MEMBANGUN KHAZANAH ILMU DAN PENDIDIKAN

Belajar itu adalah perobahan …….

PENYEBAB MUNCULNYA RAGAM BACAAN AL-QUR’AN

Posted by Bustamam Ismail on March 19, 2010

Salah satu pintu gerbang masuknya serangan pihak Orientalis terhadap Al-Qur’an adalah membuat kekacauan terhadap naskah teks Al-Qur’an itu sendiri. Menurut perkiraan saya, terdapat lebih dari 250,000 naskah AI-Qur’an dalam bentuk manuskrip, secara lengkap maupun sebagian-sebagian, sejak abad pertama hijrah hingga hari ini. Kesalahan-kesalahan telah diklasifikasikan dalam lingkungan akademik pada dua kelompok disengaja maupun tidak, dan dalam koleksi manuskrip yang banyak ini sudah pasti dalam sekejap mata para penulis boleh melakukan kesalahan yang tidak disengaja. Ilmuwan yang membahas subjek itu tahu dan paham betul bagaimana susahnya kesalahan konsentrasi sesaat dapat membahayakan, sebagaimana dibicarakan secara gamblang dalam beberapa karya tulis berikut ini: (1) Ernst Wurthwein, The Text of the Old Testament, edisi kedua yang telah direvisi dan diperluas, William B. Eerdmans Publishing Company, Grand Rapids, Michigan, 1995; (2) Bart D. Ehrman, The Orthodox Corruption of Scripture, Oxford Univ. Press, 1993; dan (3) Bruce M. Metzger, The Text of the New Testament, Edisi ketiga, Oxford Univ. Press, 1992.

Buku pertama mengupas PL (Perjanjian Lama) dan yang lainnya tentang PB (Perjanjian Baru). Semua karya tulis tersebut mengelompokkan kesalahan dengan memakai istilah seperti transposisi, haplografi, dan dittografi yang kadang-kadang ditujukan pada penulis yang sudah meninggal dunia guna mengalihkan perhatian yang ada dalam pikirannya di mana ia melakukan ke­salahan sejak ribuan tahun yang silam.1 Hanya saja perlakuan seperti itu tidak mungkin dapat diterapkan terhadap Al-Qur’an, di mana terjadinya banyak kesalahan-yang jelas ada akibat keletihan dalam penulisan-dianggap sebagai variasi yang betul-betul terjadi, sebagai bukti yang dianggap dapat merusak kitab suci kaum Muslimin.

Betul bahwa ini sangat susah dalam menentukan apakah kesalahan ini disengaja atau tidak; untuk marilah kita selesaikan dua kemungkinan yang dapat mengakibatkan kerusakan teks Al-Qur’an.

Sebagaimana kita maklumi, Mushaf ‘Uthmani betul-betul minus tanda titik. Goldziher yakin bahwa perbedaan bacaan dalam Al-Qur’an adalah akibat kekeliruan dalam penulisan bahasa Arab (palaeografi) zaman dulu, tidak ada titik dan tidak ada tanda diakritikal. Oleh karena itu, bentuk kata fil saat dibuang tanda titiknya memungkinkan lahirnya ragam bacaan seperti: ,

Ini berarti: dia telah dibunuh seekor gajah sebelum mencium tubuh bagian depan seperti yang telah disebut.2 Dalam bab ini saya akan mencoba menolak anggapan tentang palaeografi Arab yang tidak mempunyai tanda titik sebagai sumber kerusakan, distorsi, dan penyelewengan terhadap Al-Qur’ an.

1. Sistem Bacaan (Qira’at) Sebagai Sunnah

Ilmu qira’at yang benar (ilmu seni baca AI-Qur’an secara tepat) diper­kenalkan oleh Nabi Muhammad saw. sendiri, suatu praktik (sunnah) yang me­nunjukkan tata cara bacaan setiap ayat. Aspek ini juga berkaitan erat dengan kewahyuan AI-Qur’an: Teks Al-Qur’an telah diturunkan dalam bentuk ucapan lisan dan dengan mengumumkannya secara lisan pula berarti Nabi Muhammad saw. secara otomatis menyediakan teks dan cara pengucapannya pada umatnya. Kedua-duanya haram untuk bercerai.

‘Umar dan Hisham bin Hakim ketika berselisih bacaan tentang sepotong ayat dalam Surah al-Furqan walaupun pernah sama-sama belajar langsung dari Nabi Muhammad saw., ‘Umar bertanya pada Hisham siapa yang telah mengajarnya. Dia menjawab, “Nabi Muhammad 3 Kejadian serupa dialami oleh Ubayy bin Ka’b.4 Tidak ada seorang sahabat yang berani mengada-ada membuat silabus sendiri: semua bacaan sekecil apa pun merupakan warisan Nabi Muhammad  .

Kita juga menemukan seorang ahli tata bahasa5 yang menyatakan bahwa bacaan kata-kata tertentu, menurutnya, lebih disukai jika mengikuti tata cara aturan bahasa karena perubahan dalam tanda diakritikal tidak membawa makna yang berarti. Walau demikian, ilmuwan-ilmuwan tetap memegang teguh sistem bacaan yang diperkenalkan melalui saluran atau sumber yang sah guna menolak usaha mengada-ada serta tetap mempertahankan pandangan bahwa qira’at hukumnya sunnah yang tidak ada seorang pun memiliki wewenang untuk mengubah seenaknya.

Kita perlu mencatat, biasanya orang-orang tidak mau membeli Mushaf di pasar murahan setelah selesai belanja waktu pagi dari penjual ikan dan sayuran lalu pulang menghafal surah secara pribadi.6 Belajar secara lisan melalui seorang instruktur yang memiliki otoritas keilmuan sangat diperlukan, biasa­nya rata-rata lima ayat per hari. Tradisi ini terjadi di akhir seperempat pertama abad pertama hijrah ketika Abu Bakr bin ‘Ayyash (w. 193 H.) belajar Al­Qur an dari Ibn Abi an-Najud (w. 127 H.) sewaktu masih muda.7 Artinya, tidak ada bacaan bermula dari kevakuman atau hasil tebakan seorang penggubah yang dilakukan secara pribadi di mana ketika mulai muncul lebih banyak bacaan orang-orang yang memiliki otoritas, semua sumber dapat dilacak sampai kepada Nabi Muhammad  Pada zaman sahabat muncul sebuah buku tentang subjek ragam bacaan yang dibuat untuk kepentingan masa depan dalam skala kecil.8 Dengan waktu yang telah menyaksikan perkembangan buku yang semakin banyak untuk membandingkan bacaan ilmuwan yang terkenal dari beberapa pusat keilmuan, ujung tombak terdapat dalam buku Ibn Mujahid.

2. Perlu Banyak Ragam Sistem Bacaan:  Penyederhanaan Bacaan bagi Mereka yang tak Biasa (Non Arab)

Kesatuan dialek yang sudah Nabi  biasa dengannya sewaktu masih di Mekah mulai sirna setibanya di Madinah. Dengan meluasnya ekspansi Islam melintasi belahan wilayah Arab lain dengan suku bangsa dan dialek baru, berarti berakhirnya dialek kaum Quraish yang dirasa sulit untuk dipertahankan. Dalam kitab sahihnya, Muslim mengutip hadith berikut ini:

Ubayy bin Ka’b melaporkan bahwa ketika Nabi   berada dekat lokasi banu Ghifar Malaikat Jibril datang dan berkata, “Allah telah menyuruh kamu untuk membaca Al-Qur’an kepada kaummu dalam satu dialek,” lalu Nabi bersabda, “Saya mohon Ampunan Allah. Kaumku tidak mampu untuk itu” lalu Jibril datang lagi untuk kedua kalinya dan berkata, “Allah telah menyuruhmu agar membacakan Al-Qur’an pada kaummu dalam dua dialek,” Nabi Muhammad lalu menjawab, “Saya mohon ampunan Allah. Kaumku tidak akan mampu melakukannya,” Jibril datang ketiga kalinya dan berkata, “Allah telah menyuruhmu untuk membacakan Al-Qur’an pada kaummu dalam tiga dialek,” dan lagi-lagi Nabi Muhammad %% berkata, “Saya mohon arnpunan Allah, Kaumku tidak akan mampu melakukannya,” Lalu Jibril datang kepadanya keempat kalinya dan menyatakan, “Allah telah mengizinkanmu membacakan Al-Qui an kepada kaummu dalam tujuh dialek, dan dalam dialek apa saja mereka gunakan, sah-sah saja.”9

Ubayy (bin Ka’b) juga melaporkan.

Rasulullah  bertemu Malaikat jibril di Batu Mira’ (di pinggiran Madinah, dekat Quba) dan berkata kepadanya, ” Saya telah diutus kepada suatu bangsa buta huruf, di antaranya, orang tua miskin, nenek-nenek, dan juga anak-anak,” Jibril menjawab, “Jadi suruh saja mereka membaca Al-Qur’an dalam tujuh dialek (ahruf).”

Lebih dari dua puluh sahabat telah meriwayatkan hadith yang mengukuhkan bahwa Al-Qur’an telah diturunkan dalam tujuh dialek  ( ).11 Di sini kita tambahkan bahwa ada empat puluh pendapat ilmuwan tentang makna ahruf (secara literal: huruf-huruf). Beberapa dari kalangan mereka mengartikannya begitu jauh, tetapi kebanyakan sepakat bahwa tujuan utama adalah memberi kemudahan membaca Al-Qur’an bagi mereka yang tidak terbiasa dengan dialek orang Quraish. Konsesi diberikan melalui anugerah Allah

Sebelumnya telah kita lihat bagaimana dialek yang berlainan telah memicu perselisihan pada dasawarsa berikutnya, di mana mempercepat langkah ‘Uthman menyiapkan sebuah Mushaf dalam dialek orang Quraish. Akhirnya, jumlah semua ragam bacaan yang terdapat dalam kerangka lima Mushaf resmi tidak lebih dari empat.puluh karakter, dan seluruh pembaca yang ditugaskan mengajar Al-Qur an wajib mengikuti teks Mushaf tersebut clan agar meneliti sumber otoritas dari mana mereka mempelajari bacaan sebelumnya. Zaid bin Thabit, orang yang begitu penting dalam pengumpulan Al-Qur’an, menyatakan bahwa ( )12 (“Seni bacaan (qira’at) Al-Qur’an merupakan sunnah yang mesti dipatuhi dengan sungguh-sungguh”). Penjelasan akan hal ini telah kita masukan ke dalam bab-bab sebelumnya.
Variasi adalah suatu istilah yang saya sebenarnya kurang begitu sreg memakainya. Dalam masalah tertentu, istilah itu secara definitif dapat memberi nuansa akan ketidakpastian. Jika pengarang ash menulis satu kalimat dengan caranya sendiri, kemudian rusak akibat kesalahan dalam menulis lalu kita perkenalkan prinsip ketidakpastian; akhirnya penyunting yang tak dapat mem­bedakan mana yang betul dan mana yang salah, akan meletakkan apa yang ia sangka sesuka hatinya ke dalam teks, sedangkan lainnya dimasukkan ke dalam catatan pinggir. Demikian halnya dengan masalah variasi (ragam bacaan). Akan tetapi masalah Al-Qur’an jelas berlainan karena Nabi Muhammad , satu-satunya khalifah Allah sebagai penerima wahyu dan transmisinya, secara pribadi mengajarkan ayat-ayat dalam banyak cara. Di sini tak ada dasar keragu­raguan, tak terdapat istilah kabut hitam maupun kebimbangan, clan kata `varian’tampak gagal dalam memberi arti yang masuk akal. Kata multiple jauh dapat memberi penjelasan akurat, oleh karena itu, di sini saya hendak meng­giring mereka pada pemakaian “multiple reading’ (banyak bacaan). Salah satu alasan yang melatarbelakangi fenomena ini adalah adanya perbedaan dialek dalam bahasa Arab yang perlu diberi tempat selekas mungkin, seperti telah kita bicarakan di atas. Alasan kedua dapat jadi merupakan sebuah upaya mem­perjelas masalah dengan cara yang lebih baik, beberapa makna yang tersirat dalam ayat tertentu dengan menggunakan dua kata, yang semuanya muncul resmi dari perintah Allah    Contoh yang sangat jelas dalam hal ini adalah Surah al-Fatihah, di mana ayat ke empat dibaca malik (Pemilik) atau malik (Raja) di hari pembalasan. Kedua-dua kata tadi diajarkan oleh Nabi Muhammad , dan oleh karena itu menjadikannya bacaan yang banyak (multiple), bukan beragam (variant).

Tidak heran jika para orientalis menolak keterangan yang diberikan oleh pihak Muslim dan ingin coba-coba merekayasa teori sendiri. Sebagai ke­panjangan upaya membuat Al-Qur’an edisi kritikal, tujuannya ingin menyoroti variasi bacaan. Pada tahun 1926 Arthur Jeffery menyepakati bekerja sama dengan Prof Bergstrasser dalam menyiapkan sebuah arsip materi (potongan ayat-ayat Al-Qur’an) agar di suatu masa memungkinkan menulis sejarah perkembangan teks Al-Qur’an.13 Dalam pencariannya dia meneliti kurang lebih 170 jilid-beberapa sumber masih dapat dipercaya, namun banyak bernilai kelas murahan. Koleksinya tentang varian sampai 300 halaman dalam bentuk cetak, mencakup Mushaf pribadi yang dihasilkan oleh sekitar tiga puluh orang ilmuwan. Dalam bab ini saya akan membatasi diri melakukan kajian kritis pada satu aspek jerih payah yang dilakukan Jeffery, hasil karyanya tentang variants. Sedang aspek lain kita akan jabarkan kemudian.

3. Penyebab Utama Munculnya Banyak (Multiple) Bacaan  (Variants, beragam): Pandangan Orientalis

Menurut Jeffery kekurangan tanda titik dalam Mushaf `Uthmani berarti merupakan peluang bebas bagi pembaca memberi tanda sendiri sesuai dengan konteks makna ayat yang ia pahami.14 Jika ia menemukan kata tanpa tanda titik boleh saja dibaca: atau sesuai dengan pilihan karakternya. Menggunakan tanda titik dan tanda lainnya amat diperlukan guna menye­suaikan pemahaman sendiri terhadap ayat itu. Sebelum zaman Jeffery, Goldziher dan lainnya berusaha meyakinkan bahwa menggunakan skrip yang tidak ada tanda titik telah mengakibatkan munculnya perbedaan. Dalam memperkuat anggapannya, Goldziher menyuguhkan beberapa contoh potensial yang ia bagi ke dalam dua kelompok.

  1. Perbedaan karena tidak adanya tanda diakritikal

Bagi yang tidak begitu mengenal sejarah seni baca Al-Qur’an (qira’at), contoh seperti itu mungkin dianggap sah. Tetapi walau bagaimanapun semua teori harus berhadapan pada ujian terlebih dulu sebelum dipertimbangkan sebagai teori yang sah, dan kajian Islam sayangnya berkembang dengan satu cara yang slap pakai tanpa memerlukan ujian segala. Jadi marilah kita evaluasi pernyataan-pernyataan mereka.

Tampaknya Jeffery dan Golziher benar melupakan tradisi pengajaran secara lisan, satu mandat atau perintah yang hanya melalui seorang instruktur kelas kakap, ilmu Islam dapat diperoleh. Banyak sekali ungkapan Al-Qur an yang dapat secara kontekstual memasukkan lebih dari satu titik dan tanda diakrikital, tetapi dalam banyak hal, seorang ilmuwan hanya membaca dengan satu cara. Ketika perbedaan muncul (dan ini sangat jarang terjadi) kedua kerangka bacaan tetap mengacu pada Mushaf ‘Uthmani, dan tiap kelompok dapat menjustifikasi bacaannya atas dasar otoritas mata rantai atau silsilah yang berakhir pada Nabi Muhammad saw.19 Atas dasar ini kita dapat menyingkirkan tiap pembaca yang memberi pendapat nyleneh ingin memasukkan titik dan tanda diakritikal menurut selera keinginan dirinya. Walaupun telah banyak fakta dalam teori mereka, hendaknya mau mempertimbangkan jumlah pem­baca dan ribuan kerangka (naskah) yang dapat dibaca melalui empat atau lima cara; Jumlah perbedaan tidak mencapai angka ratusan ribu atau mungkin jutaan. Ibn Mujahid (w. 324 H.) menghitung, seluruh Mushaf semuanya hanya ada kira-kira satu ribu multiple bacaan saja.20 Membandingkan teori dengan kenyataan ini hanya untuk menunjukkan kesalahan hipotesis mereka.

Beberapa contoh konkret untuk membantu memperkuat pendapat saya:

Sekali lagi, Menurut leksikografi kedua-dua bentuk ini adalah sah pada setiap ayat.21

Saya dapat menggoreskan tinta pena lebih kuat dengan mengangkat contoh lebih banyak lagi, tetapi contoh di atas sudah dirasa cukup untuk membuktikan pendapat saya. Secara literal ada ribuan contoh di mana kedua-dua bentuk kata secara kontekstual adalah sah tetapi hanya satu yang dipakai secara kolektif; jadi sebenarnya banyak lagi contoh yang sama dengan yang mereka kemukakan dan malahan mengungguli teori Jeffery dan Goldziher.

Sekarang mari kita bertanya: memasukkan tanda titik kepada teks yang minus titik, kapan kesalahan tekstual yang mengakibatkan kerusakan dan menjadi bahaya? Ketika kita tidak memiliki alat ukur dalam membedakan mana yang benar dan yang salah, ini sebagai penyebab yang membahayakan. Seandainya kita mempunyai dua manuskrip, masing-masing mengandung berikut ini: “Dia mencium perempuan dan kemudian melarikan diri” dan “Dia membunuh perempuan dan kemudian melarikan diri”. Sekarang dalam keadaan ketiadaan konteks yang kita jadikan indikasi, untuk memutuskan yang benar menjadi sangat tidak mungkin: jelas sekali kita menghadapi problem tekstual. Andaikan kemudian kita mempunyai sepuluh manuskrip dengan mata rantai transmisi yang berbeda, sembilan di antaranya memuat kalimat: “Dia mencium perempuan, kemudian melari­kan diri” sedangkan yang kesepuluh memuat kalimat : “Gajah perempuan kemudian dia melarikan diri” Selain tidak jelas, kalimat ini juga bertentangan dengan sembilan manuskrip yang lain, yang semuanya setuju pada makna yang masuk akal, jadi jelas membuang kata gajah menjadi satu-satunya jawaban yang dapat dipahami. Sama halnya dengan masalah manuskrip Al-Qur’an. Jika kita pilih seratus Mushaf, yang berasal dari beberapa tempat dan masing-masing memuat tulisan tangan dan tanggal yang berbeda, dan jika keseluruhannya sama kecuali satu Mushaf-lagi-lagi, jika kesalahannya tidak masuk akal-maka semua orang yang berakal akan menyifatkannya keganjilan yang sebagai salah tulis.

Jeffery menuduh kaum Muslimin memalsukan kitab mereka sendiri,

Ketika kita membuka Al-Qur’an, kita menemukan bahwa manuskrip zaman klasik tidak ada yang mempunyai tanda huruf hidup (vowels) dan semuanya ditulis dalam skrip Kufi yang sangat berbeda dengan skrip yang dipakai pada naskah zaman kita sekarang. Memodernkan skrip dan ortografi, dengan memberikan tanda huruf hidup dan tanda titik pada teks, yang itu telah benar-benar terjadi, merupakan sesuatu yang di­sengaja, akan tetapi usaha mereka itu melibatkan pemalsuan teks. Itulah masalah kita sekarang.22

Dia melakukan perkara yang bodoh dengan mengklaim bahwa yang ter­dahulu dinamakan Mushaf dan ditulis dalam skrip Kufi, karena sebenarnya teks itu ditulis dalam skrip Hejazi berbentuk miring sebagai mana terlihat pada gambar 7.1.23 Tambah lagi, dia mengakui skrip Kufi sangat berbeda dari skrip yang digunakan hari ini, dan bahkan menganggap pembaruan skrip sebagai bentuk pemalsuan. Andaikan saya menulis artikel seluruhnya dengan tangan dan mengirimkannya kepada penerbit, haruskah saya anggap bahwa dia ber­salah karena memalsukan artikel saya ketika saya melihat artikel saya dalam bentuk huruf Helvetika atau Time New Roman? Apakah bahasa Arab dianggap bahasa mati, seperti halnya huruf Hieroglyphic, dan apakah AI-Qur’an sudah hilang beratus-ratus tahun, seperti Taurat, lalu pemalsuan teks terjadi jauh ke belakang setelah itu; karena kita coba berusaha meraba-raba membaca buku yang sudah lama hilang dalam bentuk skrip yang tidak dapat dibaca, memaksakan sangkaan kita pada keseluruhan teks. Kenyataannya, walaupun skrip Kufi masih dapat dibaca hari ini, dan tradisi pengalihan (transmisi) Al-Qur’an secara lisan telah menjiwai kaum Muslimin, menjadikan persoalan yang ada semakin terang, maka Jeffery tidak mempunyai masalah lagi yang perlu dipertahankan mati-matian.24

4. Penyebab Kedua yang Mengakibatkan Banyak (Multiple) Bacaan (varian, Beragam)

Dalam pengumpulan materi untuk keperluan penelitian ini, Jeffery meng­gunakan metodologi orientalis dan menolak cara kritis kaum Muslimin dalam menganalisis isnad.25 Dia menjelaskan kriterianya:

Dan orang-orang yang dianalisis, metode mereka adalah untuk mengum­pulkan semua pendapat, spekulasi, asas praduga, dan kecenderungan untuk menyimpulkan melalui pemilihan clan penemuan yang sesuai dengan tempat, waktu, dan kondisi pada waktu mengambil pertimbangan teks tanpa menghiraukan mata rantai riwayat. Untuk membangun teks Taurat dan Injil sama caranya dengan pembuatan teks puisi Homer atau surat Aristotle, yang ahli filsafat.26

Sudah tentu kita tidak dapat mengembalikan masa lampau, tetapi kita dapat mengingat sebagian yang ada melalui sistem persaksian dan pertimbangannya. Menurut metodologi penelitian dan pendirian ilmuwan Muslim, sangat tidak jujur dalam masalah saksi, jika menempatkan persaksian orang-orang jujur dan amanah sejajar tingkatannya dengan pembohong. Tetapi metodologi Jeffery memberikan pengakuan anggapan pembohong sama seperti seorang yang jujur;27 Selama tujuan mereka terlaksana, dia dan teman penyokongnya menerima material yang berbeda-beda seperti yang dituduhkan kepada tulisan Ibn Mas’ud atau siapa saja, terlepas sumber yang ada dapat dipercaya atau tidak, dan memandang rendah kekayaan bacaan yang begitu terkenal.

Dia beralasan bahwa selain dari tidak ada tanda titik (yang saya telah menjawabnya), perbedaan juga muncul karena beberapa pembaca meng­gunakan teks yang bertanggalkan sebelum Mushaf ‘Uthmani, yang kebetulan berbeda dengan kerangka ‘Uthmani dan yang tidak dimusnahkan walaupun ada perintah dari khalifah.28 Tetapi anggapan ini dibesar-besarkan tanpa ada bukti yang kukuh. Contohnya, koleksi Jeffery tentang varian dari Mushaf Ibn Mas’ud dianggap tidak sah karena sejak awal lagi tidak ada satu pun dalam daftar bacaannya yang menyebut Mushaf Ibn Mas’ud. Kebanyakan bukti yang ada hanya menyatakan bahwa Ibn Mas’ud menyebut ayat ini dengan cara begitu tanpa ada bukti mata rantai riwayat. Ini tidak lebih dari cerita omong kosong, sekadar kabar burung dan supaya dia dapat meningkatkan anggapan yang bernilai murahan sebagai argumentasi melawan bacaan yang terbukti betul guna membantah metode yang membedakan antara periwayat yang jujur dan yang gadungan.29

Tuduhan Jeffery melebar tidak hanya Mushaf Ibn Mas’ud, oleh karena itu saya di sini akan menjawab dengan ringkas tentang riwayat yang salah yang menyatakan bahwa Khalifah ‘Ali membaca satu ayat yang bertentangan dengan Mushaf ‘Uthmanl. Bacaan:  (menambahkan dua kata pada ayat 103:1).30 Pengarang buku al-Mabani31 mengecam bahwa riwayat ini ada tiga kesalahan:

  1. ‘Asim bin Abi an-Najud, salah seorang mahasiswa cemerlang as-Sulami, yang kemudian jadi salah seorang mahasiswa ‘Ali yang dihormati, mengaitkan bahwa ‘Ali membaca ayat ini sama seperti yang ada di Mushaf ‘Uthmani.
  2. ‘Ali menjadi khalifah setelah terbunuhnya ‘Uthman. Apakah dia percaya bahwa pendahulunya bersalah karena menghilangkan kata-kata terterrtu, tentunya ini merupakan kewajiban ‘Ali untuk membetulkan kesalah­annya. Jika tidak maka akan dituduh mengkhianati kepercayaannya.
  3. Usaha ‘Uthman mendapatkan dukungan dari seluruh umat Muslim; ‘Ali sendiri berkata bahwa tidak ada seorang pun yang bersuara menentang, dan kalau dia merasa tidak suka, tentu ia naik pitam.32

Pandangan ini hanya satu dari beribu pandangan dari sahabat Nabi Muhammad yang bersemangat menyaksikan pecahan Al-Qur’an tua, sebagaimana kuatnya kesaksian mereka waktu menyetujui keutuhan naskah Al-Qur’an. Tidak ada tambahan, pengurangan, maupun penyelewengan. Siapa saja yang menolak pendapat ini dan mencoba untuk membawa barang baru, mengklaim ini adalah teks sebelum ‘Uthmani yang disukai oleh sahabat ini atau itu, adalah fitnah buat para sahabat yang sangat kuat imannya. Ibn Mas’ud sendiri, pengarang al-Masahif dan yang melengkapi bermacam-macam qira’at yang tidak sama dengan teks `Uthmani, menolak untuk mengategorikan nilai mereka seperti Al-Qur’an. Dia berkata, “Kita tidak mengakui bacaan Al­Qur’an kecuali membaca apa yang tertulis dalam Mushaf `Uthmani. Jika ada seseorang yang membaca sesuatu yang bertentangan dengan Mushaf ini dalam shalat, maka saya akan menyuruh agar mengulang shalat kembali.”33

Tahap pembentukan Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru terjadi dalam waktu yang penuh perubahan, keadaan politik waktu itu menjadikan dua teks benar-benar acak-acakan. Upaya meniru secara tepat tentang perilaku ke­jahatan ini ke dalam teks Al-Qur’an, ilmuwan Barat melihat semua bukti umat Islam dengan penuh prasangka selagi Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru penuh dengan keraguan di dalamnya.34 Sedang rasa was-was terhadap ke­benaran pada variasi materi yang menghantui pikiran Jeffery, namun demikian dia tidak pernah mencantumkan dalam bukunya.

Beberapa varian kelihatannya tidak mungkin terjadi secara bahasa… Beberapa kalangan berusaha memberikan kesan bahwa perbedaan ini merupakan kelanjutan hasil ciptaan para ahli ilmu bahasa (philologers)… Hanya saja, sebagian besar menganggap suatu kelanjutan kehidupan hakiki sejak sebelum zaman teks ‘Uthmani, kendati hanya setelah melewati pencarian kajian kritis keilmuan modern … apakah kita mesti bebas menggunakannya dalam rekonstruksi yang dituju tentang sejarah teks Al­Qur’ an.35

Jasa ini dan pencarian kritis terhadap keilmuan modern yang dilakukan Jeffery, sayangnya, tidak lebih dari slogan gaya baru yang tak berarti.

5. Mengubab Sebuah Kata Karena Kesamaannya dalam Waktu Membaca

Goldziher, Blachere dan yang lainnya menganggap bahwa di zaman masyarakat Muslim terdahulu, mengubah sebuah kata dalam ayat Al-Qur’ an untuk mencari kesamaan adalah sangat dibolehkan.36 Alasan yang melandasi anggapan mereka ada dua faktor:

  • At-Tabari melaporkan melalui `Umar bahwa Nabi  berkata, “Oh ‘Umar, semua AI-Qur’an adalah betul (contohnya AI-Qur’an akan tetap sah walau secara tak sengaja anda terlewat dari ayat ke ayat yang lain), kecuali anda tak sengaja tergelincir dari satu ayat yang mendukung rahmat Allah pada seseorang mengabarkan tentang murka-Nya, atau sebaliknya”.37

Hadith ini membuktikan dirinya sebagai dasar yang kuat mem­bolehkan khayalan aktif imaginasi bagi mereka yang tetap memaksakan pendapat bahwa persamaan kata dapat dipakai sebebas mungkin selama ruh kata-kata itu tetap dipertahankan. Adakah masalah seperti ini pernah terjadi? Kita tahu dari hukum perjanjian kita bahwa tidak ada seorang pengarang yang akan memberi persetujuan mengganti kalimatnya dengan kata-kata persamaan (synonyms), walaupun kata-kata itu dipilih secara teliti. Dalam masalah Al-Qur’an, yang bukan buatan penduduk bumi ini, Nabi Muhammad saw. sendiri tidak memiliki wewenang mengubah ayat­ayatnya. Jadi bagaimana mungkin ia akan membolehkan orang lain melakukannya?38 Jika seseorang salah mengutip pekerja kantor secara tak sengaja, mungkin pengaruhnya sangat kecil, tetapi salah kutip seorang hakim akan dapat menghasut sikap bertolak belakang yang lebih besar; lantas bagaimana jika seseorang dengan sengaja salah dalam mengutip Kitab Allah?
Seseorang yang sudah biasa membaca dari hapalan tahu persis bagai­mana otak akan mudah tergelincir, lompat ke surah lain dan setengahnya lagi ditinggalkan sedangkan la sendiri tidak begitu sadar. Karena merasa takut akan membuat kesalahan seperti ini, orang-orang memilih untuk tidak membaca seluruhnya hanya dari hafalan saja. Walaupun Nabi Muhammad  selalu menganjurkan sahabatnya untuk menghafal dan membaca sebanyak mungkin, pernyataannya sangat menolong atau meringankan rasa kecemasan yang dirasakan oleh masyarakat dalam hal ini.

  • Alasan kedua yang melandasi anggapan para orientalis ini adalah, di dalam banyak hal, qira’at Ibn Mas’ud dan yang lainnya dibumbui ulasan tafsir  ( ) Al-Bukhari mendokumentasikan seperti berikut ini:

Nafi meriwayatkan, “Apabila Ibn ‘Umar membaca Al-Qur’an dia tak akan ngomong dengan siapa pun sampai dia selesai membacanya. Suatu ketika saya memegang AI-Qur’an saat ia membaca Surah al-Baqarah melalui hafalannya; tiba-tiba dia berhenti pada ayat tertentu dan bertanya, “Tahukah anda, dalam keadaan apa ayat ini telah diturunkan?” Saya menjawab, “Tidak”. Dia berkata, “Ayat ini diturunkan dalam keadaan ini dan itu.” Lalu ia meneruskan bacaannya.39

Dari sini kita dapat menyimpulkan bahwa beberapa ilmuwan mengajukan catatan penjelasan pada pendengarnya sewaktu ia membacakan Al-Qur’an.40 Ini tidak dapat kita dianggap sebagai variant reading (bacaan yang berbeda­beda) yang sah dan tidak pula dapat menganggapnya sebagai bagian dari Al-Qur’an. Beberapa kalangan Orientalis menyatakan bahwa ilmuwan ini bermaksud mengembangkan teks Al-Qur’an; anggapan seperti ini adalah sebagai hinaan terhadap tuhan, menyindir secara tak langsung bahwa sahabat merasa lebih pandai dari Allah yang Mahatahu dan Mahabijaksana.

6. Kesimpulan

Setelah meneliti hipotesis Jeffery dan Goldziher, dan menganggap bukti yang tepat, tampaknya tak ada cara lain kecuali meletakkan teori mereka ke pinggiran. Perbedaan yang mereka prediksi sekarang telah diketahui, dalam contoh yang banyak (tidak terkira) di mana sebuah kerangka huruf dapat menerima lebih dari satu set tanda titik dan diakritikal sesuai dengan konteksnya; masalah yang jarang terjadi di mana perbedaan yang diakui dalam qira’at tidak akan membawa pengaruh terhadap makna teks.41 Goldziher sendiri mengakui ini,42 sebagaimana pula Margoliouth:

Dalam banyak masalah ketidakjelasan skrip yang mengakibatkan bacaan ragam bacaan sangat sedikit sekali konsekuensinya.43

Keinginan mereka untuk membuktikan adanya kerusakan teks Al-Qur’an dengan Perjanjian Lama (PL) dan Perjanjian Baru (PB), para orientalis tidak menghiraukan kondisi politik agama (religio political condition) negara Muslim yang baru lahir, dan bagaimana berbeda dari krisis yang menimpa masyarakat Yahudi-Kristen pada awal pertumbuhannya. Perbedaannya sebenarnya sangat jauh sekali dan tidak lebih menarik seperti seorang anak jelas keturunannya dibandingkan dengan seorang anak yang diabaikan sebelum jadi yatim piatu, dan yang ironisnya adalah cara menentukan orang tua anak yang jelas keturunannya, menggunakan prosedur yang telah ditentukan untuk anak yang diabaikan. Saya telah berusaha menunjukkan kesalahan dalam logika orientalis tetapi, sebagaimana pengalaman telah mengajarkan saya,44 saya hanya berharap bahwa semua observasi ini tidak sekaligus diabaikan oleh kelompok mereka. Di sini saya hanya menunjukkan kesalahan pendekatan mereka, tetapi saya sangat sadar bahwa debat kusir seperti ini di mana pun harus ada ujungnya; kalau tidak ilmuwan Muslim akan terus sibuk perang tulisan yang tidak akan ada habisnya.

Bagi Muslim yang saleh tidak ragu-ragu lagi bahwa Allah berjanji akan memelihara Kitab-Nya, tidak akan memilih bahasa atau skrip yang lemah guna menyampaikan wahyu-Nya yang terakhir. Dalam kapasitas sastra, ekspresi yang mendalam, gaya puitis, tulisan ejaannya bahasa Arab adalah bahasa yang cukup maju yang telah diberkati dan pilihan Allah melebihi bahasa-bahasa lain. Oleh karena itu, ini merupakan keistimewaan bagi masyarakat Muslim untuk terus membaca dalam bentuknya yang asli, dan memasukkan tanda-tanda ke dalamnya adalah sebuah usaha agar orang non-Arab juga mampu membaca yang asli secara mudah.

Sudah lama saya menyinggung tentang metodologi Islam dan peranannya yang penting dalam memelihara seni baca Al-Qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad  agar bebas dari pemalsuan dari abad ke abad. Penelitian tentang metodologi ini secara terperinci akan dibahas dalam bab berikutnya.

< BACK INDEX NEXT >
1. Lihat hlm 272 dan hlm. 320-23.2. Untuk diskusi tentang teks seperti di atas, tidak ada titik, yang mengakibatkan kerusakan dan kapan tidak mengakibatkan, lihat kembali bagian 3 dalam bab ini.

3. Al-Bukhari, Sahih, Fada’il Al-Our’an: 5.
4. Muslim, Sahih, Musafirin, hadith no. 205.

5.  Ibn Shanbudh (meninggal 328 Hijrah). Lihat buku ini hlm. 222-3.

6. Sebagaimana disebutkan pada hlm. 118-120, Jual beli Mushaf muncul pada pertengahan abad pertama hijrah. Cara pendidikan Islam adalah untuk mendidik murid-murid mendapatkan skill literasi (kemampuan membaca dan menulis), kemudian diikuti dengan membaca kitab suci Al-Qur’an dari awal sampai akhir di bawah bimbingan yang benar. Al-Qur’an adalah buku pertama yang mereka pelajari dan kalau selesai sudah pasti mereka telah mcnguasai bahasa Arab. Kebiasaannya setelah itu mercka memerlukan naskah Mushaf pribadi, baik untuk mengulang kaji hafalan mereka atau untuk digunakan mengajar yang lain, dan oleh karena itu pembeli Mushaf dari pasar setempat telah pintar dalam seni bacaan (qira’at), dan sudah kenal dengan surah di dalamnya sejak hari persekolahan mereka. Sayangnya, hanya baru-baru saja Al-Qur’ an digunakan sebagai alat bantu pengajaran dan agak sedikit santai.
7. Ibn Mujahid, Kitab as-Sab`ah, hlm. 71.
8. Lihat Arthur Jeffery (ed.) Muqaddimatan fi `ulum Al-Qur’an (Dua pendahuluan kepada ilmu­ilmu Al-Qur’an), Kairo, 1954, hlm. 276. Sangat penting untuk dicatat bahwa sebelum kepada Ibn Mujahid, sekitar empat puluh buku telah ditulis tentang subjek ini (Dr. `Abdul Hadi al-Fadli, Qira’at Ibn Kathir wa Atharuha fi ad-Dirasat an-Nahawiyyah (Ph.D. Thesis), Universitas Kairo, 1975, hlm. 60-65, sebagaimana dikutip oleh Ghanim Qadduri, Rasm al-Mushaf, hlm. 659)
9.  Muslim, Sahih, Kitab as-Salat, hadith no. 1789, diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh A.Siddiqi’ dengan beberapa perubahan’.

10. lbn Hanbal, Musnad, v:132, hadith no. 21242.

11. Lihat as-Suyuti, al-Itqan, i: 131 -141.
12. As-Suyuti, al-Itqan, i: 211.

13. A. Jeffery, Materials for the History of the Text of the Qur’an, E.J. Brill, Leiden, 1937. Saya mungkin menambahkan bahwa Jeffery menggunakan jargon Judeo-Christian dalam menyusun arsip ini, “Canonization by Ibn Mujahid,” hlm. 11; “Muslim Massora,” hlm. 3, 5 (catatan kaki); dan menggunakan t untuk mcnunjukkan mati dan bukan disalib seperti jiwa kristus yang kerdil!) hlm. 14, dst.

14. A. Jeffery, “The Textual History of the Qui an”, in A Jeffcry, The Qur’an as Scripture, R.F. Moore Co., New York, 1952, hlm. 97.

15. ‘Abdul-Halim Najjar, Madhahib at-Tafsiral-Islami, Kairo, 1955, hlm. 9-16. Ini terjemahan bahasa Arab bukunya Goldziher.

16. Qur’an 7:48. Ini contoh yang. salah, lihat Ibn Mujahid, Kitab as-Sab’ah, hlm. 281-2.
17. Qur’an 4:94.

18. Qur’an 7:57.

19. Masyarakat Muslim tidak ada masalah dengan isnad atau riwayat ketika menghafal Al-Qur’an, karena ini tidak praktis dan tidak perlu untuk orang biasa setelah kita tahu bahwa Al-Qur’an ada di mana-mana di setiap rumah dan setiap mulut. Bagaimanapun pembaca yang professional dan Ilmuwan mengikuti isnads, sebagai penjaga yang dipercayai untuk memastikan bahwa teks yang sampai pada masyarakat adalah tepat dan tidak ada kerusakan. Saya juga sama, walaupun menulis pada abad 15 H. / 21 M., saya bisa memberikan isnad untuk bacaan Al-Qur’an.
20. Ilmuwan yang meneliti naskah resmi Mushaf ‘Uthmani, mencatat perbedaan hanya empat puluh karakter; ini berdasarkan pada perbedaan dalam kerangka itu sendiri. Satu ribu macam bacaan menurut Ibn Mujahid itu dikarenakan perbedaan dalam meletakkan tanda titik dan tanda pada kata­kata tertentu, selain dari perbedaan kerangka huruf.

21. Untuk kajian yang lebih detail tentang topik ini, lihat ‘Abdul-Fattah al-Qadi, “al-Qira’at fi Nazar al-Mustashriqin wa al-Mulhidin”, Majallai al-Azhar, Ramadan 1390/1970 dan seterusnya.

22. A. Jeffery, “The Textual History of the Qur’an”, in A. Jeffery, The Qur’an as Scripture, hlm.

89-90.

23. Skrip Kuf telah terkenal setelah itu, pada pertengahan abad pertama Hijrah. Lihat inskripsi Kufi dalam gambar 9.12-9.14 (masing-masing bertanggalkan 40, 80 dan 84 Hijrah).

24. Di sini kita bisa menyebutkan bahasa kebanyakan odentalis percaya pada skrip perjanjian lama, walaupun skrip Hebrew sudah diubah dua kali dan tanda diakritikal tidak diberikan pada teks konsonan sehingga abad 10 Masehi, jarab waktu 25 abad. Sudah pasti kesenjangan yang lama ini telah memberikan pengaruh yang tidak bisa dibetulkan pada teks Hebrew yang digunakan sekarang. (lihat buku ini hlm. 238-56).
25. Rantai saksi yang terlibat dalam periwayatan kejadian. Lihat bab yang akan datang.
26. Lihat Arthur Jeffery (ed) al Masahif, Pendahuluan (dalam bahasa Arab), hlm..4
27. Kasus ini sama dengan kasus seseorang yang memiliki sebuah rumah sejak beberapa generasi dan mempunyai bukti yang diperlukan untuk mendukung klaimnya, tiba-tiba suatu waktu ada orang yang kelihatannya asing tidak tahu dari mana ia datang mengklaim bahwa rumah itu kepunyaannya. Dengan menggunakan metodologi Jeffery kita harus menerima klaim orang asing itu dan mengusir orang yang tinggal di rumah sebab cerita si orang asing ini salah, sensasi dan bertentangan dengan perkataan semua orang.

28. Lihat Jeffery (ed.), al-Masahif, Pendahuluan, hlm. 7-8

29. Mushaf Ibn Mas’ud, dan Analisis Jeffery adalah topik yang sangat penting. Oleh karena itu, saya diskusikan dengan panjang lebar di bab 13.

30. A. Jeffery, Materials, hlm. 192

31. A. Jeffery (ed.) , Muqaddimatan, hlm. 103-104

32 Lihat buku ini hlm. 106.
33. lbn Abi Dawud, al-Masahif, hlm. 53-54.
34. Baru-baru ini saya membaca kembali jilid luar karangan Juynboll, Muslim Tradition, yang gambar luarnya diambil dari manuskrip Arab tertua tentang dokumen yang ditulis di atas kertas. Catatan itu dibaca (ditegaskan oleh penulis), “Manuskrip ini telah dituduhkan ditulis pada tahun 252 H. / 866 M.” Berapa kali kita bisa mengharapkan untuk melihat yang sama pada Perjanjian Lama dan Baru atau literature yang lainnya?

35. A, Jeffery, Materials, pendahuluan, hlm. x, Lebih menekankan.
36. R, glachere, Introduction au Coran, 1947, hlm. 69-70; lihat juga ‘Abdus-Sabnr Shahin, Tarikh Al-Qur’an, hlm. 84-85.

37. At-Tabari, Tafsir, i:13

38. Qur’an 10:15: “Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami yang nyata, orang­ orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami berkata, “Datangkanlah Al-Qur’an yang lain dari ini atau gantilah dia.” Katakanlah (oh Muhammad), “Tidaklah patut bagiku menggantinya dari pihak diriku sendiri. Aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku. Sesungguhnya aku takut jika mendurhakai tuhanku kepada siksa hari yang besar (Kiamat).”
39. Al-Bukhari, Sahih, vi:38, hadith no. 50.
40. ‘Abdus-Sabur Shahin, Tarikh Al-Qur’an, hlm. 15-16. Di sini Golziher mengakui bahwa beberapa tambahan adalah merupakan tafsir (penjelasannya).
41. Sangat jauh berbeda dengan perbedaan yang terdapat di Injil yang ditemukan dalam manuskrip, seperti Yohanes 1:18 ( Yang hanya satu satunya, Tuhan” dan “Yang hanya mempunyai satu anak”), yang mengandung dunia yang berbeda. Dan menurut P.W. Comfort, terjemahan literal adalah “satu Tuhan yang unik’ (Early Manuscript & Modern Translations of the New Testament, Baker Books, 1990, hlm. 105. Untuk lebih detailnya lihat diskusi tentang manuskrip hlm. 75 (Bodmer Papyrus xiv-xv) dalam hlm. 286-7.
42. ‘Abdul-Halim Najjar, Madhahib at-Tafsir al-lslami, hlm. 12-13.
43. D.S. Margoliouth, “Textual Variations,” The Moslem World, Oktober, 1925. Vol. 14 no. 4, hlm. 340.

44. Kebanyakkan karya saya terdahulu, seperti Studies in Early Hadith Literature, Kritikan saya terhadap Goldziher dan On Schacht’s Origin of Muhammadan Jurisprudence (sebuah karya untuk menolak Schacht) adalah semua merupakan buku-buku akademik yang serius yang Prof. John Burton memberikan label sebagai “Islamic perspective’ (An Introduction to the Hadith, Edinburgh Univ. Press, 1994, hlm. 206) dan yang telah diabaikan dalam lingkungan akademik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: