MEMBANGUN KHAZANAH ILMU DAN PENDIDIKAN

Belajar itu adalah perobahan …….

SUMBER KERANGKA DAN SISTEM TANDA TITIK DIAKRITIKAL(TANDA BACA) DALAM AL-QUR’AN

Posted by Bustamam Ismail on March 16, 2010

1. Sumber Kerangka dan sistem

Pendeta Yusuf Sa`id, sebagaimana disebutkan oleh al-Munaggid sebagai seorang ahli dalam sejarah alfabet, sistem titik dan tanda diakritikal, menyata­kan bahwa Syriak kemungkinan yang pertama kali mengembangkan sistem tanda titik.44 Ini merujuk kepada kerangka tanda titik, seperti dapat dilihat dalam karakter seperti: Pengakuannya tidak sampai pada tanda diakritikal. Tetapi Dr. ‘Izzat Hassan (peny.) dalam pembukaan a!-Muhkam fi Naqtil Masahif, mengambil langkah ekstra dan menyifatkan sistem diaktrikal sebagai pengaruh Syriak: Karena Syriak lebih maju dalam skim tanda titik dan grammar, maka Bahasa Arab meminjamnya dengan bebas.45 Dari argumentasi ini dia mengutip pendapat Orientalis Itali Guidi, Archbishop Yusuf Dawud, lsra’il Wilfinson, dan ‘All ‘Abdul-Wahid al-Wafi-yang mengulangi analis se­belumnya. DR. Ibrahim Jum’ah telah mengekspresikan pendapat yang sama tentang Bahasa Arab meminjam sistem diakritikal dari bahasa Syriak, dengan mengutip pendapat Wilfinson.46 Ini merupakan kesimpulan dari beberapa orientalis yang lain, termasuk Rev. Mingana yang (tidak pernah sopan dalam kata-katanya) menyatakan,

The first discoverer of the Arabic vowels is unknown to history. The opinion of Arab authors, on this point, are too worthless to be quoted47 (Penemu pertama huruf hidup Bahasa Arab tidak dikenal oleh sejarah. Pendapat pengarang Arab, dalam hal ini, tidak ada nilainya untuk dikutip).

Dengan memberi penegasan bahwa Monastri (biara), Sekolah dan Universitas Syriak telah membangun sebuah sistem di antara 450-700 Masehi, dia berkata, “Dasar-dasar huruf hidup bahasa Arab adalah berdasarkan pada huruf hidup Aramaik. Nama yang diberikan pada huruf hidup ini merupakan bukti yang tak terbantah dari ketelitian pernyataannya: seperti Phath dan Phataha.”48 Menurutnya, Orang Arab tidak menjelaskan sistem ini sehingga pada akhir pertengahan bada ke delapan masehi,49 melalui pengaruh sekolah Baghdadi, yang di bawah arahan para ilmuwan Nestorian di mana Hunain yang cemerlang itu telah menulis karyanya tentang grammar Syriak.50

Dalam alphabet Syriak, hanya dua karakter yang mempunyai tanda titik: Dolath (dal) dan Rish (ra). Kemudian membandingkannya dengan alphabet Arab yang semuanya ada lima belas karakter yang bertitik: Bayangkan bagaimana bahasa Arab meminjam titik bermacam-macam dari Syriak. Oleh karena itu, pernyataan ini menjadi susah untuk dipercaya; lebih dari itu, kita sudah memiliki bukti penggunaan tanda titik sebelum Islam, semenjak awal abad ketujuh masehi dan mungkin lebih awal lagi sejak abad ketiga Masehi.51

Sekarang marilah kita teruskan dengan tanda diakritikal Syriak yang ada dua set. Menurut Yusuf Dawud Iqlaimis, Biskop Damaskus,

Ini jelas yakin tanpa diragukan bahwa pada zaman Yakub dari Raha, yang meninggal di awal abad kedelapan masehi, di sana tidak ada metode tanda diakritikal dalam bahasa Syriak, tidak dalam huruf hidup bahasa Yunani maupun system tanda titiknya.52

Menurut Davidson walaupun,53 Yakob Raha (w. 708 M.) menemukan tanda set pertama pada abad ketujuh, sedangkan Theophilus meremukan set kedua (huruf hidup Bahasa Yunani) pada abad ke delapan. Perlu diingat bahwa akhir abad ke tujuh masehi itu sama dengan tahun 81 hijrah, dan akhir abad ke delapan masehi sama dengan tahun 184 hijrah, sedangkan persoalannya sekarang: siapa meminjamkan kepada siapa? Menurut apa yang diungkapkan Davidson bahwa keputusan mungkin sebaliknya, maka marilah kita cari jawab­annya dengan meneliti skrip. Gambar di bawah ini menggambarkan beberapa huruf hidup (vowels) Bahasa Syriak.54

Gambar 10.10: Contoh Vokal Syriak.

Tanda yang dipakai oleh Yakob Raha menunjukkan tanda-tanda yang mirip sistem diakritikal AI-Qur’an. Sekarang perlu diingat bahwa yang menemukan sistem diakritikal bahasa Arab adalah Abu al-Aswad Du’ali, yang meninggal pada tahun 69 hijrah (688 M.). Di mana ia memberi tanda titik pada semua Mushaf di zaman pemerintahan Mu’awiyah tahun 50 H./670 M.. Maka dengan seketika masalah siapa yang sebenarnya meminjam, persoalannya jadi semakin jelas. Selama enam ratus hahun orang Syriak menulis Kitab Injil mereka tanpa tanda diakritikal, walaupun mereka menyombongkan din telah mendirikan sebuah universitas di Nisibis, beberapa kampus, dan monastri (biara) yang beroperasi sejak tahun 450 Masehi. Tetapi tanda diakritikal dibuat hanya pada akhir abad ke tujuh dan awal abad delapan Masehi, sedangkan ad­ Du’ali memberi tanda titik pada Mushaf telah selesai pada tiga seperempat abad ke tujuh masehi. Logika secara jelas akan menyebut bahwa Yakob adalah seorang pengkopi sistem yang dikembangkan oleh umat Islam. Kesimpulan ini bisa diterima, jika kita mau menerima pengakuan Davidson; jika kita mengambil fatwa yang diberikan oleh Biskop Damaskus, maka kita tidak memerlukan argumentasi ini.

Ada yang menyangkut tuduhan yang dinyatakan oleh Rev. Mingana

Ada yang menyangkut tuduhan yang dinyatakan oleh Rev. Mingana bahwa orang Arab gagal dalam menjelaskan sistem ini sehingga akhir pertengahan abad ke delapan masehi, kita perlu pertimbangkan masalah berikut:

  1. Ada satu laporan bahwa Ibn Shirin (w. 110 H./728 M.) mempunyai Mushaf asli yang diberi tanda titik oleh Yasya bin Ya’mar (w. 90 H. / 708M.).55
  2. Khalid al-Hadhdha’ sudah terbiasa mengikuti bacaan Ibn Shirin dari Mushaf yang sudah diberi tanda titik.56

Kedua-dua kejadian ternyata lebih awal dari skema peminjaman yang disarankan. Grammar Bahasa Syriak menemukan identitasnya melalui usaha Hunain bin Ishaq (194-260 H./810-873 M.);57 bertentangan dengan keyakinan Mingana, karangan Hunain tentang Bahasa Syriak tidak memengaruhi grammar bahasa Arab karena Sebawaih (w. 180 H./796 M.),58 tokoh besar grammar bahasa Arab, meninggal dunia sebelum Hunain lahir. Hunain sendiri adalah sebenarnya hasil dari peradaban Islam. Dia belajar bahasa Arab di Basra, dari seorang murid dari mahasiswa terkenal yang pernah belajar dengan tokoh leksikografi Muslim kenamaan, Khalil bin Ahmad al-Fraheedi (100-170 H. /718 – 786 M.).59

2. Ortografi dan Palaeografi tak Menentu seperti terlihat dalam Skrip Kuno selain Al-Qur’an

Kita telah diskusikan sebelum ini, bagaimana dua skema diakritikal yang berlainan sama-sama dipakai dalam Al-Qur’an dan buku-buku yang lain. Kita juga telah mencatat bahwa perbedaan dalam skrip AI-Qur’an dan lainnya serta fatwa ilmuwan yang menentang pembaruan kaidah ejaan dalam Mushaf ‘Uthmani. Tetapi bagaimana dengan buku-buku lain, bagaimana mereka secara bertahap merespons untuk mengubah palaeografi dan ortografi skrip bahasa Arab?

Gambar10.11: Sebuah contoh skrip selain Al-Qur’an tahun 227H.. Sumber: R. G. Khaury, Wahb bin Munabbih, Papan gam6ar PB 9. Dicetak dengan izin penerbit.

Gambar 10.11 adalah contoh setengah halaman dari Madhazi Wahb bin Munabbih, Sebuah manuskrip abad 227 H., Khoury menyediakan daftar ejaan yang janggal yang dia temukan dalam teks ini.60 Satu contoh saya tuliskan kembali di bawah ini.

Poin yang menarik adalah semua yang amburadul terdapat pada satu halaman. Sudah pasti ini dibuat oleh satu orang penulis, tetapi keputusan me­nulis huruf-huruf dalam ragam gaya menunjukkan bahwa semua tanda sama­sama dianggap sah (bisa digunakan), dan menguatkan apa yang kita telah singgung sebelum ini tentang beberapa bentuk dibolehkan untuk tiga huruf hidupKetidak teraturan itu muncul sesuai dengan pertimbangan kita. Jika kedua gaya itu dapat dipakai dalam waktu yang sama, maka rasanya pada tempatnya kita kurang untuk menuduh penulis sebagai orang yang tidak konsisten. Apa pun alasan kita untuk membantah palaeografi yang bebas di zaman itu, sesungguhnya tidak dirasa penting. Metodologi Islam menekankan bahwa setiap murid harus belajar langsung dari seorang guru dan tidak pernah dibolehkan mempelajari teks apa pun dengan cara pribadi; selagi tradisi belajar secara lisan masih berlaku dan guru masih mampu menguraikannya tulisan tangan yang tidak menentu, cara seperti ini tidak akan jadi penyebab lahirnya kerusakan.

Ratusan referensi berkualitas tinggi telah ditulis guna membedah skema ejaan dan tanda titik yang digunakan dalam Mushaf, clan untuk bacan lebih lanjut saya sarankan agar melihat: (1) Kitab an-Naqt yang ditulis oleh Abu `Amr ad-Dani (371-444 Hijrah), diterbitkan oleh Universitas al-Azhar, Kairo; dan (2) A1-Muhkam fi Naqt al-Masahifditulis oleh ad-Dani, disunting oleh DR. ‘Izzat Hassan, Damaskus, 1379 (1960).

Pembaca yang berminat dalam masalah ini harap baca bagian pen­dahuluan al-Badi` fi Rasm Masahif `Uthmani (hlm. 43-45), disunting oleh al­Funaisan, la menyebut ada 80 buku dalam topik ini. Tujuan utama dari karya­karya tersebut adalah hendak mendidik pembaca tentang kaidah-kaidah Mushaf Uthmani, dan bukan untuk menunjukkan bahwa itu sebagai sesuatu yang salah serta bernuansa ala kampung. Kita telah lihat perbedaan antara bahasa Inggris yang ditulis pada abad ketujuh belas dengan yang ditulis zaman modern, dan jika kita lihat semua perubahan ini merupakan satu proses perkembangan (daripada saling menuding satu atau yang lainnya terbelakang) dan tentunya, sikap itulah yang harus kita sodorkan terhadap bahasa Arab.

Kesimpulan

Kedua kerangka tanda titik (yang sudah dikenal oleh orang Arab sebelum Islam) clan tanda diakritikal (yang dibuat oleh Muslim) tidak terdapat pada usaha `Uthman dalam mengumpulkan Al-Qur’an secara terpisah. Dengan tidak adanya tanda titik dan konsonan ini, uniknya, Mushaf telah selamat dari pemalsuan yang dibuat oleh seseorang yang mempelajari Al-Qur’an melalui lisan dan mempelajarinya secara pribadi. Orang seperti ini dengan mudah dapat diketahui, jika saat ia ingin coba-coba membacanya di depan orang banyak. Dengan keengganannya dalam memasukkan bahan-bahan yang tak ada hubungannya ke dalam Mushaf, ‘Uthman tidak berdiri sendirian melainkan Ibn Mas’ud juga sependapat dengannya. Di kemudian hari Ibrahim an-Nakha’i (w. 96 Hijrah), ketika seseorang mencatat sebuah Mushaf dengan tambahan judul (heading) seperti “permulaan Surah ini dan itu”, tidak menyukainya dan me­nyuruhnya agar dihapus.63 Yahya bin Abi Kathir (w. 132 Hijrah) mencatatkan,

Titik adalah yang paling pertama dimasukkan oleh Muslim ke dalam Mushaf, sebuah tindakan yang mereka katakan sebagai lampu terang terhadap batang tubuh teks (seperti menjelaskannya). Kemudian mereka meletakkan tanda titik pada setiap ujung ayat untuk memisahkan ayat berikutnya, dan setelah itu, informasi menunjukkan permulaan dan akhir setiap surah.64

Baru-baru ini saya jumpai pernyataan kasar tentang ortografi AI-Qur’an, yang mendesak supaya kita mengikuti susunan bahasa Arab modern dan menghilangkan ketentuan yang dipakai orang-orang yang menuliskan Mushaf `Uthmani yang dituduh bodoh dan buta huruf Saya sama sekali tidak setuju. Ini hanya mencerminkan nafsu orang jahil, pada jiwa orang seperti ini dan kelas kakap macam Ibn Khaldun, bagaimana mungkin dapat melupakan proses perubahan bahasa tidak bisa dihindari pada setiap waktu. Apakah mereka percaya bahwa setelah beberapa abad nanti, orang-orang lain tidak akan me­lontarkan kecaman bahwa karya mereka juga adalah usaha yang dilakukan oleh orang-orang jahil buta huruf? Sebuah buku yang menentang perubahan selama empat belas abad adalah bukti nyata bahwa isi kandungan teks adalah milik Allah, dan Dia sendiri yang memeliharanya. Keaslian yang terpelihara yang secara jeli dijaga dari noda sejak dulu dipelihara tanpa cacat sejak kehadirannya tidak akan disengsarakan melalui penyesuaian perubahan seperti terjadi pada Kitab Injil.65

44. S. al-Munaggid, Etudes de Paleographic Arabe, hlm. 128. AI-Munaggid telah menunjukkan beberapa catatan tentang pengantn Syriak pada kerangka titik.45. ‘izzat Hassan (peny.) al-Muhkam fr Naqtil Masahif, hlm. 28-29.46. lbrahim Jum’ah, Dirasat fi Tatawwur al-Kitabat al-Kufiyyah, 1969, hlm. 17,27,372.
47. A. Mingana dan A.S. Lewis (eds.) Leaves from Three Abcient Quran Possibly Pre­ ‘othmanic: With a list of their variants, Cambridge University Press, 1914, hlm. Xxxi.

48. lbid, xxx.

49. Ini bisa diterjemahkan kepada tahun 150 Hijrah dan seterusnya, karena 700-799 Masehi = 81-184 Hijrah.

50. Mingana dan Lewis (eds.) Leaves from Three Abcient Qurans, hlm. xxxi.
51. Lihat kembali Inskripsi Raqush, bab 9.

52. Yusuf Dawud Iqlaimis Biskop Damaskus, al-Lam’a ash-Shahiyyah ti Nahw al-Lugha as­Siryaniyah, Edisi kedua, Mosul, 1896, hlm.

53. B. Davidson, Syriac Reading Lessons, London, 1851.
54. B. Davidson, Syriac Reading Lessons, London, 1851

55. Ad_Dani, al-Naqt, hlm. 129.
56. Ad-Dani, al-Muhkam, hlm. 13

57. Hunain bin Ishaq (194-260 Hijrah / 810-873 Masehi): dilahirkan di _ira di kalangan keluarga Kristen (yang berbahasa Syriak). “Dalam masalah sikapnya yang menghancurkan berhala-berhala di gereja dia disangka menghina kepada tuhan dan di buang oleh Biskop Theodosius…” (J. Ruska, “Hunain b. Ishak”, Encyclopaedia oflslam, Edisi pertama, E. J. Brill Leiden, 1927, hlm. 336).

58. Sibawaih (135-180 Hijrah): salah seorang ahli grammar bahasa Arab terkenal, dan pengarang pada buku bcsar yang termasyhur, al-Kitab. (lihat Kahhala, Mu jam al-Muwa’allifin, ii: 584).

59. Kahhala, Mu jam al-Muwa’allifin, i: 66.
60. Raif G. Khoury, Wahb bin Munabbih, Otto Harrassowitz – Wiesbaden, 1972. Ted I, hlm. 22-27. 61. Daftar ini tidak lengkap dan berdasarkan pada bagian yang ditunjukkan. De Goeje sudah mempelajari manuskrip ini secara terperinci dan mengobservasi terus adanya ketidak teraturan (MT de Georje, “Beschreibung einer alten Handshcrift von Abu ‘obaida’s Garib-al-hadith, ZDMG, xviii:781­807 sebagaimana dikutip dalam Levinus Warner and His Legacy (Catalogue of the Commemorative exhibition held in the Bibliotheca Thysiana from April 27th till may 15th 1970), E.J. Brill, Leiden, 1970, hlm. 75-76). Saya berterima kasih kepada Prof. J.J. Witkam untuk rujukan ini dan gambar yang berwarna.

62. Dalam menulis ya’ terpencil, penulis biasanya menggunakan dua kerangka yang berbeda. Contohnya lihat baris 3 (anak panah biru) dan baris terakhir (anak panah

63. Ad-Dani, al-Muhkam, hlm. 16.

64. Lihat Ibn Kathir, Fada’il, vii:467.

65. Untuk diskusi masalah skup pemalsuan akan dibuktikan dalam bab 15 dan 17.



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: