MEMBANGUN KHAZANAH ILMU DAN PENDIDIKAN

Belajar itu adalah perobahan …….

Perjalanan Hijrah Rasul yang penuh Hikmah dan Perjuangan(bagian pertama)

Posted by Bustamam Ismail on August 17, 2010

RENCANA Quraisy akan membunuh Muhammad pada malam hari, karena dikuatirkan  ia  akan hijrah ke Medinah dan memperkuat diri di sana serta segala  bencana  yang  mungkin  menimpa  Mekah  dan menimpa  perdagangan  mereka  dengan  Syam  sebagai akibatnya, beritanya sudah sampai kepada Muhammad. Memang tak  ada  orang yang  menyangsikan, bahwa Muhammad akan menggunakan kesempatan itu untuk hijrah. Akan tetapi, karena  begitu  kuat  ia  dapat menyimpan   rahasia   itu,   sehingga  tiada  seorangpun  yang mengetahui, juga Abu Bakr, orang yang  pernah  menyiapkan  dua ekor  unta  kendaraan tatkala ia meminta ijin kepada Nabi akan hijrah,  yang  lalu  ditangguhkan,  hanya  sedikit  mengetahui soalnya. Muhammad sendiri memang masih tinggal di Mekah ketika ia sudah  mengetahui  keadaan  Quraisy  itu  dan  ketika  kaum Muslimin  sudah  tak  ada  lagi  yang tinggal kecuali sebagian kecil.

A. Perintah Hijrah ke Medinah

Dalam ia menantikan perintah Tuhan yang akan mewahyukan kepadanya  supaya  hijrah, ketika itulah ia pergi ke rumah Abu Bakr dan memberitahukan,  bahwa  Allah  telah  mengijinkan  ia hijrah. Dimintanya Abu Bakr supaya menemaninya dalam hijrahnya itu, yang lalu diterima baik oleh Abu Bakr.

Di sinilah dimulainya kisah yang paling  cemerlang  dan  indah yang  pernah  dikenal  manusia  dalam  sejarah pengejaran yang penuh bahaya, demi kebenaran, keyakinan dan iman. Sebelum  itu Abu  Bakr  memang  sudah  menyiapkan  dua  ekor  untanya  yang diserahkan pemeliharaannya kepada Abdullah b.  Uraiqiz  sampai nanti  tiba waktunya diperlukan. Tatkala kedua orang itu sudah siap-siap akan meninggalkan Mekah mereka sudah  yakin  sekali, bahwa  Quraisy  pasti  akan membuntuti mereka. Oleh karena itu Muhammad memutuskan akan menempuh jalan lain dari yang  biasa, Juga akan berangkat bukan pada waktu yang biasa.

B.Ali di tempat tidur Nabi

Pemuda-pemuda  yang  sudah disiapkan Quraisy untuk membunuhnya malam itu sudah mengepung rumahnya, karena dikuatirkan ia akan lari.  Pada  malam  akan  hijrah itu pula Muhammad membisikkan kepada Ali b. Abi Talib supaya memakai  mantelnya  yang  hijau dari  Hadzramaut  dan  supaya  berbaring  di  tempat tidurnya.

Dimintanya supaya sepeninggalnya  nanti  ia  tinggal  dulu  di Mekah menyelesaikan barang-barang amanat orang yang dititipkan kepadanya. Dalam pada itu pemuda-pemuda yang  sudah  disiapkan Quraisy,  dari  sebuah  celah  mengintip ke tempat tidur Nabi. Mereka melihat ada sesosok  tubuh  di  tempat  tidur  itu  dan merekapun puas bahwa dia belum lari.

Tetapi,  menjelang  larut malam waktu itu, dengan tidak setahu mereka Muhammad sudah keluar menuju ke rumah Abu  Bakr.  Kedua orang  itu  kemudian  keluar  dari jendela pintu belakang, dan terus bertolak ke arah selatan menuju gua Thaur. Bahwa  tujuan kedua  orang  itu  melalui  jalan sebelah kanan adalah di luar dugaan.

Tiada seorang  yang  mengetahui  tempat  persembunyian  mereka dalam  gua  itu  selain  Abdullah b. Abu Bakr, dan kedua orang puterinya Aisyah dan Asma,  serta  pembantu  mereka  ‘Amir  b. Fuhaira.  Tugas  Abdullah  hari-hari  berada  di tengah-tengah Quraisy   sambil   mendengar-dengarkan   permufakatan   mereka terhadap   Muhammad,   yang   pada   malam   harinya  kemudian disampaikannya kepada Nabi dan kepada  ayahnya.  Sedang  ‘Amir tugasnya    menggembalakan    kambing    Abu   Bakr’   sorenya diistirahatkan, kemudian mereka memerah  susu  dan  menyiapkan daging.  Apabila  Abdullah  b.  Abi  Bakr  keluar kembali dari tempat mereka, datang  ‘Amir  mengikutinya  dengan  kambingnya guna menghapus jejaknya.

C. Di gua Thaur tempat persembunyian Nabi

Kedua  orang itu tinggal dalam gua selama tiga hari. Sementara itu pihak  Quraisy  berusaha  sungguh-sungguh  mencari  mereka tanpa  mengenal  lelah.  Betapa  tidak.  Mereka melihat bahaya sangat mengancam mereka kalau mereka tidak  berhasil  menyusul Muhammad  dan  mencegahnya  berhubungan  dengan pihak Yathrib.

Selama kedua  orang  itu  berada  dalam  gua,  tiada  hentinya Muhammad   menyebut   nama  Allah.  KepadaNya  ia  menyerahkan nasibnya itu dan memang kepadaNya pula segala  persoalan  akan kembali.  Dalam  pada  itu Abu Bakr memasang telinga. Ia ingin mengetahui adakah  orang-orang  yang  sedang  mengikuti  jejak mereka itu sudah berhasil juga.

Kemudian  pemuda-pemuda Quraisy – yang dari setiap kelompok di ambil seorang itu – datang. Mereka membawa pedang dan  tongkat sambil  mundar-mandir  mencari  ke segenap penjuru. Tidak jauh dari gua Thaur itu mereka bertemu dengan seorang gembala, yang lalu ditanya. “Mungkin  saja  mereka  dalam gua itu, tapi saya tidak melihat ada orang yang menuju ke sana.”

Ketika mendengar jawaban  gembala  itu  Abu  Bakr  keringatan. Kuatir  ia,  mereka  akan  menyerbu  ke dalam gua. Dia menahan napas tidak bergerak, dan hanya  menyerahkan  nasibnya  kepada Tuhan.  Lalu  orang-orang Quraisy datang menaiki gua itu, tapi kemudian ada yang turun lagi. “Kenapa   kau   tidak   menjenguk   ke   dalam   gua?” tanyakawan-kawannya.

Ada  sarang  laba-laba  di  tempat itu, yang memang sudah ada sejak sebelum Muhammad lahir,” jawabnya. “Saya melihat ada dua ekor burung dara hutan di lubang gua itu. Jadi saya mengetahui tak ada orang di sana.”

Muhammad makin sungguh-sungguh berdoa dan Abu Bakr juga  makin ketakutan. Ia merapatkan diri kepada kawannya itu dan Muhammad berbisik di telinganya: “Jangan bersedih hati. Tuhan bersama kita.”

Dalam buku-buku hadis ada juga sumber yang menyebutkan,  bahwa setelah  terasa  oleh  Abu  Bakr bahwa mereka yang mencari itu sudah mendekat ia berkata dengan berbisik: “Kalau mereka ada yang menengok ke bawah  pasti  akan  melihat kita.” “Abu   Bakr,  kalau  kau  menduga  bahwa  kita  hanya  berdua, ketiganya adalah Tuhan,” kata Muhammad.

Orang-orang Quraisy makin yakin bahwa dalam gua  itu  tak  ada manusia  tatkala  dilihatnya ada cabang pohon yang terkulai di mulut gua. Tak ada jalan orang akan dapat  masuk  ke  dalamnya tanpa  menghalau  dahan-dahan  itu.  Ketika itulah mereka lalu surut kembali. Kedua orang bersembunyi  itu  mendengar  seruan mereka  supaya  kembali ke tempat semula. Kepercayaan dan iman Abu Bakr bertambah besar kepada Allah dan kepada Rasul.

“Alhamdulillah, Allahuakbar!” kata Muhammad kemudian.

Sarang laba-laba, dua  ekor  burung  dara  dan  pohon.  Inilah mujizat  yang  diceritakan  oleh  buku-buku sejarah hidup Nabi mengenai masalah persembunyian dalam gua Thaur itu. Dan  pokok mujizatnya  ialah  karena  segalanya  itu  tadinya  tidak ada. Tetapi sesudah Nabi dan sahabatnya bersembunyi dalam gua, maka cepat-cepatlah  laba-laba  menganyam  sarangnya  guna  menutup orang yang dalam gua itu dari  penglihatan.  Dua  ekor  burung dara  datang  pula  lalu  bertelur  di  jalan  masuk. Sebatang pohonpun  tumbuh  di  tempat  yang  tadinya  belum  ditumbuhi. Sehubungan dengan mujizat ini Dermenghem mengatakan:

“Tiga  peristiwa  itu  sajalah  mujizat  yang diceritakan oleh sejarah Islam yang benar-benar: sarang  laba-laba,  hinggapnya burung  dara dan tumbuhnya pohon-pohonan. Dan ketiga keajaiban ini setiap hari persamaannya selalu ada di muka bumi.”

Akan tetapi mujizat begini ini tidak  disebutkan  dalam  Sirat Ibn  Hisyam  ketika  menyinggung cerita gua itu. Paling banyak oleh ahli sejarah ini disebutkan sebagai berikut:

“Mereka berdua menuju ke sebuah gua  di  Gunung  Thaur  sebuah gunung  di  bawah  Mekah  –  lalu  masuk ke dalamnya. Abu Bakr meminta anaknya Abdullah supaya mendengar-dengarkan  apa  yang dikatakan  orang  tentang  mereka itu siang hari, lalu sorenya supaya kembali membawakan berita yang terjadi hari itu. Sedang ‘Amir  b.  Fuhaira supaya menggembalakan kambingnya siang hari dan diistirahatkan kembali bila sorenya ia  kembali  ke  dalam gua.  Ketika itu, bila hari sudah sore Asma, datang membawakan makanan yang cocok buat mereka … Rasulullah  s.a.w.  tinggal dalam  gua  selama  tiga hari tiga malam. Ketika ia menghilang Quraisy menyediakan seratus ekor unta  bagi  barangsiapa  yang dapat  mengembalikannya  kepada mereka. Sedang Abdullah b. Abi Bakr siangnya berada  di  tengah-tengah  Quraisy  mendengarkan permufakatan  mereka  dan  apa yang mereka percakapkan tentang Rasulullah  s.aw.  dan  Abu  Bakr,  sorenya  ia  kembali   dan menyampaikan berita itu kepada mereka.

‘Amir   b.   Fuhaira   –   pembantu   Abu  Bakr  –  waktu  itu menggembalakan ternaknya di tengah-tengah para gembala  Mekah, sorenya  kambing  Abu  Bakr  itu  diistirahatkan,  lalu mereka memerah susu dan menyiapkan daging. Kalau paginya Abdullah  b. Abi  Bakr  bertolak dari tempat itu ke Mekah, ‘Amir b. Fuhaira mengikuti jejaknya dengan membawa  kambing  supaya  jejak  itu terhapus. Sesudah berlalu tiga hari dan orangpun mulai tenang, aman mereka, orang yang disewa datang membawa unta kedua orang itu serta untanya sendiri… dan seterusnya.”

Demikian  Ibn  Hisyam menerangkan mengenai cerita gua itu yang kami nukilkan sampai pada waktu Muhammad dan sahabatnya keluar dari sana. Tentang pengejaran Quraisy terhadap Muhammad untuk dibunuh itu serta tentang cerita gua ini datang firman Tuhan demikian:“Ingatlah tatkala orang-orang kafir (Quraisy)  itu  berkomplot membuat  rencana  terhadap  kau,  hendak  menangkap  kau, atau membunuh kau, atau mengusir kau. Mereka  membuat  rencana  dan Allah  membuat  rencana pula. Allah adalah Perencana terbaik.” (Qur’an, 8: 30)

Kalau kamu tak dapat menolongnya, maka Allah juga Yang  telah menolongnya   tatkala   dia   diusir  oleh  orang-orang  kafir (Quraisy). Dia  salah  seorang  dari  dua  orang  itu,  ketika keduanya  berada  dalam  gua.  Waktu  itu  ia  berkata  kepada temannya itu: ‘Jangan bersedih hati, Tuhan bersama kita!’ Maka Tuhan  lalu  memberikan  ketenangan kepadanya dan dikuatkanNya dengan pasukan yang tidak kamu  lihat.  Dan  Allah  menjadikan seruan  orang-orang kafir itu juga yang rendah dan kalam Allah itulah yang tinggi.  Dan  Allah  Maha  Kuasa  dan  Bijaksana.” (Qur’an, 9: 40)

Pada  hari  ketiga, bila mereka berdua sudah mengetahui, bahwa orang sudah tenang kembali mengenai diri  mereka,  orang  yang disewa  tadi  datang  membawakan  unta  kedua  orang itu serta untanya sendiri. Juga Asma, puteri Abu Bakr datang  membawakan makanan.  Oleh  karena  ketika  mereka  akan berangkat tak ada sesuatu yang dapat dipakai menggantungkan makanan dan  minuman pada  pelana  barang,  Asma,  merobek  ikat  pinggangnya  lalu sebelahnya dipakai menggantungkan  makanan  dan  yang  sebelah lagi    diikatkan.    Karena   itu   ia   lalu   diberi   nama “dhat’n-nitaqain” (yang bersabuk dua).

Mereka   berangkat.   Setiap   orang    mengendarai    untanya sendiri-sendiri dengan membawa bekal makanan. Abu Bakr membawa limaribu dirham dan itu  adalah  seluruh  hartanya  yang  ada. Mereka  bersembunyi  dalam gua itu begitu ketat. Karena mereka mengetahui pihak Quraisy sangat  gigih  dan  hati-hati  sekali membuntuti,  maka  dalam  perjalanan  ke  Yathrib  itu  mereka mengambil jalan yang tidak biasa ditempuh orang.  Abdullah  b. ‘Uraiqit  –  dari Banu Du’il – sebagai penunjuk jalan, membawa mereka hati-hati sekali ke  arah  selatan  di  bawahan  Mekah, kemudian menuju Tihama di dekat pantai Laut Merah. Oleh karena mereka melalui jalan  yang  tidak  biasa  ditempuh  orang,  di bawanya mereka ke sebelah utara di seberang pantai itu, dengan agak menjauhinya, mengambil jalan yang paling sedikit  dilalui orang.

Kedua  orang itu beserta penunjuk jalannya sepanjang malam dan di waktu siang berada di atas  kendaraan.  Tidak  lagi  mereka pedulikan  kesulitan,  tidak  lagi  mereka mengenal lelah. Ya, kesulitan mana yang  lebih  mereka  takuti  daripada  tindakan Quraisy  yang  akan  merintangi  mereka  mencapai  tujuan yang hendak mereka  capai  demi  jalan  Allah  dan  kebenaran  itu!

Memang,  Muhammad  sendiri  tidak pernah mengalami kesangsian, bahwa Tuhan akan menolongnya, tetapi “jangan kamu mencampakkan diri  ke  dalam bencana.” Allah menolong hambaNya selama hamba menolong  dirinya  dan  menolong   sesamanya.   Mereka   telah melangkah dengan selamat selama dalam gua.

Akan  tetapi  apa yang dilakukan Quraisy bagi barangsiapa yang dapat  mengembalikan  mereka  berdua  atau  dapat  menunjukkan tempat mereka, wajar sekali akan menarik hati orang yang hanya tertarik pada hasil  materi  meskipun  akan  diperoleh  dengan jalan  kejahatan.  Apalagi  jika  kita  ingat orang-orang Arab Quraisy itu memang sudah  menganggap  Muhammad  musuh  mereka.

Dalam  jiwa  mereka  terdapat suatu watak tipu-muslihat, bahwa membunuh orang yang tidak bersenjata dan menyerang pihak  yang tak  dapat  mempertahankan  diri,  bukan  suatu hal yang hina. Jadi, dua orang itu harus benar-benar waspada,  harus  membuka

mata, memasang telinga dan penuh kesadaran selalu. Dugaan  kedua  orang  itu  tidak meleset. Sudah ada orang yang datang  kepada  Quraisy  membawa  kabar,  bahwa   ia   melihat serombongan kendaraan unta terdiri dari tiga orang lewat.

Sumber : S E J A R A H    H I D U P    M U H A M M A D

oleh MUHAMMAD HUSAIN HAEKAL diterjemahkan dari bahasa Arab oleh Ali Audah

Penerbit PUSTAKA JAYA Jln. Kramat II, No. 31 A, Jakarta Pusat

Cetakan Kelima, 1980

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: