MEMBANGUN KHAZANAH ILMU DAN PENDIDIKAN

Belajar itu adalah perobahan …….

Sirah Nabi Muhammad dari Kerasulan sampai Islamnya Umar(bagian ketiga)

Posted by Bustamam Ismail on July 31, 2010

A.Abu Talib Mengajak  Banu Hasyim dan Banu Muthalib Membela Rasul

Sikap   dan   kata-kata   kemenakannya   itu  oleh  Abu  Talib disampaikan  kepada  Banu   Hasyim   dan   Banu   al-Muttalib. Pembicaranya  tentang  Muhammad  itu  terpengaruh oleh suasana yang dilihat dan dirasakannya ketika  itu.  Dimintanya  supaya Muhammad   dilindungi  dari  tindakan  Quraisy.  Mereka  semua menerima usul  ini,  kecuali  Abu  Lahab.  Terang-terangan  ia menyatakan  permusuhannya.  Ia  menggabungkan  diri pada pihak  lawan mereka. Permintaan mereka supaya ia dilindungi itu sudah tentu   karena   terpengaruh   oleh   fanatisma  golongan  dan permusuhan lama antara Banu Hasyim  dan  Banu  Umayya.  Tetapi bukan  fanatisma  itu  saya  yang  mendorong  Quraisy bersikap demikian. Ajarannya itu  sungguh  berbahaya  bagi  kepercayaan yang  biasa  dilakukan oleh leluhur mereka. Kedudukan Muhammad di  tengah-tengah  mereka,  pendiriannya  yang   teguh   serta ajarannya  pada kebaikan supaya orang hanya menyembah Zat Yang Tunggal, yang pada waktu  itu  memang  sudah  meluas  juga  di kalangan  kabilah-kabilah Arab, bahwa agama Allah itu bukanlah seperti yang ada pada mereka sekarang,  membuat  mereka  dapat membenarkan  juga  sikap kemenakan mereka itu, Muhammad, dalam menyatakan pendiriannya, seperti yang  pernah  dilakukan  oleh Umayya  b.  Abi’sh-Shalt  dan  Waraqa b. Naufal dan yang lain.

Kalau Muhammad memang benar – dan ini yang tidak dapat  mereka pastikan  –  maka kebenaran itu akan tampak juga dan merekapun akan merasakan pula kemegahannya. Sebaliknya, kalau tidak atas dasar  kebenaran,  maka  orangpun akan meninggalkannya seperti yang sudah terjadi sebelum itu. Akhirnya ajaran  demikian  ini tidak  akan  meninggalkan bekas dalam mengeluarkan mereka dari tradisi yang ada dan dia  sendiripun  akan  diserahkan  kepada musuh supaya dibunuh.

Terhadap   gangguan   Quraisy   ia   dapat  berlindung  kepada goIongannya,  seperti  kepada  Khadijah  bila   ia   mengalami kesedihan.  Baginya  – dengan imannya yang sungguh-sungguh dan cinta-kasihnya yang besar – Khadijah adalah lambang  kejujuran yang  dapat menghilangkan segala kesedihan hatinya, yang dapat menguatkan kembali setiap ciri kelemahan yang  mungkin  timbul karena  siksaan  musuh-musuhnya yang begitu keras menentangnya serta    melakukan    penyiksaan    terus-menerus     terhadap pengikut-pengikutnya.

B. Kekejamam Quresy terhadap Nabi Muhammad SAW dan pengikutnya

Sebelum  itu  sebenarnya  Quraisy memang tidak pernah mengenal hidup tenteram. Bahkan setiap kabilah  itu  langsung  menyerbu kaum Muslimin yang ada di kalangan mereka: disiksa dan dipaksa melepaskan  agamanya;  sehingga  di  antara  mereka  ada  yang mencampakkan  budaknya,  Bilal,  ke  atas pasir di bawah terik matahari yang membakar, dadanya ditindih dengan batu dan  akan dibiarkan  mati. Soalnya karena ia teguh bertahan dalam Islam!

Dalam kekerasan semacam itu Bilal hanya berkata: “Ahad,  Ahad, Hanya  Yang  Tunggal!”  Ia  memikul  semua  siksaan  itu  demi agamanya. Ketika  pada  suatu  hari  oleh  Abu  Bakr  dilihatnya   Bilal mengalami  siksaan  begitu rupa, ia dibelinya lalu dibebaskan.

Tidak sedikit budak-budak yang mengalami kekerasan serupa  itu oleh  Abu  Bakr  dibeli  –  diantaranya  budak  perempuan Umar bin’l-Khattab, dibelinya dari Umar [sebelum masuk Islam].  Ada pula  seorang  wanita yang disiksa sampai mati karena ia tidak mau meninggalkan Islam kembali kepada kepercayaan leluhurnya.

Kaum Muslimin di luar budak-budak  itu,  dipukuli  dan  dihina dengan berbagai cara. Muhammad juga tidak terkecuali mengalami gangguan-gangguan – meskipun sudah dilindungi oleh Banu Hasyim dan  Banu al-Muttalib. Umm Jamil, isteri Abu Jahl, melemparkan najis  ke  depan  rumahnya.  Tetapi   cukup   Muhammad   hanya membuangnya   saja.   Dan   pada  waktu  sembayang,  Abu  Jahl melemparinya dengan isi perut kambing  yang  sudah  disembelih untuk  sesajen  kepada berhala-berhala. Ditanggungnya gangguan demikian itu dan ia pergi kepada  Fatimah,  puterinya,  supaya mencucikan  dan  membersihkannya  kembali.  Ditambah  lagi, di samping semua itu,  kaum  Muslimin  harus  menerima  kata-kata biadab dan keji kemana saja mereka pergi.

Cukup  lama  hal  serupa  itu  berjalan.  Tetapi kaum Muslimin tambah teguh terhadap agama mereka. Dengan dada terbuka mereka menerima  siksaan  dan  kekerasan  itu  – demi akidah dan iman mereka.

Perioda yang telah  dilalui  dalam  hidup  Muhammad  a.s.  ini adalah  perioda  yang  paling dahsyat yang pernah dialami oleh sejarah umat manusia. Baik Muhammad atau mereka  yang  menjadi pengikutnya,   bukanlah   orang-orang   yang   menuntut  harta kekayaan, kedudukan atau kekuasaan, melainkan orang-orang yang menuntut  kebenaran  serta  keyakinannya  akan  kebenaran itu. Muhammad adalah orang yang mengharapkan bimbingan bagi  mereka yang   mengalami  penderitaan,  dan  membebaskan  mereka  dari belenggu paganisma yang rendah,  yang  menyusup  kedalam  jiwa manusia sampai ke lembah kehinaan yang sangat memalukan.

Demi tujuan rohani yang luhur itulah – tidak untuk tujuan yang lain  –  ia  mengalami  siksaan.  Penyair-penyair   memakinya, orang-orang  Quraisy  berkomplot hendak membunuhnya di Ka’bah. Rumahnya dilempari  batu,  keluarga  dan  pengikut-pengikutnya diancam.  Tetapi  dengan semua itu malah ia makin tabah, makin gigih meneruskan dakwah. Jiwa kaum  mukmin  yang  mengikutinya itu  sudah  padat oleh ucapannya: “Demi Allah, kalaupun mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan meletakkan bulan  di tangan  kiriku,  dengan  maksud  supaya aku meninggalkan tugas  ini, sungguh tidak akan kutinggalkan, biar  nanti  Allah  yang akan  membuktikan  kemenangan itu; di tanganku atau aku binasa karenanya.”

Segala pengorbanan yang besar-besar itu tak ada  artinya  bagi mereka,  mautpun  sudah  tak  berarti lagi demi kebenaran, dan membimbing Quraisy ke arah itu. Kadang orang heran, iman sudah begitu  mempersonakan jiwa penduduk Mekah pada waktu agama ini belum lengkap, pada waktu ayat-ayat Qur’an  yang  turun  masih sedikit.  Kadang  juga  orang mengira, bahwa pribadi Muhammad, sifatnya  yang   lemah-lembut,   keindahan   akhlaknya   serta kejujurannya yang sudah cukup dikenal, di samping kemauan yang keras dan pendiriannya yang teguh,  adalah  sebab  dari  semua itu.  Sudah  tentu  ini  juga ada pengaruhnya. Akan tetapi ada sebab-sebab lain  yang  juga  patut  diperhatikan  yang  tidak sedikit pula ikut memegang peranan.

Muhammad  tinggal  dalam suatu daerah yang merdeka mirip-mirip sebuah republik Dari segi keturunan ia menempati  puncak  yang tinggi.  Hartapun  sudah cukup seperti yang dikehendakinya. Ia dari Keluarga Hasyim pula,  juru  kunci  Ka’bah  dan  penguasa urusan  air. Gelar-gelar keagamaan yang tinggi-tinggi ada pada mereka. Jadi dalam keadaan itu ia tidak lagi membutuhkan harta kekayaan,  pangkat  atau sesuatu kedudukan politik atau agama.

Dalam hal ini ia berbeda pula dengan para rasul dan  nabi-nabi sebelumnya.  Musa  yang  dilahirkan  di  Mesir  bertemu dengan Firaun yang oleh penduduk sudah dituhankan,  dan  Firaun  juga yang  berkata:  “Aku  adalah  tuhanmu  yang  tertinggi,”  yang dibantu pula oleh pemuka-pemuka agama melakukan tekanan kepada orang   dengan   pelbagai   macam   kekejaman,  pemerasan  dan pemaksaan. Revolusi yang dilakukan Musa  atas  perintah  Tuhan adalah  revolusi  dalam  struktur politik dan agama sekaligus.

Bukankah keinginannya supaya Firaun dan orang yang menimba air dengan  syaduf  dari  sungai  Nil  itu  dihadapan  Tuhan  sama sederajat? Jadi dimana ketuhanan Firaun itu  dan  dimana  pula ketentuan  yang  berlaku!  Harus  dihancurkan  semua  itu  dan revolusi itupun terlebih dulu harus bersifat politik.

Oleh karena itu, dari semula ajaran Musa  itu  sudah  mendapat perlawanan  hebat  dari  Firaun. Dengan demikian, supaya orang menerima seruannya itu, ia diperkuat oleh mujizat-mujizat.  Ia melemparkan  tongkatnya,  dan  tongkat itu menjadi seekor ular yang bergerak-gerak,  menelan  semua  hasil  pekerjaan  tukang tukang  sihir  Firaun  itu. Itupun tidak memberi hasil apa-apa buat Musa. Terpaksa ia meninggalkan Mesir tanah airnya.  Dalam hijrahnya itupun diperkuat pula ia dengan sebuah mujizat yaitu terbelahnya jalan di tengah-tengah air lautan itu.

Juga Isa, yang dilahirkan di Nazareth di  bilangan  Palestina, yang  pada  waktu  itu merupakan wilayah Rumawi yang berada di bawah  kekuasaan  kaisar-kaisar  dengan  segala   kekejamannya sebagai   pihak   penjajah  dan  kekuasaan  dewa-dewa  Rumawi, mengajak orang  supaya  sabar  menghadapi  kekejaman  itu  dan bertobat   bagi   yang   menyesal   dan  macam-macam  perasaan belaskasih lagi, yang  oleh  pihak  penguasa  justru  dianggap pemberontakan   terhadap   kekuasaan  mereka.  Maka  Isa  juga diperkuat dengan mujizat-mujizat: menghidupkan orang mati  dan menyembuhkan  orang  sakit;  dan  yang lain diperkuat oleh Ruh Kudus. Memang benar, bahwa inti ajaran-ajaran mereka itu  pada dasarnya  bertemu  dengan  inti  ajaran-ajaran  Muhammad juga, lepas dari detail yang bukan  tempatnya  untuk  dijelaskan  di sini.  Akan  tetapi  motif  yang  berbagai macam ini, dan yang terutama motif politik, adalah yang menjadi tujuannya juga.

Sebaliknya Muhammad, keadaannya seperti yang kita sebutkan  di atas,   sifat  ajarannya  adalah  intelektual  dan  spiritual. Dasarnya  adalah  mengajak  kepada  kebenaran,  kebaikan   dan keindahan.  Suatu ajakan yang berdiri sendiri dari mula sampai akhir.  Karena  jauhnya  dari  segala  pertentangan   politik, struktur  republik  yang  sudah  ada di Mekah itu tidak pernah mengalami sesuatu kekacauan.

Mungkin pembaca akan terkejut bila saya katakan, bahwa  antara dakwah   Muhammad   dengan   metoda  ilmiah  modern  mempunyai persamaan  yang  besar  sekali.  Metoda   ilmiah   ini   ialah mengharuskan  kita  –  apabila  kita  hendak  mengadakan suatu penyelidikan – terlebih  dulu  membebaskan  diri  dari  segala prasangka, pandangan hidup dan kepercayaan yang sudah ada pada diri kita yang berhubungan dengan penyelidikan itu. Di situlah kita  memulai  dengan  mengadakan  observasi  dan  eksperimen, mengadakan perbandingan yang sistematis, kemudian baru  dengan silogisma  yang  sudah didasarkan kepada premisa-premisa tadi.

Apabila semua itu sudah  dapat  disimpulkan,  maka  kesimpulan demikian   itu  dengan  sendirinya  masih  perlu  dibahas  dan diselidiki lagi. Tetapi bagaimanapun juga ini sudah  merupakan suatu   data   ilmiah   selama   penyelidikan  tersebut  belum memperlihatkan kekeliruan. Metoda ilmiah  demikian  ini  ialah yang terbaik yang pernah dicapai umat manusia demi kemerdekaan berpikir. Metoda dan dasar-dasar dakwah demikian  inilah  pula yang menjadi pegangan Muhammad.

Bagaimana  pula  mereka  yang menjadi pengikutnya itu puas dan beriman sungguh-sungguh  akan  ajarannya?  Segala  kepercayaan lama  terkikis  habis  dari  jiwa  mereka, dan sekarang mereka mulai memikirkan masa depan mereka.

Waktu   itu   setiap   kabilah    Arab    mempunyai    berhala sendiri-sendiri.  Mana  pula  gerangan  berhala yang benar dan mana yang  sesat?  Di  negeri-negeri  Arab  dan  negeri-negeri sekitarnya  ketika  itu  memang  sudah  ada  penganut-penganut Sabian dan Majusi  penyembah  api,  juga  ada  yang  menyembah matahari.  Mana  diantara  mereka itu yang benar dan mana pula yang sesat?

Baiklah  kita  kesampingkan  dulu  semua  ini,  kita  hapuskan jejaknya  dari  jiwa  kita.  Kita bebaskan dulu diri kita dari segala konsepsi dan kepercayaan lama. Baiklah kita  renungkan. Merenungkan  dan meninjau pada dasarnya sama. Yang pasti ialah bahwa seluruh alam ini  satu  sama  lain  saling  berhubungan. Manusia,   puak-puak  dan  bangsa-bangsa  saling  berhubungan. Manusia berhubungan juga dengan hewan dan dengan  benda,  bumi kita  berhubungan dengan matahari, dengan bulan dan tata-surya lainnya.   Dan   semua   itupun   berhubungan   pula    dengan undang-undang  yang sudah tali-temali, tak dapat ditukar-tukar atau diubah-ubah lagi. Matahari tidak seharusnya akan mengejar bulan,  malampun  takkan  dapat mendahului siang. Andaikata di antara isi alam ini ada yang berubah  atau  berganti,  niscaya akan   berganti  pulalah  segala  yang  ada  dalam  alam  ini.

Andaikata matahari tidak lagi  menyinari  dan  memanasi  bumi, menurut  undang-undang  yang sudah berjalan sejak jutaan tahun yang lalu, niscaya bumi dan  langit  ini  sudah  akan  berubah pula.  Dan  oleh  karena yang demikian ini tidak terjadi, maka atas semua itu sudah tentu ada  zat  yang  menguasainya.  Dari situ  ia  tumbuh, dengan itu ia berkembang dan ke situ pula ia kembali. Hanya kepada Zat ini sajalah semata manusia menyerah.

Demikian  juga, segala yang ada dalam alam ini menyerah semata kepada Zat ini, persis seperti manusia.  Baik  manusia,  alam, ruang  dan  waktu  adalah suatu kesatuan. Maka Zat itulah inti dan sumbernya. Jadi,  hanya  kepada  Zat  itu  sajalah  semata ibadat  dilakukan.  Hanya  kepada  Zat itu sajalah jantung dan jiwa manusia dihadapkan. Ke dalam alam  itu  juga  kita  harus melihat  dan  merenungkan  undang-undang alam yang kekal abadi itu. Jadi segala yang disembah  manusia  selain  Allah  berupa berhala-berhala,  raja-raja,  firaun-firaun, api dan matahari, hanyalah suatu ilusi batil saja, tidak sesuai dengan  martabat dan  kehormatan  manusia,  tidak  sesuai  dengan  akal pikiran manusia serta dengan kemampuan yang ada  dalam  dirinya;  yang dapat  membuat  kesimpulan  atas  undang-undang Tuhan terhadap ciptaanNya itu, dengan jalan merenungkannya.

Inilah rasanya esensi ajaran Muhammad seperti  yang  diketahui kaum  Muslimin  yang  mula-mula  itu.  Ajaran yang disampaikan wahyu kepada mereka melalui Muhammad itu  adalah  puncak  dari bahasa  sastra  yang  telah  menjadi  mujizat  dan  akan terus berlaku demikian. Terpadunya kebenaran dan cara  melukiskannya dengan  keindahan  yang  luarbiasa  itu kini tampak di hadapan mereka. Di sini jiwa dan kalbu mereka meningkat lebih  tinggi, berhubungan  dengan  Zat Yang Maha Mulia. Lalu datang Muhammad menuntun mereka bahwa kebaikan itulah jalan yang  akan  sampai ke  tujuan.  Mereka  akan  mendapat  balasan atas kebaikan itu bilamana mereka sudah menunaikan kewajiban dalam hidup  dengan tekun.  Setiap  orang  akan  mendapat  balasan  sesuai  dengan perbuatannya.

“Barangsiapa berbuat kebaikan seberat atompun akan dilihatnya; dan   barangsiapa   berbuat  kejahatan  seberat  atompun  akan dilihatnya pula.” (Qur’an 99: 7-8)

Dalam menjunjung pikiran manusia ke tempat yang  lebih  tinggi kiranya tak ada yang lebih tinggi dari ini! Juga menghancurkan belenggu yang  senantiasa  mengikatnya  itu!  Terserah  kepada manusia.  Ia  mau memahami ini, mau beriman dan mengerjakannya untuk mencapai puncak ketinggian martabat  manusia  itu!  Demi mencapai  tujuan,  segala pengorbanan terasa ringan bagi orang yang sudah beriman itu.

Karena posisi Muhammad dan  pengikut-pengikutnya  yang  begitu agung,   Banu   Hasyim   dan  Banu  al-Muttalib  tambah  ketat menjaganya dari setiap gangguan.  Pada  suatu  hari  Abu  Jahl bertemu  dengan Muhammad, ia mengganggunya, memaki-makinya dan mengeluarkan kata-kata yang tidak  pantas  dialamatkan  kepada agama  ini. Tetapi Muhammad tidak melayaninya. Ditinggalkannya ia  tanpa  diajak  bicara.  Hamzah,  pamannya  dan  saudaranya sesusu,  yang masih berpegang pada kepercayaan Quraisy, adalah seorang  laki-laki  yang  kuat  dan  ditakuti.  Ia   mempunyai kegemaran  berburu. Bila ia kembali dan berburu, terlebih dulu mengelilingi Ka’bah sebelum langsung pulang ke rumahnya.

Hari  itulah,  bilamana  ia  datang   dan   mengetahui   bahwa kemenakannya  itu mendapat gangguan Abu Jahl, ia meluap marah. Ia pergi ke Ka’bah, tidak lagi ia memberi  salam  kepada  yang hadir  di  tempat  itu seperti biasanya, melainkan terus masuk kedalam  mesjid  menemui  Abu   Jahl.   Setelah   dijumpainya, diangkatnya   busurnya   lalu   dipukulkannya  keras-keras  di kepalanya. Beberapa orang dan Banu Makhzum mencoba mau membela Abu  Jahl.  Tapi tidak jadi. Kuatir mereka akan timbul bencana dan membahayakan  sekali,  dengan  mengakui  bahwa  ia  memang mencaci maki Muhammad dengan tidak semena-mena.

Sesudah  itulah  kemudian  Hamzah  menyatakan  masuk Islam. Ia berjanji kepada Muhammad akan membelanya dan akan berkurban di jalan Allah sampai akhir hayatnya.

Pihak   Quraisy   merasa   sesak  dada  melihat  Muhammad  dan kawan-kawannya makin hari makin kuat. Di samping itu, gangguan dan  siksaan  yang  dialamatkan  kepada  mereka,  tidak  dapat mengurangi iman mereka dan menyatakannya  terus-terang,  tidak dapat  menghalangi  mereka melakukan kewajiban agama. Terpikir oleh Quraisy akan membebaskan diri dari Muhammad, dengan  cara seperti yang mereka bayangkan, memberikan segala keinginannya. Mereka rupanya lupa bahwa keagungan  dakwah  Islam,  kemurnian esensi  ajaran  rohaninya  yang  begitu tinggi, berada di atas segala pertentangan ambisi politik. ‘Utba b.  Rabi’a,  seorang bangsawan  Arab  terkemuka,  mencoba  membujuk  Quraisy ketika mereka dalam tempat pertemuan dengan mengatakan bahwa ia  akan bicara  dengan  Muhammad dan akan menawarkan kepadanya hal-hal yang barangkali mau menerimanya.  Mereka  mau  memberikan  apa saja kehendaknya, asal ia dapat dibungkam.

Ketika itulah ‘Utba bicara dengan Muhammad. “Anakku,”  katanya, “seperti kau ketahui, dari segi keturunan, engkau mempunyai tempat di kalangan kami. Engkau telah membawa soal   besar  ketengah-tengah  masyarakatmu,  sehingga  mereka cerai-berai  karenanya.  Sekarang,  dengarkanlah,  kami   akan menawarkan   beberapa   masalah,  kalau-kalau  sebagian  dapat kauterima Kalau dalam hal ini yang kauinginkan  adalah  harta, kamipun  siap  mengumpulkan  harta kami, sehingga hartamu akan menjadi yang terbanyak di antara kami. Kalau  kau  menghendaki pangkat,  kami  angkat  engkau  diatas kami semua; kami takkan memutuskan  suatu  perkara  tanpa  ada  persetujuanmu.   Kalau kedudukan  raja  yang  kauinginkan,  kami nobatkan kau sebagai raja kami. Jika engkau dihinggapi  penyakit  saraf4  yang  tak dapat  kautolak  sendiri,  akan  kami  usahakan  pengobatannya dengan harta-benda kami sampai kau sembuh.”Selesai ia bicara, Muhammad membacakan Surah as-Sajda (41 = Ha Mim). ‘Utba diam mendengarkan kata-kata yang begitu indah itu.

Dilihatnya sekarang yang berdiri di  hadapannya  itu  bukanlah seorang  laki-laki  yang  didorong  oleh  ambisi  harta, ingin kedudukan  atau  kerajaan,  juga  bukan  orang   yang   sakit, melainkan orang yang mau menunjukkan kebenaran, mengajak orang kepada kebaikan. Ia mempertahankan sesuatu  dengan  cara  yang baik, dengan kata-kata penuh mujizat.

Selesai  Muhammad  membacakan  itu  ‘Utba pergi kembali kepada Quraisy.  Apa  yang  dilihat  dan   didengarnya   itu   sangat mempesonakan dirinya. Ia terpesona karena kebesaran orang itu. Penjelasannya sangat menarik sekali. Persoalannya ‘Utba ini tidak menyenangkan pihak Quraisy,  juga pendapatnya    supaya    Muhammad    dibiarkan   saja,   tidak menggembirakan mereka,  sebaliknya  kalau  mengikutinya,  maka kebanggaannya buat mereka.

Maka    kembali   lagilah   mereka   memusuhi   Muhammad   dan sahabat-sahabatnya dengan menimpakan  bermacam-macam  bencana, yang  selama  ini  dalam  kedudukannya  itu  ia  berada  dalam perlindungan golongannya dan dalam penjagaan Abu  Talib,  Banu Hasyim dan Banu al-Muttalib.

Gangguan    terhadap   kaum   Muslimin   makin   menjadi-jadi, sampai-sampai ada yang dibunuh, disiksa dan semacamnya.  Waktu itu   Muhammad  menyarankan  supaya  mereka  terpencar-pencar. Ketika mereka bertanya kepadanya  kemana  mereka  akan  pergi, mereka  diberi nasehat supaya pergi ke Abisinia yang rakyatnya

menganut agama Kristen. “Tempat itu  diperintah  seorang  raja dan tak ada orang yang dianiaya disitu. Itu bumi jujur; sampai nanti Allah membukakan jalan buat kita semua.”

Sebagian kaum Muslimin ketika itu lalu berangkat  ke  Abisinia guna  menghindari  fitnah  dan  tetap  berlindung kepada Tuhan dengan mempertahankan agama. Mereka berangkat dengan melakukan dua  kali hijrah. Yang pertama terdiri dari sebelas orang pria dan empat wanita. Dengan sembunyi-sembunyi mereka keluar  dari

Mekah  mencari  perlindungan.  Kemudian mereka mendapat tempat yang baik di bawah Najasyi.5 Bilamana kemudian tersiar berita bahwa kaum Muslimin di  Mekah sudah  selamat  dari  gangguan Quraisy, merekapun lalu kembali pulang, seperti yang akan diceritakan  nanti.  Tetapi  setelah ternyata kemudian mereka mengalami kekerasan lagi dari Quraisy melebihi yang sudah-sudah, kembali lagi  mereka  ke  Abisinia. Sekali  ini  terdiri  dari  delapanpuluh orang pria tanpa kaum isteri  dan  anak-anak.  Mereka  tinggal  di  Abisinia  sampai sesudah hijrah Nabi ke Yathrib.

C.Hijrah ke Abisinia ini adalah hijrah pertama dalam Islam.6

Sudah pada tempatnya bagi setiap penulis sejarah Muhammad akan bertanya: Adakah tujuan hijrah yang  dilakukan  kaum  Muslimin atas  saran dan anjurannya itu karena akan melarikan diri dari orang-orang kafir Mekah beserta gangguan yang mereka  lakukan, ataukah  karena  suatu tujuan politik Islam, yang di balik itu dimaksudkan oleh Muhammad  dengan  tujuan  yang  lebih  luhur? Sudah pada tempatnya pula apabila penulis sejarah Muhammad itu akan bertanya tentang hal ini, setelah terbukti  dari  sejarah Nabi berbangsa Arab ini dalam seluruh fase kehidupannya, bahwa dia seorang politikus yang berpandangan jauh, seorang  pembawa risalah  dan  moral  jiwa  yang begitu luhur, sublim dan agung yang tak ada taranya. Dan yang menjadi alasan  dalam  hal  ini ialah  apa yang disebutkan dalam sejarah, bahwa penduduk Mekah tidak suka hati ada kaum  Muslimin  yang  pergi  ke  Abisinia.

Bahkan  mereka  kemudian  mengutus  dua orang menemui Najasyi. Mereka membawa hadiah-hadiah  berharga  guna  meyakinkan  raja supaya  dapat  mengembalikan  kaum  Muslimin  itu ke tanah air mereka. Pada  waktu  itu  penduduk  Abisinia  dan  penguasanya adalah   orang-orang  Nasrani.  Dari  segi  agama  orang-orang Quraisy tidak kuatir bahwa mereka akan ikut Muhammad.

Disebabkan oleh rasa  kegelisahan  terhadap  peristiwa  itukah maka  mereka lalu mengutus orang, meminta supaya kaum Muslimin itu  dikembalikan?  Mereka  menganggap,   bahwa   perlindungan Najasyi  terhadap  mereka  setelah mendengar keterangan mereka itu akan membawa pengaruh juga kepada  penduduk  jazirah  Arab

sehingga  mereka  akan  mau  menerima  agama  Muhammad dan mau menjadi  pengikutnya.  Ataukah  mereka  kuatir,   kalau   kaum Muslimin  menetap  di  Abisinia,  mereka  akan bertambah kuat, sehingga bila kelak mereka pulang kembali  membantu  Muhammad, mereka kembali dengan kekuatan, harta dan tenaga?

Sumber: S E J A R A H    H I D U P    M U H A M M A D

oleh MUHAMMAD HUSAIN HAEKAL

diterjemahkan dari bahasa Arab oleh Ali Audah

Penerbit PUSTAKA JAYA

Jln. Kramat II, No. 31 A, Jakarta Pusat

Cetakan Kelima, 1980

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: