MEMBANGUN KHAZANAH ILMU DAN PENDIDIKAN

Belajar itu adalah perobahan …….

Sirah Nabi Muhammad dari Kerasulan sampai Islamnya Umar(bagian ke empat)

Posted by Bustamam Ismail on August 7, 2010

A. Dua Utusan Quresy Kepada  Raja Najasyi.

Kedua  orang utusan itu ialah ‘Amr bin’l-‘Ash dan Abdullah bin Abi Rabi’a. Kepada Najasyi dan  kepada  para  pembesar  istana mereka  mempersembahkan  hadiah- hadiah  dengan  maksud  supaya mereka sudi mengembalikan orang-orang yang hijrah  dari  Mekah itu kepada mereka.

Kedua utusan itu berkata:“Paduka  Raja,”  kata  mereka, “mereka datang ke negeri paduka ini adalah budak-budak kami  yang  tidak  punya  malu.  Mereka meninggalkan  agama  bangsanya  dan  tidak pula menganut agama paduka; mereka membawa agama  yang  mereka  ciptakan  sendiri, yang  tidak  kami  kenal  dan  tidak  juga paduka. Kami diutus kepada paduka oleh pemimpin-pemimpin masyarakat  mereka,  oleh orang-orang  tua,  paman  mereka  dan keluarga mereka sendiri, supaya  paduka  sudi  mengembalikan  orang-orang  itu   kepada mereka.   Mereka   lebih  mengetahui  betapa  orang-orang  itu mencemarkan dan memaki-maki.”

Sebenarnya  kedua  utusan  itu  telah  mengadakan  persetujuan dengan   pembesar-pembesar  istana  kerajaan,  setelah  mereka menerima hadiah-hadiah dari penduduk Mekah, bahwa mereka  akan membantu  usaha  mengembalikan  kaum Muslimin itu kepada pihak Quraisy.

B.Raja Menolak mengembalikan kaum Muslimin

Pembicaraan mereka ini tidak sampai  diketahui  raja. Tetapi  baginda  menolak  sebelum mendengar sendiri keterangan dari  pihak  Muslimin.  Lalu  dimintanya  mereka  itu   datang menghadap : “Agama  apa  ini  yang  sampai  membuat tuan-tuan meninggalkan masyarakat tuan-tuan  sendiri,  tetapi  tidak  juga  tuan-tuan menganut  agamaku,  atau  agama  lain?” tanya Najasyi setelah mereka datang.

Yang diajak bicara ketika itu ialah Ja’far b. Abi b. Talib. “Paduka Raja,”  katanya,  “ketika  itu  kami  masyarakat  yang bodoh,  kami  menyembah berhala, bangkaipun kami makan, segala kejahatan kami lakukan, memutuskan  hubungan  dengan  kerabat,

dengan  ketanggapun  kami  tidak baik; yang kuat menindas yang lemah. Demikian keadaan kami, sampai  Tuhan  mengutus  seorang rasul  dari  kalangan kami yang sudah kami kenal asal-usulnya, dia jujur, dapat dipercaya dan bersih pula. Ia  mengajak  kami menyembah  hanya  kepada Allah Yang Maha Esa, dan meninggalkan batu-batu  dan  patung-patung  yang  selama   itu   kami   dan nenek-moyang  kami  menyembahnya.  Ia  menganjurkan kami untuk tidak berdusta untuk berlaku jujur serta  mengadakan  hubungan keluarga  dan  tetangga yang baik, serta menyudahi pertumpahan darah  dan  perbuatan  terlarang  lainnya.  Ia  melarang  kami melakukan  segala  kejahatan  dan menggunakan kata-kata dusta, memakan harta anak piatu atau mencemarkan  wanita-wanita  yang bersih.    Ia   minta   kami   menyembah   Allah   dan   tidak mempersekutukanNya.  Selanjutnya  disuruhnya  kami   melakukan salat,  zakat  dan  puasa. [Lalu disebutnya beberapa ketentuan Islam].  Kami  pun  membenarkannya.  Kami  turut  segala  yang diperintahkan  Allah.  Lalu  yang kami sembah hanya Allah Yang Tunggal, tidak mempersekutukan-Nya dengan apa  dan  siapa  pun juga.  Segala  yang  diharamkan kami jauhi dan yang dihalalkan kami lakukan. Karena itulah, masyarakat  kami  memusuhi  kami, menyiksa  kami  dan  menghasut  supaya kami meninggalkan agama kami dan kembali menyembah berhala;  supaya  kami  membenarkan segala  keburukan  yang  pernah kami lakukan dulu. Oleh karena mereka memaksa  kami,  menganiaya  dan  menekan  kami,  mereka menghalang-halangi  kami  dari agama kami, maka kamipun keluar pergi ke negeri tuan ini. Tuan jugalah  yang  menjadi  pilihan kami.  Senang sekali kami berada di dekat tuan, dengan harapan di sini takkan ada penganiayaan.”

“Adakah ajaran Tuhan yang dibawanya itu yang  dapat  tuan-tuan bacakan kepada kami?” tanya Raja itu lagi.

“Ya,”  jawab  Ja’far;  lalu  ia  membacakan  Surah Mariam dari pertama sampai pada firman Allah: “Lalu ia memberi  isyarat  menunjuk  kepadanya.  Kata  mereka: Bagaimana  kami akan bicara dengan anak yang masih muda belia? Dia (Isa) berkata: ‘Aku  adalah  hamba  Allah,  diberiNya  aku Kitab  dan  dijadikanNya  aku  seorang  nabi. DijadikanNya aku pembawa berkah  dimana  saja  aku  berada,  dan  dipesankanNya kepadaku  melakukan  sembahyang  dan zakat selama hidupku. Dan berbaktilah aku kepada ibuku,  bukan  dijadikanNya  aku  orang congkak  yang  celaka.  Bahagialah aku tatkala aku dilahirkan, tatkala aku mati dan tatkala aku hidup kembali!'” (Qur’an  19: 29-33)

Setelah  mendengar  bahwa  keterangan itu membenarkan apa yang tersebut  dalam  Injil,  pemuka-pemuka  istana  itu  terkejut: “Kata-kata yang keluar dari sumber yang mengeluarkan kata-kata Yesus Kristus'” kata mereka. Najasyi lalu berkata: “Kata-kata  ini  dan  yang  dibawa  oleh Musa,  keluar  dari sumber cahaya yang sama. Tuan-tuan (kepada kedua orang utusan Quraisy) pergilah. Kami takkan  menyerahkan mereka kepada tuan-tuan!”

Keesokan harinya ‘Amr bin’l-‘Ash kembali menghadap Raja dengan mengatakan, bahwa  kaum  Muslimin  mengeluarkan  tuduhan  yang luarbiasa  terhadap  Isa  anak  Mariam.  Panggillah mereka dan tanyakan apa yang mereka katakan itu.

Setelah mereka datang, Ja’far berkata:  Tentang  dia  pendapat kami seperti yang dikafakan Nabi kami: ‘Dia adalah hamba Allah dan UtusanNya, RuhNya dan FirmanNya  yang  disampaikan  kepada Perawan Mariam.”

Najasyi lalu mengambil sebatang tongkat dan menggoreskannya di tanah. Dan dengan gembira sekali baginda berkata:

Antara agama tuan-tuan dan agama kami sebenarnya tidak  lebih dari garis ini.” Setelah  dari  kedua  belah pihak itu didengarnya, ternyatalah oleh Najasyi, bahwa kaum Muslimin itu mengakui  Isa,  mengenal adanya Kristen dan menyembah Allah.

Selama di Abisinia itu kaum Muslimin merasa aman dan tenteram.

Ketika kemudian disampaikan kepada  mereka,  bahwa  permusuhan pihak  Quraisy  sudah  berangsur  reda, mereka lalu kembali ke Mekah untuk pertama kalinya – dan Muhammadpun masih di Mekah.

Akan tetapi, setelah kemudian ternyata, bahwa  penduduk  Mekah masih  juga  mengganggunya  dan mengganggu sahabat-sahabatnya, merekapun  kembali  lagi  ke  Abisinia.  Mereka  terdiri  dari delapanpuluh  orang  tanpa  wanita dan anak-anak. Adakah kedua kali hijrah mereka itu hanya semata-mata melarikan  diri  dari gangguan ataukah meskipun dalam perencanaan Muhammad sendiri – mereka mempunyai tujuan politik? Sebaiknya ahli  sejarah  akan dapat mengungkapkan hal ini.

Sudah  pada tempatnya bagi penulis sejarah hidup Muhammad akan bertanya:   bagaimana   Muhammad   dapat   tenang   membiarkan sahabat-sahabatnya  pergi  ke Abisinia, padahal agama penduduk itu adalah agama Nasrani, agama ahli kitab,  Nabi  mereka  Isa yang  diakui  kerasulannya  oleh  Islam?  Lalu ia tidak kuatir mereka  akan  tergoda  seperti  yang  dilakukan  oleh  Quraisy walaupun  dengan  cara  lain?  Bagaimana  pula  ia akan merasa tenang terhadap godaan itu, mengingat Abisinia  adalah  negeri makmur;   yang  tidak  sama  dengan  Mekah;  dan  lebih  dapat mempengaruhi daripada  Quraisy?  Kenyataannya,  dari  kalangan Muslimin  yang  pergi  ke  Abisinia itu sudah ada seorang yang masuk Kristen. Kenyataan  ini  menunjukkan,  bahwa  kekuatiran akan  adanya  godaan  ini  seharusnya selalu ada pada Muhammad mengingat keadaannya yang masih lemah dan mereka yang  menjadi

pengikutnya  masih  menyangsikan  kemampuannya melindungi diri mereka sendiri atau akan dapat mengalahkan musuh mereka. Besar sekali  dugaan bahwa hal demikian memang sudah terlintas dalam pikiran Muhammad, melihat tingkat  kecerdasannya  yang  begitu tinggi  dengan  ketajaman  pikiran dan pandangannya yang jauh, yang  semuanya  itu  seimbang  dengan  jiwa  besarnya,  dengan kemurnian rohaninya, budi pekerti yang luhur serta perasaannya yang halus sekali itu.

Tetapi sungguhpun begitu, dari segi ini ia  yakin  dan  tenang sekali. Pada waktu itu – dan sampai pada waktu pembawa risalah itu  wafat  –  inti  ajaran   Islam   masih   bersih   sekali, kemurniannya masih belum ternodakan. Seperti ajaran Nasrani di Najran, Hira dan Syam, begitu juga paham Nasrani  di  Abisinia sudah  dijangkiti  oleh  noda, perselisihan antara mereka yang menuhankan Ibu  Mariam  dengan  mereka  yang  menuhankan  Isa. Disamping  ada  lagi yang berlainan dengan kedua golongan itu, mereka yang masih mengambil dari  sumber  ajaran  yang  murni, yang tidak perlu dikuatirkan.

Sebenarnya,   kebanyakan   agama-agama  itu  sesudah  beberapa generasi  saja  berjalan,  sudah   dijangkiti   oleh   semacam paganisma,  meskipun bukan dari jenis rendahan, yang waktu itu berkembang  di   negeri-negeri   Arab;   tetapi   bagaimanapun paganisma juga.

Kedatangan  Islam  merupakan  musuh berat buat paganisma dalam segala bentuk dan coraknya. Ditambah lagi, bahwa agama Nasrani waktu  itu sudah mengakui adanya suatu golongan klas khusus di kalangan pemuka-pemuka agama  –  yang  oleh  Islam  samasekali tidak  dikenal  –  yang  pada  waktu  itu  merupakan  golongan tertinggi dan paling suci. Juga pada waktu itu – dan dasar ini tetap  berlaku  –  Islam  merupakan agama yang menjunjung jiwa manusia ke puncak tertinggi. Tak ada peluang yang  akan  dapat menghubungkan manusia dengan Tuhannya selain daripada baktinya dan perbuatan yang baik, dan orang harus  mencintai  sesamanya seperti  mencintai  dirinya.  Tidak ada berhala-berhala, tidak ada pendeta-pendeta,  tidak  ada  dukun-dukun  dan  tidak  ada apapun yang akan merintangi jiwa manusia itu untuk berhubungan dengan seluruh wujud ini dengan perbuatan  dan  kelakuan  yang baik.  Allah  juga  yang  akan  membalas  segala perbuatan itu dengan berlipat ganda.

Dan ruh! Soal ruh adalah urusan Tuhan.  Ruh  yang  berhubungan dengan  kekekalan  dan  keabadian zaman. Segala perbuatan baik bagi ruh ini tak ada tabir yang akan menutupinya  dari  Tuhan, dan  tak  ada  kekuasaan apapun selain Allah. Orang-orang yang kaya, yang kuat atau yang jahat dapat saja menyiksa jasad ini, dapat saja memisahkannya dari segala kesenangan dan hawa nafsu dan dapat saja menghancurkan semua itu, tetapi ruh  atau  jiwa itu  takkan  dapat  mereka kuasai selama yang bersangkutan mau menempatkannya lebih tinggi di atas  segala  kekuasaan  materi dan waktu, dan tetap berhubungan dengan seluruh alam ini.

Manusia  itu  akan  mendapat  balasan atas segala perbuatannya bilamana kelak setiap jiwa menerima balasan menurut  apa  yang telah  dikerjakannya.  Ketika  itu  seorang  ayah takkan dapat menolong anaknya, dan seorang anak takkan pula dapat  menolong

ayahnya  sedikitpun.  Ketika  itu  harta  si  kaya.  sudah tak berguna lagi, tidak juga  si  kuat  dengan  kekuatannya,  atau ahli-ahli  teologi  itu  dengan ilmu ketuhanannya. Tetapi yang penting hanyalah perbuatan mereka,  yang  nanti  akan  menjadi saksi.  Ketika  itulah  seluruh alam wujud berpadu semua dalam kekekalan dan keabadiannya.  Tuhan  tidak  akan  memperlakukan tidak  adil  terhadap  siapapun. “Dan balasan yang kamu terima hanya menurut apa yang kamu perbuat.”

Bagaimana Muhammad  akan  merasa  kuatir  akan  adanya  godaan terhadap  mereka  yang  sudah  diajarkan semua arti ini, sudah ditanamkan ke dalam jiwa mereka dan sudah pula akidah dan iman itu  terpateri dalam lubuk hati mereka! Bagaimana pula ia akan merasa  kuatir  akan  adanya  godaan,  sedang   teladan   yang diberikannya  itu  hidup  dihadapan  mereka, dengan pribadinya yang begitu  dicintai,  sehingga  kecintaan  mereka  kepadanya melebihi cintanya kepada diri sendiri kepada anak keluarganya!

Pribadi, yang telah menempatkan akidah itu diatas  semua  raja di  muka  bumi  ini,  di  langit,  dengan  matahari dan bulan, tatkala ia mengatakan kepada pamannya: “Demi  Allah,  kalaupun mereka  meletakkan  matahari  di tangan kananku dan meletakkan bulan di tangan kiriku, dengan maksud supaya aku  meninggalkan tugas  ini,  sungguh tidak akan kutinggalkan, biar nanti Allah yang akan membuktikan kemenangan itu  di  tanganku,  atau  aku binasa karenanya.”

Pribadi  inilah,  pribadi  yang  telah  disinari  cahaya  iman kebijaksanaan  dan   keadilan,   kebaikan,   kebenaran   serta keindahan;  di  samping  itu  adalah  pribadi  yang penuh rasa rendah hati, rasa kesetiaan serta keakraban dan kasih-sayang.

Karena  itulah,  sedikitpun  tidak  goyah  hatinya  melepaskan sahabat-sahabatnya   berangkat  hijrah  ke  Abisinia.  Keadaan mereka yang sudah merasa aman di dekat Najasyi, merasa  tenang dengan  agama  mereka  di  tengah-tengah masyarakat yang tidak punya hubungan famili atau pertalian batin itu, membuat  pihak Quraisy  lebih  menyadari, bahwa gangguan mereka terhadap kaum Muslimin  –  sebagai  masyarakat  dari  sesama  mereka,   dari keluarga   mereka   dan   seketurunan   pula  –  adalah  suatu penganiayaan, suatu perbuatan kekerasan dan demoralisasi  yang tak  berkesudahan.  Itu  semua  adalah  suatu  tekanan  dengan pelbagai macam siksaan kepada mereka yang  sudah  begitu  kuat jiwanya  untuk  menerima  siksaan  demikian itu. Tetapi mereka sekarang sudah tidak lagi mendapat  sesuatu  gangguan.  Mereka sudah    menganggap,   bahwa   ketabahan   menghadapi   segala penderitaan itu adalah  suatu  pendekatan  kepada  Tuhan,  dan suatu ampunan.

Waktu   itu  ‘Umar  ibn’l-Khattab  adalah  pemuda  yang  gagah perkasa, berusia antara tigapuluh dan  tigapuluh  lima  tahun. Tubuhnya  kuat  dan  tegap,  penuh emosi dan cepat naik darah. Kesenangannya  foya-foya  dan  minum-minuman   keras.   Tetapi terhadap keluarga ia bijaksana dan lemah-lembut. Dari kalangan Quraisy dialah yang paling keras memusuhi kaum Muslimin.

Akan tetapi sesudah ia mengetahui, bahwa mereka  sudah  hijrah ke   Abisinia   dan   mengetahui   pula   rajanya   memberikan perlindungan kepada mereka,  iapun  merasa  kesepian  berpisah dengan  mereka  itu. Ia merasakan betapa pedihnya hati, betapa pilunya perasaan mereka berpisah dengan tanah air.

C.Umar Masuk Islam

Tatkala    itu    Muhammad     sedang     berkumpul     dengan sahabat-sahabatnya  yang tidak ikut hijrah, dalam sebuah rumah di Shafa. Di antara mereka ada Hamzah pamannya,  Ali  bin  Abi Talib  sepupunya,  Abu  Bakr  b.  Abi Quhafa dan Muslimin yang lain.  Pertemuan  mereka  ini  diketahui  ‘Umar.  Iapun  pergi ketempat  mereka,  ia  mau  membunuh Muhammad. Dengan demikian bebaslah Quraisy dan kembali mereka bersatu, setelah mengalami perpecahan, sesudah harapan dan berhala-berhala mereka hina.

Di  tengah jalan ia bertemu dengan Nu’aim b. Abdullah. Setelah mengetahui maksudnya, Nuiaim berkata: “Umar, engkau  menipu  diri  sendiri.  Kaukira  keluarga  ‘Abd Manaf.  akan  membiarkan  kau merajalela begini sesudah engkau membunuh Muhammad? Tidak lebih baik kau pulang saja  ke  rumah dan perbaiki keluargamu sendiri?!”

Pada  waktu  itu  Fatimah,  saudaranya,  beserta Sa’id b. Zaid suami Fatimah sudah masuk Islam. Tetapi setelah mengetahui hal ini  dari Nu’aim, Umar cepat-cepat pulang dan langsung menemui mereka. Di tempat itu ia mendengar ada orang  membaca  Qur’an. Setelah  mereka  merasa ada orang yang sedang mendekati, orang yang membaca itu sembunyi dan Fatimah menyembunyikan kitabnya. “Aku mendengar suara bisik-bisik apa itu?!” tanya Umar.

Karena mereka tidak mengakui, Umar membentak lagi dengan suara lantang: “Aku sudah mengetahui, kamu menjadi pengikut Muhammad dan  menganut  agamanya!”  katanya  sambil  menghantam   Sa’id keras-keras.   Fatimah,   yang   berusaha   hendak  melindungi suaminya, juga mendapat pukulan keras. Kedua suami isteri  itu jadi panas hati.

“Ya,  kami  sudah  Islam!  Sekarang  lakukan  apa  saja,” kata mereka. Tetapi Umar jadi gelisah sendiri setelah melihat darah di muka saudaranya  itu.  Ketika  itu  juga lalu timbul rasa iba dalam hatinya. Ia  menyesal.  Dimintanya  kepada  saudaranya  supaya

kitab  yang  mereka  baca  itu  diberikan  kepadanya.  Setelah dibacanya, wajahnya  tiba-tiba  berubah.  Ia  merasa  menyesal sekali  atas  perbuatannya  itu.  Menggetar rasanya ia setelah membaca isi kitab itu. Ada sesuatu yang  luarbiasa  dan  agung dirasakan,  ada  suatu seruan yang begitu luhur. Sikapnya jadi lebih bijaksana. Ia keluar membawa hati yang  sudah  lembut  dengan  jiwa  yang tenang  sekali.  Ia  langsung  menuju  ke  tempat Muhammad dan sahabat-sahabatnya itu sedang berkumpul  di  Shafa.  Ia  minta ijin  akan  masuk, lalu menyatakan dirinya masuk Islam. Dengan adanya Umar dan Hamzah dalam Islam, maka kaum  Muslimin  telah mendapat benteng dan perisai yang lebih kuat.

Dengan  Islamnya Umar ini kedudukan Quraisy jadi lemah sekali. Sekali  lagi  mereka  mengadakan  pertemuan  guna   menentukan langkah   lebih   lanjut.   Sebenarnya   peristiwa  ini  telah memperkuat kedudukan kaum  Muslimin,  telah  memberikan  unsur

baru berupa kekuatan yang luarbiasa yang menyebabkan kedudukan Quraisy terhadap kaum Muslimin dan kedudukan  mereka  terhadap Quraisy  sudah  tidak  seperti  dulu lagi. Keadaan kedua belah pihak ini kemudian diteruskan oleh suatu perkembangan  politik baru,     penuh     dengan     peristiwa-peristiwa,     dengan pengorbanan-pengorbanan  dan  kekerasan-kekerasan  baru  lagi, yang   sampai  menyebabkan  terjadinya  hijrah  dan  munculnya Muhammad sebagai politikus di samping Muhammad sebagai Rasul.

Catatan kaki

  1. Pada umumnya kata ‘namus besar’ (an-namus’l-akbar)  oleh beberapa penulis yang datang kemudian diberi  anotasi, bahwa kata namus berarti ‘Jibnl.’ Mungkin ini  didasarkan kepada (N) dan (LA) yang juga mengartikan demikian. Mengenai kata-kata ini Dr. Haekal tidak memberikan catatan. Demikian juga Ibn Ishaq dan ibn Hisyam. Salah seorang Orientalis – Montgomery Watt  misalnya – memberikan catatan bahwa kata namus biasanya diambil dan bahasa Yunani nomos, dan ini  berarti undang-undang atau kitab suci yang diwahyukan, (Muhammad at Mecca, p. 51). Sebaliknya pemakaian kata  namus bukan istilah Qur’an, sebab Qur’an menggunakan  kata Taurat apabila yang dimaksud dengan namus itu  undang-undang Nabi Musa (A).
  2. ash-Shafa ialah sebuah bukit dekat Mekah (A).
  3. Semacam gedung pertemuan (A).
  4. Menurut kepercayaan mereka penyakit yang disebabkan oleh gangguan jin, aslinya ra’i (A).
  5. Dalam literatur Barat umumnya disebut Negus (A)
  6. Peristiwa ini terjadi dalam tahun 615 Masehi (tahun kelima sesudah kerasulan) (A).

Sumber : S E J A R A H    H I D U P    M U H A M M A D

oleh MUHAMMAD HUSAIN HAEKAL diterjemahkan dari bahasa Arab oleh Ali Audah

Penerbit PUSTAKA JAYA Jln. Kramat II, No. 31 A, Jakarta Pusat Cetakan Kelima, 1980

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: