MEMBANGUN KHAZANAH ILMU DAN PENDIDIKAN

Belajar itu adalah perobahan …….

Masjid sebagai Inspirasi Peradaban

Posted by Bustamam Ismail on April 27, 2010

Dizaman Rasulullah, Masjid memiliki peran sentral di berbagai bidang dalam menciptakan masyarakat yang kokoh dan sejahtera. Di Indonesia kini, pengelolaan Masjid yang kurang baik membuat peran kemasyarakatan masjid sangat minim. Disisi lain masjid terasa asing dan jauh dari masyarakatnya, ditandai dengan jumlah jama’ah sholat yang sedikit. Artikel ini menawarkan beberapa gagasan strategis dan praktis yang dioalah dari pengalaman empiris pengelolaan Masjid Jogokariyan yang terbukti dapat menghadirkan Masjid yang makmur dan menjadi sentral bagi aktivitas masyarakat..

1. Pengertian Masjid.

Masjid dari segi bahasa berasal dari kata” sajada-yasjudu-sujudan” yang berarti patuh, ta’at, tunduk, horamat. Hal ini tergambar dalam gerakan meletakkan dahi, kedua tangan,lutut dan kaki ke Tanah sebagai lambang ketundukan sepenuhnya kepada Allah, Bangunan tempat Ibadah kaum muslimin itu dinamakan” masjid”. Tempat mengekspressikan ketundukan, keta’atan dan penghormatan kepada sang Kholiq.

Dalam Al-Qur’an kata “Masjid” diulang sebanyak 28 kali, hal ini menandakan penting dan strateginya masjid dalam pandangan Allah SWT.

2.Latar belakang Peradaban Masjid.

Sejenak mari kita merenungi dunia kita ini. Kemajuan teknologi ternyata tidak senantiasa seiring dengan kesejahteraan manusia. Sekitar 80% kekayaan dunia hanya dimiliki segeintir orang, sementara manusia lainnya sisanya hanya kecipratan 20% saja. Gedung-gedung megah dan pabrik-pabrik kian sering dibangun, berdampingan dengan gubuk-gubuk kumuh yang dijejali orang. Angka agregat pertumbuhan ekonomi dikejar, namun hanya terakumulasi pada kelompok tertentu, meninggalkan anak-anak penderita busung lapar di mana-mana. Ternyata,Trickle down effect( effect menetes kebawah) dari pembangunan ekonomi sering juga tidak Nampak menjadi kenyataan.

Bukan hanya manusia, bumi pun kian menderita. Kerakusan manusia menyulap gunung menjadi lembah tanpa kehidupan, habitat ikan menjadi panggung kematian, bahkan hutan-hutan mengalami penggurunan. Maka berterima kasihlah kepada Allah masih sekedar mengirimkan pemanasan global yang mengacaukan stabilitas iklim, karena sesungguhnya perilaku manusia sudah sangat layak untuk dihukum lebih berat.

Demikianlah akibatnya ketika manusia menjadikan pasar sebagai landasan peradabannya.Semuanya harus tunduk pada hokum permintaan dan penawaran, ketika manusia diapreasi hanya sekadar sebagai makhluk ekonomi(homo economicus). Semua aktivitas manusia hanya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan dasar. Pada hal yang disebut kebutuhan dasar manusia ala peradaban pasar ini tidak berbatas. Rasulullah Muhammad SAW mengingatkan bahwa jika manusia diberi satu gunung emas, maka ia akan meminta lagi gunung yang lain.

Cara pandang terhadap manusia pun tereduksi. Dalam peradaban pasar, buruh hanyalah factor produksi, bukan makhluk tertinggi yang memiliki hati. Akumulasi capital adalah tujuan hidup. Negara tidak boleh mengatur pasar, justru pasarlah yang menguasai Negara. Maka demokrasi lebih sering menjelma menjadi plutokrasi: kuasa orang-orang kaya. Maka wajarlah jika Negara-negara dunia ketiga semakin tertinggal, karena peradaban pasar ini tidak mmelindungi yang lemah. Agama dan moralitas juga tidak boleh ikut campur dan hanya boleh menjadi urusan pribadi.Kesengsaraan rakyat kita juga karena peradaban pasar, Peradaban pasarlah yang menciptakan keharusan mengatasi(overproduction) di Negara-negara industri awal (Eropah).

Berbeda dengan pedagang-pedagang eropah dari peradaban pasar yang haus darah, para pedagang Islam di Nusantara membebaskan manusia-manusia dari kasta-kasta. Orang-orang yang selama ini dianggap hina tampil percaya diri sebagai manusia seutuhnya, karena Islam menghapuskan penindasan antar golongan. Di Indonesia perlawanan terhadap penjajahan Belanda(repsentasi peradaban pasar) pada masa revolusi juga diawali dari perlawanan” kaum pasar yang telah berada dalam peradaban masjid”, Yaitu serikat dagang Islam(1905) yang diawali dari pembenihan peradaban masjid melalui Jami’at Khaoir(1901)

3. Masjid Kita hari ini: mencari strategi Rejuvenasi.

Jika dahulu mesjid memegang peranan penting dalam menginspirasi kelahiran sebuah bangsa bernama Indonesia, Lantas bagaimana dengan hari ini?. Data menunjukkan bahwa hingga decade pertama abad 21 ini, lebih dari 700.000 Mesjid telah didirikan di Indonesia. Angka ini belum memasukkan jumlah musholla dan langgar yang bertebaran hamper seluruh penjuru. Diantara Masjid itu. Ada beberapa masjid yang merupakan masjid-masjid yang dikategorikan dalam masjid besar  seperti masjid Istiqlal di Jakarta yang dapat menampung 60.000 jama’ah, Masjid at-Tiin di Taman Mini Indonesia Indah yang dapat menampung 70.000 jama’ah dan bahkan dilengkapi dengan balai diklat dan hotel berbintang.

Namun berdasarkan data penelitian dan pengamatan dilapangan, masjid yang sudah dikelola dengan manajemen yang baik belum mencapai 1%. Sebagian besar masjid masih dikelola dengan cara konvensional. Hal ini membuat Masjid-masjid belum optimal berperan sebagai institusi social-keagamaan yang berperan efektif dalam mengembangkan da’wah Islam dan kesejahteraan ummat. Bahkan bisa dikatakan bahwa Masjid-masjid di Indonesia masih kurang optimal fungsinya dan cendrung menjadi beban masyarakat.

Kondisi yang demikian itu secara reflektif digambarkan oleh budayawan Emha Ainun Najib dalam bait-bait puisi berikut:

4. Langkah-langkah Pratis Manajemen Masjid

Dalam bagian akhir ini disampaikan rumusan langkah-langkah praktis untuk mengawali sebuah manajemen Masjid yang baik, yang diharapkan dapat mewujudkan peran Masjid yang optimal sebagai sebuah institusi social-keagamaan. Langkah-langkah ini diambil dari pengalaman empiris mengelola Masjid Jogokariyan dan visi “Jogokariyan Darussalam” Langkah-langkah itu:

a. Menentukan wilayah da’wah masjid

Masjid seharusnya memiliki wilayah territorial yang jelas untuk memastikan tanggungjawab dakwahnya. Dizaman Rasulullah SAW, Nama Mesjid identik dengan wilayah teritorialnya, seperti Masjid Quba, Masjid Bani Salamah dan sebaginya.

b. Melakukan pendataan jama’ah

Masjid sebaiknya memiliki data base jama’ah, meliputi identitas, pekerjaan,tingkat keberagamaan dsb. Sehingga program kegiatan dapat disusun berdasarkan kenyataan actual dan kebutuhan riil dari masyarakat yang menjadi tanggungjawab dakwah masjid tersebut.

c. Menyusun scenario Planing Masjid.

Selama ini sebagian besar manajemen menggunakan pendekatan strategis planning dimulai dari menetapkan visi, misi, program dsb. Tetapi rentra tersebut biasanya sulit diukur tingkat keberhasilannya dalam waktu singkat, sehingga renstra ini lebih banyak bersifat utopis dari pada realistis

d. Mengadakan sosialisai scenario Planing Masjid

Setelah scenario planning tersusun, dilakukan sosialisasi kepada seluruh stakeholder masjid, yaitu seluruh masyarakat dalam wilayah dakwah masjid agar menjadi corncern bersama.

e. Pertanggungjawaban dan evaluasi.

Scara priodik diadakan evaluasi mengenai keadaan yang berkembang. Apakah mengarah pada scenario positif yang diharapkan atau sebaliknya, evaluasi ini dipertanggungjawabkan kepada seluruh jama’ah sebagai bentuk pelibatan langsung masyarakat dalam memikirkan dan memikul tanggungjawab bersama dalam membangun ummat kedepan melalui masjid.

Daftar Pustaka

Al-Qur’an

Gazalba,Sidi, Masjid Pusat Kebudayaan, (Jakarta: Penerbit Bulan Bintang,1978)

Jazir ASP, Muhammad,”Model Manajemen Masjid Jokokariyan” 2009

Nadjib,Emha Ainun “,Sesobek Buku Harian Indonesia” (Yogyakarta:Bentang,1993)

Suryanegara,Ahmad Mansyur,Api Sejarah, Bandung:Salamadani,2009

The Pakistan Development Rerview

Dikutip:Muhammad Jazir ASP disampaikan dalam Pra-Kongres Umat Islam, Majlis Ulama Indonesia, Jakarta,26 April 2010.di edit oleh HBustamam Ismail.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: