MEMBANGUN KHAZANAH ILMU DAN PENDIDIKAN

Belajar itu adalah perobahan …….

PERBUATAN-PERBUATAN QURAISY YANG KEJI (bagian kedua)

Posted by Bustamam Ismail on August 9, 2010

A.Tufail ad-Dausi

Bilamana kemudian ia kembali lagi kepada masyarakatnya sendiri diajaknya mereka itu menerima Islam. Merekapun ada yang segera menerima, tapi ada juga yang masih lambat-lambat.  Dalam  pada itu,  beberapa  tahun  berikutnya  sebagian besar mereka sudah pula menerima Islam.  Setelah  pembebasan  Mekah  dan  sesudah susunan  politik  dengan  bentuk tertentu sudah mulai terarah, merekapun menggabungkan diri kepada Nabi. Peristiwa Tufail ad-Dausi ini tidak lebih adalah sebuah contoh saja  dari sekian-banyak peristiwa.

B. Kedatangan dua puluh orang Nasrani

Yang telah menerima ajakan Muhammad ini  bukan  terdiri  dari  hanya  penyembah-penyembah berhala   saja.  Sewaktu  dia  di  Mekah  dulu  pernah  datang kepadanya duapuluh orang  Nasrani,  setelah  mereka  mendengar berita    itu.    Lalu    mereka menanyainya,   mendengarkan kata-katanya.   Merekapun   menerima mereka   beriman    dan mempercayainya.  Inilah pula yang membuat Quraisy makin geram, sehingga mereka juga dimaki-maki.”Kamu utusan yang gagal. Kamu sekalian disuruh oleh masyarakat seagamamu mencari berita tentang orang itu. Sebelum kamu kenal benar-benar siapa dia agama kamu  sudah  kamu  tinggalkan  dan lalu percaya saja apa yang dikatakannya.”

Tetapi  kata-kata  Quraisy itu tidak membuat utusan itu mundur menjadi pengikut Muhammad, juga tidak lalu meninggalkan Islam. Bahkan  imannya kepada Allah lebih kuat daripada ketika mereka masih dalam  agama  Nasrani.  Mereka  sudah  menyerahkan  diri kepada Tuhan sebelum mereka mendengarkan Muhammad.

C.Pemimpin Quresy saling berebut dengan rahasia, ingin mengetahui Informasi dari Nabi Muhammad saw

Tetapi  apa  yang  terjadi  terhadap diri Muhammad lebih hebat lagi dari itu. Orang Quraisy  yang  paling  keras  memusuhinya sudah  mulai  bertanya-tanya  kepada diri sendiri: benarkah ia mengajak  orang  kepada  agama  yang  benar?  Dan   apa   yang dijanjikan  dan  diperingatkan  kepada  mereka,  itu pula yang benar?

Abu Sufyan b. Harb, Abu Jahl b. Hisyam dan al-Akhnas b. Syariq malam  itu  pergi  ingin  mendengarkan  Muhammad ketika sedang membaca Qur’an di  rumahnya.  Mereka  masing-masing  mengambil tempat  sendiri-sendiri  untuk  mendengarkan,  dan tempat satu sama lain tidak saling diketahui. Muhammad yang  biasa  bangun tengah  malam,  malam itu juga ia sedang membaca Qur’an dengan tenang dan damai. Dengan suaranya  yang  sedap  itu  ayat-ayat suci bergema ke dalam telinga dan kalbu.

Tetapi  sesudah  fajar  tiba,  mereka  yang  mendengarkan  itu terpencar pulang ke  rumah  masing-masing.  Di  tengah  jalan, ketika  mereka  bertemu, masing-masing mau saling menyalahkan: Jangan terulang lagi. Kalau kita dilihat oleh orang-orang yang masih  bodoh,  ini  akan  melemahkan kedudukan kita dan mereka akan berpihak kepada Muhammad.

Tetapi pada malam kedua, masing-masing mereka membawa perasaan yang  sama  seperti  pada  malam kemarin. Tanpa dapat menolak, seolah kakinya membawanya kembali ke tempat yang  semalam  itu juga,  untuk mendengarkan lagi Muhammad membaca Qur’an. Hampir fajar, ketika mereka pulang, bertemu  lagi  mereka  satu  sama lain dan saling menyalahkan pula. Tetapi sikap mereka demikian itu tidak  mengalangi  mereka  untuk  pergi  lagi  pada  malam ketiga.

Setelah  kemudian  mereka  menyadari,  bahwa  dalam menghadapi dakwah Muhammad itu mereka merasa  lemah,  berjanjilah  mereka untuk  tidak  saling mengulangi lagi perbuatan mereka demikian itu. Apa yang sudah mereka dengar  dari  Muhammad  itu,  dalam jiwa  mereka  tertanam  suatu kesan, sehingga mereka satu sama lain saling menanyakan pendapat  mengenai  yang  sudah  mereka dengar itu. Dalam hati mereka timbul rasa takut. Mereka kuatir akan  jadi  lemah,  mengingat  masing-masing  adalah  pemimpin masyarakat,  sehingga  dikuatirkan  masyarakatnyapun akan jadi lemah pula dan menjadi pengikut Muhammad juga.

Gerangan  apa  keberatan  mereka   menjadi   pengikut-pengikut Muhammad?  Padahal  ia  tidak  mengharapkan harta dari mereka, tidak ingin menjadi pemimpin mereka, menjadi raja mereka  atau penguasa  di  atas  mereka? Disamping itu dia adalah laki-laki yang sungguh  rendah  hati,  sangat  mencintai  masyarakatnya, setia kepada mereka dan ingin sekali membimbing mereka. Sangat halus perasaannya, sehingga kalau akan merugikan orang  miskin atau  yang  lemahpun  ia  merasa  takut.  Setiap  ia mengalami penderitaan, hatinya baru merasa tenang bila ia  sudah  merasa mendapat  pengampunan.

D. Nabi Muhammad ditegur Allah.

Bukankah  tatkala suatu hari ia sedang dengan al-Walid bin’l-Mughira, salah seorang pemimpin  Quraisy yang  diharapkan  keislamannya, tiba-tiba lewat Ibn Umm Maktum yang  buta,  dan  minta  diajarkan  Qur’an  kepadanya.  Begitu mendesak   ia,   sehingga  Muhammad  merasa  kesal  karenanya, mengingat ia sedang sibuk  menghadapi  Walid.  Ditinggalkannya orang buta itu dengan muka masam. Tetapi   setelah   ia   kembali  seorang  diri  hati  kecilnya memperhitungkan perbuatannya tadi  itu  sambil  bertanya-tanya kepada  dirinya  sendiri: Salahkah aku? Tiba-tiba datang wahyu dengan ayat-ayat berikut:

“Bermasam dan membuang muka ia. Tatkala si buta mendatanginya. Dan  tidakkah kau ketahui,  barangkali ia orang yang bersih? Atau ia dapat menerima teguran dan teguran itu berguna baginya.  Tetapi  kepada  orang  yang  serba cukup itu. Engkau menghadapkan diri. Padahal itu bukan urusanmu kalau dia  tidak bersih  hati.  Tetapi  orang  yang  bersungguh-sungguh  datang kepadamu. Dengan rasa penuh takut. Kau abaikan dia. Tidak. Itu adalah  sebuah  peringatan.  Barangsiapa  yang  sudi,  biarlah memperhatikan   peringatan   itu.   Dalam   kitab-kitab   yang dimuliakan.  Dijunjung  tinggi  dan  disucikan.  Yang  ditulis dengan  tangan.  Orang-orang   terhormat,   orang-orang   yang bersih.” (Qur’an: 80: 1-16)

Kalau  memang  itu  soalnya,  apalagi  yang mengalangi Quraisy menjadi pengikutnya dan mendukung dakwahnya? Terutama  sesudah hati  mereka  jadi  lembut, sesudah mereka melupakan masa masa silam dengan bertahan pada warisan  lapuk  yang  membuat  jiwa mereka  jadi  beku,  dan  sesudah  mereka melihat bahwa ajaran Muhammad itu sempurna, dan penuh keagungan?

Tetapi! Benarkah masa yang sudah  bertahun-tahun  itu  membuat orang   lupa   akan   kebekuan  jiwanya,  akan  sikapnya  yang konservatif terhadap masa lampau yang sudah lapuk?  Ini  dapat terjadi  pada  orang-orang istimewa, yang dalam hatinya selalu terdapat kerinduan pada yang  sempurna.  Dalam  hidup  mereka, mereka  masih mau mempelajari adanya kebenaran yang sebelumnya sudah mereka percayai untuk kemudian membuang segala kepalsuan yang  masih  melekat,  betapapun  tingginya tingkat kebudayaan orang itu. Hati dan pikiran mereka sudah seperti kuali  tempat melebur  logam  yang selalu mendidih, menerima setiap pendapat baru yang dilemparkan kedalamnya, lalu dilebur  dan  disaring. Mana  yang  bernoda dibuang, dan tinggal yang baik, yang benar dan yang indah.

Mereka itu mencari kebenaran tentang apa saja, di  mana  saja  dan  dari  siapa saja. Oleh karena pada setiap bangsa, setiap zaman, mereka ini merupakan inti yang terpilih, maka  jumlah  mereka  selalu  sedikit.  Mereka selalu mendapat perlawanan, yang datangnya  terutama  dari  orang-orang  kaya, orang  orang  berkedudukan  dan  orang-orang  berkuasa. Mereka takut setiap corak pembaruan itu akan  menelan  harta  mereka, akan  menghilangkan  kedudukan  dan  kekuasaan  mereka. Selain dengan cara hidup mereka yang  demikian  itu,  kenyataan  lain yang  sudah  begitu  jelas  tidak mereka kenal. Semua itu bagi mereka adalah benar apabila ia dapat menambah kekuatan mereka, dan  tidak  benar  apabila  ia  dapat  menimbulkan kesangsian, sedikit sekalipun. Pemilik harta menganggap, bahwa  moral  itu benar  adanya  bilamana  ia dapat memberikan tambahan ke dalam hartanya, dan tidak benar  bilamana  ia  merintanginya.  Agama adalah   benar,   bilamana  ia  dapat  membukakan  jalan  buat hawa-nafsunya, dan tidak benar  kalau  ia  menjadi  penghalang hawa-nafsu   itu.   Yang  memiliki  kedudukan,  yang  memiliki kekuasaan dalam hal ini sama saja seperti pemilik harta itu.

Dalam  perlawanan  mereka  terhadap  segala  pembaharuan  yang mereka  takuti itu, mereka menghasut orang awam yang rejekinya tergantung   kepada   mereka,   supaya   memusuhi    penganjur pembaharuan  itu.  Mereka minta bantuan awam supaya menyucikan bangunan-bangunan kuno yang sudah dimakan kutu setelah minggat ruh  yang  ada di dalamnya. Benteng-benteng itu mereka jadikan kuil-kuil dari batu, untuk menimbulkan kesan kepada awam  yang tak  bersalah  itu,  bahwa ruh suci yang mereka bungkus dengan kain putih, masih dalam keagungannya dalam kurungan  kuil-kuil itu. Pada umumnya awam itu membela mereka, sebab, yang penting ia  melihat  pencariannya.  Baginya  tidak  mudah  akan  dapat memahami,   bahwa  kebenaran  itu  tidak  akan  tahan  tinggal terkurung  dalam  tembok-tembok  kuil  betapapun   indah   dan agungnya tempat itu, dan bahwa sifat kebenaran itu akan selalu bebas menyerbu dan mengisi jiwa orang. Baginya tidak beda jiwa seorang  tuan  atau  jiwa  seorang  budak. Juga tak ada sebuah peraturan betapapun kerasnya yang dapat merintangi hal itu.

Bagaimana orang dapat mengharapkan dari  mereka,  mereka  yang pernah  datang sembunyi-sembunyi mendengarkan pembacaan Qur’an itu, akan mau beriman kepadanya, karena ia menegur mereka yang banyak    melakukan   pelanggaran   itu,   karena   ia   tidak membeda-bedakan si buta  miskin  dengan  orang  yang  hartanya berlimpah-limpah,  kecuali  dari  kebersihan  jiwanya.  Kepada seluruh umat manusia diserukannya, bahwa:”Yang paling mulia di antara kamu dalam pandangan Allah  ialah yang paling dapat menjaga diri (yang paling takwa).” (Qur’ an,49: 13)

E..Pemimpin quresy bertahan bukan karena keyakinan yang mantap

Kalaupun Abu Sufyan dan kawan-kawannya masih  bertahan  dengan kepercayaan  leluhur mereka, bukanlah hal itu karena dilandasi oleh iman atau kebenaran yang ada, tapi  karena  mereka  sudah terlalu  mencintai  pada  cara  lama  yang  mereka adakan itu. Kemudian nasib membantu mereka  pula.  Mereka  bertahan  hanya karena  kedudukan  dan  harta yang sudah berlimpah-limpah, dan untuk itu pula mereka bertempur mati-matian.

Di samping kecenderungan  ini  juga  karena  rasa  dengki  dan persaingan  yang  keras  membuat  Quraisy  tidak  mau  menjadi pengikut  Nabi.  Sebelum  kedatangan   Muhammad,   Umayya   b. Abi’sh-Shalt  memang termasuk salah seorang yang pernah bicara tentang  seorang  nabi  yang  akan  tampil  di   tengah-tengah masyarakat  Arab  itu,  dan dia sendiri berhasrat sekali ingin jadi  nabi.  Perasaan  dengki  itu  rasa  membakar  jantungnya tatkala  ternyata  kemudian wahyu tidak datang kepadanya. Jadi dia  tidak  mau  menjadi  pengikut  orang   yang   dianggapnya saingannya.  Apalagi,  karena (sebagai penyair) sajak-sajaknya penuh berisi pikiran, sehingga pernah suatu  hari  Nabi  .SAW menyatakan  ketika  sajaknya dibacakan di hadapannya: “Umayya, sajaknya sudah beriman, tapi hatinya ingkar.”

Atau seperti kata al-Walid bin’l-Mughira:  “Wahyu  didatangkan kepada  Muhammad,  bukan  kepadaku,  padahal  aku  kepala  dan pemimpin Quraisy. Juga tidak kepada Abu Mas’ud ‘Amr b.  ‘Umair ath-Thaqafi    sebagai    pemimpin    Thaqif.    Kami   adalah pembesar- pembesar dua kota.”

Untuk itulah firman Tuhan memberi isyarat: “Dan mereka  berkata:  ‘Kenapa  Qur’an  ini  tidak  diturunkan kepada   orang   besar  dari  dua  kota  itu?’  Adakah  mereka membagi-bagikan  kurnia  Tuhanmu?  Kamilah   yang   membagikan penghidupan  mereka  itu,  dalam hidup dunia ini.” (Qur’an 43: 13-32)

Setelah Abu Sufyan, Abu Jahl  dan  Akhnas  selama  tiga  malam berturut-turut  mendengarkan  pembacaan  Qur’an, seperti dalam cerita  di  atas,  Akhnas  lalu  pergi  menemui  Abu  Jahl  di rumahnya.  “Abu’l-Hakam,2  bagaimana  pendapatmu  tentang yang kita dengar dari Muhammad?” tanyanya kepada Abu Jahl. “Apa yang  kaudengar?”  kata  Abu  Jahl.  “Kami  sudah  saling memperebutkan  kehormatan  itu  dengan  Keluarga  ‘Abd  Manaf.

Mereka memberi makan, kamipun memberi makan, mereka menanggung kamipun begitu, mereka memberi kami juga memberi sehingga kami dapat sejajar dan sama tangkas dalam perlumbaan itu. Tiba-tiba kata  mereka: “Di kalangan kami ada seorang nabi yang menerima “wahyu dari langit.” Kapan kita akan  menjumpai  yang  semacam itu? Tidak! Kami sama sekali tidak akan percaya dan tidak akan membenarkannya.”

Jadi yang dalam  sekali  berpengaruh  dalam  jiwa  orang-orang badui  itu  ialah  rasa  dengki,  saling  bersaing  dan saling bertentangan. Dalam hal ini salah sekali  bila  orang  mencoba mau  menutup  mata atau tidak menilainya sebagaimana mestinya.

Cukup kalau kita sebutkan saja  adanya  kekuasaan  nafsu  yang begitu  besar  dalam  jiwa  tiap  orang. Untuk dapat mengatasi pengaruh  ini  memang  diperlukan  suatu  latihan  yang  cukup panjang,  latihan  jiwa  dengan mengutamakan hukum akal diatas dorongan nafsu, jiwa  dan  pikiran  kita  harus  cukup  tinggi sehingga  dapat  ia  melihat  bahwa kebenaran yang datang dari lawan bahkan dari musuh itu, itu jugalah kebenaran yang datang dari  kawan  karibnya.  Ia harus yakin, bahwa dengan kebenaran yang dimilikinya itu kekayaannya sudah lebih besar dari  harta karun,  dari  kebesaran  Iskandar  (Agung)  dan  dari kerajaan seorang kaisar. Tidak banyak orang yang dapat mencapai tingkat ini  kalau  tidak  karena Tuhan sudah membukakan hatinya untuk kebenaran itu.

Sumber :S E J A R A H    H I D U P    M U H A M M A D

oleh MUHAMMAD HUSAIN HAEKAL diterjemahkan dari bahasa Arab oleh Ali Audah

Penerbit PUSTAKA JAYA Jln. Kramat II, No. 31 A, Jakarta Pusat Cetakan Kelima, 1980

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: