MEMBANGUN KHAZANAH ILMU DAN PENDIDIKAN

Belajar itu adalah perobahan …….

Utusan kepada Raja-Raja dan Khaibar bagian I.

Posted by Bustamam Ismail on October 25, 2010

MUHAMMAD dan kaum Muslimin kembali lagi dari Hudaibiya  menuju Medinah,  setelah tiga minggu persetujuan antara mereka dengan Quraisy itu selesai – yaitu persetujuan yang menyatakan  bahwa untuk  tahun ini mereka tidak akan masuk Mekah, dan baru tahun berikutnya mereka boleh masuk. Mereka kembali  dengan  membawa suatu  perasaan  dalam  hati.  Ada  sebagian mereka yang masih beranggapan bahwa isi  persetujuan  itu  tidak  sesuai  dengan harga diri kaum Muslimin, sampai akhirnya datang Surah al-Fath sementara mereka sedang dalam  perjalanan  itu  dan  Nabi  pun telah  pula membacakannya kepada mereka. Sekarang yang menjadi pikiran Muhammad  selama  tinggal  di  Hudaibiya  dan  setelah kembali  pulang,  ialah  apa  yang  harus  dilakukannya  dalam menambah   ketabahan   hati    sahabat-sahabatnya    disamping memperluas  penyebaran  dakwah.  Akhirnya  ia berpendapat akan mengutus  orang-orang  kepada  Heraklius,  Kisra,   Muqauqis1, Najasyi  (Negus)  di  Abisinia,  kepada Harith al-Ghassani dan kepada penguasa Kisra di Yaman. Bersamaan dengan itu  dianggap perlu sekali menumpas samasekali kekuasaan Yahudi dari seluruh jazirah Arab.

Pada  waktu  itu  ajaran  Islam  sebenarnya   sudah   mencapai kematangannya,  sehingga  ia menjadi suatu agama untuk seluruh umat manusia, yang tidak  lagi  terbatas  hanya  pada  masalah tauhid    serta    segala    konsekwensinya    seperti   dalam masalah-masalah ibadat’ tetapi juga sudah meluas dan  meliputi segala macam kehidupan sosial. Hal ini sesuai dengan kebesaran konsep  tauhid  itu  dan  membuat  pembawanya  dapat  mencapai kematangan  hidup  insani  serta terlaksananya cita-cita hidup yang    lebih    tinggi.    Oleh    karena    itu     turunlah peraturan-peraturan  yang  berhubungan  dengan masalah-masalah kemasyarakatan.

Penulis-penulis riwayat hidup Nabi berbeda  pendapat  mengenai kapan  diturunkannya  larangan khamr (minuman keras). Ada yang mengatakan dalam tahun ke empat Hijrah. Tetapi sebagian  besar mengatakan  dalam  masa  Hudaibiya.  Idea  larangan  khamr ini sosial sifatnya, yang tak ada hubungannya dengan  tauhid  dari segi  tauhid  an  sich.  Bukti  yang lebih jelas dalam hal ini ialah, bahwa larangan itu disebutkan dalam Qur’an baru sekitar duapuluh tahun kemudian setelah kerasulan Nabi, dan selama itu pula Muslimin tetap minum khamr sampai datangnya larangan. Dan bukti  yang  lebih  jelas  lagi dalam hal ini  ialah, bahwa larangan   tidak    sekaligus    turunnya,    melainkan berangsur-angsur   sehingga  kaum  Muslimin  dapat  mengurangi kebiasaan itu sedikit  demi  sedikit.  Bilamana  larangan  itu kemudian  datang,  maka mereka pun berhenti minum. Dalam suatu sumber tentang Umar bin’l-Khattab disebutkan, bahwa ketika  ia bertanya  tentang  khamr itu ia berkata: “Ya Allah, berikanlah penjelasannya kepada kami.” Lalu turun ayat ini:

“Mereka bertanya kepadamu tentang khamr dan judi.  Katakanlah, dalam  keduanya  itu  terdapat  dosa  besar  dan  juga  banyak manfaatnya buat  manusia,  tetapi  dosanya  lebih  besar  dari manfaatnya.” (Qur’an, 2: 219)

Oleh karena sesudah turunnya ayat ini kaum Muslimin belum juga mau berhenti, bahkan dari  mereka  ada  yang  sepanjang  malam minum  sampai  berlimpah-limpah,  sehingga  bila  mereka pergi sembahyang sudah tidak tahu lagi apa yang mereka baca, kembali lagi  Umar  berkata:  “Ya Allah, jelaskanlah kepada kami hokum khamr itu, sebab ini  menyesatkan  pikiran  dan  harta,”  maka turun ayat ini:

“Orang-orang yang beriman. Janganlah kamu melakukan sembahyang sementara kamu dalam keadaan mabuk  supaya  kamu  ketahui  apa yang kamu baca.” (Qur’an, 4: 43)

Pada waktu itu muazzin Rasul pada waktu sembahyang berseru: “Orang yang mabuk jangan ikut sembahyang!”

Sekalipun   yang  demikian  ini  membawa  akibat  berkurangnya minuman itu dan dari segi ini pula  pengaruhnya  cukup  besar, sehingga  sudah banyak dari mereka itu yang mengurangi minuman khamr sedapat mungkin, namun beberapa waktu  kemudian  kembali Umar berkata lagi:

“Ya  Allah,  jelaskanlah kepada kami hukum khamr itu, jelaskan dengan  tegas,  sebab  ini  menyesatkan  pikiran  dan  harta.”

Sebenarnya   tepat   sekali  Umar  berkata  begitu,  mengingat orang-orang Arab – termasuk juga  kaum  Musliminnya  –  dengan minuman  demikian  itu  mereka  jadi kacau, saling bertengkar, saling menarik janggut dan saling  memukul  kepala  satu  sama lain.

Pernah  ada  orang  dari  kalangan mereka itu mengadakan pesta makan  minum.  Setelah  mereka  dalam  keadaan  mabuk,   pihak Muhajirin  dan  Anshar  mulai  saling  adu  mulut.  Yang  satu menunjukkan sikap  fanatiknya  kepada  Muhajirin  sedang  yang fanatik  kepada  Anshar  mengambil sebatang tulang kepala unta yang mereka  makan  lalu  dipukulkan  kehidung  salah  seorang Muhajirin.  Ada  lagi  dua  kelompok  suku sedang mabuk-mabuk. Mereka saling bertengkar,  lalu  saling  bertikaman.  Diantara mereka timbul rasa benci-membenci, sedang sebelum itu hubungan mereka hidup rukun dan saling cinta-mencintai.  Ketika  itulah firman Tuhan ini turun:

“Orang-orang yang  beriman!  Bahwasanya  khamr,  perjudian, berhala, mengadu nasib dengan  panah,  adalah  perbuatan  keji yang  termasuk  perbuatan  setan.  Hindarilah itu supaya kamu beruntung. Tentu setan bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan   kebencian  di  kalangan  kamu  dengan  jalan  khamr  dan perjudian itu, merintangi kamu dari mengingat Allah  dan  dari sembahyang. Maka maukah kamu menghentikan?” (Qur’an, 5 90-91)

Ketika  ada  pelarangan  khamr,  waktu  itu Anas yang bertugas sebagai pelayan. Setelah didengarnya ada orang yang menyerukan bahwa minuman itu dilarang, cepat-cepat cairan itu dibuangnya. Tetapi ada orang-orang yang  bagi  mereka  soal  larangan  ini belum jelas, mereka berkata: mungkinkah khamr itu keji padahal sudah di perut si anu dan si fulan, yang sudah terbunuh  dalam perang  Uhud, juga dalam perut si anu dan si anu yang terbunuh dalam perang Badr? Maka firman Tuhan ini turun:

Tiada berdosa orang-orang yang beriman dan  yang  mengerjakan perbuatan-perbuatan  yang  baik,  karena  makanan  yang  telah mereka makan dahulu, asal saja mereka  tetap  memelihara  diri dari  kejahatan, tetap beriman    dan    mengerjakan perbuatan-perbuatan yang baik. Kemudian mereka tetap  bertakwa dan  beriman  kemudian  bertakwa  dan  berbuat kebaikan. Tuhan menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan.” (Qur’an, 5: 93)

Segala perbuatan baik dan kasih sayang yang dianjurkan  Islam, mengajak  orang  selalu  melakukan amal kebaikan, latihan jiwa dan watak yang terdapat dalam ibadat, fungsi ruku’  dan  sujud dalam  sembahyang  yang  telah  mcnghapuskan kecongkakan hati, semua  itu   merupakan   pelengkapan   yang   wajar   terhadap agama-agama  yang  sebelumnya  dan yang menyebabkan ajaran ini tertuju kepada semua umat manusia.

Pada waktu  itu  Heraklius  dan  Kisra  masing-masing  sebagai kepala  kerajaan  Rumawi  dan  Persia,  dua buah kerajaan yang terkuat  pada  zamannya  merupakan  dua   orang   yang   telah menentukan   jalannya   politik   dunia  serta  nasib  seluruh penduduknya. Perang antara dua kerajaan ini berkecamuk  dengan kemenangan  yang selalu silih berganti seperti yang sudah kita lihat. Pada  mulanya  Persia  adalah  pihak  yang  menang.  Ia menguasai   Palestina  dan  Mesir,  menaklukkan  Bait’l-Maqdis (Yerusalem) dan berhasil membawa Salib Besar (The True Cross). Kemudian  giliran Persia mengalami kekalahan lagi. Panji-panji Bizantium kembali berkibar lagi di  Mesir,  di  Suria  dan  di Palestina,  dan  Heraklius berhasil mengen-balikan salib itu -setelah  ia  bernadar  –  bahwa  kalau   ia   telah   mencapai kemenangan,  ia  akan  berziarah  ke Yerusalem dengan berjalan kaki dan mengembalikan salib ke tempatnya.

Kalau saja orang ingat  akan  kedudukan  kedua  kerajaan  itu, orang akan dapat mengira-ngirakan betapa besarnya dua nama itu telah dapat menimbulkan kegentaran dan ketakutan  dalam  hati. Tiada   sebuah   kerajaan  pun  yang  pernah  berpikir  hendak melawannya. Yang terlintas dalam pikiran  orang  ialah  hendak membina   persahabatan   dengan   kedua  kerajaan  itu.  Kalau kerajaan-kerajaan dunia yang terkenal  pada  waktu  itu  sudah begitu  semua  keadaannya,  maka tidak aneh bila negeri-negeri Arab itu pun akan demikian pula. Yaman dan Irak waktu  itu  di bawah  pengaruh  Persia,  sedang Mesir sampai ke Syam di bawah pengaruh  Heraklius.  Pada  waktu  itu   Hijaz   dan   seluruh semenanjung  jazirah  terkurung dalam lingkaran pengaruh kedua kemaharajaan itu. Kehidupan orang Arab  pada  masa  itu  hanya tergantung  pada soal perdagangan dengan Yaman dan Syam. Dalam hal ini perlu sekali mereka mengambil hati Kisra dan Heraklius supaya  kekuasaan  kedua  kerajaan  itu  jangan sampai merusak perdagangan mereka.

Di samping itu kehidupan orang-orang  Arab itu   tidak   lebih   daripada   kabilah-kabilah,  yang  dalam bermusuhan, kadang keras, kadang lunak. Tak ada sesuatu ikatan diantara  mereka  yang  akan merupakan suatu kesatuan politik, yang akan dapat  mereka  pikirkan  dalam  menghadapi  pengaruh kedua kerajaan raksasa itu. Oleh  karena  itu  mengherankan  sekali  jika  pada  waktu itu Muhammad berpikir hendak mengirimkan  utusan-utusannya  kepada kedua  penguasa  besar itu – juga kepada Ghassan. Yaman, Mesir dan Abisinia. Diajaknya mereka itu meinganut  agamanya,  tanpa ia merasa kuatir akan segala akibat yang mungkin timbul karena tindakannya itu, dan yang  mungkin  juga  akan  dapat  membawa seluruh  negeri Arab itu tunduk dibawah cengkeraman Persia dan Bizantium.

Akan tetapi kenyataannya  Muhammad  tidak  ragu-ragu  mengajak semua  raja-raja  itu  menganut  agama yang benar. Bahkan pada suatu hari ia pergi menemui sahabat-sahabatnya dan berkata:

“Saudara-saudara. Tuhan mengutus saya adalah  sebagai  rahmat kepada   seluruh   umat   manusia.  Janganlah  saudara-saudara berselisih  pendapat  tentang  saya,  seperti  kaum  Hawariyun (pengikut-pengikut Almasih) tentang Isa anak Mariam.”

“Rasulullah,”kata  sahabat-sahabatnya “Bagaimana pengikut-pengikut Isa itu berselisih pendapat?”

“Ia  mengajak  mereka  kepada  apa  yang  seperti  saya   ajak saudara-saudara.  Orang  yang  diutusnya ke tempat yang dekat, orang itu menerima dan dengan senang hati. Tetapi  orang  yang diutusnya  ke  tempat  yang  jauh, muka orang itu terpaksa dan segan-segan.”

Kemudian dikatakannya kepada mereka  bahwa  ia  akan  mengutus orang-orang  kepada  Heraklius, kepada Kisra, Muqauqis, Harith al-Ghassani raja Hira, Harith al-Himyari raja Yaman dan kepada Najasi  di  Abisinia.  Akan  diajaknya mereka itu masuk Islam. Sahabat-sahabatnya menyatakan mereka bersedia  melakukan  itu. Lalu   dibuatnya   sebentuk  cincin  dari  perak  bertuliskan:

Muhammad Rasulullah.”

Isi surat-surat yang dikirimkan itu seperti contoh  yang  kita kemukakan kepada pembaca, yaitu suratnya kepada Heraklius yang berbunyi:

Dengan nama Allah,  Pengasih  dan  Penyayang.  Dari  Muhammad hamba  Allah kepada Heraklius pembesar Rumawi. Salam sejahtera kepada orang yang sudi mengikut petunjuk yang benar.

Kemudian daripada itu. Dengan ini saya mengajak tuan  menuruti ajaran Islam. Terimalah ajaran Islam, tuan akan selamat. Tuhan akan memberi pahala dua kali kepada tuan. Kalau tuan mengelak, maka  dosa  orang-orang  arisiyin2 menjadi tanggungiawab tuan. Wahai orang-orang Ahli Kitab. Marilah sama-sama kita berpegang pada  kata  yang sama antara kami dan kamu yakni bahwa tak ada yang  kita  sembah  selain   Allah   dan   kita   tidak   akan mempersekutukanNya  dengan  apa  pun,  bahwa  yang satu takkan mengambil yang lain menjadi tuhan selain Allah.  Tetapi  kalau mereka  mengelak  juga,  katakanlah kepada mereka, saksikanlah bahwa kami ini orang-orang Islam.”

Surat kepada Heraklius  itu  kemudian  dibawa  oleh  Dihya  b. Khalifa,  surat  kepada Kisra dibawa oleh Abdullah b. Hudhafa, surat  kepada  Najasyi  oleh  ‘Amr  b.  Umayya,  surat  kepada Muqauqis oleh Hatib b. Abi Balta’a, surat kepada penguasa Oman oleh ‘Amr bin’l-‘Ash, surat kepada penguasa Yamama oleh  Salit b.  ‘Amr,   surat   kepada   raja   Bahrain   oleh   al-‘Ala bin’l-Hadzrami,  surat   kepada   Harith   al-Ghassani,   raja

perbatasan  Syam,  oleh  Syuja’  b.  Wahb, surat kepada Harith al-Himyari, raja Yaman, oleh Muhajir b. Umayya.

Mereka semua berangkat masing-masing  menuju  ke  tempat  yang telah  ditugaskan oleh Nabi. Mereka berangkat dalam waktu yang bersamaan  menurut  pendapat  sebagian  besar  penulis-penulis sejarah,  sebagian  lagi  berpendapat  mereka  berangkat dalam waktu berlain-lainan.

Sumber:  S E J A R A H    H I D U P    M U H A M M A D

oleh MUHAMMAD HUSAIN HAEKAL diterjemahkan dari bahasa Arab oleh Ali Audah Penerbit PUSTAKA JAYA Jln. Kramat II, No. 31 A, Jakarta Pusat Cetakan Kelima, 1980

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: