MEMBANGUN KHAZANAH ILMU DAN PENDIDIKAN

Belajar itu adalah perobahan …….

PERBUATAN-PERBUATAN QURAISY YANG KEJI (bagian pertama)

Posted by Bustamam Ismail on August 8, 2010

A. Islamnya Umar bin Khattab

ISLAMNYA Umar telah membawa kelemahan ke dalam  tubuh  Quraisy karena  ia  masuk  agama ini dengan semangat yang sama seperti ketika  ia  menentangnya  dahulu.   Ia   masuk   Islam   tidak sembunyi-sembunyi,  malah  terang-terangan  diumumkan di depan orang banyak dan untuk itu  ia  bersedia  melawan  mereka.  Ia tidak  mau kaum Muslimin sembunyi-sembunyi dan mengendap-endap di celah-celah pegunungan Mekah,  mau  melakukan  ibadat  jauh dari gangguan Quraisy.

B.Muslimin beribadat diKa’bah

Bahkan ia terus melawan Quraisy, sampai nanti dia beserta Muslimin itu dapat  melakukan  ibadat  dalam Ka’bah. Disini pihak Quraisy menyadari, bahwa penderitaan yang dialami  Muhammad  dan  sahabat-sahabatnya,  takkan   mengubah kehendak orang menerima agama Allah, untuk kemudian berlindung kepada Umar dan Hamzah, atau ke  Abisinia  atau  kepada  siapa saja yang mampu melindungi mereka.

C.Pemboikotan total Quresy terhadap Banu Hasyim   dan   Banu   Abd’l-Muttalib

Quraisy lalu membuat rencana lagi mengatur langkah berikutnya. Setelah sepakat,  mereka  membuat  ketentuan  tertulis  dengan persetujuan bersama mengadakan pemboikotan total terhadap Banu Hasyim   dan   Banu   Abd’l-Muttalib:   untuk   tidak   saling kawin-mengawinkan,  tidak  saling  berjual-beli apapun. Piagam persetujuan ini kemudian digantungkan di dalam Ka’bah  sebagai suatu pengukuhan dan registrasi bagi Ka’bah. Menurut perkiraan mereka,  politik  yang  negatif,  politik   membiarkan   orang kelaparan  dan melakukan pemboikotan begini akan memberi hasil yang lebih efektif daripada politik kekerasan dan  penyiksaan, sekalipun  kekerasan dan penyiksaan itu tidak mereka hentikan.

Blokade-blokade yang dilakukan Quraisy terhadap kaum  Muslimin dan  terhadap  Banu  Hasyim  dan  Banu  Abd’l  Muttalib  sudah berjalan selama dua atau tiga tahun, dengan harapan  sementara itu  Muhammadpun akan ditinggalkan oleh masyarakatnya sendiri.

Dengan demikian dia dan ajarannya itu tidak lagi berbahaya.

Akan  tetapi  ternyata  Muhammad  sendiri  malah  makin  teguh berpegang  pada  tuntunan  Allah, juga keluarganya, dan mereka yang  sudah  berimanpun  makin  gigih  mempertahankannya   dan mempertahankan  agama  Allah.  Menyebarkan seruan Islam sampai keluar   perbatasan   Mekah   itu   pun   tak    dapat    pula dihalang-halangi.  Maka tersiarlah dakwah itu ke tengah-tengah masyarakat Arab dan kabilah-kabilah,  sehingga  membuat  agama yang  baru  ini,  yang tadinya hanya terkurung ditengah-tengah lingkaran gunung-gunung Mekah, kini  berkumandang  gemanya  ke seluruh  jazirah.  Orang-orang  Quraisy makin tekun memikirkan bagaimana caranya memerangi orang yang  sudah  melanggar  adat kebiasaannya  dan  menista dewa-dewanya itu, bagaimana caranya menghentikan   tersiarnya   ajarannya    itu    di    kalangan kabilah-kabilah  Arab,  kabilah-kabilah  yang  tak dapat hidup tanpa Mekah dan juga Mekah tak dapat hidup tanpa mereka  dalam perdagangan,  dalam  kegiatan  impor  dan  ekspor  dari dan ke Ibukota itu.

Quraisy mencurahkan semua kegiatannya  dalam  memerangi  orang yang  dianggapnya  sudah melanggar kebiasaan mereka, melanggar kepercayaan mereka dan kepercayaan leluhur mereka itu.  Dengan tabah dan secara terus-menerus selama bertahun-tahun, apa yang telah mereka lakukan  untuk  menghancurkan  ajaran  baru  ini, sungguh  di  luar yang dapat kita bayangkan. Muhammad diancam, keluarga dan ninik-mamaknya,  diancam.  Ia  diejek,  ajarannya diejek.  Ia  diperolok,  dan  orang yang jadi pengikutnya juga diperolok.   Penyair-penyair   mereka    didatangkan  supaya mengejeknya,  supaya  memburuk-burukkannya.  Ia  diganggu, dan orang yang  jadi  pengikutnya  dinista  dan  disiksa.  Ia  mau disuap,   ditawari  kerajaan,  ditawari  segala  yang  menjadi kedambaan orang. Kawan-kawan seperjuangannya diusir dari tanah air,  perdagangan  dan  pintu  rejeki mereka dibekukan. Ia dan sahabat-sahabatnya  diancam   dengan   perang   serta   segala akibatnya yang mengerikan.

Akhirnya blokade, akan dibiarkan mati kelaparan jika mungkin. Tetapi,  sungguhpun  begitu, Muhammad tetap tabah. Dengan cara yang amat baik tetap ia  mengajak  orang  menerima  kebenaran, yang  hanya  karena  itu  ia diutus Tuhan kepada umat manusia,

sebagai pembawa berita gembira, dan peringatan. Bukankah sudah tiba  waktunya  Quraisy meletakkan senjatanya, dan mempercayai Al-Amin, orang yang dikenalnya  sejak  masa  anak-anak,  sejak masa   muda  belia,  sebagai  orang  yang  jujur,  tak  pernah berdusta!? Ataukah  mereka  sudah  mencari  alat  lain  selain senjata  perang  seperti  disebutkan,  dan lalu terbayang oleh mereka, bahwa dengan demikian mereka akan menang perang,  lalu kedudukan  berhala-berhala  mereka  akan  dapat  dipertahankan sebagai pusat ketuhanan mereka seperti yang mereka  duga,  dan

Mekahpun    akan    dapat    dipertahankan    sebagai   museum berhala-berhala   dan    tempat    yang    disucikan    karena berhala-berhala itu akan tetap berada di Mekah?!

Tidak!  Belum  tiba  saatnya  bagi  Quraisy  akan  tunduk  dan menyerah. Mereka sekarang sedang  dalam  puncak  kekuatirannya bila  seruan  Muhammad  ini  nanti  akan  tersebar di kalangan kabilah-kabilah Arab sesudah terlebih dulu tersebar di Mekah.

Tinggal satu senjata lagi  pada  mereka  sekarang  yang  sejak semula  sudah  menjadi  pegangan  dan  kekuatan  mereka, yaitu senjata  propaganda:  propaganda  dengan  segala  implikasinya berupa   perdebatan,   argumentasi-argumentasi,   caci   maki, penyebaran desas-desus serta sifat merendahkan  argumen  lawan dengan  menganggap  alasan-alasannya  sendiri yang lebih baik.

Propaganda  melawan  akidah  dan   pembawa   akidah   disertai tuduhan-tuduhan  yang  dialamatkan  kepadanya. Propaganda yang tidak hanya terbatas pada Mekah saja – sebenarnya  buat  Mekah ini  sudah  tidak  lagi  diperlukan dibandingkan dengan daerah pedalaman lain serta kabilah-kabilahnya,  semenanjung  jazirah serta  semua  penduduknya.  Dengan mengadakan ancaman bujukan, teror dan penyiksaan, propaganda tidak  diperlukan  lagi  buat Mekah.  Tapi buat ribuan orang yang datang ke Mekah tiap tahun masih tetap diperlukan. Mereka datang dalam urusan perdagangan dan  berziarah. Mereka berkumpul di pasar-pasar ‘Ukaz, Majanna dan Dhul-Majaz, yang  kemudian  berziarah  sambil  menyembelih kurban, mengharapkan berkah dan ampunan.

Oleh  karena  itu, sejak memuncaknya permusuhan antara Quraisy dengan Muhammad terpikir oleh mereka akan menyusun suatu  alat propaganda  anti  Muhammad. Lebih gigih lagi mereka memikirkan hal ini  sesudah  orang-orang  yang  berziarah  itu  diajaknya supaya  beribadat  hanya  kepada  Allah  yang  Esa  dan  tidak bersekutu. Hal ini sudah terpikir  olehnya  sejak  tahun-tahun pertama  dari  kerasulannya  itu.  Pada  mulanya,  sejak  masa kerasulannya, ia adalah seorang nabi, sampai  datangnya  wahyu menyuruh  ia  memperingatkan  keluarga-keluarganya yang dekat.

Setelah ia memperingatkan keluarga-keluarga Quraisy dan ada di antara mereka yang menerima Islam, di samping banyak juga yang masih kepala  batu  dan  mau  berpikir-pikir  dulu,  ia  masih berkewajiban  mengajak  bangsanya  sendiri, seluruh masyarakat Arab, untuk  kemudian  meneruskan  kewajibannya  itu  mengajak seluruh umat manusia.

D.Nabi Muhammad saw dituduh mempunyai propaganda bahasa yang mempesonakan

Setelah  terpikir  akan  mengajak  orang yang datang berziarah dari berbagai macam kabilah Arab itu beribadat  kepada  Allah, beberapa  orang  dari  kalangan  Quraisy  datang berunding dan mengadakan pertemuan di rumah Walid  bin’l-Mughira:  Maksudnya supaya  dalam menghadapi persoalan Muhammad itu satu sama lain mereka  tidak  bertentangan,  dan  tidak  saling   mendustakan mengenai apa yang harus mereka katakan kepada orang-orang Arab yang datang musim ziarah itu.  Ada  yang  mengusulkan,  supaya dikatakan  saja,  bahwa  Muhammad  itu  dukun. Tetapi al-Walid menolak pendapat ini, sebab apa yang dikatakan Muhammad  bukan kumat-kamit  seorang  dukun. Yang lain mengusulkan lagi, bahwa Muhammad itu orang gila. Walidpun menolak pendapat ini,  sebab gejala  atas  tuduhan  demikian  tidak  tampak.  Ada lagi yang menyarankan supaya Muhammad dikatakan  sebagai  tukang  sihir. Juga  di  sini Walid menolak, sebab Muhammad tidak mengerjakan rahasia  juru  tenung  atau  sesuatu  pekerjaan  tukang-tukang sihir.

Sesudah  terjadi  diskusi  akhirnya  Walid  mengusulkan supaya kepada peziarah-peziarah orang-orang Arab itu dikatakan  bahwa dia  (Muhammad)  seorang juru penerang yang mempesonakan,1 apa yang dikatakannya merupakan  pesona  yang  akan  memecah-belah orang dengan orangtuanya, dengan saudaranya, dengan isteri dan keluarganya. Dan apa yang dituduhkan itu pada orang-orang Arab pendatang  itu  merupakan  bukti,  sebab  penduduk Mekah sudah ditimpa  perpecahan  dan  permusuhan.  Padahal   sebelum   itu penduduk  Mekah  merupakan suatu contoh solidaritas dan ikatan yang paling kuat

Pihak  Quraisy  pada  musim  ziarah  itu  segera   menyongsong orang-orang yang datang berziarah dengan memperingatkan mereka jangan mendengarkan orang itu  dan  pesona  bahasanya.  Jangan sampai  mereka  itu  mengalami  bencana  seperti  yang dialami penduduk Mekah dan  menjadi  api  fitnah  yang  akan  membakar seluruh jazirah Arab.

Akan  tetapi  propaganda  begini  tidak dapat berdiri sendiri, juga tidak dapat melawan  penerangan  yang  mempesonakan  yang sudah  dipercayai  orang  itu.  Kalau memanglah kebenaran yang dibawa oleh penerangan yang  mempesonakan  itu,  apa  salahnya orang mempercayainya? Adakah bila sewaktu-waktu orang mengakui kelemahannya  dan  menyatakan  perlawanannya  merupakan  suatu propaganda yang ampuh? Di samping propaganda itu Quraisy harus punya propaganda lain lagi. Untuk propaganda itu Quraisy  akan mendapatkannya  pada Nadzr b. Harith. Manusia Nadzr ini adalah setannya  Quraisy,  orang  yang  pernah  pergi  ke  Hira   dan mempelajari   cerita   raja-raja  Persia,  peraturan-peraturan agamanya,  ajaran-ajarannya  tentang  kebaikan  dan  kejahatan serta  tentang  asal-usul  alam  semesta.  Setiap  dalam suatu pertemuan  Muhammad  mengajak  orang   kepada   Allah,   serta memperingatkan mereka tentang akibat-akibat yang telah menimpa bangsa-bangsa sebelumnya  yang  menentang  peribadatan  kepada Allah,  ia  lalu  datang  menggantikan  tempat  Muhammad dalam pertemuan itu. Maka berceritalah  ia  kepada  Quraisy  tentang sejarah  dan  agamanya, lalu katanya: Dengan cara apa Muhammad membawakan  ceritanya  lebih  baik  daripada   aku?   Bukankah Muhammad  membacakan  cerita-cerita  orang dahulu seperti yang kubacakan juga? Quraisypun lalu menyebarkan kisah-kisah  Nadzr itu  dengan  jalan  bercerita  lagi  sebagai  propaganda  atas peringatan dan ajakan Muhammad kepada mereka itu.

E.Jabr orang Nasrani

Dalam pada itu di Marwa  Muhammad  sering  duduk-duduk  dengan seorang  budak  Nasrani  yang  konon bernama Jabr. Orang-orang Quraisy menuduh, bahwa sebagian besar apa yang dibawa Muhammad itu,  Jabr inilah yang mengajarnya. Apabila ada orang yang mau meninggalkan kepercayaan nenek-moyangnya, maka  agama  Nasrani inilah   yang   lebih  utama.  Jadi  tuduhan  inilah  yang  di desas-desuskan oleh Quraisy. Untuk itulah datang Firman Tuhan:

“Kami  sungguh   mengetahui   bahwa   mereka   berkata;   yang mengajarkan  itu  adalah  seorang  manusia.  Bahasa orang yang mereka tuduhkan itu bahasa asing,  sedang  ini  adalah  bahasa Arab yang jelas sekali.” (Qur’an: 16: 103)

Dengan   propaganda   semacam   itu  dan  sebangsanya  Quraisy memerangi  Muhammad  lagi  dengan  harapan  akan  lebih  ampuh daripada  gangguan  yang  dialaminya  dan siksaan yang dialami pengikut-pengikutnya.  Akan  tetapi  kuatnya  kebenaran  dalam bentuk yang jelas dan sederhana yang dilukiskan melalui ucapan Muhammad, lebih tinggi dari yang mereka katakan. Makin  sehari makin  tersebar  juga itu di kalangan orang-orang Arab. Tufail b. ‘Amr ad-Dausi, seorang bangsawan dan  penyair  cendikiawan, ketika  datang  di  Mekah segera dihubungi oleh Quraisy dengan memperingatkannya  dari   Muhammad   dan   kata-katanya   yang mempesonakan  itu,  yang  hendak  memecah-belah  orang  dengan keluarganya, bahkan  dengan  dirinya  sendiri.  Mereka  kuatir kalau  peristiwa  seperti  Mekah itu akan menimpa mereka juga.

Jadi sebaiknya jangan mengajak  dan  jangan  mendengarkan  dia bicara.

Hari  itu  Tufail  pergi  ke  Ka’bah. Muhammad sedang di sana. Ketika  ia  mendengarkan  kata-kata  Muhammad,  ternyata   itu kata-kata  yang  baik  sekali.  “Biar  aku  mati,  aku seorang cendekiawan, penyair,” katanya dalam hati. “Aku dapat mengenal mana  yang  baik  dan mana pula yang buruk. Apa salahnya kalau aku mendengarkan sendiri apa yang akan  dikatakan  orang  itu!

Jika   ternyata   baik   akan   kuterima,   kalau  buruk  akan kutinggalkan.” Diikutinya Muhammad sampai di  rumah.  Lalu  dikatakannya  apa yang  terlintas  dalam  hatinya itu. Muhammad menawarkan Islam kepadanya dan  dibacakannya  ayat-ayat  Quran.  Laki-laki  itu segera  menerima  Islam dan dinyatakannya kebenaran itu dengan mengucapkan kalimat Syahadat.

Sumber: S E J A R A H    H I D U P    M U H A M M A D

oleh MUHAMMAD HUSAIN HAEKAL diterjemahkan dari bahasa Arab oleh Ali Audah

Penerbit PUSTAKA JAYA Jln. Kramat II, No. 31 A, Jakarta Pusat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: