MEMBANGUN KHAZANAH ILMU DAN PENDIDIKAN

Belajar itu adalah perobahan …….

Sirah Nabi Muhammad dari Kerasulan sampai Islamnya Umar(bagian kedua)

Posted by Bustamam Ismail on July 31, 2010

A.Ali mrngikuti Rasul Memeluk Islam

Ia  minta  waktu  akan  berunding  dengan  ayahnya lebih dulu. Semalaman itu ia merasa gelisah. Tetapi  besoknya  ia  member tahukan  kepada  suami-isteri  itu,  bahwa  ia  akan mengikuti mereka berdua, tidak perlu minta pendapat  Abu  Talib.  “Tuhan menjadikan  saya  tanpa saya perlu berunding dengan Abu Talib. Apa gunanya saya harus berunding dengan  dia  untuk  menyembah Allah.”

Jadi  Ali  adalah  anak  pertama yang menerima Islam. Kemudian Zaid b. Haritha, bekas budak Nabi. Dengan demikian Islam masih terbatas   hanya   dalam  lingkungan  keluarga  Muhammad:  dia sendiri, isterinya, kemenakannya  dan  bekas  budaknya.  Masih juga  ia  berpikir-pikir, bagaimana akan mengajak kaum Quraisy itu. Tahu benar ia, betapa kerasnya mereka itu dan betapa pula kuatnya  mereka  berpegang  pada  berhala yang disembah-sembah nenek moyang mereka itu.

B.Islamnya Abu Bakr

Pada waktu itu Abu Bakr b. Abi Quhafa dari kabilah Taim adalah teman akrab Muhammad. Ia senang sekali kepadanya, karena sudah diketahuinya benar ia sebagai orang  yang  bersih,  jujur  dan dapat  dipercaya.  Oleh  karena  itu orang dewasa pertama yang diajaknya  menyembah   Allah   Yang   Esa   dan   meninggalkan penyembahan  berhala,  adalah  dia. Juga dia laki-laki pertama tempat dia membukakan isi hatinya  akan  segala  yang  dilihat serta  wahyu  yang  diterimanya. Abu Bakr tidak ragu-ragu lagi memenuhi ajakan Muhammad dan beriman pula akan ajakannya  itu. Jiwa  yang  mana  lagi yang memang mendambakan kebenaran masih

akan ragu-ragu  meninggalkan  penyembahan  berhala  dan  untuk kemudian  menyembah  Allah  Yang Esa! Jiwa yang mana lagi yang masih disebut jiwa besar di samping menyembah Allah masih  mau menyembah  batu  yang  bagaimanapun  bentuknya! Jiwa yang mana lagi yang  sudah  bersih  masih  akan  ragu-ragu  membersihkan pakaian  dan  jiwanya,  berderma kepada orang yang membutuhkan dan berbuat kebaikan kepada anak piatu!

Keimanannya  kepada  Allah  dan  kepada  RasulNya  itu  segera diumumkan  oleh Abu Bakr di kalangan teman-temannya. Ia memang seorang pria yang rupawan. “Menjadi  kesayangan  masyarakatnya dan  amikal  sekali.  Dari  kalangan Quraisy ia termasuk orang Quraisy yang berketurunan tinggi dan  yang  banyak  mengetahui segala  seluk-beluk  bangsa  itu,  yang  baik  dan yang jahat. Sebagai pedagang  dan  orang  yang  berakhlak  baik  ia  cukup terkenal.   Kalangan   masyarakatnya  sendiri  yang  terkemuka mengenalnya dalam satu bidang saja. Mereka mengenalnya  karena ilmunya,  karena  perdagangannya  dan karena pergaulannya yang baik.”

C.Muslimin yang mula-mula masuk Islam

Dari kalangan masyarakatnya  yang  dipercayai  oleh  Abu  Bakr diajaknya mereka kepada Islam. Usman b. ‘Affan, Abdurrahman b. ‘Auf, Talha b. ‘Ubaidillah, Sa’d b.  Abi  Waqqash  dan  Zubair bin’l-‘Awwam   mengikutinya   pula  menganut  Islam.  Kemudian

menyusul pula Abu ‘Ubaida bin’l-Djarrah, dan banyak lagi  yang lain  dari  penduduk  Mekah.  Mereka yang sudah Islam itu lalu datang  kepada  Nabi  menyatakan  Islamnya,  yang  selanjutnya menerima ajaran-ajaran agama itu dari Nabi sendiri.

Mengetahui  adanya  permusuhan  yang  begitu bengis dari pihak Quraisy terhadap segala sesuatu yang melanggar paganisma, maka kaum  Muslimin yang mula-mula masih sembunyi-sembunyi. Apabila mereka akan  melakukan  salat,  mereka  pergi  ke  celah-celah gunung  di  Mekah.  Keadaan  serupa  ini  berjalan selama tiga tahun, sementara Islam tambah meluas juga di kalangan penduduk Mekah.  Wahyu  yang  datang  kepada  Muhammad selama itu makin memperkuat iman kaum Muslimin.

Yang menambah pula dakwah  itu  berkembang  sebenarnya  karena teladan  yang  diberikan Muhammad sangat baik sekali: ia penuh bakti dan penuh kasih-sayang, sangat  rendah  hati  dan  penuh kejantanan,  tutur-katanya  lemah-lembut  dan  selalu  berlaku adil; hak setiap orang masing-masing ditunaikan.  Pandangannya terhadap orang yang Iemah, terhadap piatu, orang yang sengsara dan miskin adalah pandangan seorang  bapa  yang  penuh  kasih, lemah-lembut  dan  mesra.  Malam haripun, dalam ia bertahajud, malam ia tidak cepat tidur,  membaca  wahyu  yang  disampaikan kepadanya, renungannya selalu tentang langit dan bumi, mencari pertanda  dari  segenap  wujud   ini,   permohonannya   selalu dihadapkan  hanya  kepada  Allah.  Dia. yang menyerapkan hidup semesta ini ke dalam dirinya dan kedalam jantung  kehidupannya sendiri,  adalah  suatu teladan yang membuat mereka yang sudah beriman dan menyatakan diri Islam itu,  makin  besar  cintanya kepada  Islam  dan  makin  kukuh  pula  imannya.  Mereka sudah berketetapan  hati  meninggalkan  anutan  nenek-moyang  mereka dengan  menanggung  segala  siksaan  kaum musyrik yang hatinya belum lagi disentuh iman.

Saudagar-saudagar dan kaum bangsawan Mekah yang sudah mengenal arti kesucian, sudah menyadari arti kebenaran, pengampunan dan arti rahmat, mereka beriman kepada ajaran Muhammad. Semua kaum yang  lemah,  semua  orang  yang sengsara dan semua orang yang tidak punya, beriman kepadanya. Ajaran Muhammad sudah tersebar di  Mekah, orang sudah berbondong-bondong memasuki Islam, pria dan wanita.

Orang   banyak   bicara   tentang   Muhammad    dan    tentang ajaran-ajarannya.   Akan  tetapi  penduduk  Mekah  yang  masih berhati-hati, yang masih tertutup hatinya, pada mulanya  tidak menghiraukannya.  Mereka  menduga, bahwa kata-katanya tidakkan lebih dan kata-kata pendeta atau ahli-ahli pikir semacam Quss, Umayya,  Waraqa dan yang lain. Orang pasti akan kembali kepada kepercayaan nenek-moyangnya; yang akhirnya akan  menang  ialah Hubal, Lat dan ‘Uzza, begitu juga Isaf dan Na’ila yang dibawai kurban.  Mereka  lupa  bahwa  iman  yang   murni   tak   dapat

dikalahkan,   dan   bahwa   kebenaran   pasti   akan  mendapat kemenangan.

Tiga  tahun  kemudian  sesudah  kerasulannya,  perintah  Allah datang  supaya  ia mengumumkan ajaran yang masih disembunyikan itu, perintah  Allah  supaya  disampaikan.  Ketika  itu  wahyu datang: “Dan berilah peringatan kepada keluarga-keluargamu yang dekat. Limpahkanlah  kasih-sayang  kepada  orang-orang  beriman  yang mengikut  kau.  Kalaupun  mereka tidak mau juga mengikuti kau, katakanlah, ‘Aku lepas tangan dari  segala  perbuatan  kamu.'” (Qur’an 26: 214-216)

“Sampaikanlah apa yang sudah diperintahkan kepadamu, dan tidak usah kauhiraukan orang-orang musyrik itu.”(Qur’an 15: 94)

D. Undangan Nabi MuhammadSAW kepada Qirabatnya.

Muhammadpun  mengundang   makan   keluarga-keluarga   itu   ke rumahnya,  dicobanya  bicara dengan mereka dan mengajak mereka kepada  Allah.  Tetapi  Abu  Talib,  pamannya,  lalu  menyetop pembicaraan  itu.  Ia  mengajak orang-orang pergi meninggalkan tempat.  Keesokan  harinya  sekali  lagi  Muhammad  mengundang mereka. Selesai  makan, katanya kepada mereka: “Saya tidak melihat ada seorang manusia di kalangan Arab ini dapat membawakan  sesuatu ke  tengah-tengah  mereka  lebih  baik  dari yang saya bawakan kepada kamu sekalian ini.  Kubawakan  kepada  kamu  dunia  dan akhirat  yang  terbaik. Tuhan telah menyuruh aku mengajak kamu sekalian. Siapa di antara kamu ini yang mau mendukungku  dalam hal ini?”

Mereka    semua   menolak,   dan   sudah   bersiap-siap   akan meninggalkannya. Tetapi tiba-tiba Ali bangkit – ketika itu  ia masih anak-anak, belum lagi balig. “Rasulullah,  saya  akan  membantumu,”  katanya.  “Saya adalah lawan siapa saja yang kautentang.”

Banu   Hasyim   tersenyum,   dan   ada   pula   yang   tertawa terbahak-bahak.  Mata  mereka  berpindah-pindah dari Abu Talib kepada anaknya. Kemudian mereka  semua  pergi  meninggalkannya dengan ejekan.

E.Seruan Nabi Muhammad SAW kepada Kaum Quresy.

Sesudah  itu  Muhammad  kemudian  mengalihkan  seruannya  dari keluarga-keluarganya yang dekat kepada seluruh penduduk Mekah. Suatu  hari  ia naik ke Shafa2 dengan berseru: “Hai masyarakat Quraisy.” Tetapi orang Quraisy itu  lalu  membalas:  “Muhammad bicara  dari  atas  Shafa.”  Mereka lalu datang berduyun-duyun sambil bertanya-tanya, “Ada apa?” “Bagaimana pendapatmu sekalian kalau kuberitahukan kamu, bahwa pada  permukaan  bukit  ini  ada  pasukan  berkuda. Percayakah kamu?” “Ya,” jawab mereka. “Engkau tidak  pernah  disangsikan.  Belum

pernah kami melihat engkau berdusta.” “Aku mengingatkan kamu sekalian, sebelum menghadapi siksa yang sungguh berat,” katanya, “Banu Abd’l-Muttalib, Banu Abd Manaf, Banu  Zuhra,  Banu  Taim,  Banu  Makhzum  dan  Banu Asad Allah memerintahkan     aku      memberi      peringatan      kepada keluarga-keluargaku  terdekat. Baik untuk kehidupan dunia atau akhirat. Tak ada sesuatu bahagian atau keuntungan  yang  dapat kuberikan  kepada  kamu,  selain  kamu  ucapkan: Tak ada tuhan selain Allah.”

Atau  Seperti Ucapan :  Abu  Lahab –  seorang   laki-laki berbadan  gemuk dan cepat naik darah – kemudian berdiri sambil meneriakkan: “Celaka kau hari ini.  Untuk  ini  kau  kumpulkan kami?” Muhammad  tak  dapat  bicara.  Dilihatnya pamannya itu. Tetapi kemudian sesudah itu datang wahyu membawa firman Tuhan:  “Celakalah kedua tangan Abu Lahab, dan celakalah ia.  Tak  ada gunanya  kekayaan  dan  usahanya  itu. Api yang menjilat-jilat akan menggulungnya” (Qur’an 102:1-8)

Kemarahan Abu Lahab dan sikap permusuhan kalangan Quraisy yang lain  tidak  dapat  merintangi  tersebarnya  dakwah  Islam  di kalangan penduduk Mekah itu. Setiap hari niscaya akan ada saja orang  yang Islam – menyerahkan diri kepada Allah. Lebih-lebih

mereka yang tidak terpesona oleh  pengaruh  dunia  perdagangan untuk   sekedar   melepaskan  renungan  akan  apa  yang  telah diserukan kepada mereka. Mereka sudah  melihat  Muhammad  yang berkecukupan,  baik dari harta Khadijah atau hartanya sendiri. Tidak   dipedulikannya   harta   itu,    juga    tidak    akan memperbanyaknya   lagi.   Ia   mengajak   orang   hidup  dalam kasih-sayang, dengan lemah-lembut, dalam kemesraan dan tasamuh (lapang  dada,  toleransi). Ya, bahkan dia yang menerima wahyu menyebutkan, bahwa memupuk-mupuk kekayaan adalah suatu kutukan terhadap jiwa.

Kamu  telah  dilalaikan  oleh perlombaan saling memperbanyak. Sampai nanti kamu menuju kubur. Sekali lagi, jangan! Akan kamu ketahui  juga  nanti.  Jangan.  Kalau  kamu  mengetahui dengan meyakinkan. Niscaya akan kamu lihat  neraka.  Kemudian,  tentu akan  kamu  lihat  itu  dengan  mata yang meyakinkan. Hari itu kemudian baru kamu  akan  ditanyai  tentang  kesenangan  itu.” (Qur’an 111: 1-3)

Apalagi yang lebih baik daripada yang dianjurkan Muhammad itu! Bukankah ia menganjurkan kebebasan? Kebebasan mutlak yang  tak ada  batasnya.  Kebebasan  yang  sungguh  bernilai bagi setiap manusia Arab itu, sama  dengan  nilai  hidupnya  sendiri!  Ya! Bukankah  orang  mau  melepaskan  diri  dari  belenggu  dengan pengabdian  yang  bagaimanapun  selain  pengabdiannya   kepada Allah? Bukankah setiap belenggu itu harus dihancurkan? Tak ada Hubal, tak ada Lat, ‘Uzza. Tak ada api Majusi, matahari  orang Mesir,  tak  ada  bintang penyembah bintang, tak ada hawariyin

(pengikut-pengikut Isa),  tak  ada  seorang  manusiapun,  atau malaikat  ataupun  jin  yang  akan  menjadi batas antara Allah dengan manusia. Di hadapan Allah,  hanya  di  hadapanNya  Yang Tunggal     tak     bersekutu,     manusia    akan    dimintai pertanggung-jawabannya atas perbuatannya yang telah dilakukan, yang  baik dan yang buruk. Hanya perbuatan manusia itu sajalah yang menjadi perantaranya. Hati kecilnya yang  akan  menimbang semua  perbuatan.  Hanya  itulah  yang  berkuasa atas dirinya.

Dengan itulah dipertanggungkan  ketika  setiap  jiwa  mendapat balasan  sesuai  dengan perbuatannya. Kebebasan mana lagi yang lebih luas daripada yang diajarkan Muhammad  itu?  Adakah  Abu Lahab  dan  kawan-kawannya  mengajarkan  yang  semacam  itu  -sedikit sekalipun? Ataukah mereka mengajarkan  supaya  manusia tetap dalam perhambaan, dalam perbudakan, yang sudah ditimbuni oleh kepercayaan-kepercayaan khurafat dan takhayul, yang sudah menutupi mereka dari segala cahaya kebenaran?

Akan  tetapi  Abu  Lahab,  Abu  Sufyan dan bangsawan-bangsawan Quraisy  terkemuka  lainnya,  hartawan-hartawan   yang   gemar bersenang-senang,  mulai  merasakan, bahwa ajaran Muhammad itu merupakan  bahaya  besar  bagi  kedudukan  mereka.  Jadi  yang mula-mula  harus mereka lakukan ialah menyerangnya dengan cara mendiskreditkannya,   dan   mendustakan   segala   apa    yang dinamakannya kenabian itu.

Langkah  pertama  yang  mereka  lakukan  dalam  hal  ini ialah membujuk penyair-penyair mereka: Abu Sufyan bin’l-Harith, ‘Amr bin’l-‘Ash  dan  Abdullah  ibn’z-Ziba’ra,  supaya mengejek dan menyerangnya. Dalam pada  itu  penyair-penyair  Muslimin  juga

tampil  membalas  serangan  mereka tanpa Muhammad sendiri yang harus melayani.

Sementara  itu,  selain  penyair-penyair  itu  beberapa  orang tampil pula meminta kepada Muhammad beberapa mujizat yang akan dapat membuktikan kerasulannya: mujizat-mujizat  seperti  pada Musa  dan  Isa.  Kenapa  bukit-bukit Shafa dan Marwa itu tidak disulapnya menjadi emas, dan  kitab  yang  dibicarakannya  itu dalam  bentuk  tertulis  diturunkan  dari  langit?  Dan kenapa Jibril yang banyak dibicarakan oleh Muhammad itu tidak  muncul di  hadapan  mereka? Kenapa dia tidak menghidupkan orang-orang yang sudah mati, menghalau bukit-bukit yang selama ini membuat Mekah  terkurung  karenanya?  Kenapa ia tidak memancarkan mata air yang lebih sedap dari air sumur Zamzam,  padahal  ia  tahu betapa besar hajat penduduk negerinya itu akan air?

Tidak   hanya  sampai  disitu  saja  kaum  musyrikin  itu  mau mengejeknya dalam soal-soal  mujizat,  malahan  ejekan  mereka makin  menjadi-jadi,  dengan  menanyakan:  kenapa Tuhannya itu tidak memberikan wahyu tentang  harga  barang-barang  dagangan supaya mereka dapat mengadakan spekulasi buat hari depan?

Debat  mereka  itu  berkepanjangan.  Tetapi  wahyu yang datang kepada Muhammad menjawab debat mereka “Katakanlah: ‘Aku tak berkuasa membawa kebaikan  atau  menolak bahaya  untuk  diriku  sendiri,  kalau  tidak  dengan kehendak Allah. Dan sekiranya aku mengetahui  yang  gaib-gaib,  niscaya kuperbanyak amal kebaikan itu dan bahayapun tidak menyentuhku. Tapi aku hanya memberi peringatan dan membawa  berita  gembira bagi mereka yang beriman.” (Qur’an 7: 188)

Ya,  Muhammad  hanya  mengingatkan dan membawa berita gembira. Bagaimana mereka akan  menuntutnya  dengan  hal-hal  yang  tak masuk  akal. Sedang dia tidak mengharapkan dari mereka kecuali yang masuk akal, bahkan yang diminta dan diharuskan oleh akal?  Bagaimana   mereka   menuntutnya   dengan   hal-hal   yang

bertentangan dengan  kodrat  jiwa  yang  tinggi  padahal  yang diharapkannya  dari mereka agar mereka mau menerima suara yang sesuai dengan kodrat jiwa yang  tinggi  itu?!  Bagaimana  pula mereka  masih  menuntutnya  dengan  beberapa  mujizat, padahal kitab yang diwahyukan kepadanya itu dan yang menunjukkan jalan yang  benar  itu  adalah  mujizat  dari segala mujizat? Kenapa mereka masih menuntut supaya kerasulannya itu  diperkuat  lagi dengan keanehan-keanehan yang tak masuk akal, yang sesudah itu nanti merekapun  akan  ragu-ragu  lagi,  akan  mengikutinyakah

mereka atau tidak?

Dan  ini,  yang  mereka  katakan tuhan-tuhan mereka itu, tidak lebih  adalah  batu-batu  atau   kayu   yang   disangga   atau berhala-berhala yang tegak di tengah-tengah padang pasir, yang tidak  dapat  membawa   kebaikan   ataupun   menolak   bahaya. Sungguhpun  begitu  mereka  menyembahnya  juga, tanpa menuntut pembuktian sifat-sifat ketuhanannya.  Dan  kalaupun  itu  yang dituntut,  pasti  ia  akan  tetap batu atau kayu, tanpa hidup, tanpa gerak; untuk dirinyapun ia tak dapat menolak bahaya atau membawa  kebaikan.  Dan  jika ada yang datang menghancurkannya iapun takkan dapat mempertahankan diri.

F. Nabi Muhammad SAW  membicarakan kesesatan penyembahan berhala-secara terang-terangan.

Muhammadpun  sudah  terang-terangan  menyebut  berhala-berhala mereka,  yang  sebelum  itu  tidak pernah disebut-sebutnya. Ia mencelanya, yang  juga  sebelum  itu  tidak  pernah  dilakukan demikian.   Hal  ini  menjadi  soal  besar  bagi  Quraisy  dan dirasakan menusuk hati mereka. Tentang  laki-laki  itu,  serta apa yang dihadapinya dari mereka dan dihadapi mereka dari dia, sekarang  mulai  sungguh-sungguh  menjadi  perhatian   mereka. Sampai   sebegitu   jauh   mereka   baru   sampai   memperolok kata-katanya. Apabila mereka duduk-duduk di Dar’n Nadwa,3 atau disekitar  Ka’bah  dengan berhala-berhala yang ada, membuallah mereka dengan sikap tidak lebih  dari  senyuman  mengejek  dan berolok-olok.  Akan  tetapi,  jika  yang dihina dan diejek itu sekarang dewa-dewa mereka  yang  mereka  sembah  dan  disembah nenek-moyang  mereka,  termasuk  Hubal,  Lat,  ‘Uzza dan semua berhala, maka tidak lagi soalnya soal olok-olok dan  cemoohan, melainkan sudah menjadi soal yang serius dan menentukan. Atau, andaikata orang itu  sampai  dapat  menghasut  penduduk  Mekah melawan  mereka dan meninggalkan berhala-berhala mereka, hasil apa yang akan diperolehnya dari  perdagangan  Mekah  itu?  Dan bagaimana pula kedudukan mereka dalam arti agama?

Abu  Talib pamannya belum lagi menganut Islam. Tetapi tetap ia sebagai pelindung  dan  penjaga  kemenakannya  itu.  Ia  sudah menyatakan   kesediaannya  akan  membelanya.  Atas  dasar  itu pemuka-pemuka bangsawan Quraisy – dengan  diketahui  oleh  Abu Sufyan b. Harb – pergi menemui Abu Talib. “Abu  Talib,”  kata  mereka,  “kemenakanmu  itu  sudah  memaki berhala-berhala kita, mencela  agama  kita,  tidak  menghargai harapan-harapan  kita  dan menganggap sesat nenek-moyang kita.

Soalnya sekarang, harus kauhentikan dia; kalau  tidak  biarlah kami  sendiri yang akan menghadapinya. Oleh karena engkau juga seperti kami tidak sejalan, maka cukuplah  engkau  dari  pihak kami menghadapi dia.”

Akan  tetapi  Abu  Talib  menjawab  mereka dengan baik sekali. Sementara itu Muhammad  juga  tetap  gigih  menjalankan  tugas dakwahnya dan dakwa itupun mendapat pengikut bertambah banyak. Quraisy segera berkomplot menghadapi Muhammad itu. Sekali lagi mereka pergi menemui Abu Talib.  Sekali  ini  disertai  ‘Umara bin’l-Walid  bin’l-Mughira,  seorang  pemuda  yang  montok dan rupawan, yang akan diberikan kepadanya  sebagai  anak  angkat, dan sebagai gantinya supaya Muhammad diserahkan kepada mereka. Tetapi inipun ditolak.  Muhammad  terus  juga  berdakwah,  dan Quraisypun terus juga berkomplot.

G. Abu Thalib sebagai figure benteng Nabi.

Untuk ketiga kalinya mereka mendatangi lagi Abu Talib. “Abu   Talib'”   kata   mereka,  “Engkau  sebagai  orang  yang terhormat, terpandang  di  kalangan  kami.  Kami  telah  minta supaya   menghentikan   kemenakanmu   itu,   tapi  tidak  juga kaulakukan. Kami tidak akan tinggal diam terhadap  orang  yang memaki  nenek-moyang  kita,  tidak  menghargai harapan-harapan kita dan mencela berhala-berhala kita – sebelum  kausuruh  dia diam  atau  sama-sama  kita  lawan dia hingga salah satu pihak nanti binasa.”

Berat sekali bagi Abu  Talib  akan  berpisah  atau  bermusuhan dengan masyarakatnya. Juga tak sampai hati ia menyerahkan atau membuat kemenakannya  itu  kecewa.  Gerangan  apa  yang  harus dilakukannya?

Dimintanya  Muhammad  datang  dan diceritakannya maksud seruan Quraisy. Lalu  katanya:  “Jagalah  aku,  begitu  juga  dirimu. Jangan aku dibebani hal-hal yang tak dapat kupikul.” Muhammad  menekur  sejenak,  menekur  berhadapan dengan sebuah

sejarah alam wujud ini, sejarah yang sedang tertegun tak  tahu hendak  ke  mana  tujuannya.  Dalam  kata-kata  yang  kemudian menguntai dari bibir laki-laki itu adalah suatu keputusan bagi dunia:  adakah dunia ini akan dalam kesesatan selalu dan terus

dijerumuskan, lalu datang Majusi menekan  Kristen  yang  sudah gagal   dan   kacau,  dan  dengan  demikian  paganisma  dengan kebatilannya itu akan mengangkat kepala yang sudah  rapuk  dan busuk?  Atau  ia  harus memancarkan terus sinar kebenaran itu, memproklamirkan kata-kata Tauhid, membebaskan pikiran  manusia dari belenggu perbudakan, membebaskannya dari rantai ilusi dan mengangkatnya kemartabat  yang  lebih  tinggi,  sehingga  jiwa manusia itu dapat mencapai hubungan dengan Zat Maha Tinggi?

Pamannya,  ini  pamannya seolah sudah tak berdaya lagi membela dan   memeliharanya.   Ia   sudah   mau    meninggalkan    dan melepaskannya.  Sedang  kaum  Muslimin masih lemah, mereka tak berdaya akan berperang, tidak  dapat  mereka  melawan  Quraisy yang  punya kekuasaan, punya harta, punya persiapan dan jumlah manusia. Sebaliknya dia tidak punya apa-apa selain kebenaran.

Dan  atas nama kebenaran sebagai pembelanya ia mengajak orang. Tak punya apa-apa  ia  selain  imannya  kepada  kebenaran  itu sebagai  perlengkapan.  Terserahlah apa jadinya! Hari kemudian itu  baginya  lebih  baik  daripada  yang  sekarang.  Ia  akan

meneruskan   misinya,   akan   mengajak   orang  seperti  yang diperintahkan Tuhan kepadanya. Lebih baik mati ia membawa iman kebenaran  yang  telah  diwahyukan kepadanya daripada menyerah atau ragu-ragu. Karena itu, dengan jiwa yang penuh kekuatan  dan  kemauan,  ia menoleh kepada pamannya seraya berkata:

Paman,  demi  Allah,  kalaupun  mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan meletakkan bulan di tangan  kiriku,  dengan maksud  supaya  aku meninggalkan tugas ini, sungguh tidak akan kutinggalkan,  biar  nanti   Allah   yang   akan   membuktikan kemenangan itu ditanganku, atau aku binasa karenanya.”

Ya,  demikian besarnya kebenaran itu, demikian dahsyatnya iman itu!  Gemetar  orang  tua  ini  mendengar  jawaban   Muhammad, tertegun  ia.  Ternyata  ia berdiri dihadapan tenaga kudus dan kemauan yang begitu tinggi, di atas  segala  kemampuan  tenaga hidup yang ada.

Muhammad  berdiri.  Airmatanya  terasa  menyumbat karena sikap pamannya  yang  tiba-tiba   itu,   sekalipun   tak   terlintas kesangsian   dalam   hatinya   sedikitpun   akan   jalan  yang ditempuhnya itu.

Seketika lamanya Abu Talib masih dalam keadaan  terpesona.  Ia masih  dalam  kebingungan  antara tekanan masyarakatnya dengan sikap kemanakannya itu. Tetapi  kemudian  dimintanya  Muhammad datang   lagi,   yang   lalu   katanya:   “Anakku,  katakanlah sekehendakmu. Aku tidak akan menyerahkan  engkau  bagaimanapun juga!”

Sumber: S E J A R A H    H I D U P    M U H A M M A D

oleh MUHAMMAD HUSAIN HAEKAL

diterjemahkan dari bahasa Arab oleh Ali Audah

Penerbit PUSTAKA JAYA

Jln. Kramat II, No. 31 A, Jakarta Pusat

Cetakan Kelima, 1980

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: