MEMBANGUN KHAZANAH ILMU DAN PENDIDIKAN

Belajar itu adalah perobahan …….

KHALIFAH AL-HASAN BIN ALI BIN ABI THALIB RA.

Posted by Bustamam Ismail on March 29, 2010

1. PEMBAI’ATAN BELIAU MENJADI KHALIFAH

Ketika Ibnu Muljam menikam Ali bin Abi Thalib ra., mereka berkata kepada Ali, “Tunjuklah khalifah sepeninggalmu wahai Amirul Mukminin!” Ali berkata, “Tidak! Aku akan membiarkan kalian sebagaimana Rasulullah saw. meninggalkan kalian (yakni tanpa menunjuk khalifah). Apabila Allah SWT. menghendaki kebaikan atas kalian maka Allah SWT. akan menyatukan kalian di bawah kepemimpinan orang yang terbaik dari kalian sebagaimana Dia telah menyatukan kalian di bawah kepemimpinan orang yang terbaik dari kalian sepeninggal Rasulullah saw. .”1124

Setelah beliau wafat, putera beliau yakni al-Hasan menshalati jenazah beliau karena ia adalah putera beliau yang tertua, lalu jenazah beliau dikebumikan. Orang pertama yang maju membai’at al-Hasan bin Ali adalah Qais bin Sa’ad bin Ubadah. Ia berkata kepadanya, “Ulurkanlah tanganmu, aku akan membai’atmu atas dasar Kitabullah dan Sunnah nabiNya .”

Al-Hasan hanya diam. Qais membai’atnya lalu diikuti oleh orang banyak sesudahnya. Peristiwa itu terjadi pada hari wafatnya Ali bin Abi Thalib ra. Pada bulan Ramadhan tahun 40 H. Saat itu Qais bin Sa’ad adalah amir wilayah Adzerbaijan. Ia membawahi empat puluh ribu tentara. Mereka semua telah berbai’at untuk membela Ali sampai titik darah penghabisan. Setelah Ali bin Abi Thalib ra. wafat Qais bin Sa’ad mendorong al-Hasan agar berangkat memerangi penduduk Syam. Lalu al-Hasan menarik Qais dari Adzerbaijan, kemudian mengirim Ubaidullah bin Abbas sebagai penggantinya.

Dalam niat al-Hasan, beliau tidak ingin memerangi seorang pun. Akan tetapi mereka berhasil memaksakan pendapat mereka kepada beliau. Lalu berkumpullah pasukan dalam jumlah yang sangat besar yang belum pernah terkumpul sebanyak itu.

Al-Hasan menunjuk Qais bin Sa’ad sebagai panglima detasemen yang dikirim ke depan bersama dua belas ribu personil. Lalu beliau bergerak di belakangnya menuju negeri Syam untuk memerangi Mu’awiyah dan penduduk Syam.

Ketika melewati wilayah al-Madain beliau mengirim pasukan detasemen ke depan, sementara beliau menunggu di al-Madain dalam kamp militer di pusat kota al-Madain. Tiba-tiba ada seorang yang berteriak di tengah-tengah kerumunan manusia, “Celaka, Qais bin Sa’ad bin Ubadah telah ter-bunuh!” Pasukan menjadi kocar kacir, mereka saling serang satu sama lain. Hingga mereka menyerbu kemah al-Hasan. Mereka menarik secara paksa permadani yang dipakai duduk oleh al-Hasan dan sebagian dari mereka menikam beliau ketika sedang menaiki kendaraan hingga beliau cedera.1125

Al-Hasan sangat marah melihat sikap mereka itu. Beliau melarikan diri hingga tiba di istana putih di kota al-Madain. Beliau berlindung di sana dalam keadaan luka parah. Pada saat itu wakil beliau untuk kota al-Madain adalah Sa’ad bin Mas’ud ats-Tsaqafi, saudara laki-laki Abu Ubaid panglima dan pahlawan perang Jisr di Iraq.

Ketika al-Hasan berlindung dengan aman dalam istana, al-Mukhtar bin Abi Ubaid -semoga Allah SWT. memburukkan dirinya- berkata kepada paman-nya, “Maukah engkau memperoleh kemuliaan dan kekayaan?” ” Apa itu?” Tanya Sa’ad. la berkata, “Ringkuslah al-Hasan bin Ali lalu rantailah dia dan bawalah ke hadapan Mu’awiyah!”

Sa’ad bin Mas’ud, pamannya, berkata kepadanya, “Semoga Allah SWT. memburukkan dirimu dan apa yang engkau katakan itu! Apakah kau kira aku mau mengkhianati cucu Rasulullah saw. 1126

2. PERDAMAIAN ANTARA AL-HASAN DENGAN MUAWIYAH

Demi melihat pasukan beliau tercerai berai al-Hasan bin Ali marah besar kepada mereka. Saat itu juga beliau menulis surat kepada Mu’awiyah -yang pada waktu itu sudah berangkat bersama pasukan Syam dan singgah di tempat bernama Maskin1127 yang isinya mengajak Mu’awiyah berdamai. Lalu Mu’awiyah mengutus Abdullah bin Amir dan Abdurrahman bin Samurah, untuk menemui al-Hasan. Keduanya berangkat ke Kufah dan menemui beliau.

Keduanya memberi harta yang beliau inginkan. Beliau mensyaratkan agar dibolehkan mengambil bagian sebesar lima juta dirham dari baitul mal Kufah dan mensyaratkan agar pajak wilayah Darabjard diserahkan kepada beliau. Dan beliau juga meminta agar tidak boleh seorang pun mencela Ali bin Abi Thalib ra. di depan beliau. Jika syaratsyarat itu dipenuhi rnaka beliau menyerahkan kepemimpinan kepada Mu’awiyah demi menyelamat-kan darah kaum muslimin.

Maka mereka pun menyepakati persyaratan tersebut. Dengan demikian bulatlah suara untuk Mu’awiyah. Dalam hal ini al-Husain mencela keputusan saudaranya itu, yakni al-Hasan. la tidak bisa menerima keputusan itu. Namun kebenaran berada di pihak al-Hasan Kemudian al-Hasan mengirim perintah kepada Qais bin Sa’ad selaku panglima detasemen agar mendengar dan patuh kepada Mu’awiyah. Menurut catatan yang masyhur, al-Hasan berbai’at kepada Mu’awiyah pada tahun 40 H. Oleh sebab itu tahun tersebut dinamakan tahun jama’ah. Karena suara kaum muslimin bulat untuk Mu’awiyah.

Menurut pendapat yang masyhur dari Ibnu Jarir dan pakar sejarah lainnya menyebutkan bahwa peristiwa itu terjadi pada tahun 41 H.1128 Ibnu Katsir berkata, “Al-Hasan adalah sayid kaum muslimin, salah seorang ulama’, orang yang lembut dan cerdik pandai di kalangan sahabat. Dalil yang menunjukkan bahwa beliau termasuk salah seorang Khulafa’ur Rasyidin adalah hadits yang kami bawakan dalam kitab Dala’il an-Nubuwah1129 melalui beberapa jalur dari Safinah Maula Rasulullah saw. bahwa Rasulullah saw. bersabda,

“Khilafah sesudahku tiga puluh tahun, setelah itu akan muncul raja-raja.”

Khilafah genap tiga puluh tahun dengan dibai’atnya al-Hasan bin Ali menjadi khalifah. Beliau melepaskan kekhalifahan kepada Mu’awiyah pada bulan Rabi’ul Awal tahun 41 H. Berarti genap tiga puluh tahun setelah Rasulullah saw. Wafat pada bulan Rabi’ul Awal tahun 11 H. Ini merupakan tanda kenabian yang sangat besar. Rasulullah saw. telah memuji perbuatannya itu. la meninggalkan dunia yang fana ini dan memilih akhirat yang kekal abadi. Keputusannya itu menghentikan pertumpahan darah di antara umat ini. la turun dari kekhalifahan dan menyerahkan kekuasaan kepada Mu’awiyah. Hingga kaum muslimin bersatu pada seorang pemimpin.

Sebagaimana disebutkan dalam hadits Abu Bakrah ats-Tsaqafi bahwa pada suatu hari Rasulullah saw. naik ke atas mimbar lalu al-Hasan bin Ali duduk di samping beliau. Beliau menghadap para hadirin dan terkadang menoleh kepada al-Hasan. Kemudian beliau bersabda:

“Wahai sekalian manusia, sesungguhnya cucuku ini adalah sayyid. Allah SWT. akan mendamaikan dua kelompok besar kaum muslimin melalui tangannya.”1130

Ketika al-Hasan menerima bai’at penduduk Iraq beliau mengajukan syarat kepada mereka, “Sesungguhnya kalian harus mendengar dan taat, ber-damai dengan orang yang berdamai denganku dan berperang melawan orang yang aku perangi.”1131

Penduduk Iraq meragukan dirinya, mereka berkata, “Ini bukan pemimpin yang ideal buat kalian.” Memang, tidak lama setelah itu mereka menyerang beliau dan nyaris membunuh beliau. Beliau bertambah benci kepada mereka dan bertambah jauh dari mereka. Saat itulah beliau menyadari ketidaksetiaan mereka dan pembangkangan mereka terhadap beliau. Lalu beliau menulis surat kepada Mu’awiyah dan mengajak beliau berdamai.

Imam al-Bukhari berkata dalam kitab ash-Shulh1132 dalam Shahih beliau, “Abdullah bin Muhammad telah menceritakan kepada kami, ia berkata, Sufyan telah menceritakan kepada kami dari Abu Musa, ia berkata, Aku mendengar al-Hasan berkata, ‘Demi Allah SWT., al-Hasan bin Ali mendatangi Mu’awiyah dengan membawa pasukan yang banyaknya seperti gunung-gunung.’ Amru bin al-Ash berkata, ‘Sungguh aku melihat pasukan besar yang tidak akan mundur hingga menghabisi lawannya.’

Mu’awiyah berkata ia lebih baik daripada Amru-, ‘Jika kedua pasukan ini saling berperang, lalu siapakah yang mengurus urusan manusia? Siapa-kah yang mengurus harta mereka? Siapakah yang mengurus wanita-wanita mereka?” Lalu Mu’awiyah mengirim dua utusan dari suku Qurais dari Bani Abdi Syams, yaitu Abdurrahman bin Samurah dan Abdullah bin Amir, Mu’awiyah berpesan kepada mereka berdua, ‘Pergilah temui lelaki ini (al-Hasan bin Ali), tawarkanlah perdamaian kepadanya, berbicaralah baik-baik kepadanya dan mintalah kepadanya agar menerima tawaran ini.’

Maka keduanya pun menemui al-Hasan dan berbicara dengan beliau serta meminta kepada beliau agar menerima tawaran dari Mu’awiyah. Al-Hasan berkata kepada mereka, ‘Kami, Bani Abdul Muth Thalib ra., telah mem-peroleh bagian dari harta ini. Sementara umat ini binasa berkubang darah.’Kedua utusan itu berkata, ‘Sesungguhnya Mu’awiyah menawarkan begini dan begini. la meminta agar Anda menerimanya.’

Al-Hasan berkata, ‘Siapakah yang sudi membantuku untuk itu?’ Keduanya berkata, ‘Kami bersedia membantu Anda.’ Tidaklah al-Hasan meminta sesuatu kepada keduanya melainkan keduanya berkata, ‘Kami bersedia membantu Anda.’ Maka al-Hasan menerima tawaran damai tersebut.” Al-Hasan al-Bashri berkata, “Aku mendengar Abu Bakrah berkata, ‘Aku melihat Rasulullah saw. di atas mimbar sementara al-Hasan duduk di samping beliau. Beliau menghadap para hadirin dan terkadang menoleh ke arah al-Hasan kemudian beliau berkata, “Sesungguhnya cucuku ini adalah sayyid, kelak Allah SWT. Akan mendamaikan dua kelompok besar kaum muslimin melalui dirinya.

Imam al-Bukhari berkata, “Ali bin al-Madini berkata kepadaku, ‘Sesungguhnya yang shahih dalam pandangan kami adalah al-Hasan telah mendengar langsung hadits ini dari Abu Bakrah’.” Saya katakan, Imam al-Bukhari telah meriwayatkan hadits ini dalam kitab al-Fitan1133 dari Ali bin Abdillah, yakni Ibnul Madini. Dan dalam kitab Fadhail

al-Hasan1134 dari Shadaqah bin al-Fadhl, ketiga-tiganya meriwayat-kannya dari Sufyan.

Imam Ahmad meriwayatkannya dari Sufyan -yakni Ibnu Uyainah- dari Israil bin Musa al-Bashri.1135

Imam al-Bukhari meriwayatkan dalam kitab Dala’ilun Nubuwah dari Abdullah bin Muhammad yakni Ibnu Abi Syaibah dan Yahya bin Adam keduanya dari Husain bin Ali al-Ju’fi dari Israil dari al-Hasan yakni al-Bashri.1136

Diriwayatkan juga oleh Ahmad, Abu Dawud dan an-Nasa’i dari hadits Hammad bin Zaid dari Ali bin Zaid dari al-Hasan al-Bashri.1137 Demikian pula diriwayatkan oleh Abu Dawud dan at-Tirmidzi dari jalur al-Asy’ats dari al-Hasan al-Bashri.1138 At-Tirmidzi berkata, “Hasan shahih.” Sementara An-Nasa’i meriwayatkannya dari jalur ‘Auf al-A’rabi dan yang lainnya dari al-Hasan al-Bashri secara mursal.1139 Imam Ahmad1140 berkata, “Abdurrazzaq telah menyampaikan kepada kami, ia berkata, Ma’mar telah menceritakan kepada kami, ia berkata, Sese-orang yang telah mendengar al-Hasan membawakan hadits dari Abu Bakrah telah mengabarkan kepadaku bahwa Abu Bakrah berkata, ‘Suatu ketika Rasulullah saw.  berbicara di hadapan kami. Sementara al-Hasan bin Ali berada dalam pangkuan beliau. Beliau menghadap para sahabat dan berbicara kepada mereka kemudian menoleh kepada al-Hasan dan menciumnya seraya berkata,

Sesungguhnya cucuku ini adalah sayyid. Jika diberi umur panjang ia kelak akan mendamaikan antara dim kelompok kaum muslimin.”

Abul Hasan Ali bin Muhammad al-Madaini1141 berkata, “Al-Hasan menyerahkan

kepemimpinan kepada Mu’awiyah pada tanggal 5 Rabi’ul Awal tahun 41H.” Sementara ulama lainnya mengatakan pada bulan Rabi’ul Akhir. Ada pula yang mengatakan pada awal bulan Jumadil Awal, wallahu ’alam.1142

Ia juga mengatakan, “Saaf itu juga Mu’awiyah memasuki kota Kufah dan berkhutbah di hadapan rakyat Iraq setelah dibai’at.” Imam at-Tirmidzi telah meriwayatkan dalam kitabnya1143, ia berkata, “Mahmud bin Ghailan telah menceritakan kepada kami, ia berkata, Abu Dawud ath-Thayalisi telah menceritakan kepada kami, ia berkata, Al-Qasim bin al-Fadhl al-Huddani telah menyampaikan kepada kami dari Yusuf bin Sa’ad ia berkata, Seorang lelaki bangkit menemui al-Hasan bin Ali setelah Mu’awiyah resmi dibai’at, ia berkata, ‘Engkau telah mencoreng wajah kaum mukminin!’ atau ia berkata, ‘Hai orang yang telah mencoreng wajah kaum mukminin.’

Al-Hasan berkata kepadanya, ‘Janganlah mencelaku semoga Allah SWT. me-rahmatimu! Karena Rasulullah saw. dalam mimpi telah diperlihatkan kepada beliau Bani Umayyah di atas mimbar. Beliau tidak suka melihatnya lalu turunlah ayat: ‘Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak,(Al- Kautsar: 1).Wahai Muhammad, al-Kautsar adalah sungai dalam surga. Lalu turunlah ayat: ” Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (al-Qur’an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. (Al-Qadr: 1-3).

Bani Umayyah akan menguasainya sepeninggalmu wahai Muhammad’.” Al-Qasim berkata, “Kami menghitungnya ternyata jumlahnya genap seribu bulan. Tidak kurang dan tidak lebih satu haripun.” Kemudian at-Tirmidzi berkata, “Hadits ini gharib, kami tidak mengetahuinya kecuali dari hadits al-Qasim bin al-Fadhl, ia adalah perawi tsiqah, telah dinyatakan tsiqah oleh Yahya al-Qaththan dan Ibnu Mahdi.”

Ibnu Katsir berkata, “Akan tetapi gurunya, yaitu Yusuf bin Sa’ad, dise-but juga Yusuf bin Mazin adalah perawi majhul. Hadits dengan lafal di atas tidak diketahui kecuali dari jalur tersebut. Hadits ini gharib bahkan mungkar jiddan (lemah sekali). Kami telah menjelaskannya dalam kitab Tafsir al-Qur’an al-Azhim1144 dan kami rasa penjelasan tersebut sudah cukup. Kami men-jelaskan bukti-bukti kemungkarannya. Kami telah mengkritik al-Qasim bin al-Fadhl atas pernyataannya itu. Bagi yang ingin mengetahui lebih lanjut silahkan buka kitab Tafsir al-Qur’an al-Azhim, wallahu a’lam.”

Setelah Mu’awiyah menerima kekuasaan negeri-negeri beliau masuk kota Kufah dan menyampaikan khutbahnya. Suara kaum muslimin dari seluruh daerah dan negeri telah bulat menerimanya. Tahun itu juga telah dicapai kesepakatan dan ijma’ atas pembai’atan beliau. Kemudian al-Hasan bin Ali bersama saudaranya, yakni al-Husain bin Ali serta saudara-saudara mereka yang lainnya dan keponakan mereka, Abdullah bin Ja’far, meninggalkan tanah Iraq menuju kota Madinah An-Nabawiyah, semoga Allah SWT. mencurahkan shalawat dan salam kepada penduduknya.

Setiap kali beliau melewati kabilah pendukung beliau mereka mencela kebijaksanaannya yang menyerahkan kekuasaan kepada Mu’awiyah. Namun dalam hal ini beliau telah berlaku benar, baik, lurus dan terpuji. Sama sekali beliau tidak merasa keberatan, menggerutu atau menyesal. Bahkan beliau rela dan menyambutnya dengan gembira.1145

Meskipun sejumlah orang dari keluarga, karib kerabat dan pendukung beliau kecewa berat. Terlebih lagi setelah berlalu beberapa masa sampai saat sekarang ini. Sikap yang benar dalam masalah ini adalah mengikuti as-Sunnah dan memuji kebijaksaan beliau yang telah menghentikan pertumpahan darah di antara umat. Sebagaimana hal itu telah dipuji oleh Rasulullah saw. seperti yang disebutkan dalam hadits shahih di atas, walillahil hamdu wal minnah.

1123 Al-Bukhari, 6/273, silahkan lihat Fathul Ban‘dan Muslim nomor (1370).

1124 Ini adalah persaksian Ali bahwa umat inl pernah dipimpin oleh orang terbaiknya -yakni Abu Bakar ash-Shiddiq

sepeninggal Rasulullah saw.

1125 Asywathu yakni menikamnya hingga nyaris membunuh beliau. Silahkan lihat kitab an-Nihayah, 2/511.

1126 Diriwayatkan oleh Ibnu Sa’ad dalam Thabaqatnys, 1/286 namun sanadnya dhaif.

1127 Maskin adalah nama sebuah tempat di Iraq dekat sungai Dujail, silahkan lihat Mu’Jamul Buldan, 5/1

1128 Tarikh ath-Thabari, 5/162.

1129 Al-Bidayah wan Nihayah, 9/153, 169 dan 210.

1130 Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan lainnya sebagaimana yang akan disebutkan nanti.

1131 Silahkan lihat TtiabaqatIbnu Sa’ad, 1/317 dengan sanad hasan.

1132 Shahih al-Bukhari nam<x 2704.

1133 Shahih Al-Bukhari, nomor 7109.

1134 Shahih Al-Bukhari, nomor 3746.

1135 Al-Musnad, 5/37 dan 38

1136 Shahih Al-Bukhari, nomor 3269.

1137 Al-Musnad, 5/49, Abu Dawud, nomor 4662 dan Sunanul Kubra karangan an-Nasa’i, nomor 10080.

1138 Sunan at-Tirmidzi, 3773 dan Abu Dawud, 4662.

1139 Sunanul Kubra, 10083 dan 10095

1140 Al-Musnad, 5/47.

1141 Diriwayatkan oleh ath-Thabari dalam Tariktmya, 5/163.

1142 Silahkan lihat referensi sebelumnya, 3/164 dan 165 dan al-Muntazhim, 5/184.

1143 Jam/’ at-Tirmidzi, 3350, derajat hadits ini dhaif, (silahkan lihat Dhaif Sunan at-Tirmidzi ttl).

1144 Tafsir Ibnu Katsir, 8/462 dan 463.

1145 Ibnu Sa’ad meriwayatkan dengan sanad yang shahih dalam biografi al-Hasan, silahkan lihat Thabaqat Ibnu Sa’ad, 1/317:

“Bahwasanya al-Hasan berkhutbah di hadapan sahabat-sahabat beliau setelah wafatnya Ali bin Abi Thalib ra., beliau berkata,

“Sesungguhnya segala sesuatu yang akan datang akan segera datang. Dan sesungguhnya ketentuan Allah SWT. pasti terjadi

meskipun manusia tidak menyukainya. Demi Allah SWT. sesungguhnya aku tidak suka memegang urusan umat Muhammad

meskipun seberat biji zarrah yang menyebabkan tumpahnya setitik darah. Aku tahu apa yang memudharatkan diriku dan

apa yang membawa manfaat bagi diriku. Pergilan kalian mengurus kebutuhan dan pekerjaan kalian.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: