MEMBANGUN KHAZANAH ILMU DAN PENDIDIKAN

Belajar itu adalah perobahan …….

SEJARAH AWAL KRISTEN: SELAYANG PANDANG (bagian kedua)

Posted by Bustamam Ismail on May 25, 2010

A.Yesus dan Risalahnya: Bertobat, Karena Kerajaan Langit Berada di Tangan

Semua sumber untuk ajaran-ajaran Yesus berasal dari pengarang-pe­ngarang yang anonim (tak jelas namanya). Sebagaimana disebutkan di atas, Hermann Reimarus (1694-1768) adalah merupakan orang pertama yang berusaha membuat sejarah Yesus. Dalam hal ini dia membedakan antara apa yang tertulis dalam kitab-kitab Injil dan apa yang diproklamasikan Yesus sendiri selama masa hidupnya, dengan menyimpulkan bahwa ajaran-ajaran aktual Yesus dapat diringkas,

dalam dua frasa dari arti yang sama, ‘Tobatlah, dan percayailah kita b­kitab Injil,’ atau, seperti yang disebut di berbagai tempat, ‘Tobatlah, karena Kerajaan Langit berada di Tangan.’22

Oleh karena dia tak pernah menjelaskan salah satu pun dari kedua frasa ini, Reimarus berargumen bahwa Yesus melakukan dakwah itu sepenuhnya dalam framework Yahudi, dengan meyakini bahwa audiensnya memahami ‘Kerajaan Langit’ (the Kingdom of Heaven) dalam konteks Yahudi. Yaitu, bahwa dia merupakan Juru Selamat Bangsa Israel. Niat mendirikan sebuah agama baru tak pernah ada.23

1. Yesus dan Skup Risalahnya

Dengan mengarahkan ajaran-ajarannya pada audiens Yahudi dan meng­ekspresikan konsep-konsepnya dari dalam framework Yahudi yang ketat, jelas sekali Yesus membatasi risalahnya hanya pada bagian masyarakat itu. Hal ini terbaca jelas dari pernyataan-pernyataan Yesus sebagaitnana termaktub dalarn Matius 10:5-6:

5 Kedua belas murid itu kemudian diutus oleh Yesus dengan mendapat petunjuk ini, “Janganlah pergi ke daerah orang-orang yang bukan Yahudi. Jangan juga ke kota-kota orang Samaria:

6 Tetapi pergilah kepada orang-orang Israel yang sesat.”

Hal ini juga ditegaskan dalam Al-Qur’an secaru gamblang:24

Dan Allah mengajarkannya Kitab dan hikmah, Taurat dan Injil, dan /mengangkatnya/ sebagai utusan kepada anak-cucu Israel…

Sebagian sarjana Kristen modern juga mengakui hal ini; sebagaimana I Helmut Koester menulis:

Adalah sebuah fakta sejarah yang telanjang bahwa Yesus adalah seorang Israel dari Galilea, dan bahwa dia memahami dirinya tidak lebih sebagai seorang nabi di Israel dan untuk Israel-suatu tradisi yang mulia, dan dia bukanlah yang pertama dari nabi-nabi Israel yang ditampik dan di­aniaya.25

Koester tidaklah sendirian. “Yesus sungguh-sungguh menganggap diri­nya sebagai seorang nabi (Markus 6: 4; Lukas 13: 33) tapi ada kualitas final tentang risalah dan tugas dia yang membuat kita berhak menyimpulkan bahwa dia menganggap dirinya sebagai utusan final dan definitif Tuhan kepada Israel. “26 Luther, Voltaire, Rousseau, dan Bultmann semua berpandangan yang sama.

2. Kredo-Kredo Kristen

Sebagaimana Yesus secara pribadi tak pernah mendefinisikan risalahnya selain sebagai Juru Selamat (Deliverer), al-Masih, begitu juga ia tak pernah menegaskan kredo tertentu, dan dalam beberapa dekade saja hal ini telah mengakibatkan chaos. Maka lahirlah beberapa kredo, dan yang termasuk Kredo-Kredo Timur yang awal-awal adalah “I. Epistola Apostolorum. II. Kredo Kuno Alexandria. III. Kredo Pendek Orde Gereja Mesir. IV. Kredo Marcosia. V. Kredo Awal Afrika. VI. Profesi Kaum ‘Presbyter’ di Smyrna.”27 Yang paling awal dari kredo-kredo ini layak dikutipkan di sini karena pendek dan simpel:

Epistola Apostolorurn( Iman)

Kepada Tuhan Ayah yang Maha Besar; Kepada Yesus Kristus, Juru Selamat kita; Dan kepada Roh, yang Kudus, dan Paraclete; Gereja yang Suci; Pengampunan dosa.28

Bandingkan ini dengan Kredo Nicea yang sangat bertele-tele dari abad keempat:
Saya iman kepada satu Tuhan Ayah yang maha Besar, Pencipta langit dan bumi, Dan segala sesuatu yang terlihat dan tak terlihat: Dan kepada satu Tuhan Yesus Kristus,

Anak laki-laki Tuhan satu-satunya yang diperanakkan, Lahir dari Ayahnya Sebelum alam seluruhnya, Tuhannya Tuhan,  Cahayanya Cahaya,

Tuhan yang sebenarnya dari Tuhan yang sebenarnya,  Diperanakkan, tidak dibuat, Satu Zat yang sama dengan Ayah,

Yang oleh-Nya segala sesuatu diciptakan:  Untuk kita manusia, dan untuk keselamatan kita
la turun dari langit, Dan menjelma lewat Roh Kudus  dan Perawan Suci Mary, Dan diciptakan sebagai lelaki,  Dan disalib juga untuk kita di bawah pemerintahan Pontius Pilate.
la
menderita dan dikebumikan,

Dan menurut Kitab Suci bangkit kembali pada hari ketiga,  Dan naik ke langit Dan duduk di sebelah kanan Ayah. Dan ia akan datang lagi dengan kebesaran Untuk menghakimi yang hidup dan yang mati:  Yang kerajaannya akan abadi.

Dan saya iman kepada Roh Kudus,  Tuhan dan pemberi hidup,

Yang berasal dari Ayah dan Anak, Yang bersama-sama dengan Ayah dan Anak disembah dan diagungkan,
Yang berkata lewat Nabi-nabi.

Dan saya iman kepada satu Gereja Katolik dan Apostolik,  Saya mengakui satu Pembaptisan Untuk penghapusan dosa.

Dan saya mencari Kebangkitan dari mati, Dan kehidupan yang akan datang. Amin.29

Kedua kredo yang sangat jauh berbeda ini membuktikan bahwa Yesus tak pernah benar-benar mendefinisikan risalahnya, atau bahwa risalahnya telah mengalami distorsi yang sangat luar biasa dalam berbagai cara, sebab jika tidak, sebuah pernyataan keimanan yang simpel itu tidak akan mengembang menjadi pidato yang bertele-tele. Kredo yang terawal itu tak mencakup referensi apa pun tentang Trinitas, sementara Kredo Nicea mencakup Anak Tuhan (Son of God), Tuhannya Tuhan (God of God), dan Diperanakkan (Begotten), yang kesemuanya itu membuktikan berubah-ubahnya kepercaya­an-kepercayaan Kristen mengenai Yesus pada masa-masa pertumbuhan Kristen.

3. Beberapa Implikasi Terminologi ‘Kristeni’ pada Masa-masa Awal

Kenyataannya, istilah ‘Kristiani’ itu tampak hanyalah merupakan bikinan dari propaganda Roma, sebab pada masa-masa awal,

nama ‘Kristen’ itu diasosiasikan dengan segala macam kejahatan yang menjijikkan – hal ini juga merupakan ciri-ciri umum propaganda politis, dan pengarang 1 Petrus… mengingatkan para pembacanya agar jangan sekali-sekali menderita karena hal-hal yang menurut khalayak ramai diimplikasikan atas nama ‘Kristen’ (4:15), misalnya seperti “pembunuh, pencuri, pelaku kejelekan, atau pelaku kejahatan.”30

Gereja masa awal sibuk dengan memerangi sebutan umum ‘Kristen’ ini, yang dalam anggapan bangsa Romawi adalah sama dengan sebuah perkembangbiakan kejahatan-kejahatan. Kajian terhadap asal-usul terminologi ini mengimplikasikan bahwa bangsa Romawilah, dan bukan orang-orang Kristen generasi awal, yang berkeinginan kuat untuk membedakan para pengikut agama baru ini dari tradisi Israel kuno.31

B. Penyiksaan Orang-orang Kristen Awal

Sementara agama Yahudi dipandang sebagai gangguan, upaya-upayanya yang sporadis untuk meraih kemerdekaan politis pun ditumpas habis-habisan, meskipun ada sedikit toleransi dari bangsa Romawi terhadap upaya-upaya yang tidak membangkitkan perlawanan. Orang-orang Kristen mengalami nasib yang lain, karena mereka menyatakan kesetiaan kepada Kaisar, tetapi pada waktu yang sama “tidak berpartisipasi dalam peribadatan di rumah-rumah ibadah tuhan-tuhan (Romawi), dan-oleh karenanya-dituduh sebagai ateis.”32 Sudah barang tentu penyiksaan imperial dan publik merupakan hal yang tak terhindarkan lagi. Bahkan golongan-golongan intelektual mengejek agama Kristen sebagai takhayul atau khurafat. Orang-orang Krtisten dianggap sebagai ancaman terhadap pandangan hidup Yunani-Romawi (Greco-Roman), karena mereka memisahkan diri dari masyarakat lainnya, dan utamanya mereka melaksanakan ibadah secara rahasia, “ada laporan beredar bahwa di dalam biara mereka melakukan praktik permesuman seksual”.33 Tetapi, agama Kristen telah menyebar di sebagian besar provinsi-provinsi Imperium Romawi pada pertengahan abad ke-3, meskipun penyiksaan lokal yang berulang-ulang dan antagonisme yang meluas dari khalayak ramai.

Akhirnya, penyiksaan lokal mencapai puncaknya dalam kebijakan kekaisaran. Imperium Romawi tengah mengalami kemunduran secara nyata pada paruh kedua abad ke-3, dan untuk mengimbangi kenyataan ini maklumat kekaisaran pada tahum 249 memerintahkan seluruh bangsa taklukkan Romawi untuk berkorban demi tuhan-tuhan (Romawi). Kebijakan-kebijakan keras diterapkan kepada orang-orang Kristen, yang menolak menaati maklumat ini, sampai pada tingkat di mana seluruh orang yang menghadiri Misa di gereja diancam dengan hukuman mati.

Ditangkapnya Kaisar Valerian oleh bangsa Persia pada 260 berakhirlah rangkaian penyiksaan-penyiksaan ini, dan untuk empat dekade berikutnya gereja mengalami perkembangan cukup pesat. Akan tetapi, pada tahun 303 pengekangan terjadi lagi, dengan tingkat yang lebih parah dari pada yang dialami orang-orang Kristen sebelumnya. Beratus-ratus, jika tidak beribu-ribu, orang binasa. Masuknya Constantine, seorang calon pewaris takhta, ke agama Kristen telah menyelamatkan toleransi Romawi pada tahun 313 dan menggalakkan penyebaran agama Kristen dengan cepat sekali.34

C. Praktik-Praktik dan Kepercayaan pada Awal Kristen dan Berikutnya

Ketidakjelasan mengenai ajaran-ajaran Yesus yang terpatri, ditambah dengan penyiksaan terus-menerus terhadap orang-orang Kristen sampai awal abad ke-4, telah mengakibatkan beragamnya praktik-praktik keagamaan di bawah bendera Kristen. Ehrman berkata:

Tentu saja terdapat orang-orang Kristen yang percaya kepada satu Tuhan; bagaimana pun juga yang lainnya percaya kepada dua Tuhan; dan yang lainnya lagi menyembah 30 tuhan, atau 365, atau lebih… Sebagian orang Kristen meyakini bahwa Kristus adalah manusia dan Tuhan sekaligus; yang lainnya mengatakan bahwa ia seorang rnanusia, bukan Tuhan; yang lainnya lagi mengklaim bahwa ia adalah Tuhan, bukan manusia; yang lainnya lagi bersikeras bahwa ia seorang manusia penjelmaan Tuhan untuk sementara waktu. Sebagian orang Kristen meyakini bahwa kematian Kristus telah mengantarkan keselamatan dunia; yang lainnya mengklaim bahwa kematian ini tidak ada pengaruhnya terhadap kese­lamatan; sementara yang lainnya lagi menganggap bahwa la tak pernah mati.35

Q, koleksi asli ajaran-ajaran Yesus, telah lenyap dibanjiri dengan pe­ngaruh-pengaruh lain yang bersaing pada saat agama baru itu masih dalam taraf perkembangannya.36 Teks-teks yang muncul di kalangan-kalangan Kristen berikutnya, dalam rangka mengisi kekosongan ini, mulai mendapat status sebagai Kitab Suci. Sementara di tengah-tengah kerisauan dalam usaha menemukan basis teologis bagi keyakinan-keyakinan mereka kepada Kitab-kitab Suci, berhagai macam sekte-dengan pandangan yang sangat berbeda-beda tentang kehidupan Yesus Kristus-memainkan peran masing-masing dalam memperbaiki dan membentuk teks, dengan tujuan untuk mencapai pandangan khusus teologisnya sendiri.

Gereja Ortodoks, sebagai sebuah sekte yang akhimya menjadi dominan di atas sekte-sekte yang lain, menentang keras berbagai ide (bid’ah) yang waktu itu tengah beredar. Ide-ide tersebut meliputi Adopsionisme (ide bahwa Yesus bukanlah Tuhan, tapi seorang manusia); Dosetisme (pandangan sebalik­nya, bahwa Yesus adalah Tuhan dan bukan manusia); dan Separasionisme (bahwa elemen ketuhanan dan kemanusiaan Yesus adalah dua zat yang berbeda). Dalam setiap kasus, sekte yang kemudian tumbuh menjadi Gereja Ortodoks ini, secara sengaja telah mengubah Kitab Suci agar mencerminkan pandangan-pandangan teologisnya sendiri tentang Yesus Kristus, dan sekaligus menghapus pandangan-pandangan teologis rivalnya.37

D. Kesimpulan

Perhatikan poin-poin ini: bahwa para murid Yesus, menurut Alkitab, kualitasnya tak pasti; bahwa Q, Injil Yesus yang asli, telah tersaingi oleh ide­ide yang lain dalam tahap-tahap Kristen yang paling awal; bahwa sebuah pernyataan iman yang simpel, karena tidak-adanya kredo yang pasti, telah menggelembung dan mencakup pandangan-pandangan teologis baru yang berkembang pada berabad-abad kemudian; bahwa keragaman pendapat yang demikian besar mengenai tabiat Ketuhanan (Godhead) telah berakibat pada perubahan teks-teks yang ada demi tujuan-tujuan teologis; dan bahwa, di atas kekacaubalauan teologis ini, tiga abad pertama dari sejarah Kristen dipenuhi dengan penyiksaan. Suatu atmosfer yang begitu sangat berubah-ubah ini tidak mungkin kondusif bagi transmisi dan perneliharaan Kitab Suci Kristen.

22. Schweitzer, hlm. 16. Cetakan miring ditambahkan.
23. Ibid, hlm. 16-18.

24. AI-Qur’an 3: 48-9.

25. Helmut Koester, “Historic Mistakes Haunt the Relationship of Christianity and Judaism”, Biblical Archaeology Review, vol. 21, no. 2, Mar/Apr 1995, hlm. 26. Koester, seorang pastor gereja Luther, adalah Profesor John Morrison untuk studi PB dan professor Winn untuk Sejarah Gereja pada Harvard Divinity School.

26. The Oxford Companion to the Bible, hlm. 360.

27. F.J. Badcock, The History of the Creeds, edisi ke-2, London, 1938, hlm. 24.

28. Ibid, hlm. 24.

29. Ibid, hlm. 220-1. Badcock mencetak miring perbedaan-perbedaan dari teks Yunani.
30. Dictionary of the Bible, hlm. 138.

31. Dalam faktanya, gereja masa awal cukup senang menyebut agama baru itu hanya sebagai Jalan, seperti dalam `Jalan Tuhan,’ `Jalan Kebenaran,’ ‘Jalan Keselamatan,’ dan `Jalan Kesalehan.’ lihat Dictionary of the Bible, hlm. 1391

32. K.S. Latourette, Christianity through the Ages, Harper & Row, Publishers, New York, 1965, hlm. 32; cetakan miring ditambahkan.

33. Ibid, hlm. 35.

34. Ibid, hlm. 32-36.

35. Bart D. Ehrman, The Orthodox Corruption of Scripture, Oxford Univ. Press, 1993, hlm. 3. Selanjutnya disebut The Orthodox Corruption of Scripture.

36. Burton L. Mack, The lost Gospel: The Book of Q & Christian Origins, Harper San Fransisco, 1993, hlm. 1 . Inisial Q berasal dari bahasa Jerman Quelle, yang berarti sumber. Penjelasan yang Iebih detail akan dibuat pada Pasal 17.

37. The Orthodox Corruption of Scripture, hlm. xii.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 68 other followers

%d bloggers like this: