MEMBANGUN KHAZANAH ILMU DAN PENDIDIKAN

Belajar itu adalah perobahan …….

Sumpah setia (Bai’ah Aqobah kedua)Penduduk Yatsrib dasar penbentukan Negara Madinah.

Posted by Bustamam Ismail on August 16, 2010

Apabila iman itu merupakan landasan  yang  paling  kuat,  yang akan  membuat  segalanya  di  hadapan  kita menjadi kecil, dan untuk itu dengan segala senang hati orang  mengorbankan  harta bendanya,  kesenangan, kebebasan dan seluruh hidupnya, apabila penganiayaan itu dengan sendirinya akan membuat iman seseorang bertambah   dalam,  maka  penganiayaan  dan  pengorbanan  yang terus-menerus itu  bagi  seorang  mukmin  akan  membuatnya  ia merenungkan  lebih  dalam  lagi,  akan memberinya ruangan yang lebih luas serta pengertian tentang kebenaran yang lebih dalam dan   kuat.   Dahulu   Muhammad   pernah  menganjurkan  kepada pengikut-pengikutnya  supaya  mereka  mengungsi  ke   Abisinia daerah Kristen, karena di situ ada kebenaran, ada seorang raja yang adil. Maka akan lebih baiklah bila sekarang kaum Muslimin itu  mengungsi ke Yathrib, dapat saling memperkuat diri dengan sahabat-sahabat  kaum   Muslimin   di   sana,   dapat   saling tolong-menolong  dalam  menahan  bahaya  yang  mungkin menimpa mereka. Dengan begitu mereka  akan  mendapat  kebebasan  dalam merenungkan  agama serta berterang-terang pula guna mengangkat martabat mereka, sebagai jaminan suksesnya dakwah  agama  ini, suatu  dakwah  yang tidak mengenal paksaan, melainkan dasarnya adalah kasih-sayang, dapat  meyakinkan  dan  bertukar  pikiran dengan cara yang baik.

A.Jamaah Haji Yatsrib

Tahun ini – 622 M – jemaah haji dari Yathrib praktis jumlahnya banyak sekali, terdiri dari tujuhpuluh lima orang,  tujuhpuluh tiga  pria  dan  dua wanita. Mengetahui kedatangan mereka ini, terpikir oleh Muhammad akan mengadakan suatu ikrar lagi, tidak terbatas  hanya  pada  seruan kepada Islam seperti selama ini, yang selama tigabelas tahun  ini  terus-menerus  dilakukannya, dengan  lemah-lembut,  dengan  segala  kesabaran  menang  gung pelbagai macam pengorbanan  dan  kesakitan  –  melainkan  kini lebih  jauh  lagi  dari itu. Ikrar itu hendaknya menjadi suatu pakta persekutuan, yang dengan demikian  kaum  Muslimin  dapat mempertahankan  diri: pukulan dibalas dengan pukulan, serangan dengan serangan. Muhammad lalu  mengadakan  pertemuan  rahasia dengan pemimpin-pemimpin mereka.

B. Bai’ah Aqobah kedua.

Setelah ada kesediaan mereka, dijanjikannya pertemuan itu akan diadakan di ‘Aqaba pada tengah malam pada hari-hari  Tasyriq.3 Peristiwa  ini  oleh  Muslimin Yathrib tetap dirahasiakan dari kaum musyrik yang datang bersama-sama mereka. Menunggu  sampai lewat  sepertiga  malam  dari janji mereka dengan Nabi, mereka keluar  meninggalkan  kemah,  pergi  mengendap-endap   seperti burung  ayam-ayam, sembunyi-sembunyi jangan sampai rahasia itu terbongkar.

Sesampai mereka  di  gunung  ‘Aqaba,  mereka  semua  memanjati lereng-lereng gunung tersebut, demikian juga kedua wanita itu. Mereka tinggal di tempat ini menunggu kedatangan Rasul. Kemudian Muhammad  pun  datang,  bersama  pamannya  ‘Abbas  b. Abd’l-Muttalib   –   yang   pada   waktu  itu  masih  menganut kepercayaan golongannya sendiri. Akan tetapi sejak sebelum itu ia  sudah  mengetahui  dari kemenakannya ini akan adanya suatu pakta persekutuan; dan adakalanya hal ini dapat  mengakibatkan perang. Disebutkan juga, bahwa dia sudah mengadakan perjanjian dengan Keluarga Muttalib dan Keluarga Hasyim untuk  melindungi Muhammad.  Maka  dimintanya  ketegasan  kemanakannya  itu  dan ketegasan golongannya  sendiri,  supaya  jangan  kelak  timbul bencana   yang  akan  menimpa  Keluarga  Hasyim  dan  Keluarga Muttalib, dan dengan demikian berarti orang-orang Yathrib  itu akan  kehilangan  pembela. Atas dasar itulah, maka ‘Abbas yang pertama kali bicara. “Saudara-saudara dari Khazraj!” kata ‘Abbas. “Posisi  Muhammad di  tengah-tengah kami sudah sama-sama tuan-tuan ketahui. Kami dan mereka yang sepaham dengan kami telah  melindunginya  dari gangguan  masyarakat  kami  sendiri.  Dia  adalah  orang  yang terhormat di kalangan masyarakatnya dan mempunyai kekuatan  di negerinya sendiri. Tetapi dia ingin bergabung dengan tuan-tuan juga. Jadi kalau memang tuan-tuan merasa dapat menepati  janji seperti   yang  tuan-tuan  berikan  kepadanya  itu  dan  dapat melindunginya dari mereka yang menentangnya,  maka  silakanlah tuan-tuan   laksanakan.  Akan  tetapi,  kalau  tuan-tuan  akan menyerahkan dia dan membiarkannya terlantar sesudah berada  di tempat  tuan-tuan,  maka  dari  sekarang lebih baik tinggalkan sajalah.”

Setelah mendengar keterangan ‘Abbas  pihak  Yathrib  menjawab: “Sudah  kami  dengar  apa  yang tuan katakan. Sekarang silakan Rasulullah bicara. Kemukakanlah  apa  yang  tuan  senangi  dan disenangi Tuhan.”

Setelah  membacakan  ayat-ayat  Qur’an  dan  memberi  semangat Islam, Muhammad menjawab:”Saya minta ikrar tuan-tuan akan membela saya seperti  membela isteri-isteri dan anak-anak tuan-tuan sendiri.”

Ketika  itu  Al-Bara’  b.  Ma’rur  hadir. Dia seorang pemimpin masyarakat dan yang  tertua  di  antara  mereka.  Sejak  ikrar ‘Aqaba pertama ia sudah Islam, dan menjalankan semua kewajiban agama, kecuali dalam sembahyang ia berkiblat ke Ka’bah, sedang Muhammad  dan  seluruh kaum Muslimin waktu itu masih berkiblat ke  al-Masjid’l-Aqsha.  Oleh  karena  ia  berselisih  pendapat dengan  masyarakatnya  sendiri,  begitu mereka sampai di Mekah segera  mereka  minta  pertimbangan  Nabi.  Muhammad  melarang Al-Bara’ berkiblat ke Ka’bah.

Setelah  tadi  Muhammad  minta  kepada Muslimin Yathrib supaya membelanya seperti mereka membela isteri dan anak-anak  mereka sendiri,   Al-Bara’   segera   mengulurkan  tangan  menyatakan ikrarnya seraya berkata:  “Rasulullah,  kami  sudah  berikrar. Kami  adalah  orang  peperangan  dan ahli bertempur yang sudah kami warisi dari leluhur kami.”

Tetapi  sebelum   Al-Bara’   selesai   bicara,   Abu’l-Haitham ibn’t-Tayyihan datang menyela: “Rasulullah,  kami  dengan orang-orang itu – yakni orang-orang Yahudi  –  terikat  oleh  perjanjian,  yang  sudah  akan  kami putuskan. Tetapi apa jadinya kalau kami lakukan ini lalu kelak Tuhan memberikan kemenangan kepada  tuan,  tuan  akan  kembali kepada masyarakat tuan dan meninggalkan kami?”

Muhammad  tersenyum,  dan katanya: “Tidak, saya sehidup semati dengan  tuan-tuan.  Tuan-tuan  adalah  saya  dan  saya  adalah tuan-tuan.  Saya  akan  memerangi  siapa  saja  yang tuan-tuan perangi,  dan  saya  akan  berdamai  dengan  siapa  saja  yang tuan-tuan ajak berdamai.”

Tatkala  mereka  siap  akan  mengadakan  ikrar  itu, ‘Abbas b. ‘Ubada datang menyela dengan mengatakan: “Saudara-saudara dari Khazraj.  Untuk  apakah  kalian  memberikan ikrar kepada orang ini? Kamu menyatakan ikrar dengan dia tidak  melakukan  perang terhadap  yang hitam dan yang merah4 melawan orang-orang itu.5

Kalau tuan-tuan merasa, bahwa jika harta benda tuan-tuan habis binasa  dan  pemuka-pemuka  tuan-tuan mati terbunuh, tuan-tuan akan menyerahkan dia (kepada musuh), maka  (lebih  baik)  dari sekarang tinggalkan saja dia. Kalaupun itu juga yang tuan-tuan lakukan,  ini  adalah  suatu  perbuatan  hina  dunia  akhirat. Sebaliknya, bila tuan-tuan memang dapat menepati janji seperti yang tuan-tuan berikan kepadanya  itu,  sekalipun  harta-benda tuan-tuan   akan   habis  dan  bangsawan-bangsawan  akan  mati terbunuh, maka silakan saja tuan-tuan terima dia. Itulah suatu perbuatan yang baik, dunia akhirat.”

Orang ramai itu menjawab:“Akan   kami   terima,   sekalipun   harta-benda  kami  habis, bangsawan-bangsawan kami terbunuh. Tetapi,  Rasulullah,  kalau dapat kami tepati semua ini, apa yang akan kami peroleh?

“Surga,” jawab Muhammad dengan tenang dan pasti.

Mereka  lalu  mengulurkan  tangan  dan  dia juga membentangkan tangannya. Ketika itu mereka menyatakan ikrar kepadanya.

Selesai ikrar itu, Nabi berkata kepada mereka:”Pilihkan dua belas orang  pemimpin  dari  kalangan  tuan-tuan yang akan menjadi penanggung-jawab masyarakatnya.”

Mereka lalu memilih sembilan orang dari Khazraj dan tiga orang dari Aus. Kemudian kepada pemimpin-pemimpin itu Nabi berkata:“Tuan-tuan  adalah   penanggung-jawab   masyarakat   tuan-tuan seperti  pertanggung-jawaban pengikut-pengikut Isa bin Mariam. Terhadap masyarakat saya, sayalah yang bertanggungjawab.”

Dalam ikrar kedua ini mereka berkata:“Kami berikrar mendengar dan setia di waktu suka dan duka,  di waktu bahagia dan sengsara, kami hanya akan berkata yang benar di mana saja kami berada, dan kami tidak takut kritik siapapun atas jalan Allah ini.”

Peristiwa  ini  selesai  pada  tengah  malam  di  celah gunung ‘Aqaba, jauh dari masyarakat ramai,  atas  dasar  kepercayaan, bahwa hanya Allah Yang mengetahui keadaan mereka. Akan tetapi, begitu peristiwa itu selesai, tiba-tiba mereka  mendengar  ada suara  berteriak  yang ditujukan kepada Quraisy: “Muhammad dan orang-orang yang pindah kepercayaan itu sudah  berkumpul  akan memerangi kamu!”

Suara itu datangnya dari seseorang yang keluar untuk urusannya sendiri. Mengetahui keadaan mereka itu sedikit dengan  melalui pendengarannya   yang   selintas,  ia  lalu  bermaksud  hendak mengacaukan rencana itu dan mau menanamkan  kegelisahan  dalam hati  mereka,  bahwa  rencana mereka malam itu diketahui. Akan tetapi pihak Khazraj dan Aus tetap pada janji  mereka.  Bahkan ‘Abbas  b.  ‘Ubada – setelah mendengar suara simata-mata itu – berkata kepada Muhammad:

“Demi Allah Yang telah mengutus  tuan  atas  dasar  kebenaran, kalau  sekiranya  tuan sudi, penduduk Mina itu besok akan kami habiskan dengan pedang kami.”

Ketika itu Muhammad menjawab:

“Kami tidak  diperintahkan  untuk  itu.  Kembalilah  ke  kemah tuan-tuan.” Merekapun  kembali  ke  tempat  mereka  bermalam,  lalu tidur. Keesokan harinya pagi-pagi baru mereka bangun. Akan tetapi pagi itu  juga  Quraisy  sudah  mengetahui  berita adanya   ikrar   itu.   Mereka   terkejut   sekali.  Pagi  itu pemuka-pemuka  Quraisy   mendatangi   Khazraj   di   tempatnya masing-masing.  Mereka  menyesalkan  Khazraj  dan  mengatakan, bahwa mereka tidak  ingin  berperang  dengan  Khazraj.  Tetapi kenapa  mau bersekutu dengan Muhammad memerangi mereka. Ketika itu   juga   orang-orang   musyrik   dari   kalangan   Khazraj bersumpah-sumpah  bahwa hal semacam itu tidak ada sama sekali. Sedang Muslimin malah diam  saja  setelah  dilihatnya  Quraisy lagaknya  akan mempercayai keterangan orang-orang yang seagama dengan mereka itu.

Sekarang Quraisy kembali tanpa dapat mengiakan atau meniadakan berita  tersebut. Tetapi mereka terus menyelidiki, kalau-kalau dapat mengungkapkan keadaan  yang  sebenarnya.  Sementara  itu orang-orang  Yathrib  sudah  mengangkat  perbekalan mereka dan kembali menuju negeri mereka sebelum pihak Quraisy  mengetahui benar apa yang mereka lakukan itu.

Setelah  kemudian  Quraisy mengetahui, bahwa berita itu memang benar,  mereka  berangkat  mencari  orang-orang  Yathrib  itu. Tetapi sudah tak ada lagi yang akan dapat mereka jumpai selain Sa’d b. ‘Ubada, yang lalu diambil dan dibawanya ke  Mekah.  Ia disiksa.   Tetapi  kemudian  Jubair  b.  Mut’im  b.  ‘Adi  dan al-Harith b. Umayya datang menolongnya. Dulu orang ini  pernah menolong  mereka ketika mereka dalam perjalanan perdagangan ke Syam lewat Yathrib.

Kalau    begitu    kekuatiran    Quraisy     kiranya     tidak berlebih-lebihan, begitu juga dalam mengejar jejak mereka yang telah ikrar kepada Muhammad akan memerangi mereka itu.  Mereka telah  mengenalnya selama tigabelas tahun terus-menerus, sejak permulaan  kenabiannya.  Mereka  sudah  berusaha   mati-matian melancarkan  perang  pasif  itu  kepadanya,  dan masing-masing sudah pula menghadapinya. Mereka mengetahui itu adalah  karena keyakinannya  kepada  Tuhan, karena teguhnya ia berpegang pada ajaran yang benar. Ia sudah tak dapat dilunakkan dan tak dapat pula  dibujuk.  Ia  tak  pernah  gentar  menghadapi  gangguan, menghadapi siksaan,  menghadapi  pembunuhan.  Sesudah  ia  dan pengikut-pengikutnya  disakiti dengan pelbagai macam gangguan, sesudah ia dikepung di  celah-celah  bukit,  seluruh  penduduk Mekah  diteror  dengan  bermacam-macam ketakutan supaya jangan jadi pengikutnya, terbayang oleh Quraisy  bahwa  mereka  sudah hampir  mengalahkannya,  kegiatannya hanya akan terbatas dalam lingkaran sempit  pengikut-pengikutnya  yang  masih  berpegang pada  agama  itu  saja.  Dia dan sahabat-sahabatnya tidak lama lagi sudah akan  jemu  dalam  pengasingan,  dan  akan  kembali tunduk menyerah di bawah kekuasaan mereka.

Tetapi  sekarang,  dengan  adanya  perjanjian persekutuan baru ini, pintu harapan akan menang jadi terbuka  didepan  Muhammad dan  pengikut-pengikutnya.  Setidak-tidaknya harapan kebebasan menyebarkan  agama,  serta   menyerang   berhala-berhala   dan penyembah-penyembahnya. Siapa tahu apa yang akan terjadi kelak terhadap masyarakat  seluruh  jazirah  Arab  itu,  bila  sudah mendapat  bantuan  Yathrib  berikut  Aus  dan  Khazrajnya, dan sesudah mendapat perlindungan dari  serangan  musuh,  disertai adanya  kebebasan melakukan upacara agama serta mengajak pihak lain turut  bergabung.  Kalau  Quraisy  tidak  dapat  mengikis gerakan  ini  di tanah tumpah darahnya sendiri maka kekuatiran mereka pada  hari  kemudiannya  tetap  selalu  membayang,  dan kemenangan Muhammad terhadap mereka masih tetap menggelisahkan mereka.

Oleh karena itu sungguh-sungguh  mereka  memikirkan  apa  yang harus  mereka  lakukan  guna  menggagalkan usaha Muhammad itu, serta menghancurkan gerakan barunya. Demikian juga dia sendiri tidak kurang dari Quraisy dalam memikirkan hal ini. Pintu yang telah dibukakan Tuhan di hadapannya itu ialah pintu kehormatan bagi  agama  Allah,  pintu  yang akan memberi tempat pada arti kebenaran. Perjuangan  yang  sekarang  berkecamuk  antara  dia dengan pihak Quraisy, adalah suatu peristiwa yang paling hebat terjadi sejak masa kerasulannya, yakni suatu perjuangan  hidup atau  mati bagi kedua belah pihak. Sudah tentu, kemenangan itu ada pada pihak yang benar. Keputusannya sudah bulat.  Bolehlah ia  minta  pertolong  an Tuhan. Biarlah, segala tipu-daya yang sudah dilakukan  Quraisy  itu  akan  bersifat  lebih  menghina mereka  sendiri melebihi yang sudah-sudah. Ia akan terus maju, tapi dengan sikap bijaksana, tenang dan hati-hati.  Masalahnya adalah   masalah  kecekatan  politik  dan  kecerdikan  seorang pemimpin yang saksama.

C. Nabi Muhammad SAW menyuruh Sahabat-sahabatny Hijrah ke Madinah

Dimintanya sahabat-sahabatnya supaya menyusul kaum  Anshar  ke Yathrib.  Hanya saja dalam meninggalkan Mekah hendaknya mereka terpencar-pencar, supaya jangan sampai  menimbulkan  kepanikan pihak Quraisy terhadap mereka.

Mulailah kaum Muslimin melakukan hijrah secara sendiri-sendiri atau kelompok-kelompok kecil.  Akan  tetapi  hal  itu  rupanya sudah  diketahui  oleh pihak Quraisy. Mereka segera bertindak, berusaha mengembalikan yang masih dapat  dikembalikan  itu  ke Mekah untuk kemudian dibujuk supaya kembali kepada kepercayaan mereka, kalau tidak akan disiksa dan  dianiaya.  Sampai-sampai tindakan  itu  ialah dengan cara memisahkan suami dari isteri; kalau si isteri dari pihak Quraisy ia tidak  dibolehkan  pergi ikut  suami.  Yang  tidak  menurut, isterinya yang masih dapat mereka kurung,  dikurung.

Akan tetapi mereka takkan dapat berbuat lebih dari itu. Mereka kuatir  akan  pecah  perang  saudara antar-kabilah jika mereka mencoba membunuh salah seorang dari kabilah itu. Berturut-turut  kaum  Muslimin  hijrah  ke   Yathrib,   sedang Muhammad   tetap   berada   di  posnya.  Tak  ada  orang  yang mengetahui, dia akan tetap tinggal di tempatnya itu atau sudah mengambil keputusan akan hijrah juga. Dahulu juga mereka tidak mengetahui,  ketika  sahabat-sahabatnya  diijinkan  hijrah  ke Abisinia,   sedang  dia  sendiri  tetap  di  Mekah  menyerukan anggota-anggota keluarganya yang lain ke dalam  Islam.  Bahkan Abu  Bakrpun,  ketika minta ijin akan turut hijrah ke Yathrib, ia hanya  berkata:  “Jangan  tergesa-gesa;  kalau-kalau  Tuhan menyertakan seorang kawan.” Dan tidak lebih dari itu.

Sungguhpun  begitu  pihak  Quraisy  sendiri  sudah seribu kali memperhitungkan  hijrah  Nabi  ke  Yahtrib  itu.  Jumlah  kaum Muslimin  di  sana  sudah begitu banyak sehingga hampir-hampir mereka itu menjadi pihak yang menentukan. Sekarang datang pula mereka  yang  hijrah  dari  Mekah menggabungkan diri, sehingga mereka jadi  bertambah  kuat  juga  adanya.  Dalam  pada  itu, apabila  Muhammad – orang yang sudah mereka kenal berpendirian teguh dengan pendapatnya yang tepat dan  berpandangan  jauh  – sampai menyusul ke Yathrib, mereka kuatir penduduk Yathrib itu

kelak akan menyerbu Mekah, atau akan menutup jalur  perjalanan perdagangan  mereka  ke  Syam  atau  akan  membuat mereka mati kelaparan seperti yang pernah  mereka  lakukan  dulu  terhadap Muhammad  dan sahabat-sahabatnya tatkala mereka membuat piagam pemboikotan dan memaksa mereka tinggal di  celah-celah  gunung selama tigapuluh bulan.

D. Nabi Muhammad dibayangi komplotan pembunuhan

Apabila  Muhammad  masih  tinggal  di  Mekah dan berusaha akan meninggalkan tempat itu, maka  mereka  masih  merasa  terancam oleh  adanya  tindakan  pihak  Yathrib  dalam membela Nabi dan Rasul. Jadi tak ada jalan keluar  bagi  mereka  selain  dengan membunuhya.  Dengan  begitu  mereka lepas dari malapetaka yang terus-menerus itu. Tetapi kalau juga mereka membunuhnya, tentu Keluarga  Hasyim  dan  Keluarga  Muttalib akan menuntut balas. Maka pecahlah perang saudara di Mekah, dan suatu bencana  yang sangat mereka takuti juga akan datang dari pihak Yathrib. Sekarang  mereka  mengadakan pertemuan di Dar’n-Nadwa membahas semua  persoalan  itu  serta  cara-cara  pencegahannya.  Salah seorang dari mereka mengusulkan: “Masukkan   dia   dalam   kurungan  besi  dan  tutup  pintunya rapat-rapat kemudian awasi biar dia  mengalami  nasib  seperti penyair-penyair  semacamnya  sebelum  dia;  seperti Zuhair dan Nabigha.”

Tetapi pendapat ini tidak mendapat suara. “Kita keluarkan dia dari  lingkungan  kita,  kita  buang  dari negeri  kita.  Sesudah  itu  tidak  perlu  kita pedulikan lagi urusannya,” demikian terdengar suara yang lain. Tetapi  mereka kuatir  ia  akan terus menyusul ke Medinah dan apa yang mereka takuti justru akan menimpa mereka.

Akhirnya mereka memutuskan, dari setiap kabilah  akan  diambil seorang   pemuda  yang  tegap,  dan  setiap  pemuda  itu  akan dipersenjatai dengan sebilah pedang yang  tajam,  yang  secara bersama-sama sekaligus mereka akan menghantamnya, dan darahnya dapat dipencarkan antar-kabilah.  Dengan  demikian  Banu  ‘Abd Manaf takkan dapat memerangi mereka semua. Mereka akan menebus darah itu kemudian dengan harta. Maka terlepaslah Quraisy  dan orang   yang   membuat   porak-poranda  dan  mencerai-beraikan kabilah-kabilah mereka itu.

Mereka menyetujui pendapat ini dan merasa cukup  puas.  Mereka mengadakan  seleksi  di  kalangan pemuda-pemuda mereka. Mereka menganggap bahwa soal Muhammad akan  sudah  selesai.  Beberapa hari  lagi  ia  akan  terkubur  habis  ke dalam tanah, bersama ajarannya, dan  mereka  yang  sudah  hijrah  ke  Yathrib  akan kembali  ke  tengah-tengah  masyarakat,  akan  kembali  kepada kepercayaan dan kepada dewa-dewa mereka.  Quraisy  dan  negeri Arab  yang  sudah dipecah-belah, kedudukannya yang sudah mulai lemah, dengan demikian akan kembali bersatu.

Catatan kaki:

  1. Bai’at’l-‘Aqaba, secara harfiah berarti pernyataan dan sumpah setia yang diadakan di bukit ‘Aqaba (A).
  2. Hilf (amak ahlaf) pernyataan sumpah setia-kawan atau bersahabat baik antar kabilah bersangkutan yang biasa berlaku dalam tradisi masyarakat Arab pada masa itu. Halif (jamak hulafa’), yakni pihak yang mengadakan persahabatan, kawan-kawan sepersekutuan (A).
  3. Hari-hari Tasyriq ialah tiga hari berturut-turut setelah hari Raya Kurban (lebaran Haji) (A).
  4. Yakni berperang habis-habisan melawan semua orang (A).
  5. Yakni Quraisy (A).

Sumber :  S E J A R A H    H I D U P    M U H A M M A D

oleh MUHAMMAD HUSAIN HAEKAL diterjemahkan dari bahasa Arab oleh Ali Audah

Penerbit PUSTAKA JAYA Jln. Kramat II, No. 31 A, Jakarta Pusat Cetakan Kelima, 1980

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: