MEMBANGUN KHAZANAH ILMU DAN PENDIDIKAN

Belajar itu adalah perobahan …….

MEKAH, KA’BAH DAN QURAISY (bagian Pertama)

Posted by Bustamam Ismail on July 19, 2010

Letak Mekkah

DI TENGAH-TENGAH jalan kafilah  yang  berhadapan  dengan  Laut Merah  –  antara  Yaman dan Palestina – membentang bukit-bukit barisan sejauh kira-kira delapanpuluh kilometer  dari  pantai. Bukit-bukit  ini  mengelilingi sebuah lembah yang tidak begitu luas, yang hampir-hampir terkepung samasekali oleh bukit-bukit itu  kalau  tidak  dibuka  oleh tiga buah jalan: pertama jalan menuju  ke  Yaman,  yang  kedua  jalan  dekat  Laut  Merah  di pelabuhan Jedah, yang ketiga jalan yang menuju ke Palestina.

Dalam  lembah  yang terkepung oleh bukit-bukit itulah terletak Mekah. Untuk mengetahui sejarah dibangunnya kota  ini  sungguh sukar  sekali. Mungkin sekali ia bertolak ke masa ribuan tahun yang lalu. Yang pasti, lembah  itu  digunakan  sebagai  tempat perhentian  kafilah  sambil beristirahat, karena di tempat itu terdapat sumber mata air. Dengan demikian  rornbongan  kafilah itu  membentangkan  kemah-kemah  mereka, baik yang datang dari jurusan Yaman menuju Palestina atau yang datang dari Palestina menuju  Yaman.

Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail

Mungkin  sekali  Ismail anak Ibrahim itu orang pertama  yang menjadikannya  sebagai  tempat  tinggal,   yang sebelum  itu  hanya dijadikan  tempat  kafilah  lalu saja dan tempat perdagangan secara  tukar-menukar  antara  yang  datang dari  arah  selatan  jazirah  dengan  yang  bertolak dari arah utara. Kalau  Ismail  adalah  orang  pertama  yang  menjadikan Mekah sebagai  tempat  tinggal,  maka sejarah tempat ini sebelum itu gelap sekali. Mungkin dapat juga dikatakan, bahwa  daerah  ini dipakai  tempat  ibadat juga sebelum Ismail datang dan menetap di tempat itu. Kisah  kedatangannya  ketempat  itupun  memaksa kita membawa kisah Ibrahim a.s. secara ringkas.

Ibrahim  dilahirkan di Irak (Chaldea) dari ayah seorang tukang kayu pembuat patung. Patung-patung itu kemudian dijual  kepada masyarakatnya sendiri, lalu disembah. Sesudah ia remaja betapa ia melihat patung-patung yang dibuat oleh ayahnya itu kemudian disembah  oleh  masyarakat  dan  betapa pula mereka memberikan rasa  hormat  dan  kudus  kepada  sekeping  kayu  yang  pernah dikerjakan  ayahnya itu. Rasa syak mulai timbul dalam hatinya.

Kepada ayahnya ia pernah bertanya, bagaimana  hasil  kerajinan tangannya itu sampai disembah orang? Kemudian  Ibrahim  menceritakan  hal  itu  kepada  orang lain. Ayahnyapun  sangat  memperhatikan  tingkah-laku  anaknya  itu; karena  ia  kuatir hal ini akan menghancurkan perdagangannya. Ibrahim sendiri orang yang percaya kepada akal pikirannya.  Ia ingin membuktikan    kebenaran   pendapatnya   itu   dengan alasan-alasan yang dapat  diterima.  Ia  mengambil  kesempatan ketika  orang  sedang  lengah. Ia pergi menghampiri sang dewa, dan berhala  itu  dihancurkan,  kecuali  berhala  yang  paling besar. Setelah diketahui orang, mereka berkata kepadanya: “Engkaukah  yang  melakukan  itu  terhadap dewa-dewa kami, hai Ibrahim?” Dia menjawab: “Tidak. Itu dilakukan oleh yang paling besar diantara mereka. Tanyakanlah kepada mereka, kalau memang mereka bisa bicara.” (Qur’an, 21: 62-63)

Ibrahim melakukan itu sesudah ia  memikirkan  betapa  sesatnya mereka  menyembah  berhala,  sebaliknya  siapa yang seharusnya mereka sembah. “Bila  malam  sudah  gelap,  dilihatnya  sebuah  bintang.   Ia berkata:  Inilah Tuhanku. Tetapi bilamana bintang itu kemudian terbenam, iapun  berkata:  ‘Aku  tidak  menyukai  segala  yang terbenam.’ Dan setelah dilihatnya bulan terbit, iapun berkata: ‘Inilah Tuhanku.’ Tetapi bilamana bulan itu kemudian terbenam, iapun  berkata:  ‘Kalau Tuhan tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku akan jadi sesat.’ Dan setelah dilihatnya matahari terbit,  iapun  berkata:  ‘Ini Tuhanku. Ini yang lebih besar.’ Tetapi bilamana matahari itu  juga  kemudian  terbenam,  iapun berkata:  ‘Oh  kaumku. Aku lepas tangan terhadap apa yang kamu persekutukan itu. Aku mengarahkan wajahku  hanya  kepada  yang telah  menciptakan  semesta  langit  dan  bumi  ini. Aku tidak termasuk mereka yang mempersekutukan Tuhan.” (Qur’an 6: 76-79)

Ibrahim  tidak  berhasil  mengajak  masyarakatnya  itu.  Malah sebagai  balasan  ia  dicampakkan  ke  dalam api. Tetapi Tuhan masih menyelamatkannya. Ia lari ke Palestina bersama isterinya Sarah.  Dari  Palestina mereka meneruskan perjalanan ke Mesir. Pada waktu itu Mesir di  bawah  kekuasaan raja-raja  Amalekit (Hyksos).

Sarah  adalah  seorang wanita cantik. Pada waktu itu raja-raja Hyksos   biasa   mengambil   wanita-wanita    bersuami    yang cantik-cantik.  Ibrahim memperlihatkan,  seolah  Sarah adalah saudaranya. Ia takut dibunuh  dan  Sarah  akan  diperisterikan raja.  Dan  raja  memang  bermaksud  akan  memperisterikannya. Tetapi  dalam  tidurnya  ia  bermimpi  bahwa  Sarah  bersuami.

Kemudian  dikembalikan  kepada  Ibrahim  sambil  dimarahi.  Ia diberi beberapa  hadiah  di  antaranya  seorang  gadis  belian bernama  Hajar-  Olelm  karena  Sarah  sesudah  bertahun-tahun dengan Ibrahim belum juga beroleh keturunan, maka  oleh  Sarah disuruhnya  ia  bergaul dengan Hajar, yang tidak lama kemudian telah  beroleh  anak,  yaitu  Ismail.  Sesudah  Ismail   besar kemudian Sarahpun beroleh keturunan, yaitu Ishaq.

Penebusan dan penyemblihan seorang putra Ibrahim

Beberapa ahli berselisih pendapat tentang penyembelihan Ismail serta kurban yang telah dipersembahkan  oleh  Ibrahim.  Adakah sebelum kelahiran Ishaq atau sesudahnya? Adakah itu terjadi di Palestina atau di Hijaz? Ahli-ahli sejarah Yahudi berpendapat, bahwa  yang  disembelih itu adalah Ishaq, bukan Ismail. Disini kita bukan akan  menguji  adanya  perselisihan  pendapat  itu. Dalam   Qishash’l-Anbia’   Syaikh   Abd’l   Wahhab   an-Najjar berpendapat,  bahwa  yang  disembelih   itu   adalah   Ismail. Argumentasi  ini  diambilnya  dari  Taurat  sendiri bahwa yang disembelih itu dilukiskan sebagai anak  Ibrahim  satu-satunya.

Pada  waktu  itu Ismail adalah anak satu-satunya sebelum Ishaq dilahirkan. Setelah Sarah melahirkan, maka anak Ibrahim  tidak lagi  tunggal,  melainkan  sudah  ada Ismail dan Ishaq. Dengan mengambil  cerita  itu  seharusnya  kisah  penyembelihan   dan penebusan  itu  terjadi  di  Palestina.  Hal  ini  memang bisa terjadi demikian kalau yang dimaksudkan itu  terjadi  terhadap diri  Ishaq.  Selama  itu Ishaq dengan ibunya hanya tinggal di Palestina, tidak pernah pergi ke  Hijaz.  Akan  tetapi  cerita yang  mengatakan bahwa penyembelihan dan penebusan itu terjadi diatas bukit  Mina,  maka  ini  tentu  berlaku  terhadap  diri Ismail.  Oleh  karena  di  dalam  Qur’an tidak disebutkan nama person  korban  itu,  maka  ahli-ahli  sejarah  kaum  Muslimin berlain-lainan pendapat.

Tentang  pengorbanan  dan  penebusan  itu kisahnya ialah bahwa Ibrahim bermimpi,  bahwasanya  Tuhan  memerintahkan  kepadanya supaya   anaknya  itu  dipersembahkan  sebagai  kurban  dengan menyembelihnya.  Pada  suatu  pagi  berangkatlah   ia   dengan anaknya. “Bila ia sudah mencapai usia cukup untuk berusaha, ia (Ibrahim) berkata: ‘O anakku, dalam tidur aku bermimpi,  bahwa aku  menyembelihmu.  Lihatlah,  bagaimanakah  pendapatmu?’  Ia menjawab: ‘Wahai ayahku.  Lakukanlah  apa  yang  diperintahkan kepadamu.  Jika dikehendaki  Tuhan,  akan kaudapati aku dalam kesabaran.’   Setelah   keduanya    menyerahkan    diri    dan dibaringkannya  ke  sebelah keningnya,  ia Kami panggil: ‘Hai Ibrahim. Engkau telah melaksanakan mimpi itu.’ Dengan  begitu, Kami  memberikan  balasan kepada mereka yang berbuat kebaikan. Ini adalah suatu ujian yang nyata. Dan kami menebusnya  dengan sebuah kurban besar.” (Qur’an, 37: 103-107)

Beberapa  cerita  melukiskan kisah ini dalam bentuk puisi yang indah sekali, sehingga disini perlu kita kemukakan,  sekalipun tidak  membawa  kisah tentang Mekah. Kisahnya, setelah Ibrahim bermimpi dalam tidurnya bahwa ia harus menyembelih anaknya dan memastikan  bahwa itu adalah perintah Tuhan, ia berkata kepada anaknya itu: ‘Anakku, bawalah tali dan parang itu,  mari  kita pergi  ke bukit mencari kayu untuk keluarga kita.’ Anak itupun menurut perintah ayahnya. Ketika itu datang setan dalam bentuk seorang  laki-laki,  mendatangi  ibu  anak itu seraya berkata: ‘Tahukah engkau ke mana Ibrahim  membawa  anakmu?’  ‘Ia  pergi mencari  kayu  dari  lereng bukit itu,’ jawab ibunya. ‘Tidak,’ kata setan lagi,  ‘ia  pergi  akan  menyembelihnya.’  Ibu  itu menjawab  lagi:  ‘Tidak.  Ia lebih sayang kepada anaknya.’ ‘Ia mendakwakan bahwa Tuhan yang memerintahkan itu.’

‘Kalau  itu  memang  perintah  Tuhan   biarkan   dia   menaati perintahNya,’  jawab  ibu  itu.  Setan  itu  lalu pergi dengan perasaan kecewa. Ia segera menyusul anak yang sedang mengikuti ayahnya  itu.  Kepada  anak itupun ia berkata seperti terhadap ibunya tadi. Tapi jawabannyapun  sama  dengan  jawaban  ibunya juga.  Kemudian setan mendatangi Ibrahim dan mengatakan, bahwa mimpinya itu hanya tipu-muslihat setan supaya  ia menyembelih anaknya  dan  akhirnya  akan  menyesal. Tetapi oleh Ibrahim ia ditinggalkan dan dilaknatnya. Dengan rasa  jengkel  Iblis  itu mundur  teratur,  karena  maksudnya  tidak berhasil, baik dari Ibrahim, dari isterinya atau dari anaknya.

Kemudian  itu  Ibrahim  menyatakan  kepada   anaknya   tentang mimpinya itu dan minta pendapatnya. ‘Ayah, lakukanlah apa yang diperintahkan.’ Lalu katanya lagi dalam  ballada  itu:  ‘Ayah, kalau  ayah  akan  menyembelihku, kuatkanlah ikatan itu supaya darahku nanti tidak kena ayah dan  akan  mengurangi  pahalaku. Aku tidak menjamin bahwa aku takkan gelisah bila dilaksanakan. Tajamkanlah parang itu supaya dapat sekaligus memotongku. Bila ayah  sudah  merebahkan aku untuk disembelih, telungkupkan aku dan jangan dimiringkan. Aku kuatir  bila  ayah  kelak  melihat wajahku ayah akan jadi lemah, sehingga akan menghalangi maksud ayah melaksanakan perintah Tuhan itu. Kalau  ayah  berpendapat akan membawa bajuku ini kepada ibu kalau-kalau menjadi hiburan baginya, lakukanlah, ayah.’ ‘Anakku,’  kata  Ibrahim,  ‘ini  adalah  bantuan  besar  dalam melaksanakan perintah Allah.’

Kemudian ia siap melaksanakan. Diikatnya kuat-kuat tangan anak itu  lalu  dibaringkan  keningnya  untuk  disembelih.   Tetapi kemudian ia dipanggil: ‘Hai Ibrahim! Engkau telah melaksanakan mimpi itu.’ Anak itu kemudian ditebusnya dengan  seekor  domba besar   yang   terdapat  tidak  jauh  dari  tempat  itu.  Lalu disembelihnya dan dibakarnya. Demikianlah kisah penyembelihan dan penebusan itu. Ini  adalah kisah penyerahan secara keseluruhan kepada kehendak Allah.

Ishaq  telah menjadi besar disamping Ismail. Kasih-sayang ayah sama  terhadap  keduanya.  Akan  tetapi  Sarah  menjadi  gusar melihat  anaknya  itu dipersamakan dengan anak Hajar dayangnya itu. Ia bersumpah tidak akan tinggal bersama-sama dengan Hajar dan  anaknya  tatkala  dilihatnya  Ismail memukul adiknya itu. Ibrahim merasa  bahwa  hidupnya  takkan  bahagia  kalau  kedua wanita itu tinggal dalam satu tempat. Oleh karena itu pergilah ia dengan Hajar dan anak itu menuju ke  arah  selatan.  Mereka sampai  ke  suatu  lembah,  letak Mekah yang sekarang. Seperti kita sebutkan di atas, lembah ini adalah tempat  para  kafilah membentangkan  kemahnya  pada  waktu  mereka berpapasan dengan kafilah dari Syam ke Yaman, atau dari Yaman  ke  Syam.  Tetapi pada  waktu  itu adalah saat yang paling sepi sepanjang tahun.

Ismail   dan   ibunya   oleh    Ibrahim    ditinggalkan    dan delengkapi pula segala keperluannya. Hajar membuat sebuah gubuk  tempat  ia  berteduh  dengan  anaknya.  Dan  Ibrahimpun kembali ke tempat semula.

Sesudah  kehabisan  air dan perbekalan, Hajar melihat ke kanan kiri. Ia tidak melihat sesuatu. Ia terus berlari dan turun  ke lembah  mencari  air.  Dalam berlari-lari itu – menurut cerita orang – antara Shafa dan Marwa, sampai lengkap tujuh kali,  ia kembali  kepada  anaknya  dengan  membawa  perasaan putus asa. Tetapi ketika itu dilihatnya  anaknya  sedang  mengorek-ngorek tanah  dengan  kaki, yang kemudian dari dalam tanah itu keluar air. Dia dan Ismail dapat melepaskan dahaga. Disumbatnya  mata air  itu  supaya  jangan  mengalir terus dan menyerap ke dalam pasir.

Anak yang bersama ibunya itu membantu  orang-orang  Arab  yang sedang  dalam  perjalanan, dan merekapun mendapat imbalan yang akan cukup menjamin hidup mereka  sampai  pada  musim  kafilah yang akan datang. Mata  air  yang  memancar  dari  sumur Zamzam itu menarik hati beberapa kabilah akan tinggal di dekat  tempat  itu.  Beberapa keterangan   mengatakan,  bahwa  kabilah  Jurhum  adalah  yang pertama sekali tinggal di tempat itu, sebelum datang Hajar dan anaknya. Sementara yang lain berpendapat, bahwa mereka tinggal di tempat itu setelah adanya  sumber  sumur  Zamzam,  sehingga memungkinkan mereka hidup di lembah gersang itu.

Ismail Menikah dengan putri kabilah Jurhum

Ismail sudah semakin besar, dan kemudian ia kawin dengan gadis kabilah  Jurhum.  Ia  dengan  isterinya  tinggal  bersama-sama keluarga  Jurhum  yang  lain.  Di  tempat itu rumah suci sudah dibangun, yang kemudian berdiri pula Mekah sekitar tempat itu.

Juga disebutkan bahwa  pada  suatu  hari  Ibrahim  minta  ijin kepada  Sarah  akan  mengunjungi Ismail dan ibunya. Permintaan ini disetujui dan ia pergi. Setelah  ia  mencari  dan  menemui rumah Ismail ia bertanya kepada isterinya: “Mana suamimu?” “Ia sedang berburu untuk hidup kami,” jawabnya.

Kemudian  ditanya  lagi,  dapatkah  ia  menjamu  makanan  atau minuman, dijawab  bahwa  dia  tidak  mempunyai  apa-apa  untuk dihidangkan. Ibrahim  pergi,  setelah  mengatakan:  “Kalau  suamimu  datang sampaikan  salamku  dan  katakan  kepadanya:   “Ganti   ambang pintumu.”

Setelah  pesan ayahnya itu kemudian disampaikan kepada Ismail, ia segera  menceraikan  isterinya,  dan  kemudian  kawin  lagi dengan  wanita Jurhum lainnya, puteri Mudzadz bin ‘Amr. Wanita ini telah menyambut Ibrahim dengan baik setelah beberapa waktu kemudian  ia  pernah  datang.  “Sekarang  ambang pintu rumahmu sudah kuat,” (kata Ibrahim).

Dari perkawinan ini Ismail mempunyai duabelas orang anak,  dan mereka  inilah  yang  menjadi cikal-bakal Arab al-Musta’-riba, yakni orang-orang Arab yang bertemu dari pihak ibu pada Jurhum dengan Arab al-‘Ariba keturunan Ya’rub ibn Qahtan. Sedang ayah mereka, Ismail anak Ibrahim, dari  pihak  ibunya  erat  sekali bertalian  dengan  Mesir,  dan  dari  pihak  bapa  dengan Irak (Mesopotamia)  dan  Palestina,  atau   kemana   saja   Ibrahim menginjakkan kaki.

Sumber: S E J A R A H    H I D U P    M U H A M M A D

oleh MUHAMMAD HUSAIN HAEKAL

diterjemahkan dari bahasa Arab oleh Ali Audah

Penerbit PUSTAKA JAYA

Jln. Kramat II, No. 31 A, Jakarta Pusat

Cetakan Kelima, 1980

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: