MEMBANGUN KHAZANAH ILMU DAN PENDIDIKAN

Belajar itu adalah perobahan …….

Perangan Uhud sebagai Pelajaran bagi Kaum Muslimin!!!(bagian kedua)

Posted by Bustamam Ismail on September 6, 2010

A. Orang Yahudi dan Munafiq  tidak ikut berperang kembali ke Medinah

Dalam  pada  itu orang-orang Yahudi itupun kembali ke Medinah. Lalu kata sekutu Ibn Ubayy itu:”Kau  sudah  menasehatinya  dan  sudah  kauberikan  pendapatmu berdasarkan  pengalaman orang-orang tua dahulu. Sebenarnya dia sependapat dengan kau. Lalu dia menolak dan menuruti  kehendak pemuda-pemuda yang menjadi pengikutnya.”

Percakapan  mereka  itu  sangat  menyenangkan  hati Ibn Ubayy. Keesokan harinya ia berbalik menggabungkan diri dengan pasukan teman-temanya  itu. Tinggal lagi Alabi dengan orang-orang yang benar-benar beriman, yang berjumlah 700 orang, akan  berperang menghadapi  3000  orang terdiri dan orang-orang Quraisy Mekah, yang kesemuanya sudah memikul dendam yang tak terpenuhi ketika di Badr. Semua mereka ingin menuntut balas.

Pagi-pagi  sekali;  kaum  Muslimin berangkat menuju Uhud. Lalu mereka memotong jalan sedemikian rupa sehingga pihak musuh itu berada  di  belakang  mereka.  Selanjutnya  Muhammad  mengatur barisan  para  sahabat.  Limapuluh   orang   barisan   pemanah ditempatkan   di   lereng-lereng  gunung,  dan  kepada  mereka diperintahkan:

Lindungi kami dari belakang, sebab  kita  kuatir  mereka  akan mendatangi  kami dari belakang. Dan bertahanlah kamu di tempat itu,  jangan  ditinggalkan.  Kalau  kamu  melihat  kami  dapat menghancurkan mereka sehingga kami memasuki pertahanan mereka, kamu jangan meninggalkan tempat kamu. Dan jika kamu lihat kami yang  diserang  jangan  pula  kami  dibantu,  juga jangan kami dipertahankan. Tetapi tugasmu  ialah  menghujani  kuda  mereka dengan  panah,  sebab  dengan  serangan  panah kuda itu takkan dapat maju.”

Selain  pasukan  pemanah,  yang   lain   tidak   diperbolehkan menyerang siapapun, sebelum ia memberi perintah menyerang.

Adapun  pihak  Quraisy  merekapun juga sudah menyusun barisan. Barisan kanan dipimpin oleh Khalid  bin’l-Walid  sedang  sayap kiri  dipimpin  oleh  ‘Ikrima  b.  Abi Jahl. Bendera diserahkan kepada Abd’l ‘Uzza Talha b. Abi Talha.  Wanita-wanita  Quraisy sambil  memukul tambur dan genderang berjalan di tengah-tengah barisan  itu.  Kadang  mereka  di  depan  barisan,  kadang  di belakangnya. Mereka dipimpin oleh Hindun bt. ‘Utba, isteri Abu Sufyan, seraya bertenak-teriak:

Hayo, Banu Abd’d-Dar

Hayo, hayo pengawal barisan belakang

Hantamlah dengan segala yang tajam.

Kamu maju kami peluk

Dan kami hamparkan kasur yang empuk

Atau kamu mundur kita berpisah

Berpisah tanpa cinta.

Kedua belah pihak sudah siap  bertempur.  Masing-masing  sudah mengerahkan  pasukannya.  Yang  selalu  teringat  oleh Quraisy ialah  peristiwa  Badr  dan  korban-korbannya.   Yang   selalu teringat  oleh kaum Muslimin ialah Tuhan serta pertolonganNya. Muhammad berpidato dengan memberi  semangat  dalam  menghadapi pertempuran  itu.  Ia  menjanjikan  pasukannya  akan  mendapat kemenangan apabila mereka tabah.  Sebilah  pedang  dipegangnya sambil ia berkata:

Siapa  yang  akan memegang pedang ini guna disesuaikan dengan tugasnya?”

Beberapa orang tampil. Tapi pedang itu  tidak  pula  diberikan kepada mereka. Kemudian Abu Dujana Simak b. Kharasya dari Banu Sa’ida tampil seraya berkata:

Apa tugasku ya, Rasulullah?”

“Tugasnya ialah menghantamkan pedang kepada  musuh  sampai  ia bengkok,” jawabnya.

Abu Dujana seorang laki-laki yang sangat berani. Ia mengenakan pita (kain) merah. Apabila  pita  merah  itu  sudah  diikatkan orangpun  mengetahui,  bahwa ia sudah siap bertempur dan waktu itupun ia sudah mengeluarkan pita mautnya itu.

Pedang  diambilnya,  pita  dikeluarkan  lalu  diikatkannya  di kepala.  Kemudian ia berlagak di tengah-tengah dua barisan itu seperti biasanya apabila ia sudah siap menghadapi pertempuran.

Cara berjalan begini  sangat  dibenci  Allah,  kecuali  dalam bidang  ini,” kata  Muhammad  setelah  dilihatnya  orang  itu berlagak.

B. Abu ‘Amir b Shaifi al-Ausi Orang pertama yang menyulut perang ini.

Orang pertama yang mencetuskan perang di antara dua pihak  itu adalah Abu ‘Amir ‘Abd ‘Amr b. Shaifi al-Ausi (dari Aus). Orang ini sengaja pindah  dari  Medinah  ke  Mekah  hendak  membakar semangat  Quraisy  supaya  memerangi Muhammad. Ia belum pernah ikut dalam perang Badr. Sekarang  ia  menerjunkan  diri  dalam perang Uhud dengan membawa lima belas orang dari golongan Aus. Ada juga budak-budak dari penduduk Mekah yang juga  dibawanya. Menurut   dugaannya,   apabila   nanti   ia  memanggil-manggil orang-orang Islam dari golongan  Aus  yang  ikut  berjuang  di pihak  Muhammad,  niscaya  mereka  akan memenuhi panggilannya, akan berpihak kepadanya dan membantu Quraisy.

Saudara-saudara dari Aus! Saya adalah Abu  ‘Amir!” teriaknya memanggil-manggil. Tetapi Muslimin dari kalangan Aus itu membalas: “Tuhan takkan memberikan kesenangan kepadamu, durhaka!”

Perangpun lalu pecah. Budak-budak Quraisy serta ‘Ikrima b. Abi Jahl yang berada di  sayap  kiri,  berusaha  hendak  menyerang Muslimin  dari  samping, tapi pihak Muslimin menghujani mereka dengan batu sehingga Abu ‘Amir dan  pengikut-pengikutnya  lari

tunggang-langgang.  Ketika  itu  juga Hamzah b. Abd’l-Muttalib berteriak, membawa teriakan perang Uhud:

Mati, mati!” Lalu ia terjun ketengah-tengah  tentara  Quraisy itu.  Ketika  itu  Talha  b.  Abi  Talha, yang membawa bendera tentara Mekah berteriak pula: “Siapa yang akan duel?”

Lalu Ali b. Abi Talib tampil menghadapinya. Dua orang dari dua barisan  itu bertemu. Cepat-cepat Ali memberikan satu pukulan, yang membuat kepala lawannya itu belah dua. Nabi  merasa  lega dengan  itu.  Ketika  itu  juga  kaum  Muslimin  bertakbir dan melancarkan serangannya. Dengan  pedang  Nabi  di  tangan  dan mengikatkan  pita  maut  di  kepala,  Abu  Dujane  pun  terjun kedepan. Dibunuhnya setiap  orang  yang  dijumpainya.  Barisan orang-orang  musyrik  jadi  kacau-balau.  Kemudian  ia melihat seseorang  sedang  mencencang-cencang  sesosok  tubuh  manusia dengan  keras  sekali.  Diangkatnya pedangnya dan diayunkannya kepada orang itu. Tetapi ternyata orang itu adalah Hindun  bt. ‘Utba.  Ia  mundur.  Terlalu  mulia  rasanya pedang Rasul akan dipukulkan kepada seorang wanita.

Dengan secara keras sekali pihak Quraisypun menyerbu  pula  ke tengah-tengah  pertempuran  itu. Darahnya sudah mendidih ingin menuntut balas atas pemimpin-pemimpin dan pemuka-pemuka mereka yang  sudah tewas setahun yang lalu di Badr. Dua kekuatan yang tidak seimbang itu, baik  jumlah  orang  maupun  perlengkapan, sekarang  berhadap-hadapan.  Kekuatan dengan jumlah yang besar ini motifnya adalah balas-dendam, yang sejak perang Badr tidak pernah  reda.  Sedang jumlah yang lebih kecil motifnya adalah: pertama mempertahankan akidah, mempertahankan iman  dan  agama Allah,    kedua    mempertahankan   tanah   air   dan   segala kepentingannya. Mereka yang menuntut  bela  itu  terdiri  dari orang-orang  yang  lebih  kuat  dan  jumlah pasukan yang lebih besar.  Di  belakang  mereka  itu  kaum  wanita   turut   pula mengobarkan  semangat.  Tidak  sedikit  di  antara mereka yang membawa budak-budak itu  menjanjikan  akan  memberikan  hadiah yang  besar  apabila  mereka  dapat  membalaskan  dendam  atas kematian seorang bapa, saudara, suami  atau  orang-orang  yang dicintai  lainnya,  yang  telah  terbunuh  di  Badr.

Hamzah b. Abd’l-Muttalib  adalah  seorang  pahlawan  Arab  terbesar  dan paling  berani.  Ketika  terjadi perang Badr dialah yang telah menewaskan ayah dan saudara Hindun, begitu juga tidak  sedikit orang-orang  yang  dicintainya  yang telah ditewaskan. Seperti juga dalam perang Badr, dalam perang Uhud inipun Hamzah adalah singa  dan pedang Tuhan yang tajam. Ditewaskannya Arta b. ‘Abd Syurahbil, Siba’  b.  ‘Abd’l-‘Uzza  al-Ghubsyani,  dan  setiap musuh yang dijumpainya nyawa mereka tidak luput dari renggutan pedangnya.

Sementara itu Hindun bt. ‘Utba telah pula menjanjikan  Wahsyi, orang  Abisinia  dan  budak Jubair (b. Mut’im) akan memberikan hadiah besar apabila ia berhasil membunuh Hamzah. Begitu  juga Jubair   b.  Mut’im  sendiri,  tuannya,  yang  pamannya  telah terbunuh di Badr, mengatakan kepadanya:

Kalau Hamzah  paman  Muhammad  itu  kau  bunuh,  maka  engkau kumerdekakan.”  Wahsyi sendiri dalam hal ini bercerita sebagai berikut:

Kemudian aku berangkat bersama rombongan.  Aku  adalah  orang Abisinia  yang apabila sudah melemparkan tombak cara Abisinia, jarang sekali  meleset.  Ketika  terjadi  pertempuran,  kucari Hamzah  dan kuincar dia. Kemudian kulihat dia di tengah-fengah orang banyak itu seperti seekor unta kelabu  sedang  membabati orang  dengan  pedangnya.  Lalu  tombak kuayunkan-ayunkan, dan sesudah pasti sekali kulemparkan. Ia tepat mengenai sasaran di bawah  perutnya, dan keluar dari antara dua kakinya. Kubiarkan tombak itu begitu sampai dia mati. Sesudah itu  kuhampiri  dia dan  kuambil  tombakku itu, lalu aku kembali ke markas dan aku diam di sana, sebab sudah  tak  ada  tugas  lain  selain  itu. Kubunuh   dia   hanya   supaya   aku  dimerdekakan  saja  dari perbudakan. Dan sesudah aku  pulang  ke  Mekah,  ternyata  aku dimerdekakan.”

Adapun   mereka   yang   berjuang   mempertahankan  tanah-air, contohnya terdapat pada Quzman, salah  seorang  munafik,  yang hanya  pura-pura Islam. Ketika kaum Muslimin berangkat ke Uhud ia tinggal di belakang. Keesokan harinya, ia  mendapat  hinaan dari wanita-wanita Banu Zafar.

Quzman,! Tidak engkau malu dengan sikapmu itu. Seperti perempuan saja kau. Orang semua berangkat kau tinggal dalam rumah.” kata  wanita-wanita  itu.

Dengan  sikap berang Quzman pulang ke rumahnya. Dikeluarkannya kudanya,  tabung  panah  dan  pedangnya.  Ia  dikenal  sebagai seorang  pemberani.  Ia berangkat dengan memacu kudanya sampai ke tempat tentara. Sementara itu Nabi sedang menyusun  barisan Muslimin.  Ia  terus menyeruak sampai ke barisan terdepan. Dia adalah orang pertama  dari  pihak  Muslimin  yang  menerjunkan diri,  dengan  melepaskan  panah  demi  panah,  seperti tombak layaknya.

Hari sudah menjelang  senja.  Tampaknya  ia  lebih  suka  mati daripada  lari.  Ia  sendiri lalu membunuh diri sesudah sempat membunuh tujuh orang Quraisy di Suway’a – selain  mereka  yang telah dibunuhnya pada permulaan pertempuran. Tatkala ia sedang sekarat itu, Abu’l-Khaidaq lewat di tempat itu.

Quzman, beruntung kau akan mati syahid,” katanya.

Abu ‘Amr,” kata Quzman. “Sungguh saya  bertempur  bukan  atas dasar  agama.  Saya  bertempur  hanya  sekadar  menjaga jangan sampai Quraisy memasuki tempat  kami  dan  melanda  kehormatan kami,  menginjak-injak  kebun kami. Saya berperang hanya untuk menjaga nama keturunan masyarakat kami. Kalau tidak karena itu saya tidak akan berperang.”

Sebaliknya  mereka  yang  benar-benar beriman, jumlahnya tidak lebih dari 700 orang. Mereka  bertempur  melawan  3000  orang. Kita  sudah melihat, tindakan Hamzah dan Abu Dujana yang telah memperlihatkan suatu teladan dalam arti  kekuatan  moril  yang tinggi  pada  mereka  itu.  Suatu  kekuatan yang telah membuat barisan   Quraisy   jadi   lemas   seperti   rotan,    membuat pahlawan-pahlawan  Quraisy,  yang  tadinya  di  kalangan  Arab keberaniannya dijadikan suri teladan, telah mundur dan  surut.

Setiap  panji  mereka  lepas  dari tangan seseorang, panji itu diterima oleh yang lain di belakangnya. Setelah Talha  b.  Abi Talha  tewas  di  tangan  Ali  datang  ‘Uthman  b.  Abi  Talha menyambut bendera itu, yang juga kemudian menemui  ajalnya  di tangan  Hamzah. Seterusnya bendera itu dibawa oleh Abu Sa’d b. Abi Talha sambil berkata:

Kamu mendakwakan bahwa  koban-korban  kamu  dalam  surga  dan korban-korban  kami  dalam  neraka!  Kamu  bohong!  Kalau kamu benar-benar  orang  beriman  majulah  siapa  saja   yang   mau melawanku”:

Entah  Ali  atau  Sa’d b. Abi Waqqash ketika itu menghantamkan pedangnya  dengan  sekali  pukul  hingga  kepala   orang   itu terbelah. Berturut-turut pembawa bendera itu muncul dari Banu Abd’d Dar.

Jumlah mereka yang tewas telah mencapai sembilan  orang,  yang terakhir  ialah  Shu’ab  orang Abisinia, budak Banu Abd’d-Dar. Tangan kanan  orang  itu  telah  dihantam  oleh  Quzman,  maka bendera  itu  dibawanya dengan tangan kiri. Tangan kiri inipun oleh Quzman dihantam lagi dengan pedangnya.  Sekarang  bendera itu  oleh Shu’ab dipeluknya dengan lengan ke dadanya, kemudian ia membungkuk sambil berkata: Hai Banu Abd’d-Dar, sudahkah kau maafkan?  Lalu  ia ditewaskan entah oleh Quzman atau oleh Sa’d bin Abi Waqqash, sumbernya masih berbeda-beda.

Setelah mereka yang membawa bendera itu tewas  semua,  pasukan orang-orang  musyrik  itu hancur. Mereka sudah tidak tahu lagi bahwa mereka dikerumuni oleh wanita-wanita, bahwa berhala yang mereka  mintai  restunya  telah  terjatuh  dari  atas unta dan pelangking yang membawanya.

Kemenangan Muslimin dalam  perang  Uhud  pada  pagi  hari  itu sebenarnya adalah suatu mujizat. Adakalanya orang menafsirkan, bahwa  kemenangan  itu  disebabkan  oleh  kemahiran   Muhammad mengatur  barisan  pemanah di lereng bukit, merintangi pasukan berkuda dengan anak panah sehingga mereka  tidak  dapat  maju, juga  tidak dapat menyergap Muslimin dari belakang. Ini memang benar. Tetapi juga tidak salah, bahwa 600 orang Muslimin  yang menyerbu  jumlah  sebanyak  lima  kali  lipat  itupun,  dengan perlengkapan yang juga demikian, motifnya  adalah  iman,  iman yang sungguh-sungguh, bahwa mereka dalam kebenaran.

Inilah  yang  membawa mujizat kepahlawanan melebihi kepandaian pimpinan. Barangsiapa yang telah beriman kepada kebenaran,  ia takkan goncang oleh kekuatan materi, betapapun besarnya. Semua kekuatan  batil  yang  digabungkan  sekalipun,  takkan   dapat menggoyahkan  kebulatan tekadnya itu. Dapatkah kita menganggap cukup dengan kepandaian pimpinan  itu  saja,  padahal  barisan pemanah  yang  oleh  Nabi  ditempatkan  di  lereng  bukit  itu jumlahnya tidak  lebih  dari  50  orang?  Andaikata  sekalipun mereka  itu  terdiri  dari  200 orang atau 300 orang, mendapat serbuan dari mereka yang sudah bertekad mati,  niscaya  mereka tidak  akan  dapat  bertahan.  Tetapi  kekuatan yang terbesar, ialah kekuatan konsepsi, kekuatan akidah, kekuatan  iman  yang sungguh-sungguh  akan  adanya  Kebenaran  Tertinggi.  Kekuatan inilah yang takkan dapat ditaklukkan selama orang masih  teguh berpegang kepada kebenaran itu.

Karena  itulah, 3000 orang pasukan  Quraisy jadi hancur menghadapi serangan 600 orang Muslimin. Dan hampir-hampir pula wanita-wanita  merekapun akan menjadi tawanan perang yang hina dina. Muslimin kini mengejar  musuh  itu  sampai  mereka  meletakkan senjata  dimana  saja asal jauh dari bekas markas mereka.

C. Kaum Muslimin tergoda Harta Rampasan perang termasuk pasukan pemanah.

Kaum Muslimin  sekarang  mulai   memperebutkan   rampasan   perang. Alangkah banyaknya jumlah rampasan perang itu! Hal ini membuat mereka  lupa  mengikuti  terus  jejak  musuh,   karena   sudah mengharapkan kekayaan duniawi.

Mereka  ini  ternyata  dilihat  oleh pasukan pemanah yang oleh Rasul  diminta  jangan  meninggalkan  tempat  di  gunung  itu, sekalipun mereka melihat kawan-kawannya diserang. Dengan tak dapat menahan air liur melihat rampasan perang itu, kepada satu sama lain mereka berkata:

Kenapa kita  masih  tinggal  disini  juga  dengan  tidak  ada apa-apa.   Tuhan   telah  menghancurkan  musuh  kita.  Mereka, saudara-saudara  kita  itu,  sudah   merebut   markas   musuh. Kesanalah juga kita, ikut mengambil rampasan itu.”

Yang seorang lagi tentu menjawab:

Bukankah Rasulullah sudah berpesan jangan meninggalkan tempat kita ini? Sekalipun kami diserang janganlah kami dibantu.”

Yang pertama berkata lagi:

Rasulullah   tidak   menghendaki    kita    tinggal    disini terus-menerus, setelah Tuhan menghancurkan kaum musyrik itu.”

Lalu  mereka  berselisih.  Ketika itu juga tampil Abdullah bin Jubair berpidato agar jangan  mereka  itu  melanggar  perintah Rasul.  Tetapi  mereka  sebahagian  besar  tidak patuh. Mereka berangkat juga. Yang masih tinggal hanya beberapa orang  saja, tidak  sampai  sepuluh  orang. Seperti kesibukan Muslimin yang lain, mereka yang ikut bergegas  itu  pun  sibuk  pula  dengan harta rampasan.

D.Khalid bin Walid Pasukan berkuda Quresy melihat peluang dan memanfaatkannya

Pada waktu itulah Khalid bin’l-Walid mengambil kesempatan – dia sebagai komandan kavaleri Mekah –  pasukannya dikerahkan  ke  tempat  pasukan  pemanah,  dan  mereka  inipun berhasil dikeluarkan dari sana.

Summber : S E J A R A H    H I D U P    M U H A M M A D

oleh MUHAMMAD HUSAIN HAEKAL diterjemahkan dari bahasa Arab oleh Ali Audah

Penerbit PUSTAKA JAYA Jln. Kramat II, No. 31 A, Jakarta Pusat Cetakan Kelima, 1980



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: