MEMBANGUN KHAZANAH ILMU DAN PENDIDIKAN

Belajar itu adalah perobahan …….

Perjanjian Hudaibiyah bagian Ketiga.

Posted by Bustamam Ismail on October 21, 2010

A. Proses Penulisan perjanjian Hudaibiyah.

Selain itu kesabaran Muhammad  terlihat  pula  ketika  terjadi penulisan  isi  persetujuan  itu,  yang membuat beberapa orang Muslimin jadi lebih kesal. Ia memanggil Ali b. Abi  Talib  dan katanya:

Tulis: Bismillahir-Rahmanir-Rahim (Dengan   nama   Allah, Pengasih dan Penyayang).”Stop!” kata Suhail. “Nama Rahman dan  Rahim  ini  tidak  saya kenal. Tapi tulislah: Bismikallahuma (Atas namaMu ya Allah).”

Kata Rasulullah pula: “Tulislah:  Atas  namaMu  ya  Allah.”  Lalu  sambungnya lagi:

Tulis: Inilah yang sudah disetujui oleh  Muhammad  Rasulullah dan Suhail b. ‘Amr.” “Stop,” sela  Suhail  lagi. “Kalau saya sudah mengakui engkau Rasulullah, tentu saya tidak memerangimu. Tapi tulislah namamu dan nama bapamu.”

Lalu kata Rasulullah pula:”Tulis:   Inilah   yang   sudah  disetujui  oleh  Muhammad  b. Abdillah.” Dan selanjutnya perjanjian antara kedua belah pihak itu  ditulis,  bahwa  kedua  belah  pihak  mengadakan gencatan selama sepuluh tahun – menurut pendapat sebagian besar penulis  sejarah  Nabi  –  atau  dua tahun menurut al-Waqidi – bahwa barangsiapa dari  golongan  Quraisy  menyeberang  kepada Muhammad  tanpa  seijin  walinya, harus dikembalikan kepada mereka, dan barangsiapa  dari  pengikut  Muhammad menyeberang kepada Quraisy,tidak akan dikembalikan; bahwa barangsiapa dari masyarakat Arab yang senang mengadakan persekutuan dengan Muhammad diperbolehkan, dan barangsiapa yang senang mengadakan persekutuan dengan Quraisy  juga  diperbolehkan;  bahwa  untuk tahun   ini  Muhammad  dan  sahabat-sahabatnya  harus  kembali meninggalkan Mekah, dengan ketentuan akan kembali  pada  tahun berikutnya; mereka dapat memasuki kota dan tinggal selama tiga hari di Mekah dan senjata yang dapat mereka bawa hanya  pedang tersarung dan tidak dibenarkan membawa senjata lain.

B. Pokok-Pokok Perjanjian Hudaibiyah

1. ,Kedua  belah  pihak  mengadakan gencatan selama sepuluh tahun – menurut pendapat sebagian besar penulis  sejarah  Nabi  –  atau  dua tahun menurut al-Waqidi

2. Golongan  Quraisy  menyeberang  kepada Muhammad  tanpa  seijin  walinya, harus dikembalikan kepada mereka,

3. Pengikut  Muhammad menyeberang kepada Quraisy,tidak akan dikembalikan; bahwa barangsiapa dari masyarakat Arab yang senang mengadakan persekutuan dengan Muhammad diperbolehkan,

4. .siapa yang senang mengadakan persekutuan dengan Quraisy  juga  diperbolehkan;

5. Untuk tahun ini  Muhammad  dan  sahabat-sahabatnya  harus  kembali meninggalkan Mekah, dengan ketentuan akan kembali pada  tahun berikutnya; mereka dapat memasuki kota dan tinggal selama tiga hari di Mekah dan senjata yang dapat mereka bawa hanya  pedang tersarung dan tidak dibenarkan membawa senjata lain. Begitu  perjanjian  ini  ditanda-tangani, pihak Khuza’a segera bersekutu dengan Muhammad dan Banu Bakr bersekutu pula  dengan Quraisy.

C.Bebrapa akibat perjanjian Hudaibiyah

1. Peristiwa Abu Jandal b Suhail

Selanjutnya  begitu  perjanjian  ini  ditandatangani begitu pula Abu Jandal b. Suhail  b. ‘Amr datang  dan  terus hendak  menggabungkan  diri  dengan  Muslimin,  dan akan pergi bersama-sama  pula.  Tetapi  Suhail  sendiri  melihat  anaknya demikian  dipukulnya  mukanya dan direnggutnya ditentang leher untuk kemudian dikembalikan kepada Quraisy. Dalam pada itu Abu Jandal sendiri berteriak sekuat-kuatnya: “Saudara-saudara   Muslimin.  Saya  akan  dikembalikan  kepada orang-orang musyrik yang akan menyiksa saya karena agama  saya ini?!”

Dengan  peristiwa itu kaum Muslimin makin gelisah, makin tidak senang mereka pada hasil perjanjian yang diadakan antara Rasul dengan  Suhail.  Tetapi Muhammad lalu mengarahkan kata-katanya kepada Abu Jandal: “Abu Jandal, tabahkan hatimu. Semoga Allah membuat engkau  dan orang-orang  Islam  yang  ditindas bersama kau merupakan suatu jalan keluar. Kita  sudah  menandatangani  persetujuan  dengan golongan  itu,  dan  ini  sudah kita berikan kepada mereka dan merekapun sudah  pula  memberikan  kepada  kita,  dengan  nama Allah. Kita tidak akan mengkhianati mereka.”

Sekarang Abu Jandal kembali kepada Quraisy, sesuai dengan isi persetujuan dan janji Nabi. Suhail juga lalu berangkat  pulang ke Mekah.

Muhammad masih tinggal. Ia gelisah melihat keadaan orang-orang sekelilingnya. Kemudian ia sembahyang,  dan  keadaannya  mulai tenang  kembali. Ia berdiri, hewan korbannya mulai disembelih. Ia duduk kembali, rambut kepalanya dicukur sebagai tanda umrah sudah  dimulai.  Hatinya sudah merasa tenang, merasa tenteram.

Melihat Nabi melakukan itu, dan  melihat  ketenangannya  pula, merekapun  bergegas pula menyembelih hewan dan mencukur rambut kepala – sebagian ada yang bercukur dan ada  juga  yang  hanya memangkas (menggunting) rambut: “Semoga  Allah  melimpahkan rahmat kepada mereka yang mencukur rambut,” kata Muhammad.

Orang-orang jadi gelisah sambil bertanya: “Dan mereka yang berpangkas rambut, ya Rasulullah?” “Semoga Allah melimpahkan rahmat kepada mereka  yang  bercukur rambut,” katanya lagi.

Orang-orang masih gelisah sambil bertanya: “Dan mereka yang berpangkas rambut, ya Rasulullah?” “Dan mereka yang berpangkas rambut,” katanya lagi. “Rasulullah,” kata setengah mereka lagi, “kenapa doa buat yang bercukur saja yang  dinyatakan,  bukan  buat  yang  bergunting rambut?,,

“Karena mereka sudah tidak ragu-ragu.” “Tidak  ada  jalan  lain buat Muslimin mereka mesti kembali ke Medinah dengan harapan akan  kembali  ke  Mekah  tahun  depan.

Sebahagian  besar  mereka  itu  membawa  pikiran  demikian ini dengan berat hati. Kalau tidak karena perintah  Rasul,  mereka takkan  dapat  menahan  hati.  Tiada  biasanya mereka menerima kekalahan atau menyerah tanpa pertempuran. Karena iman  mereka akan  pertolongan  Allah  kepada Rasul dan agama, mereka tidak ragu-ragu  lagi  akan  menyerbu  Mekah,  kalau  saja  Muhammad memerintahkan yang demikian itu. Mereka  tinggal  di  Hudaibiya  selama beberapa hari lagi. Ada mereka yang  bertanya-tanya  tentang  hikmah  perjanjian  yang dibuat  oleh Nabi itu; ada pula yang dalam hati kecilnya masih menyangsikan adanya hikmah demikian itu.

Akhirnya mereka berangkat pulang. Sementara mereka di  tengah  perjalanan  antara  Mekah dengan Medinah   tiba-tiba  turun  wahyu  kepada  Nabi  dengan  Surah Al-Fath. Firman Tuhan itupun oleh Nabi kemudian  dibacakannya kepada sahabat-sahabat: “Kami  telah  memberikan kepadamu suatu kemenangan yang nyata; supaya Tuhan mengampuni kesalahanmu yang sudah lalu  dan  yang akan  datang,  dan  Tuhan akan mencukupkan karuniaNya kepadamu serta membimbing engkau ke jalan  yang  lurus.”  (Qur’an,  48: 1-2) Dan seterusnya sampai pada akhir Surah.

Tidak  sangsi lagi kalau begitu bahwa Perjanjian Hudaibiya ini adalah  suatu  kemenangan  yang  nyata  sekali.   Dan   memang demikianlah  adanya. Sejarahpun mencatat, bahwa isi perjanjian ini adalah suatu hasil politik yang  bijaksana  dan  pandangan yang  jauh,  yang besar sekali pengaruhnya terhadap masa depan Islam dan masa depan orang-orang Arab itu  semua.  Ini  adalah yang  pertama  kali  pihak  Quraisy  mengakui  Muhammad, bukan sebagai pemberontak terhadap mereka, melainkan  sebagai  orang yang  tegak  sama  tinggi  duduk  sama  rendah.  Dan sekaligus mengakui pula berdirinya  dan  adanya  kedaulatan  Islam  itu.

Kemudian   juga   suatu  pengakuan  bahwa  Musliminpun  berhak berziarah ke Ka’bah  serta  melakukan  upacara-upacara  ibadah haji;  suatu  pengakuan  pula  dari mereka, bahwa Islam adalah agama yang sah diakui sebagai salah satu agama di jazirah itu.

Selanjutnya  gencatan  senjata  yang  selama  dua  tahun  atau sepuluh tahun membuat pihak Muslimin merasa  lebih  aman  dari jurusan  selatan  tidak kuatir akan mendapat serangan Quraisy, yang  juga  berarti  membuka  jalan  buat  Islam  untuk  lebih tersebar  lagi.  Bukankah  orang-orang  Quraisy yang merupakan musuh Islam paling gigih dan lawan berperang yang paling keras itu   sekarang   sudah   tunduk,  sedang  sebelum  itu  mereka samasekali tidak pernah akan mau tunduk?

Kenyataannya setelah persetujuan perletakan senjata itu  Islam memang  tersebar  luas,  berlipat  ganda  lebih cepat daripada sebelumnya. Jumlah mereka yang datang ke Hudaibiya ketika  itu sebanyak  1400  orang.  Tetapi  dua  tahun  kemudian,  tatkala

Muhammad hendak membuka Mekah jumlah mereka yang datang  sudah sepuluh  ribu  orang.  Mereka  yang  masih menyangsikan hikmah perjanjian Hudaibiya ini, yang sangat keberatan  ialah  adanya sebuah  klausul  dalam  perjanjian itu yang menyebutkan, bahwa barangsiapa dari golongan Quraisy menyeberang kepada  Muhammad tanpa  seijin  walinya,  harus dikembalikan kepada mereka, dan barangsiapa dari pengikut Muhammad menyeberang kepada  Quraisy tidak  akan  dikembalikan  kepada Muhammad. Tanggapan Muhammad dalam hal ini ialah apabila ada orang yang murtad  dari  Islam dan  minta perlindungan Quraisy, orang semacam ini tidak perlu lagi kembali kepada  jamaah  Muslimin,  dan  siapa-siapa  yang masuk  Islam  dan  berusaha menggabungkan diri dengan Muhammad mudah-mudahan Tuhan akan membukakan jalan keluar.

Peristiwa-peristiwa   yang   terjadi   sesudah   itu    memang membuktikan  kebenaran  pendapat  Muhammad  bahkan lebih cepat dari yang diduga  sahabat-sahabatnya.  Juga  ini  menunjukkan, bahwa  dengan persetujuan Hudaibiya itu Islam telah memperoleh keuntungan  besar  yang  luarbiasa,  dan  dua  bulan  kemudian sesudah  itu telah pula membukakan jalan buat Muhammad memulai mengirimkan surat-surat  kepada  raja-raja  dan  kepala-kepala negara asing mengajak mereka masuk Islam.

2.Peristiwa Abu Basyir

Peristiwa-peristiwa   yang   terjadi  itu  memang  membuktikan kebenaran pendapat  Muhammad  lebih  cepat  dari  yang  diduga sahabat-sahabatnya.  Abu  Bashir6 telah  datang dari Mekah ke Medinah sebagai seorang Muslim. Sesuai dengan isi  persetujuan ia  mesti  dikembalikan  kepada  Quraisy  sebab ia pergi tidak seijin tuannya. Untuk itu maka Azhar b.  ‘Auf  dan  Akhnas  b. Syariq   berkirim   surat   kepada   Nabi   supaya  orang  itu dikembalikan. Surat-surat itu dibawa  oleh  seorang  laki-laki dari Banu ‘Amir yang datang bersama seorang budak.

Abu Bashir,” kata Nabi, “Kita telah membuat perjanjian dengan pihak mereka, seperti sudah  kauketahui.  Suatu  pengkhianatan menurut  agama  kita  tidak  dibenarkan.  Semoga Allah membuat engkau  dan  orang-orang  Islam  yang  ditindas bersama kaum merupakan suatu kelapangan dan jalan keluar. Berangkat sajalah engkau kembali kedalam lingkungan masyarakatmu.”

Rasulullah,” kata Abu Bashir, “Saya akan dikembalikan  kepada orang-orang  musyrik yang akan menyiksa saya karena agama saya ini.” Lalu Nabi mengulangi kata-kata tadi. Dan kedua orang  itu  pun berangkat. Sesampainya   di   Dhu’l-Hulaifa   dimintanya kepada kawan seperjalanannya dari Banu ‘Amir itu supaya  memperlihatkan pedangnya Setelah  digenggamnya   erat-erat   pedang   itu ditangannya, diayunkannya kepada orang dari Banu ‘Amir itu dan dibunuhnya  orang  itu.  Sekarang  sang  budak lari ke jurusan Medinah, langsung menemui Nabi. “Orang ini  tampaknya  dalam  ketakutan,” kata  Nabi  setelah melihat  orang  itu.  Lalu katanya kepada orang tersebut, “He! Ada apa?” “Teman tuan membunuh teman saya,” kata orang itu.

Tidak lama kemudian Abu Bashir muncul  dengan  membawa  pedang terhunus  dan  berkata  dengan  menujukan  kata-katanya kepada Muhammad. “Rasulullah,” katanya. “Jaminan  tuan  sudah  terpenuhi,  dan Tuhan  sudah  melaksanakan buat tuan. Tuan menyerahkan saya ke tangan mereka dan dengan agama saya itu saya  tetap  bertahan, supaya jangan saya dianiaya atau dipermainkan karena keyakinan agama saya itu.”

Sebenarnya Rasul tidak dapat menyembunyikan  kekagumannya  dan harapannya sekiranya dia punya anak buah. Sesudah  itu Abu Bashir berangkat juga. Ia berhenti di Al-Ish,di pantai laut sepanjang jalur  Quraisy  ke  Syam.   Dalam perjanjian  Muhammad dengan Quraisy ialah membiarkan jalan ini sebagai lalu-lintas perdagangan,  yang  tidak  boleh  diganggu olehnya  atau oleh Quraisy. Tetapi setelah Abu Bashir pergi ke daerah itu dan  hal  ini  didengar  oleh  umat  Muslimin  yang tinggal  di  Mekah  serta  tentang  kekaguman Rasul kepadanya, sebanyak kira-kira tujuhpuluh laki-laki dari mereka  ini  lari pula  menemuinya  dan  menggabungkan  diri di tempat tersebut, lalu dijadikannya dia sebagai pemimpin mereka. Sekarang mereka bersama-sama  mencegat  Quraisy  dalam  perjalanan itu. Setiap orang yang berhasil mereka tangkap, mereka  bunuh  dan  setiap ada  kafilah dagang tentu mereka rampas. Ketika itulah Quraisy menyadari bahwa hal ini merupakan suatu  kerugian  besar  buat mereka, apabila  kaum  Muslimin  itu  masih  tetap tinggal di Mekah. Mereka memperhitungkan, bahwa  usaha  mengurung  orang yang  benar-benar  teguh  imannya,  lebih  berbahaya  daripada membebaskannya.

Tentu ia akan mencari kesempatan lari. Ia akan melancarkan  perang yang tak berkesudahan terhadap mereka yang mengurungnya, dan mereka juga yang akan rugi. Seolah  teringat oleh  Quraisy  ketika  Muhammad hijrah ke Medinah. Ia mencegat perjalanan  kafilah  mereka.  Perbuatan  semacam  itu   mereka kuatirkan akan diulangi oleh Abu Bashir.

3.Quresy membatalkan sebagian isi perjanjian

Sehubungan  dengan  inilah  mereka  lalu mengutus orang kepada Nabi. Dimintanya supaya ia  mau  menampung  orang-orang  Islam itu, dan supaya membiarkan jalan lalu-lintas itu kembali aman. Dengan demikian Quraisy telah mundur  setapak  dari  apa  yang secara  gigih  disyaratkan  oleh Suhail b. ‘Amr bahwa Muslimin Quraisy yang pergi menyeberang kepada  Muhammad  tidak  seijin walinya harus di kembalikan ke Mekah. Dengan sendirinya syarat itu jadi gugur, yang dulu pernah  membuat  Umar  bin’l-Khattab jadi  gusar  karenanya  dan  yang  telah  menyebabkan dia jadi marah-marah kepada Abu Bakr.

Selanjutnya Mulmammad telah menampung  sahabat-sahabatnya  itu dan jalan ke Syam itu pun kembali jadi aman.

4.Gugatan Quresy terhadap wanita-wanita yang menyeberang

Terhadap  wanita-wanita  Quraisy yang turut hijrah ke Medinah, Muhammad mempunyai pendapat lain lagi. Setelah ada persetujuan gencatan senjata itu Umm  Kulthum  bt. ‘Uqba  b.  Mu’ait  keluar  dari  Mekah. Saudaranya, ‘Umara dan Walid, yang  kemudian  menyusul,  menuntut  kepada  Rasulullah supaya wanita itu dikembalikan kepada mereka sesuai dengan isi

Perjanjian Hudaibiya.  Akan   tetapi   Nabi   menolak.   Ia berpendapat,  bahwa  menurut hukum, kaum wanita tidak termasuk dalam  persetujuan  itu.  Apabila  ada   wanita   yang   minta perlindungan,  maka  harus dilindungi. Disamping itu, bilamana wanita itu sudah masuk Islam, maka suaminya yang masih musyrik sudah  tidak sah lagi. Mereka harus berpisah. Dalam hal inilah firman Tuhan datang:

Orang-orang yang beriman. Apabila wanita-wanita yang  beriman itu,  datang hijrah kepada kamu hendaklah mereka itu kamu uji. Allah lebih mengetahui tentang keimanan mereka. Bila kamu juga sudah  mengetahui,  bahwa  mereka  memang wanita-wanita yang beriman, jangan  hendaknya   mereka   dikembalikan   kepada orang-orang  yang  kafir.  Mereka  tidak  halal  buat (menjadi isteri) orang-orang kafir, dan orang-orang kafir itupun  tidak halal  buat  (menjadi  suami)  mereka.  Dan bayarkanlah kepada (suami-suami) mereka apa yang sudah  mereka  nafkahkan.  Tiada salahnya  kamu  menikah  dengan  mereka  itu  kalau sudah kamu bayarkan maharnya. Dan janganlah kamu bertahan pada perkawinan wanita-wanita   kafir,   dan  mintalah  apa  yang  telah  kamu nafkahkan, begitupun biarlah mereka juga minta apa yang  telah mereka  nafkahkan.  Demikian  itulah  Dia memberikan keputusan antara sesama kamu. Allah Maha mengetahui dan Maha Bijaksana.” (Qur’an, 60: 10)

Sekali lagi peristiwa-peristiwa  yang  telah  terjadi  itu membuktikan  kebenaran  kebijaksanaan Muhammad.  Membenarkan pandangannya  yang  jauh  serta politiknya yang, tepat sekali. Selanjutnya  membuktikan  pula, bahwa  ketika   ia   membuat Perjanjian  Hudaibiya itu ia telah meletakkan dasar yang kukuh sekali dalam kebijaksanaan politik dan penyebaran  Islam.  Dan inilah kemenangan yang nyata itu.

Dengan  adanya Pelianjian Hudaibiya ini segala hubungan antara Quraisy  dengan  Muhammad   telah   menjadi   tenang   sekali. Masing-masing  pihak  sudah merasa aman pula. Sekarang Quralsy semua mencurahkan perhatiannya pada perluasan  perdagangannya, dengan  harapan  kalau-kalau  semua  kerugian  yang dialaminya selama perang antara Muslimin dengan Quraisy itu dapat ditarik kembali;  demikian  juga  ketika  jalan  ke  Syam itu tertutup perdagangannya terancam akan mengalami kehancuran.

D.Nabi mengarahkan obyek da’wah ke seluruh umat manusia

Sebaliknya Muhammad, ia  mencurahkan  perhatiannya  pada  soal kelanjutan  menyampaikan ajarannya kepada seluruh umat manusia di segenap pelosok dunia. Pandangannya diarahkan dalam langkah mencapai  sukses  untuk  ketenteraman umat Muslimin di seluruh jazirah. Bidang itulah yang  dilakukannya  dengan  mengirimkan utusan-utusan kepada raja-raja pada beberapa negara, disamping mengosongkan orang-orang Yahudi  dari  seluruh  jazirah  Arab, yang semuanya itu selesai samasekali sesudah perang Khaibar.

Catatan kaki:

1 Asalnya badana atau badn, yaitu unta atau sapi yang di sembelih (A)

2 Sebuah desa enam atau tujuh mil jauhnya dari   Medinah, tempat pertemuan penduduk Medinah yang akan pergi haji.

3 Usfan, sebuah desa terletak antara Mekah dan Medinah, sekitar 60 km dari Mekah.

4 Kira’l-Ghamim sebuah wadi di depan ‘Usfan, sekitar 8  mil (± 12 km).

5 Ahabisy ialah perkampungan di pegunungan (sebuah  kabilah Arab ahli pelempar panah). Dinamakan demikian, karena warna kulit mereka yang hitam sekali, atau  karena sifatnya yang mengelompok, atau juga di hubungkan pada Hubsy, nama sebuah gunung di hilir Mekah (lihat juga halaman 311).

6 Nama lengkapnya Abu Bashir ‘Utba b. Usaid (atau b   Asid seperti dalam As-Sirat’n-Nabawiya oleh Ibn Hisyam, jilid tiga, p. 337) dari Thaqif, karena  keyakinan agamanya telah dipenjarakan oleh Quraisy di  Mekah. Kemudian ia melarikan diri menyusul Nabi ke Medinah (A).

Sumber: : S E J A R A H    H I D U P    M U H A M M A D

oleh MUHAMMAD HUSAIN HAEKAL diterjemahkan dari bahasa Arab oleh Ali Audah Penerbit PUSTAKA JAYA Jln. Kramat II, No. 31 A, Jakarta Pusat Cetakan Kelima, 1980

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: