MEMBANGUN KHAZANAH ILMU DAN PENDIDIKAN

Belajar itu adalah perobahan …….

Satuan dan bentrokan kecil seb. Pristiwa Badar.

Posted by Bustamam Ismail on August 24, 2010

SESUDAH hijrah  beberapa  bulan  keadaan  kaum  Muslimin  yang tinggal di Medinah sudah pula stabil. Sekarang kerinduan pihak Muhajirin ke Mekah terasa  makin  bertambah  adanya.  Terpikir oleh  mereka  siapa-siapa  dan apa saja yang mereka tinggalkan itu, serta betapa pula pihak  Quraisy  menyiksa  mereka  dulu? Tetapi  sungguhpun  begitu,  gerangan  apa  yang  harus mereka lakukan?  Banyak  penulis-penulis  sejarah  yang  berpendapat, bahwa  mereka  – dan terutama Muhammad – telah memikirkan akanmengadakan balas-dendam terhadap Quraisy serta  mulai  membuka

permusuhan   dan  akan  mengadakan  perang.  Bahkan  ada  yang berpendapat,  bahwa  sejak  mereka  sampai  di  Medinah   niat mengadakan  perang ini sudah terpikir oleh mereka. Hanya saja, yang masih menunda mereka mencetuskan api peperangan itu ialah karena  mereka  masih  sibuk  menyiapkan tempat-tempat tinggal serta mengatur segala keperluan hidup mereka. Sebagian  mereka mengemukakan alasan ini ialah karena Muhammad sudah mengadakan Ikrar Aqaba kedua yang justru untuk memerangi siapa saja.  Dan sudah  wajar pula apabila ia dan sahabat-sahabatnya menjadikan Quraisy sebagai sasaran pertama, suatu hal yang telah  membuat pihak  Quraisy  segera menyadari akibat perjanjian ‘Aqaba itu.

Dalam ketakutan itu mereka pergi menanyakan  Aus  dan  Khazraj tentang dia. Mereka  memperkuat  pendapat ini dengan apa yang telah terjadi delapan bulan sesudah Rasul  dan  para  Muhajirin  tinggal  di Medinah,  yaitu ketika Muhammad mengirimkan pamannya Hamzah b. Abd’l-Muttalib ke tepi  laut  (Laut  Merah)  di  sekitar  ‘Ish dengan  membawa  30  orang  pasukan yang terdiri dari kalangan Muhajirin tanpa orang-orang Anshar. Di tempat ini  ia  bertemu dengan  Abu  Jahl  b.  Hisyam dengan 300 orang pasukan terdiri dari  penduduk  Mekah;  dan  bahwa  Hamzah  sudah  siap   akan memerangi  Quraisy  tapi  lalu dilerai oleh Majdi b. ‘Amr yang bertindak sebagai pendamai kedua  belah  pihak.  Masing-masing kelompok  itu lalu bubar tanpa terjadi suatu pertempuran. Juga ketika Muhammad mengirimkan  ‘Ubaida  bin’l-Harith  dengan  60 orang pasukan terdiri dari kaum Muhajirin tanpa Anshar. Mereka pergi menuju ke suatu tempat air di Hijaz, yang  disebut  Wadi Rabigh.  Disini  mereka  bertemu  dengan kelompok Quraisy yang terdiri dari 200 orang dipimpin oleh Abu Sufyan. Tetapi mereka

bubar   juga   tanpa   suatu  pertempuran;  kecuali  apa  yang diceritakan orang, bahwa Said b. Abi Waqqash ketika itu  telah melepaskan  anak  panahnya, “dan itu adalah anak panah pertama dilepaskan dalam  Islam.”  Demikianlah  ketika  Said  bin  Abi Waqqash  dikirim  ke  daerah  Hijaz  dengan  membawa  8  orang Muhajirin menurut satu sumber atau  20  orang  menurut  sumber yang  lain.  Kemudian  mereka  kembali  karena  tidak  bertemu siapa-siapa.

Alasan mereka ini  mereka  perkuat  lagi  dengan  menyebutkan, bahwa  Nabi  telah  berangkat  sendiri  sesudah duabelas bulan tinggal di Medinah, dengan menyerahkan  pimpinan  kota  kepada Sa’d  b.  ‘Ubada. Ia pergi ke Abwa’,. Sesampainya di Waddan ia

bermaksud mencari Quraisy  dan  Banu  Dzamra;  tetapi  Quraisy tidak dijumpainya. Lalu ia mengadakan persekutuan dengan pihak Banu  Dzamra;  bahwa  sebulan  sesudah  itu  ia   pergi   lagi mengepalai  200 orang dari Muhajirin dan Anshar – menuju Buwat dengan sasaran sebuah kafilah yang  dipimpin  o]eh  Umayya  b. Khalaf  yang  terdiri  dari  2.500  ekor unta dikawal oleh 100 orang pasukan perang. Tapi  juga  sudah  tidak  bertemu  lagi, sebab  mereka sudah mengambil haluan lain, bukan jalan kafilah

yang sudah diratakan; dan bahwa dua atau tiga bulan sesudah ia kembali  dari  Buwat  di bilangan Radzwa setelah pimpinan Kota Medinah  diserahkan  kepada  Abu  Salama  b.  Abd’l-Asad,   ia berangkat  lagi  memimpin  kaum Muslimin yang terdiri dari dua ratus orang lebih sampai di ‘Usyaira di pedalaman Yanbu’.  Ia tinggal  disana  selama  bulan Jumadil Awal dan beberapa malam dalam bulan Jumadil Akhir tahun kedua Hijrah (Oktober 623  M.) sambil menunggu kafilah Quraisy yang dikepalai oleh Abu Sufyan lewat.  Tetapi  ternyata  mereka  sudah   tidak   ada.   Dalam perjalanan   ini   ia  berhasil  dapat  mengadakan  perjanjian perdamaian dengan Banu Mudlij serta sekutu-sekutunya dari Banu Dzamra;  dan  bahwa  begitu ia kembali dan akan tinggal selama

sepuluh  hari  lagi  di  Medinah,  tiba-tiba  Kurz  b.   Jabir al-Fihri,  orang  yang punya hubungan dengan orang-orang Mekah dan Quraisy, datang ke  Medinah  merampok  sejumlah  unta  dan kambing. Nabi pergi mencarinya dan pimpinan Medinah diserahkan

kepada Zaid b. Haritha. Diikutinya orang itu hingga sampai  ia di  suatu  lembah  yang disebut Safawan di daerah Badr. Tetapi Kurz sudah menghilang.

Inilah yang disebut  oleh  penulis-penulis  sejarah  Nabi  itu dengan sebutan Perang Badr Pertama.

Bukankah  semua  peristiwa  ini  sudah  dapat dijadikan bukti, bahwa kaum Muhajirin – dan terutama Muhammad  –  memang  sudah memikirkan  akan  membalas dendam terhadap Quraisy dan memulai mengadakan permusuhan dan melakukan perang? Setidak-tidaknya – menurut pikiran ahli-ahli sejarah itu – ini membuktikan, bahwa dengan  mengirimkan  satuan-satuan   dan   ekspedisi-ekspedisi pendahuluan itu tujuan mereka adalah dua:

Pertama,   mengadakan   pencegatan   terhadap  kafilah-kafilah Quraisy dalam perjalanan mereka ke Syam atau sekembalinya dari sana  dalam  perjalanan  musim  panas,  dengan sedapat mungkin merenggut harta yang dibawa pergi atau barang-barang  dagangan yang akan dibawa pulang oleh kafilah-kafilah itu.

Kedua,  mengambil  jalur  kafilah Qusaisy dalam perjalannya ke Syam  itu  dengan   jalan   mengadakan   perjanjian-perjanjian perdamaian  serta persekutuan dengan kabilah-kabilah sepanjang jalan Medinah-Pantai Laut  Merah.  Hal  ini  akan  mempermudah pihak  Muhajirin  melakukan  serangan terhadap kafilah-kafilah Quraisy itu, tanpa ada sesuatu apa yang akan dapat  melindungi mereka  dari Muhammad dan sahabat-sahabatnya, sebagai tetangga kabilah-kabilah tersebut, yaitu suatu perlindungan  yang  akan mencegah  kaum  Muslimin – selaku pihak yang berkuasa dan kuat -bertindak terhadap orang-orang dan  harta-benda  mereka  itu.

Adanya   satuan-satuan   yang   oleh   Nabi  a.s.  pimpinannya diserahkan masing-masing kepada Hamzah,  ‘Ubaida  bin’l-Harith dan Sa’d b. Abi Waqqash, demikian juga persekutuan-persekutuan yang telah diadakan  dengan  Banu  Dzamra,  Banu  Mudlij,  dan lain-lain,  memperkuat  maksud  tujuan kedua tadi, begitu juga pengambilan jalan penduduk  Mekah  ke  Syam  membuktikan  pula sebagian tujuan kaum Muslimin itu.

Bahwa  dengan  adanya satuan-satuan (sariya) yang dimulai enam bulan sesudah mereka tinggal di Medinah dan yang hanya diikuti oleh  pihak  Muhajirin saja tujuannya hendak memerangi Quraisy dan menyerbu kafilah-kafilah mereka, ini  akan  membuat  orang jadi  sangsi  dan  harus  berpikir  lagi. Pasukan Hamzah tidak lebih dari 30 orang  dari  Muhajirin,  pasukan  ‘Ubaida  tidak lebih  dari  60 orang, demikian juga pasukan Sa’d yang menurut suatu sumber 8 orang, dan menurut sumber yang lain  20  orang.

Sedang  petugas-petugas  yang mengawal kafilah-kafilah Quraisy biasanya berlipat ganda jumlahnya. Sejak Muhammad  tinggal  di Medinah    dan    mulai    mengadakan    persekutuan    dengan kabilah-kabilah  setempat  dan   dengan   daerah-daerah   yang

berdekatan,  pihak Quraisy makin memperbanyak jumlah orang dan perlengkapannya. Baik Hamzah, ‘Ubaida ataupun Sa’d,  betapapun keberanian  mereka itu sebagai kepala satuan-satuan Muhajirin, namun persiapan yang  ada  pada  mereka  tidak  cukup  member semangat  untuk  melakukan  perang.  Bagi  mereka  ini  semua, kiranya  cukup  dengan  menakut-nakuti  Quraisy  saja,   tanpa mengadakan  perang;  kecuali  apa yang dilakukan orang tentang anak panah, yang pernah dilepaskan Sa’d itu.

Disamping  itu  kafilah-kafilah  Quraisy  ini   dikawal   oleh penduduk  Mekah  yang  mempunyai  hubungan darah dan pertalian kerabat dengan sebagian besar kaum Muhajirin. Jadi tidak mudah bagi  mereka  itu  mau  saling  bunuh, atau satu sama lain mau melakukan balas dendam, atau akan melibatkan Mekah dan Medinah bersama-sama  ke  dalam  suatu  perang saudara, suatu hal yang selama tiga belas tahun terus-menerus,  dari  mulai  kerasulan Muhammad  sampai  pada  waktu  hijrahnya,  kaum  Muslimin  dan orang-orang  pagan  di  Mekah  sudah   mampu   menghindarinya.

Orang-orang Islam itu sudah mengetahui bahwa Ikrar ‘Aqaba dulu itu adalah ikrar pertahanan (defensif), pihak Aus dan  Khazraj sama-sama  berjanji  akan  melindungi  Muhammad.  Mereka tidak pernah memberikan janji kepadanya atau  kepada  siapapun  dari sahabat-sahabatnya   bahwa   mereka  akan  melakukan  tindakan permusuhan (agresi).

Sungguhpun  sudah  begitu,  memang  tidak  mudah  orang   akan menyerah  begitu  saja  kepada  ahli-ahli  sejarah, yang dalam penulisan sejarah hidup Nabi yang baru dimulai hampir dua abad kemudian  sesudah wafatnya itu mengatakan, bahwa satuan-satuan dan perjalanan-perualanan yang mula-mula itu tujuannya  memang sengaja  hendak  melakukan  perang. Oleh karena itu, dalam hal ini seharusnya ada suatu penafsiran yang lebih dekat  diterima akal dan sesuai pula dengan politik kaum Muslimin pada periode mula-mula mereka berada di Medinah, serta sejalan pula  dengan kebijaksanaan   Rasul  yang  pada  masa  itu  didasarkan  pada prinsip-prinsip  persetujuan  dan  saling  pengertian   dengan pelbagai  macam  kabilah;  di  satu pihak guna menjamin adanya kebebasan melakukan dakwah agama, di pihak lain guna  menjamin adanya kerja sama yang baik dan bertetangga baik.

Menurut  hemat  saya  adanya  satuan-satuan yang mula-mula ini tidak lain maksudnya  supaya  pihak  Quraisy  mengerti,  bahwa kepentingan  mereka sebenarnya bergantung kepada adanya saling pengertian dengan  pihak  Muslimin  yang  juga  dari  keluarga mereka,   yang   telah  terpaksa  keluar  dari  Mekah,  karena mengalami tekanan-tekanan. Pengertian ini berarti bahwa  kedua belah  pihak  harus  menghindari adanya bencana permusuhan dan kebencian serta menjamin bagi  pihak  Islam  adanya  kebebasan menjalankan   dakwah   agama,  dan  bagi  pihak  Mekah  adanya keselamatan   dan   keamanan    perdagangan    mereka    dalam perjalanannya ke Syam.

Sebenarnya  perdagangan  yang  dikirimkan dari Mekah dan Ta’if dan yang didatangkan ke  Mekah  dari  bagian  Selatan,  adalah perdagangan   yang  cukup  besar.  Sebuah  kafilah  adakalanya berangkat dengan 2.000 unta dengan muatan  seharga  lebih  dan 50.000  dinar.  Menurut perkiraan Sprenger ekspor Mekah setiap tahunnya mencapai jumlah 250.000 dinar atau kira-kira  160.000 pounsterling.  Apabila  bagi  pihak  Quraisy sudah pasti bahwa bahaya yang mengancam  perdagangan  ini  datangnya  dari  anak negeri  sendiri  yang kini sudah mengungsi ke Medinah, hal ini telah membuatnya berpikir-pikir dalam  hal  mengadakan  saling pengertian  dengan mereka, suatu saling pengertian yang memang diharapkan oleh pihak Muslimin, yakni jaminan adanya kebebasan melakukan  dakwah  agama  serta  kebebasan  memasuki Mekah dan melakukan tawaf di Ka’bah. Tetapi saling  pengertian  demikian ini  takkan  ada  kalau  Quraisy  tidak  dapat memperhitungkan kekuatan pihak Muhajirin dari anak negerinya sendiri itu, yang kini    akan    mencegat   dan   menutup   jalan   lalu-lintas perdagangannya.

Inilah yang menurut penafsiran saya  yang  menyebabkan  Hamzah dan  rombongannya  dari  kalangan  Muhajirin  kembali, setelah berhadapan dengan Abu Jahl b. Hisyam di pantai Jazirah, begitu keduanya  dilerai  oleh  Majdi  b. ‘Amr. Selanjutnya seringnya satuan-satuan Muslimin itu menuju rute perdagangan pihak Mekah dengan  suatu jumlah yang sukar sekali dapat dibayangkan bahwa mereka sedang menuju perang, dapat ditafsirkan demikian.  Juga ini  pula  yang  mengartikan  betapa  besarnya  hasrat  Nabi – setelah  melihat  kecongkakan  Quraisy  dan   sikapnya   dalam menghadapi  kekuatan  Muhajirin  – ingin mengadakan perdamaian dengan  kabilah-kabilah  yang  tinggal   di   sepanjang   rute perdagangan  itu  serta  mengadakan  persekutuan dengan mereka yang beritanya tentu akan sampai juga kepada  Quraisy.  Dengan itu  kalau-kalau  mereka  mau  insaf  dan  kembali  memikirkan perlunya ada saling pengertian dan persetujuan itu.

Pendapat  ini  kuat  sekali  landasannya,  yakni  bahwa  dalam perjalanan  Nabi  a.s. ke Buwat dan ‘Usyaira itu tidak sedikit kalangan  Anshar  dari  penduduk  Medinah  yang  menyertainya. Padahal  Anshar  itu  hanya  berikrar untuk mempertahankannya, bukan untuk melakukan  serangan  bersama-sama.  Hal  ini  akan jelas  terlihat  dalam  Perang  Besar  Badr,  tatkala Muhammad kemudian  kembali  tanpa  melakukan  pertempuran,  yang   juga disetujui  oleh  orang-orang  Medinah.  Apabila  pihak  Anshar memang tidak melihat adanya suatu pelanggaran  terhadap  ikrar mereka  jika Muhammad mengadakan perjanjian dengan pihak lain, ini tidak berarti  bahwa  mereka  juga  harus  ikut  memerangi penduduk  Mekah.  Bagi  ke  duanya  alasan berperang yang akan dibenarkan oleh etik Arab atau oleh tata hubungan mereka  satu sama  lain,  tidak  ada.  Meskipun dalam perjanjian-perjanjian perdamaian yang diadakan Muhammad  guna  memperkuat  kedudukan Medinah  di  samping  melemahkan  tujuan  dagang  Quraisy  itu merupakan suatu  proteksi,  namun  hal  ini  samasekali  tidak berarti sama dengan suatu pengumuman perang atau sesuatu usaha lain kearah itu.

Jadi   pendapat   yang    mengatakan    bahwa    keberangkatan satuan-satuan  Hamzah,  ‘Ubaida  bin’l-Harith dan Sa’d bin Abi Waqqash  hanya  untuk  memerangi  Quraisy,  dan   menamakannya sebagai  suatu penyerbuan, sukar sekali dapat dicernakan. Juga adanya pendapat bahwa kepergian Muhammad ke Abwa’,  Buwat  dan ‘Usyaira  tidak  lain  dan  suatu  penyerbuan,  adalah  sangat dibuat-buat,  yang   pada   dasarnya   sudah   tertolak   oleh keberatan-keberatan  yang kami kemukakan tadi. Penulis-penulis riwayat hidup Muhammad  yang  telah  mengambil  alih  pendapat

tersebut  tidak  lain memperlihatkan bahwa mereka menulis peri hidup Muhammad itu baru pada akhir-akhir  abad  kedua  Hijrah, dan    bahwa    mereka    sangat   terpengaruh   oleh   adanya peperangan-peperangan yang  terjadi  kemudian  sesudah  Perang Besar  Badr.  Segala  bentrokan-bentrokan yang terjadi sebelum itu, yang tujuannya bukan untuk berperang, lalu mereka  anggap sebagai     peperangan,     yang     dikaitkan    pula    pada peristiwa-peristiwa kaum Muslimin masa Nabi.

Rupanya tidak sedikit kalangan Orientalis  yang  memang  sudah mengetahui  adanya  sanggahan  demikian  ini,  meskipun  tidak mereka  sebutkan  dalam  buku-buku  mereka  itu.  Adapun  yang membuat  kita  menduga  mereka  sudah  mengetahui  hal  ini  – disamping usaha  mereka  menyesuaikan  diri  dengan  ahli-ahli sejarah  dari  kalangan  Islam  mengenai  tujuan Muhajirin dan terutama Muhammad dalam menghadapi pihak Mekah sejak mula-mula mereka   tinggal  di  Medinah  –  ialah  karena  mereka  sudah menyebutkan, bahwa satuan-satuan yang mula-mula ini  tujuannya tidak  lain  ialah merampok barang-barang dagangan kafilah dan bahwa  kebiasaan  merampok  sudah  menjadi  watak  orang-orang pedalaman  dan  bahwa  penduduk  Medinah  hanya  tertarik pada barang rampasan  dalam  mengikuti  Muhammad  dengan  melanggar janji mereka di ‘Aqaba.

Ini  adalah  pendapat  yang terbalik, sebab penduduk Medinah – seperti juga penduduk Mekah – bukanlah  orang-orang  pedalaman yang hidupnya dari menjarah dan merampok. Disamping itu sesuai dengan watak orang yang hidup dari hasil pertanian,  merekapun lebih   suka  tinggal  menetap  dan  samasekali  mereka  tidak tertarik  melakukan  perang  kecuali  jika  ada  alasan   yang luarbiasa

Sebaliknya   kaum   Muhajirin,   mereka   berhak   membebaskan harta-benda mereka  dari  tangan  Quraisy.  Tetapi  sungguhpun begitu  mereka  bukan pihak yang mendahului sebelum terjadinya peristiwa Badr. Juga  bukan  itu  pula  yang  telah  mendorong dikirimnya    satuan-satuan   dan   ekspedisi-ekspedisi   yang mula-mula itu. Selanjutnya, masalah perang  ini  memang  belum diundangkan     dalam     Islam,     sedang    Muhammad    dan sahabat-sahabatnya  bertindak  bukanlah  dengan   tujuan   ala pedalaman   (badui)   seperti  diduga  oleh  kaum  Orientalis, melainkan  apa  yang  sudah  berlaku  dan  dilaksanakan   oleh Muhammad  dan sahabat-sahabatnya ialah jangan sampai ada orang yang mau diperdayakan dari agamanya dan supaya  ada  kebebasan berdakwah   sebagaimana   mestinya.   Nanti   penjelasan   dan pembuktiannya akan kita lihat juga. Di situ akan tampak  lebih jelas   di   depan   kita,   bahwa   tujuan   Muhammad  dengan perjanjian-perjanjian  itu  ialah  guna  memperkuat   Medinah, supaya  jangan  ada  jalan  bagi  pihak Quraisy dalam mengejar kehendaknya itu, atau  mencoba  melakukan  kekerasan  terhadap kaum  Muslimin seperti yang pernah mereka usahakan dulu ketika hendak mengembalikan orang-orang Islam  dari  Abisinia.  Dalam pada  itu  ia pun tidak keberatan mengadakan perjanjian dengan pihak Quraisy asalkan kebebasan berdakwah  untuk  agama  Allah tetap  dijamin,  dan jangan ada lagi kebencian. Agama hanyalah bagi Allah.

Dibalik satuan-satuan dan ekspedisi-ekspedisi  bersenjata  ini barangkali  masih ada tujuan lain yang dimaksud oleh Muhammad. Barangkali maksudnya akan  menakut-nakuti  orang-orang  Yahudi yang   tinggal   di   Medinah   dan   sekitarnya.  Kita  sudah

menyaksikan, bahwa ketika Muhammad  baru  sampai  di  Medinah, pihak   Yahudi  berhasrat  hendak  merangkulnya.  Akan  tetapi setelah   mereka   mengadakan   perjanjian   perdamaian    dan persetujuan  akan  kebebasan  mengadakan  dakwah  agama  serta melaksanakan  upacara  dan  kewajiban  agama,  begitu   mereka melihat  keadaan  Muhammad  yang  stabil  dan panji Islam yang megah dan menjulang tinggi,  mulai  mereka  membalik  memusuhi Nabi  dan  berusaha  hendak  menjerumuskannya.  Kalaupun dalam melakukan permusuhan ini mereka tidak  berterus-terang  karena dikuatirkan  kepentingan  perdagangan  mereka  akan jadi kacau bila sampai terjadi perang saudara  antara  penduduk  Medinah, atau  karena  masih  memelihara  perjanjian  perdamaian dengan mereka itu, maka mereka telah menempuh segala macam cara  guna menyebarkan   fitnah   di  kalangan  orang-orang  Islam  serta membangkitkan   kebencian   antara   Muhajirin   dan   Anshar, membangunkan  kembali  kedengkian  lama antara Aus dan Khazraj dengan menyebut-nyebut sejarah Bu’ath dan cerita yang terdapat dalam persajakan.

Kaum  Muslimin  sudah mengetahui benar adanya komplotan mereka serta caranya yang berlebih-lebihan itu, sampai-sampai  mereka dimasukkan kedalam kelompok kaum munafik, malah dianggap lebih berbahaya lagi. Mereka pernah dikeluarkan dari  mesjid  secara paksa.  Orang tidak mau duduk-duduk atau bicara dengan mereka.

Dan akhirnya Nabi a.s. menolak  mereka  sesudah  diusahakannya meyakinkan  mereka  dengan  alasan dan bukti. Sudah tentu pula apabila   orang-orang   Yahudi   Medinah   dibiarkan   berbuat sekehendak  hati,  mereka  akan  terus  menjadi-jadi dan terus berusaha mengobarkan  fitnah.  Dari  segi  istilah  kecermatan diplomasi tidak cukup hanya peringatan dan meminta kewaspadaan terhadap kelicikan mereka itu saja,  tapi  harus  pula  supaya mereka  berasa  bahwa  Muslimin  juga punya kekuatan yang akan dapat   menumpas   setiap   fitnah    yang    ada,    membasmi jaringan-jaringan    fitnah    serta    mengikis   sampai   ke akar-akarnya. Cara  yang  paling  baik  untuk  membuat  mereka merasakan hal ini ialah dengan mengirimkan satuan-satuan serta menghadapkannya  pada   benterokan-benterokan   senjata   pada beberapa tempat, tapi jangan sampai kekuatan Muslimin itu jadi hancur, yang oleh pihak Yahudi  memang  diinginkan,  dan  juga diinginkan oleh pihak Quraisy.

Sumber : S E J A R A H    H I D U P    M U H A M M A D

oleh MUHAMMAD HUSAIN HAEKAL diterjemahkan dari bahasa Arab oleh Ali Audah Penerbit PUSTAKA JAYA Jln. Kramat II, No. 31 A, Jakarta Pusat Cetakan Kelima, 1980

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: