MEMBANGUN KHAZANAH ILMU DAN PENDIDIKAN

Belajar itu adalah perobahan …….

Sirah Muhammad SAW semenjak,Piagam pembaikotan sampai Israk dan Mikraj(bagian kedua)

Posted by Bustamam Ismail on August 13, 2010

A. Perjalanan ke Taif.

Terasing  seorang diri, ia pergi ke Ta’if,2 dengan tiada orang yang mengetahuinya. Ia pergi ingin  mendapatkan  dukungan  dan suaka  dari  Thaqif  terhadap  masyarakatnya  sendiri,  dengan harapan merekapun akan dapat menerima Islam.  Tetapi  ternyata mereka  juga  menolaknya  secara  kejam sekali. Kalaupun sudah begitu, ia masih  mengharapkan  mereka  jangan  memberitahukan kedatangannya minta pertolongan itu, supaya jangan ia disoraki oleh masyarakatnya sendiri. Tetapi permintaannya itupun  tidak didengar.  Bahkan  mereka  menghasut  orang-orang  pandir agar bersorak-sorai dan memakinya.

B. Rintihan Do’a Rasul ditengah ke galauan

Ia  pergi  lagi  dari  sana,  berlindung  pada  sebuah   kebun kepunyaan  ‘Utba dan Syaiba anak-anak Rabi’a. Orang-orang yang pandir itu kembali pulang. Ia  lalu  duduk  di  bawah  naungan pohon    anggur.    Ketika    itu   keluarga   Rabi’a   sedang memperhatikannya dan melihat pula kemalangan yang dideritanya. Sesudah agak reda, ia mengangkat kepala menengadah ke atas, ia hanyut dalam suatu  doa  yang  berisi  pengaduan  yang  sangat mengharukan:

“اللهم إليك أشكو ضعف بلدي وكذلك ، فإن عدم القدرة فضلا عن نفسي في مواجهة لؤم الإنسان. اللهم الرحمن الرحيم ، ولكن تقومون به من أجل حماية الضعفاء ، وأنت الفن حامي بلادي. لمن كنت ترك لي؟ إلى الناس الذين يواجهون الان الكئيبة في وجهي ، أو إلى عدو سيسيطر على مشاعري؟ ما دمت لا غضب لي ، لا يهمني ، لأنه يمنح على نطاق واسع انت متعة لي. أعوذ وجهك ضوء ساطع على الظلام ، وبالتالي تحقيق الخير للعالم والآخرة — سيكون من غضبك حقت لكم على لي. يحق لك الحصول على توبيخ حتى لارضاء لكم. وليس هناك جهد غير معكم أيضا “.

“Allahumma   yang   Allah,   kepadaMu   juga   aku  mengadukan kelemahanku, kurangnya kemampuanku serta  kehinaan  diriku  di hadapan  manusia.  O  Tuhan  Maha  Pengasih,  Maha  Penyayang. Engkaulah yang melindungi si lemah, dan Engkaulah Pelindungku. Kepada  siapa  hendak  Kauserahkan  daku?  Kepada  orang  yang jauhkah yang berwajah muram kepadaku, atau kepada  musuh  yang akan  menguasai  diriku?  Asalkan Engkau tidak murka kepadaku, aku  tidak  peduli,  sebab  sungguh   luas   kenikmatan   yang Kaulimpahkan kepadaku. Aku berlindung kepada Nur Wajah-Mu yang menyinari kegelapan, dan karenanya  membawakan  kebaikan  bagi dunia dan akhirat – daripada kemurkaanMu yang akan Kautimpakan kepadaku.  Engkaulah  yang  berhak  menegur  hingga   berkenan pada-Mu. Dan tiada daya upaya selain dengan Engkau juga.”3

C.Menerima Anggur dari Rabi’ah yang diantar Adas budak Nasrani

Dalam  memperhatikan  keadaan itu hati kedua orang anak Rabi’a itu merasa tersentak. Mereka merasa iba  dan  kasihan  melihat nasib   buruk  yang  dialaminya  itu.  Budak  mereka,  seorang beragama Nasrani bernama ‘Addas, diutus  kepadanya  membawakan buah  anggur  dari kebun itu. Sambil meletakkan tangan di atas buah-buahan itu Muhammad berkata: “Bismillah!” Lalu  buah  itu dimakannya. ‘Addas memandangnya keheranan. Kata-kata ini tak pernah diucapkan oleh penduduk negeri ini, kata ‘Addas.

Lalu Muhammad menanyakan negeri  asal  dan  agama  orang  itu. Setelah  diketahui  bahwa orang tersebut beragama Nasrani dari Nineveh, katanya: “Dari negeri orang baik-baik, Yunus anak Matta.” “Dari mana tuan kenal nama Yunus anak Matta!” tanya ‘Addas.

Dia saudaraku. Dia seorang nabi, dan aku  juga  Nabi,”  jawab Muhammad.

Saat  itu  ‘Addas  lalu  membungkuk mencium kepala, tangan dan kaki Muhammad. Sudah tentu kejadian ini menimbulkan  keheranan keluarga  Rabi’a  yang  melihatnya.  Sungguhpun  begitu mereka tidak sampai akan meninggalkan kepercayaan mereka. Dan tatkala ‘Addas sudah kembali mereka berkata:

‘Addas, jangan sampai orang itu memalingkan kau dari agamamu, yang masih lebih baik daripada agamanya.”

Gangguan orang  yang  pernah  dialami  Muhammad  seolah  dapat meringankan   perbuatan   buruk  yang  dilakukan  Thaqif  itu, meskipun mereka tetap kaku tidak mau mengikutinya. Keadaan itu sudah  diketahui  pula  oleh  Quraisy sehingga gangguan mereka kepada Muhammad  makin  menjadi-jadi.  Tetapi  hal  ini  tidak mengurangi  kemauan Muhammad menyampaikan dakwah Islam. Kepada kabilah-kabilah Arab pada musim ziarah, itu ia  memperkenalkan diri,     mengajak    mereka    mengenal    arti    kebenaran.

Diberitahukannya kepada mereka,  bahwa  ia  adalah  Nabi  yang diutus, dan dimintanya mereka mempercayainya. Namun    sungguhpun   begitu,   Abu   Lahab   pamannya   tidak membiarkannya,  bahkan  dibuntutinya   ke   mana   ia   pergi. Dihasutnya orang supaya jangan mau mendengarkan.

Muhammad  sendiri tidak cukup hanya memperkenalkan diri kepada kabilah-kabilah Arab pada musim ziarah di Mekah  saja,  bahkan ia  mendatangi  Banu  Kinda4 ke rumah-rumah mereka, mendatangi Banu Kalb,5 juga ke rumah-rumah mereka, Banu Hanifa6 dan  Banu ‘Amir bin Sha’sha’a.7 Tapi tak seorangpun dari mereka yang mau mendengarkan. Banu Hanifa  bahkan  menolak  dengan  cara  yang buruk  sekali.  Sedang Banu ‘Amir menunjukkan ambisinya, bahwa kalau Muhammad mendapat kemenangan, maka sebagai penggantinya, segala  persoalan  nanti harus berada di tangan mereka. Tetapi setelah dijawab, bahwa masalah itu  berada  di  tangan  Tuhan,

merekapun  lalu  membuang  muka  dan  menolaknya  seperti yang lain-lain.

Adakah  kegigihan  kabilah-kabilah  yang  mengadakan   oposisi terhadap  Muhammad  itu  karena  sebab-sebab yang sama seperti yang dilakukan oleh Quraisy? Kita sudah  melihat,  bahwa  Banu ‘Amir  ini  mempunyai  ambisi  ingin  memegang  kekuasaan bila

bersama-sama mereka nanti ia mendapat  kemenangan.  Sebaliknya kabilah  Thaqif  pandangannya  lain  lagi.  Ta’if  di  samping sebagai tempat musim panas bagi penduduk Mekah karena udaranya yang  sejuk dan buah anggurnya yang manis-manis, juga kota ini merupakan pusat tempat penyembahan Lat. Ke  tempat  itu  orang berziarah  dan  menyembah  berhala.  Kalau  Thaqif  ini sampai menjadi pengikut Muhammad, maka  kedudukan  Lat  akan  hilang. Permusuhan  mereka  dengan  Quraisypun akan timbul, yang sudah tentu akibatnya akan  mempengaruhi  perekonomian  mereka  pada musim  dingin.  Begitu  juga  halnya  dengan yang lain, setiap kabilah  mempunyai  penyakit  sendiri  yang  disebabkan   oleh keadaan  perekonomian  setempat.  Dalam  menentang  Islam itu, pengaruh ini lebih besar  terhadap  mereka  daripada  pengaruh kepercayaan   mereka   dan  kepercayaan  nenek-moyang  mereka, termasuk penyembahan berhala-berhala.

Makin  besar  oposisi  yang  dilakukan  kabilah-kabilah   itu, Muhammad  makin  mau  menyendiri.  Makin  gigih  pihak Quraisy melakukan gangguan kepada sahabat-sahabatnya,  makin  pula  ia merasakan pedihnya.

Masa  berkabung  terhadap  Khadijah itupun sudah pula berlalu. Terpikir olehnya akan  beristeri,  kalau-kalau  isterinya  itu kelak akan dapat juga menghiburnya, dapat mengobati luka dalam hatinya, seperti dilakukan Khadijah dulu. Tetapi dalam hal ini ia   melihat   pertaliannya   dengan  orang-orang  Islam  yang mula-mula itu harus makin dekat dan perlu dipererat lagi.  Itu sebabnya  ia  segera  melamar  puteri  Abu  Bakr, Aisyah. Oleh karena waktu itu ia masih gadis kecil yang baru berusia  tujuh tahun,  maka  yang sudah dilangsungkan baru akad nikah, sedang perkawinan berlangsung  dua  tahun  kemudian,  ketika  usianya mencapai sembilan tahun.

Sementara  itu  ia kawin pula dengan Sauda, seorang janda yang suaminya  pernah  ikut  mengungsi  ke  Abisinia  dan  kemudian meninggal  setelah kembali ke Mekah. Saya rasa pembacapun akan dapat  menangkap  arti  kedua  ikatan  ini.   Arti   pertalian

perkawinan dan semenda yang dilakukan oleh Muhammad itu, nanti akan lebih jelas.

D. Peristiwa Israk dan Mikraj

Pada masa itulah Isra’ dan Mi’raj terjadi. Malam itu  Muhammad sedang  berada  di  rumah saudara sepupunya, Hindun puteri Abu Talib yang mendapat  nama  panggilan  Umm  Hani’.  Ketika  itu Hindun mengatakan:

“Malam  itu  Rasulullah  bermalam di rumah saya. Selesai salat akhir malam, ia tidur dan kamipun tidur.  Pada  waktu  sebelum fajar  Rasulullah  sudah  membangunkan kami. Sesudah melakukan ibadat pagi bersama-sama kami, ia berkata:  ‘Umm  Hani’,  saya sudah  salat  akhir  malam  bersama kamu sekalian seperti yang kaulihat  di  lembah  ini.  Kemudian  saya  ke   Bait’l-Maqdis (Yerusalem)   dan   bersembahyang   di   sana.  Sekarang  saya sembahyang siang bersama-sama kamu seperti kaulihat.”

Kataku: “Rasulullah, janganlah menceritakan ini  kepada  orang lain. Orang akan mendustakan dan mengganggumu lagi!” “Tapi harus saya ceritakan kepada mereka,” jawabnya.

Orang   yang  mengatakan,  bahwa  Isra’  dan  Mi’raj  Muhammad ‘alaihissalam dengan ruh itu berpegang kepada  keterangan  Umm Hani’  ini, dan juga kepada yang pernah dikatakan oleh Aisyah: “Jasad Rasulullah s.a.w. tidak hilang, tetapi Allah menjadikan isra’8  itu dengan ruhnya.” Juga Mu’awiya b. Abi Sufyan ketika ditanya tentang isra’ Rasul menyatakan: Itu adalah mimpi  yang benar  dari Tuhan. Di samping semua itu orang berpegang kepada firman Tuhan: “Tidak lain mimpi yang Kami perlihatkan kepadamu adalah sebagai ujian bagi manusia.” (Qur’an, 17:60)

Sebaliknya  orang  yang berpendapat, bahwa isra’ dari Mekah ke Bait’l-Maqdis itu dengan jasad,  landasannya  ialah  apa  yang pernah  dikatakan  oleh  Muhammad,  bahwa  dalam  isra’ itu ia berada di pedalaman, seperti yang  akan  disebutkan  ceritanya nanti.  Sedang  mi’raj  ke langit adalah dengan ruh. Disamping mereka itu ada  lagi  pendapat  bahwa  isra’  dan  mi’raj  itu keduanya  dengan jasad. Polemik sekitar perbedaan pendapat ini di kalangan ahli-ahli iImu kalam banyak sekali dan ribuan pula

tulisan-tulisan  sudah  dikemukakan  orang. Sekitar arti isra’ ini kami sendiri sudah  mempunyai  pendapat  yang  ingin  kami kemukakan juga. Kita belum mengetahui, sudah adakah orang yang mengemukakannya sebelum  kita,  atau  belum.  Tetapi,  sebelum pendapat  ini kita kemukakan – dan supaya dapat kita kemukakan – perlu sekali kita menyampaikan kisah isra,  dan  mi’raj  ini seperti yang terdapat dalam buku-buku sejarah hidup Nabi.

Dengan  indah  sekali  Dermenghem  melukiskan  kisah  ini yang disarikannya dari  pelbagai  buku  sejarah  hidup  Nabi,  yang terjemahannya sebagai berikut:

“Pada  tengah  malam  yang  sunyi  dan  hening,  burung-burung malampun diam membisu, binatang-binatang  buas  sudah  berdiam diri,  gemercik  air dan siulan angin juga sudah tak terdengar lagi,  ketika  itu  Muhammad   terbangun   oleh   suara   yang

memanggilnya:  “Hai  orang  yang sedang tidur, bangunlah!” Dan bila ia bangun, dihadapannya  sudah  berdiri  Malaikat  Jibril dengan  wajah yang putih berseri dan berkilauan seperti salju, melepaskan rambutnya yang pirang  terurai,  dengan  mengenakan pakaian  berumbaikan  mutiara dan emas. Dan dari sekelilingnya sayap-sayap  yang  beraneka  warna   bergeleparan.   Tangannya memegang  seekor  hewan  yang ajaib, yaitu buraq yang bersayap seperti sayap garuda. Hewan itu membungkuk di  hadapan  Rasul, dan Rasulpun naik.

“Maka  meluncurlah  buraq  itu seperti anak panah membubung di atas pegunungan Mekah, di atas pasir-pasir sahara menuju  arah ke utara. Dalam perjalanan itu ia ditemani oleh malaikat. Lalu berhenti di gunung Sinai  di  tempat  Tuhan  berbicara  dengan Musa.   Kemudian   berhenti   lagi  di  Bethlehem  tempat  Isa dilahirkan. Sesudah itu kemudian meluncur di udara.

“Sementara itu ada suara-suara misterius mencoba  menghentikan Nabi,  orang  yang  begitu  ikhlas  menjalankan risalahnya. Ia melihat, bahwa hanya Tuhanlah yang  dapat  menghentikan  hewan itu di mana saja dikehendakiNya.

“Seterusnya   mereka   sampai   ke   Bait’l-Maqdis.   Muhammad mengikatkan  hewan  kendaraannya  itu.  Di  puing-puing   kuil Sulaiman  ia bersembahyang bersama-sama Ibrahim, Musa dan Isa. Kemudian dibawakan tangga, yang lalu dipancangkan diatas  batu Ya’qub. Dengan tangga itu Muhammad cepat-cepat naik ke langit.

“Langit    pertama    terbuat    dari   perak   murni   dengan bintang-bintang yang digantungkan dengan  rantai-rantai  emas. Tiap  langit  itu  dijaga  oleh  malaikat,  supaya  jangan ada setan-setan yang bisa naik ke atas atau akan ada jin yang akan

mendengarkan rahasia-rahasia langit. Di langit inilah Muhammad memberi hormat kepada Adam. Di tempat ini pula  semua  makhluk memuja   dan  memuji  Tuhan.  Pada  keenam  langit  berikutnya

Muhammad bertemu  dengan  Nuh,  Harun,  Musa,  Ibrahim,  Daud, Sulaiman,  Idris, Yahya dan Isa. Juga di tempat itu ia melihat Malaikat maut Izrail, yang karena besarnya jarak antara  kedua matanya  adalah  sejauh tujuh ribu hari perjalanan. Dan karena kekuasaanNya, maka yang berada  di  bawah  perintahnya  adalah seratus  ribu  kelompok.  Ia  sedang mencatat nama-nama mereka yang lahir dan mereka yang mati, dalam sebuah buku  besar.  Ia melihat  juga Malaikat Airmata, yang menangis karena dosa-dosa orang, Malaikat Dendam yang berwajah  tembaga  yang  menguasai anasir api dan sedang duduk di atas singgasana dari nyala api.

Dan dilihatnya juga ada malaikat yang besar luar biasa, separo dari   api  dan  separo  lagi  dari  salju,  dikelilingi  oleh malaikat-malaikat yang merupakan kelompok yang tiada  hentinya menyebut-nyebut  nama  Tuhan: O Tuhan, Engkau telah menyatukan salju dengan api, telah menyatukan semua hambaMu setia menurut ketentuan Mu.

“Langit  ketujuh  adalah  tempat orang-orang yang adil, dengan malaikat  yang  lebih  besar  dari  bumi  ini  seluruhnya.  Ia mempunyai  tujuhpuluh ribu kepala, tiap kepala tujuhpuluh ribu mulut, tiap mulut tujuhpuluh  ribu  lidah,  tiap  lidah  dapat berbicara  dalam  tujuh  puluh ribu bahasa, tiap bahasa dengan tujuhpuluh ribu dialek. Semua  itu  memuja  dan  memuji  serta mengkuduskan Tuhan.

“Sementara  ia  sedang  merenungkan makhluk-makhluk ajaib itu, tiba-tiba ia membubung lagi sampai  di  Sidrat’l-Muntaha  yang terletak  di  sebelah  kanan  ‘Arsy, menaungi berjuta-juta ruh malaikat. Sesudah melangkah, tidak sampai sekejap  matapun  ia sudah   menyeberangi   lautan-lautan   yang  begitu  luas  dan daerah-daerah cahaya yang terang-benderang, lalu  bagian  yang gelap  gulita disertai berjuta juta tabir kegelapan, api, air, udara dan angkasa. Tiap macam dipisahkan oleh jarak 500  tahun perjalanan.  Ia melintasi tabir-tabir keindahan, kesempurnaan, rahasia,  keagungan  dan  kesatuan.   Dibalik   itu   terdapat tujuhpuluh ribu kelompok malaikat yang bersujud tidak bergerak dan tidak pula diperkenankan meninggalkan tempat.

“Kemudian terasa lagi ia membubung ke atas ke tempat Yang Maha Tinggi. Terpesona sekali ia. Tiba-tiba bumi dan langit menjadi satu, hampir-hampir tak dapat lagi ia melihatnya,  seolah-olah sudah   hilang   tertelan.   Keduanya   tampak  hanya  sebesar

biji-bijian di tengah-tengah ladang yang membentang luas.

“Begitu seharusnya manusia itu, di hadapan Raja semesta alam. “Kemudian lagi ia sudah berada di hadapan ‘Arsy,  sudah  dekat sekali.  Ia  sudah dapat melihat Tuhan dengan persepsinya, dan melihat segalanya yang tidak dapat dilukiskan dengan lidah, di luar  jangkauan  otak  manusia  akan  dapat menangkapnya. Maha Agung Tuhan mengulurkan kasih saying-Nya di dada Muhammad dan yang  sebelah  lagi  di  bahunya.  Ketika  itu  Nabi merasakan kesejukan di tulang punggungnya. Kemudian rasa tenang,  damai, lalu fana di hadapan Tuhan yang terasa membawa kenikmatan.

“Sesudah  berbicara… Tuhan memerintahkan hambaNya itu supaya setiap Muslim setiap hari sembahyang  limapuluh  kali.  Begitu Muhammad  kembali  turun  dari langit, ia bertemu dengan Musa. Musa berkata kepadanya:  “Bagaimana   kauharapkan   pengikut-pengikutmu   akan    dapat melakukan  salat  limapuluh kali tiap hari? Sebelum engkau aku sudah punya pengalaman, sudah kucoba terhadap anak-anak Israil sejauh  yang  dapat  kulakukan.  Percayalah dan kembali kepada Tuhan, minta supaya dikurangi jumlah sembahyang itu.

“Muhammadpun kembali. Jumlah sembahyang  juga  lalu  dikurangi menjadi  empatpuluh.  Tetapi Musa menganggap itu masih di luar kemampuan  orang.  Disuruhnya  lagi  Nabi   penggantinya   itu berkali-kali  kembali  kepada  Tuhan  sehingga berakhir dengan ketentuan yang lima kali.

“Sekarang Jibril membawa Nabi  mengunjungi  surga  yang  sudah disediakan  sesudah  hari  kebangkitan, bagi mereka yang teguh iman. Kemudian Muhammad kembali dengan  tangga  itu  ke  bumi.

Buraqpun  dilepaskan.  Lalu  ia  kembali dari Bait’l-Maqdis ke Mekah naik hewan bersayap.”

Sumber : S E J A R A H    H I D U P    M U H A M M A D

oleh MUHAMMAD HUSAIN HAEKAL diterjemahkan dari bahasa Arab oleh Ali Audah

Penerbit PUSTAKA JAYA Jln. Kramat II, No. 31 A, Jakarta Pusat Cetakan Kelima, 1980

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: