MEMBANGUN KHAZANAH ILMU DAN PENDIDIKAN

Belajar itu adalah perobahan …….

Thailand mengukir sejarah berdarah……….

Posted by Bustamam Ismail on May 20, 2010

BANGKOK -Pembangkangan dan kebulatan tekad berpadu dengan keputusasaan, kekecewaan, dan  perasaan frustrasi. Semuanya tampak sekaligus di wajah Dr Weang Tojirakarn, Selasa (18/5) kemarin. Pria yang berprofesi sebagai dokter medis itu selama dua bulan terakhir termasuk salah seorang pemimpin massa Kaus Merah.

Bersama dengan sekelompok individu yang punya pemikiran sama, mereka gigih berdemonstrasi untuk menuntut mundurnya pemerintahan Perdana Menteri (PM) Abhisit Vejjajiva. Sebelumnya, mereka pantang menyerah meski, sejak unjuk rasa Kaus Merah pada 12 Maret lalu, 65 rekan mereka tewas dan ratusan lain luka dalam bentrok dengan tentara dan pasukan keamanan pemerintah (korban tewas sebenarnya berjumlah 67 orang; dua korban tewas lain adalah tentara Thailand dan kamerawan Reuters, Red)

Dari jumlah itu, 36 di antaranya tewas dalam bentrok dengan tentara Thailand sejak 13 Mei lalu. Salah seorang korban tewas adalah Mayjen Khattiya Sawasdipol alias Seh Daeng. Tentara pembangkang yang belakangan memimpin massa Kaus Merah itu tewas Senin (17/5) lalu, setelah ditembak di bagian kepala oleh penembak jitu (sniper) pada 13 Mei lalu. Putrinya, Khattiyaa, bertekad untuk melanjutkan perjuangan sang ayah bersama massa Kaus Merah lainnya.

Diwawancarai di tempat perlindungan atau kemah Kaus Merah di Ratchadumri Road sore kemarin, Dr Weang mengawalinya dengan menunjukkan gambar-gambar dari surat kabar yang memperlihatkan sejumlah koleganya terluka akibat tembakan senjata. “Hanya ada dua hukum yang harus dipilih, yakni perang atau damai. Pilihannya tentu terserah pada pemerintah,” katanya.
Dia bertutur, pemerintah memulai “perang” dengan menggunakan peluru “hidup” dan bertindak brutal. Akibatnya, korban di pihak Kaus Merah terus  berjatuhan. Meski begitu, kata dia, Kaus Merah tetap membangkang dan menunggu pergerakan tentara. “Silakan datang kemari (kemah Kaus Merah, Red) dan bunuh kami – kami siap menghadapi,” ungkap Dr Weang. “Darah kolega kami akan membasahi tangan mereka yang jelas bertanggung jawab atas brutalitas terhadap rakyatnya,” lanjutnya.

Mengapa mau berkorban? Apa yang diinginkan Kaus Merah? Menurut Dr Weang, mereka memilih perdamaian. Sebab, mereka tidak mampu menandingi senjata dan peluru. Dia lantas membeber tuntutan Kaus Merah. Yakni, penegakan lagi konstitusi (UU) 1997 dan kembali pada aturan hukum. “Keduanya menjadi prinsip dasar demokrasi yang sejati,” tegas Dr Weang.
Sejauh ini, belum ada sinyal soal kemungkinan kompromi. Suasananya buntu. Meski Kaus Merah dan pemerintah agaknya mau negosiasi, kondisinya tak memungkinkan. Kedua pihak tetap berbeda sikap

Pemerintahan PM Abhisit ingin para demonstran membubarkan diri sebelum ada negosiasi. Tetapi, Kaus Merah menuntut agar tentara ditarik dari jalan (sehingga mereka  bisa bergerak bebas) sebelum ada negosiasi.

Tadi malam, ada setitik harapan. Senat Thailand mengirimkan wakil mereka ke kemah Kaus Merah untuk mengupayakan negosiasi dengan pemerintah. Dr. Weang mengaku berharap banyak pada upaya tersebut. Dia juga menyatakan sangat percaya dengan inisiatif Senat Thailand.
Menurut Dr Weang, pihaknya menetapkan syarat. Salah satu yang penting, di meja perundingan Senat harus menjadi saksi bagi negosiasi tersebut. Lantas, syarat lainnya adalah tentara harus ditarik. “Setelah negosiasi berhasil, kami akan membubarkan diri. Tidak sebelumnya,” tegasnya.
Sementara itu, para pejabat pemerintah Thailand mengritik proposal negosiasi yang ditawarkan sebuah kelompok yang terdiri 64 senator di majelis tinggi. Majelis tersebut beranggotakan 150 senator. Dalam proposal itu, para senator menawarkan diri untuk memediasi pembicaraan damai dengan didahului gencatan senjata.

Menurut Satit Wongnongtaey, pejabat menteri di kantor perdana menteriThailand, pembicaraan damai hanya bisa terjadi jika Kaus Merah mengakhiri unjuk rasa dan membubarkan diri dari jalan. “Hanya itu (negosiasi) yang akan pemerintah lakukan kalau demonstransi berakhir,” tegasnya dalam pernyataan di televisi tadi malam.

Karena tidak ada titik temu itu, bentrok kembali meletus di Kota Bangkok. Suara tembakan senjata terdengar beberapa kali di Distrik Din Daeng, bagian utara dari kawasan perbelanjaan utama Bangkok, yang telah diduduki Kaus Merah selama enam pekan. Sebaliknya, demonstran membakar ban bekas dan melemparkan bom molotov ke arah tentara.

Belum ada laporan tambahan korban jiwa kemarin. Intensitas kekerasan juga tak setinggi sebelumnya. (jpnn/AFP/Rtr/AP/dwi)

One Response to “Thailand mengukir sejarah berdarah……….”

  1. budies said

    semoga cepat terselesaikan krisis politik di negeri gajah putih ini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: