MEMBANGUN KHAZANAH ILMU DAN PENDIDIKAN

Belajar itu adalah perobahan …….

Abrahah Menyerang Mekkah dan Ka’bahnya

Posted by Bustamam Ismail on July 24, 2010

A. Penduduk Mekkah Menjauhkan diri dari Ka’bah.

Malam gelap gelita tatkala mereka memikirkan akan meninggalkan kota  itu  dan  di  mana  pula  akan  tinggal.  Malam   itulah Abd’l-Muttalib  pergi dengan beberapa orang Quraisy, berkumpul sekeliling pintu Ka’bah. Dia  bermohon,  mereka  pun  bermohon minta  bantuan  berhala-berhala  terhadap  agresor  yang  akan menghancurkan Baitullah itu.

B. Abrahah Menghancurkan Ka’bah

Ketika mereka sudah pergi dan seluruh  Mekah  sunyi  dan  tiba waktunya  bagi  Abraha  mengerahkan  pasukannya  menghancurkan Ka’bah dan sesudah itu akan kembali ke Yaman, ketika itu  pula wabah  cacar  datang berkecamuk  menimpa  pasukan  Abraha dan membinasakan mereka. Serangan ini hebat sekali,  belum  pernah dialami  sebelumnya.  Barangkali  kuman-kuman wabah  itu yang datang dibawa angin dari jurusan laut,  dan.  menular  menimpa Abraha   sendiri.   Ia  merasa  ketakutan  sekali.  Pasukannya diperintahkan pulang kembali ke Yaman, dan mereka yang tadinya menjadi  penunjuk  jalan  sudah  lari, dan ada pula yang mati.

Bencana   wabah   ini   makin   hari   makin   mengganas   dan anggota-anggota  pasukan  yang  mati  sudah tak terbilang lagi banyaknya. Sampai juga Abraha ke Shan’a’ tapi badannya  sudah  dihinggapi penyakit.  Tidak  berselang  lama kemudian diapun mati seperti anggota pasukannya yang lain. Dan dengan demikian orang  Mekah mencatatnya sebagai Tahun Gajah. Dan ini yang diabadikan dalam Qur’an: “Tidakkah kau perhatikan, bagaimana Tuhanmu  berbuat  terhadap pasukan  orang-orang  bergajah?  Bukankah Dia gagalkan rencana mereka? Dan dilepaskan di atas mereka pasukan-pasukan  burung. Melempari  mereka  dengan  batu  yang keras membakar. Sehingga mereka seperti daun-daun kering  yang  binasa  berserakan.  “(Qur’an 105: 1-4)

Peristiwa  yang luarbiasa ini lebih memperkuat kedudukan Mekah dalam  arti  agama,  di  samping  itu  telah  memperkuat  pula kedudukannya   dalam   arti   perdagangan.   Juga  menyebabkan penduduknya  lebih   banyak   memperhatikan dan   memelihara kedudukan yang tinggi dan istimewa itu serta mempertahankannya dari  segala  usaha  yang  akan  mengurangi  arti  atau   akan menye,rang  kota ini. Orang-orang Mekah lebih bersemangat lagi mempertahankan kota mereka, mengingat  kehidupan  yang  mereka peroleh  karenanya,  hidup  makmur dan mewah sejauh yang dapat kita bayangkan kemewahan hidup mereka di  daerah  padang-pasir ini, gersang dan tandus.

Kegemaran  penduduk  daerah  ini  yang  luarbiasa  ialah minum nabidh  (minuman  keras).  Dalam  keadaan  mabuk  itu   mereka menemukan   suatu  kenikmatan  yang  tak  ada  taranya!  Suatu kenikmatan  yang  akan  memudahkan  mereka  melampiaskan  hawa nafsu,  akan  menjadikan  dayang-dayang dan budak-budak belian yang  diperjual-belikan  sebagai  barang  dagangan  itu  lebih memikat  hati  mereka.  Yang  demikian  ini mendorong semangat mereka mempertahankan kebebasan  pribadi  dan  kebebasan  kota mereka   serta   kesadaran   mempertahankan   kemerdekaan  dan menangkis segala serangan yang mungkin datang dari musuh. Yang paling  enak  bagi  mereka bersenang-senang waktu malam sambil minum-minum hanyalah di pusat kota sekeliling bangunan Ka’bah.

Di tempat itu – di samping tiga ratus buah berhala atau lebih, masing-masing  kabilah  dengan  berhalanya – pembesar-pembesar Quraisy dan  pemuka-pemuka  Mekah  duduk-duduk;  masing-masing menceritakan   hal-hal   yang   berhubungan   dengan   keadaan pedalaman, dengan  Yaman,  orang-orang  Mundhir  di  Hira  dan orang-orang  Ghassan di Suria, tentang datangnya kafilah serta lalu-lintas orang-orang pedalaman.

Kejadian  demikian  itu  sampai  kepada  mereka  dalam  bentuk cerita,  dari  suatu  kabilah kepada kabilah yang lain. Setiap kabilah mempunyai “pemancar” dan “pesawat radio” yang menerima berita-berita   kemudian   disiarkan   kembali.  Masing-masing membawa cerita yang ada hubungannya dengan berita-berita orang pedalaman,   kisah-kisah   tetangga  dan  handai-tolan  sambil minum-minum nabidh. Dan  sesudah  mereka  bermalam  suntuk  di Ka’bah  mereka  menyiapkan diri untuk hal yang sama guna lebih memuaskan  kehendak  hawa-nafsu.  Dengan  mata  batu   permata berhala-berhala  itu  menjenguk  melihat  kepada  mereka  yang sedang berdagang itu, dan mereka merasa mendapat perlindungan, karena  Ka’bah itu dijadikan Rumah Suci dan Mekah menjadi kota aman sentosa. Demikian juga berhala-berhala  mendapat  jaminan mereka,  bahwa  tak  seorangpun Ahli Kitab akan memasuki Mekah kecuali tenaga kerja yang takkan  bicara  tentang  agama  atau kitabnya.

Itulah  sebabnya  di sana tak ada koloni-koloni Yahudi seperti di Jathrib atau Nasrani seperti di Najran. Bahkan :Ka’bah yang dijadikan  tempat paganisma yang paling suci ketika itu mereka lindungi dari  semua  yang  akan  menghinanya,  dan  merekapun berlindung  ke sana dari segala serangan. Begitulah seterusnya Mekah itu bebas berdiri sendiri, seperti kabilah-kabilah  Arab yang  bebas  pula  berdiri  sendiri-sendiri.  Mereka tidak mau kalau kebebasannya itu diganti,  dan  mereka  tidak  pedulikan cara  hidup lain selain kebebasannya ini di bawah perlindungan berhala-berhala. Masing-masing kabilah tidak  pula  terganggu, dan  tidak  pula  terpikir  oleh  mereka akan mengadakan suatu kesatuan bangsa yang kuat, seperti yang dilakukan oleh  Rumawi dan Persia dalam meluaskan kekuasaan dan melakukan peperangan.

Oleh  karena  itu  tetaplah  kabilah-kabilah  itu  semua tidak mempunyai  sesuatu  bentuk  apapun  selain   cara-cara   hidup pedalaman,  tempat  mereka mencari padang rumput untuk ternak, kemudian hidup di tengah-tengah itu  dengan  cara  hidup  yang kasar, tertarik oleh segala kebebasan, kemerdekaan, kebanggaan dan kepahlawanan.

Pada dasarnya  tempat-tempat  tinggal  di  Mekah  mengelilingi lingkungan  Ka’bah.  Jauh dekatnya rumah-rumah itu dari Ka’bah tergantung  dari  penting  dan  tingginya  kedudukan   sesuatu keluarga atau suku. Kaum Quraisy adalah yang terdekat letaknya dan paling banyak berhubungan dengan Rumah Suci itu. Merekalah yang  memegang  kuncinya  dan  kepengurusan  air  Zamzam, juga segala gelar-gelar kebangsawanan menurut  paganisma  ada  pada mereka,  yang sampai menimbulkan perang karenanya, menyebabkan adanya  persekutuan,  atau  perjanjian-perjanjian   perdamaian antar  kabilah,  yang  tetap tersimpan di dalam Ka’bah, supaya dapat disaksikan oleh sang berhala untuk  kemudian  menurunkan murkanya bagi mereka yang melanggar.

Di  belakang rumah-rumah Quraisy itu menyusul pula rumah0rumah kabilah yang agak kurang penting  kedudukannya,  diikuti  oleh yang  lebih  rendah  lagi, sampai kepada tempat-tempat tinggal kaum  budak  dan  sebangsa  kaum  gelandangan.  Termasuk  umat Kristen  dan  Yahudi  di  Mekah,  seperti kita sebutkan tadi adalah juga budak.  Tempat-tempat  tinggal  mereka  jauh  dari Ka’bah  malah  sudah berbatasan dengan sahara. Oleh karena itu percakapan mereka tentang kisah-kisah agama, baik Kristen atau Yahudi,  tidak  sampai mendekati telinga pemuka-pemuka Quraisy dan penduduk Mekah umumnya. Letak mereka yang lebih  jauh  itu benar-benar  membuat  mereka lebih rapat lagi menutup telinga. Mereka tidak mau menyibukkan diri dengan itu. Dalam perjalanan mereka  melalui biara-biara dan tempat-tempat para rahib sudah biasa mereka mendengar cerita serupa itu.

Hanya saja apa yang sudah  mulai  diperkatakan  orang  tentang akan  datangnya seorang nabi di tengah-tengah orang Arab waktu itu, sudah cukup menimbulkan heboh. Abu  Sufyan  pernah  marah kepada   Umayya  bin  Abi’sh-Shalt  karena  arang  ini  sering mengulang-ulang cerita para rahib tentang hal serupa itu.  Dan barangkali  sesuai dengan kedudukan Abu Sufyan juga ketika itu ketika ia berkata kepada kawannya itu:  Para  rahib  itu  suka membawa  cerita  semacam itu karena mereka tidak mengerti soal agama mereka sendiri. Mereka memerlukan sekali adanya  seorang nabi  yang  akan  memberi  petunjuk kepada mereka. Tetapi kita yang sudah punya berhala-berhala, yang akan  mendekatkan  kita kepada Tuhan, tidak memerlukan lagi hal serupa itu. Kita harus menentang semua pembicaraan semacam itu.

Dapat saja ia bicara begitu. Dia, yang begitu  fanatik  kepada Mekah  dan  kehidupan  paganismanya,  tak  pernah membayangkan bahwa saatnya sudah di ambang pintu, bahwa  kenabian  Muhammad a.s. sudah dekat dan bahwa dari tanah Arab pagan yang beraneka ragam itu cahaya Tauhid dan sinar kebenaran akan  memancar  ke seluruh dunia.

Abdullah  bin  Abd’l-Muttalib  sebenarnya  adalah  pemuda yang berwajah tampan dan menarik. Menarik perhatian gadis-gadis dan wanita-wanita  Mekah.  Lebih-lebih lagi yang menarik perhatian mereka ialah kisah penebusan, dan kisah seratus ekor unta yang tidak  mau  diterima oleh Hubal kurang dari itu. Tetapi takdir sudah menentukan  Abdullah  akan  menjadi  seorang  ayah  yang paling mulia yang pernah dikenal sejarah. Demikian juga Aminah bint Wahb akan menjadi ibu bagi anak Abdullah  itu.  Ia  kawin dengan  wanita  itu  dan  selang beberapa bulan kemudian iapun meninggal. Tak ada lagi  penebusan  berupa  apapun  yang  akan melepaskan  dia  dari  maut. Tinggal lagi Aminah kemudian akan melahirkan Muhammad dan akan mati semasa yang  dilahirkan  itu masih bayi.

Pada   gambar   berikut   ini  silsilah  keturunan  Nabi  yang menerangkan    perkiraan    tahun-tahun    kelahiran    mereka masing-masing.

SILSILAH MUHAMMAD SAW

Qushayy

(lahir 400M)

|

+———————-+———————-+

|                      |                      |

‘Abd’l-‘Uzza            ‘Abd Manaf             ‘Abd’d-Dar

|                (lahir 430M)

|                      |

|           +———-+———–+———-+

Asad          |          |           |          |

|       Muttalib    Hasyim       Naufal   ‘Abd Syams

|                (lahir 464M)                 |

Khuwailid                  |                    Umayya

|               ‘Abd’l-Muttalib               |

+—-+—-+            (lahir 497M)               Harb

|         |                 |                      |

‘Awwam   Khadijah              |                  Abu Sufyan

|                           |                      |

Zubair                        |                   Mu’awiyah

|

+——–+———-+——-+–+———–+———-+

|        |          |          |           |          |

Hamzah   ‘Abbas   ‘Abdullah   Abu Lahab   Abu Talib   Harith

(lahir 545M)                 |

|           +———-+———-+

|           |          |          |

MUHAMMAD     ‘Aqil       ‘Ali       Ja’far

(lahir 570M)      |          |

|      +—+—+

|      |       |

Muslim  Hasan  Husain

Catatan kaki:

1 Kaum Sabian yang dimaksudkan di sini bukan yang dimaksudkan dalam Qur’an (2: 62), yaitu sekta Nasrani yang berpegang pada  Taurat dan Injil yang belum mengalami perubahan, melainkan  orang-orang Harran yang disebut oleh Ibn Taimia sebagai pusat golongan ini dan sebagai tempat kelahiran Ibrahim atau tempat ia pindah dan Irak (Mesopotamia). Di tempat ini terdapat kuil-kuil tempat menyembah bintang-bintang. Kepercayaan mereka ini sebelum datangnya agama Nasrani. Setelah datang Agama Nasrani, kepercayaan mereka menjadi campur-baur dan dikenal sebagai pseudo-Sabian. (Dikutip oleh al-Qasimi dalam Mahasin’t-Ta’wil, jilid 2 hal. 154-147). Juga mereka tidak sama dengan kaum Sabaean yang berasal dari Saba di Arab Selatan (A)

oleh MUHAMMAD HUSAIN HAEKAL

diterjemahkan dari bahasa Arab oleh Ali Audah

Penerbit PUSTAKA JAYA

Jln. Kramat II, No. 31 A, Jakarta Pusat

Cetakan Kelima, 1980

Seri PUSTAKA ISLAM No.1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: