MEMBANGUN KHAZANAH ILMU DAN PENDIDIKAN

Belajar itu adalah perobahan …….

Satuan dan bentrokan kecil seb. Pristiwa Badar.(bagian kedua).

Posted by Bustamam Ismail on August 25, 2010

Tipu-daya  inilah  yang  sudah  terjadi.  Dan  terjadinya  ini terhadap orang semacam Hamzah, orang yang cepat  marah.  Untuk menghentikan  pertempuran tidak cukup hanya dengan perantaraan seorang pemisah yang mengajak berdamai padahal  belum  terjadi suatu  kontak senjata. Kemudian berhentinya pertempuran itupun dengan terhormat, dengan  suatu  siasat  yang  sudah  teratur, dengan  taktik  yang  jelas  bermaksud  mencapai tujuan-tujuan tertentu, yakni seperti yang sudah kita sebutkan –  dari  satu segi  guna  menakut-nakuti  pihak  Yahudi,  dan dari segi lain suatu usaha ke arah persetujuan  dengan  pihak  Quraisy  untuk memberikan kebebasan yang penuh dalam menjalankan dakwah agama serta upacara-upacara keagamaan, yang sebenarnya memang  tidak perlu sampai terjadi perang.

Akan  tetapi  ini  tidak  berarti,  bahwa Islam menolak perang dalam hal membela diri dan membela  keyakinan  terhadap  siapa saja  yang  hendak  memperdayanya.  Sekali-kali  tidak. Bahkan Islam mewajibkan pembelaan demikian ini. Tetapi artinya, Islam masa  itu,  juga  sekarang  dan  demikian  pula seterusnya, ia menolak perang permusuhan.

Dan janganlah kamu melakukan pelanggaran (agresi) sebab Allah tidak  menyukai  orang-orang yang melakukan pelanggaran.” (Qur an, 2: 190)

Apabila kepada Muhajirin pada waktu  itu  dibenarkan  menuntut harta-benda  mereka  yang  telah  ditahan  oleh Quraisy ketika mereka hijrah,  maka  membela  orang-orang  beriman  yang  mau diperdaya dari agama mereka lebih-lebih lagi dibenarkan. Untuk maksud inilah pertama sekali hukum perang itu diundangkan.

Bukti terhadap hal ini ialah adanya ayat-ayat yang  diturunkan sehubungan dengan satuan Abdullah ibn Jahsy. Dalam bulan Rajab tahun itu ia dikirimkan oleh Rasulullah bersama-sama  beberapa orang  Muhajirin, dan sepucuk surat diberikan kepadanya dengan perintah  untuk  tidak  dibuka  sebelum  mencapai   dua   hari perjalanan. Ia menjalankan perintah itu. Kawan-kawannyapun tak ada yang dipaksanya. Dua hari kemudian Abdullah membuka  surat itu,  yang  berbunyi: “Kalau sudah kaubaca surat ini, teruskan perjalananmu sampai ke Nakhla (antara  Mekah  dan  Ta’if)  dan awasi keadaan mereka. Kemudian beritahukan kepada kami.”

Disampaikannya  hal  ini  kepada  kawan-kawannya dan bahwa dia tidak  memaksa  siapapun.  Kemudian  mereka  semua   berangkat meneruskan  perjalanan,  kecuali  Said  b.  Abi  Waqqash (Banu Zuhra) dan ‘Utba b.  Ghazwan  yang  ketika  itu  sedang  pergi mencari untanya yang sesat tapi oleh pihak Quraisy mereka lalu ditawan.

Sekarang  Abdullah  dan  rombongannya  meneruskan   perjalanan sampai  ke  Nakhla.  Di  tempat  inilah  mereka bertemu dengan kafilah Quraisy yang dipimpin oleh ‘Amr bin’l-Hadzrami  dengan membawa   barang-barang   dagangan.  Waktu  itu  akhir  Rajab. Teringat oleh Abdullah b. Jahsy dan rombongannya dari kalangan Muhajirin  akan  perbuatan  Quraisy  dahulu  serta harta-benda mereka yang telah  dirampas.  Mereka  berunding.  “Kalau  kita biarkan  mereka  malam  ini mereka akan sampai di Mekah dengan bersenang-senang. Tapi kalau mereka kita gempur, berarti  kita menyerang dalam bulan suci,2” kata mereka.

Mereka   maju-mundur,  masih  takut-takut  akan  maju.  Tetapi kemudian mereka memberanikan diri dan sepakat akan  bertempur, siapa  saja  yang  mampu  dan mengambil apa saja yang ada pada mereka.  Salah  seorang  anggota  rombongan   itu   melepaskan panahnya dan mengenai ‘Amr bin’l-Hadzrami yang kemudian tewas. Kaum Muslimin menawan dua orang dari Quraisy.

Sesampainya di Medinah Abdullah b. Jahsy membawa  kafilah  dan kedua  orang  tawanannya  itu  kepada Rasul, dan kelima barang rampasan itu diserahkan mereka kepada Muhammad. Tetapi setelah melihat  mereka  ini ia berkata, “Aku tidak memerintahkan kamu berperang dalam bulan suci.”

Kafilah dan kedua tawanan itu ditolaknya. Samasekali ia  tidak mau  menerima.  Abdullah  b.  Jahsy  dan teman-temannya merasa kebingungan sekali. Teman-teman sejawat mereka  dari  kalangan Musliminpun sangat menyalahkan tindakan mereka itu. Kesempatan    ini    oleh   Quraisy   sekarang   dipergunakan.

Disebarkannya provokasi kesegenap penjuru, bahwa Muhammad  dan kawan-kawannya  telah melanggar bulan suci, menumpahkan darah, merampas harta-benda dan menawan orang. Karena itu orang-orang Islam   yang   berada   di   Mekahpun   lalu  menjawab,  bahwa saudara-saudara mereka seagama yang  kini  hijrah  ke  Medinah melakukan  itu  dalam  bulan  Sya’ban. Lalu datang orang-orang Yahudi turut mengobarkan  api  fitnah.  Ketika  itulah  datang firman Tuhan:

“Mereka  bertanya  kepadamu  tentang  perang dalam bulan suci. Katakanlah:  “Perang  selama  itu  adalah  soal  (pelanggaran) besar.   Tetapi   menghalangi   orang  dari  jalan  Allah  dan mengingkari-Nya, menghalangi orang memasuki  Mesjid  Suci  dan mengusir   orang   dari   sana,   bagi   Allah   lebih   besar (pelanggarannya). Fitnah itu lebih besar dan  pembunuhan.  Dan mereka  akan  tetap  memerangi  kamu,  sampai  mereka berhasil memalingkan kamu dari agamamu, kalau mereka sanggup.” (Qur’an, 2: 217)

Dengan  adanya  keterangan  Qur’an  dalam  soal  ini hati kaum Muslimin merasa lega kembali. Penyelesaian kafilah  dan  kedua orang  tawanan  itu  kini  di  tangan Nabi, yang kemudian oleh Quraisy akan ditebus kembali. Tetapi kata Nabi:

“Kami takkan menerima penebusan kamu,  sebelum  kedua  sahabat kami  kembali  –  yakni  Sa’d  b.  Abi  Waqqash  dan ‘Utba ibn Ghazwan. Kami kuatirkan mereka  di  tangan  kamu.  Kalau  kamu bunuh mereka, kawan-kawanmu inipun akan kami bunuh.”

Setelah  Said  dan  ‘Utba  kembali,  Nabi mau menerima tebusan kedua tawanan itu.  Tapi  salah  seorang  dari  mereka,  yaitu Al-Hakam  b. Kaisan masuk Islam dan tinggal di Medinah, sedang yang seorang lagi kembali kepada kepercayaan nenek-moyangnya.

Pasukan Abdullah b. Jahsy ini dan ayat  suci  yang  diturunkan karenanya itu, patut sekali kita pelajari. Menurut hemat kami, ini adalah  suatu  persimpangan  jalan  dalam  politik  Islam.

Kejadian  ini  merupakan  peristiwa  baru, yang memperlihatkan adanya jiwa yang kuat dan luhur, suatu kekuatan yang  bersifat insani,  meliputi  seluk-beluk  kehidupan  material, moral dan spiritual. Ia begitu kuat dan  luhur  dalam  tujuannya  hendak mencapai  kesempurnaan. Quran memberikan jawaban kepada mereka yang ikut bertanya tentang perang dalam bulan suci: adalah itu termasuk pelanggaran-pelanggaran besar, yang diiakan bahwa itu memang masalah besar. Tetapi ada yang lebih  besar  dari  itu.

Menghalangi  orang  dari  jalan  Allah  serta  mengingkari-Nya adalah lebih besar dari  perang  dan  pembunuhan  dalam  bulan suci,  dan memaksa orang meninggalkan agamanya dengan ancaman, dengan bujukan atau  kekerasan  adalah  lebih  besar  daripadi membunuh  orang  dalam bulan suci atau bukan dalam bulan suci.

Orang-orang musyrik dan Quraisy yang  telah  menyalahkan  kaum Muslimin  karena  mereka  melakukan  perang  dalam  bulan suci mereka akan selalu memerangi umat Islam supaya berpaling  dari agamanya  bila  mereka  sanggup.  Apabila  pihak  Quraisy  dan orang-orang  musyrik  itu   semua       melakukan pelanggaran-pelanggaran ini,  menghalangi  orang  dari  jalan Allah dan mengingkariNya,  apabila  mereka  ternyata  mengusir orang  dari  Mesjid  Suci,  memperdayakan orang dari agamanya, maka jangan disalahkan orang yang  menjadi  korban  penindasan dan  pelanggaran itu bila ia juga memerangi mereka dalam bulan suci. Tetapi bagi orang yang tidak mengalami beban penderitaan ini,   melakukan   perang   dalam   bulan  suci  memang  suatu pelanggaran.

Fitnah itu lebih besar dari pembunuhan. Memang  benar.  Bahkan barangsiapa melihat orang lain mencoba membujuk atau memfitnah orang dari agamanya atau mengalangi dari jalan Allah ia  harus berjuang  demi  Allah  melawan  fitnah  itu sampai agama dapat diselamatkan. Di sinilah  kalangan  Orientalis  dan  misi-misi penginjil   itu   mengangkat   suara   keras-keras:   Lihatlah tuan-tuan!  Muhammad  dan  agamanya  itu  menganjurkan   orang berperang dan berjuang demi Allah (aljihad fi sabilillah) atau

memaksa orang masuk Islam dengan  pedang.  Bukankah  ini  yang namanya  fanatik?  Sedang  agama Kristen tidak mengenal adanya peperangan dan membenci perang. Sebaliknya malah  menganjurkan toleransi, memperkuat tali persaudaraan antara sesama manusia, untuk Tuhan dan untuk Jesus.

Sebenarnya saya tidak ingin berdebat dengan mereka, kalau saya mengutip sebuah kalimat saja dalam Injil: “Bukannya Aku datang membawa keamanan, melainkan pedang” dan seterusnya juga  tidak tentang  arti  yang  terkandung  dalam  kalimat tersebut. Umat Islam mengakui agama Isa itu seperti  sudah  disebutkan  dalam Qur’an.  Tetapi  yang  terutama  perlu  saya  sampaikan  ialah menjawab kata-kata mereka: Muhammad dan agamanya  menganjurkan perang dan memaksa orang masuk Islam dengan pedang. Ini adalah suatu kebohongan yang ditolak oleh Qur’an:

“Tak ada pemaksaan dalam agama. Sudah jelas  mana  jalan  yang benar, mana yang salah.” (Qur’an, 2: 256)

“Berjuanglah  kamu  untuk  Allah melawan mereka yang memerangi kamu. Tetapi janganlah  kamu  melakukan  pelanggaran  (agresi) sebab   Allah   tidak   menyukai  orang-orang  yang  melakukan pelanggaran .” (Qur’an, 2: 190)

Dan masih banyak ayat-ayat lain selain dari  kedua  ayat  suci tersebut. Dalam arti yang sebenarnya, berjuang demi Allah, ialah seperti disebutkan dalam ayat-ayat yang kita kutip tadi dan yang turun sehubungan  dengan  pasukan Abdullah b. Jahsy, yaitu memerangi mereka  yang  membuat  fitnah  dan  membujuk  si  Muslim  dari agamanya  atau  mengalanginya  dari  jalan Allah. Perang dalam arti untuk kebebasan berdakwah agama. Atau  dengan  kata  lain menurut  bahasa  sekarang:  Mempertahankan idea dengan senjata yang dipergunakan oleh pihak yang memerangi idea itu.  Apabila ada  seseorang  yang  hendak  membujuk orang lain dengan jalan propaganda dan  logika  tanpa  memaksanya  dengan  atau  tanpa kekerasan   melalui  cara-cara  suap-menyuap  atau  penyiksaan dengan maksud supaya orang itu meninggalkan ideanya  –    maka sudah   tentu  ia  akan  menghadapi  orang  itu  dengan  jalan menggugurkan argumen dan logikanya tadi.

Tetapi, apabila dalam usahanya menghadapi  orang  dan  ideanya itu  ia  menggunakan  kekerasan senjata maka kekerasan senjata itupun harus  dilawan  dengan  kekerasan  senjata  pula,  bila memang  mampu  ia  berbuat  begitu. Tidak lain sebabnya ialah, karena harga diri manusia itu tersimpul  hanya  dalam  sepatah kata  saja, yaitu: akidahnya. Akidah itu lebih berharga – bagi orang  yang  mengenal  arti  kemanusiaan  –  daripada   harta, daripada  kekayaan,  kekuasaan  dan daripada hidupnya sendiri; hidup materi yang sama-sama dimiliki oleh manusia  dan  hewan, sama-sama  makan  dan  minum,  mengalami pertumbuhan tubuh dan enersi. Akidah adalah suatu komunikasi  moral  antara  manusia dengan  manusia,  dan  komunikasi rohani antara manusia dengan Tuhan. Nasib inilah yang  telah  memberikan  kelebihan  kepada manusia di atas makhluk lain dalam hidup ini, yang membuat dia mencintai sesamanya  seperti  mencintai  dirinya  sendiri.  Ia mengutamakan orang yang hidup sengsara, hidup miskin dan tidak punya, daripada keluarganya sendiri, meskipun keluarganya  itu

sedang  dalam kekurangan. Ia mengadakan komunikasi dengan alam semesta   supaya   bekerja   secara   tekun,   supaya    dapat mengantarkannya  kepada  kesempurnaan hidup seperti yang sudah diberikan Tuhan kepadanya

Apabila akidah yang semacam ini yang ada  pada  manusia,  lalu ada  orang  lain  yang mau membuat fitnah, mau menceraikannya, sedang dia tak dapat membela diri, ia  harus  berbuat  seperti dilakukan  orang-orang  Islam  dulu  sebelum  mereka hijrah ke

Medinah.  Dideritanya  segala  perbuatan   kejam   dan   serba kekerasan    itu,    dihadapinya    segala    penghinaan   dan ketidakadilan, dengan hati yang tabah. Rasa  lapar  dan  serba kekurangan  yang  bagaimanapun  juga  tidak sampai menghalangi semangatnya berperang terus pada akidahnya.

Inilah yang telah dilakukan oleh orang-orang Islam dahulu, dan ini pula yang telah dilakukan oleh orang-orang Kristen dahulu.

Akan  tetapi  mereka  yang  tabah  mempertahankan  akidah  itu bukanlah   orang-orang   kebanyakan.   Mereka   terdiri   dari manusia-manusia terpilih, yang telah diberi kekuatan iman oleh Tuhan, sehingga karenanya akan terasa kecil segala siksaan dan

kekejaman   yang   dialaminya,  sehingga  dapat  ia  meratakan gunung-gunung, dan apa yang dikatakannya kepada gunung  supaya pindah  dari  tempatnya, gunung itu akan pindah – seperti kata Injil juga. Tetapi jika orang menangkis fitnah dengan  senjata

yang  dipakai  membuat fitnah itu dan dapat menolak pihak yang akan  menghalanginya  dari  jalan  Allah  dengan   cara   yang dipakainya  itu pula, maka orang itu harus melakukannya. Kalau tidak ini berarti, akidahnya  masih  goyah,  imannyapun  masih lemah. Inilah    yang    telah    dilakukan    oleh    Muhammad   dan sahabat-sahabatnya setelah keadaannya di Medinah mulai stabil.

Dan  ini  pula  yang  telah dilakukan oleh orang-orang Kristen setelah kekuasaan mereka di  Rumawi  dan  Rumawi  Timur  mulai stabil,  dan  sesudah  hati maharaja-maharaja Rumawi itu mulai pula lunak terhadap agama Kristen.

Misi-misi penginjil  itu  berkata:  Tetapi  jiwa  Kristen  itu secara  mutlak  menjauhkan  diri dari peperangan. Di sini saya tidak bermaksud membahas benar tidaknya  kata-kata  itu.  Akan tetapi  di  hadapan  kita  sejarah  Kristen  adalah saksi yang jujur, juga di hadapan kita sejarah Islam  adalah  saksi  yang jujur  pula.  Sejak  masa  permulaan agama Kristen hingga masa kita sekarang ini seluruh penjuru bumi telah berlumuran  darah atas  nama  Almasih. Telah dilumuri oleh Rumawi, dilumuri oleh bangsa-bangsa Eropa semua. Perang-perang Salib terjadi  karena dikobarkan  oleh  orang-orang Kristen, bukan oleh orang Islam. Mengalirnya pasukanpasukan tentara sejak  ratusan  tahun  dari Eropa  menuju  daerah-daerah  Islam di Timur, adalah atas nama Salib: peperangan, pembunuhan, pertumpahan darah.  Dan  setiap kali,  paus-paus  sebagai  pengganti Jesus, memberi berkah dan restu kepada pasukan-pasukan tentara itu, yang  bergerak  maju hendak  menguasai  Bait’l-Maqdis (Yerusalem) dan tempat-tempat suci Kristen lainnya.

Adakah barangkali paus-paus itu semua orang-orang  yang  sudah menyimpang  dari agamanya (heretik) ataukah kekristenan mereka itu yang palsu? Ataukah juga karena mereka itu pembual-pembual yang bodoh, tidak mengetahui bahwa agama Kristen secara mutlak menjauhkan diri dari perang? Atau  akan  berkata:  Itu  adalah Abad Pertengahan, abad kegelapan; janganlah agama Kristen juga yang diprotes. Kalau itu juga yang kadang mereka katakan, maka abad  keduapuluh  ini,  masa  kita hidup sekarang inipun, yang biasa disebut abad kemajuan dan humanisma  –  toh  dunia  juga

telah  mengalami  nasib  seperti  yang  dialami oleh Abad-abad Pertengahan yang gelap itu. Sebagai wakil Sekutu  –  Inggeris, Perancis,  Itali,  Rumania dan Amerika Lord Allenby berkata di Yerusalem, pada penutup Perang Dunia Pertama, ketika kota  itu didudukinya  dalam  tahun  1918:  “Sekarang Perang Salib sudah selesai.”

Apabila di kalangan orang-orang Kristen ada  orang-orang  suci yang dalam berbagai zaman menolak adanya perang dan dalam arti persaudaraan insani mereka telah  mencapai  puncaknya,  bahkan persaudaraannya  dengan  unsur-unsur  alam  semesta,  maka  di kalangan kaum Muslimin juga ada orang-orang suci, yang jiwanya

sudah  begitu  luhur.  Mereka mengadakan komunikasi dalam arti persaudaraan, kasih-sayang dan  emanasi  dengan  alam  semesta ini,  dengan  jiwa  yang  sudah sarat oleh pengertian kesatuan wujud. Tetapi  orang-orang  suci  itu  –  baik  dari  kalangan Kristen  atau  Islam  –  kalaupun  mereka  sudah  mencerminkan cita-cita  yang  luhur,  namun  mereka  tidak   menterjemahkan kehidupan  insani  dalam  perkembangannya  yang  terus-menerus serta  dalam  perjuangannya   mencapai   kesempurnaan,   yakni kesempurnaan  yang  hendak  kita  coba  mencerminkannya.  Lalu pikiran kita terhenti, imajinasi kita  terhenti,  tanpa  dapat kita  pahami  seteliti-telitinya, meskipun dalam menggambarkan itu kita sudah  cukup  mengambil  risiko  sebagai  pendahuluan usaha kita kearah itu.

Dan  kini  sudah lampau masa seribu tiga ratus limapuluh tujuh tahun sejak hijrahnya Nabi dari Mekah ke Yathrib  itu.  Tetapi meskipun  begitu dalam berbagai zaman manusia makin hebat juga berlumba-lumba  melakukan  perang,   membuat   senjata-senjata jahanam  dan  fatal.  Kata-kata  mencegah  perang, penghapusan persenjataan dan menunjuk badan arbitrasi,  tidak  lebih  dari kata-kata  yang  biasa  diucapkan  pada setiap selesai perang, waktu bangsa-bangsa  sedang  mengalami  kehancuran.  Atau  ini hanya  serangkaian propaganda yang dilontarkan ketengah-tengah kehidupan oleh orang-orang yang sampai sekarang belum mampu  – dan siapa tahu barangkali takkan pernah mampu – mewujudkan hal ini, mewujudkan perdamaian yang sebenarnya, perdamaian  dengan rasa  persaudaraan dan rasa keadilan, sebagai ganti perdamaian

bersenjata, sebagai lambang perang yang akan mengantarkan kita kepada kehancuran.

Islam  bukan  agama  ilusi  dan  khayal, juga bukan agama yang terbatas mengajak individu saja  mencapai  kesempurnaan,  tapi Islam  adalah  agama  kodrat (fitrah), yang dengan itu seluruh umat manusia, dalam arti individu dan masyarakat, dikodratkan. Ia  adalah agama yang didasarkan pada kebenaran, kebebasan dan tata-tertib. Dan oleh  karena  perang  adalah  kodrat  manusia juga, maka membersihkan atau mengoreksi pikiran tentang perang dalam  jiwa  kita  lalu  menempatkannya  kedalam   batas-batas kemampuan  manusia  yang  maksimal,  adalah  cara yang mungkin dapat  dicapai  oleh  kodrat  manusia  itu,  dan   yang   akan melahirkan  kelangsungan  evolusi  hidup  umat  manusia  dalam mencapai kebaikan dan kesempurnaannya.

Koreksi atas  konsepsi  perang  ini  yang  paling  baik  ialah hendaknya  jangan  sampai terjadi perang kecuali untuk membela diri, membela keyakinan dan kebebasan berpikir serta  berusaha kearah  itu.  Hendaknya  rasa  harga  diri umat manusia secara integral benar-benar dipelihara.

Inilah yang sudah. menjadi ketentuan Islam seperti yang  sudah kita  lihat  dan  yang akan kita lihat nanti. Ini pulalah yang digariskan oleh Qur’an seperti yang sudah dan yang  akan  kita kemukakan  kepada  pembaca  mengenai peristiwa-peristiwa serta hubungannya maka Qur’an itu diturunkan.

Catatan kaki:

1 sariya suatu pasukan pilihan dalam satuan tentara,   paling banyak 400 orang.

2 Harfiah, asy-syahr’l-haram, bulan terlarang, bulan   suci, yakni dilarang mengadakan peperangan menurut adat Arab, yang berlaku selama bulan-bulan Zulkaidah, Zulhijah, dan Muharam, juga dalam bulan Rajab (A).

Sumber : S E J A R A H    H I D U P    M U H A M M A D

oleh MUHAMMAD HUSAIN HAEKAL diterjemahkan dari bahasa Arab oleh Ali Audah

Penerbit PUSTAKA JAYA Jln. Kramat II, No. 31 A, Jakarta Pusat Cetakan Kelima, 1980

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: