MEMBANGUN KHAZANAH ILMU DAN PENDIDIKAN

Belajar itu adalah perobahan …….

MEKAH, KA’BAH DAN QURAISY (bagian kedua)

Posted by Bustamam Ismail on July 20, 2010

Kisah   ini   diambil  dari  sejarah  yang  hampir  merupakan konsensus dalam garis besarnya tentang kepergian  Ibrahim  dan Ismail ke Mekah, meskipun terdapat perbedaan dalam detail. Dan yang memajukan kritik  atas  peristiwa  secara  mendetail  itu berpendapat, bahwa Hajar dan Ismail telah pergi ke lembah yang sekarang terletak Mekah itu dan bahwa di tempat  itu  terdapat mata  air  yang  ditempati oleh kabilah Jurhum. Hajar disambut dengan senang  hati  oleh  mereka  ketika  ia  datang  bersama Ibrahim  dan  anaknya  ke  tempat itu. Sesudah Ismail besar ia kawin dengan wanita Jurhum dan mempunyai beberapa orang  anak.

Dari  percampuran  perkawinan antara Ismail dengan unsur-unsur Ibrani-Mesir di satu pihak  dan  unsur  Arab  di  pihak  lain, menyebabkan  keturunannya itu membawa sifat-sifat Arab, Ibrani dan Mesir. Mengenai sumber yang mengatakan tentang Hajar  yang kebingungan  setelah  melihat  air  yang  habis menyerap serta tentang usahanya berlari tujuh kali dari Shafa dan  Marwa  dan tentang  sumur Zamzam dan bagaimana air menyembur, oleh mereka masih diragukan.

Sebaliknya William Muir menyangsikan  kepergian  Ibrahim  dan Ismail   itu  ke  Hijaz  dan  ia  menolak  dasar  cerita  itu. Dikatakannya,  bahwa  itu  adalah  Israiliat  (Yudaica)   yang dibuat-buat orang Yahudi beberapa generasi sebelum Islam, guna mengikat hubungan dengan  orang  Arab  yang  sama-sama  sebapa dengan  lbrahim,  kalau  Ishaq  itu  yang menjadi nenek-moyang orang Yahudi. Jadi apabila saudaranya, Ismail itu moyang orang Arab,  maka  mereka  adalah  saudara  sepupu yang akan menjadi kewajiban orang Arab pula menerima  baik  emigran  orang-orang Yahudi   ke   tengah-tengah   mereka,   dan   akan  memudahkan perdagangan orang Yahudi di seluruh  jazirah  Arab.  Pengarang Inggris ini mendasarkan pendapatnya pada cara-cara peribadatan di negeri-negeri Arab yang tak ada  hubungannya  dengan  agama Ibrahim,   sebab   mereka   sudah   benar-benar  hanyut  dalam paganisma, sedang agama Ibrahim agama murni

Kita tidak melihat bahwa argumentasi demikian itu sudah  cukup kuat untuk menghilangkan kenyataan sejarah. Jauh beberapa abad sesudah meninggalnya Ibrahim dan Ismail paganisma  Arab  tidak menunjukkan bahwa mereka memang sudah demikian tatkala Ibrahim datang  ke  Hijaz  dan  tatkala  ia  dan  Ismail  bersama-sama membangun  Ka’bah.  Andaikata  waktu  itu paganisma sudah ada, tentu  itu  akan  memperkuat  pendapat   Sir   William   Muir. Masyarakat  Ibrahim sendiri waktu itu menyembah berhala dan ia berusaha mengajak mereka  ke  jalan  yang  benar,  tapi  tidak berhasil. Apabila ia mengajak masyarakat Arab seperti mengajak masyarakatnya sendiri, lalu tidak  berhasil,  dan  orang-orang Arab  itu  tetap menyembah berhala, tentu hal itu tidak sesuai dengan kepergian  Ibrahim  dan  Ismail  ke  Mekah.  Keterangan sejarah  itu  secara  logika  bahkan  lebih kuat. Ibrahim yang telah keluar dari Irak karena mau menghindar dari keluarganya, ia  pergi  ke  Palestina  dan  Mesir,  adalah orang yang mudah bepergian dan biasa mengarungi  sahara.  Sedang  jalan  antara Palestina   dan   Mekah  sejak  dahulu  kala  sudah  merupakan lalu-lintas terbuka bagi para kafilah. Dengan  demikian  tidak pula  pada  tempatnya  orang  meragukan kenyataan sejarah yang dalam garis besamya sudah menjadi konsensus itu.

Sir William Muir dan mereka  yang  menunjang  pendapatnya  itu mengatakan  tentang  kemungkinan  adanya  segolongan anak-anak Ibrahim dan Ismail sesudah itu yang pindah dari  Palestina  ke negeri-negeri  Arab  serta  adanya pertalian mereka dalam arti hubungan  darah.  Kita  tidak  mengerti,   kalau   kemungkinan mengenai  anak-anak  Ibrahim  dan Ismail ini bagi mereka dapat diterima, sedang kemungkinan mengenai kedua orang itu  sendiri tidak! Bagaimana akan dikatakan belum dapat dipastikan padahal peristiwa sejarah sudah memperkuatnya. Bagaimana  pula  takkan terjadi  padahal  sumbernya sudah tak dapat diragukan lagi dan sudah  disebutkan  dalam  Quran  dan  dibicarakan  juga  dalam kitab-kitab suci lainnya!

Ibrahim  dan Ismail lalu mengangkat sendi-sendi Rumah Suci itu dan “Bahwa rumah pertama dibuat untuk manusia beribadat  ialah yang  di  Mekah  itu,  sudah  diberi berkah dan bimbingan bagi semesta alam. Disitulah  terdapat  keterangan-keterangan  yang jelas  sebagai Maqam (tempat) Ibrahim; barangsiapa memasukinya menjadi aman.” (Qur’an, 3: 96-97) “Dan ingatlah, Kami jadikan Rumah itu  tempat  berkumpul  bagi manusia dan tempat yang aman. Dan jadikanlah Maqam Ibrahim itu tempat bersembahyang, dan kami  serahkan  kepada  Ibrahim  dan Ismail  menyucikan  RumahKu  bagõ mereka yang bertawaf, mereka yang tinggal menetap dan mereka  yang  ruku’  dan  sujud.  Dan ingatlah tatkala Ibrahim berkata: ‘Tuhanku, jadikan tempat ini Kota yang aman dan berikanlah buah-buahan kepada  penduduknya, mereka  yang  beriman  kepada  Allah  dan  Hari  Kemudian.’ Ia berkata: ‘Dan bagi barangsiapa yang menolak iman  akan  Kuberi juga  kesenangan sementara, kemudian Kutarik ia ke dalam siksa api, tujuan yang paling celaka,. Dan ingatlah tatkala  Ibrahim dan  Ismail  mengangkat  sendi-sendi  Rumah  Suci  itu (mereka berdoa): ‘Tuhan,  terimalah  ini  dari  kami.  Sesungguhnyalah

Engkau Maha mendengar, Maha mengetahui.” (Qur,an, 2: 125-127)

Bagaimana  Ibrahim  mendirikan Rumah itu sebagai tempat tujuan dan  tempat  yang  aman,  untuk  mengantarkan  manusia  supaya beriman  hanya kepada Allah Yang Tunggal lalu kemudian menjadi tempat berhala dan pusat penyembahannya?  Dan  bagaimana  pula cara-cara   peribadatan  itu  dilakukan  sesudah  lbrahim  dan Ismail, dan dalam bentuk bagaimana pula dilakukan?  Dan  sejak kapan  cara-cara  itu berubah lalu dikuasi oleh paganisma? Hal ini tidak diceritakan  kepada  kita  oleh  sejarah  yang  kita kenal.  Semua  itu  baru  merupakan  dugaan-dugaan  yang sudah dianggap sebagai suatu kenyataan. Kaum Sabian1 yang  menyembah bintang  mempunyai  pengaruh besar di tanah Arab. Pada mulanya mereka – menurut beberapa keterangan – tidak menyembah bintang itu  sendiri,  melainkan  hanya  menyembah  Allah  dan  mereka mengagungkan   bintang-bintang   itu   sebagai   ciptaan   dan manifestasi  kebesaranNya. Oleh karena lebih banyak yang tidak dapat  memahami  arti  ketuhanan  yang  lebih   tinggi,   maka diartikannya bintang-bintang itu sebagai tuhan. Beberapa macam batu gunung dikhayalkan sebagai benda yang jatuh  dan  langit, berasal  dan  beberapa  macam  bintang.  Dari  situ  mula-mula manifestasi  tuhan  itu  diartikan  dan  dikuduskan,  kemudian batu-batu itu yang disembah, kemudian penyembahan itu dianggap begitu agung, sehingga tidak cukup  bagi  seorang  orang  Arab hanya menyembah hajar aswad (batu hitam) yang di dalam Ka’bah, bahkan dalam setiap perjalanan ia mengambil batu apa saja  dan Ka’bah   untuk  disembah  dan  dimintai  persetujuannya:  akan tinggal ataukah akan melakukan  perjalanan.  Mereka  melakukan cara-cara  peribadatan  yang berlaku bagi bintang-bintang atau bagi pencipta bintang-bintang itu. Dengan  cara-cara  demikian menjadi   kuatlah  kepercayaan  paganisma  itu,  patung-patung dikuduskan dan dibawanya  sesajen-sesajen  untuk  itu  sebagai kurban.

Ini  adalah  suatu  gambaran tentang perkembangan agama itu di tanah  Arab  sejak  Ibrahim  membangun  rumah  sebagai  tempat beribadat  kepada  Tuhan, sebagaimana dilukiskan oleh beberapa ahli sejarah dan bagaimana pula hal itu kemudian berbalik  dan menjadi  pusat  berhala.  Herodotus, bapa sejarah, menerangkan tentang penyembahan Lat itu  di  negeri  Arab.  Demikian  juga Diodorus  Siculus  mcnyebutkan  tentang  rumah  di  Mekah yang diagungkan itu. Ini menunjukkan tentang paganisma  yang  sudah begitu tua di jazirah Arab dan bahwa agama yang dibawa Ibrahim di sana bertahan tidak begitu lama.

Dalam abad-abad itu sudah datang pula para nabi yang  mengajak kabilah-kabilah    jazirah    itu   supaya   menyembah   Allah semata-mata. Tetapi mereka menolak  dan  tetap  bertahan  pada paganisma.  Datang  Hud  mengajak  kaum  ‘Ad  yang  tinggal di sebelah utara Hadzramaut supaya menyembah hanya kepada  Allah; tapi hanya sebagian kecil saja yang ikut. Sedang yang sebagian besar malah menyombongkan diri dan berkata: “O Hud, kau datang tidak  membawa  keterangan  yang  jelas,  dan  kami tidak akan meninggalkan tuhan-tuhan kami hanya  karena  perkataanmu  itu. Kami  tidak percaya kepadamu.” (Qur’an, 11: 53) Bertahun-tahun lamanya Hud mengajak mereka. Hasilnya malah  mereka  bertambah buas  dan  congkak.  Demikian  juga Saleh datang mengajak kaum Thamud  supaya  beriman.  Mereka  ini  tinggal  di  Hijr  yang terletak antara Hijaz dengan Syam di Wadi’l-Qura ke arah timur daya dari Mad-yan (Midian)  dekat  Teluk  ‘Aqaba.  Sama  saja, hasil  ajakan  Saleh  itu tidak lebih seperti ajakan Hud juga.

Kemudian datang Syu’aib kepada bangsa Mad-yan yang terletak di Hijaz,  mengajak  supaya  mereka  menyembah  Allah. Juga tidak didengar Merekapun mengalami kehancuran seperti  yang  terjadi

terhadap golongan ‘Ad dan Thamud. Selain  para  nabi  itu juga Qur’an telah menceritakan tentang ajakan mereka supaya menyembah Allah yang Esa. Sikap  golongan itu  begitu  sombong. Mereka tetap bersikeras hendak menyembah berhala dan bermohon kepada berhala-berhala dalam Ka’bah  itu.

Mereka  berziarah  ke  tempat  itu setiap tahun; mereka datang dari segenap pelosok jazirah Arab. Dalam hal ini turun  firman Tuhan:  “Dan  Kami  tidak akan mengadakan siksaan sebelum Kami mengutus seorang rasul.”(Qur’an 17: 15) Sejak   didirikannya   Mekah   di   tempat   itu   sudah   ada jabatan-jabatan penting seperti yang dipegang oleh Qushayy bin Kilab pada pertengahan abad kelima Masehi. Pada waktu itu para pemuka   Mekah   berkumpul.  Jabatan-jabatan  hijaba,  siqaya, rifada, nadwa, liwa’ dan qiyada dipegang  semua  oleh  Qushay. Hijaba ialah penjaga pintu Ka’bah atau yang memegang kuncinya. Siqaya ialah menyediakan air tawar – yang sangat  sulit  waktu itu  bagi  mereka  yang  datang  berziarah  serta  menyediakan minuman keras yang dibuat dari  kurma.  Rifada  ialah  member makan  kepada  mereka  semua.  Nadwa ialah pimpinan rapat pada tiap tahun musim. Liwa’ ialah  panji  yang  dipancangkan  pada tombak  lalu  ditancapkan  sebagai lambang tentara yang sedang menghadapi musuh,  dan  qiyada  ialah  pimpinan  pasukan  bila menuju  perang.  Jabatan-jabatan  demikian itu di Mekah sangat terpandang. Dalam masalah ibadat seolah pandangan  orang-orang Arab semua tertuju ke Ka’bah itu.

Saya kira semua itu datangnya bukan sekaligus ketika rumah itu dibangun, melainkan satu demi satu, pada satu  pihak  tak  ada hubungannya  satu  sama  lain dengan Ka’bah serta kedudukannya dalam arti agama, di pihak lain sedikit banyak memang ada juga hubungannya.

Tatkala Ka’bah dibangun menurut gambaran yang ada dalam khayal kita – tidak lebih Mekah hanya  terdiri  dari  kabilah-kabilah Amalekit  dan  Jurhum.  Sesudah  Ismail  menetap  di  sana dan bersama-sama dengan ayahnya memasang  sendi-sendi  rumah  itu, barulah  Mekah  mengalami  perkembangan.  Untuk beberapa waktu yang cukup lama kemudian ia  menjadi  sebuah  kota  atau  yang

menyerupai  kota.  Kita  katakan menyerupai kota, karena Mekah dengan penduduknya waktu itu  masih  membawa  sifat  sisa-sisa keterbelakangan  dalam  arti  yang  sangat bersahaja. Beberapa penulis sejarah tidak keberatan dalam menyebutkan, bahwa Mekah itu  masih  terbelakang  sebelum semua urusan berada di tangan Qushayy pada pertengahan abad kelima Masehi  itu.  Sukar  bagi kita akan dapat membayangkan suatu daerah seperti Mekah dengan Rumah Purbanya yang dianggap suci itu akan tetap berada  dalam suasana  hidup pengembaraan. Padahal sejarah membuktikan bahwa persoalan  Rumah  Suci  itu  berada  di  tangan  Ismail  dalam lingkungan  keluarga Jurhum selama beberapa generasi kemudian.

Mereka tinggal di sekitar tempat itu, di  samping  Mekah  masa itu  memang  tempat pertemuan kafilah-kafilah dalam perjalanan ke Yaman, Hira, Syam dan Najd. Juga  hubungannya  dengan  Laut Merah  yang  tidak  jauh  dari  tempat  itu merupakan hubungan langsung  dengan   perdagangan   dunia.   Sukar   akan   dapat dibayangkan  adanya  suatu  daerah  dalam keadaan demikian itu akan tetap tanpa ada pendekatan  dari  dunia  lain  dari  segi peradabannya.  Beralasan sekali dugaan kita, bahwa Mekah, yang sudah didoakan oleh Ibrahim dan ditetapkan Allah akan  menjadi suatu  daerah  yang  aman sentosa, sudah mengenal hidup stabil selama beberapa generasi sebelum Qushayy.

Meskipun sudah dikalahkan oleh Amalekit, Mekah masih di tangan Jurhum  sampai  pada  masa Mudzadz bin ‘Amr ibn Harith. Selama dalam  masa   generasi   ini   perdagangan   Mekah   mengalami perkembangan  yang pesat sekali di bawah kekuasaan orang-orang yang biasa hidup mewah,  sehingga  mereka  lupa  bahwa  mereka berada  di tanah tandus dan bahwa mereka perlu selalu berusaha dan selalu waspada.  Demikian  lalainya  mereka  itu  sehingga Zamzam  menjadi  kering dan pihak kabilah Khuza’a merasa perlu memikirkan akan turut terjun memegang pimpinan di  tanah  suci

itu.

Peringatan  Mudzadz  kepada masyarakatnya tentang akibat hidup berfoya-foya, tidak berhasil. Ia yakin sekali  bahwa  hal  ini akan menghanyutkan mereka semua. Kemudian ia berusaha menggali Zamzam lebih dalam lagi. Diambilnya dua  buah  pangkal  pelana emas dari dalam Ka’bah beserta harta yang dibawa orang sebagai sesajen ke dalam Rumah Suci itu. Dimasukkannya  semua  itu  ke dalam  dasar  sumur,  sedang  pasir yang masih ada di dalamnya dikeluarkan,  dengan  harapan  pada  suatu   waktu   ia   akan menemukannya  kembali.  Ia keluar dengan anak-anak Ismail dari Mekah. Kekuasaan sesudah itu dipegang oleh  Khuza’a.  Demikian seterusnya  turun-temurun  sampai  kepada  Qushayy  bin Kilab, nenek (kakek) Nabi Muhammad yang kelima Fatimah bint Sa’d bin Sahl kawin dengan  Kilab  dan  mempunyai anak  bernama  Zuhra dan Qushayy. Kilab meninggal dunia ketika Qushayy masih bayi. Kemudian Fatimah kawin lagi dengan  Rabi’a bin  Haram.  Kemudian mereka pergi ke Syam dan di sana Fatimah melahirkan Darraj. Qushayy semakin besar  juga  dan  ia  hanya mengenal  Rabi’a  sebagai  ayahnya. Lambat-laun antara Qushayy dengan pihak kabilah Rabi’a terjadi permusuhan. Ia dihina  dan dikatakan  berada  di bawah perlindungan mereka, padahal bukan dari pihak mereka Qushayy  mengadukan  penghinaan  itu  kepada ibunya.

“Ayahmu  lebih mulia dari mereka,” kata ibunya kepada Qushayy. “Engkau  anak  Kilab  bin  Murra,  dan  keluargamu  di   Mekah menempati Rumah Suci.” Qushayy  lalu  pergi  ke  Mekah,  dan  menetap di sana. Karena pandangannya yang baik dan mempunyai kesungguhan,  orang-orang di  Mekah  sangat  menghormatinya.  Pada  waktu itu pengawasan Rumah  Suci  di  tangan  Hulail  bin  Hubsyia  –  orang   yang berpandangan  tajam  dari  kabilah  Khuza’a.  Tatkala  Qushayy melamar puterinya, Hubba, ternyata  lamarannya  diterima  baik dan  kawinlah  mereka.  Qushayy  terus  maju  dalam  usaha dan perdagangannya,  yang  membuat  ia  jadi   kaya,   harta   dan anak-anaknya  pun  banyak  pula.  Di kalangan masyarakatnya ia makin terpandang. Hulail meninggal dengan meninggalkan  wasiat supaya  kunci  Rumah  Suci  di  tangan Hubba puterinya. Tetapi Hubba menolak dan kunci itu dipegang oleh  Abu  Ghibsyan  dari kabilah  Khuza’a.  Tetapi  Abu  Ghibsyan  ini seorang pemabuk. Ketika pada suatu hari ia kehabisan minuman  keras  kunci  itu dijualnya kepada Qushayy dengan cara menukarnya dengan minuman keras.

Khuza’a sudah memperhitungkan betapa kedudukannya  nanti  bilapimpinan  Ka’bah  itu  berada  di tangan Qushayy sebagai orang yang banyak hartanya  dan  orang  yang  mulai  berpengaruh  di kalangan  Quraisy.  Mereka  merasa  keberatan bilamana masalah pimpinan Rumah Suci berada di tangan pihak lain selain  mereka sendiri.  Pada waktu Qushayy meminta bantuan Quraisy, beberapa kabilah memang sudah berpendapat bahwa  dialah  penduduk  yang paling  kuat  dan  sangat  dihargai di Mekah. Mereka mendukung Qushayy dan berhasil mengeluarkan Khuza’a dari Mekah. Sekarang seluruh  pimpinan  Rumah  Suci itu sudah di tangan Qushayy dan dia diakui sebagai pemimpin mereka.

Seperti sudah  kita  kemukakan,  beberapa  orang  berpendapat, bahwa  sampai  pada  waktu  pimpinan  Mekah  berada  di tangan Qushayy, bangunan apapun belum ada di tempat  itu,  selain  Ka bah.  Alasannya  ialah,  karena baik Khuza’a atau Jurhum tidak ingin melihat ada bangunan lain di sekitar  Rumah  Tuhan  itu, juga  karena  pada  malam  hari mereka tidak pernah tinggal di tempat  itu,  melainkan  pergi   ke   tempat-tempat   terbuka. Ditambahkan pula bahwa setelah Qushayy memegang pimpinan Mekah ia mengumpulkan  Quraisy  dan  menyuruh  mereka  membangun  di tempat itu. Dengan dipelopori oleh Qushayy sendiri dibangunnya Dar’n-Nadwa sebagai tempat pertemuan  pembesar-pembesar  Mekah yang  dipimpin  oleh  Qushayy  sendiri.  Di  tempat ini mereka bermusyawarah mengenai  masalah-masalah  negeri  itu.  Menurut kebiasaan  mereka,  setiap persoalan yang mereka hadapi selalu diselesaikan dengan  persetujuan  bersama.  Baik  wanita  atau laki-laki  yang  akan melangsungkan perkawinan harus di tempat ini pula.

Dengan perintah Qushayy  orang-orang  Quraisy  lalu  membangun tempat-tempat  tinggal  mereka  di  sekitar Ka’bah itu, dengan meluangkan tempat  yang  cukup  luas  untuk  mengadakan  tawaf sekitar  Rumah  itu dan pada setiap dua rumah disediakan jalan yang menembus ke tempat tawaf tersebut. Anak Qushayy yang tertua  ialah  Abd’d-Dar.  Akan  tetapi  Abd Manaf adiknya, sudah lebih dulu tampil ke depan umum dan sudah mendapat tempat pula.

Sesudah usianya makin lanjut, kekuatannyapun  sudah  berkurang dan  sudah  tidak  kuat  lagi  ia  mengurus  Mekah sebagaimana mestinya, kunci Rumah itupun diserahkannya  kepada  Abd’d-Dar, demikian  juga  soal  air minum, panji dan persediaan makanan. Setiap tahun Quraisy memberikan sumbangan  dari  harta  mereka yang diserahkannya kepada Qushayy guna membuatkan makanan pada

musim ziarah. Makanan ini  kemudian  diberikan  kepada  mereka yang  datang  tidak dalam kecukupan. Qushayy adalah orang yang pertama  mewajibkan  kepada  Quraisy   menyiapkan   persediaan makanan. Dikumpulkannya mereka itu dan ia sangat merasa bangga terhadap   mereka   ketika   bersama-sama   mereka    berhasil mengeluarkan  Khuza’a  dari  Mekah.  Ketika  mewajibkan itu ia berkata kepada mereka: “Saudara-saudara Quraisy! Kamu sekalian adalah tetangga Tuhan, keluarga  RumahNya  dan  Tempat  yang Suci. Mereka yang datang berziarah adalah tamu Tuhan dan  pengunjung  RumahNya.  Mereka Itulah  para  tamu  yang  paling  patut  dihormati. Pada musim ziarah itu  sediakanlah  makanan  dan  minuman  sampai  mereka pulang kembali.”

Sumber: S E J A R A H    H I D U P    M U H A M M A D

oleh MUHAMMAD HUSAIN HAEKAL

diterjemahkan dari bahasa Arab oleh Ali Audah

Penerbit PUSTAKA JAYA

Jln. Kramat II, No. 31 A, Jakarta Pusat

Cetakan Kelima, 1980

Seri PUSTAKA ISLAM No.1

One Response to “MEKAH, KA’BAH DAN QURAISY (bagian kedua)”

  1. iqbal4041 said

    gut

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: