MEMBANGUN KHAZANAH ILMU DAN PENDIDIKAN

Belajar itu adalah perobahan …….

Masa Selang Antara Perang Badar Dan Uhud!!!(bagian kedua)

Posted by Bustamam Ismail on September 4, 2010

Sudah  wajar  sekali  bilamana  penduduk  Medinah di luar kaum Muslimin menjadi kecut setelah Banu Qainuqa’ dikeluarkan  dari kota  itu,  yang  dari  luar  tampak  aman  dan tenteram, tapi sebenarnya akan disusul kelak oleh timbulnya angin  badai  dan topan.  Keadaan  aman  dan  tenteram ini telah dirasakan orang selama sebulan, dan  seharusnya  akan  terus  demikian  selama beberapa bulan, kalau tidak karena Abu Sufyan yang sudah tidak tahan  lagi  tinggal  lama-lama  di  Mekah,  mendekam  dibawah telapak   kehinaan  kekalahannya  di  Badr,  tanpa  menanamkan kembali dalam pikiran orang-orang Arab di seluruh  Semenanjung itu,  bahwa  Quraisy  masih  kuat, masih bersemangat dan masih mampu berperang dan bertempur.

Karena itu, ia lalu mengumpulkan dua ratus orang  –  ada  yang mengatakan  empatpuluh orang – dari penduduk bersama-sama dia. Apabila mereka sudah sampai di dekat Medinah,  menjelang  pagi mereka  berangkat  lagi  ke  sebuah daerah bernama ‘Uraidz. Di tempat ini mereka  bertemu  dengan  seorang-orang  Anshar  dan seorang  teman sekerjanya di kebun mereka sendiri. Kedua orang itu mereka bunuh dan dua buah rumah serta sebatang pohon kurma di  ‘Uraidz  itu  mereka  bakar. Menurut Abu Sufyan, sumpahnya hendak memerangi Muhammad itu  sudah  terpenuhi.  Sekarang  ia kembali  melarikan  diri,  takut  akan  dikejar  oleh Nabi dan sahabat-sahabatnya.

Muhammad minta beberapa orang sahabat. Dengan dipimpin sendiri mereka  berangkat  mengejarnya  hingga di Qarqarat’l-Kudr. Abu Sufyan dan rombongannya makin kencang melarikan  diri.  Mereka makin ketakutan. Bahan makanan bawaan mereka yang terdiri dari sawiq2 mereka  lemparkan,  yang  kemudian  diambil  oleh  kaum Muslimin yang lalu di tempat tersebut.

Setelah   melihat  bahwa  mereka  itu  terus  melarikan  diri, Muhammad dan sahabat-sahabatnya kemudian kembali  ke  Medinah. Larinya  Abu  Sufyan  itu  berbalik merupakan pukulan terhadap dirinya sendiri, sebab sebelum itu ia. mengira  bahwa  Quraisy akan  dapat  mengangkat  muka  lagi sesudah terjadinya bencana yang pernah dialami di Badr itu

Karena sawiq yang dibuang oleh Quraisy itulah, maka  ekspedisi ini dinamai “Ekspedisi Sawiq.”

Berita  tentang  Muhammad  ini  kini  tersebar luas di seluruh kalangan Arab. Kabilah-kabilah yang jauh-jauh tetap  enak-enak di  tempat  mereka,  sedikit sekali memperhatikan keadaan kaum Muslimin, yang sampai pada waktu itu  masih  menjadi  orang yang  lemah,  masih mencari perlindungan di Medinah – sekarang mereka telah dapat menahan Quraisy,  dapat  mengeluarkan  Banu Qainuqa’,  dapat  membuat  Abdullah b. Ubay jadi ketakutan dan dapat mengusir Abu Sufyan. Mereka  dapat  memperlihatkan  diri dengan suatu sikap yang tidak seperti biasa

Sebaliknya,  kabilah-kabilah  yang  berdekatan  dengan Medinah mulai melihat apa yang  akan  mengancam  nasib  mereka  dengan adanya  kekuatan Muhammad dan sahabat-sahabatnya itu. Demikian juga adanya perimbangan kekuatan ini dengan  kekuatan  Quraisy di  Mekah,  suatu  perimbangan  yang  akibat-akibatnya  sangat mereka takutkan. Soalnya ialah karena  jalan  pantai  ke  Syam adalah   satu-satunya   jalan  rata  yang  sudah  di  kenal  .

Perdagangan Mekah melalui jalan ini dalam arti ekonomi membawa keuntungan  yang berarti juga bagi kabilah-kabilah itu. Antara Muhammad dengan kabilah-kabilah yang ada di perbatasan  pantai itu  sudah  ada perjanjian. Tetapi jalan ini sekarang terancam

dan perjalanan  musim  panaspun  terancam  bahaya  pula,  yang mungkin  kelak  Quraisy  akan terpaksa meninggalkan perbatasan pantai itu. Apa pula nasib yang akan  menimpa  kabilah-kabilah ini apabila perdagangan Quraisy nanti jadi terputus? Bagaimana orang  dapat  membayangkan  mereka   akan   dapat   menanggung kesulitan hidup diatas daerah yang alamnya memang begitu sulit dan tandus? Jadi  sudah  sepatutnya  mereka  memikirkan  nasib mereka  itu  serta  apa  pula akibat yang mungkin akan menimpa karena situasi baru yang belum  pernah  mereka  kenal  sebelum Muhammad  dan  sahabat-sahabatnya itu hijrah ke Medinah, sebab sebelum kemenangan Muslimin di Badr kehidupan  kabilah-kabilah itu   belum  pernah  mengalami  ancaman  seperti  yang  mereka bayangkan sekarang.

Peristiwa perang Badr itu telah menimbulkan rasa  takut  dalam hati  kabilah-kabilah  itu.  Adakah mereka barangkali iri hati terhadap Medinah lalu akan menyerang kaum Muslimin,  atau  apa yang harus mereka lakukan?

Karena  sudah ada berita yang sampai kepada Muhammad bahwa ada beberapa golongan dari Ghatafan dan Banu Sulaim yang bermaksud hendak  menyerang  kaum  Muslimin, maka ia segera berangkat ke Qarqarat’l-Kudr guna memotong jalan mereka. Di tempat  ini  ia melihat  jejak-jejak  binatang ternak tapi tak seorangpun yang ada di padang itu. Disuruhnya beberapa orang  sahabatnya  naik ke  atas  wadi  dan  dia sendiri menunggu di bawah. Ia bertemu dengan seorang anak bernama Yasar. Dari  pertanyaannya  kepada anak itu ia mengetahui bahwa rombongan itu naik ke bagian atas mata-air. Oleh kaum Muslimin ternak yang  ada  di  tempat  itu dikumpulkan  dan  dibagi-bagikan  antara sesama mereka sesudah seperlimanya diambil oleh Muhammad, seperti ditentukan menurut nas  Quran.  Konon  katanya  barang rampasan itu sebanyak iima ratus ekor  unta.  Sesudah  seperlima  dipisahkan  oleh  Nabi, sisanya dibagikan. Setiap orang mendapat bagian dua ekor unta.

Juga  sudah  ada berita yang sampai kepada Muhammad, bahwa ada beberapa golongan dari Banu Tha’laba dan Banu Muharib  di  Dhu Amarr yang telah berkumpul. Mereka bersiap-siap akan melakukan serangan.  Nabi  s.a.w.  segera  berangkat  dengan  450  orang Muslimin.  Ia  bertemu  dengan  salah  seorang anggota kabilah Tha’laba ini, dan ketika  ditanyainya  tentang  rombongan  itu ditunjukkannya tempat mereka.

Muhammad,  kalau mereka mendengar keberangkatanmu ini, mereka lari ke puncak-puncak gunung,” kata orang itu. “Saya bersedia berjalan bersamamu dan menunjukkan tempat-tempat persembunyian mereka.”

Tetapi orang-orang yang iri hati itu tatkala  mendengar  bahwa Muhammad  sudah  berada  dekat dari mereka, cepat-cepat mereka lari ke gunung-gunung. Selanjutnya sampai pula berita, bahwa sebuah  rombongan  besar dari  Banu  Sulaim  di  Bahran sudah siap-siap akan menyerang. Pagi-pagi sekali ia segera berangkat  dengan  300  orang,  dan satu  malam  sebelum  sampai  di  Bahran  dijumpainya  seorang laki-laki dari kabilah Banu  Sulaim.  Ketika  ditanyakan  oleh Muhammad  tentang  mereka itu, dikatakannya bahwa mereka telah cerai-berai dan sudah kembali pulang.

Demikian jugalah halnya dengan orang-orang Arab Badwi,  mereka serba  ketakutan  kepada  Muhammad,  gelisah akan nasib mereka sendiri.  Begitu  terpikir  oleh  mereka   hendak   berkomplot terhadap  Muhammad,  hendak  berangkat memeranginya, tapi baru mendengar  saja  mereka,  bahwa  ia  sudah  berangkat   hendak menghadapi mereka, hati mereka sudah kecut ketakutan.

Pada  waktu  inilah  pembunuhan  terhadap  Ka’b  b. Asyraf itu terjadi, seperti yang sudah kita kemukakan di atas. Sejak  itu orang-orang  Yahudi  merasa  ketakutan.  Mereka  tinggal dalam lingkungannya sendiri, tak  ada  yang  berani  keluar.  Mereka kuatir  akan  mengalami  nasib  seperti Ka’b. Lebih-lebih lagi ketakutan mereka, setelah Muhammad menghalalkan  darah  mereka sesudah  peristiwa  Banu  Qainuqa’ yang sampai harus mengalami blokade itu.

Oleh karena itu mereka lalu datang menemui Muhammad mengadukan hal-ihwal  mereka. Mereka mengatakan bahwa pembunuhan terhadap Ka’b itu  adalah  pembunuhan  gelap,  dia  tidak  berdosa  dan persoalannyapun  tidak  diberitahukan.  Tetapi jawabnya kepada mereka: Dia  sangat  mengganggu  kami,  mengejek  kami  dengan sajak.  Sekiranya  dia  tetap saja seperti yang lain-lain yang sepaham dengan dia, tentu dia tidak akan mengalami bencana.

Setelah terjadi pembicaraan yang  cukup  lama  dengan  mereka, maka  dimintanya  mereka membuat sebuah perjanjian bersama dan supaya mereka dapat menghormati  isi  perjanjian  itu.  Tetapi orang-orang  Yahudi  sudah  merasa hina sendiri dan ketakutan, meskipun yang tersimpan dalam hati  mereka  terhadap  Muhammad akan tampak juga akibatnya kelak.

Apa  yang  harus  dilakukan  Quraisy dengan perdagangannya itu setelah ternyata Muhammad kini menguasai jalan tersebut?

Hidupnya Mekah dari perdagangan. Apabila  jalan  ke  arah  itu tidak  ada,  maka  ini  adalah  bahaya  yang tidak akan pernah dialami oleh kota lain. Sekarang Muhammad akan membuat blockade atas jalan itu, dan posisinya akan dihancurkan dari jiwa orang

Arab.

Dalam hal ini Shafwan b. Umayya berkata di hadapan orang-orang Quraisy:

“Perdagangan  kita  sekarang  telah  dirusak oleh Muhammad dan pengikut-pengikutnya. Tidak tahu lagi kita apa yang harus kita perbuat  terhadap  pengikut-pengikutnya  itu, sementara mereka tidak pula mau meninggalkan pantai. Dan orang-orang  pantaipun sudah  pula mengadakan perjanjian perdamaian dengan mereka dan golongan awamnya juga sudah jadi pengikutnya Tidak tahu dimana kita  harus  tinggal.  Kalau  kita tinggal saja di tempat kita ini, berarti kita akan makan modal sendiri, dan ini tidak akan bisa  bertahan.  Hidup kita di Mekah ini hanya bergantung pada perdagangan;  musim  panas  ke  Syam  dan  musim   dingin   ke Abisinia.”

Aswad b. Abd’l-Muttalib menjawab:

Jalan ke pantai sudah dibelokkan. Ambil sajalah jalan Irak.”

Lalu  ditunjukkannya  kepada  mereka  itu Furat b. Hayyan dari kabilah Banu Bakr b. Wa’il supaya menjadi penunjuk jalan.

Teman-teman Muhammad tidak  pernah  menginjakkan  kakinya  ke jalan  Irak,”  kata Furat. “Jalan ini merupakan dataran tinggi dan padang pasir.”

Tetapi Shafwan tidak takut padang pasir. Selama perjalanan itu dalam  musim  dingin  tidak  seberapa  mereka membutuhkan air. Untuk itu Shafwan sudah  menyediakan  perak  dan  barang  lain seharga  100.000  dirham. Ketika Quraisy sedang sibuk mengatur perjalanan yang akan membawa  perdagangannya  itu,  Nuiaim  b. Mas’ud al-Asyja’i sedang berada di Mekah. Ia pulang kembali ke Medinah.  Apa  yang  dibicarakan  dan  diperbuat  Quraisy  itu meluncur  juga  dari  lidahnya dan sampai kepada salah seorang dari kalangan Islam. Orang  yang  belakangan  ini  cepat-cepat menyampaikan  berita  itu kepada Muhammad. Waktu itu juga Nabi menugaskan  Zaid  b.  Haritha  dengan  seratus  orang  pasukan berkendaraan.   Mereka  mencegat  perdagangan  itu  di  Qarda, (sebuah pangkalan air di Najd). Orang-orang Quraisy  itu  lari dan   kafilah   dagangnya  dikuasai  Muslimin.  Ini  merupakan rampasan berharga  yang  pertama  sekali  dikuasai  oleh  kaum Muslimin.

Kemudian Zaid dan anak buahnya kembali. Setelah yang seperlima dipisahkan oleh Muhammad sisanya dibagikan kepada  yang  lain. Selanjutnya  Furat  b. Hayyan dibawa, dan untuk keselamatannya kepadanya   ditanyakan   untuk   masuk   Islam,   dan   inipun diterimanya.

Sesudah  semua  ini  adakah  Muhammad  lalu  merasa puas bahwa keadaan sudah stabil? Atau sudah terpesona oleh hari itu  saja lalu  melupakan  hari  esoknya?  Ataukah  juga sudah terbayang olehnya,  bahwa  ketakutan  kabilah-kabilah  dan  diperolehnya rampasan  dari Quraisy sudah menunjukkan, bahwa perintah Allah dan perintah RasulNya sudah dapat diamankan dan tak perlu lagi dikuatirkan? Ataukah kepercayaannya akan pertolongan Tuhan itu berarti ia boleh berbuat sesuka hati, karena sudah  mengetahui bahwa  segala  persoalan  keputusannya berada di tangan Tuhan?

Tidak! Memang benar, segala persoalan keputusannya  di  tangan Tuhan.  Tetapi orang tidak akan mendapat perubahan dalam hokum Tuhan itu. Tak ada jalan  lagi  orang  akan  membantah  adanya naluri  yang  sudah  ditanamkan  Tuhan  dalam dirinya. Quraisy sebagai pemimpin orang Arab, tidak mungkin mereka  akan  surut dari  tindakan membalas dendam. Kafilah Shafwan b. Umayya yang sudah dikuasai  itupun  akan  menambah  hasrat  mereka  hendak membalas   dendam,   akan   bertambah  keras  kehendak  mereka mengadakan serangan kembali.

Dengan siasatnya yang sehat serta pandangannya yang  jauh  hal semacam  itu  oleh  Muhammad tidak akan terabaikan. Jadi sudah tentu ia harus menambah kecintaan kaum Muslimin kepadanya, dan mempererat   pertalian.   Kendatipun  Islam  sudah  memberikan kebulatan tekad  kepada  mereka  dan  membuat  mereka  seperti sebuah  bangunan yang kokoh, satu sama lain saling memperkuat, namun kebijaksanaan pimpinan terhadap mereka  itu  akan  lebih lagi menguatkan kerja-sama dan tekad mereka.

Justeru karena kebijaksanaan pimpinan inilah hubungan Muhammad dengan mereka itu makin  erat.  Dalam  hubungan  ini  pula  ia melangsungkan   perkawinannya   dengan   Hafsha,  puteri  Umar ibn’l-Khattab, seperti juga sebelum itu dengan Aisyah,  puteri Abu  Bakr. Sebelum itu Hafsha adalah isteri Khunais – termasuk orang yang mula-mula dalam Islam – yang sudah meninggal  tujuh bulan lebih dulu sebelum perkawinannya dengan Muhammad. Dengan perkawinannya kepada Hafsha ini, kecintaan Umar  ibn’l-Khattab kepadanya  makin  besar Juga Fatimah, puterinya, dikawinkannya dengan  sepupunya,  Ali  (b.  Abi  Talib),  orang  yang  sejak kecilnya  sangat  cinta  dan  ikhlas  kepada Nabi. Oleh karena Ruqayya,  puterinya,  telah  berpulang  ke  rahmatullah,  maka sesudah  itu  Usman  b.  ‘Affan dikawinkannya kepada puterinya yang seorang lagi, Umm Kulthum.

Dengan demikian, ia diperkuat  lagi  oleh  pertalian  keluarga semenda  dengan  Abu  Bakr, Umar, Usman dan Ali. Ini merupakan gabungan  empat  orang  kuat   dalam   Islam   yang   sekarang mendampinginya, bahkan yang terkuat. Dengan ini kekuatan dalam tubuh kaum Muslimin makin mendapat jaminan  lagi.  Di  samping itu  rampasan  perang yang mereka peroleh dalam peperangan itu menambah pula keberanian mereka bertempur, yang juga merupakan gabungan  antara berjuang di jalan Allah dan mendapat rampasan perang dari orang-orang musyrik.

Dalam pada itu, berita-berita serta segala  persiapan  Quraisy selalu  diikuti dengan saksama dan sangat teliti sekali. Pihak Quraisy  sendiri  memang  sudah  mengadakan  persiapan  hendak menuntut  balas,  dan  membuka  jalan  perdagangannya ke Syam;

supaya dari segi perdagangan dan segi  keagamaannya  kedudukan Mekah   jangan   sampai   meluncur   jatuh  tidak  lagi  dapat mempertahankan diri.

Catatan kaki:

1 Perlu dijelaskan disini   kalau dasar centa ini benar  bahwa peristiwa itu bukanlah atas perintah Nabi, seperti ada orang mengira demikian. Tetapi mereka telah  mengambil tindakan sendiri, seperti kata Haekal. Jiwa  dan akhlak Nabi jauh lebih tinggi daripada akan  melakukan kekerasan. Dalam peperanganpun melarang membunuh orang berusia lanjut, anak-anak, wanita, sekalipun yang ikut aktif. Peristiwa Hindun bt. ‘Utba dalam perang Uhud, wanita Yahudi yang meracun Nabi dan penyair Abu ‘Azza, adalah dari sekian banyak contoh. Malah kemudian mereka dimaafkan. Yang perlu kita ketahui  juga, bahwa ‘Umaõr b. ‘Auf adalah satu kabilah dengan suami ‘Ashma,’ yakni dari Khatma, demikian juga Abu ‘Afak masih sekabilah dengan Salim, yakni dari Banu ‘Amr b. ‘Auf, dengan motif yang hampir sama (A).

2 Sejenis tepung jelai atau gandum (A).

Sumber: S E J A R A H    H I D U P    M U H A M M A D

oleh MUHAMMAD HUSAIN HAEKAL diterjemahkan dari bahasa Arab oleh Ali Audah

Penerbit PUSTAKA JAYA Jln. Kramat II, No. 31 A, Jakarta Pusat Cetakan Kelima, 1980

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: