MEMBANGUN KHAZANAH ILMU DAN PENDIDIKAN

Belajar itu adalah perobahan …….

CERITA GHARANIQ YANG PALSU (bagian kedua)

Posted by Bustamam Ismail on August 8, 2010

“Ketika itulah mereka mengambil engkau menjadi kawan mereka. Dan kalaupun tidak  Kami  tabahkan  hatimu,  niscaya  engkau hampir  cenderung  juga  kepada mereka barang sedikit. Dalam hal ini, akan Kami timpakan kepadamu hukuman berlipat ganda, dalam   hidup   dan  mati.  Selanjutnya  engkau  tiada  akan mempunyai penolong menghadapi Kami.” (Qur’an 17:73-75)

Dengan  begitu  kembali  ia  memburuk-burukkan  dewa-dewa Quraisy  itu,  dan  Quraisypun  kembali lagi memusuhinya dan mengganggu sahabat-sahabatnya.

Demikianlah cerita gharaniq ini,  yang  bukan  seorang  saja dari  penulis-penulis  biografi  Nabi  yang menceritakannya, demikian juga ahli-ahli tafsir turut menyebutkan, dan  tidak sedikit  pula  kalangan  Orientalis yang memang sudah sekian lama  mau  bertahan.  Jelas  sekali  dalam  cerita  ini  ada kontradiksi.  Dengan  sedikit  pengamatan saja hal ini sudah dapat digugurkan.

Argumentasi pembahasan

Di samping itu cerita  ini  berlawanan  pula  dengan  segala sifat kesucian setiap nabi dalam menyampaikan risalah Tuhan. Memang mengherankan  sekali  apabila  ada  beberapa  penulis sejarah  Nabi  dan  ahli  tafsir dari kalangan Islam sendiri yang masih mau menerimanya. Oleh karena itu Ibn Ishaq  tidak ragu-ragu  lagi ketika menjawab pertanyaan dengan mengatakan bahwa cerita itu bikinan orang-orang atheis.

Akan tetapi mereka yang berpegang pada alasan  ini  berusaha membenarkannya dengan berpegang pada ayat-ayat: “Dan hampir-hampir saja mereka itu menggoda kau  …” sampai pada firman Tuhan: “Dan tiada  seorang  rasul  atau  seorang nabi  yang  Kami  utus sebelum kau, apabila ia bercita-cita, setan lalu memasukkan gangguan ke  dalam  cita-citanya  itu. Tetapi  Allah  menghapuskan  apa  yang dimasukkan setan itu. Kemudian Allah menguatkan keterangan-keterangaNya  itu.  Dan Allah  Maha  mengetahui  dan  Bijaksana. Apa yang dimasukkan setan itu adalah ujian bagi mereka  yang  berpenyakit  dalam hatinya   dan   berhati  batu.  Dan  mereka  yang  melakukan kesalahan  akan   berada   dalam   pertentangan   yang   tak berkesudahan.” (Qur’an, 22: 52 – 53)

Ada  orang  yang  menafsirkan kata “bercita-cita” itu dengan arti “membaca,” ada pula  yang  menafsirkannya  dengan  arti “bercita-cita,”  seperti  yang  sudah  umum  dikenal.  Kedua mereka  ini  masing-masing  berpendapat   –   diikuti   oleh Orientalis-orientalis   –  bahwa  Quraisy  telah  sampai  di puncaknya menyiksa sahabat-sahabat  Nabi,  ada  yang  mereka bunuh,  ada  pula  yang dilemparkan ke padang pasir, dijilat oleh terik matahari yang membakar, ditindih pula dengan batu seperti  yang  dialami  oleh  Bilal.  Karena itu terpaksa ia menyuruh  mereka   hijrah   ke   Abisinia.   Demikian   juga masyarakatnya  sendiripun begitu kasar terhadap dirinya yang juga kemudian memboikotnya. Tetapi karena ia begitu  menjaga keislaman  mereka yang sudah lepas dari penyembahan berhala, ia pun lalu mendekati  kaum  musyrik  dan  membacakan  Surah an-Najm  dengan menambahkan lagi cerita gharaniq. Sesudah ia sujud merekapun ikut pula sujud. Mereka lalu  memperlihatkan suatu  kecenderungan  hendak  mengikutinya,  karena ia sudah memberi tempat kepada dewa-dewa mereka itu disamping Allah.

Atas peristiwa ini yang juga disebutkan dalam beberapa  buku biografi   dan   buku-buku   tafsir   –   Sir  William  Muir menganggapnya sebagai suatu argumen yang kuat tentang adanya cerita  gharaniq  itu.  Selanjutnya kaum Muslimin yang telah berangkat ke Abisinia itu belum lagi selang tiga bulan sejak mereka  mengungsi,  yang  dalam pada itu mereka telah diberi suaka dengan baik sekali oleh  pihak  Najasyi.  Kalau  tidak karena  tersiarnya  berita,  bahwa  antara  Muhammad  dengan Quraisy sudah tercapai kompromi, tentu tak  ada  motif  lain yang  akan  mendorong  mereka itu kembali, ingin berhubungan dengan keluarga dan kerabat mereka. Dan dari mana pula  akan ada kompromi antara Muhammad dengan Quraisy itu, kalau bukan Muhammad juga yang mengusahakannya.  Di  Mekah  ia  termasuk minoritas    dengan    tenaga   yang   masih   lemah.   Juga sahabat-sahabatnya   masih   lemah   sekali   untuk    dapat mempertahankan diri dari gangguan dan penyiksaan Quraisy.

Alasan-alasan  yang  dikemukakan  mereka, dengan mengatakan, bahwa cerita gharaniq itu benar adanya, adalah suatu  alas an yang  lemah  sekali  dan tidak tahan uji. Baiklah kita mulai dulu dengan menolak Muir. Kembalinya kaum Muslimin ke  Mekah dari Abisinia, pada dasarnya karana dua sebab:

Pertama,  karena  ‘Umar ibn’l-Khattab masuk Islam tidak lama setelah mereka hijrah. Umar masuk Islam dengan semangat yang sama  seperti ketika ia menentang agama ini dahulu. Ia masuk Islam  tidak  sembunyi-sembunyi.  Malah  terang-terangan  ia mengumumkan  di depan orang banyak dan untuk itu ia bersedia melawan mereka. Ia tidak mau kaum Muslimin sembunyi-sembunyi dan  mengendap-endap  di  celah-celah pegunungan Mekah dalam melakukan  ibadat,  menjauhkan  diri  jauh   dari   gangguan Quraisy.  Bahkan  ia  terus melawan Quraisy sampai nanti dia beserta kaum  Muslimin  itu  dapat  melakukan  ibadat  dalam Ka’bah.

Disinilah  pihak  Quraisy  menyadari, bahwa penderitaan yang dialami  Muhammad  dan   sahabat-sahabatnya,   hampir-hampir menimbulkan perang saudara, yang akibat-akibatnya tidak akan dapat dibayangkan, dan siapa  pula  yang  akan  binasa.  Ada orang-orang    dari   kabilah-kabilah   Quraisy   dan   dari keluarga-keluarga bangsawannya yang  sudah  menerima  Islam, mereka  akan  lalu  berontak bila siapa saja dari kabilahnya itu ada yang terbunuh sekalipun orang itu  berlainan  agama.

Jadi,  dalam  memerangi  Muhammad ini, mereka harus memempuh suatu cara  yang  tidak  akan  membawa  akibat  yang  begitu berbahaya.  Di  samping  itu  supaya  cara  ini  dapat  pula disepakati oleh Quraisy mereka mengadakan  genjatan  senjata dengan   pihak  Muslimin,  sehingga  dengan  demikian  tiada seorangpun dari mereka itu yang boleh diganggu.

Inilah yang telah sampai kepada kaum pengungsi  di  Abisinia itu, dan membuat mereka berpikir-pikir akan kembali ke Mekah

Kedua. Sungguhpun   begitu,   barangkali   mereka   masih maju-mundur juga akan kembali,  kalau  tidak  karena  adanya sebab  kedua  yang  telah menguatkan niat mereka, yakni pada waktu itu di Abisinia sedang berkecamuk suatu  pemberontakan melawan   Najasyi,  yang  dilancarkan  karena  adanya  suatu tuduhan yang ditujukan kepadanya. Ia  melaksanakan  janjinya dan   memperlihatkan   rasa   kasih-sayangnya   kepada  kaum

Muslimin.  Kaum  Muslimin  sendiri   menyatakan   harapannya sekiranya  Tuhan  akan  memenangkan  Negus terhadap lawannya itu. Tetapi mereka  sendiri  tidak  sampai  melibatkan  diri dalam pemberontakan, karena mereka adalah orang-orang asing, dan lagi mereka belurn  begitu  lama  tinggal  di  Abisinia.

Bahwa  yang  telah  sampai  kepada  mereka itu berita-berita perdamaian antara Muhammad dengan Quraisy,  perdamaian  yang menyelamatkan  Muslimin  dari  gangguan  yang  pernah mereka alami,  maka  bagi  mereka  akan  lebih  baik   meninggalkan kekacauan  yang  ada  sekarang  dan kembali bergabung kepada keluarga mereka sendiri. Inilah yang telah mereka lakukan semua, atau  sebagian  dari mereka.

Hanya  saja,  sebelum  mereka sampai ke Mekah, pihak Quraisy sudah    berkomplot    lagi    terhadap     Muhammad     dan sahabat-sahabatnya.  Kabilah-kabilah mereka sudah mengadakan persetujuan tertulis  bersama;  mereka  berjanji  mengadakan pemboikotan  total  terhadap  Banu Hasyim: tidak akan saling berjual-beli .

Dengan adanya perjanjian itu perang  yang  tak  berkesudahan antara  kedua  belah  pihak  itupun  segera berkecamuk lagi. Sekarang mereka yang telah pulang dari Abisinia itu  kembali lagi  ke  sana.  Bersama  mereka  ikut pula orang-orang yang masih dapat pergi bersama-sama. Sekali ini mereka menghadapi kekerasan  dari  Quraisy,  yang  berusaha  hendak merintangi mereka itu hijrah.

Jadi, bukanlah kompromi seperti  yang  disebutkan  Muir  itu yang  menyebabkan  Muslimin kembali dari Abisinia, melainkan karena adanya perjanjian perdamaian sebagai akibat Umar yang telah  masuk  Islam serta semangatnya yang berapi-api hendak membela agama ini. Jadi dukungan mereka atas  adanya  cerita gharaniq  dengan  alasan  kompromi itu, adalah dukungan yang samasekali tidak punya dasar.

Adapun alasan yang dikemukakan oleh penulis-penulis biografi dan  ahli-ahli  tafsir  dengan ayat-ayat: “Dan hampir-hampir saja mereka itu menggoda kau …,” dan  “Dan  tiada  seorang rasul atau  seorang   nabi    yang    Kami utus sebelum kau, apabila ia bercita-cita,  setan  lalu  memasukkan   gangguan ke   dalam  cita-citanya   itu …” adalah alasan yang lebih kacau lagi dari argumen Sir Muir. Cukup kita  sebutkan  ayat pertama itu  saja dalam   firman    Tuhan:    “Dan  kalaupun tidak  Kami    tabahkan  hatimu,   niscaya   engkau   hamper cenderung juga  kepada  mereka  barang      sedikit,”  untuk kita  lihat,  bahwa  setan   telah  memasukkan  gangguan  ke dalam cita-cita Rasul  itu,    sehingga  hampir    saja   ia cenderung  kepada  mereka  sedikit-sedikit;  tetapi    Tuhan menguatkan  hatinya  sehingga   tidak   sampai dilakukannya, dan   kalau   dilakukan   juga,    Tuhan    akan  menimpakan hukuman berlipat-ganda dalam hidup dan mati.

Jadi, dengan membawa ayat-ayat ini sebagai alasan,  jelaslahlasan itu terbalik adanya.

Jalan   cerita  gharaniq  ini  ialah  bahwa  Muhammad  telah benar-benar berpihak kepada  Quraisy  dan  Quraisypun  sudah benar-benar  pula  menggodanya  sehingga  ia  mau mengatakan sesuatu yang tidak difirmankan Tuhan.  Sedang  ayat-ayat  di sini  menegaskan,  bahwa  Tuhan  telah  menguatkan  hatinya, sehingga dia tidak melakukan hal  itu.  Bilamana  disebutkan demikian,  bahwa  buku-buku  tafsir dan sebab-sebabnya turun Qur’an  membuat  ayat-ayat  ini   dapat   mengubah   masalah gharaniq,  kita  lihat  bahwa  alasan  ini berlawanan sekali dengan kesucian para rasul dalam menyampaikan tugas  mereka, dan  bertentangan  dengan  seluruh  sejarah  Muhammad. Suatu alasan yang kacau, bahkan lemah samasekali.

Sumber:  S E J A R A H    H I D U P    M U H A M M A D

oleh MUHAMMAD HUSAIN HAEKAL   diterjemahkan dari bahasa Arab oleh Ali Audah

Penerbit PUSTAKA JAYA   Jln. Kramat II, No. 31 A, Jakarta Pusat   Cetakan Kelima, 1980

One Response to “CERITA GHARANIQ YANG PALSU (bagian kedua)”

  1. […] Read More… […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: