MEMBANGUN KHAZANAH ILMU DAN PENDIDIKAN

Belajar itu adalah perobahan …….

Sumpah setia Penduduk Yatsrib dasar penbentukan Negara Madinah.

Posted by Bustamam Ismail on August 16, 2010

A.Orang Quresy menolak dan menentang Nabi cara Kasar

ORANG-ORANG Quraisy tidak  dapat  memahami  arti  isra’,  juga mereka  yang  sudah  Islam  banyak yang tidak memahami artinya seperti sudah disebutkan tadi. Itu sebabnya, ada kelompok yang lalu  meninggalkan  Muhammad  yang  tadinya  sudah sekian lama menjadi pengikutnya. Permusuhan Quraisy terhadap Muhammad  dan terhadap kaum Muslimin makin keras juga, sehingga mereka sudah merasa sungguh kesal karenanya. Rasanya tak ada  lagi  harapan bagi  Muhammad  akan mendapat dukungan kabilah-kabilah sesudah ternyata Thaqif dari Ta’if menolaknya dengan cara  yang  kasar dan tidak bersahabat. Demikian juga kemudian kabilah-kabilah Kinda, Kalb, Banu ‘Amir dan Banu  Hanifa  semua  menolaknya,  ketika  ia  datang mengenalkan diri kepada mereka pada musim ziarah.

Sesudah  itu  Muhammad  merasa,  bahwa  tiada  seorangpun dari Quraisy itu nampaknya  yang  dapat  diharapkan  diajak  kepada kebenaran. Kabilah-kabilah lain di luar Quraisy yang berada di sekitar Mekah dan yang datang berziarah  ke  tempat  itu  dari segenap   penjuru   daerah   Arab,   melihat  keadaannya  yang dikucilkan itu dan melihat sikap permusuhan Quraisy  kepadanya demikian  rupa,  membuat  setiap  orang yang mendukungnya jadi memusuhi mereka. Sekarang  sikap  Quraisy  tambah  keras  pula menentangnya.

Meskipun  Muhammad  sudah  merasa  berbesar hati karena adanya Hamzah dan ‘Umar, dan meskipun ia sudah yakin,  bahwa  Quraisy tidak  akan  terlalu  membahayakan  melebihi  yang sudah-sudah mengingat adanya pertahanan pihak keluarganya dari Banu Hasyim dan  Banu  Abd’l-Muttalib,  tapi ia melihat -sampai pada waktu itu- bahwa risalah Tuhan itu akan terhenti  hanya  pada  suatu lingkaran   pengikutnya   saja.   Mereka   yang  terdiri  dari orang-orang yang masih lemah  dan  sedikit  sekali  jumlahnya, hampir-hampir  saja  punah  atau tergoda meninggalkan agamanya kalau tidak segera datang kemenangan  dan  pertolongan  Tuhan.

Hal  ini  berjalan  cukup  lama.  Muhammad makin dikucilkan di tengah-tengah keluarganya, kedengkian Quraisy  juga  bertambah besar.

Adakah  pengasingan yang demikian ini telah melemahkan jiwanya dan dapat mematahkan semangatnya?  Sekali-kali  tidak!  Bahkan kepercayaannya akan kebenaran yang datang dari Tuhan itu lebih luhur daripada  sekedar  pertimbangan-pertimbangan  yang  akan dapat  melemahkan  jiwa  biasa.  Bagi  orang yang berjiwa luar biasa hal ini justru akan lebih memperkuat kepercayaannya.

Dalam  keadaan  terasing  itu  –  dengan  sahabat-sahabat   di sekelilingnya  –  Muhammad  yakin sekali Tuhan akan memberikan pertolongan kepadanya dan  agamanyapun  akan  mengatasi  semua agama.  Badai  kedengkian  tidak sampai menggoyangkan hatinya. Bahkan tetap ia tinggal di Mekah selama beberapa tahun.  Tidak peduli  ia  harta  Khadijah  dan  hartanya sendiri akan habis. Keadaannya yang sangat miskin tidak sampai melemahkan hatinya. Jiwanya   tak   pernah  gandrung  kepada  apapun  selain  dari pertolongan Tuhan yang sudah pasti akan diberikan kepadanya.

Apabila musim ziarah  sudah  tiba,  orang-orang  dari  segenap jazirah  Arab  sudah  berkumpul  lagi  di  Mekah,  iapun mulai menemui  kabilah-kabilah  itu.   Diajaknya   mereka   memahami kebenaran  agama  yang  dibawanya  itu. Tidak peduli ia apakah

kabilah-kabilah  tidak  mau  menerima  ajakannya,  atau   akan mengusirnya  secara  kasar. Beberapa orang pandir dari Quraisy berusaha menghasut  ketika  diketahui  ia  terus  menyampaikan amanat  Tuhan  itu kepada orang ramai. Mereka memperlakukannya dengan segala  kejahatan.  Tetapi  semua  itu  tidak  mengubah ketenangan  jiwanya  dan ia yakin sekali akan hari esok. Allah Maha Agung  telah  mengutusnya  demi  kebenaran.  Sudah  tentu Dialah  Pembela  dan  Pendukung kebenaran itu. Tuhan juga Yang telah mewahyukan kepadanya, supaya  dalam  berdebat  hendaknya dilakukan dengan cara yang sebaik-baiknya.

Sehingga  permusuhan  antara  engkau  dengan  dia  itu  sudah seperti persahabatan yang erat sekali. (Qur’an,  41:  34)  Dan supaya  bicara  dengan mereka dengan lemah-lembut, kalau-kalau mereka mau sadar dan merasa  gentar.  Jadi,  tabahkanlah  hati menghadapi  siksaan  mereka.  Tuhan  bersama mereka yang tabah hati.

B.Tanda kemenangan dari arah Yathrib

Tidak selang berapa tahun kemudian Muhammad menunggu tiba-tiba tampak   tanda  permulaan  kemenangan  itu  datang  dari  arah Yathrib. Bagi Muhammad Yathrib mempunyai arti  hubungan  bukan hubungan  dagang,  tetapi suatu hubungan yang dekat sekali. Di tempat itu ada  sebuah  kuburan,  dan  sebelum  wafat,  sekali setahun    ibunya    berziarah    ke    tempat   itu.   Sedang famili-familinya,  dari  pihak  Banu  Najjar,  ialah  keluarga kakeknya  Abd’l-Muttalib  dari  pihak  ibu.  Kuburan itu ialah makam ayahnya, Abdullah b.  Abd’l-Muttalib.  Ke  makam  inilah Aminah    sebagai    isteri   yang   setia   berziarah.   Dulu Abd’l-Muttalib juga sebagai ayah  yang  kehilangan  anak  yang sedang  muda belia dan tegap, pernah berziarah. Ketika berusia enam tahun, Muhammad juga pernah ke Yathrib  menemani  ibunya. Jadi  bersama  ibunya  ia  juga  ziarah  ke makam ayahnya itu. Kemudian mereka berdua kembali pulang. Aminah jatuh  sakit  di tengah  perjalanan,  sampai  wafat. Lalu dikuburkan di Abwa’ – pertengahan jalan antara Yathrib dengan Mekah.

Jadi  tidak  heranlah  apabila  tanda-tanda  kemenangan   bagi Muhammad  itu  dimulai dari jurusan sebuah kota yang mempunyai hubungan  sedemikian  rupa.  Ke  arah  ini  jugalah  dulu   ia menghadap,  tatkala  dalam sembahyang itu al-Masjid’l-Aqsha di Bait’l-Maqdis dijadikan kiblatnya, tempat sesepuhnya Musa  dan Isa. Tidak heran apabila nasib baik itu akan jatuh di Yathrib.

Di tempat ini Muhammad akan beroleh kemenangan, di tempat  ini Islam  akan  beroleh kemenangan, di tempat ini pula Islam akan memperoleh sukses dan berkembang. Nasib baik telah  jatuh  di  Yathrib,  suatu  hal  yang  tidak terjadi  pada  kota  yang  lain. Waktu itu dua kabilah Aus dan Khazraj adalah penyembah berhala  di  Yathrib.  Mereka  saling bertetangga  dengan  orang-orang  Yahudi.  Sering  pula timbul kebencian antara mereka itu  dan  dari  kebencian  ini  sampai timbul pula peperangan.

C.Hubungan Yahudi dengan Aus dan Khazraj

Sejarah  memperlihatkan bahwa orang-orang Masehi di Syam, yang berada di  bawah  pengaruh  Rumawi  Timur  (Bizantium)  sangat membenci orang-orang Yahudi, sebab mereka percaya bahwa mereka inilah yang telah menyiksa dan menyalib Isa  al-Masih.  Mereka menyerbu  Yathrib  guna  memerangi  orang-orang  Yahudi.  Akan tetapi karena tidak berhasil mereka lalu membujuk dan  meminta bantuan  Aus  dan  Khazraj.  Tidak  sedikit jumlah orang-orang Yahudi  itu  kemudian  yang  mereka  bunuh.  Dengan   demikian kedudukan    orang-orang   Yahudi   sebagai   yang   dipertuan dijatuhkan, dan orang-orang Arab kabilah Aus dan Khazraj  yang tadinya  terbatas  hanya sebagai kuli telah dinaikkan. Sesudah itu  orang-orang  Arab  itu  berusaha  lagi  akan   menghantam orang-orang  Yahudi  supaya  kekuasaan  mereka  atas kota yang makmur dan subur dengan pertanian  dan  air  itu  lebih  besar lagi. Siasat mereka ini berhasil baik sekali.

Tetapi  pihak  Yahudi  sendiri kemudian menyadari akan bencana yang menimpa diri mereka itu. Permusuhan dan  kebencian  pihak Yahudi  Yathrib  terhadap  Aus dan Khazraj makin mendalam, Aus dan Khazrajpun demikian juga terhadap Yahudi.

Sekarang pengikut-pengikut Musa ini melihat, bahwa pertempuran yang  dilawan  dengan  pertempuran  berarti  akan menghabiskan mereka sama sekali,  apalagi  kalau  Aus  dan  Khazraj  sampai bersahabat  baik2 dengan orang-orang Arab, yang seagama dengan Ahli Kitab. Maka dalam siasat mereka,  mereka  menempuh  suatu cara  bukan  mencari  kemenangan  dalam pertempuran, melainkan dengan  menggunakan  siasat  memecah-belah.  Mereka  melakukan intrik  di  kalangan Aus dengan Khazraj, menyebarkan provokasi permusuhan  dan   kebencian   di   kalangan   mereka,   supaya masing-masing pihak selalu bersiap-siap akan saling bertempur.

Dengan  demikian  selamatlah  propaganda  mereka  itu.  Mereka sekarang dapat memperbesar perdagangan  dan  kekayaan  mereka. Kekuasaan mereka yang sudah hilang dapat mereka rebut kembali, termasuk rumah-rumah dan harta tidak bergerak lainnya.

Di samping konflik karena  berebut  kedaulatan  dan  kekuasaan dalam  hidup  bertetangga  Yahudi-Arab  Yathrib itu, masih ada pengaruh lain yang lebih dalam  pada  pihak  Aus  dan  Khazraj melebihi penduduk jazirah Arab yang manapun juga – yaitu dalam arti pengaruh rohani.

Orang-orang  Yahudi   sebagai   Ahli   Kitab   dan   penganjur monotheisma   sangat  mencela  tetangga-tetangga  mereka  yang terdiri dari  kaum  pagan  dengan  penyembah  berhala  sebagai pendekatan kepada Tuhan.

Mereka  diperingatkan  bahwa  kelak akan ada seorang nabi yang akan  menghabiskan  mereka  dan   mendukung   Yahudi.   Tetapi propaganda  ini  tidak sampai membuat orang-orang Arab itu mau menganut agama  Yahudi.  Soalnya  karena  dua  sebab:  pertama karena  selalu ada perang antara kaum Nasrani dan kaum Yahudi, yang lalu membuat Yahudi Yathrib  hanya  hidup  cari  selamat, yang  berarti  akan  menjamin  lancarnya  perdagangan  mereka.

Kedua, orang-orang Yahudi  beranggapan,  bahwa  mereka  adalah bangsa  pilihan  Tuhan,  dan  mereka tidak mau ada bangsa lain memegang kedudukan ini.  Disamping  itu  mereka  memang  tidak pernah  mengajak  orang  lain  menganut agamanya dan merekapun tidak pula keluar dari lingkungan Keluarga Israil. Atas  dasar ke  dua  sebab tersebut, hubungan tetangga dan hubungan dagang antara Yahudi dengan Arab -Aus dan  Khazraj  –  membuat  lebih banyak mengetahui cerita-cerita kerohanian dan masalah-masalah agama lainnya di banding dengan golongan Arab yang  lain.  Ini menunjukkan  bahwa  tak  ada suatu golongan dari kalangan Arab yang dapat  menerima  ajakan  Muhammad  dalam  arti  spiritual seperti yang dilakukan oleh penduduk Yathrib itu.

Suwaid  bin’sh-Shamit adalah  seorang  bangsawan terkemuka di Yathrib. Karena  ketabahannya,  pengetahuannya,  kebangsawanan dan  keturunannya, masyarakatnya sendiri menamakannya al-Ramil (yang sempurna). Pada waktu  membicarakan  ini  Suwaid  sedang berada  di  Mekah  berziarah.  Muhammad  lalu  menemuinya  dan diajaknya ia mengenal Tuhan dan menganut Islam. “Barangkali yang ada padamu itu sama dengan yang ada  padaku,” kata Suwaid. “Apa yang ada padamu?” tanya Muhammad. “Kata-kata mutiara oleh Luqman.” Lalu Muhammad minta supaya hal itu dikemukakan.

Memang  itu  kata-kata yang baik,” kata Muhammad setelah oleh Suwaid  dikemukakan.  “Tapi  yang  ada  padaku   lebih   utama tentunya, yaitu Qur’an sebagai bimbingan dan cahaya.”

Lalu  dibacakannya  ayat-ayat  Qur’an  itu  kepadanya disertai ajakan agar ia sudi  menerima  Islam.  Gembira  sekali  Suwaid mendengar ini. “Memang  baik  sekali  ini,”  katanya.  Lalu  ia  pergi hendak memikirkan hal tersebut.  Ada  sementara  orang  yang  berkata ketika ia dibunuh oleh Khazraj, bahwa ia mati sebagai Muslim.

Peristiwa  Suwaid b. Shamit ini bukan contoh satu-satunya yang menunjukkan adanya pengaruh Yahudi dan Arab  di  Yathrib  yang bertetangga itu, dari segi rohani.

Keadaan  Aus dan Khazraj yang begitu bermusuhan sebagai akibat provokasi pihak Yahudi seperti yang sudah kita  ketahui,  satu sama  lain  mencari  sekutu  di  kalangan kabilah-kabilah Arab untuk memerangi  lawannya.  Dalam  hal  ini  kedatangan  Abu’l Haisar  Ans b. Rafi’ ke Mekah disertai pemuda-pemuda dari Banu Abd’l-Asyhal – termasuk Iyas b. Mu’adh – adalah  dalam  rangka mencari  persekutuan  dengan  pihak  Quraisy  dan  golongannya sendiri dari  pihak  Khazraj.  Muhammad  mengetahui  hal  ini.

Ditemuinya  mereka  itu,  dan  diperkenalkannya  Islam  kepada mereka. Lalu dibacanya ayat-ayat Qur’an kepada mereka. Pada  waktu  itu,  Iyas   b.Mu’adh   sebagai   pemuda   remaja mengatakan:  “Kawan-kawan,  ini adalah lebih baik daripada apa yang ada pada kita semua.” Mereka kemudian kembali pulang ke Yathrib. Tak ada yang  masuk Islam  diantara  mereka  itu, selain Iyas. Mereka semua sedang sibuk mencari sekutu sebagai  suatu  persiapan  karena  adanya insiden  Bu’ath yang telah melibatkan Aus dan Khazraj ke dalam api perang saudara itu, tidak lama sesudah  Abu’l  Haisar  dan rombongannya   kembali   dari  Mekah.  Akan  tetapi  kata-kata Muhammad ‘alaihissalam telah meninggalkan bekas yang dalam  ke dalam  jiwa  mereka  setelah terjadinya insiden itu, yang lalu membuat Aus dan  Khazraj  menantikan  Muhammad  sebagai  Nabi, sebagai Rasul, sebagai wakil dan pemuka mereka.

D.Pertempuran Bu’ath.

Memang,  terjadinya  insiden  Bu’ath  itu  tidak  lama sesudah Abu’l-Haisar kembali ke Yathrib. Pada waktu itulah pertempuran sengit  antara  Aus  dan  Khazraj terjadi, yang membawa akibat timbulnya  permusuhan  yang  berakar  dalam   sekali.   Setiap golongan  lalu  bertanya-tanya  kalau-kalau  mereka  itu  yang menang: akan tetapkah mereka dengan  kawan-kawan  mereka  itu, ataukah  akan  dikikis habis. Abu Usaid Hudzair sebagai pemuka Aus, sangat dendam sekali kepada Khazraj.

Tatkala pertempuran sudah dimulai, pihak Aus  mengalami  suatu kekacauan.  Mereka  lari  tunggang-langgang ke arah Najd, yang oleh pihak Khazraj  lalu  diejek.  Hudzair  yang  mendengarkan ejekan  itu menetakkan ujung lembingnya ke pahanya; lalu turun

dengan mengatakan:”Sungguh luarbiasa! Tidak akan tinggal diam sebelum  aku  mati

terbunuh.  Wahai  masyarakat  Aus,  kalau kamu mau menyerahkan aku, lakukanlah!”

Pihak Aus sekarang mau bertempur lagi. Pengalaman  pahit  yang telah   menimpa   mereka   menyebabkan  mereka  kini  berjuang mati-matian. Khazraj dapat mereka hancurkan.  Rumah-rumah  dan kebun  kurma Khazraj oleh Aus dibakar. Kemudian Sa’d b. Mu’adh al-Asyhadi bertindak melindungi Khazraj. Sementara itu Hudzair bermaksud   akan   mendatangi   rumah  demi  rumah,  membunuhi satu-satu mereka sampai tak ada yang hidup lagi,  kalau  tidak segera  Abu  Qais ibn’l-Aslat kemudian datang mencegahnya guna menjaga solidaritas kepercayaan  mereka.  “Bertetangga  dengan mereka lebih baik daripada bertetangga dengan rubah.”

Sejak  itu orang-orang Yahudi dapat mengembalikan kedudukannya di Yathrib. Baik yang menang maupun yang kalah  dari  kalangan Aus  dan  Khazraj  sama-sama  berpendapat tentang akibat buruk yang telah mereka lakukan itu. Hal ini yang sekarang  terpikir oleh  mereka,  dan  mereka  sudah  mempertimbangkan  pula akan mengangkat seorang raja atas mereka itu. Untuk itu mereka lalu memilih  Abdullah  b.  Muhammad  dari pihak Khazraj yang sudah kalah, mengingat kedudukan dan pandangannya  yang  baik.  Akan tetapi   karena   perkembangan   situasi  yang  begitu  pesat, keinginan mereka itu tidak sampai  terlaksana.  Soalnya  ialah karena  ada  beberapa  orang  dari Khazraj pergi ke Mekah pada musim ziarah.

Di tempat ini Muhammad menemui mereka dan  menanyakan  keadaan mereka,   yang  kemudian  diketahuinya,  bahwa  mereka  adalah kawan-kawan orang-orang Yahudi. Ketika itu orang-orang  Yahudi di Yathrib mengatakan  apabila mereka saling berselisih.

Sekarang  akan ada seorang nabi utusan Tuhan yang sudah dekat waktunya. Kami akan jadi pengikutnya dan kami dengan dia  akan memerangi kamu seperti dalam perang ‘Ad dan Iram.”

Setelah   Nabi  bicara  dengan  mereka  dan  diajaknya  mereka bertauhid  kepada  Allah,  satu  sama   lain   mereka   saling berpandang-pandangan.

“Sungguh inilah Nabi yang pernah dijanjikan orang-orang Yahudi kepada kita,” kata mereka. “Jangan  sampai  mereka  mendahului kita.”

Seruan  Muhammad mereka sambut dengan baik dan menyatakan diri mereka masuk Islam. Lalu kata mereka:

Kami telah meninggalkan golongan kami – yakni Aus dan Khazraj  dan  tidak  ada  lagi  golongan  yang saling bermusuhan dan saling mengancam.  Mudah-mudahan  Tuhan  mempersatukan  mereka dengan  tuan.  Bila mereka itu sudah dapat dipertemukan dengan tuan, maka tak adalah orang yang lebih mulia dari tuan.”

Orang-orang itu lalu kembali ke Medinah.  Dua  orang  diantara mereka  itu  dari  Banu’n-Najjar, keluarga Abd’l-Muttalib dari pihak ibu – kakek Muhammad yang telah mengasuhnya sejak kecil. Kepada  masyarakatnya  itu  mereka  menyatakan  sudah menganut Islam. Ternyata merekapun menyambut pula  dengan  senang  hati agama  ini,  yang berarti akan membuat mereka menjadi golongan monotheis seperti orang-orang  Yahudi.  Bahkan  membuat  lebih baik  dari  mereka.  Dengan  demikian tiada suatu keluargapun, baik Aus atau  Khazraj,  yang  tidak  menyebut  nama  Muhammad

‘alaihissalam.

E. Ikrar A’qobah pertama.

Tiba giliran tahun berikutnya, bulan-bulan sucipun datang lagi bersama datangnya musim ziarah ke Mekah,  dan  ke  tempat  itu datang  pula  duabelas  orang  penduduk  Yathrib.  Mereka  ini bertemu  dengan  Nabi  di  ‘Aqaba.  Di  tempat  inilah  mereka menyatakan  ikrar  atau  berjanji  kepada  Nabi (yang kemudian dikenal dengan nama) Ikrar  ‘Aqaba  pertama.  Mereka  berikrar kepadanya untuk tidak menyekutukan Tuhan, tidak mencuri, tidak berzina,  tidak  membunuh  anak-anak,  tidak   mengumpat   dan memfitnah,  baik  di depannya atau di belakang. Jangan menolak berbuat kebaikan. Barangsiapa mematuhi semua itu  ia  mendapat pahala  surga,  dan  kalau  ada  yang  mengecoh,  maka soalnya kembali kepada Tuhan. Tuhan berkuasa menyiksa,  juga  berkuasa mengampuni segala dosa.

Dalam  hal  ini  Muhammad menugaskan kepada Mush’ab bin ‘Umair supaya membacakan  Qur’an  kepada  mereka,  mengajarkan  Islam serta seluk-beluk hukum agama.

Setelah  adanya  ikrar  ini  Islam  makin tersebar di Yathrib. Mush’ab  bertugas  memberikan  pelajaran  agama  di   kalangan Muslimin  Aus  dan  Khazraj.  Gembira  sekali  ia melihat kaum Anshar itu makin teguh kepercayaannya kepada Allah dan  kepada kebenaran.  Menjelang  bulan-bulan  suci  akan tiba, ia datang lagi ke  Mekah  dan  kepada  Muhammad  diceritakannya  keadaan Muslimin  di  Yathrib  itu;  tentang  ketahanan  dan  kekuatan mereka, dan bahwa pada musim haji tahun ini mereka akan datang lagi ke Mekah dalam jumlah yang lebih besar dengan iman kepada Tuhan yang sudah lebih kuat.

Berita-berita  yang  disampaikan  oleh  Mush’ab  ini   membuat Muhammad  berpikir  lebih  lama  lagi. Pengikut-pengikutnya di Yathrib kini makin sehari makin berkuasa  dan  bertambah  kuat juga.  Dari  orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik mereka tidak   mendapat   gangguan   seperti   yang   dialami    oleh kawan-kawannya  di  Mekah  karena gangguan Quraisy. Di samping itu Yathrib lebih makmur daripada Mekah – ada  pertanian,  ada kebun  kurma,  ada  anggur. Bukankah lebih baik sekali apabila Muslimin Mekah  itu  hijrah  saja  ke  tempat  saudara-saudara mereka di sana, yang akan terasa lebih aman? Mereka akan bebas dari Quraisy yang selalu memfitnah agama mereka.

Selama  Muhammad  berpikir-pikir  itu  teringat  olehnya  akan orang-orang  dari  Yathrib,  mereka yang mula-mula masuk Islam itu, dan yang menceritakan adanya permusuhan  antara  golongan Aus  dan  Khazraj.  Apabila  dengan  perantaraannya mereka itu sudah dapat dipersatukan Tuhan, maka tak ada orang yang  lebih mulia  dari Muhammad. Sekarang mereka sudah dipertemukan Allah bersama dia, bukankah lebih baik apabila dia juga  hijrah?  Ia tidak  ingin membalas kejahatan Quraisy itu. Iapun sadar bahwa ia lebih lemah  dari  mereka.  Kalaupun  Keluarga  Hasyim  dan Keluarga  Muttalib  melindunginya  dari  penganiayaan,  mereka tidak akan membelanya dalam melakukan penganiayaan. Dan mereka yang  sudah  menjadi  pengikutnya juga takkan dapat melindungi diri dari penganiayaan Quraisy dan segala macam kejahatannya.

Sumber:  S E J A R A H    H I D U P    M U H A M M A D

oleh MUHAMMAD HUSAIN HAEKAL diterjemahkan dari bahasa Arab oleh Ali Audah Penerbit PUSTAKA JAYA Jln. Kramat II, No. 31 A, Jakarta Pusat Cetakan Kelima, 1980

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: