MEMBANGUN KHAZANAH ILMU DAN PENDIDIKAN

Belajar itu adalah perobahan …….

METODE PENDIDIKAN MUSLIM YANG BERMULA DARI KAJIAN AL-QUR’AN DAN SUNNAH

Posted by Bustamam Ismail on March 30, 2010

Kitab suci agama Yahudi dan Kristen nyaris telantar oleh tangan orang­ orang yang semestinya diharapkan jadi pembela setia. Jika dalam bab-bab sebelumnya kita bermaksud hendak membiasakan sikap kaum muslimin terhadap Al-Qur’an dan Sunnah, karena penghargaannya, mungkin mereka kurang mampu menikmati kepuasaan melainkan setelah membandingkan dengan Kitab Injil. Pembahasan secara mendasar mengenai metode pendidikan umat Islam dirasa perlu-sebuah ilmu unik dan tak ada yang menyaingi hingga hari ini serta amat penting dalam pemeliharaan Al-Qur’an dan Sunnah berlandaskan iman sesuai dengan kehendak Allah

“Sesungguhnya Kami telah turunkan Al-Qur’an, dan Kami akan memeliharanya”2

Karena Al-Qur’an secara tegas menyebut adanya kerusakan kitab-kitab itu dari dalam, maka komunitas Muslim merasakan betapa pentingnya memagari AI-Qur’an dari segala pengaruh yang meragukan. Sepanjang sejarah Islam para penghafal Al-Qur’an, huffaz, memiliki keutuhan tekad menyimpan isi kitab Al-Qur’an sepenuhnya ke dalam hati yang jumlahnya mencapai jutaan sejak kelompok remaja hingga orang tua, jadi tulang punggung dalam peme­liharaan ini; suatu keadaan yang tak pernah terjadi pada Kitab Taurah dan Injil dan bahkan sikap kehati-hatian tidak terhenti sebatas itu.

Menulis sebuah buku dengan nama samaran adalah teramat mudah, apa lagi dalam dunia literatur penggunaan nama pena sudah jadi masalah yang lumrah. Demikian pula, suatu hal yang mungkin terjadi mengubah karya orang lain yang kemudian diterbitkan kembali atas nama pengarang sesungguhnya. Masalahnya, bagaimana kejahatan perbuatan seperti itu dapat dicegah? Dalam mencari jawaban, kaum Muslimin telah merancang solusi sejak dahulu, membuat satu sistem yang tahan uji dan telah beroperasi selama delapan atau sembilan abad; hanya karena melemahnya Islam di pentas politik, sistem itu terhenti dan bahkan cenderung terabaikan. Mengkaji ulang sistem ini berarti memasuki wilayah sentral tentang proses belajar dan mengajar tentang ilmu Islam.

1. Kehausan Sumber Informasi

Sebelum Islam muncul, tak ada sumber yang mencatat akan adanya buku bahasa Arab di semenanjung Arabia. Sebenarnya Al-Qur’an merupakan buku pertama berbahasa Arab di mana iqra’ (berarti: bacalah!) merupakan pembuka kata yang diwahyukan. Dengan silabe ungkapan itu menandai bahwa pencarian ilmu telah menjadi satu kemestian: menghafal sekurang-kurangnya beberapa surah terlepas apakah ia orang Arab atau bukan guna melaksanakan shalat sehari semalam. Sejarah juga mencatat, saat Rasulullah sampai di Madinah, beliau segera memenuhi keperluan ini mengatur persekolahan3 dan minta setiap yang berilmu walau masih minim (ballighu `anni walaw ayah) agar menyampaikan pada yang lain. Enam puluh penulis wahyu yang bekerja di bawah pengawasan Nabi Muhammad saw. dijadikan upeti dalam memerangi kej ahilan.4

Di zaman kekuasaan para Khalifah, terutama tiga orang pertama se­hingga tahun 35 hijrah, Madinah berfungsi sebagai pusat agama, militer, ekonomi, dan administrasi negara Islam yang pengaruhnya merebak hingga menembus sejak dari Afghanistan ke Tunisia, Turki selatan hingga Yaman, dan Muscat hingga ke Mesir. Arsip-arsip yang begitu banyak mengenai segi-segi pemerintahan dibangun, dikelompokkan, dan disimpan di Bayt al-Qaratis (rumah arsip)5 pada masa pemerintahan `Uthman. Ilmu administrasi, hukum keagamaan, strategi politik dan kemiliteran, serta semua hadith Nabi di­sampaikan pada generasi penerus melalui sistem yang sedemikian unik.6

2. Hubungan Ptibadi: Unsur Penting dalam Sistem Pengajaran

Waktu merupakan referensi penting dalam semua kejadian: dahulu, kini, dan mendatang. Waktu sekarang secara otomatis akan menjadi bagian dari masa lampau; yang balk saja berlalu, la akan hilang begitu saja. Kebanyakan peristiwa masa lampau akan lepas dari genggaman dan bahkan tak mungkin dapat diraba, dan jika peristiwa itu mendekat pada kita secara tidak langsung (seperti melalui bahan tertulis), maka akurasi berita akan jadi puncak perhatian kita. Saat Rasulullah memasuki episode sejarah, pemeliharaan Kitab Al-Qur’an dan Sunnah menjadi tanggung jawab para sahabat, di mana komunitas Muslim mampu membuat satu konstruksi keilmuan yang begitu njelimet dalam me­ngurangi ketidakpastian yang menjadi sifat dari sistem pengalihan ilmu pengetahuan. Sistem ini didasarkan pada hukum kesaksian.

Pikirkanlah pernyataan sederhana ini: A meneguk air dari cangkir saat ia berdiri. Walaupun kita tahu keberadaan orang tersebut namun guna mengesahkan kebenarannya, hanya dengan mengandalkan penalaran otak dirasa tidak memungkinkan. Barangkali A tidak minum air sama sekali, atau mungkin minum dengan menelengkupkan tangan, bahkan mungkin melakukannya sewaktu la duduk; semua kemungkinan itu tidak dapat dimasukkan sekadar melalui kesimpulan. Maka, permasalahan yang ada tergantung pada sikap kejujuran pembawa berita serta ketelitian seorang yang mengamati. Oleh sebab itu, C, seorang pendatang baru yang tidak tahu duduk masalahnya, untuk melacak berita itu ia akan berpijak pada cerita saksi mata B. Guna melaporkan kejadian itu pada pihak lain, C harus menentukan sumber berita sehingga kejujuran pernyataan di atas akan bergantung pada:

  1. Ketelitian B dalam mengamati kejadian, dan kebenarannya dalam membuat laporan.
  2. Ketelitian C dalam memahami informasi serta kebenarannya dalam men­ceritakan pada yang lain.

Membuat spekulasi kehidupan pribadi B dan C pada umumnya tidak me­narik minat para pakar kritik dan sejarah, namun para ilmuwan Muslim melihat permasalahan yang ada dari sisi pandangan yang berbeda. Menurut pendapat mereka, seseorang yang membuat pernyataan mengenai A sebenarnya sedang membuat kesaksian terhadap apa yang telah dilakukannya. Demikian juga, C sebenarnya membuat kesaksian terhadap perilaku B, dan seterusnya, di mana setiap orang membuat kesaksian terhadap pendahulu yang tergabung dalam jaringan mata rantai riwayat. Dengan memberi pengesahan terhadap laporan tersebut berarti membuat kajian kritis terhadap semua pihak yang tergabung dalam rangkaian riwayat.

3. Permulaan dan Perkembangan Sistem Isnad.

Metode ini merupakan genetika lahirnya sistem isnad. la bermula sejak zaman Rasulullah yang kemudian merebak menjadi ilmu tersendiri pada akhir abad pertama hijrah. Dasar tatanan ilmu ini berpijak pada kebiasaan para sahabat dalam transmisi hadith di kalangan mereka. Sebagian mereka membuat kesepakatan menghadiri majelis Rasulullah secara bergiliran, memberi tahu apa yang telah mereka dengar dan saksikan;7 dalam memberitakan tentunya mereka harus menyebut, “Rasulullah melakukan ini dan itu” atau “Rasulullah mengatakan ini dan itu.” Dan, tentunya wajar jika orang itu mendapat informasi dari tangan ke dua, ketika ia menceritakan pada orang ke tiga, la akan menjelaskan sumber aslinya mencakup semua cerita yang terjadi.

Pada dasawarsa ke empat kalender Islam, ungkapan-ungkapan yang belum sempurna dirasa penting karena munculnya fitnah yang melanda pada saat itu (pemberontakan terhadap Khalifah Uthman yang terbunuh pada tahun 35 hijrah). Ungkapan itu sebagai langkah awal sikap kehati-hatian para ilmu­wan yang mulai sadar dan tetap ingin menyelidiki setiap sumber informasi.8 Ibn Sirin (w. 110 H.), misalnya, mengatakan, “Para ilmuwan (pada mulanya) tidak mempersoalkan isnad, tetapi saat fitnah mulai meluas mereka menuntut, ‘Sebutkan nama orang-orang kalian [para pembawa riwayat hadith] pada kami.’ Bagi yang termasuk ahlus sunnah, hadith mereka diterima, sedang yang tergolong tukang mengada-ada, hadith mereka dicampakkan ke pinggiran.”9

Menjelang abad pertama, kebiasaan ini mulai mekar yang akhirnya men­jadi cabang ilmu tersendiri. Kemestian mempelajari Al-Qur’an dan Sunnah memberi arti bahwa sejak beberapa abad perkataan `ilm (ilmu), hanya diterap­kan pada kajian di bidang keagamaan,10 dan dalam masa yang penuh ghirah mempelajari ilmu hadith telah melahirkan tradisi al-rihlah (piknik pencarian ilmu). Karena dianggap sebagai salah satu syarat utama di bidang keilmuan, kita dapat menyimak makna penting dari ucapan Ibnu Ma’in (w. 233 H) yang menyebut bahwa siapa saja yang mengurung diri belajar ilmu di negeri sendiri dan enggan berpikir ke luar, ia tidak akan mencapai kematangan ilmu.11

Bukti adanya pengalihan ‘ilm melalui cara seperti ini datang dari ribuan hadith yang memiliki ungkapan-ungkapan yang sama tetapi bersumber dari belahan dunia Islam yang berlainan, yang masing-masing melacak kembali asal-usulnya yang bermuara pada sumber yang sama, yaitu Rasulullah, Sahabat, dan Tabi’in. Kesamaan isi kandungan yang menyebar melintasi jarak jauh, di suatu zaman yang minus alat komunikasi canggih, memberi kesaksian kebenaran akan kiat sistem isnad.12

4. Fenomena Isnad dan Pemekarannya

Pemekaran sistem isnad pada permulaan abad Islam begitu menggiurkan. Anggaplah bahwa pada generasi pertama seorang sahabat saja yang secara pribadi mendengar pernyataan Rasulullah. Pada generasi kedua kemungkinan terdapat dua atau tiga dan bahkan mungkin sepuluh orang, murid-murid pertama dalam mengalihkan kejadian, sehingga apabila sampai pada generasi ke lima (yaitu periode para penyusunan kitab-kitab hadith klasik) kita mungkin dapat menyingkap tiga puluh atau empat puluh orang meriwayatkan berita yang sama melalui saluran yang berlainan melintasi ke seluruh dunia Islam, dengan sedikit di antara mereka yang meriwayatkan berita itu melalui lebih dari satu sumber. Bentuk penyebaran seperti itu tidak selalu tetap pada semua hadith: di mana dalam masalah seperti ini mungkin hanya ada satu orang yang memiliki wewenang meriwayatkan pada tiap generasi, walaupun hal itu sangat jarang.13 Di sini kita dapat lihat satu contoh hadith mengenai shalat:14

Abu Hurayrah meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda: “Imam harus­lah diikuti. Bacalah takbir apabila ia mengucap takbir, rukulah apabila ia ruku. Dan apabila ia mengucapkan sami ‘allahu liman hamidah (Allah mendengar orang yang memujiNya), bacalah rabbana wa laka al-hamd (Ya Allah ya Tuhan kami, segala pujian hanyalah untuk-Mu). Lalu apa­bila ia sujud, hendaklah anda bersujud. Dan apabila ia bangkit berdiri, hendaklah kamu juga bangkit, tapi jangan sekali-kali mendahului sebelum ia berdiri sempurna. Jika ia shalat duduk, hendaklah kamu juga duduk semuanya.”

Gambar 12:1

Hadith ini, tercatat sekurangnya 124 kali dan diriwayatkan oleh 26 pakar generasi ketiga yang semuanya melacak keaslian hadith itu sampai kepada para Sahabat Nabi Muhammad Dalam bentuk hadith serupa, atau yang memiliki makna yang sama, hadith ini ditemukan di sepuluh tempat secara serentak: Madinah, Mekah, Mesir, Basrah, Hims, Yaman, Kufah, Suriah, Wasit (Irak) dan Thaif. Tiga dari 26 ulama mendapat riwayat itu lebih dari satu sumber. Dokumentasi yang masih ada menunjukkan bahwa hadith ini diriwayatkan oleh sekurangnya sepuluh orang Sahabat; perincian jaringan transmisi, tujuh dari sepuluh ulama yang ada, yang pernah tinggal di Madinah, Suriah dan Irak, ada pada kita. Harap dilihat gambar 12.1.

Dengan kita batasi pada seorang Sahabat, Abu Hurairah, kita temukan sekurang-kurangnya tujuh orang muridnya yang meriwayatkan hadith tersebut; empat di antaranya menetap di Madinah, dua di Mesir, dan satu di Yaman. Pada gilirannya mereka juga menyampaikan kepada sekurang-kurangnya dua puluh orang lain: lima dari Madinah, dua dari Mekah, masing-masing seorang dari Suriah, Kufah, Thaif, Mesir, dan Yaman. Contoh serupa dari sahabat lain yang juga menunjukkan bahwa hadith tersebut keberadaannya ditemukan di belahan tempat lain (Basrah, Hims, dan Wasit) walau dapat bertemu kembali di Madinah, Mekah, Kufah, Mesir, dan Suriah. Gambar berikut ini menggambarkan banyaknya jaringan riwayat tersebut sudah tentu hanya satu dari puluhan ribu hadith yang ada.

< BACK INDEX NEXT >
1. Bab ini sifatnya rada khusus; tujuan utamanya adalah memberikan gambaran bagaimana ilmuwan Muslim membangun konstruksi sistem yang unik dalam meriwayatkan ilmu, yang ber­manfaat dalam mcnilai ketelitian informasi dan memagarinya dari faktor yang merusak baik dari dalam maupun dan luar. Ini sebcnarnya hanyalah satu diskusi ringkas, dan siapa yang tertarik dengan topik ini disarankan agar membaca buku saya yang akan terbit, Islamic Studies: What Methodology? (Studi Islam: Apa Metodologinya?). Sudah tentu ada di antara pembaca yang melihat bab ini sebagai hal yang membosankan dan bagi yang bcrminat, dapat memilih kesimpulan bab ini. Memang hal itu tidak menghalangi pemahaman bab-bab sclanjutnya.2. Qur’an 15: 9.

3. Untuk detail lagi lihat M.M. al-A’zami, Studies in Early Hadith Literature, hlm. 183-199; al­A’zami, Studies in Hadith Methodology and Literature, American Trust Publication, Indianapolis, 1977, hlm. 9-31.
4. Lihat M.M. al-A’zami, Kuttab an-Nabi, edisi ke 3, Riyad, 1401 (1981). Karya ini adalah kajian terperinei mengenai para penulis dan penyalin yang bekerja untuk Nabi.

5.  Al-Baladhuri, Ansab al-Ashraf, I: 22. Tampaknya tempat itu terletak bersebelahan dengan rumah `Uthman, di mana Marwan menyembunyikan diri ketika Khalifah itu terbunuh.

6. Lihat contohnya, Surat-surat Khalifah Kedua `Umar, `Abdur-Razzaq as-San’ani, Musannaf, contohnya: jld. 1, hlm. 206-291, 295-6, 535, 537; jld. 7, hlm. 94, 151, 175, 178, 187, 210,…d11. Untuk perincian seterusnya lihat al-A’zami, “Nash’at al-Kitabah al-Fiqhiyyah”, Dirasat, II/2: 13-24.
7. Al-Bukhari, Sahih, Bab at-Tanawub fi al-‘Ilm.
8. Penelitian terbaru oleh Dr. `Umar bin Hasan Fallata menunjukkan bahwa bahkan sampai tahun 60 H. sangat sukar ditemukan hadith palsu atas nama otoritas Nabi [al-Wad’u ti aL-Hadith, Beirut, 1401 (1981)j.
9. Muslim, Sahih, Mukadimah, hlm. 15; lihat juga al-A’zami, Studies in Early Hadith Literature, him. 213.

10. Al-A’zami, Studies in Early Hadith Literature, him. 183.

11 Al-Khatib, ar-Rihlah, Damaskus, 1395 (1975), him. 89.
12. Al-A’Zami, Studies in Early Hadith Literature, him. 15, hadith no. 3 (Seksi Arab). Tidak semua hadith tersebar begitu cepat. Namun di sisi lain ribuan buku juga telah hilang yang mungkin bisa jadi saksi mengenai penyebaran informasi yang lebih luas lagi.

13. Untuk kajian yang lebih rinci mengenai 50 hadith , lihat Studies in Early Hadith Literature, hlm. 14-103 (Seksi Arab).

14. Ibid., hlm. 27-31.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: