaibiya, atau dengan arti penunaian yaitu  menunaikan isi perjanjian Hudaibiya, bahwa Ibadah itu dapat dilakukan pada tahun berikutnya setelah berlakunya perjanjian. Lepas dari pengertian fikih dalam terjemahan ini dipakai arti yang pertama. (A).

2 Sarif sebuah tempat di dekat Mekah, yang didalam memperkirakan jaraknya masih terdapat perbedaan pendapat antara 6 dan 12 mil.

3 Bertukar agama (apostasi), shaba’a, harfiah berarti   berputar ke, pindah dari, suatu agama kepada agama lain (N). Maksudnya berbalik menganut agama Islam. Menurut LA masih seakar dengan Sabianisma (lihat halaman 33), suatu tuduhan yang populer di kalangan Quraisy (A).

 

Sumber:  S E J A R A H    H I D U P    M U H A M M A D

oleh MUHAMMAD HUSAIN HAEKAL diterjemahkan dari bahasa Arab oleh Ali Audah

Penerbit PUSTAKA JAYA Jln. Kramat II, No. 31 A, Jakarta Pusat Cetakan Kelima, 1980

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: