MEMBANGUN KHAZANAH ILMU DAN PENDIDIKAN

Belajar itu adalah perobahan …….

PERJANJIAN LAMA DAN PERUBAHANNYA (bagian ke empat)

Posted by Bustamam Ismail on May 11, 2010

A. Kebangkitan Yahudi: Sebuah Warisan dari Kemajuan Sastra Islam

1.Pembubuhan Titik dan Pemberian Suara Dipengaruhi oleh Kesuksesan Islam

Dalam hal pemberian suara (vokalisasi)…tidak terdapat tradisi tertulis apa pun tentang simbol-simbol (yakni, tanda-tanda pengenal, diakritik, atau pembubuhan titik, `pointing;) untuk menunjukkan pelafalan atau intonasi dari sebuah teks. Kapan pembubuhan titik bermula atau berasal dari mana, tidaklah diketahui.90

Klaim-klaim awal bahwa hal (pointing dan vokalisasi) ini telah ditemukan pada abad ke-5 M. kini telah terbantahkan. Mencermati bahwa Talmud Babilonia tidak mengandung referensi apa pun mengenai pointing, Bruno Chiesa menempatkan tarikh penemuan itu terjadi antara 650-750 M. Namun dalam hal ini dia berasumsi bahwa Talmud Babilonia disempurnakan pada sekitar tahun 600, yang berarti menjadi sedikit Iebih daripada perkiraan pribadi, dan apa yang henar-benar bisa dia simpulkun hunyalah bahwa pointing bermula setelah itu, dan tidak rentang waktu yang pasti. Memang, Dictionary of the Bible mengusulkan tahun 500, namun Neusner menegaskan bahwa pengeditan final (Talmud Babilonia) yang hanya empat bagiannya saja (dari enam) diselesaikan ± 700. Oleh karena itu, mendasarkan permulaan pointing pada penyelesaian Talmud Babilonia tidak bisa diharapkan. Moshe Goshen-Gottstein,

Mengasumsikan suatu waktu di sekitar tahun 700 M. sebagai satu-satunya yang memungkinkan bisa diterima akal. Dia yakin bahwa penciptaan tanda-tanda vowel dan aksen pada dasarnya telah dipengaruhi oleh penaklukan-penaklukan Islam yang dikhawatirkan akan mengancam lenyapnya tradisi pembacaan liturgis yang tepat.91

Tampaknya lucu dan janggal, bahwa vowel-vowel itu diciptakan sebagai sebuah reaksi terhadap ancaman invasi Islam; yang jauh lebih memungkinkan adalah bahwa vowel-vowel itu diciptakan berdasarkan pada sistem vowel bahasa Arab, yang sedang mendapat pengakuan luas pada waktu itu sebagai akibat penyebaran Islam itu sendiri.

Akhirnya mulai abad ketujuh Masehi sebuah sistem tanda-tanda vowel yang ditulis di atas dan di bawah huruf-huruf konsonan diadopsi, barang­kali mencontoh penggunaan bahasa Suryani. Sistem ini dalam istilah teknis Yahudi disebut “pointing92

Saya telah memerinci masalah ini secara panjang lebar dalam Bab 10.93 Meski pun terdapat sebuah universitas yang aktif di Nisibis, bersama-sama dengan kolej-kolej dan biara-biara yang didirikan sejak 450 M., bangsa Suria tidak berhasil menciptakan tanda-tanda diakritik hingga tahun 700 M. Lebih dari itu, Hunain bin Ishaq (194-260 H./810-873 M.), bapak tata bahasa Suryani, adalah seorang siswa dari salah satu murid-murid seorang tata bahasa Arab kondang al-Khalil bin Ahmad al-Frahidi (100-170 H./718-786 M.). Silsilah yang demikian telanjang ini menunjukkan bahwa pointing adalah merupakan ciptaan orang Muslim yang diadopsi oleh bangsa Suria, dan dari mereka, bangsa Yahudi.

Tanggal penyertaan vowel-vowel pada huruf-huruf konsonan teks Ibrani itu hanya bisa ditcntukan dalam batas-batas yang sangat longgar. liaik Talmud (± 500 M.) maupun Jerome (420 M.) tidak mengenal apa pun tentang vokalisasi. C.D. Ginsburg mengatakan bahwa pengenalan tantla­tanda penulisan terjadi pada ± 650-680 M. dan bahwa karya para tokoh Masorah selesai sekitar 700 M.94

Meskipun saya masih punya keberatan-keberatan tertentu akan keakuratan tanggal-tanggal ini, saya mesti catat dan tegaskan di sini bahwa tanggal tanggal tersebut (sebagaimana diusulkan) adalah benar-benar bertepatan dengan kemunculan Islam. Betapa pun demikian, sebagian besar perhatian kita masih tertumpu pada akurasi sistem pointing ini sebab,

Rentang waktu lebih dari satu milenium memisahkan tokoh-tokoh Masorah Tiberia dari masa-masa ketika Ibrani merupakan sebuah bahasa nasional yang hidup dan sama-sama merupakan suatu kemungkinan juga bahwa pelafalan Ibrani telah mengalami beberapa perubahan dalam masa interval ini, terutama mengingat bahwa bahasa Ibrani waktu itu ditulis tanpa vowel… Oleh karena itu, tampaknya perlu mengandaikan adanya sejumlah bentuk-bentuk artifisial yang cukup dalam sistem Tiberia itu, yang berkaitan dengan keinginan para tokoh Masorah untuk membuat pelafalan yang benar yang membuat mereka rentan terhadap pengaruh­pengaruh luar, seperti filologi Suryani dan Islam.95

2. Aktivitas Masoretik Maju di Barat di Bawah Pengaruh Islam

Aktivitas Masoretik maju lagi di Barat dalam periode 780-930 M., karena dirangsang oleh pengaruh Karaite… Sebuah sistem Tiberia baru diciptakan, berdasarkan pada pengalaman sistem Palestina, yang menggabungkan sistem aksen dengan suatu cara menunjukkan nuansa-nuansa yang lebih baik, dan dapat mewakili pelafalan dan intonasi teks biblikal secara rinci dan detail.96

Jika gerakan Karaite,97 sebuah sekte yang timbul di bawah bayangan Peradaban Islam dan pengaruhnya, merupakan stimulus bagi terciptanya sistem Tiberia ini, kita dapat simpulkan bahwa seluruh ide itu berasal dari praktik­praktik sastra Islam. Penggunaan tanda-tanda diakritikal yang terperinci dalam AI-Qur’an (untuk mewakili intonasi yang benar dari setiap kata) sesungguhnya mendahului timbulnya sistem Tiberia ini lebih seratus tahun.98

3. Talmud dan Pengaruh Islam

Tiga belas abad setelah Exodus (keluaran), literatur rabbinikal berusaha keras ttntuk tnemenuhi kebutuhan akan adanya sebuah penjelasan Kitab Suci dan sekaligus berupaya untuk mengeliminasi kekacauan yang sangat yang timbul akibat banyaknya Misynah yang beredar. Pada akhirnya redaksinya Rabbi Yehuda ha-Nasi, ± 200 M., (sebagaimana yang diubah lebih lanjut oleh para muridnya dan beberapa orang yang tak dikenal) yang menggantikan seluruh koleksi yang lain.99 Talmud pada intinya mengandung Misynah ini, ditambah dengan komentar dan penjelasan lebih lanjut.

Dari sini Talmud dianggap, paling tidak oleh orang-orang Yahudi ortodoks, sebagai otoritas yang tertinggi dalam semua masalah keimanan :.. Komentar-komentar dan penjelasan-penjelasan itu menerangkan apa-apa yang dimaksudkan Kitab Suci, dan tanpa penjelasan resmi ini pesan­pesan Kitab Suci akan kehilangan banyak nilai praktisnya bagi bangsa Yahudi … Maka, tidaklah berlebihan jika dikatakan bahwa Talmud mempunyai otoritas yang sepadan dengan Kitab Suci dalam Judaisme ortodoks.100

Ada dua Talmud yang berhasil dihimpun, Palestina dan Babilonia (yang mendapat kedudukan lebih besar), akan tetapi tanggal penyelesaiannya yang pasti masih sangat diperdebatkan.101 Paling tidak terdapat empat tarikh yang berbeda, 400, 500, 600, dan 700 M., sebagai tanggal disempurnakannya Babylonian Talmud, yang (jika menunjukkan sesuatu) berarti tidak adanya kepastian dan bukti, meski pun jika tarikh yang diherikan Neusner benar maka penyelesaian editing final ini terjadi pada masa Irak Islam dengan bantuan fiqih. Pada kenyataannya komentar dan penjelasan tentang Misynah ini terjadi terus-menerus dan berkelanjutan-sebuah proses yang bahkan pada abad ke-13 M. pun belum berhenti-dengan kultur Islam yang tampaknya memainkan peran yang sangat dominan dalam upaya Yahudi ini. Dalam kata-kata Danby:

Untuk beberapa abad setelah penaklukan Islam, Babilonia senantiasa men­jadi pusat utama pendidikan rabbinikal… Kontak dengan ulama-ulama Arab dalam batas tertentu berfungsi sebagai sebuah penyegaran stimulus, dan abad kesembilan dan kesepuluh menyaksikan permulaan studi filologi dan gramatikal tentang literatur Ibrani; dan Hai Gaon merupakan orang yang paling awal membuat komentar tentang Misynah yang masih ada sampai sekarang … Dia hampir secara keseluruhan mengupas, problem-problem bahasa, dan dalam pencariannya untuk derivasi kata kata yang kabur dia lebih banyak merujuk dan menggunakan bahasa Arab. 102
Maimonides (1135-1204), Salah satu tokoh besar Abad Pertengahan, menulis pada awal masa dewasanya sebuah pendahuluan dan komentar bagi seluruh Misynah. Hal ini ditulis dalam bahasa Arab dengan judul Kitab es-Siraj, `The Book of the Lamp’… Tidak puas dengan penjelasan mendetail dia berusaha untuk menyuguhkan kepada para pembaca prinsip-prinsip umum yang menentukan pokok bahasan, dengan begitu dia membuang salah satu kesulitan-kesulitan utama dalam memahami Misynah. 103

Mengintisarikan prinsip-prinsip umum (general principles) yang berhubungan dengan sebuah subjek adalah menggunakan Usul al-Fiqh (Prinsip­prinsip Fiqih). Ini adalah merupakan metodologi Islam yang sudah mapan untuk kajian-kajian keagamaan, yang jelas jelas sekali Maimonides mencocok­cocokkannya. Dari beberapa contoh ini kita jadi menyadari besarnya perbedaan antara apa yang diduga-duga sarjana-sarjana Barat dan apa yang, dalam kenyataannya, sebenarnya terjadi: orang-orang Islam sering dituduh meminjam tanpa malu-malu dari orang-orang Kristen dan Yahudi, dan bahkan Nabi Muhammad, ketika tidak dituduh `mencuri’ dari sumber-sumber Biblikal, dikatakan sebagai seorang tokoh pengkhayal yang berpegangan pada prototipe Rabbinikal. Pada kenyataannya, orang-orang Yahudi dan Kristen kedua-dua­nya mengambil manfaat yang sangat besar dari kemajuan-kemajuan metodologi dan budaya Islam, memanfaatkannya untuk mengilhami pencapaian­pencapaian masa depan mereka.

B. Menentukan Tarikh untuk sebuah Teks PL yang Tetap dan Otoritatif

1. Qumran dan skrol-skrol Laut Mati: Pandangan Barat

Tentu saja peristiwa biblikal yang paling signifikan akhir-akhir ini adalah penemuan manuskrip-manuskrip di Qumran dan Wadi Murabba’at, dekat Laut Mati, yang bermula pada tahun 1947. Beberapa abad lebih tua daripada material yang sebelumnya dimiliki para sarjana, dan berasal dari suatu era di mana tiada satu pun bentuk teks yang dianggap otoritatif secara absolut, manuskrip-manuskrip ini telah menimbulkan sebuah kegila-gilaan minat.104 Kemajuan pun telah dicapai, yang cukup memuaskan sebagian besar sarjana biblikal, mengenai otentisitas dan usia dokumen-dokumen ini. Gua Qumran dikaitkan erat dengan permukiman Khirbet Qumran yang diratakan-tanah tahun 68 M. pada waktu pemberontakan Yahudi Pertama, dan penelitian arkeologis tentang barang-barang peninggalan (relics) yang didapatkan di dalam gua secara umum menunjukkan periode ini; misalnya, sepotong linen yang dites menggunakan Carbon-14 menunjukkan tarikh antara 167 S.M. dan 233 M. Penggalian-penggalian di tempat itu menyimpulkan sebuah tarikh yang paling memungkinkan bahwa manuskrip-manuskrip di Qumran ditempatkan pada masa pemberontakan Yahudi Pertama ini, 66-70 M.105

Rangkaian gua yang kedua, di Wadi Murabba’at, memiliki sejarahnya tersendiri. Kisah ini bermula pada musim gugur 1951, ketika orang-orang Badui menemukan empat gua di sebuah kawasan hampir dua puluh kilometer sebelah selatan Qumran. Penggalian berikutnya mengungkapkan, “Gua-gua itu dihuni beberapa kali dari tahun 4000 S.M. sampai periode Arab.” 106 Beberapa dari dokumen-dokumen yang ditemukan di dalamnya mengindikasikan bahwa gua-gua ini berfungsi sebagai tempat perlindungan para pemberontak selama pemberontakan Yahudi Kedua. Penggalan-penggalan skrol PL ditemukan di sini juga, walaupun tulisannya lebih maju daripada yang ditemukan di Qumran; sebetulnya, teks di dalam skrol-skrol ini sangat sama dengan teks Masora (yakni, tipe teks yang pada akhirnya telah menggantikan seluruh teks yang lain dan membentuk dasar bagi PL. seperti yang ada sekarang ini).107 Konsensus Barat menetapkan bahwa manuskrip-manuskrip ini “dapat ditentukan tarikh­nya dengan pasti pada masa [pemberontakan Yahudi Kedua] (132-135 M.)”.108 Di antara penemuan-penemuan itu terdapat juga skrol Nabi-Nabi Minor yang bertarikh (menurut J.T. Milik) dart abad kedua M., walaupun tulisannya begitu maju yang bahkan “mengandung kesamaan-kesamaan yang mencolok dengan tulisan manuskrip-manuskrip abad pertengahan… Teks itu hampir sepenuhnya sama dengan [tipe teks Masora], yang berarti bahwa sebuah teks standar yang otoritatif telah ada pada paruh pertama abad kedua Masehi.”109

Setelah memaparkan keterangan-keterangan Wurthwein sendiri yang kontradiktif, di mana dia selalu berpindah-pindah dari menyatakan skrol-skrol Wadi Murabba’at sebagai otoritatif sampai menegaskan bahwa tak ada satu pun teks otoritatif sampai abad ke-10 M., dalam bagian berikut ini saya akan memfokuskan argumen-argumen saya yang membantah termina datum110 Qumran dan Wadi Murabba’at, dengan menyuguhkan bukti yang perlu.

2. Pendapat Tandingan: Termina Datum Qumran dan Gua-gua Lainnya Salah

Sarjana-sarjana Barat mengklaim bahwa ketika penggalan-penggalan yang ditemukan itu bertentangan dengan teks Masora, maka penggalan­penggalan itu pasti telah ditempatkan di Qumran sebelum pemberontakan Yahudi Pertama (66-70 M.), karena masa tersebut adalah masa dihancurkannya kota dekat Khirbet Qumran oleh serdadu Roma. Penggalan-penggalan yang sepakat dengan teks Masora berasal dari gua di Wad! Murabba’at, yang telah disegel setelah pemberontakan (Yahudi Kedua) Bar Kochba pada tahun 135 M. dengan demikian implikasinya adalah bahwa teks PL distandardisasikan pada waktu tertentu antara 70-135 M.

Tetapi masalahnya dasar kesimpulan ini sendiri adalah salah, sebagai­mana yang bisa kita cerna dari dua poin berikut:

Gua-gua itu selalu terbuka dan gampang dijamah (accessible), karena alasan yang cukup jelas bahwa seorang anak muda Badui menemukan skrol-skrol itu tanpa penggalian apa pun. Badui ini, Muhammad Dhi’b, waktu itu berusia lima belas tahun dan boleh jadi seorang penggembala atau penyelundup yang sedang mencari-cari dombanya yang hilang atau sedang berlindung dari hujan. Setelah beberapa temannya bergabung, ekplorasi sambil lalu ini menghasilkan sosok Skrul-skrol Laut Mati; mereka sama sekali tak menggunakan sekop atau kapak (apalagi alat pcrlengkapan yang sophisticated), akan tetapi cukup dengan tangan mereka saja dan mereka mendatangi gua itu lebih dari sekali untuk mendapatkan seluruh kertas-kertas (kulit) itu. Bahkan boleh jadi mereka masuk ke gua itu telanjang kaki. Meski pun gua-gua itu menurut dugaan telah disegel 135 M., hat ini sama sekali tidak mengimplikasikan bahwa tempat ini sulit atau tidak dapat dijamah, mengingat betapa mudah dan kebetulannya skrol-skrol itu ditemukan. Berdasarkan pertimbangan ini dapat kita simpulkan bahwa skrol-skrol itu boleh jadi telah ditempatkan kapan saja, dan bahwa terminum datum 135 M. yang diasumsikan111 tidak punya legitimasi.

H. Shanks dalam review-nya terhadap buku Discoveries in the Judaean Desert, 112 menulis bahwa dua orang dari para pengarangnya (Cross dan Davila) berkeyakinan bahwa salah satu dari penggalan-penggalan Kitab Kejadian yang mereka teliti berasal, bukan dari Qumran seperti yang diinformasikan semula, tapi dari Wadi Murabba’at.

Cross dan Davila mendasarkan kecurigaan mereka tidak hanya pada sebuah analisis paleografis tentang tulisannya, melainkan pada fakta bahwa kulit itu kasar dan dipersiapkan dengan jelek, tidak seperti manuskrip-manuskrip Qumran. Davila menuturkan bahwa Badui itu boleh jadi secara kurang hati-hati telah mencampur-adukkan manuskrip ini dengan penemuan-penemuan (Qumran) mereka. 113

Kecurigaan ini semakin besar akibat sebuah uji-coba Carbon-14 baru baru ini terhadap sebuah artefak (sepotong linen) yang diduga berasal dari Qumran, tetapi yang ternyata tes itu menunjukkan artefak ini berasal dari Wadi Murabba’at, satu hal yang membuat Shanks terheran-heran, “Apa lagi yang dicampur-adukkan Badui itu?”114

Untuk membuktikan secara konklusif skrol mana milik gua mana menjadi sangat sulit. Arkeologi bukanlah ilmu pasti, dalam arti bahwa banyak hal-hal yang bisa dengan mudah ditaf’sirkan dengan tafsiran yang beragam.115.Dan lagi, metode carbon dating (penentuan tanggal menggunakan karbon) yang berbeda jelas-jelas menghasilkan kesimpulan yang berseberangan (kadang sampai hitungan abad), jadi ketepercayaan tes-tes semacam ini tak bisa dijamin.

Namun problem terbesar yang dihadapi seseorang dalam memastikan tanggal gua-gua ini adalah adanya penggalan-penggalan berbahasa Arab yang juga ditemukan dalam gua yang sama di Wadi Murabba’at, atau yang terdekat dengannya (keraguan selalu menyelimuti penggalan-penggalan mana yang berasal dari gua mana). Lebih dari itu, salah satu dari penggalan-penggalan (fragmen) yang berbahasa Arab ini memiliki tanggal Hijriah yang sangat jelas, 327 H. (938 M.; lihat Gambar 15.2).116 Penggalan ini berbunyi:117

Gambar 15.2: Sebuah fragmen berbahasa Arab ditemukan di dalam sebuah gua di Wadi Murabba `at dengan tanggal Hijriah yang jelas, 327H./938 M. Sumber: Eisenman dan Robinson, A Facsimile Edition of the Dead Sea Scrolls, Vol. l, plate No. 294.

Terjemahannya:

Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Penyayang. Saya telah mengumpulkan (penggalan ini) dari para pewaris Abu Ghassan pajak­pajak yang harus dibayar dari harta milik Sanun, berjumlah sepertiga atau seperdelapan dari satu dinar untuk tahun tiga ratus dua puluh tujuh. Ditulis oleh Ibrahim bin Hammaz pada bulan Rabi’ al-Awwal dari tahun yang sama, dan saya bertawakal pada Allah.

Tujuh fragmen berbahasa Arab itu semuanya telah direproduksi dalam Facsimile Edition of the Dead Sea Scrolls; satu-satunya yang tersebut di atas adalah yang paling bisa dibaca dan komplet. Paling tidak lima fragmen herbahasa Arab yang lain, salah satunya termasuk panjang, ditemukan di dalam gua Wadi Murabba’at namun oleh para pengarang (buku tersebut) dianggap tidak sesuai untuk dimasukkan dalam edisi ini, meski pun kelimanya telah direproduksi di tempat yang lain.118

Apa pun penjelasan yang ada tentang frag+nen-fragmen berbahasa Arab ini – bahwa gua-gua itu tak pernah benar-benar disegel, atau disegel tapi di­temukan kembali lebih dari sepuluh abad yang lalu, atau bahwa beberapa bagiannya disegel dan yang lain tidak – kenyataannya adalah bahwa secara pasti tidak satu pun dari fragmen-fragmen PL yang bisa dimasukkan secara definitif ke dalam salah satu dari dua periode emas 66-70 M. dan 132-135 M.119 Hal ini menjelaskan pernyataan J.T. Milik mengenai Skrol Nabi-Nabi Minor, “Bahkan di sana terdapat kesamaan-kesamaan yang mencolok dengan tulisan manuskrip-manuskrip abad pertengahan.”120 Jika fragmen berbahasa Arab dari abad ke-10 M. terletak di dalam gua-gua ini, kiranya apakah yang menghalangi seseorang dari meletakkan fragmen-fragmen PL pada abad mana pun yang mengiringi dan/atau pada abad ke-10 M.? Penggalian-penggalian dari tahun 1950-an telah menyimpulkan bahwa gua-gua ini telah “dihuni berkali-kali dari tahun 4000 S.M. sampai dengan periode Arab”,121 jadi kecuali kalau implikasinya adalah bahwa orang-orang Yahudi seluruhnya memang telah menjauhi gua-gua ini sejak 135 M. sampai abad ke-20), padahal kenyataannya orang-orang Islam abad pertengahan bisa memasukinya, maka premis penentuan tanggal adalah sepenuhnya tak berlaku. Bukti apakah yang dapat menunjukkan bahwa tidak ada seorang Yahudi pun yang masuk ke ,Wadi Murabba’at pada tahun 351, atau 513, atau bahkan 700 M.?122

Assessment permulaan para sarjana, seperti Prof Diver dari Oxford, pada awalnya menentukan tanggal Skrol-Skrol Laut Mati pada abad ke-6/7 M.123 Dan hal ini bukanlah sama sekali suatu fenomena yang tak lazim berlaku: sebuah fragmen Imamat yang diambil dari Qumran, dan ditulis dalam tulisan Ibrani Kuno, telah menimbulkan ketakutan besar di kalangan para sarjana mengenai tanggal asal-usulnya. Beberapa pendapat berkisar antara abad ke-5 sampai pertama S.M., dengan kesepakatan akhir bahwa kemungkinan bisa berasal dari abad pertama M., yang dengan begitu telah memberikan fragmen ini sebuah kelonggaran enam ratus tahun.124 Berdasarkan pada bukti konkret di atas, keyakinan bahwa teks PL telah distandardisasikan antara 70-135 M adalah sepenuhnya tak dapat dipertahankan.

< BACK INDEX NEXT >

90. Ibid, hlm. 21.

91. Ibid, hlm. 21.

92. Ibid, hlm. 22; cetakan miring ditambahkan.

93 Lihat buku ini hlm. 158-161.

94. Dictionary of the Bible, hlm. 972.

95. Wurthwein, hlm. 26-7. Cetakan miring ditambahkan.

96. Ibid, hlm. 24.

97. Menurut Y. Qojman [Qamus `Ibri-`Arabi, Beirut, 1970, hlm. 835] `ini adalah sebuah sekte Yahudi yang hanya percaya pada Taurat dan menolak Talmud.’

98 Bagaimanapun juga, pengaruh Islam pada masyarakat Yahudi tidak terbatas pada beberapa kemajuan seperti ini saja, akan tetapi ia merupakan katalisator bagi suatu kebangkitan yang luar biasa yang menyentuh seluruh aspek budaya Yahudi. Kemajuan peradaban Islam Abad Pertengahan dalam segala hal memfasilitasi evolusinya Yudaisme menjadi budaya religius yang ada dewasa ini. Tradisi­tradisi dan ritual-ritual sinagog, bersama dengan framework hukum yang mengatur kehidupan Yahudi, semuanya distandarisasikan; dasar-dasar pemikiran filosopis Yahudi, termasuk buku Sa’adya yang berjudul Book of Beliefs and Opinions (± 936) dan buku Maimonides yang berjudul Guide to the Perplexed (1190), juga ditulis pada masa ini. Lihat Norman A. Stillman, The Jews of Arab Lands: A History and Source Book. The Jewish Publication Society of America, 1979, hlm. 40-41, di mana pengarang ini menukil sumber-sumber Yahudi yang banyak sekali.

99. Dictionary of the Bible, hlm. 954.

100 Ibid, hlm. 956.

101. Lihat buku ini halaman 276-7.

102. H. Danby (pent.), The Mishnah, Pendahuluan, hlm. xxviii-xxix. Penegasan ditambahkan

103. Ibid, hlm. xxix.

104. Wurthwein, hlm. 31-2.

105. Ibid, hlm. 31.

106. Ibid, hlm. 164.

107. Ibid, him. 31, catatan kaki 56.

108. Ibid, hlm. 31, catatan kaki 56. Saya masih belum mendapatkan alasan di balik “kepastian” ini.

109. Ibid, hlm. 164.

110. Terminal dates’ menandakan titik-titik penghentian yang mana setelahnya tak ada lagi kertas-kertas (kulit) yang ditempatkan di dalam gua-gua ini.

111. Lihat Wurthwein, hlm. 164.

112. E. Ulrich, F.M. Cross, 1.R. Davila, N. Jastram, J.E. Sanderson, E. Tov dan J. Strugnell, Discoveries in the Judacan Desert, Vol. Xll, Qumran Cave 4 – VII: Genesis to Numbers, Clarendon Press, Oxford, 1994.

113. H. Shanks, “Books in Brief“, Biblical Archaeology Review, Sep./Okt. 1995, vol. 21, no. 5, hlm. 6, 8.

114. Ibid, hlm. 8.

115. Sebuah analisis detail mengenai masalah ini, termasuk berlusin-lusin kasus uji-coba, lihat buku saya yang akan terbit Islamic Studies: What Methodology.,

116. R.H. Eisenman dan J.M. Robinson, A Facsimile Edition of the Dead Sea Scrolls, Biblical Archaeology Society, Washington, DC, 1991, Vol. l, plate No. 294. Untuk sampel-sampel lebih lanjut lihat plates Nos. 643-648.

117. Mahmud al-‘ Abidi, Makhtutat al-Bahr al-Mayyit, ‘Amman, Jordan, 1967, hlm. 343.

118. Ibid, hlm. 342-346.

119. Kertas-kertas kulit yang diambil dari Qumran, yang kadang-kadang berbeda secara mencolok dengan teks Masora, ditulis oleh anggota-anggota komunitas ESSENE. Ini adalah golongan biarawan/wati yang berusaha mempraktikkan Yudaisme yang sangat ketat, misalnya meyakini bahwa “isi perut harus tidak melakukan fungsi-fungsi kebiasaannya” pada hari Sabtu (Sabbath). [Dictionary of the Bible, hlm. 268.] Menghilangnya golongan ini pada akhirnya bermakna bahwa seluruh material dari Qumran yang menyusul varian-varian teks yang lebih disukai golongan ESSENE, mesti telah ditulis semasa golongan ini masih hidup. Di sisi lain, teks-teks Wadi Murabba’at kurang lebih serupa dengan satu tipe teks yang masih senantiasa beredar, dan dengan begitu boleh jadi berasal dari suatu masa yang mengiringi abad-abad pertengahan.
120. Lihat Wurthwein, hlm. 164.

121. Ibid, hlm. 164.

122. Hal ini adalah sangat mungkin, karena “beberapa grup Yahudi kemungkinan masih senantiasa tinggal di Palestina selama dalam kekuasaan orang Islam”. [Dictionari of the Bible, hlm 720.]

123. Lihat M. al-‘Abidi, Makhtutat al-Bahr al-Mayyit, hlm. 96-101.

124. Wurthwein, hlm. 160.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: