MEMBANGUN KHAZANAH ILMU DAN PENDIDIKAN

Belajar itu adalah perobahan …….

Meriwayatkan Hadits melalui Sertifikat Bacaan.

Posted by Bustamam Ismail on April 3, 2010

A.Sertifikat Bacaan

Sebagaimana telah kita bahas sebelumnya, para ilmuwan menghadapi ke­terbatasan mengenai buku yang dapat dianggap sebagai sertifikat bacaan. Dalam peluncuran buku hadith biasanya catatan daftar hadir selalu dipelihara; ditulis oleh guru atau salah seorang ilmuwan terkenal yang mencatat secara detail mengenai seseorang yang pernah mendengar bacaan keseluruhan isi buku, yang hanya mengikuti sebagian, bagian yang mana yang tertinggal, pria, wanita, dan anak-anak (dan juga pembantu rumah baik pria mau pun wanita) yang turut serta, tanggal, lokasi tempat bacaan itu. Siapa yang hadir di bawah usia lima tahun, terdaftar lengkap dengan kelompok usia dan diberi tanda atau kata hadar (telah hadir); jika lebih dari lima tahun maka ia disebut sebagai murid. Sebuah tanda tangan pada bagian belakang buku itu biasanya menandai berakhirnya sertifikat bacaan, menandai tidak adanya tambahan yang boleh dibuat sesudahnya.44 Bagi para muhaddithun ijazah ini disebut tibaq, yaitu sejenis surat izin eksklusif bagi yang namanya terdaftar boleh membaca kembali, mengajar, menyalin, atau mengutip dari buku itu.

Dalam manuskrip tertulis tahun 276 H. (Gambar 12.6) ijazah bacaan ini memuat aneka ragam informasi; perhatikan bahwa mereka yang hadir telah menjadi tambahan tetap judul buku tersendiri.

Gambar 12.6: Jami ‘Ibn Wahb, dengan ijazah bacaan tahun 276 H. Sumber: Perpustakaan Mesir, Kairo.

Dari sertifikat itu kita dapat menyerap beberapa hal sebagai berikut:

Guru : Abu Ishaq Ibrahim bin Musa

Judul Buku : Kitab as-Samt
Peserta : ‘All bin Yahya – ‘Abdullah bin Yusuf – Muhammad bin Isma’il – Sulaiman bin al-Hasan – Nasr,  bekas budak ‘Abdullah – Asbat bin Ja’far – Lakhm, bekas budak Salih – Hasan bin Miskin bin Shu’bah – Ahmad bin Ishaq – Hatim bin Ya’qub – ‘Abdul-‘Aziz bin Muhammad – ‘Ali bin Maslamah –  Muhammad bin Mutayyib – al-Hasan bin Muhammad bin Salih
Kota : Asna
Tanggal : Rabiul Awwa1276 H.
Kata Turunan : “Saya telah menyalin dua jilid ini dari buku Abu Ishaq Ibrahim bin Musa.”45

Pengarang Asal : [‘Abdullah bin Wahb] Buku ini bermula:

Ini adalah Kitab as-Samt, bagian dari Jami ` Ibn Wahb. Dengan Nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. [Bab ini mengenai] berkatalah saat ada hal yang tidak boleh dikatakan, dan ketika tidak baik [untuk berkata]. Abu Ishaq memberitahu kami bahwa Harmalah bin Yahya menyatakan bahwa ‘Abdullah bin Wahb mengatakan kepada­nya…46

1. Pentingnya Catatan Bacaan

Dengan maksud hendak memelihara kompilasi hadith dari pemalsuan, ijazah-ijazah menyediakan pada para ilmuwan masa kini sebagai lautan infor­masi yang amat berharga. Jika seorang dapat melacak menyebarnya sebuah buku melalui catatan-catatan ini akan jauh lebih baik dari sekadar berpijak pada data bibliografi, seperti yang akan saya tunjukkan pada beberapa halaman berikut ini.

a) Mingana, Robson, dan Periwayatan Kumpulan Hadith-Hadith

Rev. Mingana telah menerbitkan sebuah karya tulis mengenai pengembangan Sahih al-Bukhari, sementara James Robson menulis mengenai transmisi Sahih Muslim, Sunan Abu Dawud, Sunan at-Tirmidhi, Sunan an-Nasa’i, dan Sunan Ibn Majah. Walaupun kedua karya itu dipadati banyak miskonsepsi yang sangat memprihatinkan, saya lebih baik minggir untuk sementara tanpa komentar cukup menyalin diagram yang dibuat Robson tentang sistem transmisi yang dipakai oleh Sunan Ibn Majah.47

Gambar 12.7: Diagram Robson tentang sistem transmisi Ibn Majah.

Diagram yang lebih meyakinkan telah dibuat oleh Ishaq Khan dalam karya­nya tentang al-Usul as-Sittah wa Ruwatuha,48 meskipun pada dasarnya ia telah gagal dalam menyampaikan ruang transmisi secara utuh. Di bawah ini kita hanya sajikan diagram mengenai Ibn Qudamah (aslinya dalam bahasa Arab):


Gambar 12.8: Diagram Ishak Khan mengenai sistem transmisi Ibn Majah. Hal ini hanya mencakup sistem yang dipakai oleh Ibn Qudamah

Setelah digabung bersama, kedua skema tersebut memberi gambaran bahwa kurang dari satu lusin murid yang meriwayatkan Sunan Ibn Majah melalui jalur Ibn Qudamah sebagai ilmuwan kenamaan. Bentuk persepsi dengan memakai cara yang kikir ini, saya percaya dapat dipatahkan sekiranya kita mau menyelidiki manuskrip at-Taimuriah, No. 522 yang terdapat di Perpustakaan Umum Mesir, Kairo.

b) Ijazah Bacaan dalam Sunan Ibn Majah

Ibn Qudamah al-Maqdisi (w. 620 H.), pengarang salah satu buku ensi­klopedia fikih Islam yang paling masyhur, al-Mughni (dicetak ke dalam empat belas jilid), bertindak sebagai penulis manuskrip yang amat berharga. Dengan membagi ke dalam tujuh belas bagian, ia telah meletakkan lembaran kosong pada akhir tiap bagian guna memberi peluang yang cukup untuk ijazah bacaan,49 yang la salin dengan singkatan pada tiap penutupan sambil menyatakan bahwa ijazah penuh telah ditulis tangan oleh ilmuan terkenal lainnya, Ibn Tariq (w. 592 H.) Ijazah bagian keenam, misalnya, menunjukkan bahwa bagian dibacakan oleh `Abdullah bin Ahmad bin Ahmad bin Ahmad bin al-Khashshab, kepada Syaikh Abu Zur’ah Tahir bin Muhammad bin Tahir al­Maqdisi. Mereka yang hadir termasuk `Abdullah bin `Ali bin M. M. al-Farra’, Dulaf, Abu Hurairah, Ibn Qudamah, `Abdul-Ghani, Ahmad bin Tariq, dll. Tertanggal: Selasa, 19 Rabiul Akhir, 561 H.

Dengan penyalinan ini, walau menggunakan singkatan, Ibn Qudamah al­Maqdisi telah menetapkan dua hal penting:

  1. la mempunyai otoritas untuk memakai manuskrip ini demi tujuan mengajar dan mengutipnya, karena ia mendapatkannya melalui Plan yang betul.
  2. Naskah Ibn Majah ini adalah merupakan salinan asal yang sama yang di­bacakan kepada gurunya, jadi la tidak melanggar peraturan periwayatan.

Di bawah ini saya telah sediakan ringkasan catatan bagian keenam. Karena penjilidan manuskrip dalam kondisi yang kurang memuaskan, dan beberapa halaman berserakan dan tidak teratur untuk waktu tertentu, ini berarti beberapa halamannya bisa jadi salah letak dan bahkan mungkin hilang. Saya telah meneliti bahwa tidak ada lembaran dari bagian yang lain yang menyeruak ke dalam bagian ini, karena dalam halaman-halaman tersebut tercatat kelom­pok mana pada catatan bacaan itu.50

No.
Catatan

Pembacaan

Nama Guru Nama Pembaca Penyalin Ijazah Tanggal Pembacaan Jumlah Kehadiran
1 Menerangkan otoritas Ibn Qudamah dalam menggunakan Sunan Ibn Majah
2 ‘ Abdullah

bin Ahmad

al-Maqdisi (Ibn Qudamah)

‘ Ubaydullah bin

‘ Abdul-Ghani

‘ Ubaydullah bin

‘ Abdul-Ghani

15 Syawal 604 H. 30
3 Ibn Qudamah al-Maqdisi Muhammad bin Ahmad (tak terbaca) Selasa,12 Ramadhan, 32
4 ‘Abdul-Qadir ar-Rahawi Muhammad bin Qasim bin al-Hasan Mahmud bin Ayytib as-Suhrawardi Minggu 21 Rabiul Akhir, 596
5 Ibn Qudamah ‘Abdur-Razzaq (tak terbaca) (tak terbaca) (tak terbaca)
6 Ibn Qudamah Yusuf bin Khalil ad-Dimas\hqi Ibrahim bin ‘Abdullah, bekas budak

‘Abdan bin  Nasr al-Bazzaz ad-Dimashqi

Kamis, 8 Dzul Qaidah, 600 33
7 Ibn Qudamah Mahfuz bin ‘Isa Mahfuz bin ‘Isa Minggu, 12 Dzul Qaidah, 600 1
8 Ibn Qudamah Yahya bin ‘Ali al-Maliqi Salih bin Abu Bakr …[5]77 20
9 Para Guru:

(a) Ibn ash- Shihna-Anjab-Abu Zur’ah

(b) Sittil Fuqaha’-Anjab, Ibn Qibiti, and al-Hashimi-Abu Zur’ah

(c) Ibn as-Sa’igh-ar-Rikabi-as-Suhrawardi-Abu Zur’ah

(d) Ibn al-Muhandis-Ba’labakki-Tbn Ustadh-Muwaffaq-Abu Zur’ah

(e) Ibn al-Muhandis-Ba’labakki-Ibn Qudamah- Abn Zur’ah

(f) An-Nawwas-Ibn al-Baghdadi-Ibn Qudamah-Abu Zur’ah

(g) An-Nawwas-Ibn al-Baghdadi-ar-Rahawi- AN Zur’ah
Pembaca dan Penyalin:
Ibn as-Sairafi

10-11-725 H. 50
10 Para Guru:

(a) ‘Abdur-Rahman bin Muhammad bin Qudamah

(b) Ibrahim bin `Abdullah

(c) Muhammad bin `Abdur-Rahman

(d) Ahmad bin Ahmad bin `Ubaidullah

Penyalin:

‘Abdul-Hafiz al-Maqdisi

10-11-659 H. 100
11 Mahmud bin ‘Abdullah ar-Raihani

-as-Suhrawardi
-Abu Zur’ah

Ibrahim bin Yahya bin Ahmad Ibrahim bin Yahya bin Ahmad Selasa, 11-5-665 20
12 Mahmud bin

‘Abdullah ar-Raihani

‘AI’ bin Mas’ud bin Nafis al-Mausili ‘Ali bin ‘Abdul-Kafi (Terhapus) 12
13 Para Guru:

(a) al-Balisi-Um ‘Abdullah

(b) al-Harrani-Ibn ‘Alwan-‘Abdul-Latif al-Baghdadi

(c) [brahim bin Buhair-Ibn ‘alwan

(d) Ibn Sultan al-Maqdisi-Zainab hint Kamal-Abti Zur’ah

(e) Khalid Sanqar-al-Baghdadi-Abu Zur’ah

(f) Ibn Sultan al-Maqdisi-an-Nabulsi-Ibn Qudamah and `abdul-Latif-Abu Zur’ah

Pembaca dan Penyalin:

Muhammad al-Qaisi ad-Dimashqi

Selasa, 2-11-798 H. 35
14 ‘Abdur-Rahman bin Muhammad

-Ibn Qudamah

(Terhapus) (Terhapus) Rabu, 15-7-678 40
15 Sittil Fuqaha’

– Ibn al-Qabiti
– Abu Zur’ah

‘abdul-`aziz bin Muhammad al-Kaltani ‘abdul-`aziz bin Muhammad al-Kaltani Rabu, 19-8-625 20

Dari tabel di alas dapat ditarik kesimpulan bahwa sebanyak 115 murid mengkaji bagian ke enam secara langsung dari Ibn Qudamah; namun yang belajar dari murid-muridnya berjumlah sekitar 450 orang. Dari sekian banyak manuskrip Sunan Ibn Majah yang beredar ketika itu, kemungkinan besar terdapat manuskrip lain yang juga memasukkan nama Ibn Qudamah dalam ijazah bacaan mereka. Manuskrip-manuskrip itu boleh jadi belum ditemukan lagi ataupun mungkin tidak akan ditemukan sama sekali. Informasi mengenai jumlah tulisan yang banyak dalam satu manuskrip ini menunjukkan bahwa seluruh diagram jaringan mata rantai riwayat yang dibuat hingga kini, baik untuk Ibn Majah atau karya-karya yang lain, masih sangat sedikit, dan kita tidak dapat mengatakan sebagai hal yang belum sempuma, jika tak ingin mempermalukan diri kita sendiri.

B. Pengaruh Metodologi Hadith pada Cabang Ilmu Lainnya

Begitu ampuh metode ini, dan mampu tahan uji sehingga begitu cepat melintasi batasan literatur hadith dan guna memasukkan semua karya ilmiah:

  • Beberapa contoh di bidang ilmu tafsir, lihat Tafsir ‘Abdur-Razzaq (w. 211 H.) dan Sufyan ath-Thauri (w. 161. H.)
  • Dalam bidang sejarah, lihat Tarikh Khalifah bin Khayyat (w. 240 H.)
  • Dalam bidang hukum, lihat Muwatta’ Imam Malik (w. 179 H.)
  • Dalam karya sastra dan cerita dongeng, lihat al-Bayan wa at-Tabyin oleh

al-Jahiz (150-255 H.) dan al-Aghani oleh al-Asfahani (w. 356 H.). Karya yang disebut terakhir ini terdiri dari dua puluh jilid yang menceritakan tentang kisah para komposer, penyair, clan artis lagu (pria dan wanita), juga anekdot-anekdot tak vulgar penghiburkan hati. Yang menarik adalah, bahkan dalam cerita-cerita yang menggelitik, kita dapatkan hal itu disertai juga dengan isnad yang lengkap. Apabila pengarang mengambil bahan dari buku yang tidak punya surat izin, ia akan menyatakan, “Saya mengopi dari buku ini dan itu.”

C. Isnad dan Transmisi Al-Qur’an

Semua kajian ini dapat memunculkan sebuah pertanyaan penting. Apa­bila metode yang ketat disiplin berfungsi sebagai jalan kerja harian dalam pengalihan informasi, segalanya dari mulai Sunnah sampai kisah cinta para penyanyi sekali pun, mengapa tidak diterapkan juga untuk Al-Qur’an?

Dalam memberi jawaban, ia menuntut kita mengingat kembali sifat Kitab Suci ini. Karena ia merupakan Kalam Allah dan sangat penting dalam setiap shalat, maka penggunaannya selalu lebih luas dari Sunnah. Keperluan dalam penggunaan jaringan mata rantai clan ijazah bacaan bagi setiap orang yang ingin mempelajari Al-Qur’an, tentunya akan lebih. Seseorang yang ingin mem­pelajari seni baca Al-Qur’an secara profesional, hendaknya ia melatih suara dan makharij (cara mengeluarkan huruf) yang digunakan oleh para juru baca kenamaan pemegang ijazah dengan urut-urutan mata rantai yang akhirnya sampai pada Nabi Muhammad %% Abu al-`Ala’ al-Hamadhani al-`Attar (488­569 H./1095-1173 M.), seorang ilmuwan yang terkenal, membuat kompilasi biografi para juru baca Al-Qur’an yang diberi judul al-Intisar fi Ma’rifat Qurra’ al-Mudun wa al-Amsar. Buku yang terdiri dari dua puluh jilid ini, disayangkan telah musnah sejak dulu. Namun demikian, kita masih dapat mengutip beberapa butir kandungan informasi melalui para ilmuwan yang menulis tentang hal itu; misalnya kita dapat melihat daftar guru-guru pengarang clan juga guru-guru mereka secara lengkap, dalam satu jalur yang pada akhirnya bertemu atau sampai pada Nabi Muhammad %%% yang jumlah halaman bermula dari 7 hingga 162 dari buku tersebut.51 Semuanya merupakan para juru baca Al­Qur’ an yang cukup terlatih. Jika kita ingin memperpanjang skema yang ada pada daftar itu dengan memasukkan yang nonprofesional akan menjadikan kerja itu sia-sia. Bahkan kecepatan penyebaran Al-Qui an itu sendiri sangat susah untuk mengukurnya. Guna menenangkan rasa ingin tahu tentang jumlah

murid yang belajar kitab ini dari satu halaqah di kota Damaskus, Abu ad­Darda’ (w. sekitar 35 H./655 M.) meminta Muslim bin Mishkam menghitung untuknya: hasilnya melebihi 1600 orang. Para murid yang menghadiri pengajian sistem melingkar (halaqah) Abu ad-Darda’ secara bergiliran setelah shalat subuh, pertama-tama mereka mendengarkan bacaan yang diikuti oleh murid-muridnya, clan juga melatih sendiri-sendiri.52

Dengan menerima keterlibatan dua metode yang berbeda dalam penyebaran Al-Qur’an versus Sunnah, masih terdapat beberapa persamaan mengenai transmisi kedua:

  1. Ilmu pengetahuan menghendaki hubungan langsung, dan berpijak se­penuhnya pada buku sangat tidak dibenarkan. Semata-mata memiliki sebuah Mushaf, tidak akan dapat menggantikan fungsi kemestian belajar membaca dari seorang guru dengan ilmu yang memadai.
  2. Standar moralitas yang ketat diperlukan bagi semua guru. Jika seorang sahabat dekat meragukan kebiasaan akhlaknya, maka tak akan ada siapa pun yang hendak berguru kepadanya.
  3. Melukis,diagram tentang transmisi dengan data bibliograti semata, tidak dapat memberi gambaran sepenuhnya mengenai besarnya ukuran subjek yang dikaji. Untuk membuat outline pengembangan Al-Qur’an, seperti telah kita lakukan pada bagian keenam manuskrip Sunan Ibn Majah, mengharuskan pencatatan bagi setiap Muslim yang pernah menginjakkan kaki di atas bumi sejak permulaan Islam hingga saat ini.

D. Kesimpuan

Kembali kepada guru yang diakui, penelitian riwayat hidup dilakukan guna menyingkap akhlak pribadi seseorang, legitimasi yang dibangun melalui sistem ijazah bacaan, clan berbagai segi lain dari metode ini, disatukan untuk membuat dinding penghalang terhadap upaya pemalsuan buku-buku tentang Sunnah. Dengan memberi pengecualian terhadap para juru baca Al-Qur’an profesional, satu bidang yang tidak mengikuti sistem isnad yang ketat adalah transmisi Al-Qur’an, karena_yang satu ini, mustahil akan melahirkan penyebab yang dapat merusak teks. Kata-katanya tetap sama seperti yang dibaca di setiap masjid, sekolah, rumah, dan pasar di seluruh penjuru dunia Islam yang me­rupakan pelindung dari kerusakan yang ampuh dibanding segala sistem yang mungkin diciptakan oleh manusia.

< BACK INDEX NEXT >
44. Ada banyak cara mengeluarkan ijazah-ijazah ini, yang umumnya memuat informasi yang penting dan perlu, walaupun urutan informasi itu diserahkan kepada kebijaksanaan penulisnya.45 J. David-Weill (ed.), Le Djami’ d’Ibn Wahb, Imprimeric De L’Institut Francais D’Archeologic Orientate, Kairo, 1939, hlm. 77. Saya menyusun informasi ini dalam bentuk ini hanya untuk tujuan penjclasan saja.

46 Ibid., hlm. 40.

47 J. Robson, “The Transmission of  Ibn Maga’s Sunan”, Journal of  Semitic Studies, jld. 3 (1958), hlm. 129-141. Hanya bagian yang memuat Ibn Qudamah saja yang dipaparkan.

48 Tesis M.A., College of Education, King Saud University, Riyadh, 1405 (1985), hlm. 323.
49 pada umumnya pembagian-pembagian itu terserah pada kebijaksanaan penyalin: ia bisa saja membuang bagian-bagian itu, atau membuat kerangka tersendiri.

50 Catatan bacaan asli memuat banyak rincian lagi, khususnya mengenai cara periwayatan yang digunakan (contohnya, ijazah atau sama’), dan dalam masalah yang lain dinyatakan juga apakah hanya sebagian saja yang dibaca. Di sini saya cukupkan hanya dengan gambaran yang sederhana mengenai seluruh jaringan mata rantai periwayatannya.

51 Al-Hamadhani, Ghayat al-Ikhtisar, I: 7-162.

52 Adh-Dhahabi, Siyar, II: 346.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: