MEMBANGUN KHAZANAH ILMU DAN PENDIDIKAN

Belajar itu adalah perobahan …….

Perjanjian Hudaibiyah bagian Pertama

Posted by Bustamam Ismail on October 17, 2010

ENAM tahun lamanya sudah  sejak  Nabi  dan  sahabat-sahabatnya hijrah  dari  Mekah ke Medinah. Seperti kita lihat, selama itu mereka terus-menerus bekerja keras,  terus-menerus dihadapkan kepada peperangan,  kadang  dengan  pihak Quraisy, adakalanya pula  dengan  pihak  Yahudi.  sementara  itu  Islampun   makin tersebar luas, makin kuat dan ampuh pula

Sejak  tahun pertama Hijrah, Muhammad sudah mengubah kiblatnya dari al-Masjid’l-Aqsha  ke  al-Masjid’l-Haram.  Sekarang  kaum Muslimin menghadap ke Baitullah yang di bangun oleh Ibrahim di Mekah, dan yang kemudian bangunan itu dibaharui  lagi  tatkala Muhammad  masih muda belia. Waktu itu ia juga turut mengangkat batu hitam ketempatnya di  ujung  dinding  bangunan  itu.  Tak terlintas  dalam  pikirannya  atau dalam pikiran siapapun juga waktu itu, bahwa Tuhan akan menurunkan risalah kepadanya.

Sejak ratusan tahun yang lalu, al-Masjid’l-Haram  ini  (Mesjid Suci)   sudah  menjadi  arah tujuan orang-orang  Arab  dalam melakukan ibadat. Dalam bulan-bulan suci setiap  tahun  mereka datang  ke  tempat  itu.  Setiap orang yang datang keamanannya terjamin. Apabila orang bertemu dengan musuh yang paling keras sekalipun,  di  tempat  ini ia tak dapat menghunus pedang atau mengadakan pertumpahan darah. Akan tetapi sejak  Muhammad  dan kaum  Muslimin  sudah  hijrah,  pihak  Quraisy telah mengambil tanggung jawab dengan melarang  mereka  memasuki  Mesjid  Suci itu,   melarang   mereka  mendekatinya  diluar  golongan  Arab lainnya. Dalam hal ini firman Tuhan turun  pada  tahun  Hijrah pertama itu:

Mereka   bertanya   kepadamu  tentang  bulan  suci:  bolehkah berperang? Katakanlah: Berperang dalam bulan  itu  suatu  dosa besar.  Tetapi  merintangi  orang  dari jalan Allah dan ingkar kepadaNya, merintangi  orang  memasuki  Masjid   Suci   serta mengusir  penduduk  dari  sekitar tempat itu, lebih besar lagi dosanya disisi Allah.” (Qur’an, 2:217)

Dan sesudah perang Badr juga firman Tuhan ini datang: “Dan kenapa Allah tidak akan menyiksa  mereka  padahal  mereka merintangi  orang  memasuki  Mesjid  Suci,sedang mereka bukan penanggungjawabnya. Mereka yang  bertanggung jawab  mengurusnya sebenarnya  ialah  orang-orang  yang  bertakwa.  Tetapi mereka kebanyakan tidak mengetahui. Dan sembahyang mereka di  sekitar Rumah  Suci  itu tidak lain hanya bersiul dan bertepuk tangan. Oleh  karena  itu  rasakan  siksaan   yang   disebabkan   oleh kekafiranmu  itu.  Orang-orang  kafir  itu  mengeluarkan harta mereka guna melarang orang dari jalan Allah; maka mereka masih akan  mengeluarkan  harta mereka. Sesudah itu mereka menyesal, lalu  mereka  kalah.  Dan  orang-orang  yang  kafir  itu  akan dikumpulkan di dalam neraka” (Qur’an, 8:34-36)

Selama   enam   tahun   itu   banyak  sekali  ayat-ayat  turun berturut-turut  mengenai  Mesjid  Suci  itu  yang  oleh  Tuhan dijadikan  tempat manusia berkumpul dan tempat yang aman. Akan tetapi pihak   Quraisy     menganggap     Muhammad     dan pengikut-pengikutnya  telah  mengingkari dewa-dewa dalam Rumah Suci itu: Hubal, Isaf, Na’ila dan berhala-berhala  yang  lain. Oleh   karena   itu   memerangi  dan  melarang  mereka  datang berkunjung ke Ka’bah  adalah  suatu  kewajiban  buat  Quraisy, kalau    mereka    tidak    mau   kembali   kepada   dewa-dewa nenek-moyangnya.

Sementara itu kaum Muslimin merasa menderita karena tak  dapat melakukan  tugas  agama  yang  sudah menjadi kewajiban mereka, juga  sudah  menjadi  kewajiban  nenek-moyang  mereka  dahulu.

Disamping  itu kaum Muhajirin sendiripun sudah merasa tersiksa dan merasa tertekan  –  tersiksa  dalam  pembuangan,  tertekan karena  kehilangan  tanah  air dan keluarga. Hanya saja mereka itu semua yakin akan adanya pertolongan Tuhan kepada Rasul dan kepada mereka serta mengangkat taraf agama mereka diatas agama lain. Mereka percaya sekali, bahwa tak lama  lagi  pasti akan datang  waktunya  Tuhan  membukakan pintu Mekah kepada mereka, dan  mereka  akan  bertawaf  di  Rumah  Purba  (Ka’bah)   itu, menunaikan   kewajiban  agama  yang  diwajibkan  Tuhan  kepada seluruh umat manusia. Kalau selama itu, tahun demi tahun  yang terjadi  hanya  peperangan,  dari  perang  Badr  ke Uhud, lalu Khandaq,  kemudian       peperangan-peperangan  dan kesibukan-kesibukan lain, maka hari yang mereka harap-harapkan itu kini pasti akan tiba. Mereka sangat merindukan  hari  yang diharap-harapkan  itu.  Tidak  kurang  pula  Muhammad  seperti mereka, sangat merindukannya dan yakin sekali,  bahwa  saatnya sudah dekat!

Dengan  melarang  mengadakan  ziarah ke Mekah serta menunaikan kewajiban   berhaji   dan   menjalankan   umrah,    sebenarnya orang-orang   Quraisy   sudah   melakukan  kekejaman  terhadap Muhammad dan  sahabat-sahabatnya.  Rumah  Purba  ini  bukanlah milik  Quraisy,  melainkan  milik semua orang Arab. Hanya saja orang-orang  Quraisy  itu  berkewajiban  menjaga  Ka’bah   dan mengurus  air buat para pengunjung, yakni yang meliputi segala macam    kepengurusan    Rumah    Suci    dan     pemeliharaan pengunjung-pengunjungnya. Tujuan sesuatu kabilah itu satu sama lain dengan menyembah  berhala  tidaklah  berarti  membenarkan tindakan  Quraisy  melarang  orang  berziarah  dan bertawaf di Ka’bah serta melakukan segala upacara dan penyembahan berhala.

Muhammad  datang  mengajak  orang menjauhi penyembahan berhala dan membersihkan diri dari segala noda paganisma  dan  syirik. Ia  mengajak  orang  ke  tingkat jiwa yang lebih tinggi, yakni menyembah hanya kepada Allah Yang Tunggal dan tidak bersekutu. Ia akan menempatkannya di atas segala kekurangan, akan membawa kehidupan rohani ke tempat yang dapat menangkap arti  kesatuan alam  serta keesaan Tuhan. Jadi oleh karena menjalankan ibadah haji dan umrah itu merupakan salah satu kewajiban agama,  maka melarang  penganut-penganut agama baru ini melakukan kewajiban agamanya berarti suatu tindakan permusuhan.

Akan tetapi apabila Muhammad  kemudian  datang  juga  disertai orang-orang   yang  sudah  beriman  kepada  Allah  dan  kepada ajarannya, yang sebenarnya mereka  ini  penduduk  asli  Mekah, maka  orang-orang  Quraisy  itu  kuatir rakyat jelata di Mekah akan menggabungkan  diri  kepadanya  lalu  merasa  pula  bahwa memisahkan  mereka  dari sanak keluarga, adalah suatu tindakan kekejaman. Dengan demikian ini akan merupakan benih yang dapat mencetuskan perang saudara.

Disamping  itu  pemimpin-pemimpin  Quraisy  dan  pemuka-pemuka Mekah tidak pula melupakan Muhammad dan pengikutnya yang telah menghancurkan perdagangan mereka, merintangi jalan mereka yang sudah rata itu ke Syam. Oleh karenanya dalam jiwa mereka sudah tertanam  rasa  dendam  dan  permusuhan;  padahal  sudah cukup diketahui, bahwa  Rumah  itu  kepunyaan  Allah  dan  kepunyaan seluruh  masyarakat  Arab, dan bahwa kewajiban mereka hanyalah menjaganya dan memelihara orang-orang yang sedang berziarah.

Telah lampau enam tahun  sejak  hijrah,  kaum  Muslimin  sudah gelisah  sekali  karena  rindu  ingin  berziarah ke Ka’bah dan ingin menunaikan ibadah haji dan umrah. Pada suatu pagi bila mereka sedang berkumpul   di   mesjid,   tiba-tiba   Nabi memberitahukan kepada mereka bahwa  ia  telah  mendapat  ilham dalam  mimpi  hakiki,  bahwa  insya Allah mereka akan memasuki Mesjid Suci dengan aman tenteram, dengan kepala  dicukur  atau digunting tanpa akan merasa takut.

Begitu  mereka mendengar berita mengenai mimpi Rasulullah itu, serentak mereka mengucap; Alhamdulillah. Secepat kilat  berita ini   telah   tersebar  ke  seluruh  penjuru  Medinah.  Tetapi bagaimana caranya memasuki Masjid Suci itu? Dengan  perangkah?

Ataukah  orang-orang  Quraisy  secara paksa harus dikosongkan? Atau barangkali  Quraisy  dengan  tunduk  menyerah  membukakan jalan?

Tidak.  Tak  ada  pertempuran, tak ada perang. Bahkan Muhammad mengumumkan kepada orang ramai supaya pergi menunaikan  ibadah haji  dalam bulan Zulhijah yang suci. Dikirimnya utusan-utusan kepada  kabilah-kabilah  yang  bukan  dari   pihak   Muslimin, dianjurkannya  mereka supaya ikut bersama-sama pergi berangkat ke Baitullah, dengan aman, tanpa ada pertempuran.  Dalam  pada itu  yang  diinginkan  sekali  oleh Muhammad ialah supaya kaum Muslimin  dapat  berangkat  sebanyak  mungkin.   Maksud   baik daripada  ini  ialah  supaya semua orang Arab mengetahui bahwa kepergiannya dalam bulan suci  itu  hendak  menunaikan  ibadah haji,  bukan akan berperang. Ia hanya ingin melaksanakan suatu kewajiban  dalam  hukum  Islam,  yang  juga  diwajibkan  dalam agama-agama  orang  Arab  sebelum  itu.  Untuk  itu  diajaknya orang-orang Arab yang tidak se-agama itu agar  juga  melakukan kewajiban  tersebut. Sesudah semua itu, kalaupun Quraisy masih juga bersikeras hendak memeranginya dalam bulan  suci,  hendak melarang  orang  Arab  akan apa yang sudah menjadi kepercayaan sekalipun berlain-lainan, maka  takkan  ada  orang-orang  Arab yang  mau  mendukung  sikap  Quraisy atau akan membantu mereka melawan kaum Muslimin. Dengan sikap keras  itu  mereka  hendak membendung  orang  pergi  ke  Mesjid  Suci, hendak membelokkan orang dari agama  Ismail.  dan  dari  agama  Ibrahim,  leluhur mereka. Oleh   karena  itu  pihak  Muslimin  merasa  aman  juga  kalau orang-orang Arab itu dapat menggabungkan diri seperti golongan Ahzab  dulu. Agamanya akan lebih terpandang dimata orang-orang Arab yang belum beriman itu.  Apa  pula  yang  akan  dikatakan Quraisy  kepada  mereka  yang  datang ke tanah suci itu, tanpa membawa senjata kecuali pedang  yarig  disarungkan,  didahului oleh  binatang kurban yang hendak mereka sembelih. Buat mereka tak ada urusan lain daripada hanya akan menunaikan tugas agama dengan  bertawaf  di  Baitullah,  yang  juga menjadi kewajiban semua masyarakat Arab itu.

Muhammad  mengumumkan  kepada  semua  orang  supaya  berangkat menunaikan   ibadah   haji.  Kepada  kabilah-kabilah  di  luar Muslimin juga dimintanya berangkat bersama-sama. Tetapi banyak juga  dari  mereka  itu  yang masih menunda-nunda. Dalam bulan Zulkaedah sebagai salah satu bulan suci, ia  berangkat  dengan rombongan  dari  kaum  Muhajirin  dan  Anshar,  serta beberapa kabilah Arab yang mau menggabungkan diri, didahului  di  depan oleh  untanya,  Al-Qashwa. Jumlah mereka yang berangkat ketika itu  sebanyak  seribu empatratus  orang.   Muhammad   membawa binatang  kurban  terdiri  dari  tujuhpuluh ekor unta1, dengan mengenakan  pakaian  ihram,   dengan   maksud   supaya   orang mengetahui,  bahwa  ia  datang  bukan mau berperang, melainkan khusus hendak berziarah dan mengagungkan Baitullah.

Bilamana  rombongan  sudah  sampai  di  Dzu’l-Hulaifa2 mereka menyiapkan kurban dan mengucapkan talbiah. Binatang kurban itu dilepaskan dan disebelah kanan masing-masing hewan itu  diberi tanda,  di  antaranya  terdapat unta Abu Jahl yang kena rampas dalam perang Badr. Tiada seorang juga dari rombongan haji  itu yang membawa senjata selain pedang tersarung yang biasa dibawa orang dalam perjalanan. Isteri  Nabi  yang  ikut  serta  dalam perjalanan ini ialah Umm Salama.

Berita   tentang   Muhammad   dan  rombongannya  serta  tujuan kepergiannya hendak menunaikan ibadah haji  itu  sudah  sampai juga kepada Quraisy. Akan tetapi dalam hati mereka timbul rasa kuatir.  Masalahnya  buat  mereka  adalah  sebaliknya.  Mereka menduga  kedatangannya hanya sebagai suatu tipu muslihat saja. Dengan begitu Muhammad mau menipu supaya dapat memasuki Mekah, karena  mereka  dan  golongan  Ahzab pernah pula terlarang tak dapat memasuki Medinah. Apa yang mereka ketahui tentang  lawan mereka  yang  hendak  memasuki  Tanah Suci melakukan Umrah itu serta apa  yang  sudah  diumumkan  di  seluruh  jazirah  bahwa sebenarnya  mereka  hanya  didorong oleh rasa keagamaan hendak menunaikan kewajiban yang sudah juga diakui oleh seluruh orang Arab,  tidak  akan  dapat  mengubah  keputusan  Quraisy hendak mencegah  Muhammad  memasuki  Mekah;   betapa pun besarnya pengorbanan   yang  harus  mereka  lakukan  guna  melaksanakan keputusan mereka itu.

Oleh karena itu sebuah pasukan tentara yang barisan berkudanya saja  terdiri  dari 200 orang, oleh Quraisy segera di kerahkan dan pimpinannya di  serahkan  kepada  Khalid  bin’l-Walid  dan ‘Ikrima  bin  Abi Jahl. Pasukan ini maju ke depan supaya dapat merintangi Muhammad masuk Ibukota (Mekah). Mereka  maju  terus sampai dapat bermarkas di Dhu Tuwa.

Sebaliknya  Muhammad  ia meneruskan perjalanannya. Sesampainya di ‘Usfan3 ia bertemu dengan seseorang dari  suku  Banu  Ka’b. Nabi menanyakan kalau-kalau orang itu mengetahui berita-berita sekitar Quraisy.

“Mereka  sudah  mendengar  tentang   perjalanan   tuan   ini,” jawabnya.  “Lalu  mereka  berangkat  dengan mengenakan pakaian kulit harimau. Mereka berhenti di Dhu Tuwa dan sudah bersumpah bahwa tempat itu sama-sekali tidak boleh tuan masuki. Sekarang Khalid bin’l-Walid dengan pasukan berkudanya sudah maju  terus ke Kira’l-Ghamim.”4

“O,  kasihan  Quraisy!”  kata  Muhammad.  “Mereka sudah lumpuh karena peperangan. Apa salahnya kalau mereka  membiarkan  saja saya  dengan  orang-orang  Arab yang lain itu. Kalaupun mereka sampai membinasakan saya, itulah  yang  mereka  harapkan,  dan kalau  Tuhan memberi kemenangan kepada saya, mereka akan masuk Islam secara beramai-ramai. Tetapi jika  itupun  belum  mereka lakukan,  mereka  pasti akan berperang, sebab mereka mempunyai kekuatan. Quraisy mengira apa. Saya akan terus berjuang,  demi Allah,  atas  dasar  yang  diutuskan  Allah kepada saya sampai nanti Allah memberikan kemenangan atau sampai leher ini  putus terpenggal.”

Kemudian  ia  berfikir,  apa  gerangan yang akan diperbuatnya. Keberangkatannya dari Medinah bukan  akan  berperang.  Ia  mau memasuki  Tanah  Suci  hanya hendak berziarah ke Baitullah, ia hendak menunaikan kewajiban kepada Tuhan. Ia tidak mengadakan persiapan perang. Boleh jadi juga kalaupun dia   berperang   dan   dikalahkan,  hal  ini  akan  dijadikan kebanggaan oleh Quraisy. Atau barangkali  Khalid  dan  ‘Ikrima itu  disuruh dengan tujuan sengaja hendak mencapai maksud itu, setelah diketahui  bahwa  ia  berangkat  bukan  dengan  maksud hendak berperang?

Sementara  Muhammad  sedang berpikir-pikir itu pasukan Quraisy sudah tampak sejauh mata memandang. Tampaknya  sudah  tak  ada jalan  lagi  buat Muslimin akan dapat mencapai tujuan, kecuali jika  mau  menerobos  barisan  itu.  Dan  jika   pun   terjadi pertempuran  pihak  Quraisy akan mempertahankan kehormatan dan tanah airnya. Suatu pertempuran  yang  memang  tidak  diingini oleh  Muhammad.  Akan  tetapi  Quraisy  hendak memaksanya juga supaya ia  bertempur  dan  supaya  melibatkan  diri  ke  dalam peperangan.

Sungguhpun begitu pihak Muslimimpun tidak kurang pula semangat pertahanannya. Adakalanya dengan pedang  terhunus  saja  sudah cukup  buat  mereka  menangkis  serangan  musuh. Tetapi dengan demikian tujuannya jadi hilang, dan akan dipakai  alasan  oleh Quraisy  di  kalangan orang-orang Arab yang lain. Pandangannya lebih jauh dari itu, siasatnya lebih dalam dan lebih matang  É Jadi, dia menyerukan kepada orang banyak itu sambil katanya:

Siapa  yang  dapat membawa kita ke jalan lain daripada tempat mereka sekarang berada?”

Dengan demikian ia masih  berpegang  pada  pendapatnya  hendak menempuh  saluran  damai  yang  sudah  digariskannya  sejak ia berangkat dari Medinah dan  berniat  hendak  pergi  menunaikan ibadah haji ke Mekah.

Dalam  pada  itu  kemudian ada seorang laki-laki yang bersedia membawa  mereka  ke   tempat   lain   dengan   melalui   jalan berliku-liku  antara  batu-batu  karang yang curam yang sangat sulit dilalui. Kaum  Muslimin  merasa  sangat  letih  menempuh jalan  itu. Tetapi akhirnya mereka sampai juga ke sebuah jalan datar pada ujung wadi. Jalan ini mereka tempuh melalui sebelah kanan  yang  akhirnya keluar di Thaniat’l-Murar, jalan menurun ke Hudaibiya di sebelah bawah kota Mekah.

Setelah pasukan Quraisy melihat apa  yang  dilakukan  Muhammad dan   sahabat-sahabatnya  itu,  merekapun  cepat-cepat  memacu kudanya  kembali  ke  tempat  semula  dengan   maksud   hendak mempertahankan Mekah bila diserbu oleh pihak Muslimin.

Bila  kaum  Muslimin  sampai  di  Hudaibiya.  Al-Qashwa’ (unta kepunyaan Nabi)  berlutut.  Kaum  Muslimin  menduga  ia  sudah terlalu lelah. Tetapi Rasulullah berkata:

Tidak.  Ia  (unta  itu)  ditahan oleh yang menahan gajah dulu dari Mekah. Setiap  ada  ajakan  dari  Quraisy  dengan  tujuan mengadakan hubungan kekeluargaan, tentu saya sambut.”

Kemudian   dimintanya   orang-orang   itu  supaya  turun  dari kendaraan. Tetapi mereka berkata:

Rasulullah, kalaupun kita turun, di lembah ini tak ada air.”

 

Sumber: S E J A R A H    H I D U P    M U H A M M A D

oleh MUHAMMAD HUSAIN HAEKAL diterjemahkan dari bahasa Arab oleh Ali Audah

Penerbit PUSTAKA JAYA Jln. Kramat II, No. 31 A, Jakarta Pusat Cetakan Kelima, 1980

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: