MEMBANGUN KHAZANAH ILMU DAN PENDIDIKAN

Belajar itu adalah perobahan …….

Tahun Pertama membangun masyarakat di Yatsrib(bagian ketiga)

Posted by Bustamam Ismail on August 20, 2010

A. Khadijah  isteri yang setia dan menjadi kenangan yang mendalam bagi  Rasul

Begitu setianya ia, sehingga  bila  ada  orang  menyebut  nama Khadijah,  selalu  menimbulkan kenangan yang indah baginya. Di sinilah Aisyah berkata: “Saya tidak pernah iri  hati  terhadap seorang   wanita  seperti  terhadap  Khadijah,  bilamana  saja mendengar  ia  mengenangkannya.”  Ketika  ada  seorang  wanita datang   ia   menyambutnya   begitu  gembira  dan  ditanyainya baik-baik. Bila wanita itu sudah pergi,  ia  berkata:  “Ketika masih  ada Khadijah ia suka mengunjungi kami.” Bahwa mengingat hubungan  baik  masa  lampau  adalah  termasuk  iman.

Begitu halusnya  perasaannya, begitu lembutnya hatinya, ia membiarkan cucunya bermain-main dengan dia ketika ia  sembahyang.  Bahkan ia bersembahyang dengan Umama, puteri Zainab puterinya, sambil dibawa di atas bahunya; bila  ia  sujud  diletakkan,  bila  ia berdiri dibawanya lagi.

Kebaikan   dan   kasih-sayang   yang   sudah   menjadi   sendi persaudaraan itu, yang dalam peradaban dunia  modern  sekarang juga  menjadi  dasar  bagi  seluruh  umat  manusia tidak hanya terbatas sampai  di  situ  saja,  melainkan  melampaui  sampai kepada binatang juga. Dia sendiri yang bangun membukakan pintu untuk seekor kucing yang sedang berlindung di tempat itu.  Dia sendiri  yang  merawat  seekor  ayam jantan yang sedang sakit; kudanya dielus-elusnya dengan lengan bajunya. Bila  dilihatnya Aisyah   naik  seekor  unta,  karena  menemui  kesukaran  lalu binatang itu ditarik-tariknya,  iapun  ditegurnya:  “Hendaknya kau berlaku lemah-lembut.” Kasih-sayangnya itu meliputi segala hal, dan selalu memberi perlindungan kepada  siapa  saja  yang memerlukannya.

Tetapi  ini  bukan  sikap  kasih-sayang  karena lemah atau mau menyerah, juga bersih dari segala sifat  mau  menghitung  jasa atau  sikap  tinggi  diri. Ini adalah persaudaraan dalam Tuhan antara Muhammad dengan semua mereka  yang  berhubungan  dengan

dia.  Disinilah  dasar  peradaban  Islam  yang  berbeda dengan sebahagian besar peradaban-peradaban  lain.  Islam  menekankan pada  keadilan  disamping  persaudaraan  itu,  dan berpendapat bahwa tanpa adanya keadilan  ini  persaudaraan  tidak  mungkin ada.

Barangsiapa  menyerang  kamu, seranglah dengan yang seimbang, seperti mereka menyerang kamu.” (Qur’an, 2: 194)

Dengan hukum qishash berarti kelangsungan  hidup  bagi  kamu, hai orang-orang yang mengerti.” (Qur’an, 2: 179)

Sifatnya  harus  untuk  mempertahankan jiwa semata-mata dengan kemauan yang bebas sepenuhnya dan  untuk  mencari  rida  Tuhan tanpa   ada  maksud  lain.  Itulah  sumber  persaudaraan  yang meliputi segala kebaikan dan kasih-sayang. Ini harus bersumber juga  dari  jiwa  yang  kuat,  tidak  mengenal menyerah selain kepada Allah, dan dengan  ketaatan  kepadaNya  ia  tidak  pula merasa  lemah.  Tak  ada  rasa  takut akan menyelinap ke dalam hatinya  kecuali  dari  perbuatan  maksiat  atau   dosa   yang

dilakukannya. Dan jiwa itu tidak akan jadi kuat kalau ia masih di bawah kekuasaan yang lain dan tidak akan jadi kuat kalau ia masih   di   bawah   kekuasaan   hawa-nafsunya.  Muhammad  dan sahabat-sahabatnya  telah  hijrah  dari  Mekah  supaya  jangan berada  di  bawah kekuasaan Quraisy dan jangan ada jiwa mereka yang akan jadi lemah karenanya. Jiwa itu akan menyerah  kepada kekuasaan  hawa-nafsu  kalau sudah jasmani yang dapat berkuasa kedalam rohani dan akal pikiran dapat dikalahkan oleh kehendak nafsu.  Dan  akhirnya  kehidupan  materi  ini  juga yang dapat menguasai hidup kita, padahal kita sudah tidak memerlukan yang demikian,  sebab  ini  memang  sudah berada di bawah kekuasaan kita.

Di sini Muhammad adalah contoh kekuatan jiwa yang ideal sekali atas  kehidupan  ini,  suatu  kekuatan  yang membuat dia sudah tidak peduli lagi akan  memberikan  segala  yang  ada  padanya kepada   orang  lain.  Itu  sebabnya  sampai  ada  orang  yang mengatakan:  Dalam  memberi   Muhammad   sudah   tidak   takut kekurangan. Dan supaya jangan ada sesuatu dalam hidup ini yang dapat menguasainya, sebaliknya dia yang harus menguasai,  maka ia  keras  sekali  menahan  diri dalam arti hidup materi, sama kerasnya dengan keinginannya hendak mengetahui segala  rahasia yang  ada  dalam  hidup  materi  itu, ingin mengetahui hakekat sesungguhnya tentang semua itu. Begitu jauhnya ia menahan diri sehingga  lapik tempat dia tidur hanya terdiri dari kulit yang diisi dengan serat. Makannya tak pernah kenyang. Tak pernah ia makan  roti  dari  tepung  sya’ir6  dua  hari  berturut-turut.

Sebagian besar makannya adalah  bubur.7  Pada  hari-hari  yang lain  ia  makan  kurma. Jarang sekali ia dan keluarganya dapat makanan roti sop.8 Bukan sekali saja ia harus  menahan  lapar. Sudah  pernah  perutnya  diganjal  dengan  batu  untuk menahan teriakan rongga pencernaannya itu.

Itulah yang sudah biasa dikenal tentang makannya, meskipun ini tidak  berarti  ia  pantang  sekali-sekali  makan makanan yang enak-enak.  Juga  ia  dikenal  suka  sekali  makan  kaki  anak kambing, labu, madu dan manisan. Begitu  juga  kesederhanaannya  dalam hal pakaian sama seperti dalam  makanan.  Suatu  hari  ada  seorang  wanita  memberikan sehelai  pakaian  kepadanya  yang  memang  diperlukan.  Tetapi kemudian diminta oleh orang lain yang juga memerlukannya  guna mengkafani  mayat.  Pakaian  itu diberikannya. Pakaiannya yang dikenal terdiri dari sebuah baju dalam  dan  baju  luar,  yang terbuat   dari   wol,   katun   atau  sebangsa  serat.  Tetapi sekali-sekali ia tidak menolak memakai  pakaian  dari  tenunan Yaman  sebagai  pakaian  yang  mewah  sesuai dengan acara bila memang menghendaki demikian. Juga alas  kaki  yang  dipakainya sederhana  sekali.  Tak  pernah ia memakai sepatu selain waktu mendapat  hadiah  dari  Najasyi  berupa  sepasang  sepatu  dan celana.

Sungguhpun  begitu dalam hal menahan diri dan menjauhi masalah duniawi bukanlah berarti ia hidup menyiksa diri. Cara ini juga tidak sesuai dengan ajaran agama. Dalam Qur’an dapat dibaca:

“Makanlah  dari  makanan  yang  baik  yang  sudah Kami berikan kepadamu.” (Qur’an, 2: 57)

Dan tempuhlah kebahagiaan akhirat seperti yang  dianugerahkan Allah  kepadamu, tapi juga jangan kaulupakan kebahagiaan hidup duniawi. Dan berbuatlah kebaikan  kepada  orang  lain  seperti Allah telah berbuat baik kepadamu.” (Qur’an, 28: 77)

Dan  dalam  hadis:  “Berbuatlah  untuk duniamu seolah-olah kau akan hidup selama-lamanya, dan berbuat  pula  untuk  akhiratmu seolah-olah kau akan mati besok.”

Akan  tetapi  Muhammad  ingin  memberikan  teladan yang begitu tinggi kepada manusia tentang arti kekuatan  dalam  menghadapi hidup  itu,  suatu  kekuatan  yang  tak dapat dipengaruhi oleh perasaan lemah,  tak  dapat  diperbudak  oleh  kekayaan,  oleh harta-benda,  oleh  kekuasaan  atau  oleh  apa  saja yang akan menguasainya,  selain  Allah.  Persaudaraan  yang   didasarkan kepada  kekuatan,  yang  manifestasinya  telah  diberikan oleh Muhammad sebagai teladan tertinggi  seperti  yang  sudah  kita lihat  itu,  adalah persaudaraan murni yang sungguh ikhlas dan mulia, suatu persaudaraan  yang  bersih  samasekali.  Sebabnya ialah   karena   adanya  rasa  keadilan  yang  terjalin  dalam kasih-sayang dan karena yang bersangkutan hanya didorong  oleh kemauan  sendiri  yang bebas mutlak. Tetapi, oleh karena Islam menyertakan rasa keadilan  disamping  rasa  kasih-sayang  itu, maka  ia  juga  menyertakan  maaf disamping keadilan itu, maaf yang dapat diberikan bila mampu.  Rasa  kasih-sayang  demikian itu   hendaklah  dengan  hati  terbuka  dan  benar-benar,  dan hendaklah  dengan   tujuan   mau   mencapai   perbaikan   yang sungguh-sungguh.

Inilah   dasar  yang  telah  diletakkan  oleh  Muhammad  dalam membangun peradaban baru  itu,  yang  dengan  jelas  tersimpul dalam  cerita  yang  diambil  dari Ali bin Abi Talib ketika ia bertanya kepada Rasulullah tentang sunahnya,  dengan  dijawab:

Ma’rifat  adalah  modalku, akal-pikiran sumber agamaku, cinta adalah dasar hidupku, rindu kendaraanku, berzikir kepada Allah adalah  kawan dekatku, keteguhan perbendaharaanku, duka adalah kawanku, ilmu adalah senjataku,  ketabahan  adalah  pakaianku, kerelaan  sasaranku,  faqr  adalah  kebanggaanku, menahan diri adalah    pekerjaanku,    keyakinan    makananku,    kejujuran perantaraku, ketaatan adalah ukuranku, berjihad perangaiku dan hiburanku adalah dalam sembahyang.”

Ajaran-ajaran  Muhammad  serta  teladan  dan  bimbingan   yang diberikannya  telah  meninggalkan  pengaruh  yang dalam sekali kedalam  jiwa  orang,  sehingga  tidak  sedikit   orang   yang berdatangan menyatakan masuk Islam, dan kaum Musliminpun makin bertambah kuat di Medinah. Ketika  itulah  orang-orang  Yahudi mulai  memikirkan  kembali posisi mereka terhadap Muhammad dan sahabat-sahabatnya.  Mereka  dengan   dia   telah   mengadakan perjanjian.  Mereka  bermaksud  ingin  merangkulnya  ke  pihak mereka dan supaya ketahanan  mereka  bertambah  kuat  terhadap orang-orang Kristen. Dan dia lebih kuat dari mereka itu semua, ajarannya  bertambah  kuat.  Malah  sekarang   ia   memikirkan orang-orang  Quraisy  yang telah mengusirnya dan mengusir kaum Muhajirin  dari  Mekah  serta  godaan  mereka  terhadap   kaum Muslimin   yang   dapat  mereka  goda  dari  agamanya.  Adakah orang-orang  Yahudi  itu  akan  membiarkan   dakwahnya   terus tersebar  dan  kekuasaan  rohaninya makin meluas, dengan cukup puas berada disampingnya dalam aman sentosa yang berarti  akan menarnbah  keuntungan  dan  kekayaan dalam perdagangan mereka?

Barangkali  memang  akan  begitu  kalau  mereka  yakin   bahwa dakwahnya  itu  tidak  akan  sampai  kepada orang-orang Yahudi sendiri dan tidak akan sampai meluas kepada orang-orang  awam, sedang  ajaran  mereka  yang berlaku ialah tidak akan mengakui adanya seorang nabi yang bukan dari Keluarga Israil.

Akan  tetapi  ada  seorang  rabbi  yang  cerdik-pandai,  yaitu Abdullah  b.  Sallam  yang telah berhubungan dengan Nabi iapun lalu memeluk Islam; dan dianjurkannya pula  keluarganya.  Lalu merekapun bersama-sama memeluk agama Islam.

Tetapi  Abdullah  bin  Sallam  masih  merasa  kuatir  akan ada kata-kata yang tidak biasa yang akan  dilontarkan  orang-orang Yahudi  jika  mereka  mengetahui ia sudah menganut Islam. Maka dimintanya kepada Nabi untuk menanyai mereka  tentang  dirinya itu  sebelum mereka mengetahui bahwa dia sudah Islam. Ternyata mereka berkata: dia pemimpin  kami,  pendeta  kami  dan  orang cerdik-pandai  kami. Setelah B.Orang Yahudi dan orang munafiq menyusun strategi

Abdullah berhadapan dengan mereka dan sekarang jelas  sudah  sikapnya,  bahkan  mengajak  mereka menganut  ajaran  Islam, merekapun merasa kuatir akan nasibnya itu nanti. Maka di seluruh perkampungan Yahudi itu iapun mulai difitnah  dan diumpat dengan kata-kata yang tak senonoh. Dalam hal ini mereka lalu sepakat akan berkomplot terhadap  Muhammad menolak  kenabiannya.  Secepat  itu  pula sisa-sisa orang yang masih musyrik dari kalangan Aus dan Khazraj serta mereka  yang pura-pura masuk Islam segera menggabungkan diri dengan mereka, baik karena mau mengejar keuntungan  materi  atau  karena  mau menyenangkan golongannya atau pihak yang berpengaruh

Sekarang  mulai  terjadi  suatu perang polemik antara Muhammad dengan orang-orang Yahudi,  yang  ternyata  lebih  bengis  dan lebih  licik  daripada perang polemik yang dulu pernah terjadi antara dia dengan orang-orang Quraisy di Mekah.  Dalam  perang yang  terjadi  di Yathrib ini semua orang Yahudi berdiri dalam satu barisan  menyerang  Muhammad  dan  risalahnya,  menyerang sahabat-sahabatnya,   kaum   Muhajirin   dan   Anshar,  dengan mengadakan intrik-intrik, tindakan  bermuka-muka  dengan  ilmu yang  ada  pada mereka tentang sejarah dan peristiwa-peristiwa masa lampau mengenai para nabi dan rasul-rasul.

Mereka mengadakan intrik melalui pendeta-pendeta  mereka  yang pura-pura  Islam  dan yang dapat bergaul ke tengah-tengah kaum Muslimin dengan pura-pura sangat takwa sekali,  yang  kemudian lalu  sekali-kali  memperlihatkan  kesangsian dan keraguannya.

Mereka itu memajukan pertanyaan-pertanyaan kepada  Muhammad  , yang  mereka  kira  akan  dapat menggoncangkan iman umat Islam kepadanya dan kepada  ajaran  kebenaran  yang  dibawanya  itu. Kemudian  orang-orang  Aus  dan  Khazraj  yang  juga  Islamnya pura-pura, menggabungkan diri dengan orang-orang Yahudi  dalam memajukan    pertanyaan-pertanyaan   dan   dalam   menimbulkan perselisihan di kalangan kaum Muslimin.  Begitu  keras  kepala mereka  itu  sampai  ada  diantara  orang  Yahudi sendiri yang mengingkari isi Taurat – padahal mereka percaya kepada  Allah, baik  kalangan Keluarga Israil maupun orang-orang musyrik yang mempergunakan berhala-berhala untuk  mendekatkan  diri  mereka kepada  Tuhan. Misalnya mereka bertanya kepada Muhammad: Kalau Allah itu sudah  menciptakan  makhluk  ini,  lalu  siapa  yang menciptakan  Allah?  Muhammad  hanya  menjawab  mereka  dengan firman Tuhan:

Katakan: Allah Satu cuma. Allah itu Abadi dan  Mutlak.  Tidak beranak.  Dan  tidak  pula diperanakkan. Dan tiada satu apapun yang menyerupaiNya.” (Qur’an, 112: 1-4)

Pihak Muslimin sekarang menyadari keadaan musuh mereka,  sudah mengetahui  tujuan  usaha  mereka itu. Ada terlihat pada suatu hari mereka dalam mesjid sedang berbicara antara sesama mereka dengan   berbisik-bisik.   Muhammad   meminta   supaya  mereka dikeluarkan dari dalam mesjid itu  dengan  paksa.  Tetapi  ini tidak  membuat  mereka  jera melakukan tipu-muslihat dan masih terus berusaha hendak menjerumuskan kaum Muslimin. Ketika  ada beberapa   orang   dari   golongan   Aus  dan  Khazraj  sedang duduk-duduk bersama-sama salah seorang dari  mereka  [Syas  b. Qais]  lewat.  Ia jadi panas hati melihat dua puak ini menjadi rukun. Dalam hatinya ia  berkata:  masyarakat  Banu  Qaila  di negeri  ini  sudah  bersatu. Kita takkan berarti apa-apa kalau pemuka-pemuka mereka sudah sepakat. Seorang pemuda Yahudi yang

pernah   dengan   mereka   dulu  dimintanya  supaya  mengambil kesempatan ini dengan menyebut-nyebut kembali peristiwa Bu’ath dahulu  serta  bagaimana  pula  pihak  Aus  dapat  mengalahkan Khazraj. Pemuda itu pun lalu bicara. Ternyata hal  ini  memang menimbulkan  ingatan  masa  lampau pada kedua puak itu. Mereka lalu bersitegang, saling membanggakan diri  dan  hanyut  dalam pertengkaran.  “Kalau  kamu  mau  kita  boleh  kembali seperti dulu,” kata mereka satu sama lain.

Peristiwa ini sampai juga kepada Muhammad.  Ia  pergi  menemui mereka   dengan  beberapa  orang  sahabat,  dan  diingatkannya mereka, bahwa Islam telah  mempersatukan  dan  membuat  mereka benar-benar  bersaudara,  saling mencintai. Sementara ia masih di tengah-tengah mereka,  merekapun  menangis,  mereka  saling

berpeluk-pelukan.  Mereka  semua  berdoa bermohon ampun kepada Tuhan.

Polemik antara Muhammad dengan orang-orang  Yahudi  itu  sudah sampai   dipuncaknya,   sebagaimana  oleh  Qur’an  sudah  pula diperlihatkan.  Pada  permulaan  Surah  al-Baqara  (2)  sampai dengan  ayat  81, dan sebahagan besar Surah an-Nisa’ (4) semua menyebutkan tentang orang-orang  Ahli  Kitab  itu  dan  betapa mereka mengingkari isi-Kitab Suci mereka sendiri. Mereka telah mendapat kutukan keras karena pembangkangan  dan  pengingkaran mereka itu:

“Dan sesungguhnyalah Kami telah mendatangkan Al-Kitab (Taurat) kepada Musa, dan sesudah itu lalu Kami susul pula dengan  para rasul,  dan Kami telah memberikan bukti-bukti kebenaran kepada Isa anak Maryam dan Kami perkuat dia dengan Ruh  Suci.  Adakah setiap  datang seorang rasul kepadamu membawa sesuatu yang tak sesuai dengan kehendak hatimu, lalu  kamu  bersikap  sombong? Sebagian  kamu dustakan dan yang sebagian lagi kamu bunuh? Dan mereka berkata: ‘hati kami sudah tertutup.’ Tetapi Tuhan telah mengutuk  mereka  karena  keingkaran  mereka juga. Karena itu, sedikit sekali mereka yang beriman. Dan setelah kepada  mereka didatangkan  Kitab  dari  Allah, yang membenarkan apa yang ada pada mereka,  karena  sebelum  itu  mereka  minta  didatangkan kemenangan   terhadap  orang-orang  yang  masih  ingkar,  maka setelah  yang  mereka  ketahui  itu  berada  di  tengah-tengah mereka,  merekapun  juga  tidak  mempercayainya.  Karena  itu, kutukan Allah menimpa oranz-orang yang ingkar  itu.”  (Qur’an, 2: 87-89)

C.Peristiwa Fibhash dan Abu Bakar

Begitu  memuncaknya polemik antara orang-orang Yahudi dan kaum Muslimin  itu,  sehingga  acapkali  –  sekalipun   sudah   ada perjanjian  antara  mereka  –  permusuhan  itu  terjadi sampai dengan main tangan. Sebagai contoh – sekedar sebagai ukuran  – kita   sudah  mengenal  Abu  Bakr,  yang  begitu  lemah-lembut perangainya, dengan kesabarannya yang luarbiasa. Ketika itu ia sedang   bicara  dengan  seorang  orang  Yahudi  yang  bernama Finhash, yang  diajaknya  menganut  Islam.   Tetapi   Finhash

menjawab:  “Abu  Bakr, bukan kita yang membutuhkan Tuhan, tapi Dia yang butuh kepada  kita.  Bukan  kita  yang  meminta-minta kepadaNya,  tetapi  Dia  yang  meminta-minta kepada kita. Kita tidak memerlukanNya, tapi Dia yang memerlukan kita. Kalau  Dia kaya,  tentu Ia tidak akan minta dipinjami harta kita, seperti yang  didakwakan  oleh  pemimpinmu  itu.  Ia  melarang  kalian menjalankan  riba,  tapi kita akan diberi jasa. Kalau Ia kaya, tentu Ia tidak akan menjalankan ini.”

Maksud Finhash ini ditujukan kepada firman Tuhan:

“Siapa yang mau meminjamkan kepada Allah suatu  pinjaman  yang baik,  Allah  akan selalu membalasnya dengan berlipat ganda.” (Qur’an, 2: 145)

Tetapi dalam hal ini Abu Bakr tidak  tahan  mendengar  jawaban itu. Ia marah. Ditamparnya muka Finhash itu keras-keras.

Demi  Allah,”  kata  Abu  Bakr,  “kalau  tidak  karena adanya perjanjian antara kami dengan  kamu  sekalian,  pasti  kupukul kepalamu. Engkaulah musuh Tuhan.”

Kemudian  Finhash  mengadukan  peristiwa ini kepada Nabi, tapi apa yang dikatakannya tentang  Tuhan  kepada  Abu  Bakr  tidak diakuinya. Dalam hal ini firman Tuhan menyebutkan:

“Tuhan  sudah  mendengar  kata-kata  mereka  yang menyebutkan: Tuhan itu miskin, dan kamilah yang kaya.  Akan  Kami  tuliskan kata-kata  mereka  itu,  begitu juga perbuatan mereka membunuh nabi-nabi dengan tidak sepantasnya, dan rasakanlah siksa  yang membakar ini!” (Qur’an, 3: 181)

Tidak  cukup  dengan  maksud  mau  menimbulkan  insiden antara Muhajirin dengan Anshar dan  antara  Aus  dengan  Khazraj  dan tidak   pula   cukup  dengan  membujuk  kaum  Muslimin  supaya meninggalkan  agamanya  dan  kembali  menjadi   syirik   tanpa mencoba-coba  mengajak  mereka  menganut  agama Yahudi, bahkan lebih dari itu  orang  Yahudi  itu  kini  berusaha  memperdaya Muhammad  sendiri. Pendekar-pendekar mereka, pemuka-pemuka dan pemimpin-pemimpin mereka datang menemuinya dengan  mengatakan:

Tuhan  sudah  mengetahui  keadaan kami, kedudukan kami. Kalau kami mengikut tuan, orang-orang Yahudipun akan juga  ikut  dan mereka  tidak  akan  menentang  kami.  Sebenarnya  antara kami dengan beberapa kelompok golongan kami timbul permusuhan. Lalu kami  datang ini minta keputusan tuan. Berilah kami keputusan. Kami akan ikut tuan dan percaya kepada tuan.”

Di sinilah firman Tuhan menyebutkan:

“Dan  hendaklah  engkau  memutuskan  perkara  diantara  mereka menurut  apa yang sudah diturunkan Allah, dan jangan kauturuti hawa-nafsu mereka.  Berhati-hatilah  terhadap  mereka.  Jangan sampai  mereka  memperdayakan kau dari beberapa peraturan yang sudah  ditentukan  Tuhan   kepadamu.   Tetapi   kalau   mereka menyimpang,  ketahuilah,  Tuhan akan menurunkan bencana kepada mereka karena beberapa dosa mereka sendiri juga. Sesungguhnya, kebanyakan  manusia  itu adalah orang-orang fasik. Adakah yang mereka kehendaki itu hukum jahiliah? Dan hukum  siapakah  yang lebih  baik  daripada  hukum  Allah  bagi  mereka yang yakin?” (Qur’an, 5: 49-50)

SUMBER : S E J A R A H    H I D U P    M U H A M M A D

oleh MUHAMMAD HUSAIN HAEKAL diterjemahkan dari bahasa Arab oleh Ali Audah

Penerbit PUSTAKA JAYA Jln. Kramat II, No. 31 A, Jakarta Pusat Cetakan Kelima, 1980

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: