MEMBANGUN KHAZANAH ILMU DAN PENDIDIKAN

Belajar itu adalah perobahan …….

Tahun Pertama membangun masyarakat di Yatsrib(bagian keempat)

Posted by Bustamam Ismail on August 23, 2010

Orang orang  yahudi merasa sesak napas terhadap Muhammad . Terpikir oleh mereka akan melakukan tipu daya terhadapnya, akan meyakinkannya sampai ia keluar meninggalkan Medinah seperti yang terjadi karena gangguan Quresy dahulu sampai ia dan sahabat-sahabatnyapun keluar meninggalkan Mekkah.

Lalu mereka mengatakan kepadanya bahwa para rasul sebelum dia semua pergi ke Baitul Maqdis dan memang benar-benar seorang rasul iapun akan berbuat seperti mereka dan kota Medinah ini akan dianggapnya sebagai kota perantara dalam hijrahnya antara Mekkah dengan Masjidil Aqsha, Akan tetapi apa yang sudah mereka kemukakan kepadanya itu bagi Muhammad saw tidak perlu lama-lama berpikir untuk mengetahui bahwa mereka sedang melakukan tipu muslihat terhadap dirinya. Pada saat itu Tuhan mewahyukan kepadanya menjelang tujuhbelas bulan ia tinggal di Medinah untuk menghadapkan kiblatnya ke al-Masjidil Haram Rumah Ibrahim dan Ismail.

Kami sebenarnya melihat wajahmu yang  menengadah ke langit itu, Akan Kami hadapkan mukamu kea rah al-Masjidil Haram. Dimana saja kau bearada hadapkanlah mukamu kearah itu” (Qur’an,2: 142-143)


Orang-orang Yahudi ternyata menyesalkan kejadian itu. Sekali lagi mereka berusaha memperdayakannya dengan mengatakan bahwa mereka akan mau jadi pengikutnya kalau ia kembali ke kiblat semula. Disni Firman Allah menyebutkan:

Dari orang-orang yang masih bodoh akan mengatakan Apakah yang menyebabkan mereka berpaling dari kiblat yang dulu Katakanlah: Timur dan barat itu kepunyaan Allah Dipimpinnya siapa yang dusukai-Nya ke Jalan yang lurus. Begitu juga kami jadikan suatu umat pertengahan supaya kamu menjadi saksi kepada umat manusia dan Rasulpun menjadi saksi kepadamu. Dan Kami jadikan kiblat yang biasa kaupergunakan itu. Hanyalah untuk menguji siapa pula yang berbalik belakang. Dan itu memang berat kecuali bagi mereka yang telah mendapat pimpinan Tuhan” (Qur’an, 2: 144)

Waktu sedangkan sengit-sengitnya terjadi polemic antara Muhammad saw dengan orang-orang Yahudi itu delegasi pihak Nasrani dari Najran tiba di Medinah terdiri dari enampuluh buah kenderaan. Diantara mereka terdapat orang-orang terkemuka, mereka sudah mempelajari dan menguasai seluk-beluk agama mereka. Pada waktu itu penguasa-penguasa Rumawi yang juga menganut agama Nasrani sudah memberikan kedudukan, memberikan bantuan harta, memberikan bantuan tenaga serta membuatkan gereja-gereja dan kemakmuran buat kaum Nasrani Najran itu. Boleh jadi delegasi ini datang  ke Medinah hanya karena dengan orang-orang Yahudi dengan   harapan   mereka  akan  dapat mengobarkan  pertentangan  itu  lebih  hebat  sampai   menjadi permusuhan  terbuka.  Dengan demikian orang-orang Nasrani yang berada di perbatasan Syam dan  Yaman  dapat  membebaskan  diri dari  intrik-intrik  Yahudi  dan  sikap permusuhan orang-orang Arab.

Dengan datangnya delegasi ini dan polemiknya dengan Nabi serta dibukanya  kancah  pertarungan  theologis  yang  sengit antara orang-orang Yahudi, Nasrani dan Islam maka ketiga agama  Kitab ini  sekarang  berkumpul.  Dari  pihak  Yahudi,  mereka memang menolak samasekali ajaran  Isa  dan  Muhammad,  yang  dasarnya karena  sikap  keras  kepala,  seperti  yang sudah kita lihat.

Mereka mendakwakan bahwa ‘Uzair itu putera Allah. Sedang pihak Nasrani,  paham  mereka  adalah  Trinitas  dan menuhankan Isa. Sebaliknya Muhammad, ia mengajak orang  kepada  keesaan  Tuhan dan  kepada  kesatuan rohani yang sudah diatur oleh alam sejak awal yang ajali sampai pada akhir yang abadi – sejak dunia ini berkembang  sampai  ke  akhir  zaman.  Orang-orang  Yahudi dan Nasrani itu bertanya kepadanya,  kepada  siapa-siapa  diantara para rasul itu ia beriman. Ia menjawab:

Kami  beriman  kepada Allah dan apa yang diturunkanNya kepada kami dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim,Ismail,Ishak,Ya’qub serta anak cucunya dan apa yang telah diberikan Tuhan kepada nabi-nabi. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun dari mereka dan kamipun patuh kepadanya”( Qur’an 2: 136)

Ia  sangat  menyesalkan  sikap  mereka  yang  sifatnya  hendak menimbulkan  keraguan dengan cara bagaimanapun tentang keesaan Tuhan.  Diingatkannya  mereka,  bahwa  mereka  telah  mengubah kata-kata  dari aslinya dalam kitab-kitab mereka itu dan bahwa mereka ternyata berlainan haluan dari apa yang telah  ditempuh

oleh   para  nabi  dan  rasul-rasul  yang  sudah  mereka  akui kenabiannya, dan bahwa apa yang diajarkan oleh Isa, oleh  Musa dan oleh mereka yang sudah terdahulu, sedikitpun tidak berbeda dari apa yang diajarkannya sekarang. Apa yang telah  diajarkan mereka  itu, adalah Kebenaran Abadi yang akan tampak jelas dan sederhana sekali bagi setiap orang yang berjiwa pantang tunduk selain  kepada  Tuhan  Yang  Mahaesa. Ia akan melihat Alam ini sebagai  suatu  kesatuan  yang  tak  terpisah-pisah.  Ia  akan melihatnya  dengan  pandangan  hati  nurani  yang lebih tinggi diatas segala kehendak dan tujuan yang bersifat sementara,  di atas  segala  dorongan  materi;  lepas  dari sifat tunduk buta kepada segala ilusi dan angan-angan orang  awam,  kepada  yang diterimanya dari nenek-moyang mereka.

Dimanakah ada suatu pertemuan yang hakekatnya lebih besar dari pertemuan yang kini dialami oleh Yathrib? Tiga  agama  bertemu di  tempat  ini,  yang  sampai  sekarang  saling  mempengaruhi perkembangan dunia. Di  tempat  ini  ketiganya  bertemu  untuk

suatu tujuan dan cita-cita yang tinggi dan mulia. Ini bukanlah suatu  pertemuan  ekonomi,  juga  bukan  dengan  suatu  tujuan materi,  yang  sampai saat ini dikejar-kejar dunia namun tiada juga berhasil – melainkan tujuannya adalah rohani semata-mata.

Dalam  hal  Nasrani  dan  Yahudi  ini,  dibelakangnya  berdiri ambisi-ambisi politik  serta  keinginan-keinginan  orang-orang beruang  dan  berkuasa.  Sebaliknya Muhammad, tujuannya adalah rohaniah dan perikemanusiaan semata-mata, yang jalannya  telah ditunjukkan   Tuhan   kepadanya   dengan   bentuk   kata  yang dialamatkan  kepada  orang-orang  Yahudi  dan  Nasrani   serta seluruh umat manusia. DikatakanNya kepada mereka:

“ Katakanlah: wahai Ahli Kitab! Marilah kita menerima suatu istilah yang sama antara kami dengan kamu: bahwa tak ada yang akan kita sembah selain Allah dan bahwa kita tak akan mempersekutukan-Nya dengan apapun dan tidak pula antara kita saling mempertuhankan satu sama lain, selain Allah. Tetapi kalu mereka menyimpang juga katakanlah ‘ saksikanlah bahwa kami ini orang-orang Muslimin” (Qur’an, 3: 64)

Apa  pula  yang  akan dapat dikatakan oleh orang-orang Yahudi, yang akan dapat dikatakan oleh orang-orang Nasrani  atau  oleh yang  lain,  mengenai  ajakan  ini:  Jangan  menyembah apa dan siapapun selain Allah, jangan  mempersekutukanNya  dan  jangan pula  saling  mempertuhankan  satu  sama  lain selain daripada Allah! Bagi jiwa yang benar-benar  jujur,  jiwa  manusia  yang telah  mendapat  kehormatan  dengan  adanya  akal  pikiran dan perasaan, tidak bisa lain tentu akan beriman kepada ini, tanpa yang  lain.  Akan  tetapi, dalam arti hidup manusia, disamping segi rohani, juga  ada  segi  materinya.  Kelemahan  ini  yang membuat  kita dapat menerima pihak lain menguasai kita, dengan jalan membeli nyawa kita, jiwa kita,  kalbu  kita.  Ilusi  ini yang  telah  membunuh  kehormatan,  perasaan serta cahaya hati nurani manusia. Segi materi ini, yang tergambar  dalam  bentuk harta  dan  kekayaan, dalam kepalsuan gelar-gelar dan pangkat, yang telah membuat Abu Haritha – salah seorang Nasrani  Najran yang paling luas ilmu dan pengetahuannya – pernah mengeluarkan isi hatinya kepada salah seorang teman, bahwa  ia  yakin  pada apa   yang   dikatakan  Muhammad  itu.  Setelah  temannya  itu bertanya:

“Apa lagi yang masih merintangi kau menerima ajarannya,  kalau kau sudah mengetahui ini?” “Yang  masih  merintangi  aku  ialah  apa yang sudah diberikan orang kepada kami,” jawabnya. “Kami  sudah  diberi  kedudukan, diberi  harta dan kehormatan. Dan yang mereka kehendaki supaya kami menentangnya. Kalau kuterima ajakannya  itu  tentu  semua yang kaulihat ini akan dicopot dari kami.”

Kepada  ajaran  inilah orang-orang Yahudi dan Nasrani itu oleh Muhammad diajak. Orang-orang Nasrani diajaknya saling berdoa,9 sedang  dengan  pihak  Yahudi sudah ada perjanjian perdamaian. Dalam  pada  itu   pihak   Kristen   telah   pula   mengadakan permusyawaratan  antara  sesama mereka, yang hasilnya kemudian diberitahukan kepadanya, bahwa mereka tidak akan saling berdoa dan  akan  membiarkannya  ia  dengan  agamanya  itu dan mereka kembali kepada  agama  mereka.  Tetapi  mereka  juga  melihat, betapa  cenderungnya  Muhammad  menjalankan keadilan itu, yang juga diikuti jejaknya oleh sahabat-sahabatnya. Oleh karena itu mereka   minta   supaya  ada  seorang  yang  dapat  dikirimkan bersama-sama mereka guna mengadili masalah-masalah  yang  bagi mereka  sendiri  masih  merupakan perselisihan pendapat. Dalam hal  ini  Muhammad  mengutus  Abu  ‘Ubaida  ibn’l-Jarrah  guna memutuskan hal-hal yang diperselisihkan itu.

Peradaban  yang batu pertamanya telah diletakkan oleh Muhammad dengan ajaran-ajaran serta teladan yang diberikannya itu, kini sudah makin diperkuat lagi. Terpikir olehnya sekarang dan oleh sahabat-sahabatnya   dari   kalangan   Muhajirin,  bagaimana seharusnya  sikap,  dan  keadaan mereka menghadapi Quraisy itu suatu pemikiran yang tak pernah mereka  lupakan  sejak  mereka hijrah  dari  Mekah.  Motif  yang  mendorong  mereka  berpikir demikian banyak sekali. Di Mekah ini  terletak  Ka’bah,  Rumah Ibrahim,   tempat  mereka  dan  semua  orang  Arab  berziarah.

Dapatkah mereka melepaskan diri dari kewajiban suci yang sejak dulu mereka jalankan sampai pada waktu mereka dikeluarkan dari Mekah? Disana masih tinggal keluarga mereka yang mereka cintai dan  yang  mereka  sayangkan  bila masih tetap dalam kehidupan syirik.   Di   sana   harta-benda   dan   perdagangan   mereka ditinggalkan,  yang  telah  disita oleh Quraisy tatkala mereka hijrah. Kemudian lagi, tatkala mereka memasuki Medinah, mereka diserang  penyakit demam, sehingga bukan main penderitaan yang mereka alami. Mereka sembahyangpun sambil duduk.  Makin  keras

mereka merindukan Mekah. Mereka telah dikeluarkan secara paksa dari  Mekah,  seolah  mereka   keluar   sebagai   pihak   yang dikalahkan.  Dan  tidak  pula menjadi adat orang-orang Quraisy dapat bersabar terhadap ketidakadilan serupa itu atau menyerah tanpa  mengadakan  pembalasan.  Disamping  semua dorongan itu, dorongan naluri juga  merangsang  mereka,  yakni  nostalgia rindu   kampung   halaman,   kampung   halaman  tempat  mereka dilahirkan, tempat mereka dibesarkan. Dengan bumi ini,  dengan tanahnya  yang  lapang, gunungnya, airnya, dengan semua itulah pertama kali mereka bicara, pertama  kali  mereka  bersahabat.

Diatas  secercah  tanah  inilah  mereka dipupuk tatkala mereka masih kecil dan di sana  pula  tempat-tinggal  mereka  sesudah mereka  besar.  Kesana hati orang dan perasaannya terikat, dan untuk  itu  pula  dengan  segala  kekuatan  dan  hartanya   ia pertahankan. Dikorbankannya semua tenaga dan hidupnya. Sesudah mati, di tempat itu harapannya akan dikuburkan. Ia mau kembali kedalam tanah tempat ia dijadikan itu.

Naluri  inilah  yang lebih keras mendorong hati kaum Muhajirin daripada  motif-motif  lain.  Selalu  terpikir   oleh   mereka bagaimana  seharusnya  sikap  mereka  itu menghadapi Quraisy.

Tetapi yang sudah terang, sikap itu  bukanlah  sikap  menyerah atau  sikap menghambakan diri. Sudah cukup sabar mereka selama tigabelas tahun terus-menerus  menanggung  penderitaan.  Agama tidak  membenarkan adanya sikap lemah, putus asa atau menyerah bagi mereka  yang  sudah  menanggung  penderitaan  dan  sampai

hijrah karenanya.

Apabila   sikap   permusuhan  itu  memang  dibenci  dan  tidak dibenarkan, sebaliknya yang diperkuat  dan  dianjurkan  adalah sikap  persaudaraan,  tapi di samping itu yang juga diharuskan ialah membela  diri,  membela  kehormatan,  membela  kebebasan beragama  dan membela tanah-air. Untuk membela inilah Muhammad mengadakan Ikrar ‘Aqaba yang kedua  dengan  penduduk  Yathrib. Tetapi   bagaimanakah   kaum  Muhajirin  itu  akan  menunaikan kewajibannya kepada Tuhan, kepada  Rumah  Suci,  kepada  tanah air,  Mekah  yang  mereka  cintai  itu?  Kearah inilah politik

Muhammad dan kaum Muslimin itu ditujukan,  sampai  selesai  ia kelak   menaklukkan   Mekah,  dan  agama  Allah  serta  seruan kebenaranpun akan terjunjung tinggi.

Catatan kaki:

1 Yathrib nama kota Medinah. Dalam terjemahan ini dua sebutan Yathrib dan Medinah sama-sama dipakai (A).

2 ‘Ala rib’atihim atau riba’atihim menurut kebiasaan baik yang berlaku (N, LA) (A).

3 Yata’aqalun, ‘saling memberi dan menerima diat’ (N) atau tebusan darah (A).

4 Suku atau batn ialah anak-kabilah, lebih kecil dari  kabilah (A).

5 Dalam at-Bidaya wan-Nihaya oleh ibn Kathir disebut  Syatana.

6 Sya’ir termasuk famili Graminea yang mungkin lebih dekat kepada jenis jelai daripada gandum (A).

7 Sawiq semacam bubur dibuat dari gandum atau jelai dicampur dengan kurma (A).

8 Tharid biasanya hidangan roti yang dibasahi dengan  kuah kaldu dan daging (A).

9 Yula’inu, sama maksudnya dengan Yabtahilu, atau  mubahala yang dalam terjemahan ini dipakai kata saling berdoa. Nabi mengusulkan kepada pihak Kristen mengadaka  suatu mubahala, suatu pertemuan khidmat, dengan masing-masing pihak yang mempertahankan pendiriannya berdoa sungguh-sungguh kepada Ailah, agar Tuhan menjatuhkan laknat kepada pihak yang berdusta.  “Barangsiapa membantah engkau tentang itu, sesudah datang pengetahuan padamu, katakanlah: Marilah kita kumpulkan anak-anak kami dan anak-anak kamu, wanita-wanita kami dan wanita-wanita kamu, diri kami sendiri dan diri kamu, kemudian kita berdoa sungguh-sungguh kepada Allah. Kita mintakan agar laknat Tuhan dijatuhkan kepada pihak yang dusta.” (Qur’an, 3:

61). Mereka yang benar-benar murni dan benar-benar yaki takkan ragu-ragu dalam hal ini. Tetapi pihak Kristen disini ternyata mengundurkan diri. (A)

SUMBER: S E J A R A H    H I D U P    M U H A M M A D

oleh MUHAMMAD HUSAIN HAEKAL diterjemahkan dari bahasa Arab oleh Ali Audah Penerbit PUSTAKA JAYJln. Kramat II, No. 31 A, Jakarta Pusat Cetakan Kelima, 1980

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: