MEMBANGUN KHAZANAH ILMU DAN PENDIDIKAN

Belajar itu adalah perobahan …….

Utusan kepada Raja-Raja dan Khaibar bagian IV.

Posted by Bustamam Ismail on November 8, 2010

A. Surat Rasul untuk Raja Persia

Ada pun Kisra Maharaja  Persia,  begitu  surat  Muhammad  yang mengajaknya menganut Islam itu dibacakan, baginda murka sekali dan surat itu  disobeknya.

Sepucuk  surat  segera  dikirimnya kepada  Bazan,  penguasanya  di  Yaman  dengan perintah supaya kepala itu laki-laki yang di Hijaz  segera  dibawa  kepadanya. Barangkali  menurut perkiraannya ini akan meringankan pengaruh kekalahannya berhadapan dengan Heraklius.

Setelah kata-kata Kisra serta perbuatannya merobek-robek surat itu disampaikan kepada Nabi, ia berkata: “Allah telah merobek-robek kerajaannya.” Ternyata  Bazan  ini  telah  pula  mengirimkan  utusan  dengan sepucuk surat kepada Muhammad dan dalam  pada  itu  Kisra  pun telah  pula  digantikan  oleh  puteranya  Syiruya (Kavadh II).

Peristiwa ini telah diketahui oleh Nabi sehingga sekaligus  ia dapat  memberitahukan  kejadian ini kepada utusan-utusan Bazan itu. Kepada mereka dimintanya pula supaya mereka  ini  menjadi utusan-utusannya  kepada  Bazan  dengan  mengajaknya  menganut Islam. Sebenarnya penduduk Yaman sudah mengetahui bencana yang telah  menimpa Persia itu dan sudah merasa pula akan hancurnya kerajaan itu.  Juga  berita-berita  kemenangan  Muhammad  atas Quraisy  dan  hancurnya  kekuasaan  Yahudi  sudah  pula sampai kepada mereka.

D.Bazan Menerima Islam

Setelah  utusan-utusan  Bazan  itu  kembali  dan  pesan   Nabi disampaikan kepada penguasa itu, dengan senang hati ia menjadi orang Islam dan tetap  sebagai  penguasa  Muhammad  di  Yaman. Kiranya   apakah  yang  akan  diminta  oleh  Muhammad  kepada penguasanya itu mengingat  Mekah  yang  masih  dalam  sengketa dengan dia? Sebenarnya, setelah bayangan Persia menghilang, ia telah  mendapat  keuntungan  dengan  berlindung  kepada  suatu kekuatan  yang  baru  tumbuh  di negeri Arab itu, dengan tidak meminta risiko apa-apa dan bisa jadi Bazan sendiri ketika  itu tidak  sampai  memperhitungkan,  bahwa  penggabungannya kepada Muhammad sudah merupakan suatu perbentengan yang  kuat  sekali di  pihak  Islam  bagian  selatan  jazirah  itu,  seperti yang terbukti dalam  peristiwa-peristiwa  yang  terjadi  dua  tahun kemudian.

E. Jawaban Muqauqis Pembesar Mesir

Tetapi  jawaban  Muqauqis,  seorang  pembesar  Kopti di Mesir, tidak sama dengan  jawaban  Kisra,  bahkan  lebih  indah  lagi daripada jawaban Heraklius. Kepada Mulmammad ia memberitahukan bahwa ia memang  percaya,  bahwa  seorang  nabi  akan  datang, tetapi  kedatangannya  itu  di  Syam.  Ia menyambut utusan itu dengan segala penghormatan sebagaimana mestinya.  Kemudian  ia mengirim   hadiah  di  tangan  utusan  itu  berupa  dua  orang dayang-dayang, seekor  bagal  putih,  seekor  himar,  sejumlah harta  dan  bermacam-macam  produksi Mesir lainnya. Maria dari dua dayang-dayang itu diterima  buat  Nabi  sendiri  dan  yang kemudian  telah  melahirkan  Ibrahim, dan Sirin dihadiahkannya kepada Hassan b. Thabit. Ada pun bagal itu  oleh  Nahi  diberi nama   “Duldul”   dan   warna  putihnya  memang  unik  sekali dibandingkan dengan  bagal-bagal  yang  ada  di  negeri-negeri Arab,  sedang  keledainya  diberi nama “Ufair” atau “Ya’fur.”

Hadiah itu oleh Muhammad diterima baik, dan disebutkan,  bahwa Muqauqis tidak sampai menganut Islam, sebab dia takut kerajaan Mesir akan direnggut oleh Rumawi. Kalau tidak karena itu tentu ia  akan  sudah beriman dan termasuk orang yang telah mendapat hidayah pula.

F. Najasyi menerima Surat Surat Nabi dengan baik

Setelah kita ketahui adanya hubungan yang begitu  baik  antara Najasyi  di  Abisinia dengan kaum Muslimin, sudah wajar sekali bila balasannya juga akan sangat baik, sehingga  ada  beberapa sumber  menyebutkan  bahwa  ia telah masuk Islam, meskipun ada juga   segolongan   Orientalis   yang    masih    menyangsikan keislamannya  itu.  Akan  tetapi  disamping  surat yang berisi ajakan kepada Islam di sertai pula sepucuk  surat  lain  dengan permintaan  supaya  umat  Muslimin  yang ada di Abisinia sudah dapat dikembalikan ke Medinah. Dalam  hal  ini  Najasyi  telah menyiapkan  dua  buah  kapal  yang  akan mengangkut mereka itu dengan dipimpin oleh Ja’far b. Abi Talib. Dalam rombongan  ini ikut  pula  Umm Habiba (Ramla) bt. Abi Sufyan setelah suaminya meninggal, yaitu Abdullah ibn Jahsy yang  datang  ke  Abisinia sebagai  Muslim  kemudian  menjadi  Nasrani dan tetap menganut agama Nasrani itu sampai matinya.

Sekembalinya dari Abisinia Umm  Habiba  ini  kemudian  menjadi salah  seorang  isteri  Nabi dan Umm’l-Mukminin. Beberapa ahli sejarah mengatakan bahwa Nabi mengawini Umm Habiba ini  dengan maksud  hendak  mengadakan  pertalian  nasab dengan Abu Sufyan sebagai  penegasan  lebih  kuat   lagi   terhadap   perjanjian Hudaibiya.  Yang  lain berpendapat bahwa perkawinan Umm Habiba dengan Muhammad dengan  Abu  Sufyan  yang  masih  tetap  dalam paganisma  –  hanya  akan  menimbulkan kekesalan dan kesedihan saja dalam hatinya.

G. Amir Oman membalas dengan kasar sedangakan Amir Bahrain menerima Islam

Sebaliknya amir-amir  (penguasa-penguasa)  Arab,  baik  mereka yang  dari Yaman atau dari Omman telah membalas surat Nabi itu dengan kasar sekali, sedang amir  Bahrain  membalasnya  dengan baik  dan  dia  pun  masuk  Islam.  Sebaliknya amir Yamama, ia memperlihatkan kesediaannya akan masuk Islam asal dia diangkat jadi  gubernur.  Karena  ambisinya  itu  oleh Nabi ia dikutuk. Penulis-penulis sejarah  menyebutkan,  bahwa  tidak  berselang setahun kemudian orang itu pun meninggal.

Pembaca  akan  memperhatikan  sekali  sikap  lemah-lembut  dan pandangan yang  begitu  baik  yang  terkandung  dalam  jawaban sebagian  besar  raja-raja  dan  penguasa-penguasa  itu. Tiada seorang pun dari utusan-utusan Muhammad itu yang dibunuh  atau dipenjarakan.  Bahkan  mereka  semua  kembali  dengan  membawa balasan pesan yang sebahagian  besar  lemah-lembut,  sekalipun dua  balasan  diantaranya  ada  yang kasar sifatnya. Bagaimana sebenarnya raja-raja itu menerima ajakan agama baru ini  tanpa bertindak   menghasut  pembawa  ajakan  itu,  juga  tanpa  mau menindasnya beramai-ramai? Soalnya  ialah  karena  dunia  pada waktu  itu  sama  seperti dunia kita sekarang, pengaruh materi telah menguasai kehidupan rohani; yang  menjadi  tujuan  hidup ialah  kemewahan. Bangsa-bangsa saling berperang karena hendak mencari kemenangan, ingin memenuhi dan  memuaskan  ambisi  dan nafsu  raja-raja  dan  penguasa-penguasa itu ingin hidup lebih mewah lagi. Dalam dunia semacam ini segala  pengertian  akidah atau  keyakinan  akan jatuh ke bawah kaki upacara-upacara yang demonstratif sifatnya, sedang apa yang dilaksanakan itu  tanpa

disertai  hati  yang  penuh  iman.  Yang  dijadikan  perhatian hanyalah supaya hal itu berada di  tangan  pemegang  kekuasaan yang   dapat   memberi  makan,  pakaian  dan  menjamin  adanya kesejahteraan dan  kemakmuran  hidup  dengan  segala  kekayaan harta   benda.   Upacara-upacara  itu  dipertahankan  hanyalah sekedar  hendak  memenuhi  kepentingan   materi   itu.   Kalau kepentingan  itu  sudah tak ada lagi, semangat mereka pun jadi hancur dan nafsu mengadakan perlawanan juga jadi lemah sekali.

Orang mendengar ada ajakan baru sekitar suatu  ajaran  tentang iman – yang mudah dan kuat, yang membuat semua manusia sama di hadapan Tuhan Yang Maha Tunggal, Tempat  orang  menyembah  dan meminta  pertolongan. Yang menentukan apa yang berguna dan apa yang tidak untuk dirinya itu. Dengan cahaya yang memancar dari kehendak  Tuhan,  ia  akan  menganggap  kecil  segala  ancaman raja-raja di muka bumi  ini  semua.  Orang  yang  hanya  takut kepada   kemurkaan  Tuhan  ia  akan  dapat  menggetarkan  hati raja-raja yang sedang hanyut dalam kemenangan hidup itu. Hanya orang  yang  bertaubatlah,  orang yang benar-benar beriman dan berbuat kebaikan sajalah dapat mengharapkan pengampunan Tuhan.

Oleh karena itu, tatkala orang mendengar tentang adanya ajakan baru  itu,  dan  melihat  pembawanya  begitu  tabah menghadapi segala macam penindasan, menghadapi kekejaman, penyiksaan  dan segala  kekuatan  hidup  materi, dengan kekuatannya yang terus berkembang, padahal dia adalah yatim piatu, miskin  dan  tidak

punya  apa-apa,  suatu  hal yang tak pernah terbayangkan, baik oleh  negerinya  sendiri  atau  pun  oleh  negeri-negeri  Arab lainnya  –  ketika itulah orang menjulurkan leher, ia memasang telinga baik-baik, jiwanya merasa haus, hatinya ingin  terbang melihat  sumber mata-air itu; hanya saja masih ada rasa takut, rasa sangsi yang mengalanginya dari kenyataan  yang  ada  itu. Itu  sebabnya  maka ada diantara raja-raja itu yang memberikan balasan dengan sangat lemah-lembut, dan dengan  demikian  iman dan keyakinan kaum Muslimin pun makin kuat pula.

Muhammad  sudah kembali dari Khaibar. Ja’far bersama-sama kaum Muslimin  sudah  kembali  dari  Abisinia,  dan   utusan-utusan Muhammad   juga   sudah   pula   kembali  dari  tempat  mereka masing-masing  ditugaskan.  Mereka  semua  bertemu   lagi   di Medinah.  Mereka  bertemu untuk sama-sama tinggal selama dalam tahun itu, dengan  penuh  rindu  menantikan  tahun  yang  akan datang,  akan  menunaikan  ibadah haji ke Mekah, memasuki kota itu dengan aman tenteram, dengan kepala dicukur atau digunting tanpa  akan  merasa takut. Begitu gembiranya Muhammad berjumpa dengan   Ja’far   sampai   ia   berkata,   mana   yang   lebih menggembirakan  hatinya:  kemenangannya  atas  Khaibar ataukah pertemuannya dengan Ja’far. Pada waktu itulah timbulnya cerita yang  mengatakan,  bahwa  pihak Yahudi telah menyihir Muhammad dengan  perbuatan  Labid,  sehingga  ia  mengira   bahwa   dia melakukan    sesuatu,    padahal    ia   tidak   melakukannya. Sumber-sumber cerita ini sebenarnya sangat  kacau  sekali  dan ini menguatkan pendapat orang yang mengatakan bahwa cerita ini cuma dibikin-bikin dan samasekali tidak punya dasar.

Kaum Muslimin tinggal di Medinah dengan aman dan tenteram, dan menikmati  hidup  dan  menikmati  karunia  dan keridaan Tuhan. Masalah perang tidak mereka pikirkan lagi.  Tidak  lebih  yang dilakukan  hanya  mengirimkan  pasukan-pasukan  guna  menindak barangsiapa  saja  yang  bermaksud  hendak  melanggar  hak-hak orang, atau hendak merampas harta-benda orang.

Setelah  berjalan  setahun – ketika itu bulan Zulkaidah – Nabi pun berangkat dengan  membawa  duaribu  orang  guna  melakukan umrah  pengganti  sesuai dengan ketentuan-ketentuan Hudaibiya, juga untuk menghilangkan rasa haus yang sudah sangat dirasakan oleh jiwa yang tengah dahaga hendak menunaikan ibadah ke Rumah

Purba itu.

 

Catatan kaki:

1 Muqauqis konon bukan nama pribadi, melainkan gelar   penguasa-penguasa Mesir pada saat-saat terakhir kekuasaan Rumawi, dari bahasa Kopti, Pkauchios (A).

2 Tentang arti dan paradigma kata-kata ini pendapat  orang bermacam-macam. Diantara arti kata arisiyik  (jamak arisi) ialah kata arisiyin pelayan-pelayan dan dayang-dayang. Maksud kalimat itu ialah dia bertanggungjawab atas dosa rakyatnya karena dia merintangi mereka dari agama. (Lihat Nihaya-nya  Ibn’l-Athir dan kamus-kamus bahasa, sub verbo,   “ra-asa.”)

3 Fadak ialah sebuah desa daerah koloni Yahudi di  Hijaz, tidak jauh dari Medinah (A).

4 Wadi’l-Qura ialah sebuah wadi atau lembah terletak  antara Medinah dengan Syam (A).

5 Himsh atau Homs, sebuah kota lama (Emesa) di Suria  Tengah (A).

 

Sumber:  S E J A R A H    H I D U P    M U H A M M A D

oleh MUHAMMAD HUSAIN HAEKAL diterjemahkan dari bahasa Arab oleh Ali Audah

Penerbit PUSTAKA JAYA Jln. Kramat II, No. 31 A, Jakarta Pusat Cetakan Kelima, 1980

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: