MEMBANGUN KHAZANAH ILMU DAN PENDIDIKAN

Belajar itu adalah perobahan …….

CERITA GHARANIQ YANG PALSU (bagian pertama)

Posted by Bustamam Ismail on August 8, 2010

KAUM Muslimin yang hijrah ke Abisinia  tinggal  selama  tiga bulan  di  sana. Sementara itu Umar ibn’l-Khattab sudah pula masuk Islam. Setelah para  pengungsi  ini  mengetahui  bahwa pihak Quraisy sudah mulai surut dari mengganggu Muhammad dan pengikut-pengikutnya – setelah Umar masuk  Islam  –  menurut sebuah  sumber, banyak diantara mereka itu yang kembali, dan sumber lain mengatakan semua mereka itu  kembali  ke  Mekah.

Tetapi  setelah  mereka  sampai  di  Mekah,  ternyata  pihak Quraisy kembali menyiksa kaum Muslimin, bahkan  lebih  keras lagi  dari pada yang pernah dialami kaum pengungsi itu dulu. Sebahagian mereka ada yang kembali  ke  Abisinia,  ada  pula yang   memasuki   Mekah   atau   di   dekat-dekatnya  dengan sembunyi-sembunyi. Konon katanya, bahwa mereka yang  kembali itu  membawa  pula  sejumlah  kaum  Muslimin  dan mereka ini tinggal  di  Abisinia  sampai  sesudah  Hijrah  dan  sesudah keadaan Muslimin di Medinah jadi lebih stabil.

Apa  pula motif yang mendorong kaum Muslimin di Abisinia itu kembali sesudah  tiga  bulan  mereka  tinggal  di  sana?  Di sinilah  munculnya  cerita  gharaniq itu yang dilangsir oleh Ibn Sa’d dalam At-Tabaqat’l-Kubra dan oleh  At-Tabari  dalam Tarikh’r-Rusul-wal-Muluk,  yang  juga  sama  dilangsir  oleh ahli-ahli  tafsir  kalangan  Muslimin  dan   penulis-penulis sejarah   Nabi,   dan  lalu  diambil  pula  oleh  sekelompok Orientalis-orientalis yang dalam  sekian  lama  oleh  mereka tetap dipertahankan.

Adapun timbulnya cerita gharaniq itu ialah, setelah Muhammad melihat pihak Quraisy menjauhinya dan sahabat-sahabatnya  di siksa.  Ia  berharap-harap sambil mengatakan: Coba aku tidak mendapat  perintah  apa-apa  yang  kiranya  akan  menjauhkan mereka  dari  aku.  Ia  mengumpulkan  golongannya dan mereka bersama-sama pada suatu hari duduk-duduk dalam sebuah tempat pertemuan di sekitar Mekah. Kepada mereka dibacakannya Surah An-Najm sampai pada firman Allah:  “Adakah  kamu  perhatikan Lat  dan  ‘Uzza.  Dan  itu  Manat,  ketiga,  yang terakhir?” (Qur’an, 53:19-20) Sesudah itu lalu dibacakannya pula:  “Itu gharaniq    yang   luhur,   perantaraannya   sungguh   dapat diharapkan.”

Kemudian ia meneruskan membaca Surah itu  seluruhnya  sampai pada  akhirnya  ia sujud. Ketika itu semua orang ikut sujud, tak  ada  yang   ketinggalan.   Pihak   Quraisy   menyatakan kepuasannya atas apa yang telah dibaca Muhammad itu.

Kata  mereka:  “Kami tahu sudah bahwa Allah itu menghidupkan dan mematikan, menciptakan dan memberi rejeki.  Tetapi  dewa kami  ini  menjadi  perantara kami kepadaNya. Kalau ternyata dia juga kauberi tempat, maka kamipun setuju dengan kau.”

Dengan demikian hilanglah perselisihan  dengan  mereka  itu. Peristiwa  tersebut  lalu  tersebar  di kalangan umum hingga sampai juga ke Abisinia. Pihak  Muslimin  lalu  berkata:  Di sana  ada  keluarga-keluarga  dekat  kami  yang  sangat kami cintai. Lalu merekapun pulang kembali. Apabila  pada  tengah hari  mereka  sampai  ke  dekat  Mekah mereka bertemu dengan rombongan kafilah Kinana  yang  lalu  dan  rombongan  itupun menjawab:  Ia  menyebutkan  dewa-dewa mereka dengan baik dan merekapun  lalu  mengikutinya.  Kemudian  ia  berbalik  lagi mencela  dewa-dewa mereka itu dan merekapun lalu memusuhinya lagi. Perbuatan mereka itu dibicarakan oleh pihak  Muslimin. Tidak  tahan  lagi mereka ingin menemui keluarga, dan mereka lalu memasuki Mekah. Sebabnya  maka  Muhammad  berbalik  tidak  mau   menyebutkan dewa-dewa Quraisy dengan baik – menurut beberapa sumber yang mencatat berita ini – ialah karena ia sudah tidak tahan atas ucapan  Quraisy: “Kalau ternyata dewa-dewa kami juga kauberi tempat, maka kami pun setuju dengan kau,” dan karena  ketika dia sedang duduk-duduk di rumahnya hingga sore Jibril datang dan bertanya: “Aku membawakan  dua  anak  kalimat  ini  kepadamu?”  dengan menunjuk  kepada  “Itu  gharaniq  yang luhur, perantaraannya dapat diharapkan.”

Muhammad pun menjawab: “Aku mengatakan  sesuatu  yang  tidak dikatakan oleh Allah.”

Kemudian Allah mewahyukan: “Dan  hampir-hampir saja mereka itu menggoda kau tentang apa yang sudah Kami wahyukan kepadamu, supaya  engkau  mau  atas nama Kami memalsukannya dengan yang lain.”

Sumber :   S E J A R A H    H I D U P    M U H A M M A D

oleh MUHAMMAD HUSAIN HAEKAL diterjemahkan dari bahasa Arab oleh Ali Audah

Penerbit PUSTAKA JAYA Jln. Kramat II, No. 31 A, Jakarta Pusat

Cetakan Kelima, 1980

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: