MEMBANGUN KHAZANAH ILMU DAN PENDIDIKAN

Belajar itu adalah perobahan …….

MEKAH, KA’BAH DAN QURAISY (bagian ketiga)

Posted by Bustamam Ismail on July 24, 2010

A. Abd’d-Dar juga telah memegang pimpinan Ka’bah

Seperti ayahnya, Abd’d-Dar juga telah memegang pimpinan Ka’bah dan  kemudian  diteruskan  oleh  anak-anaknya.   Akan   tetapi anak-anak  Abd Manaf sebenarnya mempunyai kedudukan yang lebih baik dan  terpandang  juga  di  kalangan  masyarakatnya.  Oleh karena  itu,  anak-anak  Abd  Manaf,  yaitu Hasyim, Abd Syams, Muttalib dan Naufal sepakat akan mengambil pimpinan  yang  ada di  tangan  sepupu-sepupu  mereka  itu.  Tetapi  pihak Quraisy berselisih pendapat: yang satu membela satu golongan yang lain membela golongan yang lain lagi.

B.Keluarga  Abd  Manaf  mengadakan  Perjanjian Mutayyabun

Keluarga  Abd  Manaf  mengadakan  Perjanjian Mutayyabun dengan memasukkan  tangan  mereka  ke   dalam   tib,   (yaitu   bahan wangi-wangian)  yang  dibawa ke dalam Ka’bah. Mereka bersumpah takkan melanggar janji. Demikian juga pihak Keluarga Abd,d-Dar mengadakan  pula  Perjanjian  Ahlaf: Antara kedua golongan itu hampir saja pecah perang yang akan memusnakan  Quraisy,  kalau tidak  cepat-cepat  diadakan  perdamaian.  Keluarga  Abd Manaf diberi bagian mengurus persoalan air  dan  makanan,  sedangkan kunci,  panji dan pimpinan rapat di tangan Keluarga Abd’d-Dar. Kedua belah pihak  setuju,  dan  keadaan  itu  berjalan  tetap demikian, sampai pada waktu datangnya Islam.

Hasyim termasuk pemuka masyarakat dan orang yang berkecukupan. Dialah yang memegang urusan  air  dan  makanan.  Dia  mengajak masyarakatnya  seperti  yang  dilakukan oleh Qushayy kakeknya, yaitu supaya masing-masing menafkahkan hartanya untuk  member makanan   kepada  pengunjung  pada  musim  ziarah.  Pengunjung Baitullah, tamu  Tuhan  inilah  yang  paling  berhak  mendapat penghormatan.  Kenyataannya  memang para tamu itu diberi makan sampai mereka pulang kembali.

Peranan yang dipegang Hasyim  tidak  hanya  itu  saja,  bahkan jasanya  sampai ke seluruh Mekah. Pernah terjadi musim tandus, dia datang membawakan  persediaan  makanan,  sehingga  kembali penduduk  itu menghadapi hidupnya dengan wajah berseri. Hasyim jugalah yang membuat ketentuan perjalanan musim, musim  dingin dan  musim  panas.  Perjalanan  musim  dingin  ke  Yaman,  dan perjalanan musim panas ke Suria.

C. Mekah   jadi berkembang dan mempunyai kedudukan penting di seluruh jazirah

Dengan  adanya  semua  kenyataan  ini   keadaan   Mekah   jadi berkembang dan mempunyai kedudukan penting di seluruh jazirah, sehingga ia dianggap sebagai ibukota yang sudah diakui. Dengan perkembangan  serupa  itu  tidak  ragu-ragu lagi anak-anak Abd Manaf      membuat      perjanjian      perdamaian      dengan tetangga-tetangganya.   Hasyim   sendiri   membuat  perjanjian sebagai tetangga baik dan bersahabat  dengan  Imperium  Rumawi dan   dengan   penguasa   Ghassan.  Pihak  Rumawi  mengijinkan orang-orang Quraisy memasuki Suria dengan aman. Demikian  juga Abd  Syams  membuat  pula  perjanjian  dagang  dengan  Najasyi (Negus).  Selanjutnya  Naufal  dan   Muttalib   juga   membuat persetujuan  dengan  Persia dan perjanjian dagang dengan pihak Himyar di Yaman.

Mekah sekarang bertambah kuat dan bertambah  makmur.  Demikian pandainya penduduk kota itu dalam perdagangan sehingga tak ada pihak lain yang  semasa  yang  dapat  menyainginya.  Rombongan kafilah   datang  ke  tempat  itu  dari  segenap  penjuru  dan berangkat lagi pada musim dingin dan musim panas.  Di  sekitar

tempat  itu didirikan pasar-pasar guna menjalankan perdagangan itu. Itu  pula  sebabnya  mereka  jadi  cekatan  sekali  dalam utang-piutang  dan  riba serta segala sesuatu yang berhubungan dengan perdagangan.  Tak  ada  yang  teringat  akan  menyaingi Hasyim   yang  kini  sudah  makin  lanjut  usianya  itu  dalam kedudukannya sebagai penguasa Mekah. Hanya kemudian  terbayang oleh  Umayya  anak  Abd  Syams  -sepupunya  – bahwa sudah tiba masanya kini ia akan bersaing. Tetapi dia tidak  berdaya,  dan kedudukan  itu  tetap  dipegang  Hasyim.  Sementara itu Umayya telah meninggalkan Mekah dan selama sepuluh tahun  tinggal  di Suria.

Pada  suatu  ketika dalam perjalanan pulang dari Suria, ketika Hasyim melalui Jathrib dilihatnya seorang wanita baik-baik dan terpandang,   muncul   di   tengah-tengah  orang  yang  sedang mengadakan perdagangan dengan dia. Wanita itu ialah Salma anak ‘Amr   dari   kabilah   Khazraj.   Hasyim   merasa   tertarik. Ditanyakannya, adakah ia sedang dalam ikatan dengan  laki-laki lain?  Setelah diketahui bahwa dia seorang janda dan tidak mau kawin lagi kecuali bila ia memegang kebebasan sendiri,  Hasyim lalu  melamarnya.  Dan  wanita  itupun  menerima,  karena  dia mengetahui kedudukan Hasyim di tengah-tengah masyarakatnya.

Beberapa waktu lamanya ia tinggal di  Mekah  dengan  suaminya. Kemudian  ia  kembali  ke  Jathrib.  Di kota ini ia melahirkan seorang anak yang diberi nama Syaiba. Beberapa tahun kemudian dalam suatu perjalanan musim panas  ke Ghazza (Gaza). Hasyim meninggal dunia. Kedudukannya digantikan oleh adiknya, Muttalib. Sebenarnya Muttalib ini masih adik Abd Syams.  Tetapi dia sangat dihormati oleh masyarakatnya. Karena sikapnya yang suka menenggang dan murah hati oleh  Quraisy  ia dijuluki Al-Faidz’, (“Yang melimpah”). Dengan keadaan Muttalib yang demikian itu di tengah-tengah masyarakatnya, sudah  tentu segalanya akan berjalan tenteram sebagaimana mestinya.

Pada suatu hari terpikir oleh Muttalib akan kemenakannya, anak Hasyim itu. Ia pergi ke Jathrib. Dan  karena  anak  itu  sudah besar,  dimintanya  kepada Salma supaya anaknya itu diserahkan kepadanya. Oleh Muttalib dibawanya pemuda itu ke atas  untanya dan  dengan  begitu  ia  memasuki  Mekah.  Orang-orang Quraisy menduga bahwa yang dibawa itu budaknya. Oleh karena itu mereka lalu  memanggilnya:  Abd’l  Muttalib  (Budak Muttalib). “Hai,” kata Muttalib. “Dia kemenakanku anak Hasyim yang  kubawa  dari Jathrib.”   Tetapi  sebutan  itu  sudah  melekat  pada  pemuda tersebut. Orang sudah memanggilnya demikian  dan  nama  Syaiba yang diberikan ketika dilahirkan sudah dilupakan orang.

Pada  mulanya Muttalib ingin sekali mengembalikan harta Hasyim untuk kemenakannya. Tetapi Naufal menolak, lalu  menguasainya. Sesudah  Abd’l-Muttalib  mempunyai kekuatan ia meminta bantuan kepada saudara-saudara ibunya  di  Jathrib  terhadap  tindakan saudara ayahnya itu dengan maksud supaya miliknya dikembalikan

kepadanya. Untuk  memberikan  bantuan  itu  pihak  Khazraj  di Jathrib mengirimkan delapan puluh orang pasukan perang. Dengan demikian Naufal terpaksa mengembalikan harta itu.

Sekarang  Abd’l-Muttalib  sudah  menempati  kedudukan  Hasyim. Sesudah  pamannya Muttalib, dialah yang mengurus pembagian air dan  persediaan  makanan.  Dalam  mengurus  dua  jabatan   ini urusan air – ia menemui kesulitan yang tidak sedikit. Sampai saat itu anaknya hanyalah seorang, yaitu Harith. Sedang persediaan  air  untuk  tamu  – sejak terserapnya sumur Zamzam didatangkan dari beberapa sumur yang terpencar-pencar  sekitar Mekah,  yang  kemudian  diletakkan  di  sebuah  kolam di dekat Ka’bah. Anak yang banyak itu akan merupakan bantuan besar  dan memudahkan pekerjaan serupa ini serta pengawasannya sekaligus. Sebaliknya,  kalau  Abd’l-Muttalib   harus   memikul   jabatan penyediaan   air   dan   makanan   sedang  anak  hanya  Harith satu-satunya, tentu hal ini  akan  terasa  berat  sekali.  Ini jugalah yang lama menjadi pikiran.

Orang-orang  Arab  masih selalu ingat kepada sumur Zamzam yang telah dicetuskan oleh Mudzadz bin Amr beberapa abad yang lalu. Menjadi  harapan mereka selalu andaikata sumur itu masih tetap ada. Dan sesuai dengan kedudukannya Abd’l-Muttalib  pun  tentu lebih   banyak  lagi  memikirkan  dam  mengharapkan  hal  itu. Demikian kerasnya keinginan itu hingga terbawa dalam  tidurnya seolah  ada suara gaib menyuruhnya menggali kembali sumur yang pernah menyembur di kaki Ismail neneknya  dulu  itu.  Demikian mendesaknya  suara  itu  dengan menunjukkan sekali letak sumur itu. Dan diapun memang gigih sekali ingin mencari letak Zamzam tersebut,  sampai achirnya diketemukannya juga, yaitu terletak antara dua patung: Isaf dan Na’ila.

Ia terus mengadakan penggalian, dibantu oleh anaknya,  Harith. Waktu  itu tiba-tiba air membersit dan dua pangkal pelana emas dan pedang Mudzadz mulai  tampak.  Sementara  itu  orang-orang lalu  mau  mencampuri  Abd’l-Muttalib  dalam  urusan sumur itu serta   apa   yang   terdapat   di   dalamnya.   Akan   tetapi Abd’l-Muttalib berkata: “Tidak!  Tetapi  marilah kita mengadakan pembagian, antara aku dengan kamu sekalian.  Kita  mengadu  nasib  dengan  permainan qid-h  (anak  panah). Dua anak panah buat Ka’bah, dua buat aku dan dua buat kamu. Kalau anak panah itu  keluar,  ia  mendapat bagian, kalau tidak, dia tidak mendapat apa-apa.”

Usul  ini disetujui. Lalu anak-anak panah itu diberikan kepada juru qid-h  yang  biasa  melakukan  itu  di  tempat  Hubal  di tengah-tengah   Ka’bah.  Anak  panah  Quraisy  ternyata  tidak keluar. Sekarang pedang-pedang itu buat Abd’l-Muttalib dan dua buah  pangkal  pelana emas buat Ka’bah. Pedang-pedang itu oleh Abd’l-Muttalib dipasang di pintu Ka’bah, sedang  kedua  pelana emas  dijadikan perhiasan dalam Rumah Suci itu. Abd’l Muttalib meneruskan tugasnya mengurus air untuk keperluan tamu, sesudah Zamzam dapat berjalan lancar.

D.Nadzar Abdul Muthalib untuk mengurban seorang putranya

Karena  tidak  banyak  anak,  Abd’l-Muttalib  di tengah-tengah masyarakatnya sendiri itu merasa kekurangan tenaga  yang  akan dapat  membantunya.  Ia bernadar; kalau sampai beroleh sepuluh anak laki-laki kemudian sesudah besar-besar tidak beroleh anak lagi  seperti  ketika  ia  menggali  sumur  Zamzam dulu, salah seorang di antaranya akan disembelih di Ka’bah sebagai  kurban untuk  Tuhan.  Tepat  juga  anaknya  yang  laki-laki  akhirnya mencapai sepuluh orang dan takdirpun menentukan  pula  sesudah itu tidak beroleh anak lagi.

Dipanggilnya  semua  anak-anaknya  dengan  maksud supaya dapat memenuhi   nadarnya.   Semua   patuh.   Sebagai    konsekwensi kepatuhannya  itu setiap anak menuliskan namanya masing-masing di atas qid-h (anak panah). Kemudian semua itu diambilnya oleh Abd’l-Muttalib  dan  dibawanya  kepada  juru  qid-h  di tempat

berhala Hubal di tengah-tengah Ka’bah.

Apabila  sedang   menghadapi   kebingungan   yang   luarbiasa, orang-orang  Arab  masa  itu lalu minta pertolongan juru qid-h supaya memintakan kepada Maha Dewa  Patung  itu  dengan  jalan (mengadu  nasib)  melalui  qid-h.  Abdullah bin Abd’l-Muttalib adalah anaknya yang bungsu dan yang sangat dicintai. Setelah juru qid-h mengocok anak panah  yang  sudah  dicantumi nama-nama semua anak-anak yang akan menjadi pilihan dewa Hubal untuk kemudian disembelih oleh sang  ayah,  maka  yang  keluar adalah   nama   Abdullah.   Dituntunnya  anak  muda  itu  oleh Abd’l-Muttalib dan dibawanya untuk  disembelih  ditempat  yang biasa  orang-orang  Arab  melakukan  itu  di dekat Zamzam yang terletak antara berhala Isaf dengan Na’ila.

Tetapi saat itu  juga  orang-orang  Quraisy  serentak  sepakat melarangnya  supaya  jangan  berbuat,  dan atas pembatalan itu supaya memohon ampun kepada  Hubal.  Sekalipun  mereka  begitu mendesak,   namun   Abd’l-Muttalib   masih   ragu-ragu   juga. Ditanyakannya kepada mereka apa yang  harus  diperbuat  supaya sang  berhala  itu  berkenan.  Mughira  bin Abdullah dari suku Makhzum berkata: “Kalau penebusannya  dapat  dilakukan  dengan harta kita, kita tebuslah.”

Setelah  antara  mereka  diadakan  perundingan, mereka sepakat akan pergi menemui seorang dukun di Jathrib yang  sudah  biasa memberikan  pendapat  dalam  hal  semacam ini. Dalam pertemuan mereka dengan dukun wanita itu kepada mereka dimintanya supaya menangguhkan sampai besok. “Berapa tebusan yang ada pada kalian?” tanya sang dukun. “Sepuluh ekor unta.” “Kembalilah   ke   negeri  kamu  sekalian,”  kata  dukun  itu. “Sediakanlah tebusan sepuluh ekor unta. Kemudian keduanya  itu diundi dengan anak panah. Kalau yang keluar itu atas nama anak kamu, ditambahlah jumlah unta itu sampai dewa berkenan.”

Merekapun menyetujui. Setelah yang demikian ini dilakukan ternyata  anak  panah  itu keluar  atas  nama  Abdullah juga. Ditambahnya jumlah unta itu sampai mencapai jumlah seratus ekor. Ketika itulah anak  panah keluar  atas  nama unta itu. Sementara itu orang-orang Quraisy berkata kepada Abd’l-Muttalib  –  yang  sedang  berdoa  kepada tuhannya: “Tuhan sudah berkenan.” “Tidak,”  kata  Abd’l-Muttalib.  “Harus  kulakukan sampai tiga kali.” Tetapi sampai tiga kali dikocok anak panah itupun tetap keluar  atas nama unta itu juga. Barulah Abd’l-Muttalib merasa puas setelah ternyata sang dewa berkenan.  Disembelihnya  unta itu   dan  dibiarkannya  begitu  tanpa  dijamah  manusia  atau binatang.

Dengan   begitu   itulah   buku-buku   biografi    melukiskan. Digambarkannya   beberapa   macam  adat-istiadat  orang  Arab, kepercayaan   serta   cara-cara   mereka   melakukan   upacara kepercayaan itu. Hal ini menunjukkan sekaligus betapa mulianya

kedudukan Mekah dengan  Rumah  Sucinya  itu  di  tengah-tengah tanah  Arab.  At-Tabari menceritakan – sehubungan dengan kisah penebusan ini – bahwa pernah ada seorang wanita Islam bernadar bahwa  bila  maksudnya  terlaksana dalam melakukan sesuatu, ia akan  menyembelih   anaknya.   Ternyata   kemudian   maksudnya terkabul.  Ia  pergi kepada Abdullah bin Umar. Orang ini tidak memberikan pendapat. Kemudian ia  pergi  kepada  Abdullah  bin Abbas  yang  ternyata  memberikan  fatwa supaya ia menyembelih seratus ekor unta, seperti halnya  dengan  penebusan  Abdullah anak  Abd’l-Muttalib.  Tetapi Marwan – penguasa Medinah ketika itu – merasa heran sekali setelah mengetahui hal  itu.  “Nadar tidak berlaku dalam suatu perbuatan dosa,” katanya.

E. Mekkah dan rumah sucinya Ka’bah

Kedudukan  Mekah  dengan  status Rumah Sucinya itu menyebabkan beberapa daerah lain yang jauh-jauh juga  membuat  rumah-rumah ibadat  sendiri-sendiri,  dengan  maksud mengalihkan perhatian orang dari Mekah dan Rumah  Sucinya.  Di  Hira  pihak  Ghassan mendirikan  rumah  suci, Abraha al-Asyram membangun rumah suci di Yaman. Tetapi bagi orang Arab itu  tak  dapat  menggantikan Rumah  Suci  yang  di Mekah, juga tak dapat memalingkan mereka dari  Kota  Suci  itu.  Bahkan  sampai  demikian  rupa  Abraha menghiasi   rumah   sucinya  yang  di  Yaman,  dengan  membawa perlengkapan yang paling mewah  yang  kira-kira  akan  menarik orang-orang  Arab  –  bahkan  orang-orang  Mekah  sendiri – ke tempat itu.

F.Abrahan ingin menghancurkan Ka’bah

Akan tetapi setelah ternyata bahwa tujuan orang-orang Arab itu hanya  Rumah  Purba itu juga, dan orang-orang Yaman sendiripun meninggalkan  rumah  yang  dibangunnya  itu  serta  menganggap ziarah  mereka  tidak  sah kalau tidak ke Mekah, maka sekarang tak ada jalan lain bagi penguasa Negus itu  kecuali  ia  harus menghancurkan  rumah  Ibrahim  dan  Ismail itu. Dengan pasukan yang besar didatangkan dari Abisinia dia  sudah  mempersiapkan perang  dan  dia  sendiri di depan sekali di atas seekor gajah besar.

G. Dhu-Nafar  – salah seorang bangsawan Yaman ingin melawan Abrahah

Tatkala  pihak  Arab   mendengar   hal   itu,   besar   sekali kekuatirannya  akan akibat yang mungkin ditimbulkan karenanya. Suatu hal  yang  luarbiasa  bagi  mereka,  kedatangan  seorang laki-laki  Abisinia  akan  menghancurkan rumah suci mereka dan

tempat  berhala-berhala  mereka.  Seorang  laki-laki   bernama Dhu-Nafar  – salah seorang bangsawan dan terpandang di Yaman – tampil ke  depan  mengerahkan  masyarakatnya  dan  orang  Arab lainnya  yang bersedia berjuang melawan Abraha serta maksudnya yang hendak menghancurkan  Baitullah.  Tetapi  dia  tak  dapat menghalangi  Abraha.  Malah  dia  sendiri terpukul dan menjadi tawanan. Nasib yang demikian itu juga yang menimpa Nufail  bin Habib  al-Khath’ami  ketika  ia mengerahkan masyarakatnya dari kabilah Syahran dan Nahis, malah dia  sendiri  yang  tertawan, yang  kemudian menjadi anggota pasukannya dan menjadi penunjuk jalan. Ketika Abraha  sampai  di  Ta’if  penduduk  tempat  itu mengatakan,  bahwa  rumah suci mereka bukanlah rumah suci yang dimaksudkan Abraha. Itu adalah rumah Lat. Kemudian ia  diantar oleh orang-orang yang bersedia menunjukkan jalan ke Mekah.

Bila  Abraha  sudah mendekati Mekah dikirimnya pasukan berkuda sebagai kurir. Dari Tihama mereka dapat  membawa  harta  benda Quraisy  dan  yang  lain-lain,  di antaranya seratus ekor unta kepunyaan Abd’l-Muttalib bin Hasyim. Pada mulanya  orang-orang Quraisy   bermaksud   mengadakan   perlawanan.  Tapi  kemudian berpendapat, bahwa mereka takkan mampu. Sementara  itu  Abraha sudah  mengirimkan  salah  seorang  pengikutnya sebagai utusan bernama Hunata dan Himyar untuk  menemui  pemimpin  Mekah.  Ia diantar  menghadap Abd’l-Muttalib bin Hasyim, dan kepadanya ia menyampaikan pesan  Abraha,  bahwa  kedatangannya  bukan  akan

berperang  melainkan akan menghancurkan Baitullah. Kalau Mekah tidak mengadakan perlawanan tidak perlu ada pertumpahan darah.

Begitu Abd’l-Muttalib mendengar, bahwa mereka tidak  bermaksud berperang,  ia  pergi ke markas pasukan Abraha bersama Hunata, bersama  anak-anaknya  dan  beberapa  pemuka  Mekah   lainnya. Kedatangan  delegasi  Abd’l-Muttalib  ini  disambut  baik oleh Abraha,   dengan   menjanjikan   akan    mengembalikan    unta Abd’l-Muttalib. Akan tetapi segala pembicaraan mengenai Ka’bah serta   supaya   menarik   kembali   maksudnya   yang   hendak menghancurkan  tempat suci itu ditolaknya belaka. Juga tawaran delegasi Mekah  yang  akan  mengalah  sampai  sepertiga  harta Tihama  baginya, ditolak. Abd’l-Muttalib dan rombongan kembali ke Mekah. Dinasehatkannya supaya orang meninggalkan tempat itu dan  pergi  ke  lereng-lereng  bukit,  menghindari  Abraha dan pasukannya yang akan  memasuki  kota  suci  dan  menghancurkan Rumah Purba itu.

S E J A R A H    H I D U P    M U H A M M A D

oleh MUHAMMAD HUSAIN HAEKAL

diterjemahkan dari bahasa Arab oleh Ali Audah

Penerbit PUSTAKA JAYA

Jln. Kramat II, No. 31 A, Jakarta Pusat

Cetakan Kelima, 1980

Seri PUSTAKA ISLAM No.1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: