MEMBANGUN KHAZANAH ILMU DAN PENDIDIKAN

Belajar itu adalah perobahan …….

PERBUATAN-PERBUATAN QURAISY YANG KEJI (bagian ketiga)

Posted by Bustamam Ismail on August 9, 2010

A. Harta benda membutakan pola pikir mereka

Diluar itu,  untuk  mencapai  tingkat  pengertian  yang  lebih tinggi,  orang  sudah dibutakan oleh harta benda duniawi, oleh kenikmatan hidup sejenak yang dirasakannya. Untuk  kepentingan duniawi  itu, untuk memburu saat sejenak itu, mereka berperang dan bertempur. Tak ada  sesuatu  yang  akan  dapat  menghambat mereka  menancapkan  kuku  dan  gigi  mereka  ke  batang leher kebenaran, kebaikan dan  pengertian  moral  yang  tinggi  itu. Lalu,  kesempurnaan  yang  paling suci artinya itu oleh mereka akan diinjak-injak di bawah telapak kaki yang sudah kotor.

B. Suku Quresy kuatir melihatkan perkembangan Islam

Bagaimana pendapat kita tentang orang-orang Arab  Quraisy  itu yang  melihat  Muhammad makin sehari makin banyak pengikutnya?

Mereka kuatir, kebenaran yang sudah diproklamirkan  itu  suatu ketika  akan menguasai mereka, akan menguasai orang-orang yang sudah setia kepada mereka,  yang  lalu  akan  menjalar  sampai kepada  orang-orang Arab di seluruh jazirah. Sebelum melakukan itu mereka harus memotong leher  orang  itu  dulu  jika  dapat mereka  lakukan. Lebih dulu mereka harus melakukan propaganda, pemboikotan,  blokade,  penyiksaan  dan   kekerasan   terhadap musuh-musuh besar mereka itu.

C. Takut dengan hari kebangkitan dan siksa Neraka.

Sebab  ketiga keberatan mereka menjadi pengikut Muhammad ialah mereka takut sekali pada hari kebangkitan serta  siksa  neraka pada  Hari  Perhitungan  kelak.  Kita sudah melihat masyarakat yang begitu hanyut dalam hidup  bersenang-senang  dengan  cara yang  berlebih-lebihan. Mereka menganggap perdagangan dan riba itu wajar. Bagi orang kaya di  kalangan  mereka  itu  tak  ada sesuatu  yang  dipandang  hina,  yang harus dijauhi. Disamping itu, dengan  membawakan  sesajen  segala  kejahatan  dan  dosa mereka  itu  sudah  dapat  ditebus.  Seseorang  cukup  mengadu nasibnya dengan qidh (anak panah) di depan Hubal,  sebelum  ia melakukan  sesuatu  tindakan.  Tanda  yang diberikan oleh anak panah,  itulah  perintah  yang  datang  dari   Hubal.   Supaya kejahatan-kejahatan   dan   dosa-dosanya   itu  diampuni  oleh berhala-berhala,   cukup   ia   menyembelih   binatang   untuk berhala-berhala itu. Ia dapat dibenarkan melakukan pembunuhan, perampokan, melakukan kejahatan, ia tidak dilarang menjalankan pelacuran  selama  ia  mampu memberi suap kepada dewa-dewa itu berupa kurban-kurban dan penyembelihan-penyembelihan.

Sekarang datang  Muhammad  membawakan  ayat-ayat  yang  begitu menakutkan,   membuat  jantung  mereka  rasakan  pecah  karena ngerinya, sebab  Tuhan  selalu  mengawasi  mereka.  Pada  Hari Kemudian  mereka  akan  dibangkitkan  kembali sebagai kejadian baru, dan bahwa yang akan  menjadi  penolong  mereka  hanyalah perbuatan mereka sendiri.

Apabila   datang   suara  dahsyat  yang  memekakkan.  Tatkala seseorang lari meninggalkan saudaranya.  Ibunya  dan  bapanya. Isterinya  dan  anak-anaknya.  Setiap  orang  hari  itu dengan urusannya sendiri. Wajah-wajah pada hari itu ada yang berseri. Tertawa  dan  bergembira. Dan ada pula wajah-wajah kelabu pada hari itu. Tertutup kegelapan. Mereka itulah  orang-orang  yang ingkar, orang-orang yang sudah rusak.” (Qur’an, 80: 33-42)

Dan suara dahsyat itu datang.”Apabila   langit   sudah   bagaikan   hancuran   logam.   Dan gunung-gunung bagaikan gumpalan bulu. Dan tak akan  ada  kawan akrab  menanyakan  kawannya.  Padahal  mereka menampakkan diri kepada mereka. Ingin sekali orang jahat itu akan dapat menebus diri  dari  siksaan  hari  itu dengan memberikan anak-anaknya. Isterinya, saudaranya. Dan keluarganya yang melindunginya. Dan semua yang ada di bumi; kemudian ia hendak menyelamatkan diri. Tidak sekali-kali. Itu adalah api menyala.  Lapisan  kepalapun

tercabut. Dipanggilnya orang yang telah pergi membelakangi dan yang   berpaling.   Yang   telah   menyimpan   kekayaan    dan menyembunyikannya.” (Qur’an, 70: 8-18)

“Hari  itulah kamu dihadapkan akan diadili. Perbuatanmu takkan ada yang  tersembunyi.  Barangsiapa  yang  suratnya  diberikan kepadanya  dengan  tangan  kanan,  ia  akan  berkata  ini dia! Bacakan suratku.  Sudah  percaya  benar  aku  bahwa  aku  akan menemui  perhitungan.  Lalu ia berada dalam kenikmatan hidup. Dalam  taman  yang  tinggi.  Buah-buahannyapun  dekat  sekali. Makanlah,  dan minumlah sepuas hati, sesuai dengan amalmu yang kamu sediakan masa lampau. Tetapi, barangsiapa  yang  suratnya diberikan  dengan  tangan  kiri, ia akan berkata: Ah, coba aku tidak diberi surat! Dan tidak lagi aku  mengetahui,  bagaimana perhitunganku!  Ah,  sekiranya aku mati saja. Kekayaanku tidak dapat menolong  aku.  Hancurlah  sudah  kekuasaanku.  Sekarang bawalah dia dan belenggukan. Sesudah itu, campakkan ia kedalam api neraka. Lalu masukkan ia ke dalam mata rantai,  panjangnya tujuhpuluh  hasta.  Tadinya ia tiada beriman kepada Tuhan yang Maha Agung. Dan tiada pula mendorong memberikan makanan kepada orang  miskin.  Maka,  sekarang  disini  tak  ada  lagi  kawan setianya. Tiada makanan baginya selain daripada kotoran.  Yang hanya dimakan oleh mereka yang penuh dosa.”(Qur’an, 69: 18-37)

Sudahkah  orang  membacanya?  Sudahkah  mendengarnya? Tidakkah merasa ngeri, merasa takut? Ini hanya  sebahagian  kecil  dari yang  pernah diperingatkan Muhammad kepada masyarakatnya. Kita membacanya sekarang, dan sebelum itupun sudah pula membacanya, mendengarnya,  berulang  kali.  Segala  gambaran  neraka  yang terdapat dalam Qur’an hidup lagi dalam  pikiran  kita,  ketika kita membacanya kembali.

“…  Setiap  kulit-kulit  mereka itu sudah matang, Kami ganti dengan kulit lain lagi, supaya siksaan  itu  mereka  rasakan.” (Qur’an, 4: 56)

Dengan  merasakan  adanya  kengerian  itu,  orang  akan  mudah memperkirakan betapa sebenarnya perasaan Quraisy dan  terutama orang-orang  kayanya,  tatkala  mendengarkan kata-kata semacam itu, sebab sebelum mereka mendapat peringatan  tentang  siksa, mereka  sudah  merasa  dirinya  jauh  dan aman dari itu, dalam lindungan dewa-dewa dan berhala-berhala mereka.

Juga sesudah itu orang akan mudah  pula  memperkirakan  betapa meluapnya  semangat  mereka  mendustakan  Muhammad, mengadakan tantangan dan penghinaan. Mereka memang tidak pernah  mengenal arti  Hari  Kebangkitan, juga mereka tidak pernah mengakui apa yang didengarnya itu.  Tidak  ada  diantara  mereka  itu  yang membayangkan,  bahwa  setelah orang meninggalkan hidup ini, ia akan mendapat balasan atas segala perbuatan  selama  hidupnya.

Tetapi  apa  yang mereka takutkan dalam hidup mereka pada hari kemudian itu, ialah mereka takut  akan  penyakit,  takut  akan mengalami  bencana  pada  harta benda, pada turunan, kedudukan dan kekuasaannya. Hidup sekarang ini bagi mereka ialah seluruh tujuan  hidupnya. Seluruh perhatian mereka hanya tertuju untuk memupuk segala macam kesenangan dan menolak segala macam  yang mereka  takuti.  Bagi  mereka hari kemudian ialah masalah gaib yang masih tertutup. Dalam  hati  mereka  sudah  merasa  bahwa apabila  perbuatan  mereka itu jahat dunia gaib itu boleh jadi akan  mendatangkan  bencana   kepada   mereka.   Lalu   mereka menantikan adanya alamat baik atau alamat buruk. Segera mereka mengadukan nasib  itu  dengan  permainan  anak  panah,  dengan mengocok   batu-batu   kerikil   dan   menolak  burung3  serta menyembelih kurban. Semua  itu  merupakan  penangkal  terhadap segala yang mereka takuti dalam hidup mereka di kemudian hari.

Sebaliknya,  segala yang mengenai adanya balasan sesudah mati, mengenai hari kebangkitan tatkala sangkakala ditiup,  mengenai surga  yang  disediakan  untuk mereka yang takwa, neraka untuk mereka yang aniaya,  mengenai  semua  itu  memang  tak  pernah terlintas dalam pikiran mereka.

Pada  dasarnya  mereka  sudah pernah mendengar semua itu dalam agama Yahudi dan Nasrani. Tetapi mereka belum pernah mendengar dengan  gambaran  yang begitu kuat dan menakutkan seperti yang mereka dengar melalui wahyu  kepada  Muhammad  itu,  dan  yang memberi  peringatan  kepada  mereka  –  akan siksa abadi dalam perut neraka, yang sangat menggamakkan hati karena rasa  takut hanya  dengan  mendengar gambarannya saja – kalau mereka masih juga  seperti  keadaan  itu,  bersukaria  dan   berlumba-lumba memperbanyak  harta  dengan  melakukan  penindasan terhadap si lemah, makan  harta  anak  piatu,  membiarkan  kemiskinan  dan melakukan  riba  secara  berlebih-lebihan. Apalagi kalau orang dapat  melihat  dengan  hati  nuraninya  jalan  yang  ditempuh manusia  dengan  langkah  yang  begitu  sempit selama hidupnya menuju mati, sesudah kebangkitan kembali kelak  dengan  segala suka dan dukanya.

Sebaliknya  surga  yang  dijanjikan Tuhan yang luasnya seperti langit dan bumi, disitu takkan terdengar  cakap  kosong,  juga tak  ada  perbuatan  dosa. Yang ada hanyalah ucapan “selamat.” Segala yang menyenangkan hati, menyedapkan  mata  itulah  yang ada.  Tetapi Quraisy menyangsikan semua itu. Dan yang menambah lagi kesangsian mereka karena mereka menginginkan segala  yang segera.  Mereka  ingin  melihat  kenikmatan  itu  nyata  dalam kehidupan dunia ini. Mereka tidak betah menunggu  sampai  hari pembalasan,  sebab  mereka  memang  tidak  percaya  pada  hari pembalasan itu.

Boleh  jadi  orang  akan  merasa   heran   bagaimana   jantung orang-orang  Arab  itu  sampai begitu rapat tertutup tidak mau menerima  persepsi  hidup  akhirat  serta  balasan  yang  ada. Padahal  perjuangan  antara  yang  baik  dengan yang jahat itu sudah  berkecamuk  dalam  sejarah  manusia  sejak  dunia   ini berkembang,   tak   pernah   berhenti  dan  tak  pernah  diam. Orang-orang Mesir purbakala, ribuan  tahun  sebelum  kerasulan Muhammad  melengkapi  mayat  mereka  dengan  segala perbekalan untuk keperluan akhirat, dalam kafannya diletakkan pula “Kitab Orang    Mati”    lengkap    dengan    nyanyian-nyanyian   dan peringatan-peringatan. Pada kuil-kuil mereka  dilukiskan  pula gambar-gambar  timbangan,  perhitungan,  taubat  dan  siksaan. Orang-orang  India  menggambarkan  jiwa  bahagia   itu   dalam Nirwana.  Sedang  penitisan  ruh jahat dilukiskan dalam bentuk makhluk-makhluk yang sejak ribuan dan  jutaan  tahun  tersiksa sampai   ia  ditelan  oleh  kebenaran,  supaya  menjadi  suci. Kemudian ia kembali  lagi  melakukan  kebaikan,  karena  ingin mencapai Nirwana.

Juga orang-orang Majusi di Persia. Mereka tidak menolak adanya perjuangan yang baik dan  yang  jahat,  Dewa  Gelap  dan  Dewa Cahaya.  Juga  agama  yang  dibawa  Musa,  agama  yang  dibawa Kristus, sama-sama melukiskan  adanya  kehidupan  yang  kekal, adanya  kesukaan  Tuhan dan kemurkaanNya. Sekarang orang-orang Arab. Tidakkah semua itu pernah sampai kepada  mereka?  Mereka adalah  pedagang-pedagang  yang dalam perjalanan mereka pernah mengadakan hubungan dengan agama-agama  itu  semua.  Bagaimana mereka  tidak  mengenalnya?  Bagaimana  tidak mungkin itu akan menimbulkan suatu persepsi khusus pada mereka?  Mereka  adalah orang-orang  pedalaman  yang  banyak sekali berhubungan dengan alam lepas tak terbatas. Lebih mudah  bagi  mereka  melukiskan ruh-ruh  yang  terdapat  dalam  wujud ini, menjelma pada siang hari yang terang  menyala  atau  pada  senja  menjelang  malam gulita.  Ruh-ruh yang baik dan yang jahat, ruh-ruh yang mereka anggap  bersemayam  dalam  diri  berhala-berhala   yang   akan mendekatkan mereka kepada Tuhan itu.

Jadi  sudah  tentu  mereka  juga mempunyai konsep tentang alam gaib yang ada di sekitar mereka. Akan tetapi,  mereka  sebagai masyarakat  pedagang,  jiwa  mereka  lebih cenderung pada yang nyata   saja.   Juga    karena    kegemaran    mereka    hidup bersenang-senang,  minum  minuman  keras,  sama  sekali mereka menolak adanya balasan hari kemudian. Apa yang diperoleh orang dalam  hidupnya,  menurut  anggapan  mereka,  baik  atau buruk adalah balasan atas perbuatannya. Dan  tak  ada  balasan  lagi sesudah   hidup   ini.  Oleh  karena  itu  wahyu  yang  berisi peringatan  dan  berita  gembira  pada  mula   kerasulan   itu kebanyakannya  turun  di  Mekah; karena ia ingin menyelamatkan ruh mereka, tempat Muhammad diutus itu. Sudah sepatutnya  pula bila ia mengingatkan mereka atas dosa dan kesesatan yang telah mereka lakukan  itu.  Sudah  sepatutnya  pula  bila  ia  ingin mengangkat  mereka  dari  lembah  penyembahan  berhala  kepada penyembahan Allah Yang Tunggal, Maka Kuasa.

Demi keselamatan rohani keluarga dan umat manusia  seluruhnya, Muhammad  serta  orang-orang  yang beriman sudi memikul segala macam siksaan dan pengorbanan, memikul penderitaan rohani  dan jasmani,  dan  kemudian pergi meninggalkan tanah tumpah darah, menjauhi permusuhan sanak-keluarga, yang  sepintas-lalu  sudah kita  lihat  di  atas.  Dan  seolah cinta Muhammad makin dalam kepada  mereka,  makin  besar  hasratnya  ingin  menyelamatkan mereka, setiap ia mengalami penderitaan dan siksaan yang lebih besar  lagi  dari  mereka  itu.  Hari  Kebangkitan  dan   Hari Perhitungan  adalah  ayat-ayat yang harus diperingatkan kepada mereka  guna  menolong  mereka  dari  penyakit  paganisma  dan gelimang   dosa  yang.menimpa  mereka  itu.  Pada  tahun-tahun permulaan itu tiada henti-hentinya  wahyu  memperingatkan  dan membukakan mata mereka.

Sungguhpun begitu mereka tetap gigih tidak mau mengakui, tetap menolak, sampai-sampai  mereka  terdorong  mengobarkan  perang mati-matian.  Bahaya  dan  bencana  peperangan  itu baru padam sesudah   Islam    mendapat    kemenangan,    sesudah    Allah menempatkannya diatas segala agama.

Catatan kaki:

1 Juru penerang yang mempesonakan, Juru pesona bahasa atau pesona bahasa hampir merupakan terjemahan harfiah dari ungkapan Sahir’-bayan atau Sihr’l-bayan, yang sukar diterjemahkan, yakni suatu retorika, yang karena kefasihan dan keindahan bahasanya, orang yang mendengarnya terpesona seperti kena sihir lalu cepat sekali menerima (A).

2 Nama panggilan Abu Jahl (A).

3 Menolak burung artinya melempari burung dengan batu kerikil atau mengusirnya dengan suara. Kalau burung terbang ke arah kanan, maka itu alamat buruk.

SUMBER : S E J A R A H    H I D U P    M U H A M M A D

oleh MUHAMMAD HUSAIN HAEKAL diterjemahkan dari bahasa Arab oleh Ali Audah

Penerbit PUSTAKA JAYA Jln. Kramat II, No. 31 A, Jakarta Pusat Cetakan Kelima, 1980

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: