MEMBANGUN KHAZANAH ILMU DAN PENDIDIKAN

Belajar itu adalah perobahan …….

ARAB SEBELUM ISLAM

Posted by Bustamam Ismail on July 28, 2010

PENYELIDIKAN mengenai sejarah peradaban manusia dan dari  mana pula  asal-usulnya,  sebenarnya  masih  ada hubungannya dengan zaman kita sekarang  ini.  Penyelidikan  demikian  sudah  lama menetapkan,  bahwa  sumber peradaban itu sejak lebih dari enam ribu  tahun  yang  lalu  adalah  Mesir.  Zaman   sebelum   itu dimasukkan orang kedalam kategori pra-sejarah. Oleh karena itu sukar sekali akan sampai kepada suatu  penemuan  yang  ilmiah. Sarjana-sarjana   ahli   purbakala   (arkelogi)  kini  kembali mengadakan penggalian-penggalian  di  Irak  dan  Suria  dengan maksud  mempelajari  soal-soal  peradaban  Asiria  dan Funisia serta  menentukan  zaman  permulaan   daripada   kedua   macam peradaban  itu:  adakah  ia  mendahului  peradaban  Mesir masa Firaun dan sekaligus mempengaruhinya, ataukah ia menyusul masa itu dan terpengaruh karenanya?

Apapun  juga  yang  telah  diperoleh  sarjana-sarjana arkelogi dalam bidang  sejarah  itu,  samasekali  tidak  akan  mengubah sesuatu  dari kenyataan yang sebenarnya, yang dalam penggalian benda-benda kuno Tiongkok dan Timur Jauh belum  memperlihatkan hasil  yang  berlawanan.  Kenyataan  ini  ialah  bahwa  sumber peradaban pertama – baik di Mesir, Funisia atau Asiria  –  ada hubungannya  dengan  Laut Tengah; dan bahwa Mesir adalah pusat yang paling menonjol membawa peradaban pertama itu  ke  Yunani atau  Rumawi,  dan  bahwa peradaban dunia sekarang, masa hidup kita  sekarang  ini,  masih  erat  sekali  hubungannya  dengan peradaban pertama itu.

Apa   yang   pernah   diperlihatkan   oleh  Timur  Jauh  dalam penyelidikam tentang sejarah peradaban, tidak  pernah  member pengaruh  yang jelas terhadap pengembangan peradaban-peradaban Fira’un, Asiria atau Yunani, juga tidak pernah mengubah tujuan dan  perkembangan  peradaban-peradaban  tersebut. Hal ini baru terjadi sesudah  ada  akulturasi  dan  saling-hubungan  dengan peradaban      Islam.     Di     sinilah     proses     saling pengaruh-mempengaruhi itu terjadi, proses asimilasi yang sudah sedemikian  rupa, sehingga pengaruhnya terdapat pada peradaban dunia yang menjadi pegangan umat manusia dewasa ini.

Peradaban-peradaban itu sudah begitu berkembang  dan  tersebar ke  pantai-pantai Laut Tengah atau di sekitarnya, di Mesir, di Asiria dan Yunani sejak ribuan tahun yang  lalu,  yang  sampai saat  ini  perkembangannya  tetap dikagumi dunia: perkembangan dalam ilmu pengetahuan dan teknologi, dalam bidang  pertanian, perdagangan,  peperangan  dan  dalam  segala  bidang  kegiatan manusia.   Tetapi,   semua   peradaban   itu,    sumber    dan pertumbuhannya,  selalu berasal dari agama. Memang benar bahwa sumber itu  berbeda-beda  antara  kepercayaan  trinitas  Mesir Purba yang  tergambar  dalam  Osiris,  Isis  dan  Horus, yang memperlihatkan  kesatuan  dan  penjelmaan  hidup  kembali   di negerinya serta hubungan kekalnya hidup dari bapa kepada anak, dan  antara  paganisma  Yunani  dalam  melukiskan   kebenaran, kebaikan   dan   keindahan  yang  bersumber  dan  tumbuh  dari gejala-gejala alam berdasarkan pancaindera;  demikian  sesudah itu   timbul   perbedaan-perbedaan  yang  dengan  penggambaran semacam  itu  dalam  pelbagai  zaman  kemunduran   itu   telah mengantarkannya ke dalam kehidupan duniawi. Akan tetapi sumber semua peradaban itu tetap membentuk perjalanan sejarah  dunia, yang  begitu  kuat  pengaruhnya sampai saat kita sekarang ini, sekalipun peradaban demikian hendak  mencoba  melepaskan  diri dan  melawan  sumbernya sendiri itu dari zaman ke zaman. Siapa tahu, hal yang serupa kelak akan hidup kembali.

Dalam   lingkungan   masyarakat   ini,    yang    menyandarkan peradabannya  sejak  ribuan  tahun  kepada sumber agama, dalam lingkungan  itulah  dilahirkan   para   rasul   yang   membawa agama-agama   yang  kita  kenal  sampai  saat  ini.  Di  Mesir dilahirkan Musa, dan dalam pangkuan Firaun ia  dibesarkan  dan diasuh,  dan  di tangan  para pendeta dan pemuka-pemuka agama kerajaan itu ia mengetahui keesaan Tuhan  dan  rahasia-rahasia alam.

Setelah  datang ijin Tuhan kepadanya supaya ia membimbing umat di tengah-tengah Firaun yang berkata kepada rakyatnya: “Akulah tuhanmu yang tertinggi” iapun berhadapan dengan Firaun sendiri dan tukang-tukang  sihirnya,  sehingga  akhirnya  terpaksa  ia bersama-sama orang-orang Israil yang lain pindah ke Palestina. Dan di Palestina ini pula dilahirkan Isa, Ruh dan Firman Allah yang  ditiupkan  ke  dalam  diri Mariam. Setelah Tuhan menarik kembali Isa putera Mariam, murid-muridnya kemudian menyebarkan agama   Nasrani   yang   dianjurkan   Isa   itu.   Mereka  dan pengikut-pengikut     mereka     mengalami      bermacam-macam penganiayaan. Kemudian setelah dengan kehendak Tuhan agama ini tersebar,  datanglah  Maharaja  Rumawi  yang  menguasai  dunia ketika  itu,  membawa  panji  agama  Nasrani. Seluruh Kerajaan Rumawi kini telah menganut agama Isa. Tersebarlah agama ini di Mesir,  di  Syam (Suria-Libanon dan Palestina) dan Yunani, dan dari Mesir menyebar  pula  ke  Ethiopia.  Sesudah  itu  selama beberapa  abad  kekuasaan  agama  ini semakin kuat juga. Semua yang berada di bawah panji  Kerajaan  Rumawi  dan  yang  ingin mengadakan persahabatan dan hubungan baik dengan Kerajaan ini, berada di bawah panji agama Masehi itu.

Berhadapan dengan agama Masehi yang tersebar  di  bawah  panji dan pengaruh Rumawi itu berdiri pula kekuasaan agama Majusi di Persia yang mendapat dukungan  moril  di  Timur  Jauh  dan  di India.   Selama  beberapa  abad  itu  Asiria  dan  Mesir  yang membentang  sepanjang  Funisia,  telah  merintangi  terjadinya suatu  pertarungan  langsung  antara kepercayaan dan peradaban Barat dengan Timur. Tetapi dengan masuknya Mesir  dan  Funisia ke  dalam lingkungan Masehi telah pula menghilangkan rintangan itu. Paham Masehi di Barat dan Majusi di Timur sekarang  sudah berhadap-hadapan  muka.  Selama  beberapa abad berturut-turut, baik Barat maupun Timur, dengan  hendak  menghormati  agamanya masing-masing, yang sedianya berhadapan dengan rintangan alam, kini telah berhadapan dengan  rintangan  moril,  masing-masing merasa  perlu  dengan  sekuat  tenaga  berusaha mempertahankan kepercayaannya, dan satu sama lain tidak  saling  mempengaruhi kepercayaan  atau  peradabannya,  sekalipun  peperangan antara mereka itu berlangsung terus-menerus sampai sekian lama.

Akan tetapi, sekalipun Persia telah dapat  mengalahkan  Rumawi dan  dapat menguasai  Syam dan Mesir dan sudah sampai pula di ambang pintu Bizantium,  namun  tak  terpikir  oleh  raja-raja Persia  akan menyebarkan agama Majusi atau menggantikan tempat agama Nasrani. Bahkan pihak yang  kini  berkuasa  itu  malahan menghormati  kepercayaan  orang  yang dikuasainya. Rumah-rumah ibadat mereka yang sudah hancur  akibat  perang  dibantu  pula membangun  kembali  dan  dibiarkan  mereka  bebas  menjalankan upacara-upacara  keagamaannya.  Satu-satunya  yang   diperbuat pihak  Persia dalam hal ini hanyalah mengambil Salib Besar dan dibawanya ke negerinya. Bilamana kelak kemenangan itu berganti berada  di  pihak  Rumawi Salib itupun diambilnya kembali dari tangan Persia. Dengan demikian peperangan rohani di Barat  itu tetap  di  Barat  dan di Timur tetap di Timur. Dengan demikian rintangan moril tadi sama pula dengan rintangan alam dan kedua kekuatan itu dari segi rohani tidak saling berbenturan.

Keadaan serupa itu berlangsung terus sampai abad keenam. Dalam pada itu pertentangan antara  Rumawi  dengan  Bizantium  makin meruncing.  Pihak  Rumawi,  yang  benderanya berkibar di benua Eropa sampai ke Gaul  dan  Kelt  di  Inggris  selama  beberapa generasi dan selama zaman Julius Caesar yang dibanggakan dunia dan tetap dibanggakan, kemegahannya itu berangsur-angsur telah mulai  surut, sampai akhirnya Bizantium memisahkan diri dengan kekuasaan sendiri pula, sebagai ahliwaris Kerajaan Rumawi yang menguasai  dunia  itu. Puncak keruntuhan Kerajaan Rumawi ialah tatkala pasukan Vandal yang buas itu  datang  menyerbunya  dan mengambil  kekuasaan  pemerintahan di tangannya. Peristiwa ini telah menimbulkan bekas yang  dalam  pada  agama  Masehi  yang tumbuh  dalam  pangkuan  Kerajaan  Rumawi.  Mereka  yang sudah beriman kepada Isa itu telah mengalami pengorbanan-pengorbanan besar, berada dalam ketakutan di bawah kekuasaan Vandal itu.

Mazhab-mazhab agama Masehi ini mulai pecah-belah.Dari zaman ke zaman  mazhab-mazhab   itu   telah   terbagi-bagi   ke   dalam sekta-sekta  dan  golongan-golongan. Setiap golongan mempunyai pandangan dan  dasar-dasar  agama  sendiri  yang  bertentangan golongan  lainnya.  Pertentangan-pertentangan  antara golongan-golongan satu sama lain  karena  perbedaan  pandangan itu telah mengakibatkan adanya permusuhan pribadi yang terbawa oleh karena moral dan jiwa yang sudah  lemah,  sehingga  cepat sekali   ia  berada  dalam  ketakutan,  mudah  terlibat  dalam fanatisma yang buta dan dalam kebekuan. Pada masa-masa itu, di antara golongan-golongan Masehi itu ada yang mengingkari bahwa Isa  mempunyai  jasad  disamping  bayangan  yang  tampak  pada manusia;  ada  pula  yang mempertautkan secara rohaniah antara jasad dan ruhnya sedemikian rupa  sehingga  memerlukan  khayal dan  pikiran  yang  begitu rumit untuk dapat menggambarkannya; dan  disamping  itu  ada  pula  yang  mau  menyembah   Mariam, sementara  yang  lain  menolak pendapat bahwa ia tetap perawan sesudah melahirkan Almasih.

Terjadinya pertentangan antara  sesama  pengikut-pengikut  Isa itu  adalah  peristiwa yang biasa terjadi pada setiap umat dan zaman, apabila ia sedang mengalami kemunduran:  soalnya  hanya terbatas pada teori kata-kata dan bilangan saja, dan pada tiap kata  dan  tiap   bilangan   itu   ditafsirkan   pula   dengan bermacam-macam arti, ditambah dengan rahasia-rahasia, ditambah dengan warna-warni khayal yang sukar diterima akal  dan  hanya dapat  dikunyah  oleh perdebatan-perdebatan sophisma yang kaku saja.

Salah seorang pendeta gereja berkata:  “Seluruh  penjuru  kota itu  diliputi  oleh perdebatan.  Orang dapat melihatnya dalam pasar-pasar, di tempat-tempat penjual pakaian, penukaran uang, pedagang  makanan.  Jika  ada  orang  bermaksud hendak menukar sekeping emas, ia akan  terlibat  ke  dalam  suatu  perdebatan tentang  apa  yang  diciptakan  dan apa yang bukan diciptakan. Kalau  ada  orang  hendak  menawar  harga   roti   maka   akan dijawabnya:  Bapa  lebih  besar  dari putera dan putera tunduk kepada Bapa. Bila ada orang yang bertanya tentang kolam  mandi adakah  airnya  hangat,  maka pelayannya akan segera menjawab: “Putera telah diciptakan dari yang tak ada.”

Tetapi kemunduran yang telah menimpa agama Masehi sehingga  ia terpecah-belah  kedalam  golongan-golongan dan sekta-sekta itu dari segi politik  tidak  begitu  besar  pengaruhnya  terhadap Kerajaan   Rumawi.   Kerajaan   itu   tetap  kuat  dan  kukuh. Golongan-golongan itupun tetap hidup dibawah naungannya dengan tetap  adanya  semacam  pertentangan  tapi  tidak sampai orang melibatkan diri kedalam polemik teologi atau  sampai  memasuki pertemuan-pertemuan  semacam  itu  yang  pernah  diadakan guna memecahkan  sesuatu  masalah.  Suatu  keputusan  yang   pernah diambil  oleh  suatu  golongan  tidak sampai mengikat golongan yang  lain.  Dan  Kerajaanpun  telah  pula  melindungi   semua golongan  itu  dan  memberi kebebasan kepada mereka mengadakan polemik, yang  sebenarnya  telah  menambah  kuatnya  kekuasaan Kerajaan    dalam   bidang   administrasi   tanpa   mengurangi penghormatannya  kepada   agama.   Setiap   golongan   jadinya bergantung  kepada  belas  kasihan penguasa, bahkan ada dugaan bahwa golongan itu menggantungkan diri kepada adanya pengakuan pihak yang berkuasa itu.

Sikap  saling  menyesuaikan diri di bawah naungan Imperium itu itulah pula yang menyebabkan  penyebaran  agama  Masehi  tetap berjalan dan dapat diteruskan dari Mesir dibawah Rumawi sampai ke  Ethiopia  yang  merdeka  tapi   masih   dalam   lingkungan persahabatan  dengan  Rumawi.  Dengan  demikian  ia  mempunyai kedudukan yang sama kuat di sepanjang Laut  Merah  seperti  di sekitar  Laut  Tengah itu. Dari wilayah Syam ia menyeberang ke Palestina. Penduduk Palestina dan penduduk Arab  Ghassan  yang pindah ke sana telah pula menganut agama itu, sampai ke pantai Furat, penduduk Hira, Lakhmid dan Mundhir yang berpindah  dari pedalaman  sahara  yang  tandus  ke  daerah-daerah  subur juga demikian,  yang  selanjutnya  mereka  tinggal  di  daerah  itu beberapa  lama  untuk kemudian hidup di bawah kekuasaan Persia Majusi.

Dalam pada itu kehidupan Majusi di Persia telah pula mengalami kemunduran  seperti  agama Masehi dalam Imperium Rumawi. Kalau dalam agama Majusi menyembah api  itu  merupakan  gejala  yang paling  menonjol, maka yang berkenaan dengan dewa kebaikan dan kejahatan  pengikut-pengikutnya  telah   berpecah-belah   juga menjadi  golongan-golongan  dan  sekta-sekta pula. Tapi disini bukan  tempatnya  menguraikan  semua  itu.  Sungguhpun  begitu kekuasaan  politik  Persia  tetap kuat juga. Polemik keagamaan tentang  lukisan  dewa  serta  adanya  pemikiran  bebas   yang tergambar   dibalik  lukisan  itu,  tidaklah  mempengaruhinya. Golongan-golongan agama yang berbeda-beda itu semua berlindung di  bawah  raja Persia. Dan yang lebih memperkuat pertentangan itu ialah karena memang sengaja digunakan sebagai  suatu  cara supaya  satu  dengan  yang  lain saling berpukulan, atas dasar kekuatiran, bila salah satunya menjadi kuat,  maka  Raja  atau salah satu golongan itu akan memikul akibatnya.

SUMBER : S E J A R A H    H I D U P    M U H A M M A D

oleh MUHAMMAD HUSAIN HAEKAL diterjemahkan dari bahasa Arab oleh Ali Audah

Penerbit PUSTAKA JAYA

Jln. Kramat II, No. 31 A, Jakarta Pusat

Cetakan Kelima, 1980

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: