MEMBANGUN KHAZANAH ILMU DAN PENDIDIKAN

Belajar itu adalah perobahan …….

KHALIFAH ALI BIN ABI THALIB (MUKADDIMAH)oleh Dr. Muhammad bin Shamil as-Sulami

Posted by Bustamam Ismail on February 24, 2010

Segala puji hanya bagi Allah SWT. Rabb semesta alam. Shalawat beserta salam semoga tercurah atas nabi saw. yang mulia dan penutup para rasul, Muhammad bin Abdillah saw, atas keluarga dan segenap sahabat beliau. Amma ba’du,

Ini adalah juz keempat dari kitab Tahdzib al-Bidayah wan Nihayah karangan al-Imam al-Hafizh Ibnu Katsir (wafat pada tahun 774 H). Juz ini khusus mengupas khalifah rasyid yang keempat Ali binAbi Thalib ra. (mulai tahun 36 sampai tahun 40 H). Saya juga menyertakan masa kekhalifahan putera beliau, al-Hasan bin Ali binAbi Thalib ra. sehingga beliau mengikat perdamaian dengan Mu’awiyah bin Abi Sufyan (awal tahun 41 H). Tahun itu dikenal dengan sebutan tahun al-Jama’ah. Karena umat menyambut gembira persatuan dan perdamaian ini. Berlakulah apa yang telah ditetapkan atas al-Hasan bin Ali yang di tangannyalah terletak perdamaian umat dan persatuannya setelah berpecah belah dan berselisih. Itulah perkara yang telah dikabarkan oleh Rasulullah saw.dan karenanya Rasulullah saw. memuji beliau. Ali binAbi Thalib ra. memegang kekhalifahan atas bai’at umat kepada beliau. Setelah terbunuhnya khalifah yang ketiga, Utsman bin Affan ra.

Pada bulan Dzulhijjah tahun 35 H yang dilakukan oleh kaum pemberontak secara zhalim dan keji. Dari situ muncullah berbagai masalah dan problematika yang dihadapi oleh khalifah baru sesudahnya. Sehingga jihad terhenti dan umat sibuk mengurus persoalan intern beberapa tahun lamanya. Terjadilah perang saudara di antara umat. Ini merupakan fitnah yang sangatbesar. Musibah besar yang menimpa umat ini. Akan tetapi -alhamdulillah- berhasil mengatasi masalah ini dengan kekuatan yang solid lalu kembali kepada jalur semula, yaitu jalur jihad dan dakwah, berjalan di muka bumi untuk menye-bar hidayah ke tengah umat manusia. Berdakwah mengajak manusia kepada agama yang haq.

Fitnah tersebut memberikan pengaruh yang sangat dalam, dan beberapa di antara bentuk fitnah itu masih tersisa sampai hari ini. Hasilnya, muncullah firqahfirqah seperti Khawarij, Syi’ah, Murji’ah, Mu’tazilah dan lin-lain.Di antara biasbias fitnah itu adalah terjadinya perbedaan pandangan dan cara berpikir di tengah umat yang dahulu pernah terjalin utuh sebelum fitnah terjadi. Kemudian beberapa waktu setelah itu fitnah ini juga membias terhadap masalah politik dan geografi.

Pada masa pemerintahan Abbasiyah yang kedua muncul daulah-daulah kecil yang memiliki arah dan garis pemi-kiran sendiri. Pokok-pokok bahasan juz yang keempat ini banyak terfokus kepada problematika-problematika yang membutuhkan penjelasan dan pemecahan. Karena banyak sekali riwayat-riwayat yang disusupkan yang justru mengacaukan sejarah generasi pertama. Dengan memanfaatkan peris-tiwa-peristiwa yang menyedihkan dan fitnah dihembuskan oleh orang-orang jahil dan bodoh. Sama sekali tidak disetujui oleh ahli ilmu dan orang berakal. Kebenarannya baru diketahui setelah fitnah itu berakhir.

Al-Hafizh Ibnu Katsir telah menyebutkan beberapa riwayat dengan menyebutkan sumber-sumber pengambilannya. Sebagian riwayat tersebut beliau kritik dan sebagian lain beliau biarkan karena sanadnya telah mencu-kupi atau mengikuti apa yang telah disebutkan oleh para pakar sejarah sebelum beliau seperti Ibnu Jarir ath-Thabari dan Ibnul Jauzi. Keduanya adalah imam yang agung. Hanya saja dalam penulisan sejarah mereka berjalan di atas manhaj taqmisy872.

Namun demikian, Ibnu Katsir telah mengerahkan segala upayanya yang patut disyukuri dalam mengkritisi kisah-kisah dan riwayat-riwayat tersebut. Beliau merujuk kepada kitab referensi yang lebih terpercaya dalam manhaj ketimbang buku-buku sejarah. Yaitu kitab-kitab sunah seperti Kutubus Sittah, Musnad Imam Ahmad, Sunanul Kubra karangan al-Bathaqi, DalaHlun Nubuunvah karangan al-Baihaqi, sehingga menjadikan bukunya ini merangkum sejumlah referensi dan memiliki keistimewaan dalam kritik riwayat menurut metode muhadditsin.

Penyusunan juz ini telah banyak mengambil waktu saya dan menguras tenaga dan kesungguhan yang besar. Sehingga dapat ditampilkan dalam bentuk seperti ini. Saya berharap tulisan ini dapat menolong para penuntut ilmu dan para peneliti dalam menjernihkan sejarah Islam yang agung pada kurun waktu tersebut. Sekaligus menjelaskan sikap yang benar terhadap generasi sahabat yang hidup para kurun tersebut. Generasi telah dipilih oleh Allah SWT. untuk menyertai nabiNya, mengemban risalahNya dan menyebarkan-nya ke tengah-tengah manusia. Mereka telah dididik oleh pendidik paling agung dalam sejarah umat manusia, Muhammad bin Abdillah penutup para rasul. Mereka dididik di atas kebenaran dan dididik untuk mengamalkan-nya.

Dididik untuk bersabar dan teguh dalam menghadapi cobaan dan fitnah yang datang silih berganti. Hingga mereka berhasil mengembalikan umat kepada persatuan dan keistiqamahan. Mereka menjelaskan melalui ucapan-ucapan dan amal perbuatan mereka cara yang benar dalam menghadapi problematika dan fitnah semacam itu yang terjadi di antara kaum muslimin dan cara untuk menyelesaikan dan memperbaikinya. Mereka lakukan itu atas dasar cahaya nubuwwah, kasih sayang Islam dan keadilannya terhadap orang-orang yang menyelisihi dan memusuhi.

Mereka adalah generasi sahabat yang memiliki jasa dan keutamaan yang sangat besar terhadap umat. Mereka memiliki hak yang wajib kita tunaikan. Menghormati dan mendoakan kebaikan bagi mereka merupakan salah satu bentuk penunaian hak nabi saw. yang telah memuji mereka dan me-larang mencela mereka. Serta memerintahkan menjaga kehormatan sahabat-sahabat beliau. Maka dari itu kita harus menjaga sejarah mereka serta membantah kebencian orang-orang yang benci mereka, melecehkan mereka atau melecehkan sebagian dari mereka. Serta menanggapi apa yang terjadi di antara mereka dengan sebaik-baik persangkaan. Dengan senantiasa meyakini bahwa mereka adalah manusia yang paling baik setelah para nabi, mengikuti petun-juk mereka dan menyebarkan keutamaan-keutamaan mereka. Serta menahan diri dari pertikaian yang terjadi di antara mereka. Dibarengi keyakinan bahwa mereka tidaklah ma’shum dari kesalahan. Namun mereka adalah orang-orang yang paling cepat kembali kepada kebenaran dan paling cepat ingat kepada Allah SWT..

Karena mengharap pahala di sisiNya. Mereka jauh dari gemerlap dunia dan syahwatnya. Sebagaimana mereka memiliki keutamaan bersama Rasulullah saw. dan ikut serta menghadapi peristiwa-peristiwa besar. Seutama-utama persahabatan dengan

sebaik-baik rasul Mereka tidak mengkafirkan seseorang di antara mereka yang jatuh dalam kesalahan. Adapun kesalahan ijtihad, tentunya dimaafkan atas mereka ataupun atas yang lainnya. Bahkan seorang mujtahid diganjari pahala atas ijtihadnya.

Manhaj yang saya gunakan dalam menyusun juz ini sama seperti manhaj yang saya gunakan dalam juz awal, yaitu khilafah Abu Bakar ash-Shiddiq . Seperti penyusunan berdasarkan kronologis cerita, pembagian kepada pasal-pasal dan judul-judul untuk memudahkan para pembaca serta beberapa perkara yang perlu ditambahkan. Demikian pula takhrij nash-nash dan hadits-hadits serta memeriksanya dari sumber-sumber aslinya. Memberikan komentar dalam hal-hal yang perlu penjelasan. Menghapus hal-hal yang asing dan ganjil atau lemah sanadnya.

Dalam penyusunan juz ini sangat merujuk kepada naskah kitab al-Bida-yah wan Nihayah yang terbaru873 yang telah ditahqiq. Yang ditangani oleh Dr. Abdullah bin Abdul Muhsin at-Turki. Cetakan ini sangat bagus dan telah dicocokkan dengan beberapa naskah manuskrip asli. Nash-nash berikut haditshadits dalam cetakan ini telah ditakhrij dan diperiksa. Terakhir, saya memohon kepada Allah SWT. agar buku ini dapat bermanfaat bagi kaum muslimin dan menjadikannya ikhlas semata-mata karena meng harap wajahNya. Maha suci Engkau ya Allah SWT. dan segala puji hanya bagiMu. Aku bersaksi tiada ilah yang berhak disembah kecuali Engkau, aku memo-hon ampun dan bertaubat kepadaMu.

Ditulis oleh Dr. Muhammad bin Shamil as-Sulami

Makkah al-Mukarramah, Rajab 1422 H.

872 TaqmisymaYsu&nya mengumpulkan perkataan dan riwayat tanpa memisahkan mana yang shahih dan mana yang dhaif.

873 Naskah yang diterbitkan oleh Dar Hajr Kairo cetakan pertama tahun 1418 H bertepatan tahun 1998 M. Khilafah AH 4* mulai halaman 411 juz kesepuluh hingga halaman 142 juz kesebelas. Dan mulai halaman 181 sampai 212 juz kesebelas untuk biografi al-Hasan bin Ali ra.

One Response to “KHALIFAH ALI BIN ABI THALIB (MUKADDIMAH)oleh Dr. Muhammad bin Shamil as-Sulami”

  1. Cialis said

    893rs9 Excellent article, I will take note. Many thanks for the story!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: