MEMBANGUN KHAZANAH ILMU DAN PENDIDIKAN

Belajar itu adalah perobahan …….

Memberi Makna Kunjungan Obama

Posted by Bustamam Ismail on November 11, 2010

DATANG di tengah suasana duka Indonesia yang sedang dilanda bencana, Presiden Amerika Serikat Barack Husein Obama mengalihkan sejenak perhatian publik di Tanah Air. Berita mengenai kehadirannya, terhidang silih berganti dengan bencana Merapi.

Pada hari yang sama, Presiden Austria Heinz Fischer juga berkunjung ke Jakarta, beritanya tenggelam seperti kabar mengenai penanganan korban bencana tsunami di Mentawai, Sumatera Barat, dan korban banjir bandang di Wasior, Papua.

Media cetak mengulas berita dan mengantarkan opini publik mengenai Obama. Nyaris tiap menit televisi menyiarkan apa pun yang terkait dengan gerak-gerik tokoh itu dalam kunjungannya ke Jakarta. Termasuk keberhasilannya ‘mengundang’ Megawati duduk satu meja saat santap malam dengan Yudhoyono.

Banyak yang mengelu-elukan dan merasa bangga negerinya  dikunjungi kepala negara adidaya. Ada yang menganggap biasa saja dan melihatnya sebagai kewajaran dalam hubungan antarnegara, sebagaimana kunjungan Presiden Austria.

Ada juga yang dengan tegas mengecam kehadiran tokoh yang empat tahun masa kecilnya dihabiskan di Jakarta itu. Mereka yang mengecam menganggap Amerika Serikat bertanggungg jawab atas serangan terhadap umat Islam di Afganistan, Irak, dan Palestina. Karena itu, Indonesia yang mayoritas penduduknya muslim tak patut menerima Obama.

Di sisi lain, banyak yang berpandangan bahwa kehadiran Obama sangat strategis mengingat posisi Indonesia di tengah percaturan geopolitik dan geoekonomi global saat ini. Indonesia harus bisa memanfaatkan momentum itu untuk mengembangkan dan meningkatkan peran yang akhirnya bermuara pada kesejahteraan masyarakat.

Obama dinilai sebagai satu di antara pemimpin dunia yang mengedepankan dialog dan membangun saling pengertian antara peradaban Barat dan Islam.

Kehadirannya diharapkan bisa jadi jembatan untuk menjelaskan kepada pemimpin dunia tentang substansi Islam yang antiterorisme antiradikal dan antianarki. Islam dan pemeluknya siap bekerjasama, bersahabat dan menghormati siapa pun.

Dalam sebuah wawancara dengan pers nasional, Obama pun menegaskan bahwa Indonesia adalah negara demokrasi terbesar ketiga yang berperan penting di kelompok negara-negara G-20, serta di berbagai institusi global dan regional.

Lebih dari itu, baik AS maupun Indonesia sma-sama berbagi nilai, termasuk komitmen akan pemerintahan yang demokratis, serta dedikasi untuk toleransi dan pluralisme bagi rakyat dengan berbagai suku dan agama, yang sama-sama bertujuan membentuk satu bangsa yang hidup dalam harmoni.

Spirit demokrasi itu pula yang ditekankan kembali obama pada kuliah umum di Universitas Indonesia. Bahwa kehidupan demokrasi yang sudah dinikmati masyarakat, tidak mungkin akan berlangsung sempurna jika tidak disertai kebebasan pers dan penegakan hukum.

Hukum yang tidak tegak, atau keropos karena digerogoti aparatnya hanya akan menjadi lahan subur bagi praktik korupsi dan kolusi. Lingkungan yang koruptif dan kolutif tidak akan menyuburkan demokrasi, melainkan memberangusnya.

Kehadiran Obama, juga nyaris menenggelamkan peristiwa pemelintiran hukum saat aparat dan terdakwa korupsi bermain mata –dan pasti bermain duit– untuk memberi keleluasaan kepada sang terdakwa menikmati liburan sambil menyaksikan pertandingan tenis internasional di Bali.

Bagaimana mungkin demokrasi akan terpelihara dengan baik jika tidak disertai penegakan hukum? Bagaimana pula hukum bisa tegak jika integritas oknum aparatnya lembek, sejak dari penyidikan, penuntutan, pembelaan, bahkan hingga pengadilan?

Terlepas dari semua itu, kunjungan Obama tetap harus diberi makna agar bangsa kita tidak terjebak pada sekadar romantisme dan kebanggaan semu. Setidaknya, bagi Indonesia, Amerika adalah mitra lama dalam banyak hal.

Di bidang investasi, sektor pertambangan, jasa perbankan dan manufaktur, kehadiran AS sudah boleh dibilang turut menentukan perkembangan berikutnya hingga hari-hari ini.

Indonesia pun sangat berkepentingan kepada AS dalam perdagangan luar negeri, karena pasar AS merupakan pasar ekspor ketiga terbesar, selain China dan Jepang. Peluang seperti itu harus dimanfaatkan secara kreatif oleh bangsa Indonesia. (*)

Banjarmasinpost.co.id – Kamis, 11 November 2010 | Dibaca 176 kali | Komentar (0)

 

 

One Response to “Memberi Makna Kunjungan Obama”

  1. Aku terkesan yg ini:
    “… AS maupun Indonesia sma-sama berbagi nilai, termasuk komitmen akan pemerintahan yang demokratis, serta dedikasi untuk toleransi dan pluralisme bagi rakyat dengan berbagai suku dan agama, yang sama-sama bertujuan membentuk satu bangsa yang hidup dalam harmoni.”

    Semoga Masjid di Ground Zero segera terwujud, menjadi monumen toleransi kerohaniaan.
    Semoga komitmen-komitmen sejenis Obama ini cepat membiak ke seluruh seantero dunia.
    Capek kita bertegang tengkuk adu bener kerohanian yg adalah bukan barang aduan.

    Salam Damai!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: