MEMBANGUN KHAZANAH ILMU DAN PENDIDIKAN

Belajar itu adalah perobahan …….

MUHAMMADNabi Muhammad SAW(dari kelahiran sampai perkawinan)

Posted by Bustamam Ismail on July 25, 2010

A. Perkawinan Abdullah dengan Aminah bt Wahab

USIA Abd’l-Muttalib sudah  hampir  mencapai  tujuhpuluh  tahun atau   lebih   tatkala  Abraha  mencoba  menyerang  Mekah  dan menghancurkan Rumah Purba. Ketika itu  umur  Abdullah  anaknya sudah duapuluh empat tahun, dan sudah tiba masanya dikawinkan. Pilihan Abd’l-Muttalib jatuh kepada Aminah bint Wahb  bin  Abd Manaf  bin Zuhra, – pemimpin suku Zuhra ketika itu yang sesuai pula usianya dan mempunyai kedudukan terhormat. Maka  pergilah anak-beranak  itu hendak mengunjungi keluarga Zuhra. Ia dengan anaknya menemui Wahb dan melamar puterinya.  Sebagian  penulis sejarah berpendapat,  bahwa  ia  pergi  menemui  Uhyab, paman Aminah, sebab waktu itu ayahnya sudah  meninggal  dan  dia  di bawah  asuhan  pamannya.  Pada hari perkawinan Abdullah dengan Aminah itu, Abd’l-Muttalib  juga  kawin  dengan  Hala,  puteri pamannya.  Dari perkawinan ini lahirlah Hamzah, paman Nabi dan yang seusia dengan dia.

Abdullah dengan Aminah  tinggal  selama  tiga  hari  di  rumah Aminah,  sesuai  dengan  adat  kebiasaan  Arab bila perkawinan dilangsungkan di rumah keluarga pengantin puteri. Sesudah  itu mereka  pindah  bersama-sama  ke  keluarga Abd’l-Muttalib. Tak seberapa lama kemudian Abdullahpun  pergi  dalam  suatu  usaha perdagangan  ke  Suria  dengan  meninggalkan isteri yang dalam keadaan hamil. Tentang ini masih terdapat beberapa  keterangan yang  berbeda-beda:  adakah  Abdullah kawin lagi selain dengan Aminah;  adakah  wanita  lain  yang  datang  menawarkan   diri kepadanya?     Rasanya    tak    ada    gunanya    menyelidiki keterangan-keterangan semacam ini. Yang pasti  ialah  Abdullah adalah  seorang  pemuda  yang tegap dan tampan. Bukan hal yang luar biasa jika ada wanita lain yang ingin  menjadi  isterinya selain  Aminah. Tetapi setelah perkawinannya dengan Aminah itu hilanglah harapan yang lain walaupun  untuk  sementara.  Siapa tahu,   barangkali   mereka  masih  menunggu  ia  pulang  dari perjalanannya ke  Syam  untuk  menjadi  isterinya  di  samping Aminah.

Dalam  perjalanannya  itu  Abdullah  tinggal  selama  beberapa bulan. Dalam pada itu ia pergi juga ke Gaza dan kembali  lagi. Kemudian  ia  singgah  ke  tempat  saudara-saudara  ibunya  di Medinah sekadar beristirahat sesudah merasa letih selama dalam perjalanan.  Sesudah itu ia akan kembali pulang dengan kafilah ke Mekah. Akan tetapi kemudian ia menderita  sakit  di  tempat saudara-saudara  ibunya  itu.  Kawan-kawannyapun  pulang lebih dulu meninggalkan dia. Dan merekalah yang menyampaikan  berita sakitnya itu kepada ayahnya setelah mereka sampai di Mekah.

Begitu  berita sampai kepada Abd’l-Muttalib ia mengutus Harith – anaknya yang sulung – ke  Medinah,  supaya  membawa  kembali bila  ia  sudah  sembuh.  Tetapi  sesampainya  di  Medinah  ia mengetahui bahwa Abdullah sudah meninggal dan sudah dikuburkan pula,   sebulan   sesudah   kafilahnya   berangkat  ke  Mekah. Kembalilah Harith kepada keluarganya dengan  membawa  perasaan pilu  atas  kematian  adiknya itu. Rasa duka dan sedih menimpa hati Abd’l-Muttalib, menimpa hati Aminah, karena ia kehilangan seorang  suami  yang  selama  ini  menjadi harapan kebahagiaan hidupnya. Demikian juga Abd’l-Muttalib sangat sayang kepadanya sehingga penebusannya terhadap Sang Berhala yang demikian rupa belum pernah terjadi di kalangan masyarakat Arab sebelum itu.

Warisan  Abdullah sesudah  wafat  terdiri  dari  lima  ekor unta,  sekelompok  ternak kambing dan seorang budak perempuan, yaitu Umm Ayman – yang kemudian menjadi pengasuh  Nabi.  Boleh jadi   peninggalan   serupa  itu  bukan  berarti  suatu  tanda kekayaan; tapi  tidak  juga  merupakan  suatu  kemiskinan.  Di samping  itu  umur  Abdullah yang masih dalam usia muda belia, sudah mampu bekerja dan berusaha mencapai kekayaan. Dalam pada itu  ia  memang tidak mewarisi sesuatu dari ayahnya yang masih hidup itu.

Aminah sudah hamil, dan kemudian, seperti  wanita  lain  iapun melahirkan.  Selesai  bersalin  dikirimnya berita kepada Abd’l Muttalib  di  Ka’bah,  bahwa  ia   melahirkan   seorang   anak laki-laki.  Alangkah gembiranya orang tua itu setelah menerima berita. Sekaligus ia teringat kepada Abdullah anaknya. Gembira sekali  hatinya  karena  ternyata pengganti anaknya sudah ada. Cepat-cepat ia menemui menantunya itu,  diangkatnya  bayi  itu lalu  dibawanya  ke  Ka’bah. Ia diberi nama Muhammad. Nama ini tidak umum di kalangan orang Arab tapi cukup dikenal. Kemudian dikembalikannya  bayi  itu  kepada  ibunya. Kini mereka sedang menantikan orang yang akan menyusukannya  dari  Keluarga  Sa’d (Banu  Sa’d),  untuk  kemudian  menyerahkan anaknya itu kepada salah seorang dari mereka, sebagaimana sudah menjadi adat kaum bangsawan Arab di Mekah.

B.Kelahiran Nabi Muhammad saw

Mengenai  tahun  ketika  Muhammad  dilahirkan,  beberapa  ahli berlainan pendapat. Sebagian besar mengatakan pada Tahun Gajah (570  Masehi).  Ibn  Abbas mengatakan ia dilahirkan pada Tahun Gajah itu. Yang lain berpendapat  kelahirannya  itu  limabelas tahun sebelum peristiwa gajah. Selanjutnya ada yang mengatakan ia dilahirkan beberapa hari  atau  beberapa  bulan  atau  juga beberapa  tahun  sesudah  Tahun  Gajah. Ada yang menaksir tiga puluh tahun, dan ada  juga  yang  menaksir  sampai  tujuhpuluh tahun.

Juga para ahli berlainan pendapat mengenai bulan kelahirannya. Sebagian besar mengatakan ia dilahirkan bulan Rabiul Awal. Ada yang  berkata lahir dalam bulan Muharam, yang lain berpendapat dalam bulan Safar, sebagian lagi menyatakan dalam bulan Rajab, sementara yang lain mengatakan dalam bulan Ramadan.

Kelainan  pendapat itu juga mengenai hari bulan ia dilahirkan. Satu pendapat mengatakan pada malam kedua  Rabiul  Awal,  atau malam   kedelapan,   atau   kesembilan.  Tetapi  pada  umumnya

mengatakan, bahwa dia dilahirkan pada tanggal duabelas  Rabiul Awal. Ini adalah pendapat Ibn Ishaq dan yang lain. Selanjutnya   terdapat   perbedaan   pendapat  mengenai  waktu kelahirannya, yaitu siang atau malam, demikian  juga  mengenai tempat  kelahirannya di Mekah. Caussin de Perceval dalam Essai

sur  l’Histoire  des   Arabes   menyatakan,   bahwa   Muhammad dilahirkan bulan Agustus 570, yakni Tahun Gajah, dan bahwa dia dilahirkan di Mekah di rumah kakeknya Abd’l-Muttalib.

Pada  hari  ketujuh  kelahirannya  itu  Abd’l-Muttalib   minta disembelihkan   unta.   Hal   ini  kemudian  dilakukan  dengan mengundang makan masyarakat Quraisy. Setelah mereka mengetahui bahwa  anak  itu  diberi  nama Muhammad, mereka bertanya-tanya mengapa ia tidak suka memakai nama nenek  moyang.  “Kuinginkan dia akan  menjadi  orang  yang Terpuji,1  bagi Tuhan di langit dan bagi makhlukNya di bumi,” jawab Abd’l Muttalib.

Aminah masih menunggu  akan  menyerahkan  anaknya  itu  kepada salah  seorang  Keluarga  Sa’d  yang  akan menyusukan anaknya, sebagaimana sudah menjadi kebiasaan  bangsawan-bangsawan  Arab di    Mekah.    Adat   demikian   ini   masih   berlaku   pada bangsawan-bangsawan  Mekah.  Pada   hari   kedelapan   sesudah dilahirkan  anak  itupun  dikirimkan  ke  pedalaman  dan  baru kembali pulang ke kota sesudah ia berumur delapan atau sepuluh tahun.  Di  kalangan  kabilah-kabilah  pedalaman yang terkenal dalam menyusukan ini di antaranya  ialah  kabilah  Banu  Sa’d. Sementara masih menunggu orang yang akan menyusukan itu Aminah menyerahkan anaknya kepada Thuwaiba, budak perempuan pamannya, Abu  Lahab. Selama beberapa waktu ia disusukan, seperti Hamzah yang juga kemudian disusukannya. Jadi  mereka  adalah  saudara susuan.

Sekalipun  Thuwaiba hanya beberapa hari saja menyusukan, namun ia tetap memelihara hubungan yang baik sekali selama hidupnya. Setelah  wanita  itu  meninggal  pada tahun ketujuh sesudah ia hijrah ke Medinah,  untuk  meneruskan  hubungan  baik  itu  ia menanyakan  tentang  anaknya yang juga menjadi saudara susuan. Tetapi kemudian  ia  mengetahui  bahwa  anak  itu  juga  sudah meninggal sebelum ibunya.

Akhirnya  datang  juga  wanita-wanita  Keluarga Sa’d yang akan menyusukan itu ke Mekah. Mereka memang mencari bayi yang  akan mereka  susukan.  Akan  tetapi  mereka  menghindari  anak-anak yatim. Sebenarnya mereka masih mengharapkan sesuatu jasa  dari sang  ayah.  Sedang  dari  anak-anak yatim sedikit sekali yang dapat mereka harapkan. Oleh karena itu di  antara  mereka  itu tak  ada  yang  mau  mendatangi Muhammad. Mereka akan mendapat hasil yang lumayan bila mendatangi keluarga yang dapat  mereka harapkan.

Akan tetapi Halimah bint Abi-Dhua’ib yang pada mulanya menolak Muhammad, seperti yang lain-lain juga, ternyata tidak mendapat bayi  lain  sebagai gantinya. Di samping itu karena dia memang seorang  wanita  yang  kurang  mampu,  ibu-ibu  lainpun  tidak menghiraukannya.  Setelah  sepakat  mereka  akan  meninggalkan Mekah. Halimah berkata kepada Harith bin Abd’l-‘Uzza suaminya: “Tidak  senang  aku pulang bersama dengan teman-temanku tanpa membawa seorang bayi. Biarlah aku pergi kepada anak yatim  itu dan akan kubawa juga.” “Baiklah,”  jawab  suaminya.  “Mudah-mudahan  karena itu Tuhan akan memberi berkah kepada kita.”

Halimah  kemudian  mengambil  Muhammad  dan  dibawanya   pergi bersama-sama   dengan   teman-temannya   ke   pedalaman.   Dia bercerita, bahwa sejak diambilnya anak itu ia merasa  mendapat

berkah.   Ternak   kambingnya   gemuk-gemuk   dan   susunyapun bertambah. Tuhan telah memberkati semua yang ada padanya. Selama dua tahun Muhammad tinggal di  sahara,  disusukan  oleh Halimah  dan  diasuh oleh Syaima’, puterinya. Udara sahara dan kehidupan pedalaman yang  kasar  menyebabkannya  cepat  sekali menjadi  besar,  dan  menambah  indah  bentuk  dan pertumbuhan badannya. Setelah cukup dua tahun dan  tiba  masanya  disapih, Halimah  membawa  anak  itu  kepada  ibunya  dan  sesudah  itu membawanya kembali ke  pedalaman.  Hal  ini  dilakukan  karena kehendak  ibunya,  kata sebuah keterangan, dan keterangan lain mengatakan karena kehendak Halimah sendiri. Ia dibawa  kembali supaya  lebih  matang,  juga  memang  dikuatirkan  dari adanya serangan wabah Mekah.Dua tahun lagi anak itu tinggal  di  sahara,  menikmati  udara pedalaman  yang  jernih  dan bebas, tidak terikat oleh sesuatu ikatan jiwa, juga tidak oleh ikatan materi.

C. Kedatangan dua Malaekat

Pada masa itu, sebelum usianya  mencapai  tiga  tahun,  ketika itulah  terjadi  cerita  yang  banyak dikisahkan orang. Yakni, bahwa  sementara  ia  dengan  saudaranya  yang  sebaya  sesame anak-anak   itu  sedang  berada  di  belakang  rumah  di  luar pengawasan keluarganya, tiba-tiba anak yang dari Keluarga Sa’d itu   kembali   pulang  sambil  berlari,  dan  berkata  kepada ibu-bapanya: “Saudaraku yang dari Quraisy  itu  telah  diambil oleh  dua  orang  laki-laki  berbaju  putih.  Dia dibaringkan, perutnya dibedah, sambil di balik-balikan.”

Dan tentang Halimah ini ada juga diceritakan,  bahwa  mengenai diri  dan suaminya ia berkata: “Lalu saya pergi dengan ayahnya ke  tempat  itu.  Kami  jumpai  dia  sedang  berdiri.  Mukanya pucat-pasi. Kuperhatikan dia. demikian juga ayahnya. Lalu kami tanyakan: “Kenapa kau, nak?” Dia menjawab: “Aku didatangi oleh dua  orang  laki-laki berpakaian putih. Aku di baringkan, lalu perutku di bedah. Mereka mencari sesuatu di dalamnya. Tak tahu aku apa yang mereka cari.”

Halimah dan suaminya kembali pulang ke rumah. Orang itu sangat ketakutan, kalau-kalau anak itu sudah kesurupan. Sesudah  itu, dibawanya  anak  itu  kembali  kepada  ibunya  di  Mekah. Atas peristiwa ini Ibn Ishaq  membawa  sebuah  Hadis  Nabi  sesudah kenabiannya. Tetapi dalam menceritakan peristiwa ini Ibn Ishaq nampaknya  hati-hati  sekali  dan   mengatakan   bahwa   sebab dikembalikannya  kepada  ibunya bukan karena cerita adanya dua malaikat itu, melainkan – seperti cerita Halimah kepada Aminah ketika  ia di bawa pulang oleh Halimah sesudah disapih, ada beberapa orang Nasrani  Abisinia  memperhatikan  Muhammad  dan menanyakan   kepada   Halimah  tentang  anak  itu.  Dilihatnya belakang anak itu, lalu mereka berkata: “Biarlah kami bawa anak ini kepada raja kami di  negeri  kami. Anak  ini  akan menjadi orang penting. Kamilah yang mengetahui keadaannya.” Halimah lalu cepat-cepat menghindarkan diri  dari mereka  dengan  membawa  anak  itu.  Demikian juga cerita yang dibawa oleh Tabari, tapi  ini  masih  di  ragukan;  sebab  dia menyebutkan   Muhammad   dalam   usianya   itu,  lalu  kembali menyebutkan  bahwa  hal  itu  terjadi   tidak   lama   sebelum kenabiannya dan usianya empatpuluh tahun.

Sumber: S E J A R A H    H I D U P    M U H A M M A D oleh MUHAMMAD HUSAIN HAEKAL

diterjemahkan dari bahasa Arab oleh Ali Audah

Penerbit PUSTAKA JAYA

Jln. Kramat II, No. 31 A, Jakarta Pusat

Cetakan Kelima, 1980

Seri PUSTAKA ISLAM No.1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: