MEMBANGUN KHAZANAH ILMU DAN PENDIDIKAN

Belajar itu adalah perobahan …….

Perjalanan Hijrah Rasul yang penuh Hikmah dan Perjuangan(bagian kedua)

Posted by Bustamam Ismail on August 17, 2010

A.Suraqa b. Malik b. Ju’syum

Mereka   yakin   itu   adalah   Muhammad  dan  beberapa  orang sahabatnya. Waktu itu Suraqa b. Malik b. Ju’syum hadir. “Ah,  mereka  itu  Keluarga  sianu,”  katanya  dengan   maksud mengelabui  orang  itu,  sebab  dia  sendiri  ingin memperoleh hadiah seratus ekor unta. Sebentar ia  masih  tinggal  bersama orang-orang itu. Tetapi kemudian ia segera pulang ke rumahnya.

Disiapkannya  senjatanya  dan  disuruhnya   orang   membawakan kudanya  ke  tengah-tengah  wadi  supaya waktu ia keluar nanti tidak dilihat orang.  Selanjutnya  dikendarainya  kudanya  dan dipacunya ke arah yang disebutkan orang itu tadi. Sementara  itu  Muhammad  dan  kedua temannya sudah mengaso di bawah naungan sebuah  batu  besar,  sekadar  beristirahat  dan menghilangkan  rasa  lelah  sambil  makan-makan dan minum, dan sekadar mengembalikan tenaga dan kekuatan baru.

Matahari sudah mulai bergelincir, Muhammad dan  Abu  Bakr  pun sudah  pula  mulai  memikirkan  akan menaiki untanya mengingat bahwa jaraknya dengan Suraqa sudah makin  dekat.  Dan  sebelum itu  kuda  Suraqa  sudah  dua kali tersungkur karena terlampau dikerahkan. Tetapi setelah penunggang kuda itu  melihat  bahwa ia  sudah  hampir berhasil dan menyusul kedua orang itu – lalu akan membawa mereka kembali ke Mekah atau membunuh mereka bila mencoba  membela  diri  –  ia lupa kudanya yang sudah dua kali tersungkur  itu,  karena  saat  kemenangan  rasanya  sudah  di tangan.  Akan  tetapi  kuda  itu tersungkur sekali lagi dengan keras  sekali,  sehingga   penunggangnya   terpelanting   dari punggung   binatang  itu  dan  jatuh  terhuyung-huyung  dengan senjatanya. Lalu diramalkan oleh Suraqa bahwa itu suatu alamat buruk  dan  dia  percaya  bahwa  sang  dewa  telah melarangnya mengejar sasarannya itu dan bahwa dia akan berada dalam bahaya besar  apabila  sampai keempat kalinya ia terus berusaha juga. Sampai di situ ia berhenti dan hanya memanggil-manggil:

“Saya Suraqa bin Ju’syum! Tunggulah,  saya  mau  bicara.  Demi Allah,  tuan-tuan  jangan  menyangsikan  saya. Saya tidak akan melakukan sesuatu yang akan merugikan tuan-tuan.”

Setelah kedua orang itu berhenti melihat kepadanya, dimintanya kepada Muhammad supaya menulis sepucuk surat kepadanya sebagai bukti bagi kedua belah pihak. Dengan permintaan Nabi, Abu Bakr lalu  menulis surat itu di atas tulang atau tembikar yang lalu dilemparkannya kepada Suraqa. Setelah diambilnya oleh Suraqa surat itu  ia  kembali  pulang. Sekarang,  bila  ada  orang  mau  mengejar  Muhajir  Besar itu olehnya  dikaburkan,   sesudah   tadinya   ia   sendiri   yang mengejarnya.

Muhammad   dan   kawannya  itu  kini  berangkat  lagi  melalui pedalaman Tihama dalam panas terik  yang  dibakar  oleh  pasir sahara.  Mereka  melintasi  batu-batu karang dan lembah-lembah curam. Dan sering pula mereka tidak mendapatkan  sesuatu  yang akan  menaungi  diri mereka dari letupan panas tengah hari tak ada  tempat  berlindung  dari  kekerasan  alam  yang  ada   di sekitarnya,  tak ada keamanan dari apa yang mereka takuti atau dari  yang  akan  menyerbu  mereka  tiba-tiba,   selain   dari ketabahan  hati  dan  iman  yang begitu mendalam kepada Tuhan. Keyakinan  mereka  besar  sekali  akan  kebenaran  yang  telah diberikan Tuhan kepada RasulNya itu.

Selama  tujuh  hari  terus-menerus mereka dalam keadaan serupa itu. Mengaso di bawah panas membara musim kemarau dan berjalan lagi  sepanjang  malam  mengarungi  lautan padang pasir. Hanya karena adanya ketenangan hati kepada Tuhan  dan  adanya  kedip bintang-bintang yang berkilauan dalam gelap malam itu, membuat hati dan perasaan mereka terasa lebih aman.

Bilamana kedua orang itu sudah memasuki  daerah  kabilah  Banu Sahm  dan  datang  pula  Buraida  kepala kabilah itu menyambut mereka, barulah perasaan kuatir dalam  hatinya  mulai  hilang. Yakin sekali mereka pertolongan Tuhan itu ada. Jarak mereka dengan Yathrib kini sudah semakin dekat .

Selama  mereka  dalam  perjalanan yang sungguh meletihkan itu, berita-berita tentang hijrah Nabi  dan  sahabatnya  yang  akan menyusul  kawan-kawan  yang  lain,  sudah  tersiar di Yathrib.

Penduduk kota ini sudah mengetahui,  betapa  kedua  orang  ini mengalami    kekerasan   dari   Quraisy   yang   terus-menerus membuntuti. Oleh karena itu semua kaum Muslimin tetap  tinggal di  tempat  itu  menantikan  kedatangan Rasulullah dengan hati penuh  rindu  ingin  melihatnya,  ingin   mendengarkan   tutur katanya.  Banyak  di  antara  mereka  itu  yang  belum  pernah melihatnya, meskipun sudah mendengar  tentang  keadaannya  dan mengetahui  pesona  bahasanya  serta  keteguhan  pendiriannya.

Semua itu membuat mereka rindu  sekali  ingin  bertemu,  ingin melihatnya. Orangpun sudah akan dapat mengira-ngirakan, betapa dalamnya hati mereka itu terangsang tatkala mengetahui,  bahwa orang-orang  terkemuka  Yathrib  yang sebelum itu belum pernah melihat  Muhammad  sudah  menjadi  pengikutnya  hanya   karena mendengar  dari  sahabat-sahabatnya  saja,  kaum Muslimin yang gigih melakukan dakwah Islam dan sangat  mencintai  Rasulullah itu.

Sa’id b. Zurara dan Mush’ab b. ‘Umair sedang duduk-duduk dalam salah sebuah kebun  Banu  Zafar.  Beberapa  orang  yang  sudah menganut  Islam  juga  berkumpul  di sana. Berita ini kemudian sampai kepada Sa’d b. Mu’adh dan ‘Usaid b. Hudzair, yang  pada

waktu     itu    merupakan    pemimpin-pemimpin    golongannya masing-masing.

Temui dua orang itu,” kata Said kepada ‘Usaid,  “yang  datang ke  daerah  kita  ini  dengan  maksud  supaya orang-orang yang hina-dina di kalangan kita dapat  merendahkan  keluarga  kita. Tegur  mereka  itu  dan  cegah.  Sebenarnya Said b. Zurara itu masih  sepupuku  dari  pihak  ibu,  jadi  saya   tidak   dapat mendatanginya.”

‘Usaidpun   pergi   menegur  kedua  orang  itu.  Tapi  Mush’ab menjawab: “Maukah kau duduk dulu dan mendengarkan?” katanya. “Kalau  hal ini  kau setujui dapatlah kauterima, tapi kalau tidak kausukai maukah kau lepas tangan?”

“Adil kau,”  kata  ‘Usaid,  seraya  menancapkan  tombaknya  di tanah.  Ia  duduk dengan mereka sambil mendengarkan keterangan Mush’ab, yang  ternyata  sekarang  ia  sudah  menjadi  seorang Muslim.  Bila ia kembali kepada Sa’d wajahnya sudah tidak lagi seperti ketika berangkat. Hal ini membuat Sa’d jadi marah. Dia sendiri  lalu pergi menemui dua orang itu. Tetapi kenyataannya ia seperti temannya juga.

Karena  pengaruh  kejadian  itu  Sa’d   lalu   pergi   menemui golongannya dan berkata kepada mereka:”Hai  Banu ‘Abd’l-Asyhal. Apa yang kamu ketahui tentang diriku di tengah-tengah kamu sekalian?”

Pemimpin  kami,  yang  paling  dekat  kepada   kami,   dengan pandangan dan pengalaman yang terpuji,” jawab mereka.

Maka  kata-katamu, baik wanita maupun pria bagiku adalah suci selama kamu beriman kepada Allah dan RasulNya.”

Sejak itu seluruh suku ‘Abd’l-Asyhal, pria  dan  wanita  masuk Islam.

Tersebarnya  Islam  di Yathrib dan keberanian kaum Muslimin di kota itu sebelum hijrah Nabi ke tempat tersebut sama sekali di luar  dugaan  kaum  Muslimin  Mekah.  Beberapa pemuda Muslimin dengan  tidak  ragu-ragu  mempermainkan  berhala-berhala  kaum musyrik  di  sana.

B.’Amr bin’l-Jamuh mempumnyai berhala

Seseorang  yang  bernama  ‘Amr bin’l-Jamuh mempunyai sebuah patung berhala  terbuat  daripada  kayu  yang dinamainya  Manat,  diletakkan di daerah lingkungannya seperti biasa dilakukan oleh kaum bangsawan. ‘Amr ini  adalah  seorang pemimpin  Banu Salima dan dari kalangan bangsawan mereka pula. Sesudah pemuda-pemuda golongannya itu masuk Islam  malam-malam mereka mendatangi berhala itu lalu di bawanya dan ditangkupkan kepalanya ke dalam sebuah lubang yang  oleh  penduduk  Yathrib biasa dipakai tempat buang air.

Bila  pagi-pagi  berhala  itu tidak ada ‘Amr mencarinya sampai diketemukan lagi,  kemudian  dicucinya  dan  dibersihkan  lalu diletakkannya    kembali   di   tempat semula,   sambil   ia menuduh-nuduh  dan   mengancam.   Tetapi   pemuda-pemuda   itu mengulangi lagi perbuatannya mempermainkan Manat ‘Amr itu, dan diapun setiap hari mencuci  dan  membersihkannya.  Setelah  ia merasa    kesal    karenanya,    diambilnya    pedangnya   dan digantungkannya pada berhala itu seraya ia berkata: “Kalau kau berguna, bertahanlah, dan ini pedang bersama kau.”

Tetapi  keesokan  harinya  ia  sudah kehilangan lagi, dan baru diketemukannya kembali dalam  sebuah  sumur  tercampur  dengan bangkai anjing. Pedangnya sudah tak ada lagi. Sesudah   kemudian   ia  diajak  bicara  oleh  beberapa  orang pemuka-pemuka masyarakatnya dan sesudah  melihat  dengan  mata kepala   sendiri   betapa  sesatnya  hidup  dalam  syirik  dan paganisma itu, yang hakekatnya akan mencampakkan jiwa  manusia ke  dalam  jurang  yang  tak  patut lagi bagi seorang manusia, iapun masuk Islam.

Melihat Islam yang sudah mencapai martabat  begitu  tinggi  di Yathrib,  akan  mudah sekali orang menilai, betapa memuncaknya kerinduan  penduduk  kota  itu  ingin   menyambut   kedatangan Muhammad,  setelah  mereka  mengetahui  ia  sudah  hijrah dari Mekah. Setiap hari selesai sembahyang Subuh  mereka  pergi  ke luar  kota  menanti-nantikan  kedatangannya  sampai pada waktu matahari terbenam dalam hari-hari musim panas bulan Juli.

Dalam pada itu ia sudah di Quba’ – dua  farsakh  jauhnya  dari Medinah.  Empat  hari  ia tinggal di tempat itu, ditemani oleh Abu Bakr. Selama masa empat hari itu mesjid Quba’ dibangunnya. Sementara  itu  datang  pula  Ali  b.  Abi-Talib ke tempat itu setelah mengembalikan barang-barang amanat –  yang  dititipkan kepada  Muhammad – kepada pemilik-pemiliknya di Mekah. Setelah itu ia sendiri meninggalkan Mekah, menempuh  perjalanannya  ke Yathrib dengan berjalan kaki. Malam hari ia berjalan, siangnya bersembunyi.   Perjuangan   yang   sangat    meletihkan    itu ditanggungnya  selama  dua  minggu penuh, yaitu untuk menyusul saudara-saudaranya seagama.

Sementara  kaum  Muslimin  Yathrib  pada  suatu  hari   sedang menanti-nantikan seperti biasa tiba-tiba datang seorang Yahudi yang sudah mengetahui  apa  yang  sedang  mereka  lakukan  itu berteriak kepada mereka. “Hai, Banu Qaila1 ini dia kawan kamu datang!” Hari itu adalah hari Jum’at dan Muhammad berjum’at di Medinah.

Di tempat itulah, ke dalam mesjid yang terletak di perut  Wadi Ranuna  itulah  kaum  Muslimin  datang, masing-masing berusaha ingin melihat serta mendekatinya. Mereka ingin memuaskan  hati terhadap orang yang selama ini belum pernah mereka lihat, hati

yang sudah penuh cinta dan rangkuman iman akan risalahnya, dan yang selalu namanya disebut pada setiap kali sembahyang.

Orang-orang  terkemuka  di  Medinah  menawarkan diri supaya ia tinggal pada mereka dengan  segala  persediaan  dan  persiapan yang  ada. Tetapi ia meminta maaf kepada mereka. Kembali ia ke atas unta  betinanya,  dipasangnya  tali  keluannya,  lalu  ia berangkat  melalui  jalan-jalan  di  Yathrib, di tengah-tengah kaum Muslimin yang ramai  menyambutnya  dan  memberikan  jalan sepanjang   jalan   yang  diliwatinya  itu.  Seluruh  penduduk Yathrib, baik  Yahudi  maupun  orang-orang  pagan  menyaksikan

adanya  hidup  baru  yang  bersemarak  dalam  kota mereka itu, menyaksikan kehadiran seorang pendatang baru, orang besar yang telah  mempersatukan  Aus  dan Khazraj, yang selama itu saling bermusuhan, saling berperang. Tidak  terlintas  dalam  pikiran mereka  –  pada  saat  ini,  saat  transisi  sejarah yang akan menentukan tujuannya yang baru itu – akan memberikan kemegahan dan  kebesaran  bagi  kota  mereka,  dan yang akan tetap hidup selama sejarah ini berkembang.

Dibiarkannya unta itu berjalan. Sesampainya ke  sebuah  tempat penjemuran   kurma   kepunyaan   dua  orang  anak  yatim  dari Banu’n-Najjar, unta itu  berlutut  (berhenti).  Ketika  itulah Rasul turun dari untanya dan bertanya:

Kepunyaan siapa tempat ini?” tanyanya. “Kepunyaan  Sahl  dan Suhail b. ‘Amr,” jawab Ma’adh b. ‘Afra’.

Dia adalah wali kedua anak yatim  itu.  Ia  akan  membicarakan soal  tersebut  dengan  kedua  anak  itu  supaya  mereka puas. Dimintanya kepada Muhammad  supaya  di  tempat  itu  didirikan mesjid. Muhammad  mengabulkan  permintaan tersebut dan dimintanya pula supaya di tempat itu didirikan mesjid dan tempat-tinggalnya.

Catatan kaki:

1 Aus dan Khazraj (A).

Sumber: S E J A R A H    H I D U P    M U H A M M A D

oleh MUHAMMAD HUSAIN HAEKAL diterjemahkan dari bahasa Arab oleh Ali Audah

Penerbit PUSTAKA JAYA Jln. Kramat II, No. 31 A, Jakarta Pusat Cetakan Kelima, 1980

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: