MEMBANGUN KHAZANAH ILMU DAN PENDIDIKAN

Belajar itu adalah perobahan …….

Perjanjian Hudaibiyah bagian Kedua.

Posted by Bustamam Ismail on October 20, 2010

A. Anak Panah Rasul Memancarkan   Air.

Kemudian   dimintanya   orang-orang   itu  supaya  turun  dari kendaraan. Tetapi mereka berkata: “Rasulullah, kalaupun kita turun, di lembah ini tak ada air.” Mendengar itu Rasul mengeluarkan sebuah anak panah dari tabungnya lalu diberikannya kepada seseorang supaya dibawa turun kedalam salah sebuah sumur yang banyak tersebar di  tempat  itu.  Bila anakpanah  itu  ditancapkan  ke  dalam  pasir pada dasar sumur ketika  itu  airpun  memancar.  Orang  baru  merasa  puas  dan merekapun turun.

Mereka  turun  dari  kendaraan.  Akan  tetapi pihak Quraisy di Mekah  selalu  mengintai.  Lebih  baik  mereka  mati  daripada membiarkan   Muhammad  memasuki  wilayah  mereka dengan cara kekerasan sekalipun. Adakah agaknya mereka sudah  mengadakan persiapan  dan  perlengkapan  perang  guna menghadapi Quraisy, kemudian Tuhan yang akan menentukan nasib mereka masing-masing dan  Tuhan  juga  yang akan memutuskan persoalannya jika sudah mesti terjadi?!

Kearah inilah mereka sebagian berpikir  dan  pada  kemungkinan ini  pula pihak Quraisy itu berpikir. Sekiranya hal ini memang teriadi dan yang mendapat  kemenangan  pihak  Muslimin,  tentu tamatlah   riwayat   Quraisy   itu   di   mata   orang,  untuk selama-lainanya- Posisi Quraisy jadi  terancam  kalau  begitu, jabatan  menjaga  Ka’bah  dan mengurus air para pengunjung dan segala  macam  upacara  keagamaan  yang   dibanggakan   kepada masyarakat  Arab itu, akan hilang dari tangan mereka. Jadi apa yang harus mereka lakukan kalau  begitu?  Kedua  kelompok  itu masing-masing  sekarang  sedang memikirkan langkah berikutnya.

B.Tujuan Nabi dan kaum muslimin adalah Umroh tampa peperangan

Adapun Muhammad sendiri ia tetap berpegang pada  langkah  yang sudah digariskannya  sejak semula, mengadakan persiapan untuk ‘umrah, yaitu suatu langkah perdamaian dan menghindari  adanya pertempuran;  kecuali  jika  pihak  Quraisy  menyerangnya atau mengkhianatinya; tak ada  jalan  lain  iapun  harus  menghunus pedang.

Sebaliknya   Quraisy,   mereka  masih  maju-mundur.  Kemudian terpikir oleh mereka akan mengutus  beberapa  orang  terkemuka dari   kalangan   mereka;   dan   satu  segi  untuk  menjajagi kekuatannya dan dari segi lain untuk merintangi jangan  sampai masuk Mekah. Dalam hal ini yang datang menemuinya ialah Budail b.  Warqa’  dalam  suatu  rombongan  yang  terdiri  dari  suku Khuza’a.   Oleh   mereka   ditanyakan,   gerangan   apa   yang mendorongnya datang.  Setelah  dalam  pembicaraan  itu  mereka merasa  puas, bahwa ia datang bukan untuk berperang, melainkan hendak berziarah dan hendak memuliakan Rumah  Suci,  merekapun pulang  kembali  kepada  Quraisy. Mereka juga ingin meyakinkan Quraisy, supaya orang  itu  dan  sahabat-sahabatnya  dibiarkan saja  mengunjungi Rumah Suci. Akan tetapi mereka malah dituduh dan tidak  diterima baik  oleh  Quraisy.  Dikatakannya  kepada mereka: Kalau kedatangannya tidak menghendaki perang, pasti ia takkan masuk kemari secara paksa dan  kitapun  takkan  menjadi bahan pembicaraan orang.

Kemudian  Quraisy  mengutus  orang  lain yang sudah mengetahui keadaan mereka dari orang yang  sudah  diutus  sebelumnya.  Ia tidak   akan  serampangan  supaya  jangan  dituduh  pula  oleh Quraisy. Dalam maksudnya hendak memerangi Muhammad itu Quraisy banyak   menyandarkan  diri  kepada  sekutunya  dari  golongan Ahabisy5. Terpikir  oleh  Quraisy  pemimpin  mereka  ini  yang hendak   di  utus,  kalau-kalau  bila  sudah  diketahui  bahwa Muhammad  tidak  juga  mau  mengerti  dan  tidak  ada   saling

pengertian  dengan  dia  Quraisy  akan  merasa  lebih mendapat dukungan dan akan lebih kuat mereka menghadapi Muhammad. Untuk itu  maka  berangkatlah  Hulais pemimpin Ahabisy itu menuju ke perkemahan Muslimin.

Tatkala Nabi melihatnya ia datang,  dimintanya  supaya  ternak kurban  itu  dilepaskan  didepan matanya, supaya dapat melihat dengan mata kepala  sendiri  adanya  suatu  bukti  yang  sudah jelas,  bahwa  orang-orang  yang oleh Quraisy hendak diperangi itu tidak lain adalah orang-orang yang datang hendak berziarah ke  Rumah Suci. Hulais dapat menyaksikan sendiri adanya ternak kurban yang tujuhpuluh ekor itu,  mengalir  dari  tengah  wadi dengan  bulu  yang  sudah  rontok.  Terharu  sekali ia melihat pemandangan itu. Dalam hatinya timbul  rasa  keagamaannya.  Ia yakin  bahwa dalam hal ini pihak Quraisylah yang berlaku kejam terhadap  mereka,  yang  datang  bukan  ingin  berperang  atau mencari permusuhan.

Sekarang ia kembali  kepada  Quraisy  tanpa menemui Muhammad lagi. Diceritakannya kepada mereka apa yang telah  dilihatnya. Tetapi begitu mendengar ceritanya itu, Quraisy naik pitam.

Duduklah,”  kata mereka kepada Hulais. “Engkau ini Arab badui yang tidak tahu apa-apa.”

Mendengar itu Hulais  juga  jadi  marah.  Diingatkannya  bahwa persekutuannya dengan Quraisy itu bukan untuk merintangi orang dari Rumah Suci, siapa saja yang datang berziarah,  dan  tidak semestinya  mereka  akan  mencegah Muhammad dan beberapa orang Ahabisy yang datang dengan dia ke  Mekah.  Takut  akan  akibat kemarahannya  itu,  Quraisy  mencoba  membujuknya  kembali dan memintanya supaya menunda sampai dapat mereka  pikirkan  lebih lanjut.

Kemudian  terpikir  oleh  mereka  hendak  mengutus  orang yang bijaksana dan dapat mereka yakinkan kebijaksanaannya. Hal  ini mereka   bicarakan   kepada   ‘Urwa  ibn  Mas’ud  ath-Thaqafi. Menanggapi pendapatnya mengenai sikap mereka  yang  keras  dan memperlakukan   tidak   layak   terhadap  kepada  utusan  yang sebelumnya, mereka meminta maaf kepada ‘Urwa.  Setelah  mereka minta  maaf  dan  sekaligus  menegaskan  bahwa  mereka  sangat menaruh  kepercayaan   kepadanya   dan   yakin   sekali   akan kebijaksanaan  dan  pandangannya  yang  baik, ia pun berangkat menemui Muhammad  dan  dikatakannya  bahwa  Mekah  juga  tanah tumpah  darahnya  yang  harus  dipertahankan. Kalau ini sampai dirusak, yang akan diderita  oleh  penduduk  yang  tinggal  di tempat  itu, yang terdiri dari rakyat jelata yang campur-aduk, kemudian dia ditinggalkan oleh rakyat jelata  itu,  maka  yang akan  mengalami  kecemaran  yang  cukup  parah adalah Quraisy, suatu hal yang oleh Muhammad juga tidak diinginkan,  sekalipun antara dia dengan Quraisy terjadi perang terbuka.

Ketika  itu  Abu  Bakr  berkata  kepada ‘Urwa dengan membantah keras,  bahwa  orang  akan  meninggalkan  Rasullullah.   ‘Urwa mengajaknya berbicara sambil memegang janggut Muhammad. Sedang Mughira bin Syu’ba yang berdiri di arah kepala  Rasul  memukul tangan  ‘Urwa  setiap ia memegang janggut Muhammad meskipun ia sadar bahwa sebelum ia masuk Islam,  ‘Urwa  pernah  menebuskan tigabelas  diat  atas  beberapa  orang yang telah dibunuh oleh Mughira.

Sekarang ‘Urwa pulang kembali setelah ia  mendapat  keterangan dari  Muhammad  sama seperti yang juga diberikan kepada mereka yang  datang  sebelumnya,  bahwa  kedatangannya  bukan  hendak berperang,   melainkan   hendak   mengagungkan   Rumah   Suci, menunaikan kewajiban kepada Tuhan.  “Saudara-saudara,” katanya  setelah  ia  berada  kembali   di tengah-tengah  masyarakat  Quraisy. “Saya sudah pernah bertemu dengan Kisra, dengan  Kaisar  dan  dengan  Negus  di  kerajaan mereka masing-masing. Tetapi belum pernah saya melihat seorang raja    dengan    rakyatnya    seperti     Muhammad     dengan sahabat-sahabatnya  itu.  Begitu  ia  hendak  mengambil  wudu, sahabat-sahabatnya sudah lebih dulu  bergegas.  Begitu  mereka melihat  ada  rambutnya  yang  jatuh,  cepat-cepat pula mereka mengambilnya. Mereka takkan menyerahkannya bagaimanapun  juga. Pikirkanlah kembali baik-baik.”

Pembicaraan  seperti  yang  kita  kemukakan  itu berjalan lama juga. Terpikir oleh Muhammad,  mungkin  utusan-utusan  Quraisy itu  tidak  berani  menyampaikan  pendapatnya  yang akan dapat meyakinkan pihak Quraisy. Oleh karena  itu  dari  pihaknya  ia lalu  mengutus orang menyampaikan pendapatnya itu. Akan tetapi disini unta utusan itu oleh mereka ditikam. Bahkan utusan  itu hendak  mereka bunuh kalau tidak pihak Ahabisy segera mencegah dan utusan  itu  dilepaskan.  Ini  menunjukkan,  bahwa  dengan tingkah-lakunya  itu  pihak  Mekah  memang sudah dikuasai oleh jiwa kebencian dan permusuhan,  yang  membuat  pihak  Muslimin gelisah  tidak  sabar lagi, sampai-sampai ada diantaranya yang sudah berpikir sampai ke soal perang.

Sementara mereka sedang berusaha hendak  mencapai  persetujuan dengan  jalan saling tukar-menukar utusan, beberapa orang yang tidak bertanggungjawab dari pihak Quraisy  malam-malam  keluar dan mereka ini melempari kemah Nabi dengan batu. Jumlah mereka ini pada suatu ketika sampai empatpuluh atau limapuluh  orang, dengan  maksud  hendak  menyerang sahabat-sahabat Nabi. Tetapi mereka ini tertangkap basah lalu di bawa kepada Nabi.  Tahukah kita  apa  yang  dilakukannya?  Mereka itu dimaafkan semua dan dilepaskan, sebagai suatu tanda ia ingin menempuh jalan  damai serta  ingin  menghormati  bulan  suci, jangan ada pertumpahan darah di Hudaibiya, yang  juga  termasuk  daerah  suci  Mekah.

Mengetahui hal ini pihak Quraisy terkejut sekali. Segala bukti yang hendak  dituduhkan  bahwa  Muhammad  bermaksud  memerangi mereka,  jadi  gugur samasekali. Mereka yakin kini bahwa semua tindakan permusuhan dari pihak mereka terhadap Muhammad,  oleh pihak  Arab  hanya  akan dipandang sebagai suatu pengkhianatan kotor saja. Jadi berhak sekalilah Muhammad mempertahankan diri dengan segala kekuatan yang ada.

Kemudian   Nabi  ‘alaihissalam  sekali  lagi  berusaha  hendak menguji kesabaran Quraisy dengan mengirimkan seorang  utusan yang   akan   mengadakan   perundingan   dengan  mereka.  Umar bin’l-Khattab dipanggil dan  dimintainya  menyampaikan  maksud kedatangannya itu kepada pemuka-pemuka Quraisy.

Rasulullah,” kata Umar. “Saya kuatir Quraisy akan mengadakan tindakan terhadap saya, mengingat di  Mekah  tidak  ada  pihak Banu  ‘Adi  b.  Ka’b  yang akan melindungi saya. Quraisy sudah cukup mengetahui bagaimana permusuhan saya dan tindakan  tegas saya  terhadap mereka. Saya ingin menyarankan orang yang lebih baik dalam hal ini daripada saya yaitu Usman b. ‘Affan.”

Nabipun segera memanggil  Usman  b.  ‘Affan  -menantunya-  dan diutusnya kepada Abu Sufyan dan pemuka-pemuka Quraisy lainnya. Bila Usman berangkat membawa pesan itu, ketika memasuki  Mekah terlebih   dulu   ia  menemui  Aban  b.  Sa’id  yang  kemudian memberikan jiwar (perlindungan)  selama  ia  bertugas  membawa tugas  itu sampai selesainya. Sekarang Usman berangkat menemui pemimpin-pemimpin  Quraisy  itu  dan  menyampaikan   pesannya.

Tetapi kata mereka kepadanya: “Usman, kalau engkau mau bertawaf di Ka’bah, bertawaflah.” “Saya  tidak  akan melakukan ini sebelum Rasulullah bertawaf,” jawab Usman. “Kedatangan kami kemari hanya akan  berziarah  ke Rumah   Suci,   akan   memuliakannya,  kami  ingin  menunaikan kewajiban ibadah di tempat  ini.  Kami  telah  datang  membawa binatang  korban,  setelah  disembelih  kamipun  akan  kembali pulang dengan aman.” Quraisy menjawab,  bahwa  mereka  sudah  bersumpah  tahun  ini Muhammad tidak boleh masuk Mekah dengan kekerasan. Pembicaraan itu jadi lama, dan lama pula Usman menghilang  dari  Muslimin.

Desas-desus  segera  timbul  di  kalangan  mereka  bahwa pihak Quraisy   telah   membunuhnya   secara   gelap   dan    dengan tipu-muslihat.  Boleh  jadi  sementara  itu  pemimpin-pemimpin Quraisy dan Usman sedang sama-sama mencari suatu rumusan jalan tengah  antara  sumpah mereka supaya Muhammad jangan datang ke

Mekah tahun  ini  dengan  kekerasan,  dengan  keinginan  pihak Muslimin   yang  akan  bertawaf  di  Ka’bah  serta  menunaikan kewajiban kepada Tuhan. Boleh jadi  juga  mereka  sudah  akrab kepada Usman dan dalam pada itu mereka sama-sama mencari suatu cara yang akan mengatur hubungan mereka  dengan  Muhammad  dan hubungan Muhammad dengan mereka.

Akan  tetapi  bagaimanapun  juga  pihak  Muslimin di Hudaibiya sudah gelisah sekali memikirkan keadaan Usman. Terbayang  oleh mereka  kelicikan Quraisy serta tindakan mereka membunuh Usman dalam bulan suci. Semua agama  orang  Arab  tidak  membenarkan seorang  musuh  membunuh  musuhnya yang lain di sekitar Ka’bah atau di sekitar Mekah yang suci. Terbayang  pula  oleh  mereka kelicikan  Quraisy  itu terhadap orang yang datang mengunjungi mereka membawa pesan perdamaian dan  tidak  saling  menyerang. Oleh  karena  itu mereka lalu meletakkan tangan mereka di atas empu  pedang  masing-masing,  suatu  tanda  mengancam,   tanda kekerasan  dan  kemarahan. Juga Nabi ‘a.s, sudah merasa kuatir bahwa Quraisy telah  mengkhianati  dan  membunuh  Usman  dalam bulan suci itu. Lalu katanya:

Kita  tidak  akan  meninggalkan tempat ini sebelum kita dapat menghadapi mereka.”

Dipanggilnya sahabat-sahabatnya sambil ia  berdiri  di  bawah sebatang   pohon  dalam  lembah  itu.  Mereka  semua  berikrar (berjanji setia) kepadanya untuk tidak  akan  beranjak  sampai mati  sekalipun.  Mereka  semua berikrar kepadanya dengan iman yang teguh, dengan kemauan yang keras. Semangat  mereka  sudah berkobar-kobar    hendak    mengadakan   pembalasan   terhadap pengkhianatan dan  pembunuhan  itu.  Mereka  menyatakan  ikrar kepadanya (yang kemudian dikenal dengan nama) Bai’at’r Ridzwan (Ikrar Ridzwan). Untuk itulah firman Tuhan ini turun:

Allah sudah rela sekali terhadap orang-orang beriman  tatkala mereka   berikrar   kepadamu   di  bawah  pohon.  Tuhan  telah mengetahui isi hati mereka, lalu di turunkanNya kepada  mereka rasa  ketenangan  dan memberi balasan kemenangan kepada mereka dalam waktu dekat ini.” (Qur’an, 48: 18)

Selesai Muslimin mengadakan ikrar itu  Nabi  ‘Saw.  Menepukkan sebelah  tangannya  pada yang sebelah lagi sebagai tanda ikrar buat Usman seolah ia juga turut hadir dalam Ikrar Ridzwan itu.

Dengan  ikrar  ini  pedang-pedang  yang  masih  tersalut dalam sarungnya itu  seolah  sudah  turut  guncang.  Tampaknya  bagi Muslimin  perang itu pasti pecah. Masing-masing mereka tinggal menunggu saat kemenangan atau gugur sebagai syahid dengan rela hati.

Sementara  mereka  dalam  keadaan serupa itu tiba-tiba tersiar pula  berita  bahwa  Usman  tidak  terbunuh.  Dan  tidak  lama kemudian  disusul  pula  dengan  kedatangan  Usman  sendiri ke tengah-tengah mereka  itu.  Tetapi,  sungguhpun  begitu  Ikrar Ridzwan  ini tetap berlaku, seperti halnya dengan Ikrar ‘Aqaba Kedua, sebagai tanda dalam sejarah umat  Islam.  Nabi  sendiri senang   sekali  menyebutnya,  sebab  disini  terlihat  adanya pertalian yang erat  sekali    antara    dia    dengan sahabat-sahabatnya,    juga memperlihatkan betapa  benar keberanian mereka itu, bersedia terjun menghadapi maut,  tanpa takut-takut lagi. Barangsiapa berani menghadapi maut, maut itu takut  kepadanya.  Dia  malah  akan   hidup   dan   memperoleh kemenangan.

Usman  kembali.  Apa  yang  di  katakan Quraisy disampaikannya kepada Muhammad.  Mereka  sudah  tidak  ragu-ragu  lagi  bahwa kedatangannya   dengan   sahabat-sahabatnya   itu  hanya  akan menunaikan ibadah haji. Mereka  juga  menyadari  bahwa  mereka tidak  melarang siapa saja dari kalangan Arab yang akan datang berziarah dan melakukan umrah dalam bulan-bulan suci itu. Akan tetapi mereka sudah lebih dulu berangkat di bawah panji Khalid bin’l-Walid dengan tujuan akan memerangi dan mencegahnya masuk ke  Mekah.  Dan  memang  sudah  terjadi  benterokan-benterokan

antara anak buah  mereka  dengan  anak  buah  Muhammad.  Kalau sesudah  peristiwa  itu  mereka  membiarkannya masuk ke Mekah, kalangan Arab akan bicara bahwa mereka  sudah  kalah  menyerah kepadanya.  Kedudukan dan kewibawaan mereka di mata orang Arab itu akan jatuh. Oleh karena  itu  dengan  maksud  menjaga kewibawaan  dan kedudukan mereka, untuk tahun ini mereka tetap bertahan pada pendirian dan sikap mereka itu. Baiklah ia  juga memikirkan  seperti  mereka.  Dia  dan mereka, dengan sikapnya masing-masing. Begini ini pendiriannya dan begitu jalan keluar dari pendirian dan sikap masing-masing itu. Sebab kalau tidak, mau tidak mau tentu hanya jalan perang  yang  dapat  ditempuh.

Tetapi  sebenarnya  dalam  bulan-bulan  suci mereka tidak mau; dari satu segi mereka menghormati  kesucian  agama,  dan  dari segi  lain,  bila  bulan suci ini sekarang tidak dihormati dan terjadi peperangan, maka untuk hari depan orang-orang Arab itu sudah  merasa  tidak aman lagi datang ke Mekah atau ke pasaran kota itu, sebab kuatir bulan-bulan  suci  itu  akan  dilanggar lagi.  Ini suatu perkosaan terhadap perdagangan Mekah dan mata pencarian penduduk kota itu.

Pembicaraan diteruskan. Perundingan-perundingan  antara  kedua belah  pihak sudah dimulai lagi. Pihak Quraisy mengutus Suhail b. ‘Amr dengan pesan:

“Datangilah Muhammad dan adakan persetujuan dengan dia.  Dalam persetujuan itu untuk tahun ini ia harus pulang. Jangan sampai ada  kalangan  Arab  mengatakan,  bahwa  dia telah  berhasil memasuki tempat ini dengan kekerasan.”

Sesampainya Suhail ke tempat Rasul, perundingan perdamaian dan syarat-syaratnya secara panjang lebar segera pula dibicarakan. Sekali-sekali  pembicaraan  itu  hampir  saja  terputus,  yang kemudian dilanjutkan lagi, mengingat bahwa kedua  belah  pihak

sama-sama  ingin  mencapai hasil. Pihak Muslimin di sekeliling Nabi juga turut mendengarkan pembicaraan- itu.

Ada beberapa orang dari mereka ini yang sudah tidak sabar lagi melihat  Suhail  yang  begitu  ketat  dalam  beberapa masalah, sedang Nabi menerimanya dengan cukup  memberikan  kelonggaran. Kalau  tidak  karena  kepercayaan  Muslimin yang mutlak kepada Nabi, kalau tidak karena iman  mereka  yang  teguh  kepadanya, niscaya  hasil  persetujuan itu tidak akan mereka terima. Akan mereka hadapi dengan perang supaya dapat masuk ke  Mekah  atau sebaliknya.

Sampai  pada  akhir  perundingan  itu Umar bin’l-Khattab pergi menemui Abu Bakr dan terjadi percakapan berikut ini:

Umar: “Abu Bakr, bukankah dia Rasulullah?”

Abu Bakr: “Ya, memang!”

Umar: “Bukankah kita ini Muslimin?”

Abu Bakr: “Ya, memang!”

Umar: “Kenapa kita mau direndahkan dalam soal agama kita?”

Abu Bakr: “Umar, duduklah di tempatmu. Aku bersaksi, bahwa dia Rasulullah.”

Setelah   itu   Umar   kembali  menemui  Muhammad.  Diulangnya pembicaraan itu kepada  Muhammad  dengan  perasaan  geram  dan kesal.  Tetapi  hal ini tidak mengubah kesabaran dan keteguhan hati  Nabi.  Paling  banyak  yang  dikatakannya   pada   akhir pembicaraannya dengan Umar itu ialah: “Saya   hamba   Allah  dan  RasulNya.  Saya  takkan  melanggar perintahNya, dan Dia tidak akan menyesatkan saya.”

 

Sumber: S E J A R A H    H I D U P    M U H A M M A D

oleh MUHAMMAD HUSAIN HAEKAL diterjemahkan dari bahasa Arab oleh Ali Audah

Penerbit PUSTAKA JAYA Jln. Kramat II, No. 31 A, Jakarta Pusat Cetakan Kelima, 1980

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: