MEMBANGUN KHAZANAH ILMU DAN PENDIDIKAN

Belajar itu adalah perobahan …….

Muncul Khawarij dan Hadist yang mengisyaratkan

Posted by Bustamam Ismail on March 15, 2010

1. MUNCULNYA KHAWARIJ

Awal mula munculnya gerakan Khawarij ini adalah sewaktu al-Asy’ats bin Qais melewati sekelompok orang dari Bani Tamim, beliau membacakan kepada mereka piagam perdamaian. Lalu bangkitlah Urwah bin Udayyah –Udayyah adalah ibunya, bapaknya bernama Hudair, berasal dari Bani Rabi’ah bin Hanzhalah- ia berkata, “Apakah engkau mengangkat manusia sebagai hakim dalam agama Allah?” Kemudian ia memukul bagian belakang hewan tunggangan al-Asy’ats dengan pedangnya. Al-Asy’ats dan kaumnya marah melihat perlakuannya itu. Lalu al-Ahnaf bin Qais at-Tamimi dan sejumlah tokoh Bani Tamim datang meminta maaf kepada al-Asy’ats atas kejadian ter-sebut.1082

Al-Haitsam bin Adi berkata, “Kaum Khawarij mengklaim bahwa orang pertama yang memprotes tahkim adalah Abdullah bin Wahab ar-Rasibi. Namun yang benar adalah yang pertama. Kata-kata protes yang dilontarkan oleh lelaki ini diadopsi oleh sekelompok orang dari pasukan Ali ra. dari kalangan qurra’, mereka berkata, “Tidak ada hukum kecuali milik Allah!” Lalu mereka disebut al-Muhakkimiyah.” Orang-orang berpencar ke daerah masing-masing pasca peperangan Shiffin.

Mu’awiyah kembali ke Damaskus sementara Ali ra. kembali ke Kufah. Ketika Ali ra. memasuki Kufah beliau mendengar seorang lelaki berkata, “Ali ra. pergi lalu kembali tanpa membawa apa-apa?” Ali ra. berkata, “Orang-orang yang kita tinggalkan -yakni penduduk Syam- lebih baik daripada mereka.” Kemudian beliau berlalu dan terus berdzikir mengingat Allah hingga masuk ke dalam istana Khalifah di Kufah. Sewaktu mendekati kota Kufah sekitar dua belas ribu anggota pasukannya memisahkan diri. Merekalah cikal bakal Khawarij.

Mereka tidak mau tinggal bersama Ali ra. di Kufah. Mereka bermukim di satu tempat bernama Harura’. Mereka mengingkari beberapa perkara atas Ali ra. yang mereka anggap Ali ra. telah melakukannya. Ali ra. mengirim Abdullah bin Abbas kepada

mereka untuk berdialog. Banyak dari mereka kembali kepada jalan yang benar dan sisanya tetap bertahan.

Kaum Khawarij inilah yang diisyaratkan dalam hadits yang muttafaqun ‘alaihi bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Akan muncul kelompok yang menyempal saat manusia berselisih. Dalam riwayat lain dengan lafal: Saat kaum muslimin berselisih. Dalam riwayat lain pula dengan lafal: Saat ummatku berselisih. Lalu mereka diperangi oleh kelompok yang paling mendekati kebenaran.” 1083 Hadits ini memiliki banyak jalur dengan lafal yang beragam. 1084 Hadits ini termasuk salah satu tanda kebenaran kenabian Muhammad Realita yang terjadi persis seperti yang dikabarkan oleh Rasulullah saw. Dalam hadits ini juga diisyaratkan bahwa kedua kelompok yang berselisih, yakni penduduk Iraq dan penduduk Syam, masih tergolong kaum muslimin.

Tidak seperti anggapan kelompok Rafidhah, orang-orang jahil dan zhalim yang mengkafirkan penduduk Syam. Dalam hadits tersebut juga diisyaratkan bahwa kelompok Ali ra. Adalah kelompok yang lebih dekat kepada kebenaran. Demikianlah madzhab Ahlus Sunnah wal Jama’ah, yaitu Ali ra. berada di pihak yang benar dan Mu’awiyah yang memerangi Ali ra. telah salah dalam ijtihadnya. Dan ia mendapat satu pahala atas kesalahan ijtihadnya insya Allah. Akan tetapi Ali ra. adalah Imam yang haq insya Allah. Ia berhak mendapat dua pahala sebagaimana disebutkan dalam Shahih al-

Bukhari 1085dari hadits Amru bin al-‘Ash bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Jika seorang hakim berijtihad lalu benar maka ia berhak mendapat dua pahala, namun jika ia berijtihad lalu salah maka ia mendapat satu pahala.”

Disebutkan bahwa Ali ra. pergi menemui mereka dan berdialog dengan mereka tentang perkara yang mereka ingkari atas beliau. Ali ra. berhasil mengeluarkan mereka dari masalah yang mereka persoalkan. Mereka bersedia masuk kota Kufah bersama beliau.1086 Kemudian mereka melanggar perjanjian yang telah mereka sepakati. Mereka menggalang persatuan dan kesepakatan di antara mereka untuk menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar dan untuk menegakkan kebenaran di tengah manusia (menurut anggapan mereka). Mereka kembali memisahkan diri di tempat yang bernama Nahrawan.

Di situlah Ali ra. memerangi mereka. Imam Ahmad berkata 1087 “Ishaq bin Isa ath-Thaba1 menceritakan kepada kami, ia berkata, Yahya bin Sulaim telah menceritakan kepadaku dari Abdullah bin Utsman bin Khutsaim dari Abdullah bin ‘Iyadh bin Umar al-Qari, ia berkata, ‘Abdullah bin Syadad datang menemui ‘Aisyah ra. ra.. ketika itu kami berada di sisinya sekembalinya ia dari Iraq pada malam terbunuhnya Ali ra.. ‘Aisyah ra. ra.. berkata kepadanya, ‘Hai Abdullah bin Syadad, bisakah engkau menceritakan dengan jujur apa yang akan kutanyakan kepadamu?’ ‘Ceritakanlah kepadaku tentang kisah orang-orang yang diperangi oleh Ali ra.!’ Pinta ‘Aisyah ra.  Abdullah bin Syadad berkata, ‘Mengapa aku tidak jujur menceri-takannya kepadamu?’ ‘Kalau begitu, ceritakanlah kepadaku!’ Kata ‘Aisyah ra. .

Abdullah bin Syadad memulai ceritanya: ‘Sesungguhnya, ketika Ali ra. mengadakan perundingan dengan Mu’awiyah dan keduanya sepakat me-nunjuk dua juru runding, maka delapan ribu pasukan terdiri dari para qurra’ memisahkan diri dari beliau mereka menempati sebuah daerah bernama Harura’ di luar Kufah. Mereka mencela Ali ra., kata mereka, ‘Engkau telah melepas pakaian yang telah Allah kenakan kepadamu dan telah meninggalkan nama yang telah Allah berikan kepadamu. Kemudian engkau mengangkat manusia sebagai hakim dalam agama Allah. Sesungguhnya tiada hukum melainkan milik Allah semata.’

Ketika cercaan mereka itu sampai ke telinga Ali ra. dan keputusan mereka memisahkan diri darinya, beliau memerintahkan pengawalnya untuk mengumumkan agar jangan masuk menemui Amirul Mukminin kecuali seorang yang hafal al-Qur’an. Ketika rumah beliau dipenuhi oleh para qurra1 beliau meminta sebuah mushaf besar lalu meletakkannya di depan beliau. Lalu beliau memukulnya dengan keras sembari berkata, ‘Hai Mushaf, bicaralah kepada manusia!’ Orang-orang pun berseru kepada beliau, mereka berkata, ‘Wahai Amirul Mukminin, mengapa engkau bertanya kepada mushaf? Ia hanya tinta di atas lembaran kertas? Sedangkan kami dapat menyampaikan kepadamu berdasarkan apa yang kami riwayatkan darinya. Apakah gerangan yang anda maksud?’

Ali ra. berkata, ‘Rekan-rekan kalian yang menyempal, antara aku dan mereka terdapat Kitabullah! Sesungguhnya Allah telah berkata dalam kitabNya tentang persengkataan antara sepasang suami istri, ‘Dan kamu khawatirkan ada persengketaan antara keduanya, maka kirimlah seorang hakam dari keluarga laki-laki dan seorang hakim (juru runding) dari keluarga perempuan. Jika kedua orang hakim (juru runding) itu bermaksud mengadakan perbaikan, niscaya Allah memberi taufik kepada suami-isteri itu.’ (An-Nisa1: 35).

Darah dan kehormatan umat Muhammad lebih agung daripada darah dan kehormatan sepasang suami istri. Mereka menyalahkan aku karena meneken perdamaian dengan Mu’a-wiyah yang berbunyi, ‘Ini adalah perjanjian yang ditulis oleh Ali bin Abi Thalib ra..’1088 Sungguh, Suhail bin Amru datang kepada kami saat itu kami bersama Rasulullah saw. di Hudaibiyah ketika ia berunding mewakili kaumnya, yakni kaum Quraisy. Rasulullah saw. menulis teks perjanjian: Bismillahirrahmanirrahim. Suhail berkata, ‘Aku tidak menulis bismillahirrahmanirrahim!’ Rasulullah saw. berkata, ‘Lalu apa yang engkau tulis?1 Ia berkata, Tulislah bismikallahumma.’ Rasulullah saw. berkata, ‘Tulislah, Muhammad Rasulullah saw.!’ Suhail menimpali, ‘Sekiranya aku mengakui engkau adalah Rasulullah saw. tentu aku tidak akan menyelisihimu!’

Akhirnya ditulislah, ‘Ini adalah perjanjian yang disepakati oleh Muhammad bin Abdillah dengan kaum Quraisy.’ Allah telah berfirman dalam kitabNya: ‘ Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah saw. itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat.’ (Al-Ahzab: 21). Kemudian Ali ra. mengirim Abdullah bin Abbas *$& kepada mereka. Aku ikut bersama beliau (yakni Ibnu Abbas). Ketika kami tiba di markas mereka, Ibnul Kawa’ bangkit dan berpidato di hadapan pengikutnya, ia berkata, ‘Wahai para penghafal al-Qur’an! Ini adalah Abdullah bin Abbas! Bagi yang belum mengetahui profilnya maka aku akan memperkenalkannya kepada kalian dari Kitabullah yang akan membuat kalian mengenalnya. Dia dan kaumnya termasuk orang yang disebutkan sifatnya dalam al-Qur’an: ‘‘ Sebenarnya mereka adalah kaum yang suka bertengkar.‘ (Az-Zukhruf: 58). Suruh ia kembali kepada rekannya (maksudnya Ali) dan jangan ladeni ia berdialog tentang Kitabullah!’ Sebagian dari mereka berkata, ‘Tidak, sebaiknya kita ladeni dia. Jika dia datang dengan membawa kebenaran yang kita ketahui maka kita akan mengikutinya. Jika dia datang membawa kebatilan maka kita patahkan dia dengan kebatilannya itu.1

Maka mereka pun berdialog dengan Abdullah bin Abbas tentang Kitabullah selama tiga hari. Empat ribu orang dari mereka rujuk kepada kebenaran, mereka semua bertaubat. Termasuk di antaranya Ibnul Kawa’. Abdullah bin Abbas membawa mereka ke hadapan Ali ra. di Kufah. Lalu Ali ra. mengirim utusan kepada para pengikut Khawuarij yang tersisa. Beliau berkata, ‘Sesungguhnya kalian telah menyaksikan apa yang telah kami alami dan apa yang telah dialami oleh manusia. Berbuatlah semau kalian hingga umat Muhammad saw bersatu. Antara kami dan kalian terikat perjanjian, tidak boleh menumpahkan darah yang haram dibunuh, tidak boleh menyabotase jalan dan tidak boleh menzhalimi ahli dzimah. Jika kalian melanggarnya maka kami akan membalasnya dengan pembalasan yang setimpal. Allah ber-firman: ‘Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berkhianat.’ (Al- Anfal: 58). ‘Aisyah ra. ra.. ra. bertanya kepada Abdullah bin Syadad, ‘Wahai Ibnu Syadad apakah mereka melanggarnya?’

Ia menjawab, ‘Demi Allah, tidak lama setelah itu mereka menyabotase jalan, menumpahkan darah dan menghalalkan darah ahli dzimmah. ‘Demi Allah benarkah itu?1 Tanya ‘Aisyah ra. ra… ‘Demi Allah yang tiada ilah yang berhak disembah selain Dia, begitulah kenyataan yang terjadi!’ Jawab Abdullah bin Syadad. ‘Aisyah ra. ra.. berkata lagi, ‘Lalu apa maksudnya perkara yang dibicarakan oleh penduduk Iraq? Mereka berkata, ‘Dzuts Tsuday dan Dzuts Tsudayyah!’

Abdullah bin Syadad berkata, ‘Sungguh aku telah melihatnya, aku berdiri bersama Ali ra. di antara korban-korban yang tewas. Beliau memanggil orangorang seraya berkata, ‘Tahukah kalian siapa orang ini?’ Maka orang-orang yang melihatnya berkata, ‘Aku pernah melihat dia di masjid Bani Fulan!’ Yang lain berkata, ‘Aku pernah melihatnya di masjid Bani Fulan sedang mengerjakan shalat!1 Tidak seorang pun yang datang kecuali mengatakan hal serupa.”

‘Aisyah ra. ra.. berkata, ‘Apa yang dikatakan oleh Ali ra. ketika mendengar pengakuan penduduk Iraq itu?’ Abdullah bin Syadad berkata, ‘Aku dengar ia mengatakan, ‘Mahabenar Allah dan RasulNya!1 ‘Apakah engkau mendengar ia mengucapkan perkataan lain selain itu?’ Selidik ‘Aisyah ra. ra… Ibnu Syadad menjawab, ‘Sama sekali tidak!’ ‘Maha benar Allah dan Rasulnya, benarlah perkataannya itu. Semoga Allah merahmati Ali ra., sesungguhnya salah satu kalimat yang sering diucap-kannya bila melihat sesuatu yang membuatnya takjub, ‘Mahabenar Allah dan RasulNya.’ Lalu penduduk Iraq membuatbuat kedustaan atas nama beliau dan menambah nambahinya.”

Imam Ahmad terpisah dalam meriwayatkannya, sanadnya shahih dan riwayat ini dipilih oleh adh-Dhiya’. Dalam riwayat ini diisyaratkan bahwa jumlah mereka adalah delapan ribu orang, akan tetapi mereka semua berasal dari para qurra’. Dan boleh jadi orangorang lain mengikuti dan menyepakati madzhab mereka ini hingga akhirnya jumlah mereka membengkak menjadi dua belas ribu atau enam belas ribu orang.

Setelah berdialog dengan Abdullah bin Abbas empat ribu dari mereka rujuk kepada kebenaran. Sementara selebihnya tetap berada di atas kesesatan mereka. Ya’qub bin Sufyan1089 meriwayatkan dari Musa bin Mas’ud dari Ikrimah bin Amar dari Simak Abu Zumail dari Abdullah bin Abbas. Lalu ia menyebutkan kisah di atas. Disebutkan bahwa mereka menggugat Ali ra. karena telah mengangkat manusia sebagai hakim, ia telah menghapus namanya dari keamiran, ia ikut serta dalam peperangan Jamal dan membunuh jiwa yang diharamkan untuk dibunuh dan ia tidak membagi-bagikan harta rampasan perang dan tidak membagibagikan para tawanan.

Beliau telah menjadi dua point pertama seperti yang telah disebutkan di atas. Dan mengenai point yang ketiga, beliau mengatakan, Salah satu orang yang tertawan adalah Ummul Mukminin ‘Aisyah ra. ra.., jika kalian katakan ia bukanlah Ummul Mukminin berarti kalian telah kafir. Jika kalian halalkan kehormatan ibu kalian tersebut kalian juga jatuh kafir!”

2. Hadits-hadits yang Menerangkan Tentang Khawarij

Al-Hafizh Ibnu Katsir menyebutkan hadits-hadits marfu’ kepada Rasulullah saw. Yang berbicara tentang Khawarij dan sifat-sifat mereka. Beliau meriwayatkannya dari tiga belas sahabat. Beliau mulai dari hadits Ali bin Abi Thalib ra.. Beliau (10/608) berkata, “Kami akan mengetengahkan hadits Ali ra. dengan jalur-jalurnya. Karena beliau adalah salah seorang dari empat Khula-faur Rasyidin, salah seorang dari sepuluh sahabat yang dijamin masuk Surga, salah seorang anggota majelis syura dan beliau juga terlibat langsung dalam kisah ini.”

Kemudian Ibnu Katsir menyebutkan empat belas perawi yang meriwayatkan dari Ali ra, mereka adalah: 1- Zaid bin Wahab al-Juhani, diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahih-nya (nomor 156 dan 1066), Ahmad dalam Musnadnya (1/91) dan Abu Dawud dalam Sunannya (hadits nomor 4768).

2- Suwaid bin Ghafalah al-Ju’fi, diriwayatkan oleh Ahmad dalam Musnadnya (1/131), disebutkan juga dalam Shahih al-Bukhari (nomor 5057 dan 6930), dan Muslim (nomor 154 dan 1066).

3- Thariq bin Ziyad al-Kufi, diriwayatkan oleh Ahmad dalam Musnadnya, (1/107 dan 147).

4- Abdullah bin Syadad al-Laitsi, diriwayatkan oleh Ahmad dalam Musnadny a (1/86), Ibnu Katsir (10/568) berkata, “Imam Ahmad terpisah seorang diri dalam periwayatan hadits ini dan sanadnya shahih. Dan telah dimuat oleh adh-Dhiya1 dalam kitab al-Mukhtarah dalam deretan hadits- hadits shahih.”

5- Abdullah bin Abi Rafi1 al-Madani, diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahihnya (nomor 157 dan 1066).

6- ‘Abidah bin Amru as-Salmani, diriwayatkan oleh Ahmad dalam Musnadnya dari beberapa jalur dari Muhammad bin Sirin dari ‘Abidah dari Ali bin Abi Thalib ra. (1/83, 95, 144 dan 155),

Muslim dalam Shahihnya (nomor 155 dan 1066). Setelah membawakan riwayat Muslim Ibnu Katsir (10/599) berkata, “Kami telah menyebutkan beberapa jalur dari banyak perawi dari Ibnu Sirin yang menguatkannya bahkan Ibnu Sirrin telah bersumpah bahwa ia telah mendengarnya langsung dari ‘Abiidah dan ‘Abiidah telah bersumpah bahwa ia mendengarnya langsung dari Ali bin Abi Thalib ra. dan Ali telah bersumpah

bahwa ia mendengarnya langsung dari Rasulullah saw. Ali ra. berkata, “Jatuh tersungkur dari langit ke bumi lebih aku sukai daripada berdusta atas nama Rasulullah saw. “

7- Kulaib bin Syibah al-Jarmi, diriwayatkan oleh Ahmad dalam Mus nadnya (1/160) dari dua jalur, kemudian Ibnu Katsir berkata, “Sanadnya bagus namun tidak diriwayatkan oleh para imam lainnya.”

8- Abu Juhaifah Wahab bin Abdullah as-Suwai, diriwayatkan oleh al- Khathib al-Baghdadi dalam Tarikh Baghdad (1/199).

9- Abu Katsir Maula al-Anshar, diriwayatkan oleh Ahmad dalam Musnadnya (1/88). 10- Abu Mary am ats-Tsaqafi al-Madaini, namanya Qais, diriwayatkan oleh Ahmad dalam Musnadnya (1/151) dan Abu Dawud dalam Sunannya (nomor 4770).

11- Abu Musa, diriwayatkan oleh al-Baihaqi dalam Dala’ilun Nubuwah (6/433).

12- Abul Muammin al-Wabili al-Kufi, diriwayatkan oleh al-Bazzar dalam

Musnadnya, ia berkata, “Kami belum mengetahui Abul Muamin meri-wayatkan dari Ali ra. selain hadits ini.”

13- Abu Wail Syaqiq bin Salamah al-Asadi, diriwayatkan oleh al-Bazzar dalam Musnadnya, lalu ia berkata, “Kami tidak mengetahui Habib bin Tsabit meriwayatkan dari Syaqiq dari Ali ra. kecuali hadits ini.”

14- Abul Wadhi’ Abbad bin Nusaib, diriwayatkan oleh Ahmad dalam Musnadnya (1/139,140 dan 141) dan Abu Dawud dalam Sunannya (4769). Berikut ini matan hadits dari riwayat Zaid bin Wahab al-Juhani dari Ali bin Abi Thalib ra. dalam Shahih Muslim:

Muslim bin Hajjaj berkata dalam Shahihnya, “Abdu bin Humaid telah menyampaikan kepada kami, ia berkata, Abdurrazzaq bin Hammam telah menyampaikan kepada kami, ia berkata, Abdul Malik bin Abi Sulaiman telah menyampaikan kepada kami, ia berkata, Salamah bin Kuhail telah menyampaikan kepada kami, ia berkata, ‘Zaid bin Wahab al-Juhani telah menceri-takan kepadaku bahwa ia termasuk salah seorang anggota pasukanyang berangkat bersama Ali ra. untuk memerangi kaum Khawarij. Ali ra. berkata, ‘Wahai sekalian manusia, sesungguhnya aku telah mendengar Rasulullah saw. bersabda, “Akan muncul satu kaum dari umatku yang membaca al-Qur’an, bacaan al-

Qur’an kalian tidak ada apa-apanya dibanding bacaan mereka, shalat kalian tidak ada apa-apanya dibanding shalat mereka, puasa kalian tidak ada apaapanxja dibanding puasa mereka. Mereka membaca al-Qur’an dan menyangka al-Qur’an itu menjadi hujjah ijang mendukung mereka padahal al-Qur’an menjadi hujjah yang membantah mereka. Shalat mereka tidak melewati kerongkongan mereka. Mereka keluar dari Islam seperti anak panah keluar dari busurnya. Sekiranya pasukan yang memerangi kaum ini tahu apa yang telah disediakan buat mereka melalui lisan nabi mereka niscaya mereka akan meninggalkan amal. Tanda-tandanya adalah di antara kaum ini terdapat seorang lelaki yang memiliki lengan atas tapi tidak memiliki lengan bawah. Dan di pangkal lengan atasnya terdapat seperti mata payudara dan padanya terdapat rambut yang telah memutih.”

Lalu kalian berangkat menghadapi Mu’awiyah dan penduduk Syam dan kalian tinggalkan mereka di belakang untuk menjaga keluarga dan harta kalian. Demi Allah, aku berharap mereka itulah kaum yang dimaksud. Kare-na mereka telah menumpahkan darah yang haram ditumpahkan, menjarah hewan ternak milik orang lain dan berjalan atas nama Allah!” Salamah berkata, “Lalu Zaid bin Wahab menceritakan kisah perja-lanannya tahap demi tahap,1090 hingga beliau berkata, “Kami pun melewati jembatan, ketika kedua pasukan telah berhadapan, saat itu pasukan Khawarij dipimpin oleh Abdullah bin Wahab ar-Rasibi, ia berseru, “Lemparkanlah tombak kalian dan keluarkanlah pedang kalian dari sarungnya, aku khawatir mereka akan mempengaruhi kalian seperti yang mereka lakukan di Harura1!” Merekapun mundur lalu pasukan Ali melempari mereka dengan tombak dari jarak jauh.1091

Pasukan Khawarij menghunus pedang mereka sementara pasukan Ali ra. terus

menghujani mereka dengan tombak.1092 Maka merekapun jatuh bergelimpangan saling berhimpitan satu sama lain. Sementara yang gugur dari pasukan Ali ra. hanya dua orang saja. Ali ra. berkata, “Carilah lelaki yang bun-rung tangannya!” Maka merekapun mencarinya di antara tumpukan korban yang tewas namun mereka tidak menemukannya. Kemudian Ali ra. berinisiatif mencarinya sendiri. Beliau mendatangi tumpukan korban yang tewas yang saling berhimpitan satu sama lain. Beliau berkata, “Singkirkan mayat-mayat yang di atas ini!” Mereka lalu menyingkirkannya dan mendapatkan lelaki yang dimaksud oleh Ali ra. di bawah tumpukan tersebut. Ali ra. bertakbir sembari berkata, “Maha benar Allah, RasulNya telah menyampaikan hal ini.”

‘Abidah as-Salmani bangkit menemui beliau dan berkata, “Wahai Ami-rul Mukminin, demi Allah yang tiada ilah yang berhak disembah selain Dia, benarkah engkau mendengarnya dari Rasulullah saw.?” Beliau menjawab, “Ya, demi Allah yang tiada ilah yang berhak disembah selain Dia!” ‘Abidah meminta beliau bersumpah sampai tiga kali1093dan beliau tetap bersumpah membenarkannya!”

Kemudian Ibnu Katsir (10/607) berkata, “Maksudnya adalah jalur-jalur riwayat ini mutawatir dari Ali bin Abi Thalib ra.. Karena telah diriwayatkan dari beberapa jalur dari sejumlah perawi yang berbeda. Tidak mungkin mereka bersepakat untuk berbohong. Asal kisah ini shahih, meskipun dalam beberapa lafal terdapat perbedaan di antara para perawi. Akan tetapi makna dan asalnya yang disebutkan dalam beberapa riwayat adalah shahih, tanpa syak lagi, dari Ali ra. bahwa ia meriwayatkannya dari Rasulullah saw. bahwa Rasulullah saw. Telah mengabarkan kepadanya tentang sifat-sifat kaum Khawarij dan juga tentang lelaki yang memiliki tanda seperti mata payudara yang merupakan tanda bagi kaum Khawarij.”

Selanjutnya beliau berkata, “Hadits-hadits tentang Khawarij diriwayatkan dari sejumlah sahabat selain Ali ra., di antaranya:

1- Abdullah bin Mas’ud, haditsnya diriwayatkan oleh Ahmad dalam kitab al- Musnad (1/404), at-Tirmidzi dalam Sunannya (nomor 2188), Ibnu Majah (nomor 168) dan dinyatakan shahih oleh Syaikh Nashiruddin al-Albani dalam Shahih Sunan at-Tirmidzi nomor 1779 dari Abdullah bin Mas’ud ia berkata, Rasulullah saw. bersabda: “Akan muncul nanti di akhir zaman satu kaum yang dangkal akalnya, muda nbelia, atau beliau berkata, muda usianya, mereka mengucapkan sebaik-baik perkataan manusia, mereka membaca al-Qur’an dengan lisan mereka namun tidak melewati kerongkongan mereka. Mereka keluar dari Islam seperti keluarnya anak panah dari busurnya. Barangsiapa mendapati mereka maka perangilah mereka sebab bagi yang memerangi mereka telah tersedia pahala yang besar di sisi Allah.”

Ini merupakan lafal riwayat Ahmad dalam Musnadnya. Setelah membawakan riwayat Abdullah bin Mas’ud di atas Ibnu Katsir berkata, “Abdullah bin Mas’ud wafat sekitar lima tahun sebelum munculnya Khawarij, hadits beliau ini merupakan bukti yang paling kuat.”

2- Anas bin Malik, haditsnya diriwayatkan oleh Ahmad dalam Musnadnya (3/189 dan 224), Abu Dawud dalam Sunannya dari duajalur (nomor 4765 dan 4766) dan Ibnu Majah (nomor 175).

3- Jabir bin Abdillah al-Anshari, haditsnya diriwayatkan oleh Ahmad dalam Musnadnya dari tiga jalur (3/354 dan 355), Muslim dalam Shahihnya nomor 1063 dan an-Nasa’i dalam Sunanul Kubra nomor: 8087 dan 8088.

4- Sa’ad bin Abi Waqqash, haditsnya diriwayatkan oleh Ya’qub bin Sufyan dalam al-Ma’rifah wat Tarikh (3/406) kemudian al-Baihaqi meriwa-yatkan dari jalur Ya’qub dalam Dala’ilun Nubuwwah (6/433) dan juga diriwayatkan oleh Ahmad dalam al-Musnad (1/179).

5- Abu Sa’id al-Khudri Sa’ad bin Malik bin Sinan al-Anshari, diriwayatkan dari beberapa jalur darinya, diriwayatkan oleh Ahmad dalam Musnadnya (3/15,

33, 34, 48, 52, 56, 60, 68, 72, 73 dan 82), demikian pula diriwayatkan oleh al- Bukhari dalam Shahihnya (nomor 4351, 5058 dan 7562) dan Muslim (144,147,148 dan 1064).

6- Salman al-Farisi, haditsnya diriwayatkan oleh al-Haitsam bin Adi sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu Katsir (10/623).

7- Sahal bin Hunaif al-Anshari, hadits diriwayatkan oleh Ahmad dalam Musnadnya (3/486) dan diriwayatkan juga dalam Shahih al-Bukhari nomor (6934) dan Muslim (159,160 dan 1068).

8- Abdullah bin Abbas u^sS, haditsnya diriwayatkan oleh Ibnu Majah dalam Sunannya (nomor 171) dan dinyatakan shahih oleh Syaikh Nashiruddin al-Albani dalam Shahih Sunan Ibnu Majah nomor 141.

9- Abdullah bin Umar bin al-Khaththab, hadits diriwayatkan oleh Ahmad dalam Musnadnya (2/84).

10- Abdullah bin Amru bin al-‘Ash, haditsnya diriwayatkan oleh Ahmad dalam Musnadnya (2/198 dan 199).

11- Abu Dzar al-Ghifari diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahihnya (158 dan 1067).

12- Rafi’ bin Amru al-Ghifari, diriwayatkan oleh Muslim bersama hadits Abu Dzar di atas.

Sumber:

1082 Tarikh ath-Thabari, 5/55 dari jalur Abu Mikhnaf.

1083 Diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahihnya hadits nomor 150, 151, 152 dan 1064 dan diriwayatkan pula oleh al-Bukhari dengan makna yang hampir sama nomor 3610, keduanya dari hadits Abu Sa’id al-Khudr

1084 Silahkan lihat Musnad Ahmad, 3/5, 32, 45, 79 dan 95 dan Shahih Muslim, hadits nomor 150, 151, 152, 153 dan 1064 dan berikut ini adalah salah satu dari jalurnya: Imam Ahmad berkata, “Ibnu Abi Adi telah menyampaikan kepada kami dari Sulaiman dari Abu Nadhrah dari Abu Sa’id al- Khudri ^B bahwa Rasulullah saw. SH menceritakan suatu kaum dari kalangan umat ini yang menyempal saat manusia berselisih. -Tanda-tanda mereka adalah mencukur gundul kepala mereka. Mereka adalah seburuk-buruk makhluk. Atau termasuk seburuk-buruk makhluk. Mereka akan diperangi oleh kelompok yang paling dekat kepada kebenaran.” Abu Sa’id al-Khudri «$e> berkata, “Kalian telah memerangi mereka wahai penduduk Iraq!”

1085 Silahkan lihat Shahih al-Bukhari hadits nomor 7352.

1086 Tarikh ath-Thabari, 5/91.

1087 Al-Musnad, 1/86, sanadnya shahih.

1088 Yakni tanpa membubuhi kata Amirul Mukminin, pent.

1089 Al-Ma’rifah wat Tarikh, 1/522-524.

1090 Imam an-Nawawi berkata dalam Shahih Muslim!1112, “Dalam banyak naskah kata manzilan \\anya disebutkan sekali saja, sangat jarang sekali diulang sampai dua kali, yakni manzilan, manzilan. Artinya: Beliau menceritakan kepadaku tahap demi tahap yang dilalui oleh pasukan hingga mereka sampai di jembatan tempat terjadinya pertempuran, yaitu di jembatan ad- Dabarjan.”

1091 Yakni melempari mereka dengan tombak dari jarak jauh.

1092 Maksudnya adalah menghujani mereka dengan tombak dan menghabisi mereka dengan tombak, yang dimaksud dengan kata an-nas (orang-orang yang menghujani dengan tombak) dalam hadits di atas adalah pasukan Ali bin Abi Thalib 4&>,

silahkan lihat rujukan di atas (yakni Syarah Shahih Muslim).

1093 ‘Abidah sengaja meminta Ali bersumpah agar orang-orang yang berada di situ mendengarnya dan semakin memberikan penegasan kepada mereka serta menunjukkan mukjizat dari berita yang disampaikan oleh Rasulullah saw. SB. Dan juga agar nyata bagi mereka bahwa Ali dan orang-orang yang bersamanya berada di pihak yang benar dan tindakan mereka memerangi kaum Khawarij adalah benar. Silahkan lihat Syarah Shahih Muslim, 7/173.

One Response to “Muncul Khawarij dan Hadist yang mengisyaratkan”

  1. Masya Allah.
    Terimakasih untuk kisah ini.
    Semoga menjadikan wawasan yg bernanfaat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: