MEMBANGUN KHAZANAH ILMU DAN PENDIDIKAN

Belajar itu adalah perobahan …….

BEBERAPA MOTIVASI ORIENTALIS:UNTUK KAJIAN ISLAM SECARA SUBYEKTIVITAS

Posted by Bustamam Ismail on June 2, 2010

Meskipun semua tendensi yang ada berseberangan dengan tradisi keislaman, para ilmuwan Barat tetap berusaha meyakinkan bahwa mereka sedang memberi pelayanan terhadap kaum Muslimin dengan menyajikan kajian murni, tidak setengah-setengah, dan berlaku jujur. Implikasinya adalah, seorang ilmuwan Muslim yang, katanya, dikelabui oleh keimanan tidak dapat memahami mana yang salah dan yang benar ketika menganalisis keyakinan mereka.1 Jika ini betul, sekurang-kurangnya kita mesti bersedia meneliti Orientalisme dan kaitannya dengan kepercayaan-kepercayaan dan prinsip yang dianut, karena mengatakan satu kelompok bersikap memihak tidak semestinya dapat menjamin bahwa kelompok lain lebih objekti. Meneliti akar Orientalisme menghendaki studi yang mendalam tentang masalah-masalah politik, dulu dan hari ini, guna menyingkap beberapa pandangan yang melingkari motivasi mereka, sehingga para pembaca dapat mengukur kajian Barat terhadap Al-Qur’an sebagaimana mestinya.

A. Menggunakan Analogi Yahudi

Sebelum membicarakan Orientalisme, saya ingin mengangkat satu pertanyaan dengan menggunakan analogi: dalam pandangan Yahudi, dapatkah seorang ilmuwan yang anti Semitisme dikatakan tidak memihak ketika mengkaji dokumen mereka seperti Perjanjian Lama atau Gulungan Kertas Laut Mati (Dead Sea Scrolls)? Apa pun keputusan yang diberikan baik positif mau pun negatif, hendaknya juga diterapkan pada kalangan Orientalis yang seharusnya berlaku jujur saat melakukan pembedahan terhadap ajaran Islam.

1. Validitas Sebuah Karya Anti-Semit

Friedrich Delitzsch, seorang ilmuan Kristen dan salah seorang pendiri Assyriology, berasal dari kalangan tradisi keilmuan Perjanjian Lama yang hebat, di mana ia sendiri sedikit berbau darah Yahudi.2 Namun demikian, pandangannya terhadap Perjanjian Lama betul-betul sinis:

Perjanjian Lama penuh dengan berbagai penipuan: benar-benar amburadul serta mengelirukan, tidak diterima oleh akal sehat, figur-figur tokoh yang tak dapat dipercaya, termasuk kronologi biblical; benar-benar merupakan demonstrasi kepalsuan yang serbasimpang siur, kerja ulang yang meng­gelikan, revisi dan transposisi, campuran anakronisme, penjelasan yang saling kontradiktif dan cerita berjubel yang tiada akhir, penemuan­penemuan tanpa bukti sejarah, legenda dan dongeng rakyat, yang secara singkat merupakan sebuah buku penuh kebohongan baik disengaja maupun tidak, sebagian adalah penipuan sendiri, buku yang sangat berbahaya, dan siapa yang membaca harus siaga dengan sikap ekstrahati-hati.3

Walaupun dikecam sebagai anti Semit, Delitzsch tetap berulang kali menolaknya.

Tetapi melihat beberapa ulasannya (contohnya, …yang mana ia menyebut orang Yahudi sebagai bahaya yang mengerikan di mana orang-orang Jerman perlu diberi peringatan’), tudingan [sebagai anti Semit] itu tampaknya cukup beralasan.4

Di antara karya Delitzsch mengenai Perjanjian Lama, Die Grosse Tauschung, John Bright menyimpulkan,

Amat jarang Perjanjian Lama dituding sebagai penyalahgunaan yang lebih dahsyat dari buku ini. Benar-benar merupakan buku yang sangat jelek (saya harus katakan sebagai `buku yang menderita sakit’).5

Menunjukkan sikap memusuhi secara terang-terangan terhadap Perjanjian Lama dan hasrat yang kuat ingin memutus hubungan dengan agamaKristen, Delitzsch telah menulis dengan nada sinis yang merendahkan buku dan popularitas namanya semakin dipertunyakan karena sikap antipati terhadap Semitisme

2. Dapatkah Ilmuwan yang Anti-Yahudi Tidak Memihak Ketika Berhubungan dengan satu Tema tentang Keyahudian?

John Strugnell, seorang guru besar dari Universitas Harvard, menduduki jabatan sebagai pemimpin redaksi resmi team editorial Dead Sea Scroll pada tahun 1987, yang akhirnya dipecat yang dipublikasikan secara luas tiga tahun kemudian. Masalahnya bermula dengan wawancara yang dilakukan oleh seorang wartawan Israel Avi Katzman (seperti dimuat dalam harian Ha’aretz, 9 November 1990), di mana karena menderita depresi mental, ia mengungkapkan perasaan anti Yahudi. Di antaranya adalah agama Yahudi sebagai “agama yang mengerikan”, yang menyatakan bahwa masalah agama Yahudi dapat di­se]esaikan dengan baik melalui masuknya orang-orang Yahudi dalam agama Kristen secara massal, dan juga pernyataan bahwa agama Yahudi pada dasarnya bersifat rasialis. Walaupun ia katakan pada awal wawancara tidak berniat supaya dikatakan anti Semit, Katzman tidak peduli akan permintaan mereka, dan bahkan mengkritik dengan istilah yang vulgar. Dalam hal ini Strugnell curiga bahwa,

Di belakang Mr. Katzman [ada satu kebimbangan] apakah keilmuan Kristen dapat melakukan penelitian secara memihak dengan sistem scroll, karena bahan itu merupakan dokumen milik sekte Yahudi…. Saya merasa geli saat mendengar orang seperti Schiffman [dari Universitas New York] mengatakan, ‘amat disayangkan tidak ada ilmuwan Yahudi yang sedang me lakukan kajian teks-teks tersebut’.6

Gara-gara tulisannya, ia kemudian dipecat. Beberapa tahun kemudian terus menghujat penolakannya sebagai anti-Semit, tetapi sebaliknya bersikeras menyatakan anti-Yahudi: seseorang bukannya antagonistik terhadap orang Yahudi secara individu atau masyarakat, melainkan hanya terhadap agama Yahudi.

Tetapi saya tidak begitu peduli apakah saya benci atau tidak terhadap agama Yahudi. Saya menginginkan sesuatu yang lebih buat agama Kristen. Saya ingin kekuasaan Kristus lebih besar, memiliki lebih dari 20 juta orang-orang Yahudi sebagai pengikutnya.7

Dalam mempertahankan kepercayaan aguma Kristen, Prof. Strugnell semestinya memahami akan pentingnya teologis Dead Sea Scroll, kalau tidak, memperoleh jabatan pemimpin redaksi hanyalah laksana seorang yang mengigau di siang hari. Pemecatannya bukan lantaran ketidakrnampuan, bukan juga karena tidak percaya atau penghinaan terhadap manuskrip yang di bawah pengawasannya. Sebagaimana yang ia nyatakan, hal itu bersumber dari ketakutan orang Yahudi mengenai subjektivitasnya dalam meneliti dokurnen agamanya disebabkan, antara lain, kecintaannya pada Kristus. Persaingan agama ini memberi alasan yang cukup untuk melarangnya terlepas dari kemampuan akademis yang dimiliki.

3. Apakah Para Ilmuwan Yahudi Bebas Mengkaji Topik-Topik Keyahudian?

Kita telah menunjukkan dua permasalahan di mana tuduhan anti Semit menyebabkan larangan para ilmuwan hebat melakukan kajian terhadap tema­tema yang berkaitan dengan agama Yahudi. Namun, bagaimana nasib para ilmuwan Yahudi yang hebat-hebat, apakah semestinya mereka juga dianggap layak mengkaji bahan-bahan yang sensitif?

Dead See Scroll (Gulungan Kertas Laut Mati) ditemukan pada awal tahun 1947. Kendati tim redaksi telah menyelesaikan satu transkripsi keseluruhan teks pada akhir tahun 1950an (termasuk seluruh indeks), la tetap menjadi rahasia, bukan saja mengenai transkrip, tetapi mengenai keberadaan teks itu sendiri. Dengan mengambil waktu yang cukup lama, tim telah menghabiskan waktu selama empat puluh tahun dan hanya mampu menerbitkan dua puluh persen dari keseluruhan teks yang ditugaskan. Hershel Shanks, pemimpin redaksi Biblical Archeology Review, memojokkan direktur bidang barang­barang antik Israel (Antiquities Department), selama lebih dari dua puluh lima tahun dalam mencari indeks, di mana la mengakui ketidaktahuannya tentang masalah tersebut.8 Sementara kalangan akademik mendesak ingin mendapat edisi faksimile dari teks yang belum diterbitkan, yang hanya memperoleh respons yang kurang bersahabat dari para anggota redaksi skrol, guna mem­pertahankan pengawasan sepenuhnya terhadap semua penemuan.9

Karena kritikan yang begitu santer, Jenderal Amir Drori, kepala bidang urusan barang antik Israel, terpaksa mengeluarkan pernyataan press pada Septemher 1991, berjanji akan lebih memheri kebebasan untuk mendapatkan foto-foto Skrol tersebut.10

Jendral Drori mengumumkan hahwa menjadikan teks itu tersedia untuk semua kalangan, berarti membuat kemungkinan ‘penafsiran yang pasti’ (delinitive interpretation) dalam keadaan yang berbahaya… Adalah penting untuk memikirkan ulang kerja keras kelompok kecil itu guna menjaga rahasia teks yang belum diterbitkan. Kerja-kerja itu memang disertai penghinaan yang begitu nyata bagi setiap yang berani mempertanyakan kebijaksanaan kelompok kecil tersebut.11

Eugene Ulrich dari Notre Dame, di antara tim redaksi senior, memprotes bahwa, “pengeditan skrol sebenarnya telantar bukan lantaran lamban, melainkan karena ketergesa-gesaan yang tak menentu”. 12 Rata-rata para guru besar universitas tidak memiliki kemampuan menilai kerja tim tersebut, sambil memekik tentang perasaan team yang diulang-ulang di mana hanya para redaktur resmi, dan murid-murid mereka, yang layak melakukan tugas tersebut.

Dalam sebuah wawancara di Scientific American, [pemimpin redaksi] menyatakan bahwa Geza Vermes dari Oxford tidak `layak’ untuk meneliti scroll yang belum diterbitkan karena Vermes tidak pernah melakukan kerja yang sungguh-sungguh. Vennes adalah pengarang beberapa buah buku yang bermutu mengenai Dead See Scroll, termasuk buku yang telah digunakan secara meluas terbitan Penguin, The Dead See Scrolls in English, yang sekarang sudah masuk edisi ketiga. Pewawancara Scientific American itu sambil tercengang mengatakan: `Maha guru dari Oxford ternyata tidak becus?’ Apalagi kita.13

Sikap ragu-ragu memang mendapat tempat yang baik, karena masalah yang sebenarnya bukan masalah kemampuan, melainkan hasrat mematuhi garis aturan ‘penafsiran yang definitif’. Dengan mengikuti skema ini sejak awal, dan dengan teguh memelihara scroll dari akademi secara umum, maka tim menunjukkan sikap tak berminat atau pengakuan terhadap segala bentuk keilmuan­ baik Yahudi ataupun lainnya-kecuali yang dapat memenuhi tujuan tertentu. Jadi contoh mana lagi yang lebih jelas mengenai subjektivitas asli ini?14

Tiga perumpamaan di atas, bahkan masih segudang yang lain pasca Perang Eropa dan Amerika, yang menggambarkan pengulangan tema yang menyangkut pemecatan para ilmuwan (saat masih hidup dilakukan secara fisik, dan jika sudah meninggal dilakukan secara akademis) yang kebetulan me­nunjukkan sikap rivalitas ideologis saat melakukan penelitian terhadap segala permasalahan yang menyangkut agama Yahudi. Apakah para ilmuwan yang bersangkutan dianggap terkenal dan hebat, tidak membawa arti sama sekali; ketidak cocokan ideologi dianggap mencukupi untuk menjatuhkan jati diri mereka. Sejauh mana pemikiran seperti ini dapat diterima di kalangan kaum Muslimin’?

B. Tindakan Balasdendam terhadap Kaum Muslimin

1. Penindasan Orang Israel terhadap Sejarah Orang Palestina

Keith Whitelam, Guru Besar Studi-Studi Agama dari Universitas Stirling (Skotlandia), pengarang sebuah makalah yang memicu kontroversi besar di kalangan ilmuwan kitab Injil, menyatakan perlakuan konspirasi yang dilakukan oleh para ilmuwan Injil dan arkeologis, khususnya orang-orang Zionis, dalam satu bentuk bahwa penolakan terhadap sejarah orang-orang yang telah menetap lama sebelum orang-orang Israel di bumi Palestina zaman purba kala. 15 Sejak tahun 1948 sikap keilmuan orang-orang Israel (ia nyatakan) merupakan satu sejarah masa lampau di mana yang mengagungkan upaya orang-orang Israel kuno dalam mendapatkan tanah Palestina sambil meremehkan dan menghapus sejarah dan budaya orang-orang pribumi.16 Dengan begitu, para ilmuwan Injil bertujuan menghilangkan hak orang-orang Palestina dari tanah mereka di masa sekarang dengan cara membuang hak mereka di masa lampau.

Studi tentang Injil telah membentuk sebagian penyusunun yang rumit tentang masalah keilmuan, ekonomi, dan kekuatan militer di mana orang ­orang Palestina telah dinafikan keberadaanya dalam kehidupan masa kini dan sejarahnya.17

Sambil menolak pendapatnya, Harshel Shanks menguraikan panjang lebar beberapa budaya bukan Israel di wilayah itu baru-baru ini, yang dianggap sebagai kebangkitan akademis: Philistin, Edomit, Moabit, Aramean, Hurrian, dan Kanaan. la menuduh Whitelam memolitisasi sejarah dan menyimpulkan bahwa sementara para ilmuwan yang pro-Zionis telah berusaha memindahkan subjektivitas masa lampau, hal yang serupa, tidaklah demikian apa yang dilakukan oleh Keith Whitelam.18

Membaca secara teliti akan tinjauan ini saya tersentak bahwa Hershel Shanks di mana saja tidak pernah menunjuk tentang sejarah Islam, atau terhadap gabungan kebangkitan keilmuan. Adakah dalam pengingkaran secara kasual, bukan “sebagian penyusunan yang rumit”, Whitelam melihat orang­orang Palestina saat ini tidak diberi hak kekuasaan dan tanah air mereka? Kebudayaan yang mana, Kanaan atau Muslim, yang dapat mendefinisikan secara tepat tentang identitas din orang-orang Palestina, dan mengapa hal ini seluruhnya diantisipasi dengan cara yang tidak bersahabat? Walaupun akhirnya Shanks bersedia mengakui adat istiadat kuno bangsa Palestina, la tampaknya masih belum mau menyetujui agama kontemporer mereka menurut kedudukan yang layak dalam sejarah tanah air. Ini seakan-akan, dalam mempersempit pandangan mereka secara khusus tentang kajian kuno, para ilmuwan Israel dan Barat memandang empat belas abad kebudayaan Islam di Palestina, sebagai sesuatu yang menjijikkan yang mesti dikikis sebelum menemukan bahan­bahan yang lebih baik.

2. Seorang Perintis Orientalis dan Penipu Kaum Muslimin

Kembali pada masalah Orientalisme, kita akan mengambil satu studi kasus selayang pandang. Dalam karyanya Origins of Muhammadan Jurisprudence Schacht menulis,

Saya benar-benar terutang budi terhadap guru-guru studi Islam generasi masa lalu. Nama Snouck Hurgronje memang jarang muncul dalam buku ini; namun demikian jika kita sekarang dapat memahami tentang hukum Islam, hal itu adalah berkat jasanya.19

Tetapi siapa dia Snouck Hurgronje itu? Ia adalah seorang Orientalis penggagas agenda penipuan terhadap komunitas Muslim Indonesia untuk menerima sistem eksploitasi pemerintah jajahan Belanda, “Islam adalah agama damai,” menurut seruannya, “dan kewajiban orang-orang Islam menurut syariat adalah mematuhi pemerintah [Belanda]-dan bukan melakukan penen­tangan dengan pukul kekerasan.”20 Dengan pergi haji ke Mekah guna mcm­perkuat pengaruhnya, ia berpura-pura menjadi orang Islam untuk mendapat popularitas yang lebih luas tanpa mengorbankan keseluruhan scope atau cakupan ambisinya. Edward Said mencatat adanya “kerja sama yang erat antara keilmuan dan penaklukan penjajah militer secara yang tak dapat terpisahkan” seperti dalam “kasus Orientalis C. Snouck Hurgronje yang mereka agung­agungkan, di mana dengan keyakinannya, la telah mendapat kemenangan dari kaum Muslimin dalam melakukan kebrutalan agresi Belanda terhadap rakyat Aceh di Sumatra. “21

Dan di atas segalanya, ia dianggap sebagai seorang pelopor Barat tentang hukum Islam. Tujuannya semakin jelas. Sementara mereka yang dituding memberi ulasan yang tidak sesuai dengan agama Yahudi dicaci-maki, diasing­kan, dan dipecat, sementara para anggota cendekiawan Yahudi yang mengecam sikap prejudis Strugnell mereka tetap apatis terhadap kefanatikan Israel pada budaya dan peninggalan-peninggalan kaum Muslimin. Di waktu yang sama, sikap prejudis Hurgronje yang jauh lebih besar dan sebagai tuan rumah agen kolonial yang lain dan sebagai pemimpin gereja-yang menampilkan diri bukan sekadar dalam ucapan, melainkan dalam penipuan dan penguasaan militer secara langsung-diabaikan begitu saja, sedang statusnya dalam iklim budaya Barat sebagai “para pelopor Orientalis” tetap tidak pernah tersentuh.

C. Pencarian untuk Tidak Berat Sebelah

1. Satu Perspektif Sejarah: Yahudi, Kristen, dan Romawi

Semua keilmuan Orientalis di bangun di atas premis bahwa orang luar yang lebih cemerlang diberi kebebasan untuk memihak, tetapi pernahkah anggapan objektivitas ini diberi peluang dalam tradisi Yahudi-Kristen atau Barat? Di manakah mutiara hikmah diskursus ini dalam sejarah penulisan orang-orang Barat yang subjektif dan kasar itu? Saya katakan kasar, karena setiap orang bisa membandingkan pujian bagaimana para ilmuwan Muslim memperlakukan Nuhi Isa, Maryam, Musa, Harun, Ishak, Ibrahim, Dawud, Sulaiman, Luth dan lain-lain, dengan kekasaran dan kemarahan Yahudi terhadap orang Kristen, Kristen terhadap orang Yahudi, Katolik terhadap Protestan, dan Romawi kuno terhadap semua orang. Di sini saya kutip panjang lebar Adrian Reeland, guru besar Oriental Tongues (bahasa-bahasa Timur) di Universitas Utrecht, yang pada tahun 1705 menulis sebuah karya unik dalam bahasa Latin yang kemudian diterjemahkan dan diterbitkan di London dengan judul Four Treaties Concerning the Doctrine, Discipline and Worship of the Mahometans (1712).

Orang-orang Yahudi, walaupun mereka memiliki lembaga dan hukum yang paling suci sejak dahulu…tidak dapat menghindar dari kedengkian orang-orang jahat, yang menuduh mereka dengan banyak hal yang semuanya benar-benar tak beralasan. Tacitus sendiri, yang tidak memberi kesempatan orang-orang Yahudi bermusyawarah dalam urusan mereka, menulis bahwa mereka…diusir dari Mesir karena penyakit kudis; bahwa mereka mengkuduskan patung keledai yang telah mengajar mereka menghilangkan rasa haus dan menghentikan mereka dari berkeluyuran tak tentu arah. Plutarch menceritakan…bahwa pesta Kemah Suci [Tabernacles] dirayakan untuk menghormati Bacchus; tidak, bahkan peristiwa Sabbath dikuduskan karena sifat ketuhanannya…Rutilius [menyebut] orang-orang Yahudi Sabbath, sebagai Sabbath Dingin, dan mengatakan bahwa hati mereka lebih dingin dari agama mereka; dan karena alasan itu pula, kebanyakan orang-orang Yahudi…tidak menyalakan api pada hari Sabbath .22

Akan tetapi saat orang-orang Kristen meninggalkan orang-orang Yahudi, dan mendirikan peribadatan tersendiri…betapa mengenaskan gambaran yang dibuat terhadap agama kita oleh orang-orang pagan ini? … Orang-orang pagan menuduh orang-orang Kristen, bahwa tuhan mereka berkuku seperti keledai; bahwa mereka menyembah alat kelamin seorang pendeta; bahwa mereka merayakan orang yang baru dimasukkan [agama mereka], seperti terhadap anak kecil yang ditutupi dengan bunga; bahwa, di mana setelah usai upacara pesta mereka, lantas memadamkan lampu, yang diikuti kaum pria dan wanita saling berpelukan jika terdapat kesempatan; bahwa mereka mengancam untuk memusnahkan dunia ini dengan api….. Kepercayaan menyembah satu Tuhan menjadikan mereka dituding sebagai yang tidak bertuhan….. Dan untuk menyimpulkan semua kata-kata Tertulian, dalam permintaan maafnya, Mereka dikelompokkan  sebagai pembunuh, kawin sesama keluarga, mencemarkan tempat suci, musuh masyarakat, melakukan kekhilafan dengan berbagai kekejaman, dan karena itu juga dianggap sebagai musuh para tuhan, para raja, moralitas, dan alam natural.23

Akan tetapi, jika kita pikirkan hingga masa kita sekarang ini, kita temukan manusia tidak sedikit pun yang lebih adil dalam hal ini…Apa yang gereja Roma tidak tuduhkan ke atas kita, ketika kita meninggal­kannya…? Mereka menyatakan, dalam Kitab mereka, bahwa kita melaku­kan kebaikan dalam keadaan dibenci; bahwa kita menetapkan Tuhan sebagai pembuat kejahatan; bahwa kita memandang rendah Maryam ibu Kristus, malaikat, dan ingatan orang-orang yang suci;….. bahwa kita ter­pecah kepada seratus dua puluh enam sekte yang menjijikkan, yang nama-nama sekte itu tidak dapat dibaca melainkan dengan ter­tawaan;…bahwa Luther sangat fasih sekali dengan Setan, dan mengakhiri kehidupannya dengan seutas tali; bahwa Calvin melakukan kejahatan yang mengerikan, dan mati dengan luka bernanah pada bagian kemalua­nnya, yang dikenakan oleh Langit, dan ia berputus asa dari keselamat­an;….. bahwa nama Luther, itu, dalam bahasa Ibrani adalah Lulter, mengungkapkan nomor Dajjal 666 [dan] Luther akan membawa kerajaan Muhammad ke wilayah ini, dan para pendeta dan pengikutnya akan segera jatuh ke tangan pengikut Muhammad.24

Tentunya jika ada satu agama yang diputarbalikkan oleh lawan­lawannya, diremehkan, dan dianggap tidak layak untuk ditolak, maka itu adalah agama ini [Islam]. Jika seseorang ingin merancang satu doktrin yang rendah dan menjijikkan dengan nama panggilan yang paling sesuai, maka ia menyebutnya sebagai Mohametan; dan orang-orang Turki tidak akan mengizinkan doktrin seperti itu: Seakan-akan tidak ada satu pun yang bagus dari syahadat atau akidah ajaran Mohammad, semua rukun­nya rusak. Kita tidak perlu merasa heran akan hal itu, karena ada persamaan besar antara Setan dengan Muhammad seperti yang telah ditunjukkan dengan banyak argumen oleh pengarang 4th Oration against Mahomet (Orasi keempat untuk melawan Muhammad)…Jika salah seorang pemuda kita meminta untuk belajar teologi, dan la didorong oleh semangat yang menggebu-gebu untuk memahami agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad, maka ia akan diminta [mempelajari karya-karya pengarang Barat yang menulis dengan ketololan].

la tidak disarankan belajar hahasa Arab supaya bisa mendengar langsung Muhammad berbicara dengan hahasanya sendiri, atau untuk mendapatkan tulisan-tulisan dari Timur supaya dapat melihat dengan mata kepala sendiri dan hukan meminjam kaca mata orang lain: Karena hal itu tidak punya nilai sedikit pun (kata orang hanyak) untuk rnengarungi kesusahan dan kepayahan yang banyak, hanya semata-mata untuk mempelajari mimpi dan igauan seorang fanatik.25

Menurut suatu ukuran yang baik, sentimen terakhir itu masih berlaku pada hari ini, aliran pemikiran revisionis bersikeras bahwa tidak ada dokumen orang Islam yang memuat kebenaran kecuali pernyataan orang di luar Islam menyajikan pengesahan atau verifikasi.26 Terbukti bahwa betapa orang-orang Kristen dan Yahudi menyerang Islam secara keji sejak zaman awal Islam, harapan apa yang bakal kita terima dari para pendeta Kristen dan pemimpin agama Yahudi (rabbi) di zaman pertengahan jika menginginkan mereka memberi pengesahan terhadap kepentingan kaum Muslimin, membuktikan kelincahan persaingan sengit dengan objektivitas? Dengan tanpa syarat, para ilmuwan Barat membenarkan kekejaman yang begitu banyak di mana orang­orang Yahudi dan Kristen saling menghasut satu sama lain, dan setiap ke­lompok dibentengi oleh kejahilan dan klenik;27 maka atas dasar apa kekejaman mereka yang begitu banyak terhadap kaum Muslimin harus diterima sebagai kebenaran, walau hal itu lahir dari kejahilan dan klenik yang sama? 28

2. Sikap Tidak Memihak dalam Studi Modern

Dalam bukunya yang padat serta mencerahkan, Covering Islam, Edward Said menyingkap sensasi politik dan media yang disajikan terhadap komunitas Barat tentang Islam yang direkayasa. Dikemas sebagai ancaman dekat terhadap kebudayaan Barat, Islam telah meraih satu-satunya reputasi yang mengancam di mana tidak ada agama atau kelompok budaya lain yang dapat menghadapi.29 Islam dijadikan “kambing hitam” yang siap pakai dalam setiap fenomena sosial-politik dan ekonomi yang tidak disetujui oleh Barat. Kesepakatan politik mereka adalah walaupun hanya sedikit yang mereka ketahui tentang agama ini, tidak banyak berita tentang Islam yang dianggap positif. 30 Menghadapi asal ­usul pertentangan ini Edward Said mencatat tendensi sejarah Kristen yang memandang Islam sebagai penceroboh, tantangan baru terhadap otoritas ke­agamaan mereka, dan musuh yang mengerikan sepanjang zaman pertengahan,

Adalah diduga sebagai agama jahat orang-orang murtad, zindik, dan kegelapan. Tampaknya tidak jadi masalah bahwa orang-orang Islam menganggap Muhammad sebagai Nabi dan bukan Tuhan; namun apa yang menjadi masalah bagi orang-orang Kristen adalah Muhammad itu Nabi palsu, penabur fitnah,… dan sebagai agen Setan.31

Bahkan ketika Kristen Eropa mulai bangkit, dengan mengorbankan pemerintahan Islam, rasa takut yang dibuat-buat secara tidak menentu dan kebenciannya terus berlalu; dengan semakin dekatnya Islam ke Eropa membuat “Muhamadanisme” dianggap sebagai bahaya yang mereka tidak akan dapat menguasai seluruhnya secara memuaskan. India, Cina, dan budaya-budaya Timur yang lain, saat dikuasai, tetap menjauh dan tidak lagi mendatangkan rasa takut yang berkepanjangan dari pemerintah dan para pakar teologi Eropa. Hanya Islam yang muncul berdiri sendiri, tahan uji dan bebas, serta pantang menyerah terhadap kekuasaan Barat.32 la berkilah secara meyakinkan bahwa tidak pernah terjadi dalam sejarah Eropa dan Amerika bahwa Islam pernah “dibicarakan dan dipikirkan secara umum di luar kerangka yang dibuat berdasarkan keinginan, sikap prejudis, dan kepentingan politik.”33 Sementara Peter the Venerable, Barthelemy d’Herbelot, dan para penulis terdahulu yang lain semuanya tidak diragukan merupakan ahli polemik Kristen yang selalu meniup kejahatan terhadap agama saingannya, zaman kita menganggap secara membabi buta bahwa modernisme telah memulas Orientalisme dari sikap prejudis, dan telah membebaskan, seperti pakar kimia yang menganalisis struktur molekul secara tepat dari pada mencari bahan alkemi.

Bukankah benar bahwa Silvestre de Sacy, Edward Lane, Ernest Renan, Hamilton Gibb, dan Louis Massiggnon adalah para ilmuwan objektif dan terpelajar, dan bukankah benar bahwa dengan mengikuti segala kemajuan abad dua puluh dari ilmu sosiologi, antropologi, bahasa, dan sejarah, para ilmuwan Amerika yang mengajar bidang Timur Tengah dan Islam di berbagai ternpat seperti Princeton, Harvard, dan Chicago bersikap tidak memihak dan bebas dari keinginan khusus dalam hal yang mereka lakukan? Mustahil, begitu jawabnya.34

Semua studi Islam pada hari ini masih terperangkap dalam kepentingan dan tekanan politik; makalah, ulasan, dan buku-buku tenggelam dalam kepen­tingan politik bahkan ketika para pengarang berusaha melenyapkan perasaan buruk dengan berlindung di bawah jargon ‘kejujuran ilmiah’ dan menggunakan gelar-gelar universitas, mereka ingin menutup setiap motivasi yang tersem­bunyi.35

< BACK INDEX NEXT >
1. Saya diberitahukan seorang kawan bahwa Dr. Wadad al-Qadi telah menyatakan bahwa ilmuwan Muslim tidak sesuai untuk terlibat dengan setiap penelitian tentang AI-Qur’an , karena iman mereka. Ini tidaklah mengejutkan; beberapa tahun yang lalu ia menyampaikan makalah di Kairo dan mengatakan bahwa ilmuwan Muslim mesti mengakui “otoritas” para peneliti Barat tentang Islam. Dalam pandangannya ketiadaan iman mereka terhadap Islam inilah yang merupakan satu kelebihan terhadap kelayakan mereka. la baru-baru ini telah menerima jabatan sebagai associate editor untuk proyek Encyclopedia of the Qur’an oleh Brill yang sedang ia jalani.2. John Bright, The Authority of the Old Testament, Abingdon Press, Nashville, 1967, hlm. 65-66.
3. Ibid., hlm. 66, mengutip dari Friedrich Delitzsch, Die Grosse Tauschung (1920).

4. Ibid., hlm. 67, catatan kaki 21.
5. Ibid., him. 65.

6. H. Shanks, “Ousted Chief Scroll Editor Makes His Case: An Interview with John Strugnell”, Biblical Archaeology Review, Juli/Agust. 94, jilid. 20, no. 4, hlm. 41-42.

7. Ibid., him. 43. Satu anggapan yang menarik yang ia buat mengatakan bahwa “Uskup Kardinal Paris adalah seorang Yahudi dan hal itu berjalan mulus dengan uskup di bawah kekuasaannya, padahal mereka bukan beragama Yahudi” [hlm. 43].

8. Hershel Shanks, “Scholars, Scroll, Secret and ‘Crimes”‘, New York Times, 7 September 1991, muncul dalam gambar 18 dalam Eisenman dan Robinson, A Facsimile Edition of the Dead Sea Scrolls, Pengantar Penerbit, Cetakan pertama, 1991, hlm. xli. Perhatikan bahwa dalam cetakan kedua (mungkin juga yang seterusnya) semua informasi itu telah dibuang.
9. A Facsimile Edition of the Dead Sea Scrolls, Pengantar Penerbit, hlm. xxi.

10. Ibid., hlm. xii.

11. Ibid., hlm. xiii. Tulisan miring adalah tambahan.
12. Ibid., hlm. xiv.

13. Ibid., hlm. xiv.

14. Perhatikan bahwa semua kutipan di alas adalah dari cetakan pertama yang semuanya dihilangkan dalam cetakan kedua (dan mungkin yang seterusnya). Biblical Archaeological Society telah berhasil menerbitkan A Facsimile Edition of the Dead Sea Scroll pada tahun 1991, yang mendapat banyak pujian (tetapi dikecam pedas oleh para editor skrol itu). Yang membuat saya sangat terperanjat adalah saya temukan bahwa dalam cetakan yang kedua keseluruhan kata sambutan Hershcl Shank yang asal telah dipotong dari 36 halaman menjadi dua halaman saja. Tidak ada catatan penting diberikan untuk pembuangan ini.

15. H. Shanks, “Scholar Claims Palestinian History is Suppressed in Favor of Israelites”, Biblical Archaeology Review, Maret/April 96, jld. 22, no. 2, hlm. 54. “Makalah Whitelam begitu dianggap penting sehingga ia disampaikan pada sidang yang paling kecil yang dibiayai bersama oleh the Society of Biblical Literature, the American Academy of Religion, dan the American Schools of Oriental Research.” (Ibid., hlm. 54.)

16. Ibid. hlm. 56.

17. Ibid. hlm. 56, mengutip pendapat Keith Whitelam.
18. Ibid. hlm. 69.

19. Joseph Schacht, The Origins of Muhammadan Jurisprudence, edisi ke 2, Oxford Univ. Press, 1959, Pendahuluan.

20. Lihat Isma’il al-‘Uthmani, Monthly al-Miskat, Waydah, Morokko, viii, 1419 H., hlm. 28-29.

21. Edward Said, Covering Islam, Pantheon Books, New York, 1981, hlm. xvii.

22. H. Reeland, Four Treatises Concerning the Doctrine, Discipline and Worship of the Mahornetans, London, 1712, hlm. 5-6.

23. Ibid. hlm. 6-7.
24. Ibid. hlm. 7-8.

25Ibid. hlm. 12. Penekanan (kalimat terakhir) adalah tambahan.

26. Lihat defnisi Yehuda Nevo mengenai Revisionisme dalam karyanya itu, hlm.7-8

27. Lihat contohnya sikap para apologis yang terkandung dalam makalah Joseph Blenkinsopp dan Barclay Newman kedua-duanya [lnjil Review, jld. xii, no. 5, Okt. 1996, hlm. 42-43] tidak termasuk dalam kutipan saya dari hlm. 291-292.

28. Berikut ini adalah beberapa tuduhan para ilmuwan Kristen abad ke 17 dan 18 terhadap kaum Muslimin yang ditulis dalam bahasa Latin: (1) Kaum Muslimin menyembah planet Venus; (2) Dan juga menyembah semua makhluk; (3) Dan menolak keberadaan Neraka; (4) Dan percaya bahwa dosa­

dosa akan terhapus dengan selalu membasuh tubuh; (5) Dan percaya bahwa Setan adalah kawan Tuhan dan Nabi Muhammad; (6) Dan percaya bahwa semua setan akan diampuni; (7) Dan percaya bahwa wanita tidak akan masuk surga; (8) Dan percaya bahwa Maryam mengandung Isa karena memakan buah kurma; (9) Dan percaya bahwa Musa termasuk golongan yang durhaka. [Lihat Four Treatise karya Reeland, hlm. 47-102].

29. Edward Said, Covering Islam, hlm. xii.
30. Ibid. hlm. xv.

31. Ibid. hlm. 4-5.

32. Ibid. hlm.. 5.
33. Ibid. hlm.. 23.

34. Ibid. hlm.. 23.

35. Ibid. hlm.. xvii, 23

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: